. Kesempurnaan Part 17 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 17

0
373

Part 17 – Garis Wajah

Setelah sekali memuntahkan sperma ku ke dalam rahim bu Pristy di taman belakang rumah, wanita cantik itu berhasil membuat ku nge crot sekali lagi di dalam kamarnya ya sangat mewah ini. Dan anehnya meskipun saat di dalam kamar aku juga bisa membuatnya K.O sebanyak dua kali, namun beliau justru malah semakin bertenaga. Staminanya justru semakin bertambah. Jadi kesimpulannya restoran itu tidak jadi di balik nama atas nama ku karena tidak lama setelah itu justru aku sendiri yang ketiduran.

Pagi ini saat aku membuka mata aku melihat dia sedang duduk di depan meja rias nya hanya dengan berbalut handuk berbentuk kimono dengan tali di pinggangnya. Kepalanya pun juga masih dililit oleh handuk putih, menandakan rambutnya masih basah karena keramas. Mandi besar pikir ku. Aku menggeliat meregangkan otot-otot tubuh ku. Bu Pristy tersenyum kepada ku dari pantulan cermin meja riasnya. Dia nampak melihat ku dengan senyum penuh arti.

“Sudah bangun?”

“su-sudah bu.”

“Mandi sana biar segar, nanti kita sarapan bareng,” ucapnya sambil tersenyum lalu menggunakan beberapa obat atau make up yang ada di meja rias ke mukanya, aku tidak tau fungsinya untuk apa itu.

“Eh iya, tapi apa memang tidak apa-apa bu?”

“Apanya yang tidak apa-apa?”

“Ya kan ibu bawa saya ke rumah ini, pembantu-pembantu ibu bagaimana?”

“Aku suruh mereka libur semua, hihihi,” balasnya santai sambil tersenyum.

“Semuanya?”

“Iya semuanya, satpam rumah juga aku liburin.”

“Weleeeh..”

“Kenapa?”

“Ada satpam aja ibu saya macem-macemin, gimana kalau ga ada satpam ya? Hahaha,” canda ku kepadanya teringat permainan semalam dengan bu Pristy yang tidak akan mungkin pernah aku lupakan. Permainan nakal yang diberikan oleh seorang wanita yang umurnya tidak jauh berbeda dengan ibu kandung ku sendiri. Semoga aku tidak sedang mengidap kelaian orientasi seksual.

“Makanya mandi sana abis itu baru macem-macem lagi, hihihi.”

“Sekarang aja gimana bu? Hehehe.”

“Ga mau, bau acem!”

“Yah.. nanti mandi lagi dong?”

“Mau dapet lagi ga?”

“Apapun yang ibu minta deh, hehehe,” balas ku lalu beranjak bangun dari tempat tidur. Setelah menyibakkan selimut hangat ini aku baru sadar ternyata aku telanjang bulat. Agak risih sebenarnya namun aku cuek saja berjalan di belakang bu Pristy dengan penis ku yang menggantung lemas. Aku bisa melihat beliau melirik dari cerminnya ke arah penis ku sambil menahan senyum. Senyum yang penuh dengan rasa takjub. Dan aku bangga kejantanan ku ini bisa membuatnya bertekuk lutut.

[table id=Ads4D /]

“Ini yang masak Ibu?”

“He’em, gimana? Ga kalahkan sama yang di restoran?”

“Lebih enak malah, cuma kapan masaknya? Dan bu Pristy niat banget repot-repot masak segala..”

“Ga apa-apa kan wanita masak untuk lelaki nya?” tanya nya sambil tersenyum menggoda. Aku jadi salah tingkah sudah dianggap sebagai lelaki nya sendiri. Adi junior seolah langsung besar kepala dipuji seperti itu.

“Kenapa salting gitu? Hihihi.”

“Ga apa-apa, agak-agak ngilu aja dibilang jadi lelaki nya ibu, hehehe,” balas ku sambil nyengir.

“Kok bisa ngilu?”

“Ya gitu deh, hahaha.”

“Hahaha, dasar anak muda.”

Aku lalu melanjutkan makan ku. Bu Pristy pun juga begitu. Dirinya masih menggunakan kimono yang dia kenakan tadi, sedangkan aku sendiri menggunakan celana pendek dan kaos yang entah dari mana dia mendapatkannya. Tapi kalau orang kaya mah gampang sih dapet dari mana. Sesekali aku mengunyah makanan sambil memandang wajahnya yang masih sangat cantik itu. Kulit nya yang masih kencang dan terawat itu sukses menutupi usianya yang sudah tiga puluh delapan tahun. Bu Pristy yang sadar aku lihatin terkadang protes karena malu sambil tersenyum dengan menggemaskan. Namun tidak ada penolakan berarti darinya. Kami berdua layaknya pasangan muda-mudi yang sedang di mabuk asmara.

“Itu bapaknya mba Gadis?” tanya ku sambil menunjuk ke arah foto yang terpajang di salah satu dinding ruangan ini. Bu Pristy mengangguk.

“Iya, kakak ku itu, ganteng kan? Kaya kamu, hihihi,” ucapnya sambil memuji ku yang membuat ku sekali lagi merasa tersanjung. Namun ku akui apa yang dia ucapkan memang tidak salah. Pria berkumis tipis itu memang sangat tampan dan gagah. Ada kharisma tersendiri yang terpancar dari wajahnya. Ada semacam aura yang akan membuat orang kalau lawan jenis bertekuk lutut, dan bila sesama jenis pasti akan segan terhadap nya. Pantas saja mba Gadis cantik, bu Pristy juga, semua anggota keluarga besar ini pasti tampan dan cantik. Bibit unggul semua pikir ku. Ternak kali bibit unggul.

Aku masih memandang foto pria setengah baya itu. Kalau melihat umur bu Pristy sekarang berarti kemungkinab umurnya sekarang ada di awal empat puluhan. Berarti seumuran mama. Aku terus memandang foto itu dengan rasa kagum. Garis wajahnya benar-benar berbeda. Lain dari pada yang lain. Namun entah mengapa aku merasa tidak asing dengan garis wajah itu. Tapi aku tidak tahu itu kenapa.

“Saya tidak seganteng beliau bu, soalnya pak..”

“Wiradana.”

“Iya, pak Wiradana memiliki kharisma yang jauh lebih tinggi dari saya, gagah nya juga beda jauh, saya mah apa atuh..”

“Hahaha, hanya belum saja. Cowok kan biasanya semakin berumur semakin menarik, makanya om-om tiga puluh akhir sama empat puluh awal itu biasanya lebih butuh banyak perlindungan ekstra.”

“Dari pelakor gitu maksud ibu kan?”

“Hihihi, that’s right.”

“Hahaha.”

Sekali lagi aku memandang foto itu. Tiba-tiba muncul keinginan yang cukup besar dari ku yang aku tidak tahu muncul dari mana untuk bisa bertemu dengan beliau. Beliau pasti salah satu pemilik saham restoran, yang berarti adalah bos ku juga.

“Bapak kapan kira-kira ke Jakarta bu?”

“Mungkin beberapa bulan lagi, paling cepat awal tahun depan, kenapa?”

“Enggak..”

“Hayo kenapa?”

“Hehehe, ga tau kenapa saya sangat kagum sama beliau hanya karena melihat fotonya, ingin sekali saya bisa bertemu dengan beliau.”

“Oh, eh kamu ga terpesona dengan kharisma mas ku itu kan?” tanya bu Pristy dengan sorot mata menyelidik.

“Hahaha, ya enggak lah, hanya kagum saja.”

“Hahaha, kirain. Ya nanti aku kasih tau kalau kakak ku mau ke Jakarta.”

“Sip. Bu, ini beneran kita cuma berdua di rumah ini?” tanya ku sambil melihat ke arah ruang tengah rumah yang luas ini, dan memang tidak ada siapa-siapa. Dari arah depan pun juga tidak ada suara apa-apa. Tidak ada aktifitas apapun yang terdengar di luar sana. Rumah sebesar in hanya ada kami berdua. Rasanya dunia ini hanya milik kami berdua.

Bu Pristy tidak menjawab pertanyaan ku. Dia malah bangkit dan berjalan ke arah ku. Dan tanpa aku sangka sebelumnya dia malah duduk di paha ku setelah sebelumnya menarik tubuh ku agar merubah arah duduk ku hingga menyamping dari sisi meja makan. Bu Pristy duduk di paha kiri ku dair sisi dalam. Tangan kanannya merangkul leher ku.

“Sebenernya ada, satpam ku ga jadi libur, jadi kalau bisa jangan bikin aku teriak yah,” bisiknya manja di telinga ku dengan di akhiri dengan sebuah kecupan di daun telinga ku. Tangan kiri ku dilingkarkan ke pinggangnya. Sedangkan dada kanannya yang sekal dan padat itu menempel erat pada dada kiri ku. Tangan kiri ku memeluk erat pinggang rampingnya yang tanpa lemak itu.

“Kalau bikin ibu mendesah, boleh?” balas ku mesra sambil mengecup pipi kanannya yang halus dan putih itu. Aroma wangi kulitnya yang baru selesai mandi itu membuat ku semakin bernafsu. Bu Pristy langsung tersipu malu dengan perlakuan lembut ku kepadanya barusan.

“Tapi susah sih buat nahan teriakan kalau yang masuk barangnya segede dan sepanjang ini,” ucapnya dengan lembut sambil tiba-tiba meremas kemaluan ku dari luar celana pendek ku.

“Aahhsshh..” desah ku pelan

“Hihihi, enak?”

“Banget.”

“Tapi..”

“Tapi apa?” tanya ku.

“Kamu kan berani sama satpam aku, kalaupun aku teriak dan satpam ku masuk lalu tau majikannya yang selalu dia lindungi ini lagi di macem-macemin sama anak buahnya sendiri yang nakal ini, kamu berani kan melawannya?” tanya nya lagi sambil mencubit hidung ku. Ah ibu yang bikin saya jadi nakal seperti ini bu. Nakal yang enak.

“Seperti yang saya bilang sebelumnya, demi tubuh ibu yang indah ini, saya siap melawan siapa saja,” jawab ku dengan yakin.

“Aaawwsshhh.. bawa aku ke depan Adi..” pinta bu Pristy sambil merintih manja setelah mendengar gombalan ku. Digigitnya bibirnya sendiri yang semakin membuat wajahnya semakin menggairahkan. Tanpa pikir panjang aku langsung membopong tubuh nya yang sintal ini ke depan. Dan aku penasaran permainan apa lagi yang ingin dia lakukan di pagi yang indah ini.

[table id=AdsLapakPk /]

Aku mendudukkan tubuh sintal bu Pristy di atas meja marmer besar yang berada di ruang tamu utama sesuai dengan perintahnya. Posisi meja besar ini tidak jauh dari jendela utama yang menhadap ke gerbang depan dimana post satpam berada. Dan memang benar, ternyata masih ada seorang satpam yang masih berjaga. Sebergairahnya bu Pristy ternyata masih cukup sadar akan berbahaya bila menyuruh satpamnya libur dan tidak ada yang menjaga rumah nanti saat kami sudah harus meninggalkan rumah ini.

“Kamu lihat, orang yang di luar itu salah satu orang kepercayaan ku, dia bodyguard ku, dia yang selama ini ngejagain aku kalau kemana,” ucap bu Pristy sambil menyilangkan kaki nya. Pahanya yang putih mulus terpampang dengan jelas karena kimononya tersingkap keatas.

“Lalu?” tanya ku mengintimidasi sambil dengan memegang kedua pahanya dan membukanya lebar-lebar. Ku tekan selangkangan ku yang masih terbungkus celana pendek menempel pada selangkannya. Ku dorong tubuh nya kebelakang hinga tubuh bu Pristy condong dan bertumpu dengan kedua tangannya. Dadanya sedikit membusung membuatnya terlihat semakin menggoda.

“Lecehkan aku di depannya Di, buka tirainya lebar-lebar, aku mau kamu jadi lelaki yang menguasai tubuh ku, lelaki yang menjadi pelindung ku, aahhhsshh,” ucap bu Pristy sambil berbisik di telinga ku. Entah sudah berapa kali beliau membisiki ku dengan kalimat-kalimat mesra nya. Aku lalu menuruti perintahnya dengan membuka tirai jendela lebar-lebar. Dengan pencahayaan di luar yang lebih terang, seharusnya satpam itu tidak bisa melihat aktifitas apa yang terjadi di dalam. Tapi aku tidak tau juga karena kaca yang ada sangat jernih.

Saat aku membalikkan badan posisi bu Pristy masih sama, duduk bertumpu dengan tangannya dengan kaki yang mengangkang lebar. Hanya saja tangannya yang kanan sekarang berada di atas celah vagina nya yang masih tertutup celana dalam warna merah itu, sambil tersenyum nakal bu Pristy menggesek-gesek belahan itu dengan jari tengahnya sendiri.

“Mau jilat?” tawarnya. Tentu saja aku mau. Aku lalu berlutut di depannya dan mensejajarkan kepalaku setinggi dengan selangkangannya. Ku tarik kain tipis pelindung kewanitaannya itu ke samping dan langsung ku jilat bibir bawahnya yang berwarna merah muda itu. Terasa lembab dan becek.

“Uhh..sshh..terus jilat yang dalam..” perintahnya yang semakin membuat ku bersemangat. Lidah ku menerobos liang senggamanya semakin dalam. Menjilat memutar dan menggelitik daging kenyal dan lembut itu.

“Ahh..ouuhhsshh..terus Di..jamahi V ku dengan lidah mu Di..aahh..”

“V apa?”

“Vag..uhhsshh..” jawabnya terpotong dengan menutup mulutnya karena bersamaan dengan itu aku menggigit biji kecil yang ada di dalamnya.

“Apa namanya?” tanya ku lagi dengan semakin gencar menjilati vaginanya yang juga semakin basah.

“Vag..vagina..aasshhh..” jawabnya kesusahan karena harus berbagi konsentrasi antara pertanyaan ku dengan kenikmatan yang aku berikan melalui lidah ku.

“Bukan, ini namanya bukan vagina..”

“Aahh..eerrghhh..aasshhh..apaa dong..?” tanya nya dengan manja dengan tidak pernah berhenti mengeluarkan desahan nikmat. Aku bangkit dan memeluknya lalu berbisik di telinganya.

“Namanya memek.”

“Aahhsshh..itu jorok Adi..”

“Enggak kok, itu istilah yang cocok buat kamu..lagi pula memek mu..bersih dan harum Pris,” bisik ku lagi sambil menjilat leher jenjangnya. Tubuh nya semakin menggeliat tak karuan. Di rangkulnya leher ku dan balas menjilati leher ku. Nafas bu Pristy semakin memburu. Aku lepaskan tubuh indahnya lalu berdiri gagah di depannya sambil mengurut pelan kemaluan ku dari luar. Bu Pristy menggigit bibir bawahnya sendiri dengan mata saya. Wajahnya menunjukkan hasrat birahi yang tinggi. Hasrat liar dari seorang janda yang rahimnya lama tidak disirami dengan cairan kental. Aku lalu menurunkan celana kolor ku dan mengocok pelan penis yang mampu membuat bu Pristy mendesis pelan hanya karena melihatnya. Bahkan dengan binalnya beliau mengulum jari telunjuknya sendiri dan mengeluar masukkannya hingga ke dalam tenggorokannya.

Aku dan bu Pristy berganti posisi. Ku tarik tubunya turun sedangkan aku sekarang yang berdiri bersandar pada meja marmer itu. Aku berdiri berkacak pinggang dengan gagahnya, begitu juga Adi junior yang juga berdiri dengan gagah. Bu Pristy tersenyum penuh arti. Sepertinya ingin langsung mencaplok penis ku namun ragu dan menunggu aba-aba dari ku.

“Ibu mau?” tanya ku menggoda.

“Ehm..”

“Ibu kan wanita terpandang, tidak seharusnya ibu mau ini, apa lagi saya ini kan hanya karyawan biasa,” ucap ku menasehatinya namun dengan memukul-mukulkan ujung penis ku pada pipi kirinya.

“Iya, memang tidak pantas..” ucapnya pelan dan pasrah.

“Ibu itu pantasnya di lecehin seperti ini..”

Juuiihh!!

Ucap ku lalu meludahi ujung penis ku sendiri yang sebagiannya mengenai bibirnya.

“Jilati ludah ku!” perintah ku yang langsung diturutinya.

“Ahh..iya..terus..” desah ku pelan.

Bu Pristy semakin gencar menjilati kepala penis ku hingga ludah yang tadi di atas nya habis olehnya. Aku lalu menariknya saat dia hendak ingin mengulum batang keras ku ini lebih dalam.

“Kamu suka ini?”

“Ehm..” lagi-lagi bu Pristy ragu untuk menjawabnya. Antara mau dan malu.

Aku lalu menjambak dengan kasar rambut yang dia ikat kebelakang itu. Aku dongakkan kepalannya dan ku buka mulutnya dengan tangan ku yang satu lagi. Wajahnya nampak tersiksa, namun ekspresinya tetap pasrah dan diam saja. Ku buka rahangnya semakin lebar dengan tangan kiri ku, lalu dengan sekali gerakan ku dorong penis ku masuk ke dalam mulutnya hingga mentok ke tenggorokannya. Bu Pristy nampak tersedak namun tidak membuat ku berhenti untuk memperoleh kenikmatan dari mulutnya, aku justru semakin melesakan batang kejantanan ku ini semakin dalam dan semakin dalam.

Ggaaggss Ggaaggss Ggaaggss Gglloorrggss Gglloorrggss Gglloorrggss

Dengan tidak memberinya kesempatan untuk bernafas aku mulai menggenjot batang penis ku ke dalam mulutnya yang kecil itu. Lidahnya terasa di dalam berputar-putar menggelitiki setiap permukaan penis ku. Meskipun kecil ternyata mulutnya masih cukup mampu untuk menelan kepalanya, meskipun untuk menembus tenggorokannya aku hanya butuh setengah dari panjangnya penis ku saja.

Ggaaggss Ggaaggss Ggaaggss Gglloorrggss Gglloorrggss Gglloorrggss

Aku semakin gencar menghajar mulut bu Pristy. Menghajarnya dengan semakin brutal. Matanya nampak memerah namun itu justru membuat ku semakin bernafsu. Mungkin aku memiliki kelainan namun raut wajahnya yang tersiksa itu semakin membuat ku bersemangat untuk menjejalkan seluruh batang kemaluan ku ke dalam mulutnya, tapi mustahil. Mulutnya terlalu kecil.

Ggaaggss Ggaaggss Ggaaggss Gglloorrggss Gglloorrggss Gglloorrggss

Semakin keras aku menyodokkan batang penis ku dan semakin tersiksa bu Pristy. Bukan hanya selangkangan ku saja yang maju mundur, namun kepalanya yang berada di cengkeraman ku itu juga aku maju mundurkan sehingga semakin kuat penis ku ini menghujam kuat pada tenggorokannya. Terkadang bu Pristy terlihat ingin muntah namun selalu berhasil dia tahan. Matanya memerah dan sedikit berair.

Aku lalu mencabutnya sebelum memberikan satu sodokan terakhir dengan sangat kuat, membuatnya menyalang dan memegangi lehernya seperti orang yang tercekik. Betapa jahatnya aku ini. Wanita ini adalah orang yang sudah memberikan pekerjaan untuk ku, mengangkat derajat ku, namun barusan aku malah melecehkan dan menyiksa nya. Benar-benar tidak tahu diri. Namun anehnya bu Pristy malah tersenyum setelah mendapatkan perlakuan yang kasar dari ku tadi. Seolah ingin menunjukkan bahwa aku ini adalah lelaki yang menguasai tubuhnya, lelaki yang berhak melakukan apa saja terhadapnya dan sudah menjadi kewajibannya untuk menyenangkan ku. Baiklah, sekarang giliran ku untuk memuaskan mu bu.

Ku tarik badan bu Pristy yang putih mulus itu ke arah jendela kaca yang besar itu. Ku arahkan tubuhnya menghadap ke luar. Ku pepet tubuhnya dari belakang sembari menggesek bokong indahnya dengan kejantanan ku yang semakin berdiri tegak. Ku gunakan penis ku untuk menyingkap kimono itu ke atas. Ku dekap tubuhnya, ku tangkup payudara indah itu dari belakang dan ku remas pelan dengan sesekali memilin putingnya yang sudah mengeras. Ku berikan rangsangan demi rangsangan agar wanita yang sudah baik pada ku ini juga merasakan enak seperti yang tadi aku rasakan.

“Aahhsshh..A..addii..eerrgghh..”

Ku pijat dan ku remas gundukan daging kenyal itu dengan bernafsu. Ku jilati tengkuk nya hingga basah. Tubuh indah bu Pristy bereaksi dengan menekan tubuhnya kebelakang, bokong seksi yang masih sangat kencang itu menggesek-gesek selangkangan ku. Ku raih tali kimono nya dan dengan sekali tarik tali itu terlepas hingga tidak ada lagi ikatan yang mengikatnya. Ku raih bagian atas kimono itu dan menariknya ke arah sisi luar hingga terlepas. Ku telanjangi wanita setengah baya yang tak lain adalah bos ku sendiri ini. Punggungnya yang putih mulus di padu dengan pinggul dan pantat yang padat membulat dan berisi membuat tubuhnya terlihat sangat seksi dan menggoda.

Ku dorong punggung bu Pristy ke depan hingga tubuhnya membungkuk membuat pantatnya menungging menantang ke arah ku. Pantat wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu terlihat begitu menggoda. Membuat darah muda ku berdesir dan tak kuasa untuk tidak meremasnya dengan kuat. Bu Pristy mendesah manja saat remasan ku samakin nakal ke area dua lubang di bagian bawah tubunya itu.

Juuiihh!! Juuiihh!!

Ku ludahi lubang pantat bu Pristy dua kali. Ludah itu sangat banyak hingga membuat nya kaget dan mengerang nikmat karena merasakan ada sesuatu yang mengalir dan meleleh dari lubang anusnya menuju vaginanya. Dengan kepala penis ku, ku ratakan ludah itu hingga melumuri bibir vaginanya. Bu Pristy semakin mendesah tak karuan saat aku memainkan kepala penis ku untuk menggelitiki lubang memeknya. Wanita terpandang pemilik restoran itu pasrah tak berdaya saat bagian tubuhnya yang paling berharga itu aku jamahi dengan kemaluan ku sendiri.

“Bu Pristy itu pantesnya di giniin memeknya..”

“Ahhsshh..”

“Dan hanya saya yang boleh memasuki memek sempit ini dengan..ehmm apa ya namanya?”

“Ehhmm..apa?”

“Ibu tau namanya?” tanya ku menggodanya sambil terus memainkan ujung penis ku tepat di bibir vaginanya. Bu Pristy menggeleng.

“Namanya kon-tol..ayo sebut bu..” perintah ku.

“Kon..”

“Iyaa..bu..”

“Tol..”

Blesshh!!

Bertepatan dengan ucapan bu Pristy itu aku tekan dengan sekali dorongan namun kuat penis ku ke dalam memeknya dan berhasil melesak dengan sempurna. Penis ku masuk tiga perempat ke dalam rahimnya yang sudah lama tidak pernah terpuaskan itu. Rahim wanita yang seharusnya aku hormati, namun sekarang aku malah menjajah rahim itu.

“Ahhsshh..kontol enak..” jerit bu Pristy spontan. Entah teriakannya akan terdengar sampai luar atau tidak. Justru sensasi yang diberikannya membuat ku semakin bernafsu dan horny untuk semakin menyodokkan batang kejantanan ku semakin dalam. Tanpa menunggu lebih lama aku lalu menggenjotnya dengan tempo yang teratur namun bertenaga. Bu Pristy menmbungkuk pasrah sambil berpegangan pada teralis besi jendel kaca. Pantanya menungging indah menjadi tempat pelampiasan nafsu ku.

Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!

“Asshh..ahhshh..aahhsshh..”

Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!

“Kontol..uuhhh..teruss..”

Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!

“Lebih dalem..lagi..lagi..”

Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!

Aku dan bu Pristy terus berpacu. Tubuh wanita dewasa yang hampir seumuran dengan mama itu berguncang hebat karena sodokan ku. Tubunya berdiri membungkuk dengan pasrah. Tubuh itu seolah menjadi tempat pemuas nafsu ku. Aku terus menghujam kan penis ku ke dalam liang senggama wanita yang cantik jelita ini. Wanita yang seharusnya aku hormati namun kali ini malah aku gagahi. Tusukan ku terus dan terus semakin dalam. Hingga akhirnya tubuh wanita yang sintal itu jatuh tersungkur akibat orgasme dasyat yang di perolehnya.

Bu Pristy jatuh bersimpuh. Akut tidak sempat meraih tubuhnya yang tersungkur lemas akibat ulah ku ini. Namun tanpa di suruh bu Pristy kembali menunggingkan pantatnya hingga bersujud kearah luar. Bagian atas tubuhnya hanya bertumpu pada pipi kanannya. Sedangkan kedua tangannya digunakan untuk membuka lipatan bibir vaginanya. Kepalanya menoleh kebelakang, wajahnya tersenyum manja.

“Memek saya milik tuan, jangan berhenti sampai tuan puas,” ucapnya dengan begitu menggoda.

Aku tersenyum lalu berlutut di belakangnya dan langsung mengarahkan batang penis ku yang masih basah ini ke lubang memeknya.

Halaman Utama : Kesempurnaan

BERSAMBUNG – Kesempurnaan Part 17 | Kesempurnaan Part 17 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 16 ) | ( Part 18 ) Selanjutnya