. Kesempurnaan Part 11 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 11

0
394

Part 11 – Terlalu Berharga

Mandi sudah, pakai baju sudah, pakai minyak wangi sudah, sisiran sudah juga. sekarang waktunya tinggal menunggu panggilan dari bu Pristy. Seharian ini aku benar-benar tidak ada aktifitas yang berarti. Hanya diisi dengan bermalas-malasan di kamar. Makan siang pun aku lebih memilih pesan dan makan di kamar. Praktis aku keluar kamar itu hanya saat sarapan pagi dan sore tadi saat aku iseng keluar kamar untuk melihat-lihat sekitar. Selebihnya aku benar-benar menghabiskan waktu di dalam kamar.

Chatingan dengan Rahma, tentu saja. Adik ku bercerita bagaimana perselisihannya dengan mba Gadis yang masih terus berlanjut. Keduanya sama-sama berebut perhatian dari mama. Tapi mungkin karena mama menganggap mba Gadis lebih butuh perhatian, dari sudut pandang Rahma, mama lebih berat sebelah ke mba Gadis. Tapi itu sangat wajar sekali mengingat mama sudah tau sedikit banyak tentang background dari kehidupan mb Gadis.

Lucunya, meski kesal, Rahma sudah tidak lagi sekasar saat malam pertama mereka bertemu. Kesalnya itu seperti kesal ketika kita mendapatkan lawan main baru, dimana mungkin lawan main kita itu orangnya menjengkelkan, tapi sebenarnya kita sangat menikmatinya. Ada semacam warna baru dalam kehidupan kita yang sebelumnya tidak pernah kita dapatkan. Dan itu sangat masuk akal karena selama ini Rahma selalu mendapatkan apa yang dia mau, sedangkan sekarang dia harus bersaing dengan seorang tuan putri bernama Gadis Anastasia Wiradana.

Mba Gadis sendiri hanya sekali chat ke aku. Itu pun aku duluan yang mulai. Dan balasannya pun juga tidak jelas. Aku chat baik-baik, dia balas nya malah kasar. Bilang kalau Rahma cengeng lah, lebay lah, suka cari perhatian lah. Untung dia tidak bilang macam-macam tentang mama. Kalau dia sampai berani seperti itu, langsung aku balikin ke tantenya hari ini juga. Tidak ada kompromi. Tidak ada yang boleh mencela mama. Siapapun!

Dengan mama sendiri aku juga beberapa kali chatingan. Tapi isinya standar banget antara orang tua ke anaknya. Lagi apa? Sudah makan belum? Kerjanya yang bener ya, jangan sembarangan. Hati-hati. Jangan macam-macam. Tenang mah, Adi selalu dengerin nasihat dan pesan mama, hehehe, kecuai yang terakhir. Semalam Adi habis macam-macam dengan bu Pristy. Macam-macam atau dimacam-macamin? Beda tipis, tapi enak mah. Hahaha. Tidak terbayangkan oleh ku kalau mama sampai tau anak cowok satu-satunya ini baru saja belajar nakal semalam. Hehehe. Namanya juga cowok mah, maafin Adi ya mah, batin ku. “Iya sayang, mama maafin kok, yang penting jangan buang di dalam yah,” balas mama dalam bayangan di kepala ku. Hahaha. Mana mungkin mama akan bilang seperti itu.

Terakhir Ratna, sahabat baru ku itu, hampir lupa aku menceritakannya. Dia chat aku dan bilang kalau kangen dengan ku. Tapi bukan kangen yang bagaimana-bagaimana, dia hanya kangen ngerokok bareng di parkiran belakang restoran saat jam istirahat, atau sesaat sebelum pulang kerja. Ah sialan pikir ku. Aku juga meminta maaf kepada nya karena belum bisa menepati janji ku untuk mengajak nya makan nasi goreng berdua. Aku berjanji selepas dari puncak, aku akan membayar janji ku itu.

Sudah jam tujuh lewat dan aku belum juga mendapat panggilan dari bu Pristy. Rencananya malam ini kita akan makan malam berdua di restoran hotel ini. Aku dimintanya untuk mengenakan baju yang kemarin baru saja dibelikan oleh nya. Entah mengapa aku merasa hubungan ku dengan bu manajer ku itu semakin kesini semakin intim. Apalagi setelah kejadian dini hari tadi yang tidak pernah terbayangkan oleh ku sebelum nya. Bagaimana dengan liarnya beliau menjilat, mengulum, dan menghisap kemaluan ku hingga aku orgasme. Pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan oleh ku.

Jujur, sebenarnya aku ada sedikit ketakutan dengan hubungan yang aku jalani dengan bu Pristy. Kami memang belum ada pembicaraan, atau obrolan yang menyinggung ke urusan perasaan. Semua kita lakukan hanya karena kita ingin melakukannya. Just for fun mungkin istilah kerennya. Tapi, bagaimanapun juga beliau adalah wanita. Bagaimana kalau beliau baper? Bagaimana kalau sampai tumbuh perasaan di hati nya untuk ku. Bukannya mau GR, tapi itu semua bukan hal yang mustahil.

Masalahnya adalah perbedaan umur diantara kami. Kata orang umur bukan lah halangan, memang benar. Tapi perbedaan umur nya dengan ku terlalu jauh. Aku belum ada dua puluh sedangkan dia sudah hampir empat puluh. Dia lebih pantas jadi tante ku. Aku menyadari nya, tetapi masalahnya aku juga tidak bisa jika harus melepas ini semua. Apa yang beliau 7berikan itu terlalu indah untuk di lepas kan. Aku akan menjadi pria terbodoh bila tidak meladeni permainan yang dia berikan.

Tapi sepertinya aku nya saja yang berfikir terlalu jauh. Hello, bu Pristy itu mungkin hanya ingin memanfaatkan ku saja. Namanya janda ya kan, sudah lama hidup sendiri, dengan umurnya yang masih di angka tiga puluhan, tentu saja dia butuh yang namanya kebutuhan biologis. Dan mungkin itu yang coba dia manfaatkan dari ku. Bisa jadi. Dan tentu saja aku juga akan memanfaatkannya balik. Persetan dengan harga diri. Toh tidak ada yang tau ini. Ya, aku akan meladeni bu Pristy, tapi harus dengan permainan cantik. Yang penting sama-sama seneng aja lah. Hahaha. Udah jauh banget ini aku mikir nya.

Ku nikmati sebatang magnum filter, dan secangkir kopi yang aku sedu sendiri, di balkon kamar ku, seorang diri. Aku menengok ke kanan dan melihat deretan tanaman di balkon kamar bu Pristy yang sepertinya masih berantakan. Belum di rapikan ternyata, padahal seharusnya tadi siang kamar itu sudah di make up. Aku teringat kembali dengan kejadian semalam. Kalau bukan karena orang misterius itu, tentu aku tidak akan mendapatkan service dari bu Pristy. Terima kasih orang misterius. Hadeh.

Pandangan ku lalu mengarah ke depan bawah, di mana langsung tertuju paad halaman hotel. Beberapa orang nampak berbincang-bincang di sana. Entah apa yang dibicarakan. Dari arah serong kiri terdapat sebuah kolam renang yang cukup besar, yang di sana juga terdapat beberapa orang yang sedang berincang-bincang di pinggir kolam sambil menikmati minuman. Tidak ada yang berenang, tentu saja, di udara malam pegunungan yang dingin ini tentu bukan pilihan yang bagus untuk berenang.

Saat aku melihat ke arah kolam itu, secara tidak sengaja aku melihat ada tiga orang yang pandangannya mengarah ke arah ku, atau kamar ku, atau mungkin ke kamar bu Pristy. Entah lah. Yang pasti dia menatap ke arah tempat ku berada. Aku lalu menatap ke arah yang lain. Apa mungkin mereka orang yang semalam? Terlalu cepat bila aku menyimpulkan demikian, tapi itu bukan hal yang mustahil. Segala kemungkinan ada. Apalagi mereka masih terus menatap ke arah kamar ku atau bu Pristy. Tapi kalau memang benar, sebenarnya siapa mereka? Musuh bu Pristy? Bisa jadi. Dengan background keluarga kaya seperti mereka, musuh keluarga itu bukan lah sesuatu yang aneh.

Segala pertanyaan menghantui ku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus ikut masuk ke dalam lingkaran keluarga mereka? Kalau hanya aku sendiri sebenarnya tidak masalah bagi ku, tapi aku tidak mau keluarga ku terbawa-bawa. Atau aku menghindar saja dan menjauh dari bu Pristy? Tapi setelah kenal lebih jauh dengan mba Gadis dan bu Pristy sendiri, rasa nya aku tidak bisa. Tidak tega kalau sampai mereka kenapa-napa. Tapi aku bisa apa? Paling hanya waspada saja yang bisa aku lakukan. Ya, aku hanya bisa waspada.

[table id=Ads4D /]

Bu Pristy memilih posisi bangku di paling pinggir. Aku duduk menghadap ke sisi luar resotoran, sedangkan bu Pristy sebaliknya. Restoran ini terdiri dari dua bagian, indoor atau yang biasa disebut non-smooking area, dan outdoor yang biasa diperuntukkan untuk tamu yang merokok, seperti aku ini. Dan itu adalah salah satu alasan bu Pristy memilih smooking area, agar aku bisa leluasa kalau mau merokok. Pengertian sekali pikir ku. Padahal aku tidak akan bisa merokok di depannya. Pertama sungkan, ke dua aku tidak mau meracuni nya. well, tapi pada akhirnya kita tetap duduk di sini juga.

Untuk bagian yang smooking area, tempatnya terbuka, hanya tertutup saja. Sedangkan sekelilingnya hanya dibatasi dengan railing dari kayu sebagai pagar yang di bawahnya ditanami tanaman merambat, yang berfungsi untuk menyamarkan dari sip agar itu sendiri. Dan kami berdua duduk tepat di sisi railing sebelah kiri.

“Kamu cakep juga kalau pakai baju yang bagusan dikit kaya gini,” ucap bu Pristy setelah beliau selesai memesan makanan.

“Hah? Ibu bisa aja deh,” balas ku sambil tersipu malu. Bukan bermaksud narsis, namun aku sendiri juga mengakui kalau penampilan ku malam ini sedikit berbeda dari biasanya. Padahal hanya mengenakan sepatu casual, celana jeans, dan kemeja semi formal lengan pendek.

“Ibu juga cantik, hehehe,” lanjut ku. Malam ini bu Pristy mengenakan dress terusan berwarna biru tua yang panjangnya sedikit di bawah lutut nya, dan ketat. Dress itu tidak mampu menyembunyikan lekuk tubuh nya yang indah. Meskipun sudah berumur tapi itu sama sekali tidak mengurangi aura kecantikannya. Justru, di umur nya yang sekarang itu malah membuat pesona nya semakin terpancar. Cantiknya benar-benar matang dan mempesona. Bukan cantik ala-ala abg yang masih asem. Cantik nya ini cantik yang elegan.

“Makasih, btw, kalau anak-anak cewek restoran liat kamu yang sekarang ini pasti mereka pada pangling dan naksir sama kamu.”

“Masa sih bu?”

“GR deh…”

“Hehehe.”

“Oiya, semalem kan aku udah cerita banyak ke kamu, gantian dong sekarang kamu cerita…”

“Waduh, cerita ya?”

“Iyaah…”

“Cerita apa ya…?”

“Ya apa aja…”

“Hehehe, kehidupan saya biasa aja sih bu, datar-datar aja.”

“Adem ayem ya?”

“Kurang lebih seperti itu.”

“Mama kamu, namanya siapa?”

“Fatma bu.”

“Siapa?”

“Fatma, Fatmawati, kenapa bu? kok kayanya kaget gitu?”

“Eh, ah enggak, ga apa-apa. Ceritain dong tentang keluarga kamu, ibu kamu, adik kamu. Ibu kamu kalau ga salah seumuran aku ya? hahaha.”

“Mama saya umur nya empat puluh dua, ibu kalau tidak salah tiga puluh delapan ya?”

“Hahaha, jadi malu sendiri kalau bahas umur. Iya bener aku tiga delapan. Ya ampun aku cuma beda empat tahun sama mama kamu. Kamu ga malu makan malam sama aku kaya gini?”

“Malu kenapa?”

“Kita itu, udah kaya tante-tante sama berondong nya, hihihi,” balas bu Prist sambil tertawa cekikikan.

“Saya sih berharep nya memang begitu, hahaha.”

“Yakin? Entar nyesel lho…” ucap bu Pristy dengan suara genit nya.

“Kenapa mesti nyesel? Menang banyak iya, hahaha,” balas ku sambil tertawa.

“Hahaha, dasar kamu,” balas bu Pristy sambil mencubit pelan lengan ku seolah protes, namun kemudian tersenyum dan tangan lembut nya itu berhenti di atas pergelangan tangan ku. Seolah berharap agar aku mau menggenggam nya. Tentu saja aku mau dan aku langsung menggenggam jemari lentik itu.

“Bu?”

“Iyaah,” balas bu Pristy dengan sangat lembut.

“Bo-boleh saya cium tangan ibu?” tanya ku dengan ragu-ragu. Entah mengapa aku begitu terlena dengan momen seperti ini. Jujur aku memang hampir tidak pernah mengalami saat-saat seperti ini. Pacarana pun hanya sekali dulu awal masuk SMA, itu juga tidak lama dan tidak pernah yang Namanya makan malam romantic seperti ini.

“Ga boleh,” jawabnya dengan tegas.

“Eh, ma-maaf,”

“Hihihi, kalau mau cium ya cium aja sih, takut banget,” balas nya meledek ku.

“Ga jadi ah, gagal romantis,” balas ku sambil manyun pura-pura ngambek. Lalu ku lepaskan tangannya yang bertepatan dengan makanan pesanan kami yang sudah datang.

“Cieee, ngambek cieee…” ledek bu Pristy lagi begitu pelayan yang mengantarkan makanan kami sudah pergi.

“Biasa aja sih,” balas ku masih dengan pura-pura ngambek kepada nya. Ini lucu. Kenapa juga aku harus pura-pura ngambek, padahal bu Pristy bukan siapa-siapa ku, dan aku juga bukan siapa-siapanya. Ah entahlah. Aku hanya ingin menikmati momen-momen indah ini, dengan nya.

“Udah, cium nya nanti aja kalau udah di kamar, ga ada yang liat, bebas mau nyium apa aja juga boleh,” ucap bu Pristy sambil tersenyum dengan manisnya.

“Ya udah sekarang aja yuk bu ke kamar nya, hehehe.”

“Enak aja, makan dulu ini makanan nya udah pada dateng juga. Lagian, emang kamu kira bebas nyium apa aja itu maksudnya nyium apa? Semangat banget, hihihi.” Aku mengernyitkan dahi ku dan baru sadar ternyata kalimat bu Pristy tadi itu memang bisa menjadi sebuah jebakan. Sialan pikir ku.

“Apa aja kan bukan berarti bebas nyium yang aneh-aneh, kan maksud ku kamu bebas kalau mau nyiumin bantal, atau guling, atau lantai juga kalau mau juga bebas-bebas aja, hihihi.”

“Iya deh bu iya, kok ngeselin ya?”

“Hahaha, kena deh. Week!!!”

Udara malam puncak yang dingin terasa semakin dingin dan menembus kulit ku. Beberapa kali aku harus meremas jari-jari ku sendiri untuk menghilangkan rasa dingin di kuku-kuku ku yang terasa sangat dingin. Aku tidak habis fikir dengan beberapa wanita pengunjung restoran ini yang tahan dengan udara dingin seperti ini dengan memilih menggunakan pakaian yang mini ataupun tipis, termasuk wanita di depan ku ini. Mungkin keinginan mereka untuk tampil cantik maksimal bisa mengalahkan rasa dingin yang mereka rasakan. Mungkin.

“Adik kamu sekolah di mana?”

“Di SMA Negeri tiga belas bu.”

“Wuiih, pinter dong masuk sana?”

“Sama kaya kakak nya, hehehe.”

“Dih, sombong. Eh tapi ga apa-apa sih sombong dikit, yang penting bener-bener pinter. Kalau Gadis mah sekolah nya mahal doang.”

“Hahaha, tapi mba Gadis kayanya anak nya pinter juga.”

“Sebenarnya iya, tapi mungkin karena lingkungan aja yang ga mendukung.”

“Oh, paham.”

“Makanya aku atur sedemikian rupa supaya dia masuk ke keluarga mu.”

“Maksudnya?”

“Agak gambling sih, tapi aku sengaja membuatnya semakin tidak betah di rumah dan meminta mu masuk ke kehidupannya. Termasuk meminta mu untuk mengantar nya pulang, dulu itu.”

“Oh, jadi begitu. Kalau rencana ibu ga berhasil gimana? Kalau mba Gadis kaburnya ga jelas gimana?”

“Tinggal di jemput, orang ku banyak dimana-mana. Kok kamu kayanya kuatir banget? Hehehe.”

“Ah, enggak.”

“Jadi sekarang, karena dia kayanya betah di rumah kamu, ya udah biarin aja. Soal itung-itungannya, nanti gampang lah.”

“Itung-itungan apa?”

“Ya biaya hidup selama dia tinggal di rumah kamu…”

“Saya ga akan pernah menghitung nya.”

“Ya terserah kamu saja. Kamu ga suka ya dengan cara ku?” tanya bu Pristy dengan raut muka sedih.

“Saya ga ada hak untuk memberikan penilaian suka atau enggak atas apa yang ibu lakukan ke anggota keluarga ibu. Tapi, menurut ibu bagaimana perasaan mba Gadis kalau dia tau ibu merencanakan semuanya? Bagaimana kalau dia tau kalau ibu sengaja membuatnya pergi dari rumah? Meskipun saya tau niat ibu baik.”

Bu Pristy langsung meletakan sendok dan garpu nya setelah mendengar usapan ku. Dia lalu membuang pandangannya ke kiri. Ucapan ku tadi memang cukup pedas dan dalam. Tapi aku merasa apa yang dia lakukan itu tidak adil untuk mba Gadis. Aku tidak suka.

“Ma-maaf kalau saya salah ngomong, saya hanya…”

“Enggak. Kamu ga salah, mungkin aku nya yang memang terlalu egois.”

“Cara ibu saja yang menurut saya kurang tepat.”

“Setelah dari sini Gadis akan langsung aku jemput.”

“Eh, jangan…”

“Kenapa? Kata kamu, aku salah…”

“Tapi ga gitu juga bu, maksud saya, sekarang kan situasi nya udah terlanjur, ya udah basahin aja sekalian, insyaallah saya bisa kok ngehandle semuanya.”

“Tapi tetep aja, aku jadi kepikiran sama kalimat kamu tadi,” balas nya dengan lesu.

Yah, salah ngomong deh ini aku. Mood nya pasti berantakan sekarang. Padahal aku sudah berhasil mengembalikan mood nya yang kemarin jelek itu jadi bagus lagi hari ini, sekarang hancur lagi. Bisa-bisa nanti malam ga jadi dapet jatah ini. Ya elah Adi…situasi kaya gini masih ngarepin jatah aja.

“Bu, maaf…saya ga bermaksud…”

“Udahlah ga apa-apa, ga usah dipikirin, lanjutin aja makannya,” balasnya bu Pristy dengan senyum yang dipaksakan. Fix!! Seratus persen dia pasti bad mood. Aku pun langsung melanjutkan makan ku. Bu Pristy pun begitu, meskipun makannya setengah hati, tidak sesemangat tadi.

[table id=AdsKaisar /]

“Loh, ibu ga masuk ke kamar?” tanya ku dengan bingung. Aku sudah di depan pintu kamar ku, sudah membuka pintu kamar, tapi bu Pristy bukannya langsung menuju kamar nya malah berdiri di belakang ku. Kami sudah menyelesaikan acara makan malam yang…sangat kaku tadi. Dan itu semua akibat kecerobohan ku. Aku yang sudah merusak suasana hati nya.

“Temenin lagi malem ini, ihh tega banget sih…” protes nya.

“Eh, oh iya maaf, saya lupa…hehehe,” balas ku sambil nyengir. Aku pikir karena lagi galau gitu dia tidak mau di ganggu. Ternyata rasa takutnya ngalahin semuanya.

“Atau aku aja yang ngungsi ke kamar kamu malam ini? Beneran deh aku ga berani kalau sendirian,” ucapnya lagi dengan lesu. Maaf bu, saya ga tau, batin ku. Kalau untuk urusan yang ini sih saya siap kapan pun, ucap ku lagi masih dalam hati.

“Ta-tapi kamar saya berantakan, ga apa-apa?”

“Ga apa-apa, cuek aja, aku sih maklum aja sama kamar cowok. Ya udah aku ganti baju dulu yah. Pintunya ga usah di kunci biar aku bisa langsung masuk. Ga lama kok, ga nyampe lima menit aja.”

“I-iya bu, saya tunggu.”

Bu Pristy lalu masuk ke kamar nya. Duh, di dalam kepala ku pertanyaan pertama yang muncul adalah malam ini bakalan dapet pelajaran yang enak-enak lagi ga ya? Toyor kepala sendiri.

[table id=AdsLapakPk /]

Kalau ditanya, kapan momen paling tidak enak yang gue alami sama orang lain, mungkin adalah malam ini. Tapi ini tidak enak nya yang dalam tanda kutip, dalam artian aku yang banyak merepotkan orang lain ini. Siapa lagi kalau bukan bu bos yang cantik jelita ini. Dalam sekejap kamar ku menjadi lebih rapi dari sebelumnya. Dan itu tak lain dan tak bukan karena sentuhan tangan bu Pristy.

Kamar ini memang tidak seberantakan kamar ku di rumah, namun tetap saja ada hal yang dia lakukan untuk kamar ini. Pertama, beberapa baju kotor ku yang sebelumnya aku taruh begitu saja di sofa dan kursi, dibereskan oleh beliau. Kedua, beberapa sampah bungkus cemilan yang sebelumnya tergeletak di lantai dan meja, juga beliau bereskan. Terakhir, sprei dan selimut tempat tidur juga beliau rapikan dari yang sebelumnya acak-acakan. Dan aku sangat mengapresiasi banget semua yang di kerjakannya itu. Lebih dari itu, aura kecantikan dan keibuan yang dia miliki semakin terpancar. Love you full banget deh bu. Sumpah.

“Nah, kalau udah begini kan enak buat tidur nya, nyaman, ga kaya tadi,” omel bu Pristy.

“Hehehe,” aku hanya bisa nyengir.

“Untung tadi ga ada daleman kamu, kalau ada mah aku juga ogah buat ngerapihinnya.”

“Hehehe, iya bu iya maaf, hehehe.”

Aku yang masih canggung akhirnya memilih untuk duduk di sofa. Sedangkan bu Pristy dengan santainya malah rebahan di tempat tidur. Setelan malam ini masih sama dengan malam sebelumnya, lingery berbahan satin yang di rangkap dengan kimono dengan bahan satin juga. Suka banget seperti nya mengenakan pakaian seperti itu. Nyaman sih pasti. Tapi aku yang tidak nyaman. Shit!!

“Sini tiduran sini, ngapain di situ?” ajak bu Pristy sambil menepuk-nepuk posisi di sebelahnya.

“Ga ah bu, saya di sini saja, kalau ga gelar selimut kaya semalem aja. Lagian saya belum ganti baju.”

“Ga ada tawar menawar, malam ini kamu tidur di tempat tidur ah, kasian amat anak orang aku suruh tidur di bawah-bawah.”

“Lah terus ibu gimana? Lebih kasian lagi kalau ibu yang harus tidur di bawah.”

“Yaaa, aku juga tidur di sini.”

“Hah? Apaan? Saya ga salah denger?”

“Enggaaak…”

“Ga mau ah, entar di gampar lagi.”

“Cieee…baperan banget siii…enggak kok, ga bakalan di gampar lagi, nanti aku sayang-sayangin deh, hihihi,” balas nya.

“Sepertinya ada yang mencurigakan,” balas ku sambil berlagak berfikir.

“Udah cepetan, keburu aku berubah pikiran lho.”

“Tapi mager bu ganti baju sama cuci muka nya…”

“Mau aku gantiin? Sini sekalian aku guyur kamu!”

“Eh enggak mau, jangan dong…”

“Ya makanya…”

“Iya-iya…”

Aku lalu mengambil baju tidur yang aku kenakan semalem. Sepasang kolor dan kaos lengan pendek. Kemudian pergi ke kamar mandi untuk menyelesaikan syahwat ku secara swalayan. Eh salah, ganti baju. Syahwatnya nanti saja, siapa tau dibantuin sama si ibu lagi kaya semalem. Hahaha. Karyawan bejad.

“Bu?”

“Iyah?”

“Kok tadi ibu ngajakin saya makan berdua sih? Memangnya, pak Jayadi…”

“Oh, sudah balik dari tadi sebelum magrib. Beberapa manajer dari sister company yang lain juga sudah pada pulang sih, tinggal sebagian aja yang masih stay.”

“Oh, pantes. Lah terus kenapa kita ga pulang aja?”

“Kenapa? Kangen sama mama kamu?”

“Eh, enggak sih, nanya doang.”

“Oohhh…Aku udah capek banget, lagian males aja jalan malem-malem, mendingan besok aja pagi menjelang siang.”

“Iya sih, ya saya sih ga masalah, lagian pamit nya sampai besok kok.”

Akhirnya aku memberanikan diri untuk rebahan di samping kanannya. Posisi ku rebah sempurna dengan bantal aku dobel sehingga aku masih bisa melihat ke arah tv. Sedangkan bu Pristy setengah bersandar pada sandaran tempat tidur. Dengan posisi seperti ini aku sejajar dengan dadanya. Sial. Dada lagi dada lagi. Sungguh berat cobaan hidup ini pikir ku.

“Ibu ga nikah lagi bu?” tanya ku sekedar membuka obrolan. Entah tanggapan dari dia akan seperti apa.

“Ga ada yang mau sama aku, sedih ya?”

“Masa sih?”

“Buktinya, aku masih sendiri.”

“Ibu nya terlalu memilih kali.”

“Mungkin.”

“Emangnya bu Pristy udah bercerai berapa lama?”

“Ehmm…aku lupa, hahaha, ada kali enam tahun.”

“Wah, udah lama juga ya,” balas ku. Berarti si ibu kemungkinannya sudah lama juga tidak gituan, kesempatan lagi ni nih pikir ku. Hahaha. Bisikan setan.

“Iya, aku nikah rada telat juga, umur dua sembilan, terus cuma bertahan tiga tahun doang. Iya bener aku udah enam tahun cerai nya.”

“Oh gitu. Btw, sekedar saran aja mungkin, ibu kan perempuan ya, bagaimanapun juga yang namanya perempuan pasti butuh lah yang namanya pendamping hidup, yang bisa mengayomi ibu, yang jagain ibu, ga mungkin kan ibu selama nya sendiri?”

“Maksud kamu aku harus nikah lagi gitu?” tanya bu Pristy sambil merubah posisinya menjadi miring ke arah ku.

“Iya, tapi cuma saran lho ya, hehehe.”

“Ehmm…gimana…kalau kamu aja yang lamar aku besok, lalu kita nikah deh. Lucu kali ya kalau punya ibu mertua yang seumuran, hihihi.”

“Laaah, ga dengan saya juga bu, haduuuh.”

“Makanya, kadang beberapa hal itu tidak semudah yang kamu saran kan,” ucap bu Pristy lagi sambil mengusap rambut ku. Posisi nya mirip sekali dengan posisi mama kalau lagi mau nidurin aku dulu.

“Hehehe, ya maaf.”

“Ga apa-apa. Saran kamu ga salah. Tapi kadang aku ngerasa udah telat. Umur ku sudah tiga delapan. Aku ga mau kalau harus sama yang di bawah tiga puluh.”

“Apalagi sama yang di bawah dua puluh ya?” sela ku.

“Hahaha, betul sekali. Sedangkan yang seumuran dengan ku biasanya pasti udah punya keluarga, kecuali…”

“Perjaka tua, atau sama duda?”

“Iya…”

“Ya memang kenapa? Yang penting kan orangnya baik, bertanggung jawab, apa lagi?”

“Masalahnya yang udah-udah itu biasanya segan mau deketin aku, serba salah sih, kadang aku suka mikir, kalau bisa aku pengen melepas status ku sebagai putri seorang Wiradana,” ucapnya dengan suara lesu. Seperti menyesali status social yang dia miliki. Mungkin benar bahwa beliau hampir memiliki semua yang dia inginkan saat ini, tapi itu justru yang membuat para lelaki segan untuk mendekatinya. Faktanya, sebagian besar pria memang memiliki tingkat kegengsian yang tinggi. Kecuali cowok matre.

“Ga boleh begitu bu, yang sudah ada harus di syukuri gimana pun keadaannya. Yang belum ada, di doakan. Doa terbaik saya selalu buat ibu kok, hehehe.”

“Makasih ya, coba aku punya saudara cowok kaya kamu, perhatian. Punya kakak cowok cuek nya ampun-ampunan.”

“Ya udah, kan kemarin saya udah bilang, ibu jadi kakak saya aja, hehehe.”

“Boleh, deal yaah,” balas bu Pristy sambil mengacungkan kelingking kiri nya untuk janji kelingking. Langsung ku sambut kelingking mungil itu dengan kelingking ku.

“Bu,” ucap ku sambil sedikit menoleh ke arahnya. Beliau masih miring ke arah ku. Senyumnya begitu teduh, membuat hati ku menjadi semakin adem.

“Yaaah?”

“Maafin saya yang semalem ya, saya janji ga akan kaya gitu lagi. Saya janji akan jagain ibu…”

“Kakak, hihihi, kok masih ibu aja sih?” sela nya.

“Eh iya kakak. Hehehe. Saya janji akan jagain kakak sama seperti saya jagain mama dan adik saya.”

“Iya percaya, berarti janji aku semalem yang mau kasih kamu itu…ga apa-apa dong kalau batal? Hihihi.”

“Eh, oh iya-ya, aduuh,” entah kenapa tiba-tiba aku jadi galau. Sial.

“Hahaha, hayooo, jadi gimana? Masa mau gituan sama kakak sendiri sih? Hihihi.”

“Iya sih, hahaha, ya udah ga apa-apa kok. Untuk sekarang ini ibu, eh kak Pris itu lebih berharga dari sekedar kenikmatan sesaat kaya semalem.”

“Hehehe, aku udah tau dari awal kalau kamu itu memang anak baik. Kalau yang semalem itu aku maklum kok, aku anggep kamu khilaf, dan itu wajar banget.”

“Hehehe, iya saya khilaf…”

“Satu lagi, manggilnya jangan saya ah, terlalu formal. Aku kamu, atau aku kakak aja, okeh?”

“Hehehe, siap kakak pertama.”

“Hihihi, seneng deh punya adik, lucu aja gitu, sini peluk kakak…” pinta bu Pristy sambil merentangkan tangannya.

“Eh, ehmm…”

“Ga apa-apa kalau cuma peluk mah…”

“Hehehe.”

Kami pun saling berpelukan. Pelukan sayang. Atau apapun namanya namun yang pasti bukan pelukan nafsu. Permainan dengan bu Pristy cukup hanya sampai di sini saja. Tidak akan pernah lebih. Beliau masih terlalu berharga kalau hanya mau aku jadikan sebagai pelampiasan nafsu dan fantasi belaka.

Halaman Utama : Kesempurnaan

BERSAMBUNG – Kesempurnaan Part 11 | Kesempurnaan Part 11 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 10 ) | ( Part 12 ) Selanjutnya