. Kesempurnaan Part 27 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 27

0
291
Kesempurnaan

Kesempurnaan Part 27

Naluri

Malam kian larut dan kami berdua sudah berada di dalam hotel. Sebenarnya aku juga bingung karena dengan uang yang mba Gadis miliki, bisa saja dia menyewakan satu kamar lagi untuk ku, namun dia hanya menyewa satu kamar saja. Mba Gadis memilih salah satu hotel berbintang yang letaknya tidak jauh dari taman safari. Hotel ini cukup mewah, mungkin bintang empat atau lima. Fasilitas lengkap, nyaman, dan setiap kamarnya ada balkon yang bisa aku gunakan untuk merokok seperti sekarang ini.

“Besok sekolah lo gimana?” tanya ku dengan cuek pada Gadis.

“Menurut lo?” tanyanya balik. Aku hanya mengangkat bahu ku.

“Masa penculik nanyain sekolah yang di culik? Hahaha. Kalau lo mikirin sekolah gue ya jangan culik gue lah, aneh lu.”

“Hahaha, iya juga…”

“Iya juga ya…” ulangnya dengan nada yang dibuat-buat.

Beberapa waktu lalu aku bermalam berdua dengan tantenya, sekarang dengan keponakannya. Terkadang aku merasa menjadi laki-laki beruntung banget, bisa di kelilingi wanita-wanita cantik.

Aku sudah mengabari mama kalau malam ini tidak pulang. Aku meminta kepada nya untuk langsung mengunci pintu dan pagar dari sore agar lebih aman.

“Bu Pristy nelpon lagi ga?” tanya ku pada mba Gadis.

“Udah enggak, tadi pas elo mandi gue udah ngabari dia kalau gue sama lo baek-baek aja, gue juga udah bilang kok kalau lo bawa gue ga pake macem-macem, ga neko-neko, cuma lagi pengen nenangin diri aja, gitu…”

“Oh…”

“Sebenernya ada apa sih?”

“Ga ada apa-apa…”

“Ga mungkin…”

“Hmm…”

“Percuma aja lo nyulik gue kalau lo ga mau cerita ke gue, mending lo kabur ke mama Fatma aja…”

“Soal mama gue sama papa lo, mba…”

“Gue lebih muda dari lo kali, udah ga perlu panggil mba lagi…”

“Hahaha, kebiasaan…”

“Kenapa mereka berdua? CLBK?”

“Enggak sih kayanya…mama ga mungkin ngehianatin almarhum papa gue…”

“Aseek…”

“Serius…”

“Iya percaya…terus masalahnya apa?”

“Tante mu itu yang pengen mama balik sama papa mu…”

“Terus? Ga haram kan? Toh keputusan ada di tangan mama sama papa…”

“Iya, tapi…” ucap ku tertahan mengingat cerita tentang apa saja yang sudah keluarga mereka lakukan ke keluarga ku dulu, bingung aku apakah aku harus menyimpan rahasia ini ke Gadis atau harus membukanya.

“Apa?”

“Bingung gue ceritanya dari mana…” duh cerita ga ya? Sudah terlanjur tapi kasihan Gadis kalau sampai tahu riwayat masa lalu keluarga kita dulu. Apa aku mengarang cerita saja ya?

“Si tante cerita lebih dalam soal masa lalu mereka berdua…”

“Maksud lo mama sama papa dulu pisah nya ga baik-baik?”

“Mungkin bisa di bilang begitu…”

“Ah dasar papa pasti muda nya playboy tuh, hiiih…”

“Loh, udah nyimpulin aja, gue kan belum cerita apa-apa…”

“Hahaha, iya ya, tapi logikanya mana mungkin mama Fatma yang nyakitin papa, ya kan?”

“No comment lah, tapi yang pasti…”

“Lo ga setuju kalau mereka balikan?”

“Gue ga bisa bilang enggak setuju, tapi sebenernya gue juga ga setuju…”

“Halah galau bener dah lu…”

“Ya kalau gue ga galau gue ga bakal bawa lo ke sini mba, eh Dis…”

“Dan gue tebak lo keluar dari restoran supaya ga ada beban atau hutang budi gitu kalau-kalau ternyata papa pengen nikahin mama?” tanya nya, dan aku hanya mengangkat bahu dan alis ku sebagai tanda bahwa tebakannya tidak salah.

Aku memang belum siap kalau mama harus menikah lagi. Entah mengapa aku tidak, atau belum siap bila harus memiliki papa baru. Bukan tidak ingin mama bahagia lagi, atau tidak ingin mama ada yang jagain lagi, tapi aku hanya merasa belum siap saja. Aku sadar cepat atau lambat aku tidak akan bisa berada di samping mama lagi. Cepat atau lambat aku pasti akan menikah dan memiliki keluarga sendiri, dan mama pasti masih butuh pendamping. Dan lagi pula mama belum tua-tua banget, aku yakin mama masih membutuhkannya. Tapi setelah mendengar semua cerita bu Pristy, aku belum siap kalau harus menerima mereka semua menjadi bagian dari keluarga ku lagi. Dan belum tentu juga mama mau menerima mereka. Maka dari itu sebelum terlalu lama lebih baik aku keluar dari restoran itu. Aku pikir ini adalah jalan yang terbaik.

“Sebetulnya lo ga perlu keluar juga sih, papa atau tante bukan tipe orang yang suka memanfaatkan sikon.”

“Gue udah pikirin kok…”

“Yakin?”

“Iya…”

“Terus abis ini lo mau ngapain?”

“Cari kerja lagi sih yang pasti…”

“Okay…” balas mba Gadis singkat. Ah sudah bener ngilangin panggilan mba pada diri nya.

“Eh, gue ambil jaket bentar ya, dingin nih, lo mau gue ambilin juga ga?” tanya nya sambil beranjak dari tempat duduk yang ada di balkon hotel ini. Aku menganggukan kepala ku.

“Tolong ya, hehehe,” balas ku sambil tersenyum kepadanya.

Tidak berselang lama dia sudah kembali dengan jaket nya dan jaket ku. Udara malam di punca memang sangat dingin. Tidak heran bila pasti ada saja orang-orang jakarta yang setiap minggu menghabiskan akhir pekan mereka di sini.

“Kalau lo sendiri gimana?”

“Apanya?”

“Jadi adik tiri gue…”

“Hahaha, hmm… gimana ya?”

“Ya gimana? Malah nanya balik…”

“Bingung juga sih sebenernya.”

“Bingungnya kenapa?”

“Jujur ya, gue bakalan seneng banget kalau jadi anaknya mama Fatma, tapi…”

“Apa?”

“Gue takut mama ga bahagia sama papa, jadi ya… no comment aja lah, biarin aja mereka berdua yang ambil keputusan sendiri, balikan lagi syukur, ga juga ga masalah, toh gue masih bisa deket sama mama, kalau gue kangen tinggal nyamper.”

“Nah, gue sebenernya juga kepengen mama punya pasangan lagi, punya pendamping lagi, punya seseorang yang bisa jagain tiap waktu, tapi ga tau kenapa gue ragu sama pak Wira, maaf…”

“Hahaha, santai aja kali…”

“Jadi menurut lo gue harus gimana?”

“Lah, harus gimana gimana maksudnya? Kan sekarang setatus nya memang belum ada apa-apa kan? Bukannya ide itu cuma baru dari tante, tante mah ga bisa maksain keles…”

“Lo boleh ngetawain gue tapi apa yang gue rasain itu kayak seorang bapak yang anak gadisnya abis disakitin cowok terus ini ada yang ngasih ide buat anak gadis gue balik ama cowok itu, kebayang ga?”

“Hahahaha…”

“Kan ketawa…”

“Kocak lo, punya anak aja belum udah ngomongin anak gadis…”

“Makanya gue juga bingung, mungkin naluri aja, bokap gue udah ga ada jadi gue yang was-was sendiri. Nanti kalau tante mu ngobrol sama mama trus nyomblang-nyomblangin kan bahaya…”

“Itu kalau mama setuju kan?”

“Takutnya mama meleleh lagi sama papa mu…”

“Hahaha, asli parno an banget lo. Papa gue ga se bejat itu kali sampai lo takutin kek gitu…”

“Ya namanya juga naluri…”

“Udeh, mending lo sekarang ga usah mikirin masalah itu lagi…”

“Masalahnya urusan nyokap gue ini…”

“Paham, pokoknya tenang aja sama gue, kalau papa sampai macem-macem sama mama, gue sendiri yang pasang badan, gue bakalan belain mama kok, tenang aja ya. Oiya gue barusan dapet ide menarik. Lo mau denger ga?”

“Apaan tuh?”

“Jadi gini… gue ada sedikit tabungan nih…”

“Tabungan? Terus?”

“Lo kan jago masak…”

“Ga jago-jago banget, rasa standar aja tapi ga pernah kurang asin atau keasinan.”

“Hahaha, whatever lah, intinya gue mau ngajak lo joinan buat berbisnis…”

“Bisnis?”

“Kita buka rumah makan, eh salah kalau rumah makan mah terlalu besar, warung makan, atau apalah, kafe, coffee shop atau sebagainya, yang penting kita usaha, dari pada nyari kerja paling jadi pelayan lagi…”

Aku berusaha mencerna kalimatnya dalam-dalam. Kalimat itu memang cukup panjang, tapi semuanya berisi, dan isinya sangat berbobot. Tidak menyangka kalimat sebagus itu keluar dari mulut anak gadis yang beberapa bulan yang lalu masih sangat manja, suka cari gara-gara, galak dan moodis.

“Lo yakin?”

“Seratus persen yakin.”

“Kalau modal lo ga balik gimana?”

“Rumah lo gue gadaiin.”

“Eh, enak aja, mana bisa begitu…”

“Hahaha, canda kali… lo tenang aja, uang itu tabungan gue sendiri yang memang ga pernah gue pakai. Lo ga usah mikirin duit lah kalau sama gue, hehehe, bukan maksud sombong ya…”

“Terus maksudnya uang itu buat…”

“Cukup lah buat sewa kios atau apa gitu plus operasional enam bulan ke depan…”

“Menarik sih… tapi…”

“Anggep aja kita bagi dua saham nya, kalau usaha ini berkembang kan gue bakalan untung juga, gue bisa buktiin ke papa sama tante kalau Gadis yang sekarang bukan Gadis yang manja kaya dulu lagi, gimana?”

“Ya kalau lo percaya sama gue sih ayuk lah…”

“Sip…”

Aku dan Gadis lalu berjabat tangan layaknya dua pebisnis yang baru saja menyepakati sebuah bisnis ratusan atau miliaran rupiah. Tapi ini menarik sih, dan cukup menantang. Memang benar apa yang dia ucapkan, dari pada nyari kerja, mending usaha.

###

Mama dan Rahma hari ini seperti menjadi juri pada ajang kompetisi Chef yang biasa ada di televisi. Dan pesertanya tidak lain dan tidak bukan adalah aku sendiri, di bantu dengan Gadis. Agak kocak sih, karena Gadis bukannya membantu, tapi malah membuat rusuh. Ada sih membantu nya, tapi banyakan ngerusuhinnya. Tapi sesuai kesepakatan sebelumnya antara aku dan dia, dia tidak hanya sebagai investor yang mau menginvestasikan uangnya, tapi dia juga ingin ikut andil dalam operasioanal kafe yang ingin kami bangun bersama ini.

Mama awalnya kaget namun dengan rencana kami berdua ini, namun kemudian sangat senang dan sangat mendukung. Mama bangga dengan keberanian kami berdua yang punya inisiatif untuk berusaha dan tekad untuk maju. Doa dan arahan dari nya insyaallah akan selalu menyertai kami berdua.

Tempat makan yang ingin kami bangun adalah sebuah kafe. Mungkin semacam tempat nongkrong anak muda gitu. Ada makanan beratnya, ada makanan ringannya juga, dan kopi sudah pasti menjadi menu wajib karena seperti yang lagi nge-trend belakangan ini masyarakat sedang gandrung dengan kopi. Lagi musim nya kopi. Dan mungkin ini adalah peluang bisnis yang bisa kami ambil.

Aku sudah mencoba beberapa menu makanan berat dan alhamdulillah tidak ada yang mengecewakan. Kalau dibanding dengan masakan restoran terkenal tentu masih kalah, tapi boleh lah untuk kelas cafe kecil-kecilan. Nasi goreng, mie goreng, kwetiau, bakmi, pecel ayam, ayam geprek, ayam penyet, hingga masakan seafood semuanya aku libas dengan sempurna. Semuanya aku pelajari secara otodidak saja dari internet. Mama aja sampai takjub dengan bakat yang aku miliki ini.

Itu tadi untuk makanan berat. Untuk makanan ringan aku memilih beberapa menu umum seperti pisang bakar keju, singkong keju, roti bakar, siomay, kalau ini aku ngambil dari supplier, jamur crispy, dan masih banyak lagi yang pasti akan aku ekplorasi seiiring dengan berjalannya café.

Untuk minuman juga aku sudah memikirkannya. Fresh juice, ice blend, milk shake, milk tea, sudah pasti akan menjadi minuman standard. Yang istimewa? Aku dan Gadis sepakat untuk mempelajari semua hal tentang kopi. Kalau perlu kami akan kursus menjadi barista. Dan mesin barista kami harus punya sendiri. Aku semakin tidak sabar untuk memulainya.

###

“Gimana menurut mama?” tanya ku saat kami berempat survey ke sebuah ruko yang terletak di jalan Cinere raya. Menurut ku sih lokasinya cukup strategis. Pertama, di sekitar lokasi ini banyak sekali perumahan yang aku yakin di dalamnya juga terdapat anak-anak muda yang butuh tempat nongkrong setiap malam minggu nya. Kedua, selain perumahan, di sini juga terdapat beberapa sekolah, rumah sakit, serta beberapa perkantoran kecil yang pasti karyawannya butuh tempat makan siang. Jadi untuk hari biasa market nya adalah Ketiga, pada deretan ruko yang akan aku sewa ini juga terdapat beberapa tempat makan yang secara tidak langsung pasti akan memberikan aura tersendiri bahwa tempat ini adalah lokasi kuliner, selanjutnya tinggal bagaimana mengolah tempat ini supaya mempunyai daya saing yang lebih dari yang lainnya.

“Lumayan sih kak, ga jauh dari rumah, depannya juga bersih, pinggir jalan raya, tinggal di dekor aja biar jadi lebih nyaman lagi,” ucap mama sambil masih melihat-lihat ke sekitaran halaman depan ruko ini.

“Pastinya itu mah biar instagramable hehehe,” tambah Gadis.

“Deket-deket sini ada sekolahan kan, ada kampus juga, kalau design interior nya oke punya pasti bakalan rame, anak muda itu biasanya milih tempat nongkrong yang paling dicari ya suasananya, rasa nomor dua meski harus di perhatiin juga.”

“Betul…soal itu serahin semua ke Gadis, pokoknya terima jadi deh. Itu PR nya Gadis. Adi sama mama siapin menu-menu nya aja,” balas Gadis.

“Terus aku ngapain?” tanya adik ku Rahma dengan sangat polos nya.

Kami bertiga lantas melihat ke arahnya dengan tatapan yang berbeda-beda. Aku jelas lucu aja mendengar pertanyaannya. Mama mungkin agak kasihan karena anak perempuannya belum mendapat peran di usaha ini. Gadis nampak ingin tertawa tapi mungkin tidak tega.

“Elo jadi kasir aja udah rangkap jadi pelayan, sama gue juga kok, sepulang sekolah kita kerja di sini, pasti seru, ga apa-apa kan mah?” tanya Gadis meminta persetujuan pada mama.

Mama tidak langsung menjawab. Beliau menatap Gadis dengan tatapan yang menyejukkan. Aku tidak yakin apa yang dia rasakan, namun aku menebak mama seperti terharu dengan perubahan yang sudah terjadi pada diri Gadis sekarang. Sangat berbeda dengan pertama kali dia masuk ke dalam keluarga ku. Gadis yang suka dram kini sudah tidak ada lagi. Tidak ada lagi Gadis yang pemarah, tidak ada lagi Gadis yang manja, yang ada sekarang hanyalah Gadis yang sudah dewasa, yang mengerti akan arti perjuangan. Dan itu pasti karena mama. Karena kasih sayang yang sudah dia berikan selama ini lah yang mampu meluluh lantahkan keras nya hati seorang anak yang hampir frustasi karena broken home.

“Terserah Rahma saja mama mah, yang penting ga ganggu sekolahan, kamu juga jangan sampai ganggu sekolahan ya sayang…”

“Sipp… tenang aja mama… gimana? Mau kan lo?” tanya Gadis ke Rahma.

“Gaji nya berapa?” tanya adik ku yang entah kenapa hari ini jadi teramat sangat lugu itu. Dan kami semua langsung tertawa. Baru juga mau merintis udah di todong gaji aja.

###

“Yang ini aja…” bisik ku pada Gadis.

“Yang ini lebih bagus…” balas nya.

“Tapi itu mahal…”

“Tapi ini hasilnya pasti lebih enak, bagus untuk investasi jangka panjang…” balasnya lagi tidak mau kalah. Begitulah perdebatan yang terjadi di antara kami berdua. Mama dan Rahma langsung pulang ke rumah setelah survey tadi. Sedangkan aku dan Gadis mengunjungi sebuah toko grinder kopi di daerah Jakarta Selatan.

“Nanti buat yang lainnya ga kebeli loh…”

“Masih cukup kok… setelah ini tinggal beli peralatan perang lo sama paling piring, gelas, dan teman-temannya, ya kan?”

“Iya tapi tetep aja, kalau cash flow nya ga seimbang nanti belum mulai udah bangkrut duluan.”

“Optimis aja deh, percaya sama gue kan?”

Akhir nya aku yang mengalah. Jadinya kami berdua ambil mesin grinder pilihannya. Yang penting aku sudah mengingatkan. Kalau nanti nya keuangan jadi ga seimbang jangan salahin gue ya. Ya semoga saja usaha yang sedang kami rintis ini bakalan rame nantinya. Tapi ini sekaligus jadi tantangan tersendiri buat ku. Aku harus mengelola usaha ini dengan baik.

Daftar Part