. Kesempurnaan Part 15 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 15

0
360

Part 15 – Wanita Akan Menjadi Sangat Kuat Jika Sudah Mengandalkan Kelemahannya

Beberapa hari ini aku akui hidup ku menjadi tidak tenang setelah ada nya dua orang berpakaian preman yang membuntuti ku dan mba Gadis di supermarket tempo hari itu. Aku tidak kuatir pada diri ku sendiri, tapi aku kuatir kalau dua orang itu punya niat jahat ke mba Gadis, dan mungkin juga keluarga ku. Masalahnya aku tidak mungkin bisa selalu bersama mereka bertiga. Aku tidak bisa selalu menjaga mereka. Tapi aku juga berusaha untuk membuat jauh prasangka buruk itu agar tidak menjadi kenyataan.

Waktu itu aku juga sempat membahas dua orang ingi dengan mba Gadis, namun anak itu dengan santainya malah bilang kalau itu hanya kebetulan saja. Mungkin itu hanya dua orang yang memang kebetulan berada di tempat dan waktu yang sama dengan kami berdua. Aku mencoba mengiyakan namun tetap saja ada yang mengganjal. Masa kebetulan tapi beberapa kali pandangan kami sempat beradu. Sangat aneh. Terlihat jelas dua orang itu mengikuti kita berdua.

Dan kalau di pikir lagi, aku merasa mba Gadis dan bu Pristy, dua orang yang masuh satu keluarga besar ini punya sejarah keluarga yang rumit, dan juga penuh dengan rahasia. Sekilas aku teringat dengan kejadian dengan bu Pristy saat berada di hotel waktu itu. Jika benar waktu itu ada orang yang menyelinap dan mengawasi bu Pristy, maka bukan tidak mungkin dua orang pria yang berada di supermarket itu juga sedang mengikuti mba Gadis. Pertanyaannya, untuk apa? Itu yang hingga kini aku belum tahu.

Ngomong-ngomong soal bu Pristy, kemarin beliau sudah balik ke Jakarta setelah liburannya ke USA. Dan kemungkinannya hari ini dia akan kembali masuk kerja. Artinya, akan ada pemandangan indah lagi yang bisa aku dan karyawan-karyawan laki-laki lainnya yang bekerja di restoran bisa nikmati. Hahaha. Aku yakin bukan aku saja yang mengagumi kecantikan beliau. Meskipun di usianya yang sudah mendekati kepala empat, namun kecantikannya tidak ada yang luntur sedikitpun. Justru kematangan usianya membuat aura bidadari nya semakin terpancar. Arrgghh..tiba-tiba selangkangan ku ngilu lagi teringat bagaimana dia dulu mengulum dan menjilatnya hingga muncrat. Pusing.

“Gue punya voucher nonton, dua,” tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan dari samping kiri ku di saat aku memikirkan kejadian-kejadian yang beberapa hari ini berhasil mengusik ketenangan ku.

“Terus?”

“Temenin gue nonton yuk,” pinta perempuan itu lagi yang tak lain adalah Ratna.

“Ogah!!”

“Sombong banget!!”

“Emang cowok lo kemana?”

“Lagi liburan sama keluarganya, katanya sih pulang kampong.”

“Kok lo ga diajak?”

“Pengennya sih di ajak, tapi gue dikenalin ke orang tuanya aja belum.”

“Laah..hahaha, lo aja udah gue kenalin ke mama, masa cowok lo belum?”

“Beneran. Jadi mau ga nih? Lo ga kasian apa sama sobat lo ini?”

“Lah lo juga sama aja, lari ke gue juga cuma kalau lagi ditinggal pergi laki lo.”

“Hahaha, ga juga ah. Jadi gimana ini? Iiihh..Adi muter-muter deh ngomongnya..mau ya..” rayu Ratna sambil menggoyang-goyang kan lengan ku.

“Hmm..kapan?”

“Entar malam aja, kan kita sama-sama shift siang, dan besok lo masuk malam kan?”

“Iya sih, tapi..”

“Tapi apa?”

“Gue kalau nonton suka kedinginan, kalau udah gitu suka peluk-peluk partner nonton gue,” canda ku.

“Coba aja kalau berani, hihihi,” balasnya sambil tertawa geli lalu bergegas pergi meninggalkan ku.

“Eh..” aku terkejut mendengar ucapannya. Anak ini kalau ngomong memang suka bercanda. Tapi aku tidak pernah mendengarnya bercanda seperti ini. Apa dia benar-benar serius dengan kalimatnya? Ah tidak mungkin, dia pasti bercanda.

“Pokoknya entar malam ya,” ucapnya lagi dari kejauhan sambil berbalik dan meninggalkan ku masuk ke dalam restoran. Melanjutkan kembali pekerjaannya. Kebetulan aku sedang membereskan meja dan kursi yang dibagian luar resto yang biasanya digunakan untuk pelanggan yang merokok. Smoking area lah intinya.

Tidak lama setelah kepergian Ratna, sebuah sedan mewah keluaran Eropa masuk ke pelataran parkir restoran dan parkir disana. Dari plat nomornya aku bisa memastikan kalau itu adalah mobil bu Pristy. Tidak lama setelah itu dari pintu belakang turun si pemilik mobil. Seperti biasa penampilannya selalu menarik perhatian siapapun yang berada di sekeliningnya. Penampilan yang natural namun mempesona. Cantik yang alami.

Sekilas bu Pristy tersenyum kepada ku. Aku membalas senyumnya sambil sedikit membungkuk sebagai tanda hormat. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya juga memberikan respect yang sama. Bu Pristy selalin cantik memang juga baik hati. Dia sangat baik kepada semua karyawannya. Kebaikannya itu yang membuat semua anak buahnya menaruh respect.

Sekilas dari belakang aku sempat memperhatikan beliau saat berjalan. Lenggak-lenggok pinggulnya benar-benar menggairahkan. Apalagi dirinya yang selalu menggunakan sepatu hak tinggi, membuat jalannya semakin terlihat seksi. Apalagi bulatan bokong seksi nya itu tercetak dengan sangat jelas karena balutan rok span selutut yang dikenakannya. Benar-benar toge pasar. Hahaha.

[table id=Ads4D /]

“Eh, lo tadi kayanya dapet bungkusannya lebih banyak deh dari yang lain?” tanya Ratna tiba-tiba membuyarkan lamunan ku sore menjelang malam ini. Aku dan dia sudah berada di dalam studio bioskop yang sama dengan waktu aku dan mba Gadis serta Rahma nonton beberapa hari yang lalu. Dari tempat kerja kami berdua langsung ke mall ini. Aku sudah mengabari mama kalau aku pulang telat karena mau jalan sama Ratna dan tentu saja mama mengijinkan.

“Dari Ibu?” tanya ku balik memastikan kalau yang ditanyakan olehnya adalah oleh-oleh dari bu Pristy yang semua karyawan mendapatkannya.

“Iyaa..”

“Oh, itu titipan buat mba Gadis juga, kan mba Gadis ga ada jadwal hari ini, makanya dititipin ke gue,” jelas ku. Ya memang benar dari beberapa bungkusan itu memang untuk mba Gadis, tapi sebagiannya lagi juga untuk mama dan Rahma. Tapi aku tidak menceritakannya takut Ratna curiga bagaimana bu Pristy bisa tahu tentang keluarga ku.

“Ponakan mah dapetnya banyak yee..”

“Hahaha, ya namanya ponakan. Ngomong-ngomong masih lama ga mulainya?”

“Masih setengah jam lagi.”

“Ohh..”

Tidak ada obrolan lagi diantara kami. Ratna duduk dengan melipat paha kanannya diatas paha kirinya dan badannya sedikit condong kedepang dengan siku kiri nya yang bertumpu pada paha kanannya. Sedangkan tangan kanannya sedang sibuk memainkan smartphone nya. Sekilas aku melihat ada tulisan My Love di chat nya. Hahaha, masih sempat-sempatnya dia chating dengan pacarnya saat jalan dengan ku. Atau dia sedang ngabarin cowoknya? Kadang aku merasa menjadi seperti orang ke tiga di saat seperti ini meskipun aku tau Ratna tidak menganggap ku apa-apa selain sahabat.

Aku pun lebih memilih menyandarkan tubuhku ke dinding. Memejamkan mata setelah sebelumnya melihat ke smartphone dan tidak ada notifikasi apa-apa. Pandangan ku mengawang jauh dalam gelap. Lalu beberapa titik cahaya putih muncul berlarian mendekat ke arah ku lalu melewati ku. Semuanya bergerak beraturan menuju arah yang sama. Aku berbalik kebelakang dan cahaya putih itu berkumpul menjadi satu. Berkumpul dan terus berkumpul. Semakin banyak. Membentuk sebuah kombinasi bagian demi bagian. Lalu dari balik cahaya itu kemudian muncul seseorang. Seorang anak gadis kecil yang sebelumnya pernah masuk kedalam mimpi ku yang hingga kini aku belum tau siapa anak kecil itu. Lalu semuanya seperti terguncang. Badan ku limbung. Aku jatuh berlutut tak berdaya hingga aku merasakan sebuah tangan memegang bahu kiri ku. Aku menoleh dan melihat seorang wajah yang aku kenali.

“Ratna?” ucap ku pelan.

“Galih?” balasnya tak kalah pelan lalu kemudian tertawa. “Bangun woi!! Malah tidur bae..!!” lanjutnya.

Astaga rupanya aku tertidur barusan.

“Eh, gua ketiduran ya?”

“Pake nanya, iya ini dah mau mulai.”

“Bukannya masih setengah jam lagi?”

“Karena lo tidurnya udah setengah jam. Buru ah! tapi ke toilet dulu ya biar nontonnya enak, nanti balik sini lagi baru masuk,” ucap Ratna lalu bangkit dan berjalan menuju toilet wanita. Aku pun juga langsung berdiri dan berjalan menuju toilet cowok. Sambil berfikir, cepet banget udah setengah jam, perasaan baru meremin mata. Entahlah.

[table id=AdsKaisar /]

Sekitar jam sembilan lewat lima belas aku dan Ratna sudah tiba di rumah nya. Acara nonton di bioskop nya sudah selesai. Tidak ada yang istimewa selama di dalam bioskop. Film yang ditonton pun terasa sangat membosankan, setidaknya bagi ku, karena Ratna sendiri nampak antusias dengannya. Satu hal yang bisa aku simpulkan adalah selera film kami berdua tidak sama.

Ratna membuka pintu gerbang rumahnya dan menyuruh ku memasukkan motor ku juga. Aku kaget namun menurutinya saja tanpa memberikan sebuah pertanyaan ataupun protes. Setelah mematikan mesin motor dia tersenyum kepada ku. Tidak tau kenapa aku malah merasa grogi dan tidak nyaman. Apa dia sedang berusah menjebak ku dengan membawa ku ke rumahnya ini? Aku lalu memukul kepala ku sendiri pelan guna mengusir pikiran konyol ku yang diikuti dengan senyuman Ratna yang semakin mengembang.

“Temenin ngobrol bentar ya, bete nih di rumah sendirian,” ucap nya lalu berbalik dan berjalan meninggalkan ku masuk kedalam rumahnya. Kan benar, rumah nya kosong, dia pasti sedang merencanakan sesuatu. Setelah masuk, ternyata Ratna malah keluar lagi.

“Ayuk..”

“Apa tidak apa-apa gua masuk?”

“Santai aja, diluar banyak nyamuk.”

Mau tidak mau aku pun masuk ke dalam rumahnya yang sepi ini. Saat aku masuk dan berdiri di ruang tamu nya aku tidak langsung duduk. Aku melihat ke sekitar ruang tamu yang terdapat berbagai macam perabot dan hiasan yang bagus-bagus. Yang membuat perhatian ku teralihkan adalah sebuah lemari kaca yang di dalamnya terdapat miniatur mobil-mobilan yang jumlahnya sangat banyak dan lengkap.

“Itu milik bokap,” ucap Ratna yang sudah berdiri samping meja dan meletakkan sebuah botol berisi air dingin dan dua gelas di atasnya.

“Oh, banyak juga ya, kirain punya lo, hehehe.”

“Sebagian punya gua sebenarnya, tapi waktu gua masih kecil dulu, sekarang mah males amat main mobil-mobilan, akhirnya jadi koleksi nya bokap aja.”

“Lah, lo suka koleksi miniatur kaya gini juga?”

“Emang lo koleksi juga?”

“Dulu juga sih, tapi gua ga tau sekarang pada kemana, semenjak pindahan dari rumah lama ke rumah yang sekarang, kayanya ga keangkut. Ya sudah ga ngoleksi lagi. Tapi gua inget gua pernah punya kaya beginian.”

“Wah lo kapan-kapan harus main lagi kesini, ketemu bokap gue.”

“Ngapain?”

“Mempertemukan calon menantu dan calon mertua. Hahaha, canda. Ya siapa tau lo bisa sharing seputar hoby kaya gini. Kalau gue sih males banget.”

“Hahaha, kirain..”

“Ngarep beneran ya? Maaf ya, gue udah ada yang punya, week!!!”

“Pede banget sih lo!!”

“Hahaha, ya udah, gue mau ganti baju sama cuci muka dulu bentar ya, lo duduk aja dulu. Mau sambil ngerokok juga silahkan, kaya di rumah sendiri aja,” pintanya sambil berlalu. Aku hanya mengacungkan jempol ku padanya tanda setuju. Kembali kuamati kumpulan miniatur mobil yang tersusun dengan sangat rapi itu. Semuanya lengkap. Dari mulai mobil beneran hingga mobil yang hanya ada di karakter super hero. Mulai dari mobil besar hingga kecil. Mobil pribadi hingga mobil angkutan masal. Mobil keluaran Asia, Eropa, hingga Amerika semuanya ada. Memory ku kembali melayang-layang ke masa sekitar lima belas tahun yang lalu. Miniatur ini seolah menjadi jembatan waktu yang mampu melengkungkan dimensi waktu yang membuat ku bisa meloncat ke masa lalu. Masa dimana aku belum bisa mengingat semua kejadian yang aku alami. Dan yang ada di depan ku ini seolah membuatnya terasa nyata.

[table id=AdsLapakPk /]

Tiga menit, sepuluh menit, lima belas menit. Ya setelah lima belas menit Ratna baru balik ke ruang tamu. Ternyata ganti baju nya ratna butuh waktu hingga lima belas menit. Semua wanita memang sama saja.

“Lama amat?”

“Sekalian mandi tadi, hehehe.”

“Malam-malam mandi sih?”

“Dari pada lengket, maaf ya lama, hihihi.”

“Cepet kok lima belas menit untuk ukuran cewek.”

“Hahaha, karena gue inget lo aja, kalau ga mah bisa sejam, hihihi, mau? Gue mandi lagi nih?” balas nya lagi sambil tertawa cekikikan. Aku hanya bisa menepuk jidat ku sendiri.

Ratna mengenakan setelan baju piyama dan celana panjang yang cewek banget. Berbeda sekali dengan setelan yang biasa dia kenakan saat keluar rumah. Rambutnya di ikat kebelakan agak keatas dengan sebuah jepitan rambut yang menampilkan leher nya yang putih. Dari samping, tengkuk nya yang dihiasi rambut-rambut tipis itu juga terlihat. Dia duduk bersial di samping ku di atas sofa panjang kami duduki berdua ini.

“Lo kayanya lagi banyak pikiran ya?” tanya nya tiba-tiba.

“Hah?”

“Ngelamun bae!”

“Enggak..”

“Enggak-enggak, orang gua lihat sendiri. Eh bagi rokok dong,” pintanya pada ku yang membuat ku reflek mengambil rokok yang ada di dalam tas lalu menyerahkannya.

“Lo ngerokok juga di rumah?”

“Enggak sih, tapi kan gue sendirian, jadi ya sama aja kan?”

“Sendirian?”

“Maksud gue ortu lagi ga ada.”

“Tapi mereka tau?”

“Kayanya sih tau, tapi gue ga pernah sih ngerokok di depan mereka.”

Aku dan Ratna lalu masing-masing menyulut sebatang rokok yang kami ambil dari bungkus rokok ku. Aku menyulut sendiri sedangkan dia dengan manjanya mencondongkan badannya ke arah ku dengan sebatang rokok yang terselip di antara bibir tipis nya meminta ku untuk menyalakan korek untuknya. Saat mencondongkan badan itu aku sekilas bisa melihat tonjolan buah dada nya yang ternyata cukup sekal dan membusung. Sial. Ternyata barang se bagus ini selama ini terlewat dari ku. Dengan jelas aku memperhatikannya. Semoga Ratna tidak menyadarinya. Tidak mau berlama-lama aku langsung menyalakan korek untuknya. Dan seketika ruang tamu yang tidak terlalu luas ini penuh dengan asap rokok.

“Pernah ditegur?” tanya ku.

“Kenapa jadi interogasi sih?” tanya nya balik.

“Hahaha, mang lo doang yang bisa kepo ke gue!!”

“Sialan. Jadi lo tuh kenapa sih? Gue perhatiin lo tu akhir-akhir ini suka bengong kalo di tempat kerja.”

“Segitunya kah lo perhatian sama gue?”

“Jangan GR!”

Aku tersenyum dan menimbang sesaat buah dadanya besaran yang kiri atau yang kanan. Ah salah tulis. Aku menimbang sesaat apakah aku harus cerita kepadanya atau tidak. Tapi mata ku kadang melirik ke buah dada yang membusung itu saat Rata sedang menghisap rokoknya. Astagaa!!! Inget Di, dia sahabat lo. Jangan macem-macem atau semuanya akan berantakan. Tapi…tonjolan di dadanya itu benar-benar menantang. Menantang untuk diremas. Dihisap. Di gigit. Di..

“Doorrr!!!” Ratna menjentikkan jarinya tepat di depan muka ku yang sedang melamun jorok terhadapnya.

“Oke-oke, gua cerita.”

“Nah gitu dong..katanya sahabat masa ada yang ditutup-tutupin!”

“Tapi lo jaga rahasia ini ya!”

“Iyes..”

“Terutama sama teman-teman kerja.”

“Iya..”

“Jadi gini, lo masih inget gue dulu pernah jadi sopir dadakan nya bu Pristy waktu ke luar kota?”

“Iya ingat. Kenapa? Lo ngehamilin bu Pristy?” ucapnya dengan sangat lempeng. Seolah perkara menghamili anak orang itu perkara yang sepele. Lo aja dah sini yang gua hamilin Rat, mau ga?

“Amit-amit!” ucap ku sambil mengetuk pinggiran sofa tiga kali dengan tangan ku.

“Kok amit-amit sih, cantik banget lho bu Pristy itu.”

“Iya semua orang juga pasti bakal mengakuinya, tapi kan dia bukan siapa-siapa gue. Nyokap gue bisa pingsan kalau gue ngehamilin anak orang.”

“Dia udah bukan anak-anak lagi kali Di.”

“Justru itu, apalagi kalau gu ngehamilin tante-tante yang umurnya Cuma beda berapa tahun dari nyokap, yang ada nyokap jantungan. Ini kenapa jadi ngomong hamil menghamili sih?” tanya ku kesal kepadanya.

“Hihihi, oke lanjut.”

“Jadi gini, pas di lokasi penginapan itu, bu Pristy merasa ada yang ngikutin, bahkan katanya sampai masuk ke balkon kamar hotel nya.?”

“Terus?”

“Nah..minggu kemarin, saat gue nganterin mba Gadis belanja ke supermarket, juga ada dua orang yang terang-terangan ngikutin kita berdua.”

“Waduh!! Kok serem ya?”

“Makanya..gue jadi kepikiran. Di satu sisi gue seneng-seneng aja mba Gadis deket sama keluarga gue, tapi di sisi lain gue takut ada masalah di keluarga besarnya, yang bakalan merembet ke keluarga gue. Dan gue ga mau itu terjadi. Tapi kalau harus keluar dari restoran, mau kerja apa gue?”

“Iya juga sih, aduh gimana ya?”

“Malah nanya, tau gue juga bingung,” ucap ku sambil menghisap dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat rokok yang berada di tangan ku.

“Kalau sekarang ini sih saran gue lo jangan keluar dulu, tapi tetap waspada sambil mengamati sekitar. Siapa tau itu hanya kebetulan saja dan semoga mereka cukup punya perikemanusiaan dengan tidak membawa-bawa keluarga lo, kalau memang benar-benar ada masalah.”

“Aamiin. Semoga.”

“Aduh, kok gue jadi takut ya di rumah sendiri, mana lo pake mampir segala lagi, aduh..” keluh Ratna dengan paniknya.

“Laah..gimana..tadi lu yang nyuruh mampir dan maksa cerita, sekarang parno sendiri kan..”

“Hehehe,” Ratna terkekeh dengan senyum yang sangat aneh.

“Kenapa lo?” tanya ku. Ratna tidak langsung menjawab melainkan malah menggeser duduknya mendekat ke arah ku. Lalu ditarik-tariknya lengan baju ku.

“Temenin gue dong malam ini..takut nih..”

“Hah? Yang bener aja neng? Apa kata tetangga nanti?”

“Halah..cuek aja. Yah yah yah! Serius gue takut banget ini. Masa tega sih lo ninggalin cewek sendirian malam-malam gini?”

“Lo kan setengah cowok!” ledek ku pada ketomboiannya.

“Sialan! Ah pokoknya temenin. Kalau perlu gue sendiri yang minta ijin ke tante Fatma biar lo tidur di sini.”

“TIDAK!!” balas ku cepat. Aku langsung mengusap-usap muka ku sendiri membayangkan ada seorang gadis minta ijin ke nyokap buat aku bisa nginep di rumahnya.

“Hihihi, anak mama takut ya?”

“Tapi gue alesan apa ya?”

“Bilang aja kejebak hujan ga bawa jas hujan lalu nginep di rumah temen,” ucapnya dengan santai. Brilian. Encer juga otaknya pikir ku.

“Ya sudah gue telephone dulu deh.”

“Ngapain? Kagak usah. Lewat whatsapp aja, kan sekarang lagi ga ujan. Kalau tante sampe minta bukti foto hujannya berarti fix lo anak mama banget, hahaha,” ledek Ratna semakin membabi buta. Tapi mama memang suka begitu. Kalau aku minta ijin dengan alasan apa gitu suka minta bukti. Mudah-mudahan kali ini tidak.

“Ngomong-ngomong, gue nanti tidurnya di mana?”

“Di sofa lah. Mau di mana lagi? Kamar gue? Jangan harap!!” ucap nya ketus.

“Ga ngarep juga,” balas ku ga kalah ketus.

“Hihihi, ya enggaklah, gue gelarin kasur lipet ya di ruang tengah?” tawar nya.

“Iya..dari pada di sofa.”

“Ya udah lo bersih bersih dulu deh, tapi lo ga ada baju ganti ya?”

“Iya ga bawa, paling nanti telanjang gue,” canda ku.

“Anjir.. Itu jauh lebih horror mas. Hahaha.”

Kami tertawa bersama dan lalu berjalan menuju kamar mandi sesuai arahannya untuk sekedar cuci muka dan membersihkan apa yang perlu di bersikan sebelum tidur. Agar tidur ku nanti bisa nyaman dan nyenyak. Ratna-Ratna. Tomboinya doang di gedein. Kalau udah begini ya sama aja. Tetep aja takut. Dasar wanita. Mereka akan menjadi sangat kuat jika sudah mengandalkan kelemahannya. Catat itu.

Halaman Utama : Kesempurnaan

BERSAMBUNG – Kesempurnaan Part 15 | Kesempurnaan Part 15 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 14 ) | ( Part 16 ) Selanjutnya

Cerita Terpopuler