. Kesempurnaan Part 24 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 24

0
307
Kesempurnaan

Kesempurnaan Part 24

Teman

Lokasi yang kami tuju adalah sebuah perumahan kecil di daerah Jakarta Barat. Dari rumah bu Pristy dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam karena macetnya kota jakarta. Kami tiba di lokasi yang di duga tempat mba Gadis dan Rahma di sekap sekitar pukul sembilan malam. Aku tidak tahu komplek kecil ini ada penghuninya atau tidak. Suasannanya sepi banget. Sebagian besar rumahnya sudah nampak rusak, sebagian lagi masih layak huni. Mungkin hanya sebagian saja rumah di komplek ini yang berpenghuni.

Saat masuk ke komplek ini tadi pun di post satpam depan sudah tidaka da yang menjaga. Post satpamnya juga sudah tidak terurus. Kemungkinannya penghuni komplek ini sudah tidak menggunaka jasa satpam lagi. Akses jalan di dalam komplek pun juga sebagian besar sudah rusak. Banyak lubang di sepanjang jalan menuju rumah yang nampak remang-remang dari luar, sebuah rumah yang terletak di salah satu sudut dalam komplek.

Mobil yang kami tumpangi berhenti agak jauh dari rumah yang di maksud. Di depan kami beberapa warga nampak berkerumun, layaknya menonton film laga action, mereka nampak sangat antusias, padahal bisa saja nyawa mereka yang jadi taruhannya. Dari kejauhan aku bisa melihat beberapa orang berpakaian gelap mengepung sebuah rumah. Apakah benar di sana ada Rahma? Aku harus memastikannya. Aku segera membuka pintu mobil namun kemudian di cegah oleh pak Wira.

“Mau ngapain kamu?” tanya pak Wira.

“Memastikan adik saya baik-baik saja…”

“Ga usah, sebentar lagi mereka selesai, lagi pula yang ada bahaya buat kamu, kita pantau saja dari sini.”

“Paling ga kita turun pak…”

“Ya terserah, tapi kamu jangan nekat kesana karena bisa jadi strategi mereka yang mereka susun bisa bubrah, yang penting kendalikan diri.”

“Iya,” balas ku singkat.

Aku lalu turun dari mobil dan sedikit mendekat. Aku berdiri di dekat beberapa warga yang melihat dari kejauhan ini. Terdengar bisik-bisik dari mereka yang tidak menyangka sekaligus tidak percaya lokasi bahwa komplek mereka di jadikan orang jahat untuk menyekap orang. Tapi sebenarnya masuk akal sih kalau komplek yang berlokasi di pinggiran kota jakarta barat ini dijadikan markas. Selain lokasinya yang di pinggiran, konndisi kompleknya juga sudah tidak terawat, dan tadi saat aku masuk ke dalam area komplek ini suasananya sangat sepi. Minim penerangan. Banyak rumah yang tidak berpenghuni. Sempurna.

Aku masih memperhatikan dari jauh. Rasa cemas dan was-was menyelimuti diri ku, ditambah lagi dengan suasana malam yang sepi dan mencekam seperti ini, segala pikiran buruk menyerang begitu saja. Tapi aku harus membuangnya jauh-jauh. Aku harus yakin. Mereka, berdua atau bertiga, karena aku juga tidak yakin kalau Ratna yang sampai detik ini juga belum ada kabar ikut menjadi korban atau tidak. Dan tiba-tiba seseorang pria berpakaian gelap itu keluar dari dalam pagar rumah dengan memapah seorang wanita. Rahma?

Sontak aku langsung berlari ke arah mereka. Saat aku berlari ke arah mereka itu seseorang lagi keluar dari dalam pagar dengan memapah wanita lain. Lalu di belakangnya ada lagi seseorang yang juga memapah wanita. Dan terakhir seseorang juga memapah seorang pria juga. Setelah dekat aku baru bisa melihat dengan jelas orang-orang yang dipapah itu adalah mba Gadis, Rahma, dan Ratna juga, alhamdulillah, lalu terakhir seorang pria setengah baya yang aku tidak kenal. Siapa dia? Bapaknya Ratna? Tapi kenapa bisa ada di sini? Ah tidak penting. Yang penting mereka semua selamat.

“Kakak…hiks…hiks…” Rahma berlari ke arah ku lalu memeluk ku. Aku jadi semakin tenang karena meskipun melihat kondisi Rahma yang acak-acakan dan berantakan baik baju dan rambutnya namun fisiknya masih cukup kuat untuk berlari, artinya dia tidak kenapa-napa.

“Sudah de tenang ya, udah aman kok, ada kakak di sini, maafin kakak ya ga bisa lindungin kamu…”

“I-iya kak…hiks…orang-orang yang nolongin Rahma itu siapa?”

“Ceritanya panjang, nanti kakak ceritain semuanya, yang penting kalian semua…” saat aku mengucap itu tiba-tiba satu orang lagi memeluk ku dan Rahma, mba Gadis, dan akhirnya kami berpelukan bertiga.

“Maafin gue yah, gara-gara keluarga gue kalian jadi kebawa-bawa,” ucap mba Gadis dengan tenang. Nampak sekali anak itu justru jauh lebih bisa mengendalikan diri nya.

“I-iya mba, yang penting semuanya selamat, ini jadi pelajaran bagi kita semua…”

“Ga nyangka gue,” ucapnya lagi.

“Kenapa?”

“Keinginan lo buat dipeluk kita berdua akhirnya kewujud juga, hahaha,” bisiknya sambil tertawa pelan. “Iya ga ma?” tanya mba Gadis ke Rahma. Aku ikut tersenyum mendengar ucapannya yang ngawur itu. Memang terwujud tapi tidak harus dengan cara seperti ini juga sih. Bisa-bisanya dia bercanda setelah semua yang terjadi.

“Hiks…i-iya…hiks…”

“Udah jangan nangis…gue aja ga nangis kan? Masa lo kalah sama gue sih?” ejek mba Gadis.

“Biarin. Mama mana kak?”

“Mama ada di rumah mba Gadis…”

“Ehemm…” baru aku menjawab namun seseorang sudah berdehem. Pak Wira dan pak Parto ternyata sudah menyusul dan berdiri di dekat kami. Aku menoleh dan melihatnya nampak tersenyum, mungkin karena melihat ku yang masih berpelukan bertiga. Sepersekian detik kemudian mba Gadis lalu melepaskan pelukan itu saat sadar dirinya juga diperhatikan oleh sang ayah.

“Eh papa…” ucapnya dengan sangat garing, kocaknya lagi bukannya menghampiri ayah nya itu dia malah hanya diam berdiri.

“Hmm…Adi sama Rahma aja dipeluk, papa enggak nih?” ledek pak Wira. Mba Gadis langsung tersenyum dan berlari kecil ke arah papanya itu. Suasana haru menyelimuti kami semua. Aku lalu melepaskan pelukan ku terhadap Rahma saat sadar Ratna dan pria yang tidak aku kenal itu berjalan mendekat ke arah ku. Karena terlalu bahagianya aku sampai lupa kalau ada Ratna juga di tempat ini dan kami belum saling menyapa. Dan aku penasaran dengan pria yang bersama dengannya itu.

“Di…”

“Rat…gimana bisa?”

“Nanti aku ceritain, oh iya ini ayah ku…yah…ini Adi yang sering Ratna ceritain…”

“Adi om…temen kerjanya Ratna…”

“Ayah nya Ratna…”

Aku berjabatan dengan ayahnya Ratna, saling tersenyum dan kami sempat berbincang sebentar memastikan kondisi mereka semua baik-baik saja. Dan yang paling utama tentu saja tidak sampai terjadi adanya pelecehan terhadap ketiga wanita cantik ku ini. Kalau sampai itu terjadi, aku sendiri yang akan mengebiri orang yang melakukannya.

“Adi, Rahma dan Gadis pulang duluan ya bareng mas Parto, dan kamu…”

“Ratna pak, saya karyawan di restoran juga…”

“Oh iya Ratna dan papa kamu nanti akan diantar sama orang ku ya…”

“Lalu papa sendiri?” potong mba Gadis.

“Papa masih ada urusan sama dua orang itu…” ucap pak Wira santai menunjuk ke arah dua orang yang terikat di teras rumah.

“Tapi pah…mama…” potong mba Gadis lagi dengan cemas. Meski dua orang yang sudah terlihat tidak berdaya itu adalah orang yang menyekap mereka berempat namun tetap saja salah satu di antara mereka adalah ibu kandungnya sendiri. Tapi aku juga bingung sih bagaimana mungkin seorang ibu kandung bisa melakukan perbuatan semacam ini? Keluarga yang aneh.

“Tenang aja, papa cuma mau mastiin mereka berdua ga akan ganggu kita lagi, papa janji ga akan nyakitin mereka, lagi pula bentar lagi paling polisi juga datang,” balas pak Wira sambil tersenyum. Senyum yang aneh, dan mengintimidasi. Ah semoga saja benar pak Wira hanya akan menjauhkan ke dua orang itu dari kehidupan kami. Bukan menjauhkan mereka dari dunia ini.

Tidak ada yang berani melawan kehendak pak Wira. Kami menurut saja dengan semua arahannya. Aku sendiri sih tidak terlalu tertarik untuk ikut campur lebih dalam. Yang penting Rahma sudah kembali. Akhirnya kami berpisah dan pulang ke tujuan masing-masing.

###

Kami disambut dengan tangis dan penuh haru begitu tiba di rumah bu Pristy. Mama dan bu Pristy sama-sama mewek nya. Ah wanita memang makhluk yang sangat perasa dan penuh dengan tangisan. Tapi aku segera menenangkan mereka, yang penting semuanya sudah kembali dengan baik. Aku hanya malas melihat adegan tangis menangis ini berlarut-larut.

Setelah itu mama dan bu Pristy sama-sama merawat Rahma dan mba Gadis. Untungnya tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik di tubuh mereka berdua. Kalau sampai ada, kebangetan juga sih mereka tega main fisik ke kedua gadis ku ini. Setelah selesai membersihkan diri, karena tubuh mereka berdua benar-benar berantakan dan kumal, bu Pristy menyiapkan baju untuk mereka. Ukuran baju Rahma seperti nya sama dengan mba Gadis karena baju yang dipinjami mba Gadis bisa masuk dengan pas ke badannya. Setelah itu mereka berdua makan. Katanya mereka tidak di kasih makan dari kemarin. Sedih banget.

Melihat Rahma yang di suapi oleh mama membuat mba Gadis juga ikut minta disuapi juga. Akhirnya bu Pristy mau ga mau juga harus menyuapi mba Gadis. Senangnya melihat mereka berdua bisa kembali dengan selamat seperti ini. Karena dirasa sudah tidak ada yang perlu aku tunggu memilih untuk keluar rumah untuk sekedar menghirup udara segar. Siapa tahu pak Parto juga masih santai jadi bisa ada teman untuk sebatang dua batang.

“Saya ga habis pikir dengan dua orang itu, mau nya apa ya?” ucap ku yang sedikit mengaget kan pak Parto yang sedang duduk bersila di ubin marmer salah satu sudut teras rumah besar ini. Aku lalu ikut duduk di sampingnya dan mengambil sebatang rokok untuk aku sulut.

“Orang gila emang mereka berdua,” balas pak Parto dengan acuh.

“Gila nya kebangetan…”

“Nginep di sini malam ini?” tanya beliau.

“Tergantung mama, kalau minta pulang ya pulang aja lah pak…”

“Nginep aja dulu di sini semalem, ngapain buru-buru, biar bener-bener aman…”

“Iya ya?”

“Iya, kalau mama mu minta pulang ya kamu yakinin lah, masih lebih aman di sini untuk malam ini…”

“Iya deh…bapak sendiri?”

“Paling besok aku balik ke kampung…”

“Lah…lebih buru-buru lagi itu pak…”

“Ya ngapain juga aku lama-lama? Pak Wira udah balik, udah ada yang jagain bu Pristy dan mba Gadis, jadi ngapain aku di sini?”

“Balik kerja di sini lagi aja pak, sukur-sukur bisa kerja di restoran…”

“Emangnya kenapa?”

“Ya seneng aja ngobrol sama bapak, bisa ada temen ngrokok juga, hehehe…”

“Waktu ku di keluarga ini udah habis, lagi pula aku juga sudah punya keluarga sendiri di kampung…”

“Itu kan keluarga adik bapak…”

“Mereka juga keluarga ku…”

“Bapak ga pengen punya keluarga sendiri?”

“Mana ada yang mau sama aku?”

“Cowok itu yang penting usaha pak, ntar lama-lama cewek juga luluh…”

“Hahaha, playboy lu yak? Lagian siapa yang bisa aku usahain?” tanya pak Parto. Aku langsung berfikir lalu entah kebetulan atau tidak bu Pristy datang dan menghampiri kami. Dengan reflek aku menggerakan mata ku ke arah bu Pristy.

“Tuh, dateng sendiri orangnya…” balas ku. Pak Parto langsung menoleh dan terkejut dengan kedatangan bu Pristy.

“Pada ngobrolin apa siii? Seru banget kayanya…”

“Hehehe, ini bu, saya lagi ngerayu pak Parto buat tinggal lagi di sini…”

“Wah boleh tuh…balik sini lagi aja sih pak…” lanjut bu Pristy dengan lembut dan sedikit manja.

“Hehehe, nak Adi ini paling bisa ya, saya udah terlanjur betah di kampung bu, Insyallah sekarang sudah ga ada yang perlu di khawatirin lagi, semua sudah aman.”

“Bukan masalah aman ga aman sih pak, bapak ini kan sudah aku anggep seperti kakak sendiri, sejak kecil juga sudah ikut papa mama, aneh aja kalau bapak tiba-tiba ga ada…”

“Ya memang sudah seharusnya saya tidak di rumah ini lagi bu…”

“Huuh…dulu kan bapak pergi karena berselisih paham dengan orang itu, sekarang orang itu udah di beresin sama kak Wira, jadi ga ada masalah lagi dong…”

“Hehehe, ibu jangan bikin saya ga enak dong, besok pagi-pagi saya tetap mohon ijin untuk balik ke kampung.”

“Ya sudah lah kalau itu mau bapak.”

“Maaf bu…”

“Oh iya Di, hampir aja lupa, itu masa mama mu minta pulang…”

“Kan bener…”

“Apanya?”

“Tadi kita juga sempet ngobrol jangan-jangan mama minta pulang malam ini juga…”

“Hihihi, bisa pas gitu ya…”

“Faktor pak Wira mungkin,” balas ku ngasal.

“Tahu apa kamu?”

“Ga tahu apa-apa kok, tapi aku akan segera mencari tahu bu, karena aku berhak tahu.”

“Iya-iya, tapi yang penting sekarang itu bilangin mama mu buat nginep aja dulu malam ini, kalau besok mau balik ke rumah ya silahkan aja, lagian udah malam ini…”

“Iya bu, saya kepengennya juga balik besok aja.”

“Okay.”

Bu Pristy lalu pergi. Aku lalu mendekat ke arah pak Parto dan berbisik kepadanya.

“Bener kan pak, bu Pristy itu berharap banget bapak balik ke rumah ini…”

“Lalu?”

“Siapa tahu bu Pristy juga berharap bapak jadi pendamping hidupnya, hahaha,” canda ku.

“Jangan ngawur kamu, mana pantes aku sama bu Pristy, ngebayangin aja aku ga sanggup.”

“Tapi jodoh mana ada yang tahu pak…buktinya tadi pas kita lagi bahas pasangan tiba-tiba beliau datang, kalau ga jodoh apa namanya?”

“Sudah-sudah, kamu ini makin malam makin ngelantur aja, aku mau tidur aja,” balas pak Parto sambil berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah. Hahaha. Sepertinya beliau malu. Malu tandanya mau.

“Bu Pristy cantik lho pak, sama-sama single lagi, apa salahnya dicoba?”

“Salahnya ada di otak mu yang malam ini pindah ke dengkul!”

“Hahaha,” aku tertawa mendengar ocehannya.

Entah kenapa aku merasa senang bila pak Parto bisa berpasangan dengan bu Pristy. Kasihan bu Pristy yang sudah menjanda bertahun-tahun lama nya. Aku melihat pak Parto adalah sosok yang pas yang bisa menjaga, melindungi, dan membimbing bu Pristy. Dan kasihan juga pak Parto, di usia nya yang sudah kepala lima namun masih sendiri. Perbedaan usia mereka memang sepuluh tahun lebih, tapi aku rasa bukan jadi masalah. Soal setatus sosial? Melihat kedekatannya dengan pak Wira, aku rasa pak Wira juga akan merestui. Dan yang pasti, setelah mengetahui apa yang sudah pernah terjadi antara mama, bu Pristy, dan pak Wira, dengan mantab aku tidak akan melanjutkan hubungan terlarang ku dengan bu Pristy. Secepatnya aku harus membicarakannya dengan beliau. Jadi satu-satunya orang yang aku rasa sangat pas untuk bu Pristy hanyalah pak Parto.

###

Setelah berdebat panajng lebar akhir nya mama mau tidur di rumah ini malam ini. Mama dan Rahma tidur di salah satu kamar yang sudah di siapkan. Mba Gadis dan Bu Pristy tidur di kamar masing-masing. Sedangkan aku dan pak Parto lebih memilih menggelar kasur lipat di ruang keluarga. Hingga pukul sebelas malam pak Wira belum juga pulang. Aku jadi penasaran dengan apa yang akan dia lakukan terhadap dua orang itu dan komplotannya. Aku hanya bisa berharap pak Wira tidak terlalu ceroboh hingga kelewat batas. Kalau sudah berurusan dengan nyawa, yang salah bisa jadi benar, yang benar bisa jadi salah.

Aku lalu memejamkan mata. Mencoba untuk tidur karena sebenarnya aku sudah sangat ngantuk. Siang ini aku keliling kota jakarta bersama pak Parto. Sedangkan semalam tidur ku juga sebenarnya tidak pulas. Hasilnya sekarang aku merasakan ngantuk yang luar biasa. Melepaskan semua penat yang ada dan merilekskan setiap urat dan persendian yang ada di tubuh ku.

“Adi…ayo masuk…” seorang anak kecil menarik tubuh ku yang entah kenapa juga sama kecilnya dengan tubuhnya. Aku merasa menjadi anak kecil lagi dan kembali ke masa lima belas tahun yang lalu. Aku lalu mengikutinya masuk ke dalam sebuah rumah yang tidak terlalu besar ini.

“Adi ini ayah ku…yah…ini Adi yang sering aku ceritain…”

“Adi om…temen mainnya…” kalimat ku terhenti karena aku baru sadar kalau aku masih belum tahu namanya. Pria tua itu lalu tersenyum pada ku.

“Udah pada makan belum? Temennya diajak makan dulu de…” balas pria itu.

“Iya yah, bunda dimana?”

“Ada tuh di dapur, samperin sana…sekalian minta ambilin makan…”

Anak kecil itu kembali menarik tangan ku dengan paksa, kali ini menuju dapur rumahnya, tapi sayang baru beberapa langkah kami berlari aku tersandung dan terjatuh hingga beberapa mainan milik ku yang aku bawa itu terjatuh berserakan. Ada beberapa karakter superhero, tokoh kartun, dan…sebuah mobil-mobilan yang rasanya sangat tidak asing bagi ku. Bukan kah mobil-mobilan ini seharusnya berada di lemari kaca itu? Lemari kaca yang berada di rumahnya. Aku lalu mengambilnya lalu bangun dan duduk. Anak kecil itu ikut jongkok dan tersenyum, dan seperti biasa, gigi caling menghiasi senyumannya yang membuatnya terlihat nampak semakin manis. Senyuman itu…

Saat aku mengedip-ngedipkan mata aku baru sadar kalau tubuh ku sudah kembali seperti semula. Aku tidak melihat anak itu lagi karena aku sudah terbangun dari tidur ku. Posisi ku terlentang dan yang aku lihat adalah langit-langit ruang keluarga.

“Ratna?” ucap ku pelan. Apakah mungkin?

Tidak terasa air mata ku mengalir tapi aku sendiri tidak paham kenapa aku menangis, tangis sedih atau bahagia, aku tidak tahu. Tidak mungkin, tidak mungkin dia. Bagaimana bisa? Besok pagi aku harus menemuinya. Aku mengusap air mata ku lalu memejamkan mata ku kembali.

[Bersambung]

Daftar Part

Cerita Terpopuler