. Kesempurnaan Part 09 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 09

0
394

Part 09 – Begitu Indah

Bu Pristy langsung menghambur ke arah ku dan memeluk ku dengan sangat erat. Begitu erat hingga aku bisa dengan jelas merasakan kekenyalan daging empuk di dadanya. Jika bukan dalam situasi darurat aku mungkin sudah tidak tahan lagi. Sayangnya ini bukan waktu yang pas untuk berfikir ke sana. Tangisnya kembali pecah. Posisi kami tepat berada di pintu kamar nya. Perlahan aku lalu mendorong tubuhnya agar sedikit masuk ke dalam dan menutup pintu agar apa yang sedang terjadi pada nya ini, yang aku belum tau apa penyebab nya ini, tidak menarik perhatian orang yang mungkin saja lewat di depan kamar kami. Aku lalu menyalakan lampu utama yang tadi belum dinyalakan.

“Bu, tenang bu, ini saya Adi. Ibu tenang dulu ya…” bujuk ku sambil mengusap punggungnya berharap bisa membuatnya sedikit lebih tenang. Bu Pristy masih menangis sesenggukan. Meskipun belum tau penyembabnya, tapi aku yakin tangisannya kali ini beerbeda dengan tangis nya yang tadi. Ini tangis ketakutan. Rasa takutlah yang membuatnya menangis kali ini.

“Ibu tenang ya, ada Adi di sini, sekarang ibu aman.”

Bu Pristy masih terus memeluk ku. Sikapnya kali ini tak ubahnya seperti anak kecil yang ketakutan akibat melihat sesuatu yang menakutkan. Badan nya gemetar, dan terkadang jari-jari tangannya mencengkram erat baju ku seolah tidak ingin lepas dari ku. Sedangkan aku sendiri juga masih terus mengusap punggungnya.

“Ibu kenapa?” tanya ku pelan.

“A-aku ta-tadi liat sesuatu di bal-balkon,” jabab nya dengan suara terbata-bata.

“Sesuatu?”

“I-iya, kaya orang, atau apalah ga jelas…”

“Orang? Mana? Ga ada…” balas ku yang secara reflek langsung mengalihkan pandangan ke arah luar.

“Tadi ada, aku lihat kok, hiks… Jelas banget Adiii. Kan tadi lampu kamar ini belum nyala sedangkan lampu balkon nyala, jadi bayangannya jelas banget. Ngapain juga aku bohong,” jelas nya lagi. Dan memang masuk akal. Tadi lampu kamar memang belum menyala, sedangkan lampu balkon sudah. Selain itu tirai kamar posisinya terbuka sebagian. Si ibu ini ceroboh sekali pikir ku tidak menutup rapa tirai kamar.

“Iya bu saya percaya, ya udah saya periksa dulu ya, ibu tunggu di sini yah.”

“Ga mau, aku takut, aku ikut aja…” ucapnya masih terus memeluk erat lengan kiri ku. Posisi kami sekrang sama-sama menghadap ke jendela. Dan sekarang dua bukit kembar miliknya yang kenyal itu gentian menempel erat di lengan ku. Rejeki, atau cobaan? Entahlah. Aku sebenarnya agak takut juga kalau ternyata memang benar ada penyusup atau apalah yang nekat meneror bu Pristy, tapi masa jujur sama bu Pristy? Nekat ajalah.

“Ya udah, ibu di belakang saya aja ya,” bujuk ku agar beliau lebih tenang.

Aku lalu berjalan pelan menuju jendela dan di ikuti oleh bu Pristy yang mengekor di belakang ku. Jujur, aku semakin penasaran. Kalau ternyata benar di balkon ada orang, dan amit-amit orang itu berniat jahat pada kami, aku harus bagaimana? Keahlian bela diri tidak punya.

Dengan perlahan aku membuka kunci kamar. Dan dengan perlahan pula aku menarik handle pintu itu agar tidak menimbulkan suara. Setelah terbuka aku menariknya dengan pelan juga. hampir tidak ada suara yang aku timbulkan. Setelah pintu terbuka, aku melihat ke depan dan kosong. Posisi ku tepat di dalam pintu balkon, bu Pristy masih di belakang ku. Sekarang waktunya keluar dan mengecek bagian balkon yang lain.

Aku sudah keluar dan melihat sekeliling. Bu Pristy tidak ikut dan menunggu di dekat pintu. Aku tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Aku lalu berbalik dan memberikan isyarat kepada bu Pristy bahwa semuanya aman dan terkendali. Aku menyuruhnya untuk keluar namun dia tidak mau. Tapi aku terus memintanya keluar dan meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja hingga akhirnya beliau mau ikut ke balkon meski dengan takut dan ragu-ragu.

“Ga ada apa-apa kan bu?”

“Tapi tadi beneran ada Di…” balasnya berusaha meyakinkan ku.

“Halusinasi ibu saja mungkin…” balas ku lagi.

Aku lalu berbalik dan berdiri membelakangi bu Pristy. Aku berdiri dengan kedua tangan ku bertumpu pada pagar besi yang mengelilingi seluruh sisi balkon. Aku memandang ke arah kejauhan, dimana di sana berdiri dengan kokoh dua gunung yang secara samar terlihat oleh ku, kalau tidak salah itu gunng Gede dan Pangrango.

Bu Pristy lalu berdiri tepat di samping ku. Entah di sengaja atau tidak, tangan kanan nya bertumpu di atas tangan kiri ku. Ingin ku menariknya tapi ga enak. Aku bisa merasakan lembut dan halus kulit tangannya itu, kulit tangan yang mampu memberikan kehangatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sebuah kehangatan yang berbeda. Kehangatan dari seorang wanita.

“Aku ga mau tidur sendiri malam ini,” ucapnya tiba-tiba.

“Ibu ada kerabat perempuan yang ikut acara malam ini ga? Yang bisa di mintain tolong nemenin gitu?”

“Kalau sama-sama cewek mah ya sama aja bohong lah.”

“Lah, terus gimana?”

“Kamu yang temenin aku.”

“Tapi bu? bukannya ga mau, tapi saya…”

“Ga enak?”

“Iya…”

“Darurat. Kamu tega sama aku?” ucapnya sambil menatap ke arah ku dengan wajah takut nya. Tentu saja saya tidak tega bu.

“Tapi kalau tega ya ga apa-apa sih. Kamu pasti takut kan tidur satu kamar sama janda umur tiga puluh delapan tahun?” lanjutnya.

“Apaan sih bu? Enggak takut, saya cuma ga enak sama privasi ibu.”

“Kan aku sendiri yang minta, kenapa ga enak?” cecar nya lagi. Terpaksa deh, ga ada pilihan lain pikir ku.

“Ya udah iya, saya temenin deh, tapi saya tidur seranjang sama ibu ya, hehehe,” canda ku. Ibaratnya kalau ga bisa nolak, ya ladenin aja sekalian.

“Enak aja, kamu tidur nya di sofa,” balasnya sambil tersenyum dan menepuk pelan bahu ku. Senyum nya begitu indah. Saat ini aku benar-benar sadar kalau bu Pristy memang benar-benar sempurna. Bagi ku, sekarang kecantikannya mba Gadis cuma seujung kuku kaki nya bu Pristy.

“Sempit kan bu di sofa?” balas ku pura-pura menolak, padahal tidur di sofa mah sudah biasa bagi ku.

“Iya sih ya, ah kalau enggak, kamu ambil selimut kamu yang di kamar kamu aja terus gelar deh di lantai, kan selimutnya lumayan tebel tuh, gimana?”

“Buset, lebih parah lagi di suruh tidur di lantai, nasiiib…” keluh ku bercanda sambil memberikan wajah cemberut ku.

“Hihihi, sabar yah,” balas nya dengan raut muka yang nampak puas. Sialan juga nih pikir ku. Udah di tolongin tapi malah ngetawain. Tapi aku tau bu Pristy juga pasti cuma bercanda.

“Iye…” balas ku pura-pura sewot.

“Gantinya, aku buatin kopi deh, kapan lagi coba kamu dibuatin kopi sama manajer?”

“Wah iya-ya, hahaha. Sip deh kalau begitu.”

“Ya udah aku panasin air dulu kalau begitu, kamu mau ambil selimut nya sekarang apa nanti?”

“Bentar lagi bu, hehehe.”

“Oke, aku masuk dulu.”

Bu Pristy lalu masuk ke dalam kamar nya dan meninggalkan ku sendiri di balkon ini. Aku kembali menatap jauh ke depan. Pikiran ku menerawang lagi. Ada banyak hal yang terjadi pada diri ku beberapa hari ini. Nampung mba Gadis yang kabur dari tantenya. Perselisihan mba Gadis dengan Rahma. Jadi sopir dadakan. Dan sekarang terjebak bersama bu Pristy yang lagi galau yang juga lagi kabur-kaburan dari bapaknya. Ya elah. Keluarga kok penuh drama.

Pandangan ku kemudian teralihkan oleh sesuatu yang menarik perhatian ku. Di depan ku ada sebuah taman kecil di sisi luar balkon yang disana tumbuh beberapa tanaman di dalam pot-pot kecil. Tata letak yang sangat bagus. Keberadaan tanaman ini memberikan kesan asri pada balkon ini. Tapi bukan itu sebenarnya yang menarik perhatian ku.

Ada satu pot tanaman yang posisinya tidak normal. Pot itu terguling ke samping dan hampir jatuh jika tidak ada pot lain yang menahannya. Selain itu ada beberapa tangkai bunga yang patah. Aku lalu berusaha meraih dua tangkai bunga yang patah tadi. Feeling ku mengatakan kerusakan pada tanaman ini terjadi belum lama. Aku lalu melihat sekeliling dan benar saja, aku melihat ada beberapa bekas jejak sepatu di lantai balkon yang masih basah, dan itu sudah pasti bukan jejak kaki ku maupun kaki bu Pristy. Berarti apa yang bu Pristy lihat tadi memang benar. Beliau tidak sedang berhalusinasi.

“Liatin apa kamu? Kok kayanya mikir banget?” suara bu Pristy mengagetkan ku. Beliau berdiri dengan bersandar pada kusen pintu. Entah sengaja atau tidak, kaki kirinya agak di majukan sehingga bagian bawah kimono berbahan satin yang di kenakannya itu tersingkap dan memperlihatkan paha putih mulus milik nya. Anjir, sudah ganti baju aja dia pikir ku. Menggoda banget lagi, tahan tidak ya aku malam ini?

“Ah enggak bu, ga mikirin apa-apa kok. Eh iya, ini buat ibu,” jawab ku berbohong sambil berjalan menghampirinya dan memberinya dua tangkai bunga yang aku petik tadi. Sebenarnya bukan di petik juga sih, karena bunga ini sudah patah terlebih dahulu.

“Eh, apaan ini?” tanya nya bingung namun tidak menolak bunga pemberian ku.

“Ini ungkapan rasa sayang saya ke ibu, hehehe,” balas ku dengan nada lebay, agar terlihat bercanda nya.

“Ya ampun makasiii, so sweet banget sih kamu, terharu lho aku…” balas nya tak kalah lebay.

“Hahaha, ya udah saya ambil selimut dulu deh kalau begitu.”

“Ya udah, jangan lama-lama yah, aku takut sendiri,” pesan bu Pristy dengan raut muka yang masih agak ketakutan. Saya juga takut bu sebenarnya. Tapi aku harus tetap tenang dan waspada sambil mengamati keadaan sekitar. Apa yang ibu lihat tadi memang benar. Ada orang yang berusaha menyusup ke kamar ibu. Aku lalu pamit untuk mengambil selimut tebal di kamar ku untuk alas tidur ku malam ini.

[table id=Ads4D /]

Saat aku balik ke kamar bu Pristy, aku sudah disuguhi dengan dua hal. Pertama, tentu saja kopi yang beliau janjikan tadi. Ke dua, paha dan susu yang dia biarkan terumbar dengan bebas untuk aku pandangi. Beliau mengenakan kimono tipis berbahan satin yang di dalamnya dilapisi dengan lingery yang juga tidak kalah tipis, dan juga menerawang. Posisi beliau rebahan di ranjang dan dengan cuek nya membiarkan bagian bawah kimono nya tersingkap hingga menampilkan sepasang paha yang putih dan mulus. Agak jengah sebenarnya. Dilihat, tapi tidak enak. Tidak dilihat, lebih tidak enak lagi.

“Itu kopi nya udah aku buatin, belum mau tidur kan?” tanya bu Pristy dengan lembut. Beliau melirik ke arah ku sebentar lalu kembali menatap ke arah tv. Aku sendiri langsung menggelar selimut ku di lantai tepat di samping ranjangnya lalu duduk di sofa dan menyesap kopi buatan si ibu manajer.

“Iya bu belum kok, lagian mana bisa tidur kalau tidur nya sekamar sama wanita secantik bu Pristy, hehehe.”

“Maksud loooh?”

“Hehehe, becanda bu…”

“Iya tau. Kalau mau ngerokok dulu juga ga apa-apa kok, tapi di balkon, dan pintu nya ditutup,” tawarnya.

“Belum pengen kok bu, ngomong-ngomong makasih lho kopi nya.”

“Iya sama-sama, makasih juga udah di temenin.”

Aku lalu menikmati kopi yang di buatkan oleh bu Pristy. Mantab kopinya, agak kental dengan sedikit gula, pas banget dengan selera ku. Beberapa saat kemudian hening. Kami sama-sama fokus ke acara tv yang sedang menayangkan acara talkshow di salah satu tv swasta. Karena pegal, aku pun ikut rebahan di sofa yang posisinya sejajar dengan tempat tidur. Bu Pristy sekilas tersenyum kepada ku lalu kembali menatap ke arah layar tv. Di luar sudah sangat sepi. Terasa sangat nyaman tinggal di tempat seperti ini. Tenang. Hanya suara tv yang kami dengar.

“Bu?”

“Iyaah…”

“Boleh tanya sesuatu?”

“Silahkan.”

“Mohon maaf sebelumnya kalau saya lancang, tapi kalau boleh tau, kenapa mba Gadis benci banget sama ibu? Ibu beneran tante nya kan?”

“Hahaha, kirain mau tanya apaan, pake minta maaf segala. Mau tau aja apa mau tau banget nih? Hihihi.”

“Mau tau banget sih bu, tapi kalau ga berkenan ya ga usah di jawab.”

“Hahaha. Baiklah. Karena kamu udah baik sama aku, aku kasih tau deh. Tapi ceritanya panjang.”

“Malam juga masih panjang kok bu, hehehe.”

“Hihihi, iya. Ya udah aku cerita, tapi awas ya kalau baru setengah jalan terus kamu nya ngantuk, terus minta berhenti. Gaji mu aku potong!”

“Eh, jangan dong, sensitif itu kalau masalah gaji. Saya janji deh dengerin sampai akhir.”

“Hahaha, canda kaliii.”

“Hehehe, kirain…”

“Oke, jadi begini, sebenernya ini pribadi banget. Tapi ya sudah lah, aku udah anggap kamu seperti anak ku sendiri, walaupun aku sendiri belum punya anak, hahaha.”

“Lah tua amat ibu jadi mamah saya? Hahaha.”

“Apa dong? Tante?”

“Masih ketuaan, kakak aja deh, gimana? Saya pengen punya kakak cewek, hehehe.”

“Kenapa?” tanya nya dengan bingung.

“Biar ada yang bisa di mintai ntolong bikinin kopi lagi, kaya ini nih, hahaha,” canda ku sambil menyesap kopi buatan nya yang ada di tangan ku ini.

“Idiiih, dasar. Pengen punya kakak cuma buat di suruh bikin kopi doang.”

“Hehehe.”

“Ya udah lanjut yah.”

“Oke…”

“Jadi dua puluh tahun yang lalu, kakak ku satu-satu nya, papa nya Gadis, punya sahabat cewek dari smp.”

“Dan mereka falling in love?” tebak ku dengan mantab.

“Pinter banget kamu nebaknya, pengalaman ya?”

“Yang udah-udah sih begitu bu, hehehe, terus-terus?”

“Dan seperti yang terjadi di sinetron-sinetron, ada satu pihak yang tidak setuju dengan hubungan mereka dengan alasan klasik yang menurut ku itu sudah tidak relefan lagi sih, status sosial.”

“Pak Jayadi?”

“Siapa lagi?”

“Lalu mereka berdua berontak?”

“Iya, dan mereka kalah. Sahabat dari kakak ku yang merupakan cinta sejatinya itu lebih memilih mengalah karena…”

“Apa?”

“Sebenernya aku tidak boleh menceritakan hal ini karena ini adalah aib dari papa ku sendiri.”

“Aib?”

“Iya.”

“Maksudnya pak Jayadi menggunakan cara-cara kotor untuk memisahkan mereka?”

“Iya.”

“Hmmm…”

“Masih tertarik sama cerita nya?”

“Masih dong.”

“Wanita yang paling di cintai kakak ku itu akhir nya memilih jalan hidup nya sendiri dengan menjauh dan menghindar dari kehidupan kami. Sedangkan kakak ku yang kecewa berat sempat depresi hingga beberapa lama. Tapi kemudian dengan usaha dari keluarga, akhir nya kakak ku itu bisa kembali ke kehidupan normal nya.”

“Hubungannya dengan mba Gadis?”

“Tidak lama setelah itu kakak ku di jodohkan dengan anak dari relasi bisnis papa.”

“Dan mereka tidak saling mencintai?”

“Kakak ku tidak mencintainya, aku tau dengan pasti. Tapi mantan istrinya aku tidak tau.”

“Mantan istri?”

“Iya mereka berdua akhirnya bercerai.”

“Sama dengan bu Pris, eh maaf…hehehe.”

“Iya ga apa-apa. Aku dan kakak ku sama-sama bercerai. Kami sepasang kakak adik janda dan duda, hahaha, miris banget ya keluarga ku,” ucapnya sambil tersenyum kecut.

“Kembali ke soal mba Gadis?”

“Aku penyebab papa dan mama nya bercerai.”

“Maksudnya?”

“Ya, aku yang membuka borok mama nya. Aku yang membuat mama nya tidak nyaman barada di dalam keluarga kami. Secara tidak langsung, bisa dibilang aku yang membuat mereka berpisah.”

“Dan mba Gadis menyalahkan ibu?”

“Iya,” jawabnya dengan sedih.

“Padahal itu untuk kebaikannya kan?”

“Kadang anak-anak belum tau mana yang terbaik untuknya.”

“Ibu menyesal?”

“Aku tidak pernah menyesal, hahaha.”

“Tapi kan ibu jadi jauh sama mba Gadis.”

“Ga apa-apa, yang penting mamanya juga jauh dari keluarga ku.”

“Kok kedengerannya kejam ya?”

“Terkadang kita harus melakukan hal-hal yang tidak baik untuk kebaikan orang-orang yang kita sayangi.”

“Begitu ya?”

“Nanti kalau kamu sudah berkeluarga juga bakalan tau bedanya.”

“Jadi begitu ceritanya…”

“Kamu bisa ambil hikmah dari kisah keluarga ku?” tanya nya dan aku hanya menggeleng. Pikiran ku masih terlalu muda untuk hal-hal seperti ini.

“Materi tidak bisa menjamin kebahagiaan seseorang, jaga dan sayangi keluarga mu lebih dari apapun,” ucapnya lagi.

“Saya percaya, dan setuju dengan pendapat ibu.”

“Hahaha, bulan depan gaji kamu naik.”

“Hah? Serius bu?” tanya ku kaget.

“Ya enggak lah, enak aja, ngarep ni yeee, hehehe,” ledek nya.

“Ah si ibu mah rese, pehape doang.”

“Gaji naik apa nggak itu tergantung kinerja kamu, bukan karena kamu abis jadi pendengar curhatan bos mu, hahaha, week,” ledek bu Pristy semakin semangat.

Aku pasrah saja seakan menjadi bahan ledekannya. Ya itung-itung sebagai hiburan untuk beliau yang sempat dilanda kegalauan tadi. Ditambah lagi dengan kumunculan orang misterius yang entah apa tujuannya nekad menyusup hingga balkon kamar nya. Dan apa yang aku lakukan ini memang berhasil. Bu Pristy nampak lebih ceria sekarang.

“Udah abis belum kopi nya? Awas lho kalau ga di habisin!”

“Tinggal dikit nih, mau nambah malah kalau boleh, hehehe.’

“Ga boleh banyak-banyak.”

“Iya bu…”

“Dah ngantuk?”

“Belum, ni kopi manteb juga bikin melek. Ibu udah ngantuk?”

“Udah mulai sih, duuh kayanya bakalan aku yang ninggalin kamu bobo duluan nih, maaf ya, hehehe.”

“Santai bu. Ibu kalau udah ngantuk bobo aja dulu, saya bakalan jagain ibu kok malam ini. Tenang aja, ga akan kabur, hehehe.”

“Ooohh…so sweet. Jadi enak, hihihi. Ya udah aku bobo yah. Nih remote Tv nya, jangan lupa di matiin kalau udah mau bobo,” pesan bu Pristy sambil menyerahkan remote Tv ke pada ku. Aku lalu menerimanya dan mencoba mencari chanel Tv lain yang mungkin lebih menarik.

Materi tidak bisa menjamin kebahagiaan seseorang, jaga dan sayangi keluarga mu lebih dari apapun, aku tiba-tiba teringat dengan wejangan bu Pristy tadi. Memang betul sih apa yang beliau katakan. Dan aku merasakannya. Keluarga ku tidak kaya, tapi kami bahagia. Keluarga bu Pristy kaya raya, tapi lihat saja, dua anaknya tidak ada yang sukses dalam urusan rumah tangga. Jadi, bahagia itu sederhana. Mensyukuri segala nikmat dan anugerah yang diberikan Tuhan yang maha Esa. Tamat.

Belum, cerita ini belum tamat. Hahaha. Aku belum dapat enak-enak. Hahaha. Kapan ya tapi? Entahlah. Mungkin sekarang lebih baik aku tidur saja. Sejenak aku perhatikan wajah bu manis bu Manajer ku yang sudah tertidur pulas itu. Nafas nya terdengar lembut dan teratur. Cepat sekali pikir ku. Tidurnya miring ke arah ku. Ah ibu, ibu cantik banget sih. Coba situ seumuran sama saya, pasti sudah saya pepet. Hahaha.

[table id=AdsLapakPk /]

“Ehhmm…eh?”

Aku terbangun dengan tangan kiri ku yang terasa mati rasa. Seperti ada beban berat yang menimpanya dalam waktu yang cukup lama. Ada apa ini pikir ku. Aku membuka mata ku dan mendapati tubuh seorang wanita yang tertidur pulas memunggungi ku. Bu Pristy? Ya ampun beliau tidur bersama ku? Sejak kapan? Gimana ini?

Posisi tidur ku setengah miring ke kiri dengan tangan kiri ku terentang dan dijadikan sebagai bantal oleh bu Pristy. Sebenarnya aku ingin menarik tangan ku namun ku urungkan karena itu pasti akan membangunkannya. Tapi mau sampai kapan? Tangan ku sudah mati rasa. Tapi aku tidak tega kalau harus membangunkannya.

Akhirnya aku putuskan untuk mendiamkannya saja terlebih dahulu. Aku sedikit merubah posisi tidur ku lebih miring ke kiri sehingga dengan posisi seperti ini aku seperti sedang memeluk bu Pristy dari belakang. Dari posisi ini aku bisa melihat betapa indah lekekukan tubuh bu Pristy. Mulai dari pinggangnya yang ramping, pinggul dan pantat nya yang membulat, dan pahanya yang putih dan mulus itu. Beliau sudah tidak mengenakan kimono lagi, hanya mengenakan lingery saja. Itu pun tersingkap hingga ke pinggulnya yang membuat ku dapat melihat keseluruhan pantatnya yang sekarang hanya tertutup oleh celana dalam nya saja. Dan kemaluan ku yang sudah mengeras ini hanya berjarak tidak sampai tiga centi meter dari bulatan pantatnya.

“Tadi aku kebangun…mmhh…” ucap bu Pristy tiba-tiba. Eh dia terbangun. Gara-gara gerakan ku tadi pasti.

“Eh…ehmm…”

“Karena kamu udah bobo aku nya jadi parno, mau langsung bobo lagi ga bisa, akhirnya aku ikut kamu ke bawah, maaf ya, pasti tangan kamu keberatan,” ucapnya lagi dengan suara yang masih sangat serak karena masih mengantuk dan masih dalam posisi yang sama. Tidak ada gerakan sama sekali, bahkan beliau masih membiarkan bokong seksi nya terbuka.

“Enggk kok bu, enggak berat, hehehe, ya udah bobo lagi aja,” balas ku dengan tolol nya. Iya tolol, tangan kiri ku sudah mati rasa tapi aku masih bilang tidak berat dan tidak apa-apa.

“Iyah, ga apa-apa kan kalau aku tidur di sini?” tanya nya lagi. Pertanyaan bodoh pikir ku. Ya tentu saja tidak apa-apa lah teriak ku dengan girang.

“Asal ibu tenang saja,” jawab ku mencoba tenang. Padahal syahwat ku sudah tidak tenang. Kemaluan ku semakin mengeras karena momen yang aku alami saat ini. Aku tidur dengan memeluk ibu bos ku sendiri yang meskipun sudah cukup berumur namun masih tetap cantik dan menggoda. Terutama di bagian pantat nya. Tiga kata untuk bokongnya itu, empuk dan kencang.

“Eh…” aku kaget ketika tiba-tiba bu Pristy menggeser tubuh nya semakin merapat ke tubuh ku. Dan sekarang pantat bulat miliknya itu benar-benar menekan dengan erat ke selangkangan ku. Awal nya aku ingin menggeser tubuh ku kebelakang karena merasa tidak enak dan takut di sangka kurang ajar, namun beliau malah memegang pergelangan tangan kanan ku dan menarik nya lalu di letakan nya di perut nya.

“Kalau meluk cewek itu ga boleh setengah-setengah,” ucapnya lagi tanpa menoleh ke arah ku, namun aku bisa melihat sedikit senyum terpancar dari bibir nya.

“I-iya bu,” balas ku terbata-bata.

“Santai saja, kita sudah sama-sama dewasa, kan?”

“Iya, kita sudah sama-sama dewasa bu,” balas ku gugup dan pasrah bagaikan kerbau yang di cokok hidungnya.

“Kalau belum dewasa mana bisa yang di bawah sana keras gini? Hihihi,” ledek bu Pristy sambil menggoyangkan pingulnya menggesek dan menekan ke selangkangan ku.

“Ahh…eehhmmhh…” reflek aku mendesah pelan. Anjir, cuma digituin aja aku sudah mendesah. Malu. Malu. Malu.

“Kamu kenapa? Sempit ya? hihihi.”

“Hehehe, maaf bu. Tapi wajar kan ya?” balas ku mencoba tetap tenang, meskipun sangat susah.

“Iya wajar kok, apa lagi untuk cowok seumuran kamu, pasti lagi menggebu-nggebu nya kan?”

“Hehehe, apalagi lawannya wanita secantik ibu,” balas ku mencoba meladeni setiap ucapannya.

“Hihihi, gombal kamu. Oiya, kamu sudah pernah?”

“Pernah ngapain bu?” balas ku pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan ambigu nya.

“Jangan pura-pura ga ngerti!” protes bu Pristy sambil menggoyangkan kembali pinggul nya hingga membuat pantat semok nya itu semakin mendesak ke kemaluan ku yang juga semakin mengeras.

“Be-belum bu, ibu mau ngajarin saya? Hehehe,” canda ku sepontan. Entah dapat nyali dari mana hingga aku berani melontarkan kalimat kurang ajar seperti itu.

“Nih kalau berani!” balas bu Pristy sambil mengepalkan tangannya kepada ku, namun beliau masih tetap membelakangi ku. Terdengar serius, tapi aku yakin dia hanya bercanda.

“Yakin belum pernah?” tanya nya lagi. Penasaran banget pikir ku.

“Suer bu, ngapain bohong.”

“Berarti sekarang tegangan tinggi banget dong?”

“Cuma cowok gay dan pria impoten yang ga tegang dengan sikon seperti ini bu,” canda ku. Aku baru sadar ternyata tangan ku sekarang sedang mengusap-usap perutnya yang rata, yang otomatis itu membuat lingery nya semakin tersingkap. Bahkan sekarang sebagian perut rata nya itu juga terbuka. Yang artinya pinggul dan pantat bu Pristy benar-benar terbuka dan hanya tertutup oleh celana dalam nya saja.

“Hahaha, analogi kamu boleh juga. Eh, tapi kok kamu masih tahan? Apa jangan-jangan kamu…”

“Maksud ibu?”

“Adik kamu tegang, oke aku bisa paham. Tapi kamu masih bisa mengendalikan diri mu, kamu tidak melakukan pemaksaan terhadap ku, jujur aku salut dengan itu,” puji nya secara tidak langsung.

“Memang nya ibu pengen saya paksa? Hehehe,” balas ku meladeni ucapannya, yang diikuti oleh respon dari tangan ku yang tiba-tiba berusaha bergerak ke atas ke arah dadanya. Namun kemudian tertahan oleh tangan bu Pristy, yang kemudian malah menggenggam dan meremas pergelangan tangan ku.

“Memang nya apa sih yang bisa di lakuin bocah kemarin sore kaya kamu ini ke aku?” balasnya dengan suara menggoda.

“Ehm…mengisi ruang kosong di bagian tubuh ibu yang satu ini, saya bisa, hehehe,” balas ku sambil dengan cepat menarik celana kolor ku ke bawah sehingga sekarang penis ku hanya tertutup oleh celana dalam ku saja dan dengan nekat aku mendorong penis keras ku itu ke selangkangannya.

“Eh, ehmhh…kamu ngapain?” tanya bu Pristy setengah mendesah dengan polosnya. Pertanyaan yang sebenarnya dia sudah tau jawabannya. Takut bu Pristy berontak, aku lalu mendekap kembali tubuh sintalnya. Ku remas pergelangan tangannya untuk memberikan ketenangan.

“Jadi gimana bu? Ibu mau ga punya ibu yang di bawah sana itu saya isi dengan punya saya ini?” tanya ku lagi dan sekarang aku semakin nekat. Ku keluarkan penis ku dari sarangnya dan ku gesek-gesek kan ujung nya yang keras itu ke selangkangan bu Pristy dari belakang.

“Ehhmmhh…ssshhhshh…” desah bu Pristy lembut. Sekarang aku yakin seyakin-yakinnya kalau beliau benar-benar sudah bertekuk lutut di depan. Tapi aku tidak mau tergesa-gesa. Dan aku juga tidak mau bila harus memaksanya.

“Bu? ibu kenapa?” tanya ku lagi dengan terus menekan-nekan kan ujung penis ku ke selangkangan nya. Selain itu aku juga memberinya rangsangan dengan mengecup belakang leher nya serta menjilatinya. Tangan kanan ku juga tidak tinggal diam. Aku menyusupkan tangan kanan ku itu ke dalam lingery nya namun tidak langsung meremas payudaranya. Bu Pristy ternyata tidak mengenakan bra. Kulit payudaranya terasa sangat lembut di punggung tangan ku. Aku sengaja hanya mengusap-usap dua daging kenyal itu dengan punggung tangan ku agar beliau tidak kaget dan memberinya efek penasaran.

“Ehhsshh…aahhkkuuhhsshh…”

“Ibu suka ya saya giniin?” pancing ku lagi dengan mulai menjilati daun telingannya. Penis ku terus menusuk-nusuk lubang yang masih tertutup kain tipis itu dengan pelan.

“Ehmmhhsshh…” lagi-lagi tidak ada balasan dari nya selain hanya desahan kenikmatan akibat rangsangan dari ku.

Oh Tuhan, apa aku sudah bertindak terlalu jauh? Apa aku sudah berbuat kurang ajar kepadanya? Awal nya aku tidak ingin melakukan ini. Tapi beliau sendiri yang seperti nya memancing birahi ku. Aku hanya manusia biasa. Aku juga punya syahwat. Aku juga bisa tergoda. Aku bisa khilaf. Maaf kan anak buah mu ini bu bila sudah khilaf. Saya siap menanggung segala resiko nya bila nanti ibu tidak suka.

Ku tarik kembali tangan ku lalu bergerak kebawah merabai setiap inci pinggangnya lalu berakhir di pantatnya. Ku remas pelan pantat seksi itu. Bu Pristy kembali mendesah pelan. Kadang kepalanya sampai mendongak akibat rangsangan dari ku. Ku dorong lebih dalam lagi ujung penis ku ke selangkangannya. Terasa oleh tangan ku di bagian itu sangat lembab. Bu Pristy sudah sangat basah batin ku.

Meskipun aku belum pernah melakukannya, tapi aku bukan cowok yang polos-polos amat. Aku tau apa yang harus aku lakukan. Lalu dengan memantapkan tekad ku, terhadap apapun resiku yang akan aku alami nanti, aku coba menyingkap kain penutup itu dari samping. Dan berhasil. Celana dalam bu Pristy ternyata sangat elastis, dan aku bisa menariknya hingga ke samping. Dengan posisi sekarang ini sudah tidak ada lagi penghalang antara penis ku dengan bibir vaginanya.

Kembali aku memantabkan tekad ku yang sempat ragu. Bagaimana pun juga dia adalah bos ku sendiri. Atasan ku di tempat ku bekerja. Tapi aku juga sudah tidak tahan lagi dengan godaan duniawi ini. Setan sudah merasuki ku. Dan dengan mantab ku arahkan ujung penis ku ke bibir vagina yang basah oleh cairan cintanya sendiri itu.

“Eh, aacchhhsshhh…” bu Pristy melenguh panjang dengan badan yang bergetar lalu berbalik dengan sorot mata tajam yang aku tidak tau maksudnya apa.

“Plaak!!” sebuah tamparan keras telak mengenai pipi ku. Aku hanya bisa melongo menerima nya. Bu Pristy lalu bangun dan merapikan lingery serta celana dalam nya yang sempat acak-acakan itu. Tanpa sepatah kata pun beliau kemudian pindah ke tempat tidur dan meringkuk memeluk lutut nya sambil bersadar ke sandaran tempat tidur. Pandangannya kosong. Seperti trauma akan sesuatu. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Meratapi nasib nya yang baru saja dilecehkan oleh anak buahnya sendiri. Bisa jadi.

Aduh, kenapa jadi begini? Sekarang aku yang pusing. Kacau. Bodoh. Bodoh. Bu Pristy pasti marah. Siap-siap di pecat ini pikir ku. Aku juga masih terdiam dan tidak tau harus berkata apa, dan berbuat apa. Semua salah ku. Aku tidak bisa menahan nafsu ku sendiri. Aku telah melecehkan orang yang seharusnya aku hormati. Orang yang memberi ku pekerjaan. Dan di saat seperti ini aku malu kalau harus meminta pertolongan Tuhan atas apa yang baru saja aku lakukan.

Halaman Utama : Kesempurnaan

BERSAMBUNG – Kesempurnaan Part 09 | Kesempurnaan Part 09 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 08 ) | ( Part 10 ) Selanjutnya

Cerita Terpopuler