. Kesempurnaan Part 28 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 28

0
300
Kesempurnaan

Kesempurnaan Part 28

Mimpi

Aku mengelap beberpa gelas bening dan beberapa cankir yang baru saja aku cuci tadi, pagi menjelang siang ini. Jalanan depan kafe sudah mulai lengang lagi setelah tadi pagi padat merayap oleh arus kendaraan para anak manusia yang pergi menjemput rejeki masing-masing. Aku berada di kafe ini tidak sendiri, aku bersama mama. Kebetulan mama tidak sedang ada kerjaan jahitan sehingga aku memintanya untuk ke kafe saja, sekedar menemani ku mempersiapkan semuanya. Sekalian aku karyakan menunggu kasir saja pikir ku karena Gadis dan Rahma jam segini masih berada di sekolah masing-masing.

Aku memperhatikan apa yang dilakukan mama di luar sana dari dalam dapur. Aku sengaja mendesain dapur ku agar bisa terlihat dari luar supaya pengunjung tahu seberapa bersih tempat makanan yang mereka santap di masak. Tidak terbuka banget namun cukup bagi mereka untuk melihatnya. Mama terlihat sedang menata beberapa perabutan yang sengaja kami pasang di sekeliling dinding kafe. Beberapa rak dan lemari juga kami taruh di sana yang di dalam nya terdapat beberapa buku bacaan serta hiasan lainnya dari bunga plastik hingga beberapa karakter mainan koleksi ku jaman dulu yang tidak seberapa jumlahnya. Tapi lumayanlah bisa menambah kesan nyaman di tempat usaha ku ini.

Aku masih terus memperhatikan mama sambil sesekali tersenyum. Membayangkan bagaimana bila beliau memiliki pendamping hidup lagi. Lalu terbayang pak Wira. Aku tidak mengerti mengapa wajah pria tua itu yang muncul. Apa mungkin karena aku sudah mengaguminya sejak awal karena kharismanya? Mama dan pak Wira pasti akan menjadi pasangan yang serasi, tapi di sisi lain aku masih belum ikhlas lahir batin apa bila harus menjadi bagian dari keluarga itu.

Malam tadi aku menggelar soft launching kafe ini. Aku mengundang teman-teman ku. Mama mengundang teman-temannya. Gadis dan Rahma juga mengundang beberapa teman mereka. Acaranya doa bersama dan makan bersama. Yang pasti masih gratis. Sekalian ajang promosi sekaligus mengenalkan rasa masakan ku kepada mereka. Alhamdulillah respon yang aku terima semuanya positif. Bahkan beberapa menilai masakan ku tidak kalah dengan masakan hotel berbintang lima dan aku yakin itu terlalu berlebihan karena level ku belum sampai ke sana.

“Mama ga nyangka kamu sama Gadis bisa punya visi sampai ke sini, sekarang kamu jadi pengusaha kak sama Gadis,” ucap mama yang tiba-tiba sudah berada di depan ku, di depan meja tempat ku menaruh beberapa perabotan dapur ini.

“Kita berempat mah, ini usaha kita berempat,” balas ku.

“Tapi kamu dan Gadis yang punya ide seperti ini. Mama yakin dan mama doain juga usaha ini bisa berjalan dengan lancar, laris dan bisa terus berkembang.”

“Aamiin… nanti kalau di sini ramai mama bantu-bantu di sini aja, ga usah ngejahit lagi, kan ga bagus juga kalau kena potongan kain terus menerus.”

“Gampanglah kalau itu mah,” balas nya sambil membantu ku menata kembali perabotan yang sedang aku lap ini.

Kalau mama nikah lagi sama pak Wira mama ga perlu kerja lagi mah. Mama tinggal santai-santai di rumah menikmati menjadi ibu rumah tangga. Kerjaan mama tinggal ke salon dan ke mall aja tiap hari. Tinggal mempercantik diri juga pak Wira makin sayang. Hahaha. Aku tersenyum sendiri.

“Kamu kenapa kak? Aneh, tiba-tiba senyum-senyum ga jelas gitu.”

“Hahaha, enggak mah, bener kata mama tadi sih, kakak sendiri juga ga nyangka bisa punya usaha seperti ini.”

“Tapi kamu bisa petik hikmah ga dari semua kejadian yang kita alami beberapa bulan ini?”

Aku langsung berfikir, dan mengingat-ingat juga. Tapi tidak menemukannya. Aku menggeleng pelan.

“Kamu baru saja memanen apa yang sudah kamu tanam kak,” ucap mama.

“Maksud mama?”

“Bayangin aja kalau kamu ga nolongin Gadis dengan ikhlas selama ini, mana mungkin dia bakalan percaya sepenuh hati sama kamu. Ini rejeki kamu kak, kamu harus mengelola nya dengan benar. Balas kepercayaan Gadis dengan sepenuh hati juga.”

“Ada kontribusi dari mama juga kok…”

“Iya, kita bertiga. Itu lah kekuatan dari ikhlas.”

“Iya mah, seperti yang sering mama ajarkan pada kakak dan Rahma. Berbuat baik pada sesama tidak akan pernah ada ruginya, jadi kenapa tidak kita lakukan selagi kita masih bisa.”

Mama tersenyum lalu mengusap kepala ku dengan lembut. Dia lantas bangkit dan pergi meninggalkan ku ke belakang untuk rebahan di kamar belakang. Kafe ini memang terdapat satu ruangan yang sengaja aku siapkan untuk beristirahat. Sepertinya mama capek setelah acara semalam yang baru selesai hampir tengah malam. Mama juga berpesan kepada ku untuk menunggu di depan saja siapa tahu pelanggan pertama kafe ini akan datang pada hari ini. Aku mengiyakannya. Aku lalu duduk di meja kasir. Dan sekarang aku menjadi orang yang multitasking. Aku bos nya. Aku kasirnya. Aku pelayannya. Dan aku pula yang akan memasak. Luar biasa. Semangat.

###

“Mas, minta menunya dong…” ucap seseorang yang sangat aku kenal suaranya membuyarkan keseruan ku yang sedang main game di HP ku. Aku lalu mendongak dan melihat ke arah datangnya suara. Dia lalu tersenyum kepada ku.

“Bu Pristy,” ucap ku dengan teramat pelan sambil berdiri. Tentu saja aku akan melayaninya. Aku harus profesional. Dia sekarang menjadi pelanggan pertama ku. Dengan senyuman yang semanis mungkin aku menghampirinya dan memberikan menu yang aku bawa.

“Silahkan bu…” ucap ku mempersilahkan. Dia nampak tersenyum lalu mulai membuka dan membolak-balik daftar menu yang ada di tangannya.

“Yang spesial di sini apa?”

“Semuanya spesial bu, karena saya sendiri yang memasak dan saya tidak pernah setengah hati dalam memasak.”

“Oh ya?”

“Iya bu, mama saya pernah bilang kalau yang ada di masakan itu selain rasa juga ada energi yang terbawa dari si koki. Jika positif maka akan menambah keistimewaan dari masakan itu sendiri.”

“Masa sih?”

“Maka nya ibu coba saja, yang mana saja boleh pokoknya saya jamin ibu akan suka.”

“Hmm… menarik… aku pesen bakmi rebus nya yang spesial aja, tambah pangsit gorengnya boleh deh, terus minumnya… fresh juice boleh deh.”

“Siap. Ada lagi bu tambahannya?”

“Udah itu aja dulu nanti kalau kurang aku pesen lagi,” balas bu Pristy dengan santai.

“Di tunggu ya bu…” ucap ku dengan sesopan mungkin lalu berbalik. Baru berjalan beberapa langkah bu Pristy memanggil ku lagi sehingga ototmatis aku berhenti.

“Kamu sendirian?”

“Enggak bu, ada mama saya di belakang tapi sedang istirahat, kenapa ya bu?”

“Ah ga kok. Ya sudah ga pakai lama ya, aku udah ga sabar nyobain masakan kamu, hihihi,” balasnya lagi sambil tersenyum geli.

Aku pun lalu bergegas menuju dapur. Karena aku masih sendiri maka aku harus melakukan manajemen waktu dengan sebaik mungkin. Salain rasa, kecepatan dalam penyajian makanan tentu akan menjadi nilai positif tersendiri. Dengan cekatan aku menyiapkan semuanya. Dari bahan makanan hingga buah yang akan aku blender menjadi juice. Tubuh ku layaknya seperti seorang penari balet yang dengan lincahnya bergerak ke sana kemari tanpa ada cacat. Aku melalukan semuanya dengan sempurna. Dan setelah di sajikan dengan penampilan yang semenarik mungkin, dengan sebuah nampan besar aku membawa pesanan bu Pristy menuju meja dimana dia duduk. Dua puluh menit. Lumayan lah.

“Silahkan bu pesanannya,” ucap ku mempersilahkan dengan sopan.

“Makasiii,” balasnya dengan lembut. Setelah semuanya berada di atas meja aku lalu berbalik dan berniat meninggalkannya karena tidak ada juga hal yang ingin aku bicarakan dengannya.

“Eh, tunggu sebentar,” sama seperti tadi, aku yang baru beberapa langkah meninggalkannya terpaksa harus behenti. Aku berbalik tapi tidak mengucapkan sepatah kata apapun.

“Mas nya mau temenin aku makan, setalah lihat porsinya kayanya aku ga akan bisa ngabisinnya nih.”

“Maaf bu, ga di perbolehkan bu…”

“Kenapa?”

“Sudah menjadi SOP nya…”

“Oh, kafe seperti ini ada SOP nya juga ya?”

“Ada bu, tergantung yang punya saja bagaimana aturannya.”

“Hmm… ya sudah deh dari pada berdebat, aku mau makan saja.,” lanjutnya lalu bersiap menyantap makanan yang ada di hadapannya. Aku lalu berbalik badan lagi dan berjalan menuju dapur, memberikan dia ruang lebih untuk menikmati santap siangnya.

###

Tepat setelah bu Pristy menyelesaikan makanannya, mama keluar dari belakang. Beliau nampak kaget karena melihat keberadaan bu Pristy. Namun biasalah wanita, se kaget apapun, atau se tidak berharap apapun mereka, toh pada akhirnya mereka bisa ngobrol dengan cukup panjang. Tapi hanya sedikit pembicaraan yang bisa aku dengar karena aku lebih sering berada di dapur dan suara mereka tidak terlalu terdengar dari sini.

Dan tidak lama kemudian justru mama yang pamit mau balik ke rumah karena baru inget hari ini harus mengantarkan jahitan. Untang sudah selesai dan tinggal mengantarkan saja. Kalau sampai belum selesai dan baru inget kalau ada kerjaan kan pasti akan sangat merepotkan dan pastinya akan mendapat komplain yang sangat berat.

Sekarang tinggalah kami berdua lagi dengan bu Pristy. Aku juga bingung sebenernya apa yang di mau wanita ini. Makanannya sudah habis dari tadi. Bahkan selama dia ada di sini aku sudah melayani beberapa pelanggan lain. Kebetulan tadi saat makan siang ada beberapa pengujung datang yang membuat ku agak keteteran. Untung nya masih bisa aku handle dengan sempurna meskipun jadi agak lama, tapi semuanya masih bisa berjalan dengan sangat lancar.

Kembali pada bu Pristy yang masih betah duduk di bangku nya. Sebenernya aku kasihan juga kepada nya karean terasa banget aku yang mengabaikannya. Maafkan saya bu, tapi memory masa lalu yang pernah ibu ceritakn kepada saya masih menjadi luka di hati ku dan aku tidak akan tahu kapan itu akan sembuh dengan sempurna.

Setelah beberapa aku perhatikan diri nya, tiba-tiba berdiri dan berjalan, namun bukan ke arah kasir melainkan ke arah dapur. Aku tadinya mau keluar dan kalau memang dia sudah mau bayar mending di kasir saja. Tapi sayangnya dia sudah lebih dulu berada di dapur ku. Dan kami berdua sekarang berada di ruangan yang sedikit pengab karena sebelumnya sudah aku gunakan untuk memasak.

“Kalau mau bayar di luar sana saja buk…”

“Masa bodo kamu sudah atau ga, aku pengen masuk ke dapur mu…” balas nya dengan ketus.

“Iya bu boleh, tapi kalau sudah mau bayar kita ke kasir aja…”

“Siapa bilang sudah mau bayar, aku itu mau ke dapur mu, dan… ya boleh juga. Kamu memang sangat berbakat ya…”

“Sebenarnya ibu maunya apa sih?” tanya ku lagi pada nya yang masih mengamati sekitar.

“Aku mau kamu menjadi seperti dulu lagi…”

“Saya tidak pernah berubah…”

“Dengan orang lain,” ucapnya memotong ucapan ku. “Tapi dengan ku kamu berubah seratus delapan puluh derajat,” lanjutnya. Dan tanpa ku duga sebelumnya tiba-tiba bu Pristy sudah memeluk ku dari belakang. Dan dengan nyamannya dia menyandarkan kepalanya pada punggung ku. Tangannya melingkar ke depan melalui pinggang ku dan menempel erat pada perut atas ku hampir ke dada.

“Jangan kan saya, bumi pun harus berputar tiga ratus enam puluh derajat sehari untuk memastikan keseimbangan yang ada di dalamnya.”

“Kamu bukan bumi, dan kamu tidak harus berubah.”

“Berubah bukan soal keharusan, tapi pilihan.”

“Apakah sebuah pilihan harus mengorbankan perasaan?”

“Jangan bicara soal perasaan, sepertinya perasaan keluarga saya lebih terkorbankan,” balas ku sambil berusaha melepaskan pelukannya namun yang aku dapatkan justru pelukan yang semakin erat. Hingga tanpa bisa aku pungkiri gundukan daging kenyal yang masih teramat sangat kencang yang berada di dadanya itu menekan dengan sangat kuat ke punggung ku.

“Aku akan melakukan apapun asal aku bisa merasakan juga perasaan yang kamu rasakan,” ucapnya sambil menggerakan tangannya turun menuju perut ku. Sempat berhenti sebentar namun kemudian terus turun ke bawah. Hingga yang membuat ku sangat kaget adalah kedua telapak tangannya yang malah berhenti tepat di selangkangan ku.

“Tidak harus seperti ini lagi bu…”

“Kalaupun harga diri ku yang harus di pertaruhkan aku rela asal kamu mau menerima keluarga ku, demi kakak ku dan mama mu bisa bahagia kembali,” balasnya masih dengan posisi memeluk ku. Bahkan pelukannya semakin menjadi karena selain memeluk bu Pristy juga mulai meraba selangkangan ku dari luar pakaian ku. Selain itu beliau juga menggesek-gesekkan dadanya yang kenyal itu ke punggung ku.

“Bahagia tidak harus bersama, dan yang bersama pun belum tentu akan hidup bahagia,” ucap ku dengan sangat tegas. Terdengar pelan namun sangat tajam. Entah kenapa aku bisa setega ini pada wanita. Aku lalu merasakan bu Pristy mendorong tubuh ku ke depan hingga mentok pada meja bar yang sekaligus menjadi pembatas dengan sisi luar dapur. Bu Pristy lalu membalikkan tubuh ku hingga aku sekarang berdiri menghadap ke arah nya. Posisi ku sekarang bersandar pada meja bar ini yang secara otomatis membuat ku membelakangi arah depan kafe.

Bu Pristy tiba-tiba langsung berlutut dan meraih kaitan celana jeans yang aku kenakan. Aku yang masih seperti terpana tidak bisa berbuat apa-apa karena gerakannya yang sangat cepat. Aku seperti tersihir akan aksinya. Aku masih tidak bisa berbuat apa-apa saat dengan cekatan beliau menarik turun celana ku sekaligus celana dalam ku hingga ke lutut. Dan kini terpampanglah senjata ku yang masih lemas menggelantung tepat di depan wajah cantiknya.

Dengan cepat beliau lalu meraih benda paling berharga milik ku itu dan menggenggamnya dengan kuat. Di pijat dan di remas nya benda yang awalnya lembek itu hingga lama-lama semakin membesar dan mengeras. Kian lama tidak hanya pijatan dan remasan, namun sekarang sesekali tangannya mengocok batang kejantanan ku itu dengan pelan. Dan aku masih diam saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Tanpa bisa aku tolak naluri kelelakian ku memaksa ku untuk menerima perlakuannya.

Setelah batang itu cukup kuat, bu Pristy langsung melahapnya. Hampir semua benda berurat itu bisa masuk semua ke dalam mulutnya karena memang belum ereksi dengan sempurna. Namun dengan semakin intens rangsangan yang dia berikan, baik dari hisapan, jilatan, hingga kocokan yang masih terus di berikannya itu membuat batang ku semakin mengeras dan semakin panjang. Pada akhirnya tidak sampai setengah dari daging keras berurat itu yang bisa masuk ke dalam mulutnya.

Bu Pristy lalu menggerakkan kepalanya maju mundur. Meskipun dengan tempo yang awalnya pelan dan semakin lama semakin cepat, beliau melakukannya dengan sangat hati-hati karena aku merasakan tidak sedikitpun kemaluan ku terkena gigi nya. Gerakan mulut bu Pristy begitu terampil dan terlatih. Setiap inchi kemaluan ku termanjakan oleh setiap inchi bibir dan lidahnya yang teramat lembut. Gerakan maju mundur itu semakin lama semakin kencang dan semakin dalam.

Bu Pristy seolah ingin menunjukkan bahwa dia bisa menelan seluruh batang itu. Dian ingin membuktikan kalau dia bisa memberikan kenikmatan kepada seluruh permukaan kemaluan ku sekaligus, tapi sayangnya itu tidak akan mungkin. Benda pusaka ku itu terlalu besar dan panjang untuk mulut dan bibirnya yang sensual itu. Tapi bu Pristy terus memaksanya, dan air liur pun mulai berceceran. Desahan dan suara tenggorokannya yang hampir tersedak terdengar begitu jelas dan berulang-ulang. Mata nya yang mulai memerah menatap ku sayu dengan semua keputus-asaannya. Tapi usahanya masih terus dilakukannya. Air liur semakin membanjir seiring dengan urat-urat nadi di wajahnya yang semakin terlihat jelas dan wajahnya yang semakin memerah.

Dan aku pun tidak tega melihatnya. Ku arahkan kedua tangan ku ke kepalanya bermaksud menghentikan apa yang di lakukannya ini. Tapi bu Pristy justru menangkap pergelangan tangan ku dan menguncinya pada dinding meja. Bahkan setelah mendapatkan pegangan untuk tumpuan, aku merasakan dorongan kepalanya justru semakin kencang. Aku merasakan ujung kemaluan ku yang semakin mendesak jauh ke dalam tenggorokanya. Benda tumpul itu keluar masuk ke dalam mulut nya dengan sangat lancar. Menghujam jauh ke dalam menembus dinding ke munafikan.

Pertahanan ku runtuh. Sensasi yang diberikannya terlalu kuat dan aku juga takut kalau sewaktu waktu ada pengunjung yang datang. Aku tidak bisa menahannya lagi tatkala dengan sekali tekanan yang kuat bu Pristy menjejalkan hampir semua daging berurat itu ke dalam mulutnya. Aku kalah. Aku menyerah. Birahi ku mengalahkan ego ku. Dengan dorongan yang kuat tadi maka meledak lah semuanya. Berbarengan dengan bu Pristy yang semakin tersedak karena ada sesuatu yang mengganjal pada tenggorokannya. Cairan putih kental itu akhir luber dan meleleh melalui sela bibirnya. Dilepaskannya tangan ku dan dengan telapak tangannya di tahannya cairan itu. Sedangkan tangannya yang satunya lagi memegangi dada bagian atasnya yang aku yakin pasti terasa sangat sakit.

Setelah ledakan berhenti, bu Pristy menarik kepalanya. Tidak seperti tadi yang beliau selalu melihat ke atas, setelah semua selesai beliau justru menunduk kebawah. Dipandanginya lelehan sperma yang ada di tangannya itu dan dengan sekali gerakan di masukannya lah semua cairan itu ke dalam mulutnya dan langsung di telannya mengikuti cairan sperma yang sebelumnya sudah dia telan.

Setelah itu beliau menatap ku namun tidak ada suara. Hanya diam saja. Hening. Matanya semakin sayu. Entah perasaan apa yang dia rasakan, namun yang pasti sekarang aku yang merasa tidak enak kepadanya. Dia tidak harus melakukan ini. Tidak harus seperti ini. Dia lalu berdiri namun masih menatap ku. Tidak lama kemudian dua tetes air mata keluar dari kedua matanya dan membasahi pipi nya. Lalu berjalan keluar dari dapur dan meninggalkan ku begitu saja tanpa aku bisa mencegahnya. Aku tidak tahu. Aku merasa sangat bersalah. Tidak seharusnya ini terjadi. Dan tidak seharusnya aku menghakimi nya dengan tidak adil seperti ini.

###

Gadis Anastasya Wiradana

Rahmawati Dwi Purnama

Aku duduk sambil mengingat kembali kejadian yang baru aku alami tadi siang. Enak? Iya. Tapi tidak enak juga setelahnya. Campur aduk yang aku rasakan. Aku tidak menyangka bisa setega itu pada bu Pristy. Ini tidak boleh terus berlarut. Aku harus segera menyelesaikannya.

Hari sudah malam dan alhamdulillah pengunjung masih berdatangan silih berganti. Namun bedanya dengan siang, kalau malam hari yang banyak dicari oleh para pengunjung adalah makanan ringan dan minuman seperti kopi yang sangat pas sekali untuk menemani mereka sekedar melepas penat selepas bekerja.

Hahaha. Bagaimana tidak ramai kalau baristanya sendiri dua gadis muda cantic dan manis macam Gadis dan Rahma. Aku akui dua wanita itu memang menjadi daya tarik tersendiri bagi kafe ini. Tapi bisa dibilang ini adalah strategi bisnis yang aku lakukan. Semoga saja aku tidak terkena undang-undang eksploitasi anak di bawah umur pikir ku.

Aku ikut tersenyum kala Gadis dan Rahma yang masih sibuk dengan kopi dan cangkir-cangkirnya itu menatap ku dengan tersenyum. Ada semangat yang tumbuh pada diri mereka. Ada mimpi yang aku lihat pada wajah mereka. Mimpi yang tidak akan pernah usai. Mimpi yang akan terus menghiasi malam ku. Dan aku akan menggapai mimpi itu.

[Bersambung]

Daftar Part