. Kesempurnaan Part 14 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 14

0
370

Part 14 – Gue Cuma Butuh Atap Yang Mau Menampung Gue

“Mah, mah, masa semalem waktu nonton di bioskop ada yang genit gitu mah, minta dipeluk masa,” bisik Rahma kepada mama yang baru saja bergabung dengan kami yang sedang bersantai ria di minggu pagi yang cerah ini. Secerah sinar matahari pagi yang tidak bosan memancarkan sinarnya.

“Hah? Siapa maksudnya?” tanya mama kebingungan.

“Siapa lagi kalau bukan perjaka mama yang satu itu,” balas Rahma sambil menunjuk ke arah ku.

“Loh, kok bisa? Minta peluk sama siapa? Mama nya aja ga pernah dipeluk lho, kebangetan..”

“Ke Gadis, dan Rahma juga masa, kan mesum ya, masa ade sendiri di genitin, ckckck,” cerita Rahma sambil menggelengkan kepalanya.

“Itu ungkapan sayang aja kali,” balas ku membela diri agar mama tidak berfikir yang macam-macam.

“Kok ke Gadis juga?”

“Yaaa..karena kakak juga udah anggep dia adik sendiri juga, meskipun ngeselin sih.”

“Alibiii..”

“Serius..!!”

“Bohong..”

“Sudah-sudah. Emangnya kenapa kalau kakak mu minta peluk sama Gadis? Normal kan? Dari pada minta peluk sama cowok, kamu rela?” sela mama di antara perdebatan ku dengan Rahma.

“Amit-amit!!” aku langsung nyebut.

“Hihihi..”

“Ya enggak sih mah, tapi..”

“Cemburu yaaah..sama mba Gadis? Sini-sini kakak peluk..ade ku yang paling cantik, imut dan gemesin..” ledek ku kepadanya sambil merentangkan kedua tangan ku kepada nya namun Rahma malah menjauh. Hahaha..

“Iiihhh apaan sih? Cemburu sama dia? Ga lepel!”

Adik ku ini memang cantik. Mba Gadis juga cantik. Mama, lebih cantik lagi. Dan sekarang-hidup ku di kelilingi wanita-wanita cantik. Beruntungnya diri ku. Semoga aku nanti juga akan mendapatkan istri yang cantik. Aamiin.

Lagi enak-enak berkhayal, tiba-tiba mama pindah tempat duduk tepat di samping ku. Meraih tangan ku dan merangkulkannya ke pundaknya. Kedua tangan mama lalu memeluk pinggang ku. Eh, ini ada apa batin ku. Aku agak kaget namun mencoba tenang saja. Tidak sopan bila aku tiba-tiba menjauh dari maama.

“Ih, mama ngapain dah meluk-meluk kakak?” protes Rahma yang baru saja melihat keisengan mamanya ini. Aku yang masih kaget hanya bisa diam saja. Ingin menolak takutnya mama malah tersinggung karena bisa jadi mama hanya menganggap ini sebagai ungkapan rasa sayang ke anaknya saja.

“Lah kamu mau di peluk ga mau, ya udah mama saja, sini kak peluk mama. Eh tapi kakak mu ini sombong, mama nya ini udah lama banget ga di peluk kayaknya. Padahal dulu ya waktu kamu belum ada atau masih kecil, kakak mu ini kolokan banget tau sama mamah, hihihi..”

“Tapi kan sekarang kakak udah gede mah..” balas Rahma.

“Emangnya kenapa?”

“Mama ga risih?”

“Risih kenapa sih sayang?” balas mama bingung dan kemudian malah merebahkan kepalanya di dada ku. Kalau boleh jujur, sebenarnya yang risih itu adalah aku. Namun sekali lagi aku merasa sungkan untuk melepaskan pelukan mama. Dan memang benar apa yang di sampaikan mama tadi. Aku sudah sangat lama tidak memeluk mama. Mungkin karena aku laki-laki dan malu untuk melakukannya.

“Ya kan kakak cowok, mama cewek..”

“Terus..?” balas mama sambil mempererat pelukannya. Bahkan aku sampai bisa merasakan gundukan empuk di dada mama yang masih terasa kencang ini menekan erat ke pinggang atas ku. Rasanya sebelas dua belas dengan milik bu Pristy. Serius ini aku merasa semakin risih dan tidak nyaman.

“Engghh..”

“Hahaha. Kamu ini ada-ada aja sayang. Jangan-jangan kalian berdua ini pelukan pun untuk sekedar mengekspresikan perasaan sayang kakak adik ga pernah lagi?” tanya mama. Aku dan Rahma kompak menggelengkan kepala. Seingat ku memang tidak pernah, atau mungkin bisa dihitung dengan jari, apalagi semenjak Rahma masuk SMP dulu. Tentu aku tidak mau di cap sebagai kakak yang cabul kepadanya jika terlalu sering dan terlalu intim kepadanya. Hanya di momen-momen tertentu saja. Seperti tadi malam saat di bisokop, atau saat kami lama tidak ketemu.

“Dasar.. jadi kakak adik itu mbok ya yang deket, yang intim, jadi kalau masing-masing ada apa-apa bisa saling menjaga, saling membantu.”

“Mama kan tau sendiri kakak sama Rahma selama ini udah kaya anjing dan kucing aja, hehehe,” canda ku.

“Kakak anjing nya,” balas Rahma.

“Hush!! Kamu ini Ma kalau ngomong suka ngasal ya, masa cewek ngomongnya kasar,” tegur mama.

“Hehehe, kan kakak yang ngasih perumpamaan ma, aku hanya mendukung aja.”

“Tapi ga perlu di sebutin gitu juga dong sayang..”

“Hehehe, iya-iya maaf ma..”

“Iya.., ya sudah sini kita pelukan bertiga, semoga keluarga kecil kita tetap harmonis, tetap saling menyayangi, sehat-sehat, dan pokoknya yang terbaik semuanya.”

“Aamin..”

Yah, semoga saja. Seandainya papa masih ada tentu akan lebih sempurna. Tapi yang sudah berlalu biarlah berlalu. Mungkin memang itu lah yang terbaik bagi kami. Aku yakin papa juga sudah tenang di alam sana. Giliran ku sekarang yang menggantikan posisi papa, melindungi dua wanita cantik yang sekarang berada di pelukan ku ini.

“Ehmm..sorry, mellow-mellow nya udahan belum? Kalau sudah boleh minta tolong ga?” tiba-tiba terdengar suara lembut dari belakang. Mba Gadis? Waduh, sudah berapa lama ya tuh orang ada dibelakang? Liatin aku manja-manjaan dengan mama dan Rahma, habis dah ini aku bakalan di ledekin.

“Kenapa sayang?” tanya mama dengan cepat sambil melepaskan pelukannya pada ku lalu menoleh kebelakang. Begitu juga dengan Rahma yang juga melepaskan pelukannya.

“Anu..itu..mau minta tolong Adi anterin ke depan, ada yang mau aku beli mah,” ucap mba Gadis ragu-ragu. Wajahnya itu lho, kalau lagi begini tuh imut banget. Aku tidak pernah berbohong bila menilai wajah seorang wanita, bila cantik akan aku bilang cantik. Bila tidak, aku akan bilang tidak. Dan ini cantik banget.

“Oohh.. kirain apaan.. iya pasti dianter kok sama Adi, iya kan Ad?” ucap mama sambil tangannya mencengkram tangan ku kuat-kuat. Pertanda aku harus bilang Iya jika aku tidak mau dikutuk menjadi pentolan cilok. Baiklah, mengantar ke depan aja kan? Cincai lah.

[table id=Ads4D /]

Apanya yang ke depan. Muka memelasnya tadi ternyata hanyalah sebuah tipuan. Mba Gadis menjebak ku untuk mengantarkannya ke sebuah supermarket. Dan sekarang baru jam sembilan pagi, supermarket baru buka sekitar jam sepuluh. Terus satu jam ini kita mau ngapain? Makan cilok?

“Gimana sih mba, katanya ke depan doang, saya pikir ke warung atau minimarket, ini sih penipuan,” protes ku kepada nya meskipun aku yakin tidak akan ada gunanya.

“Halah gaya lu kalo ngomong. Ya udah..,” balasnya dengan agak bingung lalu melihat sekitar. “Lu temenin gue sarapan aja, belum sarapan gue…,” lanjutnya.

“Bilang aja pengen sarapan berdua bareng saya..” ucap ku lagi.

“Lu keberatan?”

“Kaga..” balas ku mengalah tidak mau perdebatan berlanjut menjadi semakin panjang.

Akhirnya kami berdua berjalan ke arah kantin yang berada di dekat area parkir. Untungnya sudah buka. Kantin seperti ini pasti ada untuk memfasilitasi para karyawan untuk sarapan ataupun makan siang. Ada soto, nasi goreng, pecel lele, nasi bebek khas Madura, gado-gado, mie ayam, baso. Wah lengkap juga. Cuma sayang nya ternyata belum semua yang buka.

“Mba yakin mau makan di sini? Ntar kalau sakit perut saya yang repot.”

“Lu itu dulu SMA anak Bahasa ya?”

“Hah?”

“Iya, Bahasa lu baku banget sumpah, bisa darah tinggi gue denger nya.”

“Oh, hehehe, itu kan karena saya menghormati mba sebagai anak dari pemilik tempat saya bekerja, gitu..”

“Lebay lu, gue sekarang itu sama aja kayak lu, karyawan retoran juga, jadi apa bedanya?”

“Bedanya..saya cowok, mba cewek, hehehe,” ucap ku garing. Iya memang garing.

“Ga lucu!”

“Iya ma’af..”

“Pokoknya gue ga mau denger kata saya lagi dari mulut lo!”

“Hmm..ya sudah lah kalau memang tidak ada pilihan lain.”

“Nah gitu dong, sebenarnya kita itu bisa cocok..eh..mak..”

“Uhuk.., maksud mba apa?”

“Jangan GR dulu, maksud gue kita tu sebenarnya bisa cocok temenan, atau bahkan sahabatan mungkin, mungkin ya..”

“Iya mungkin, asal mba ga menganiaya saya, eh gue terus..”

“Bener-bener deh lo tu lebay nya ga ketulungan..”

“Hehehe..tapi lucu kan..”

“Iya..”

Aku pun menemani mba Gadis sarapan pagi nasi goreng yang sudah telat sebenarnya. Aku menemani nya dengan secangkir kopi hitam. Ya, aku tidak ikut makan karena aku tadi sudah makan. Dan hanya dengan kopi, tanpa rokok. Mba Gadis melarang ku merokok di depannya karena dia tidak suka asap rokok dan bau nya. Calon sahabat macam apa itu kalau rokok saja tidak boleh. Bukannya sahabat itu harus kompak satu sama lain, dan tidak tidak boleh ada yang namanya saling melarang, yang ada harus saling mendukung, termasuk kenakalan, hahaha.

Selesai makan kami langsung masuk ke dalam supermarket yang seharusnya sebentar lagi pasti sudah buka karena sekarang sudah hampir jam sepuluh pagi. Namun sesaat sebelum beranjak aku merasa seperti ada yang aneh. Di seberang sana, tepatnya di ujung sisi yang lain dari deretan bangku dan meja kantin ini, duduk dua orang yang aku tidak kenal tapi wajah itu seperti sering aku lihat sebelumnya entah dimana aku tidak tau dan tidak ingat. Ah mungkin perasaan ku saja. Aku dan mba Gadis pun langsung masuk ke dalam.

Entah kenapa pagi ini aku merasa mba Gadis itu tiba-tiba berubah menjadi anak SMA paling tajir se Cinere. Tidak sampai setengah jam troli yang didorongnya sudah terisi sebagian. Ini beneran ada duitnya tidak ya dia? Kalau ujung-ujungnya aku yang harus bayar bisa amsyong ini. Segala macam sabun, dari sabun rambut alias sampo hingga sabun kaki di ambil nya semua. Termasuk juga sabun kewanitaan, aku tau karena saat mengambil ini tadi mba Gadis nampak malu-malu. Termasuk saat mengambil beberapa bungkus pembalut. OMG!!!

“Mba, beneran ini mau di beli semua, ada uangnya?” tanya ku ragu-ragu.

“Kan ada elu,” balas nya enteng masih sambil dengan mendorong troli dan menoleh ke kiri dan kanan di sepanjang lorong cinta, eh maksud ku lorong di antara rak-rak barang ini. Aku mengekor nya dari belakang. Kita berdua sekarang layaknya sudah seperti pasangan muda yang sedang berbelanja bulanan.

“Eh.. kok?”

“Hahaha, canda kok, tenang aja, masa gue ambil segini banyak barang tapi ga yakin bisa membayar nya.”

“Tapi ini banyak banget mba..buat mba sendiri?”

“Ya enggak lah, buat mama juga.”

“Oh..”

“Rahma juga, kalau dia mau nerima..”

“Hah? Buat Rahma juga? Hahaha, ga salah dengar?”

“Iya, kenapa? Bingung?”

“Bukannya mba Gadis sama Rahma itu..”

“Musuhan?”

“Hehem..”

“Hahaha, ade lo aja yang terlalu childish!”

“Jadi selama ini?”

“Ya gue mah cuma ngebeli aja yang dia julnya.”

“Kek orang betawi lu mba, hahaha. Terus gue dibeliin juga ga?”

“Hahaha, masa cewek beliin cowok, ada-ada aja lo. Anyway, lo jangan ngomong apa-apa ke Rahma ya, pengen tau gue mau sampai sejauh apa dia.”

“Emang ga apa-apa? Nanti mama stress lho kalian berdua berantem mulu.”

“Ya gue juga ga akan keterlaluan juga lah..”

“Hmm.. wanita gitu ya, penuh dengan drama..”

“Ade lo itu sebenernya cuma takut.”

“Takut?”

“Iya, dia itu takut perhatian lo ke dia berkurang karena ada nya gue, kan konyol ya. Ga butuh juga gue. Gue cuma butuh atap yang mau menampung gue sampai bokap gue balik dari Amerika.”

“Oh Gitu ya?” tanya ku dengan polos. Entah pertanyaan ku yang konyol itu maksudnya untuk yang mana.

“Ya iya..” balas mba Gadis sambil membelok kan troli nya ke arah kasir. Anehnya aku malah berhenti berjalan. Pandangan ku lurus kedapan, dan kosong. Ada sesuatu yang membuat dada ku terasa sakit. Sesuatu yang aku tidak mengerti itu apa. Sesuatu yang rasanya nyeri, ngilu, perih, atau sebagainya dan itu menusuk hati. Tidak berdarah tapi rasanya begitu menyakitkan.

“Hei, malah bengong, gue udah selesai nih, bantuin..” seru mba Gadis dari depan kasir. Aku segera tersadar dari lamunan singkat ku. Aku segera menghampirinya dan membantunya.

Namun baru beberapa langkah aku menyadari hal lain yang aneh yang sedang terjadi. Dua orang yang aku lihat di kantin tadi ikut atau mengikuti ku dan mba Gadis ke dalam supermarket. Dua orang bapak-bapak bertampang preman, belum ada jam sebelas siang sudah ada di dalam supermarket dan berada di sekitaran rak kebutuhan barang pokok, kerajinan banget pikir ku. Bodoh!

Aku segera menghampiri mba Gadis. Perasaan ku menjadi sangat tidak enak. Sambil terus waspada aku mengamati sekitar. Siapa tau selain dua orang itu ada orang lain lagi yang mengikuti kami. Semoga saja tidak. Ada apa ini sebenarnya? Apakah berhubungan dengan mba Gadis?

“Mba, abis ini kita langsung pulang kan?”

“Emangnya kenapa?”

“Jawab!” balas ku dengan tegas. Bukan waktu nya berdebat dengannya. Setelah ini mau tidak mau kami berdua harus pulang.

“Eh, iya. Ya pulang, mau kemana lagi?”

“Ya bagus lah, ya sudah sini gue bantu.”

“Dasar aneh deh lo, pamit nya kan cuma mau ke depan, ini malah udah ke supermarket. Kalau kita ngayap lagi dos ague ke mama double.”

Aku tidak menanggapi ucapan mba Gadis lagi. Tidak ada waktu. Aku harus sesegera mungkin meninggalkan tempat ini. Kupindahkan barang yang ada di troli untuk di scan barcode oleh mba kasir. Anjir, barang segini aja udah hampir sejuta. Dan mba Gadis dengan entengnya mengeluarkan kartu dari dompet cantiknya. Horang kayah. Tinggal gesek.

Setelah selesai dengan semuanya, aku dan mba Gadis keluar dari area supermarket dan menuju parkir. Ada tiga kantong plastik besar yang aku bawa, dan satu kantong plastik kecil yang mba Gadis bawa. Ya meskipun hampir sejuta, tapi barang yang di beli ukurannya kecil-kecil jadi masih bisa kami bawa menggunakan motor ku. Dan pas ketika aku tiba di motor ku, apa yang aku perkirakan ternyata benar. Dua bapak-bapak yang ada di dalam tadi langsung ikut keluar juga. Hahaha, mau main-main kucing-kucingan rupa nya. Baiklah kalau begitu.

Halaman Utama : Kesempurnaan

BERSAMBUNG – Kesempurnaan Part 14 | Kesempurnaan Part 14 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 13 ) | ( Part 15 ) Selanjutnya