. Kesempurnaan Part 22 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 22

0
306
Kesempurnaan

Kesempurnaan Part 22

Prita Asmorowaty Wiradana

Jadi rencananya seperti ini, pak Parto dan bu Pristy sepakat untuk menyampaikan semua peristiwa yang terjadi ke pak Wiradana. Untuk sementara bu Pristy akan mengerahkan kekuatan yang ada dulu untuk melakukan pencarian, sambil menunggu pak Wiradana kembali dari USA. Pak Parto semalam tidak jadi menginap di rumah ku melainkan balik ke rumah bu Pristy, sedangkan aku tetap tinggal berdua dengan mama di rumah, dengan penuh kecemasan.

Pak Parto menceritakan semua rencana yang ada hanya kepada ku agar mama tidak tahu seberapa genting situasi saat ini yang akan menambah panik diri nya saja. Bagaimana tidak, bisnis pak Wiradana itu ternyata tidak bersih-bersih amat. Preman dan mafia kota Jakarta ini sebagian besar adalah partner usahanya. Maka tidak aneh bila musuh dari pak Wiradana ini banyak dan dimana-mana. Kalau mama sampai tahu anak gadisnya ikut terbawa ke dalam lingkaran hitam keluarga itu, aku tidak tahu akan bagaimana reaksinya.

Aku lalu teringat perbincangan ku dengan bu Pristy tempo hari. Entah kenapa waktu itu aku sangat ingin suatu hari nanti bisa bertemu dengan pak Wiradana, bos besar ku, dan sebentar lagi aku akan menemuinya. Tapi sayangnya dengan situasi yang tidak mengenakkan seperti ini.

“Pak Parto semalem itu ga jadi nginep ya kak?” tanya mama saat yang berjalan dari arah dalam menuju ruang tamu masih dengan piyama nya.

“Iya ga jadi, balik lagi ke rumah bu Pristy.”

“Masih belum ada perkembangan ya? Semaleman mama ga bisa tidur cuma merem doang tapi ga lelap,” ucap mama lagi saat sudah duduk di samping ku dengan badan dan matanya yang lesu. Kantung matanya membengkak. Tentu saja kalau semalaman tidak tidur pasti akan membengkak seperti itu.

“Belum, tapi ini kakak masih coba hubungin teman-temannya lagi dan sekolah juga, sambil menunggu kabar juga dari pak Parto. Kalau belum ada perkembangan siang nanti kita akan lapor ke polisi.”

“Iya semoga ada perkembangan ya kak,” ucap mama sambil menyandarkan bahu kanannya ke bahu kiri ku. “Mama takut terjadi apa-apa sama adik kamu,” lanjut mama.

“Mama tenang aja, mereka bertiga pasti ga akan kenapa-napa, kakak janji akan bawa mereka bertiga dengan selamat ga kurang satu apapun ke rumah ini.”

“Iya sayang, semoga.”

###

Hari ini aku akan ke sekolah Rahma untuk mencari tahu sebenarnya dia mulai tidak ada kabar dari pagi atau setelah pulang sekolah. Sedangkan bu Pristy dan pak Parto akan ke sekolah mba Gadis. Aku juga menanyakan kabar Ratna ke beberapa teman restoran dan ternyata kabar yang aku terima lebih mengejutkan. Ratna sudah dua hari ini tidak masuk kerja, padahal seharusnya masuk. Tidak ada ijin apa-apa ke SPV. Berarti kemungkinannya dia tidak ada kabar sejak kemarin pagi, bisa jadi hal yang sama juga terjadi pada Rahma dan mba Gadis.

Tiba di sekolah Rahma, yang dulu juga sekolah ku juga, aku dan mama langsung menuju ruang guru. Yang pertama kami cari adalah guru wali Kelas Rahma yang kebetulan sekali belum ada jam mengajar. Pak Joko, ah kangen juga sama guru yang satu ini. Mudah-mudahan saja beliau masih ingat dengan ku.

“Pagi pak…”

“Pagi…kamu ini kan…”

“Adi pak, dulu murid sini juga kok, tahun kemarin lulusnya. Saya ini kakak nya Rahma, murid bapak. Oh iya, ini mama saya pak.”

“Oh iya, inget bapak sekarang. Kamu kakak nya Rahma. Ah iya Rahma, ngomong-ngomong soal anak itu, kenapa? Oh iya duduk-duduk, silahkan bu…” balas pak Joko yang hampir lupa mempersilahkan ku dan mama untuk duduk.

“Justru itu pak…”

“Justru itu kenapa?”

“Kami ke sini karena…Rahma tidak pulang semalam tanpa ada kabar. Kami ingin cari tahu, sebenarnya kemarin itu Rahma sempat masuk sekolah atau memang dari pagi tidak masuk?”

“Serius kamu? Jangan bercanda?”

“Serius pak…”

“Betul bu?”

“Iya pak, saya terakhir kontak dengan Rahma kemarin pagi, tapi waktu itu saya tidak tahu anak nya dimana, ya saya pikir di sekolah seperti biasa, setelah itu ga ada kabar sama sekali, sore nya ga bisa di hubungin.”

“Dari kemarin anak nya ga masuk bu. Saya pikir sakit, cuma belum ngasih surat ijina aj, nah saya pikir juga hari ini nak Adi sama ibu itu mau ngabarin itu, ternyata malah nyari kabar. Berarti kemungkinannya…Rahma mulai ga ada kabar itu pas…dia berangkat sekolah?”

“Ya bisa jadi pak.”

“Aduh, kemana itu anak ya? Saya jadi ikut khawatir.”

“Appalagi saya pak…” balas mama dengan lesu.

“Sudah lapor ke polisi?”

“Rencana nya setelah ini pak, kami mau memastikan dulu adik saya itu tidak ada kabarnya sejak kapan.”

“Oh ya sudah, nanti bapak coba tanyakan lagi ke teman-temannya siapa tahu kemarin ada yang lihat. Nanti bapak kabarin ya kalau ada info.”

“Iya pak, makasih banyak. Kalau begitu kita pamit pak, mau langsung ke kantor polisi.”

“Iya, yang sabar ya Di, bu…”

“Iya pak.”

Setelah berpamitan, aku dan mama langsung pergi menuju kantor polisi. Kami berdua sudah janjian dengan pak Parto dan bu Pristy. Sedangkan pak Wiradana baru akan tiba nanti malam. Sedangkan Ratna, aku masih belum bisa mengontaknya. Aku juga tidak punya satupun nomor keluarganya. Apa sebelum ke kantor polisi aku ke rumahnya dulu aja kali ya sekedar memastikan dia benar-benar ada di rumah atau tidak. Aku lalu menyampaikan niat ku ke mama dan mama oke-oke saja. Lagi pula pak Parto dan bu Pristy juga masih di sekolah mba Gadis.

###

Aku sudah tiba di kantor polisi setelah sebelumnya sempat memutar dulu ke rumah Ratna. Dan hasilnya semakin mengejutkan atau tidak, aku tidak tahu. Informasi dari para tetangga, rumah Ratna sudah kosong dari kemarin malam dan tidak ada yang tahu keluarga itu pergi kemana. Ada apa lagi ini pikir ku. Harapan ku hanya satu, semoga Ratna dan keluarganya memang sedang pergi. Mungkin liburan atau ke tempat saudaranya, semoga.

Aku dan mama duduk di ruang tunggu menunggu pak Parto dan bu Pristy. Dari info yang aku terima dari pesan singkatnya, bu Pristy sebentar lagi tiba. Berarti ini untuk pertama kali juga mama dan bu Pristy akan bertemu. Aku sih tidak terlau dalam bercertia tentang bu Pristy ke mama, tapi sebaliknya aku cukup cerita banyak ke bu Pristy tentang mama. Apalagi dulu setiap kami selesai melakukan itu, pasti yang di bahas adalah aku ini anak ingusan kemarin sore yang bisa membuatnya ah ah ah. Hahaha. Dan bu Pristy sendiri selalu bilang kalau beliau tertarik untuk bertemu dengan mama, penasaran katanya.

Tidak sampai lima menit dua orang yang aku tunggu tiba juga di ruang tunggu kantor polisi ini. Tapi mama sedang ke toilet. Kami berbincang terkait dengan Rahma dan mba Gadis. ternyata apa yang terjadi pada Rahma juga terjadi pada mba Gadis, dia tidak masuk sekolah kemarin. Artinya mereka berdua menghilang tidak ada kabar dari kemarin pagi.

“Eh pak Parto sudah tiba rupanya,” ucap mama yang baru saja balik dari toilet. Dia berjalan dari arah depan ku, pak Parto duduk di samping ku, sehingga mama bisa langsung melihat keberadaan pak Parto, sedangkan bu Pristy duduk di depan ku menghadap ke arah ku. Mendengar suara mama, bu Pristy lalu membalikan badanya. Namun karena mama sudah berada di sampingnya, tidak sampai berbalik bu Pristy sudah bisa melihat sosok mama yang entah kenapa beliau sangat terkejut, begitu juga dengan mama.

“Mba Fatma?” sapa bu Pristy kaget tidak percaya.

“Prita?” balas mama dengan tidak kalah kagetnya. Mereka saling kenal? Tapi kok Prita, bukan Pristy? Ada apa lagi ini? Ya Tuhan, begitu banyak kejutan yang terjadi beberapa hari ini dan aku merasa sangat bodoh karena baru mengetahuinya sekarang.

###

Berita laporan sudah di buat. Kini Rahma dan mba Gadis telah resmi menjadi orang hilang dan karena pengaruh dari keluarga Wiradana, maka kasus ini akan menjadi prioritas mereka. Agak jengah memang mengetahui birokrasi yang lancar ke atas namun lamban ke bawah, tapi untuk kasus kali ini aku dan mama merasa tertolong. Semoga saja pihak kepolisian bisa segera menemukan dimana keberadaan mereka berada.

Aku, mama, pak Parto, dan bu Pristy kembali berpisah. Namun kali ini mama ikut dengan bu Pristy yang lebih dikenal mama dengan nama Prita, Prita Asmorowaty Wiradana, atau yang biasa di singkat dengan nama Pristy. Pantas saja selama ini saat aku menceritakan bu Pristy ke mama, mama tidak mengenalnya. Coba saja kalau aku tahu dari awal nama bu asli bu Pristy adalah Prita Asmorowaty, pasti mama akan mengenalnya. Dan aku baru ingat dulu saat bu Pristy tahu nama mama adalah Fatma, beliau agak terkejut namun ternyata dia juga tidak menyangka bahwa Fatma yang aku maksud adalah Fatma teman lamanya. Jadi kesimpulannya adalah selama ini aku…enak-enakan dengan teman mama ku sendiri.

Mama ikut dengan bu Pristy dengan harapan beliau akan lebih aman bersamanya. Harapan ku, bu Pristy tidak bocor dengan menceritakan semua yang sudah pernah kita lakukan ke mama. Yang pasti bisa gawat kalau mama sampai mengetahuinya. Mereka berdua pergi meninggalkan ku dan pak Parto dengan berbagai macam tanda tanya.

Ya, banyak sekali yang akan aku tanyakan ke mereka berdua, tapi itu nanti, setelah Rahma dan mba Gadis ketemu, dan Ratna juga tentunya. Jelas sekali kekikukan di antara mereka berdua yang menandakan sesuatu pernah terjadi. Aku tidak mencium gelagat permusuhan, ataupun pertengkaran karena bu Pristy sangat baik ke mama begitu juga sebaliknya. Tapi sangat kaku. Entah karena apa.

“Kemana kita sekarag pak?” aku bertanya kepada pak Parto.

“Ngumpulin masa.”

“Hah serius? Buat apa?”

“Hahaha, enggak lah bercanda. Tapi kita harus menemui beberapa orang. Semalam beliau menyuruh ku untuk menemui mereka semua.”

“Oh gitu, oh iya pak Wira kapan sampai di jakartanya.”

“Harusnya sih entar malam ya.”

“Terus yang mau kita temuin ini siapa pak?”

“Rekan bisnis pak Wira.”

“Lah…kita ini lagi nyari orang, kenapa malah mau ketemu rekan bisnis?”

“Hahaha, nanti kamu juga akan tahu…sudah ikut saja.”

Baiklah. Aku ikut saja kalau begitu. Level mereka sudah tingkat dewa kalau dibandingkan dengan ku. Bisa membantu mencari Rahma saja sudah syukur Alhamdulillah. Ya Allah de…dimana kamu sekarang?

###

Mobil yang aku naiki dengan pak Parto masuk ke sebuah perumahan elite di wilayah Jakarta barat. Sesuai dengan pesannya tadi, aku harus terlihat tenang dan tidak boleh gugup. Orang yang akan kami temui sekarang ini adalah bos besar. Bos besar mafia. Iya mafia. Preman. Dan sejenisnya lah. Dan aku masih bingung kenapa pak Wira malah menyuruh kami berdua untuk menemui orang ini.

Mobil masuk ke dalam sebuah rumah besar yang sangat mewah, sama mewahnya dengan rumah bu Pristy. Di halaman rumahnya terdapat beberapa pepohonan yang rindang. Rumput halamannya juga terlihat sangat hijau. Terdapat juga beberapa kandang hewan piaraan. Preman ini suka binantang juga pikir ku.

Saat kami berdua turun dari mobil beberapa orang berpakaian preman langsung menghampiri. Wajah mereka nampak sangar dan menakutkan, tapi seperti pesan pak Parto, aku harus tetap tenang. Pak Parto menyuruh ku untuk mengankat kedua tangan ku. Pemeriksaan keamanan ternyata. Setelah tubuh kami berdua di periksa dan aman dari senjata, kami berdua dipersilahkan masuk oleh preman-preman itu. Kami berdua lalu masuk tanpa membuang waktu karena waktu yang ada sudah semakin sempit.

“Ada apa si Wira nyuruh kamu nemuin aku To?” tanya pria tua yang mungkin umurnya sedikit lebih tua dari pak Parto.

“Tentunya ada penawaran pak Hadi, hehehe,” balas pak Parto dengan sedikit memberikan senyumannya. Sedangkan pria tua yang bernama Hadi itu masih tetap tenang tanpa memberikan ekspresi sama sekali.

“Penawaran apa? Oh iya, aku denger-denger anak gadisnya hilang ya?”

“Hahaha, berita nya sudah sampai ke sini rupanya. Justru itu maksud kedatangan saya ke mari.”

Pak Hadi yang tadi hanya diam mulai nampak serius menanggapi ucapan pak Parto. Dia mulai bangkit dan melepas kaca mata nya lalu berjalan ke arah kami berdua.

“Siapa yang berani menculik keponakan ku itu?”

“Kami belum tahu pak…”

“Ada yang kalian curigai?”

“Ibu kandungnya sendiri…”

“Bella?”

“Iya.”

“Ada lagi?”

“Mantan suaminya bu Pristy.”

“Halah…mereka berdua itu memang benalu. Aku sudah bilang dari awal tapi tidak ada yang mau dengar.”

“Saya mendengar nya pak, tapi siapa saya ini, hahaha.”

“Orang seperti mereka berdua itu picik nya ga ada lawannya.”

“Memang.”

“Mending seperti aku ini, meski mafia tapi aku tidak licik,” ucap bapak itu dengan sangat pede. Sontak aku tersenyum bahkan hampir tertawa. Mungkin memang betul beliau tidak licik. Tapi namanya mafia ya tetap saja mafia.

“Siapa yang menyuruh mu tersenyum? Siapa dia To?”

“Eh, ma-maaf pak…maaf,” ucap ku meminta maaf dengan panik. Aku tidak mau mati konyol di tempat ini.

“Dia…namanya Adi, kakak angkatnya mba Gadis pak, adik nya juga ikut menghilang bersama mba Gadis, ah panjang lah ceritanya. Sekarang intinya bagaimana kita bisa menemukan mba Gadis dan adiknya?”

“Oke-oke, jadi maksud si Wira nyuruh kamu datang ke sini itu untuk meminta ku membantu nya menemukan Gadis?”

“Betul.”

“Lalu dia sendiri di mana sekarang? Masih di Amerika?”

“Sekarang di perjalanan ke Jakarta pak, tiba nya nanti malam.”

“Oh, bagus lah. Aku pikir dia tidak mau pulang juga.”

“Ya ga mungkin lah pak.”

“Hmh…ya sudah lah, mau gimana lagi? Ga di minta pun kalau ada yang berani nyakitin Gadis, orang itu akan berurusan langsung dengan ku. Pertanyaannya sekarang, orang yang berani macam-macam ini boleh aku matiin tidak?” tanya pak Hadi dengan entengnya. Aku bisa merasakan aura membunuhnya yang sangat kuat, dan aku yakin semua yang mendengarnya pasti akan gentar terhadap nya.

“Terserah pak Hadi saja, asal mba Gadis dan mba Rahma bisa pulang dengan selamat.”

“Sip lah. Aku sudah lama menunggu saat-saat seperti ini. Hahaha.”

Dan aura membunuhnya semakin kuat. Tidak kasat mata namun entah kenapa bulu kuduk ku sampai merinding membayangkan ada orang yang sangat bersemangat untuk membunuh orang lain. Gila ini sih. Keluarga ini benar-benar gila. Dan aku menyesal bekerja di restoran itu beberapa bulan yang lalu. Aku meyesal harus enak-enakan dengan bu Pristy. Aku menyesal harus terlalu baik dengan mba Gadis. Dan aku menyesal tidak bisa melindungi adik ku sendiri.

[Bersambung]

Daftar Part