. Kesempurnaan Part 23 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 23

0
299
Kesempurnaan

Kesempurnaan Part 23

Aku Janji

“Setelah ini kita kemana lagi pak?” tanya ku pada pak Parto saat mobil yang kami berdua naiki sudah bergerak keluar dari komplek elite ini.

“Padang.”

“Hah? Padang?”

“Hahaha, maksud ku warung makan padang, kita makan dulu, aku lapar.”

“Oh…hahaha, baiklah…” balas ku sambil tertawa. Kebetulan aku juga memang sudah lapar.

Tidak lama berselang, tidak sampai setengah jam, mobil sudah terparkir di RM padang. Tempat makan favorit ku. Nasi dua porsi, tunjang, telor dadar, perkedel, sambal hijau, lalapan, es teh manis. Nikmat mana yang bisa kamu dustakan.

“Makan mu banyak juga?” ucap pak Parto saat kami sudah duduk di meja. Pak Parto hanya makan dengan satu porsi nasi, sepotong daging rendang, satu perkedel, dan teh tawar hangat. Khas banget minuman orang seusianya. Hahaha.

“Biar kuat ngadepin keaadaan.”

“Hahaha, kamu tenang aja, percaya sama saya, ga nyampai tengah malam nanti mba Gadis sudah ketemu,” balas nya enteng.

“Kenapa bisa seyakin itu?”

“Koneksi…”

“Koneksi?”

“Iya, semua preman, mafia, dan dedengkot-dedengkot nya itu sekarang lagi nyari mba Gadis. Belum lagi dibantu polisi, intel, semuanya bergerak. Saya bilang salah sih itu orang dua nyari gara-gara dengan keluarga Wiradana.”

“Hmmm…serem juga ya…”

“Kok serem?”

“Ya serem, meski saya ini bukan anak yang alim-alim amat, tapi seumur-umur ga pernah berurusan sama preman atau gitu-gituan.”

“Oh…ya dikit-dikit kamu juga harus melatih mental sama nyali kamu…karena jakarta ini keras, resiko bisa sewaktu-waktu mengancam.”

“Paham sih pak…”

Memang betul sekali yang diucapkan pak Parto barusan. Sebagai laki-laki nyali dan mental untuk sekedar berduel atau berkelahi itu harus diasah. Bukan untuk sok jadi jagoan, tapi untuk melatih insting kita untuk membela diri, karena bahaya bisa sewaktu-waktu menyerang, bukan hanya ke kita, tapi orang-orang terdekat kita.

“Sebenarnya…seberapa dekat sih hubungan pak Parto dengan keluarga Wiradana?”

“Hmm…kenapa kamu nanya itu?”

“Hehehe, hanya pengen tahu saja, saya merasa ada sesuatu antara bapak dengan…”

“Pristy?” potongnya.

“Hehehe…”

“Perasaan kamu saja itu…”

“Ga mungkin pak, tatapan mata bapak ke ibu beda, pasti ada sesuatu, ngaku aja pak, saya ga ember kok, hahaha, lagian kalau ada apa-apa juga ga apa-apa…” ucap ku sambil bercanda.

“Hahaha, terserah kalau tidak percaya…”

“Hahaha, oke-oke, tapi paling tidak cerita sedikit lah pak antara bapak dengan keluarga Wiradana.”

“Waktu itu kan aku udah cerita?”

“Baru kulit nya saja kan?”

“Baiklak lalau kamu memaksa…”

3rd Pov

Seorang anak duduk termenung sambil memeluk adiknya di depan bekas rumah gubug nya yang sekarang sudah rata dengan tanah akibat banjir bandang yang melanda kampungnya. Bajunya lusuh, kumal, dan beberapa sobekan terdapat di kaos dan celana pendeknya. Tak dihiraukannya hujan gerimis yang masih turun dan membasahi kepalanya. Kakek yang paling dicintainya, yang merupakan satu-satunya keluarga selain adiknya yang dimilikinya kini sudah tiada. Langit nampak mendung, hujan belum juga reda, menambah kesedihan yang dirasakan oleh anak yang belum genap berusia sepuluh tahun tersebut.

Anak itu yatim piatu. Kedua orang tua nya entah berada di mana sekarang. Sejak bayi dia dan adik nya di rawat dan di besarkan oleh sang kakek. Bersama sang kakek, anak itu tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat. Anak laki-laki yang sudah merasakan keras nya kehidupan. Tapi sekarang si kakek sudah tiada. Si kakek sudah pergi meninggalkannya dan sang adik. Anak itu merenungi nasib yang sejak kecil sudah tidak memiliki ibu dan bapak, dan sekarang saat dia mulai bersyukur masih memiliki sang kakek, kakek itu juga harus pergi meinggalkannya untuk selama-lamanya.

Air hujan yang jatuh ke tubuh anak kecil dan adik nya itu tiba-tiba berhenti, padahal hujan masih turun. Ternyata seorang wanita dan pria berumur tiga puluhan berdiri tepat di depan anak itu. Wanita itu memayungkan payung di tangannya ke badan anak itu, membiarkan tubuhnya sendiri basah terkena air hujan yang seolah ikut menangis karena kesedihan yang dialami si anak kecil yang duduk sambil memeluk adik nya itu.

Sepasang pria dan wanita itu lalu memberi kakak beradik itu masing-masing baju hangat setelah sebelumnya menyuruh mereka berdua untuk mandi dan membersihkan diri. Kedua anak itu sekarang sudah berada di rumah pasangan itu. Rumah yang besar yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Setelah mendapatkan baju hangat yang lembut dan wangi, pria dan wanita itu memberi mereka masing-masing sepiring nasi lengkap dengan lauk daging yang dia sendiri lupa kapan terakhir kali memakan lauk semewah itu. Kedua anak itu lalu makan dengan lahapnya.

Pria dan wanita itu menatap si anak dengan dengan penuh kasih. Entah kenapa hati mereka terpanggil untuk membawa kedua anak itu saat mereka berdua mengunjungi daerah yang baru saja tertimpa bencana alam itu. Saat melihat anak itu, mereke berdua langsung teringat dengan anak mereka sendiri yang berada di rumah. Dan dengan sekali pandang, sepasang pria dan wanita itu sepakat untuk merawat kedua kakak beradik yang nasibnya malang tersebut.
Click to expand…“Dua anak kecil itu?”

“Yang besar aku, sedangkan yang kecil itu adik ku yang kamu temui kemarin.”

“Lalu pria dan wanita yang menolong bapak itu?”

“Pak Wirakusuma dan Bu Irmawaty, kakek dan nenek dari mba Gadis, orang tua dari pak Wiradana dan bu Pristy.”

“Oohh…jadi setelah itu bapak di rawat oleh mereka berdua?”

“Lebih dari itu, aku dan adik ku sudah di anggap seperti anak mereka sendiri.”

“Waktu itu pak Wiradana sama bu Pristy sudah ada?”

“Pak Wiradana sudah ada, tapi masih balita, seusia adik ku, sedangkan aku waktu itu delapan atau sembilan tahun aku lupa, sedangkan bu Pristy belum ada, kalau tidak salah dua tahun setelahnya beliau baru lahir.”

“Jadi bisa di bilang bapak ini juga bagian dari keluarga itu dong ya?”

“Mereka menganggap nya seperti itu, bu Pristy bahkan sudah menganggap ku seperti kakak nya sendiri, tapi aku sendiri tidak mau jika aku tidak membalas semua kebaikan mereka. Setelah aku lulus sekolah dulu akhirnya aku memilih untuk mengabdikan hidup ku sepenuhnya untuk keluarga itu, termasuk menjadi sopir dan pengawal bu Pristy, dulu tapi, sebelum aku pensiun dua tahun yang lalu. Eh sekarang di panggil lagi, kalau bukan karena mba masalahnya genting seperti ini sih aku tidak mau balik ke sini lagi.”

“Kenapa?”

“Ga apa-apa, hanya sudah capek saja.”

“Oh…tunggu bentar,” ucap ku karena mendadak teringat sesuatu.

“Kalau pak Parto sudah berada di keluarga itu dari kecil, berarti bapak tahu dong masalah yang terjadi antara mama saya dengan bu Pristy?”

“Hahaha, kenapa kamu bisa bertanya seperti itu? Memangnya ada apa dengan mereka berdua?”

“Entahlah, tapi saya melihat ada kekakuan di antara mereka berdua, maka nya saya bertanya ke bapak.”

“Perasaan kamu aja itu…”

“Tidak, aku yakin ada sesuatu yang aku belum tahu.”

“Terserah, tapi aku tidak tahu apa-apa. Kalaupun aku tahu, aku tidak berhak untuk menceritakannya.”

“Setelah semua ini selesai saya akan cari tahu.”

“Hahaha, silahkan saja. Ngomong-ngomong makan mu sudah selesai?”

“Sudah pak…”

“Ya sudah aku bayar dulu, kita harus pergi setelah ini.”

“Kemana?”

“Menemui orang-orang seperti pak Hadi tadi.”

“Jadi kita akan memanfaatkan orang-orang seperti mereka?”

“Tidak memanfaatkan, tapi memberikan penawaran. Pasti ada jual beli kepentingan di sini. Mba Gadis balik, mereka juga pasti akan mendapatkan sesuatu dari pak Wiradana. Pesan yang pernah aku terima dari pak Wirakusuma, saat kamu melawan orang yang menggunakan otot, lawanlah dengan otak, jangan dengan otot juga.”

Aku hanya mengangkat bahu ku menanggapi pernyataannya. Masuk akal sih. Otak seharusnya akan menang melawan otot. Setelah membayar makanan, aku dan pak Parto lalu meninggalkan rumah makan padang ini. Entah preman atau mafia seperti apa lagi yang akan kami temui setelah ini. Semoga mereka semua bisa cepat menemukan mba Gadis dan Rahma.

###

Hingga sore hari, aku dan pak Parto menemui dua orang lagi yang merupakan mafia-mafia kelas kakap di kota Jakarta ini. Semuanya adalah orang-orang yang bergelut di dunia hitam yang bisa memuluskan semua bisnis dari keluarga Wiradana. Bisa dibilang mereka ini adalah yang berkotor-kotoran di lumpur, mereka yang bermain di dunia hitam, tapi di balik semua itu ada sosok Wiradana. Orang tua yang sebelumnya sempat aku kagumi itu hanya tinggal mengendalikan semuanya dari belakang.

Setelah semua urusan dengan orang-orang itu beres, aku di ajak pak Parto ke bandara untuk menjemput pak Wira. Aku ga nyangka impian ku untuk bisa bertemu dengan beliau akan terwujud secepat ini karena seperti info dari bu Pristy sebelumnya bawah jadwal Pak Wira ke Indonesia seharusnya masih setelah tahun baru. Entah mengapa aku seperti merasakan perasaan yang aku tidak mengerti itu apa. Perasaan senang namun aku tidak tahu senang karena apa.

Aku dan pak Parto menunggu di ruang tunggu. Pesawat yang kami tunggu sudah landing, jadi seharusnya sebentar lagi pak Wira akan tiba di ruang tunggu ini. Semakin lama aku semakin tidak sabar. Aneh. Benar-benar aneh. Tidak berselang lama, orang yang kami tunggu tiba juga. Pak Wira. Dia berjalan dengan satu tas koper di tangannya. Badannya tinggi dan masih sangat tegap. Rambutnya pendek dan tersisir dengan rapi. Bulu-bulu kasar tumbuh tipis diarea cambang dan dagu nya yang membuatnya terlihat semakin berkharisma.

Pak Wira menyapa ku dengan ramah. Sepertinya dia sudah tahu siapa diri ku. Bu Pristy pasti sudah banyak bercerita tentang ku pada nya. Setelah berbasa-basi sebentar, kami bertiga langsung meninggalkan bandara. Tujuan kami adalah balik ke rumah. Pak Wira pasti sudah capek, aku dan pak Parto pun juga sudah capek. Saatnya pulang untuk beristirahat dan mengembalikan energi. Menggabungkan semua informasi yang ada, mempelajarinya, dan memanfaatkannya.

###

Dari pagi pak Parto yang selalu menyetir mobil, aku sudah menawarkan untuk menggantikannya namun dia tidak mau. Hingga malam ini pun saat kita bertiga balik ke rumah bu Pristy masih beliau yang menyetir mobil. Aku duduk di sampingnya dan pak Wira di baris tengah. Seperti biasa layaknya bos.

Tiba di rumah, setelah dibukakan pintu pagar oleh satpam, dua orang wanita cantik satu berumur awal empat puluh dan satu lagi tiga puluh akhir menyambut kami bertiga. Mereka berdua adalah mama dan bu Pristy yang keduanya sama-sama nampak gelisah dan khawatir. Tentu saja, anak dan keponakan mereka berdua yang sangat mereka sayangi masih belum jelas dimana keberadaannya. Siapa yang tidak akan panik dan khawatir seperti itu.

“Kakak…hiks…” teriak bu Pristy sambil menangis dan menghambur ke arah kakaknya dan memeluknya dengan erat.

“Udah jangan nangis, bentar lagi Gadis juga pasti ketemu, kamu tenang aja…”

“Maafin aku, kalau saja aku lebih mengawasinya dan tidak…”

“Bukan salah mu, kita masuk dulu aja ta,” ucap pak Wira sambil mengajak adiknya yang sedang kalut itu ke dalam rumah. Saat melewati mama, pak Wira berhenti sejenak dan berdiri menghadap ke arah mama. Wajahnya tersenyum ramah, cenderung manis, namun tidak dibalas oleh mama. Mama hanya diam. Berdiri mematung di depan pria paruh baya itu. Saking tingginya pak Wira, tubuh mama tidak sampai sebahu pak Wira.

“Apa kabar?” tanya pak Wira kepada mama, pelan namun jelas. Dan semakin jelas pula bahwa ada rahasia diantara mama dengan keluarga itu yang aku tidak tahu dan aku harus mengetahuinya setelah semua permasalahan ini selesai. Ada sesuatu yang pernah terjadi diantara mereka. Untuk sesaat suasana menjadi hening. Tidak ada suara sedikitpun hingga pak Parto membuka pembicaraan.

“Sebaiknya kita masuk saja dulu pak, bu, ada banyak hal yang harus kita bicarakan.”

Pak Parto benar. Ada banyak hal yang harus dibicarakan. Pak Wira masih tersenyum pada mama, namun mama hanya diam. Setelah itu bu Pristy merengkuh lengan mama dan menariknya masuk ke dalam, dua wanita cantik itu masuk bersama-sama, sedangkan kami bertiga para lelaki mengikuti dari belakang.

###

“Ada informasi apa saja mas Parto?” tanya pak Wira ke pak Parto dengan panggilan mas. Ya memang kalau dari cerita pak Parto saat makan siang tadi, pada awalnya pak Parto ini memang diangkat sebagai anak angkat, namun beliau tidak mau, hingga akhirnya beliau lebih memilih mengabdikan diri pada keluarga besar ini. Namun pak Wira tetap menganggapnya sebagai kakak angkat meskipun pak Parto tetap menganggap pak Wira sebagai majikan.

“Semua orang sudah di gerakan pak, target utama tetap, maaf, mantan istri pak Wira dan mantan suami bu Pristy.”

“Hmm…baguslah, seharusnya ga sulit lah ya nemuin dua orang itu?”

“Seharusnya, apalagi yang memburu mereka berdua itu orang-orang nya pak Hadi dan yang lainnya.”

“Harusnya, mereka udah nyari perkara sama saya…” balas pak Wira sambil mengepalkan tangannya.

Kami berlima duduk di ruang tamu yang luas ini. Pak Wira duduk di sofa sendiri, aku bersebelahan dengan pak Parto, sedangkan mama bersama bu Pristy.

“Maaf sebelumnya, bukan bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan, tapi…sepertinya ada banyak hal yang belum aku tahu dan aku berhak tahu,” ucap ku menyela pembicaraan mereka semua.

“Apa itu?” tanya pak Wira.

“Mama sepertinya kenal betul dengan keluarga bapak, bu Pristy juga, sebenarnya ada apa ini?”

“Hahaha, jadi kamu tidak pernah cerita tentang aku ke Adi?” tanya pak Wira ke mama.

“Kalian semua hanyalah masa lalu.”

“Iya aku memang masa lalu mu, tapi takdir mempertemukan kita kembali…”

“Iya, dan sekarang anak ku hilang karena masalah di keluarga mu.”

“Aku akan menemukannya kembali.”

“Kamu belum menemukannya.”

“Akan, segera…”

“Tapi belum, hiks…” mama ikutan menangis. Bu Pristy lalu memeluk mama. Aku lalu mendekat dan bersimpuh di dekat mama dan berusaha menenangkannya.

“Rahma akan segera ketemu mah, mama sabar yaa…”

Tidak ada balasan dari mama. Tapi air matanya terus mengalir meskipun tidak ada suara pada tangisannya. Entah tangisannya hanya karena Rahma saja atau karena ada sesuatu di masa lalu nya dengan keluarga Wiradana ini yang membuatnya menangis. Ingin ku menanyakan lagi apa sebenarnya permasalahan di antara mereka, tapi sepertinya sekarang waktunya belum tepat. Sial. Seandainya ada sesuatu yang bisa aku lakukan.

“Dari polisi ada perkembangan info ga mas?”

“Sejauh ini belum ada pak, coba nanti saya tanyakan lagi, tapi seharusnya mereka yang akan memberikan info ke kita kalau ada perkembangan, tapi belum ada kabar sama sekali.”

“Ya sudah, lebih baik kita semua berdoa, semoga kabar baik segera datang. Ngomong-ngomong kalian semua udah pada makan? Mending kita makan dulu, siapa tahu setelah makan kabar baiknya datang,” ajak pak Wira. Ajakan yang benar, jangan sampai kita menunggu kabar baik tapi tubuh kita sendiri tidak terurus.

Meskipun malas dan tanpa semangat, akhirnya mama mengikuti kami semua untuk makan. Bu Pristy dengan telaten menemani mama makan. Dari sudut pandang tertentu aku jadi merasa berdosa kepada mereka semua karena telah melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan dengan bu Pristy. Semoga bu Pristy juga merasakan hal yang sama dan semoga setelah ini kami sepakat untuk tidak malakukannya lagi. Meskipun pernah terjadi ada masalah, tapi aku yakin ikatan batin di antara mereka bertiga sangatlah kuat dan aku tidak mau merusak semua itu hanya karena kenikmatan sesaat.

Saat sedang makan tiba-tiba telepon pak Parto berbunyi. Beliau agak sedikit menjauh dan menjawab panggilan itu. Dia nampak berbicara sebentar sebelum kembali ke meja makan lagi.

“Ada kabar mas?” tanya pak Wira ke pak Parto.

“Ya, sepertinya begitu, belum yakin tapi ada kemungkinan orang-orang pak Hadi sudah menemukan lokasi mba Gadis dan mba Rahma di sekap. Gimana pak?”

“Kita kesana. Prita dan Fatma tunggu di rumah ya. Adi, kamu ikut kita,” balas pak Parto dengan tegas namun tetap tenang.

“Hati-hati kak,” balas bu Pristy.

“Hati-hati kak,” pesan mama ke pada ku. Aku mengangguk dan tersenyum. Kami bertiga lalu bergegas untuk pergi menuju lokasi yang di maksud. Saat baru sampai pintu depan tiba-tiba mama memanggil pak Wira dengan suara yang…

“Mas Wira…” panggil mama dengan lembut, dan pelan. Pak Wira berhenti dan membalikkan badan dan menatap mama seolah bertanya Ada apa?

“Ha-hati-hati,” pesan mama dengan agak tergagap. Pak Wira lalu tersenyum dan mengangguk dengan yakin.

“Akan ku tebus kesalahan ku yang dulu dengan membawa Gadis dan Rahma pulang, aku janji,” balas pak Wira dengan sangat yakin. Menebus kesalahan? Aku semakin bingung, sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka.? Apa pak Wira pernah menyakiti mama? Aarrgghh…sepertinya sesuatu yang complicated benar-benar terjadi di antara mereka. Tapi tidak ada waktu lagi untuk bingung. Mba Gadis dan Rahma sudah menunggu. Semoga kami tidak telat.

[Bersambung]

Daftar Part