. Kesempurnaan Part 08 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 08

0
383

Part 08 – Nama Kamu Siapa ?

***********************************

“Nama kamu Adi kan?”

“Iya, nama aku Adi… nama kamu siapa?”

“Hayo tebak, nama aku siapa?”

“Kamu siapa?”

Masa kamu tidak tau sih? Kamu lupa ya?”

“Eh… Ehmm… kamu itu… ”

“Iya nama aku siapa?” tanya nya lagi sambil tersenyum dan memperlihatkan dua pasang gigi caling yang mungil dan putih itu. Aku masih terus mengingat siapa nama anak kecil ini tapi sia-sia. Aku tidak bisa mengingatnya.

“Ma-maaf, aku tidak ingat.”

“Aaah, kamu jahat. Masa lupa sama nama aku siii? Huuh!! Adi jahat. Ya udah ah. Aku marah sama Adi. Adi jelek!” Ucap gadis kecil itu lagi lalu meninggalkan ku begitu saja.

“Eh tunggu, kamu mau kemana? Kamu belum memberi tahu nama kamu… tunggu… jangan tinggalin aku sendiri di sini. Aku ada di mana ini?” teriak ku kepada nya, Namun sia-sia.

Teriakan ku tidak di hiraukannya. Anak kecil itu terus menjauh dan meninggalkan ku. Dan lama-kelamaan tubuhnya menghilang, ditelan silaunya cahaya putih yang sangat terang.

***********************************

[table id=Ads4D /]

“Astagfirullahaladzim…”

Aku terbangun dengan suara dering HP ku yang terus berbunyi dengan nyaringnya. Jam berapa ini pikir ku. Aku terkejut ketika mengambil HP ku dan nama yang mucul di layar adalah nama bu Pristy.

Waduh. Mana udah jam delapan lewat lagi. Jangan-jangan bu Pristy butuh sesuatu lagi. Haduh, bagaimana ini? Kok aku bisa ketiduran selama ini ya?

“Ya halo, ada apa bu? ada yang bisa di bantu?” tanya ku dengan sopan. Dan aku mendengar balasan setengahmenjerit dari seberang sana.

“Eh, oh iya maaf bu, saya ketiduran tadi, saya ada di kamar bu. Maaf…”

“Iya bu sebentar.”

Aku lalu bergegas bangkit dan berjalan menuju pintu. Bu Pristy ternyata menunggu ku di depan pintu kamar ku. Begitu aku buka pintu kamar, bu Pristy dengan muka gemas nya melotot ke arah ku.

Ya meskipun itu tidak mengurangi aura kecantikannya, tetap saja tidak ada yang lebih menyeramkan dari pada seorang wanita seusianya saat sedang marah.

Saat ini beliau mengenakan gaun terusan dengan model bahu terbuka berwarna merah menyala yang panjangnya selutut.

Sepasang kaki nya beralaskan sepasang sepatu high heels yang juga berwarna merah. Bibirnya yang sensual itu juga berlapiskan lipstick warna merah, senada dengan gaun dan heels yang di kenakannya. Rambutnya disanggul dengan indahnya. Cantik. Luar biasa cantiknya. Aku sampai harus mengerjap-ngerjapkan mata ku berkali-kali untuk memastikan bahwa yang aku lihat ini adalah benar-benar bu Pristy, bukan bidadari yang baru saja turun dari langit.

“Kamu orang apa kebo sih? Susah banget dibanguninnya!”

“Iya bu maaf, aduh, beneran ga kedengeran tadi.”

“Pegel tau berdiri lima belas menit di sini nelponin kamu ga bangun-bangun…” protes bu Pristy dengan jengkel namun suaranya terdengar agak manja.

“Iya bu sekali lagi saya minta maaf…”

“Kamu pasti belum mandi kan?” tanya bu Pristy lagi dengan jutek.

“Iya ibu tau aja, hehehe, jadi malu.”

“Iihhh bau!!”

“Wangi kok bu, nih cium aja kalau mau, hehehe,” balas ku sambil dengan gerakan reflek mengendus aroma badan ku sendiri. Memang masih wangi kok. Tidak bohong kalau ini.

“Enak aja. Ya udah, kamu mandi dulu sana. Nanti setengah sembilan pas kamu ke kamar ku.”

“Eh, ngapain bu?”

“Ga usah banyak tanya.. Lakuin aja!”

“Iya bu, iya,” balas ku dengan pasrah..

Bu Pristy lalu meninggalkan ku menuju kamarnya yang berada persis di sebelah kiri kamar ku. Deru langkah kaki yang ditimbulkan dari sepatu hak tinggi miliknya entah mengapa membuat ku semakin terpukau akan keanggunan dan kecantikannya, seorang wanita yang mungkin umurnya hanya beberapa tahun lebih mudah dari mama. Cantik yang benar-benar cantik. Cantik yang dewasa. Cantik yang sempurna.

Aku ini kenapa ya? Apa aku ini mengidap kelainan? Tertarik pada lawan jenis yang umur nya jauh lebih tua? Tapi meskipun tua, bu Pristy nampak masih muda. Jadi tidak salah sih bila aku masih mengaguminya. Atau aku ini yang kecepetan tua nya? Bodo lah. Yang pasti sekarang aku harus segera mandi dan setelah itu pergi ke kamar nya. Siapa tau di kasih yang enak-enak nanti. Makanan enak maksudnya, hehehe.

[table id=AdsKaisar /]

Ku ketuk pintu kamar bu Pristy dengan hati-hati. Perasaan ku campur aduk. Antara seneng bakalan ketemu beliau lagi yang cantik jelita itu, serta deg-deg an juga karena teringat pesan dari mba Gadis tadi siang yang meminta ku untuk hati-hati dengannya.

Aku pikir itu hanya sebuah candaan dari nya, namun terkadang aku juga merasa seperti seroang perjaka muda yang masih sangat polos, dan entah bagaimana cara nya tiba-tiba aku sudah masuk ke dalam perangkap tante-tante ini.

Tapi kalau tante-tante nya seperti bu Pristy sih aku malah mau menyerahkan diri sih. Hahaha. Dan sangkar itu pun terbuka, menampakkan sesosok wanita dewasa yang cantik jelita.

“Oke, on time juga kamu orangnya,” komentar bu Pristy begitu membuka pintu kamarnya sambil melihat ke arah jam tangan kecil di pergelangan tangan kiri nya.

“Takut di omelin lagi sama ibu,” balas ku sekenanya.

“Kapan aku pernah ngomelin kamu?”

“Tadi, waktu saya susah dibangunin.”

“Hahaha, kamu lucu banget siii… ” ucap bu Pristy tiba-tiba sambil menarik kedua pipi ku dengan jari jemari nya yang halus. Ini adalah pertama kali nya aku dan bu Pristy melakukan kontak fisik langsung selain berjabat tangan. Dan beliau mencubit pipi ku dengan gemas.

Wajah ku langsung terasa hangat. Aliran darah seperti langsung bergerak ke muka ku semua. Dan aku langsung merinding. Sialan. Bagaimana kalau bagian tubuh ku yang lain yang dia cubit ya? Tidak kebayang bagaimana rasanya.

“Aaww… aawww sakit buuu,” protes ku.

“Hihihi, ya udah yuk jalan.”

“Eh kemana?”

“Kamu belum makan kan? Ayok aku temenin makan. Tapi tidak di hotel ini, di luar aja, aku lagi pengen nyari udara segar.”

“Lah bukannya ibu malam ini jadwalnya dinner sama bos-bos ya? kok malah mau nyari makan di luar? Trus ini kok ibu udah ganti baju sih?” tanya ku yang baru sadar kalau bu Pristy sudah berganti baju dengan pakaian yang lebih santai. Jeans ketat berwarna biru tua, tanktop abu-abu muda yang kemudian dibalut dengan cardigan berwarna abu-abu tua membalut tubuh sintal nya. Rambutnya tidak lagi di sanggul melainkan hanya diikat kebelakang layaknya anak muda umur dua puluhan awal.

Dan makeup nya itu, sudah dihapus semua. Bu Pristy sudah tidak memakai makeup sama sekali. Tapi walapun begitu wajahnya masih tetap cantik dan segar. Dandanannya kali ini yang bergaya anak muda itu membuatnya terlihat sekitar lima belas tahun lebih muda. Aduh, rontok hati abang bu, eh hati abang neng. Hadeh. Kacau.

“Nanti saja aku ceritain, ayok kita jalan. Aku ga mau terjebak di sini,” ajaknya lagi. Mau tidak mau aku hanya bisa menuruti apa kata nya dan mengekor kemana dia berjalan. Kami langsung berjalan menuju parkiran tanpa bercakap. Bahkan sedikit tergesa-gesa seperti menghindar dari kejaran seseorang. Ada apa lagi ini? Pakai bilang terjebak segala. Terjebak dari apa? Gak keponakannya, gak tantenya, sama-sama aneh nya.

[table id=AdsTbet /]

“Hahaha, jadi ceritanya bu Pristy ini lagi kabur-kaburan dari bapaknya?” ledek ku setelah mendengar ceritanya yang katanya suntuk banget di acara gala dinner di hotel tadi. Itu tidak lain dan tidak bukan karena keberadaan bapak nya sendiri di acara dinner tersebut, pak Jayadi Wiradana, pemegang saham terbesar dari korporasi yang menaungi restoran tempat ku bekerja. Dan yang juga tak lain dan tak bukan adalah kakek dari mba Gadis.

“Terus aja ketawa,” protes bu Pristy sambil menepuk pelan bahu kiri ku. Kami sekarang sedang duduk berdua di sebuah warung makan pinggir jalan, di jalanan puncak. Duduk bersebelahan dan baru saja menghabiskan makanan masing-masing, dengan di suguhi pemandangan indah berupa gemerlap lampu-lampu rumah penduduk yang bertebaran di kejauhan. Udara malam yang dingin membuat suasana semakin nyaman apalagi ditemani wanita secantik bos ku ini.

“Eh, hehehe, ma-maaf bu, hehehe.”

“Bete tau nggak… ” keluh nya lagi dengan suara manja. Aku tidak tau kenapa, tapi aku merasa ngilu mendengar suara nya yang sekarang, yang tiba-tiba berubah jadi manja dan menggemaskan. Bagaimana kalau aku mendengar desahannya ya? hahaha, bisa-bisa aku langsung orgasme dibuatnya.

“Emang kenapa sih bu?”

“Ga apa-apa… ”

“Yakiiin? Kalau mau cerita, atau ada yang mau di ungkapin, saya siap ngedengerin kok.”

“Masa? Yakin kamu mau dengerin curhatan wanita usia tiga puluhan akhir?”

“Per jam seratus ribu yah? Hehehe,” canda ku. Aku menyelonjorkan kaki ku ke bawah meja pendek di depan ku. Begitupun juga dengan bu Pristy.

“Dasar matre!” protes nya lagi sambil mendorong bahu ku ke arah samping, dan aku pura-pura terdorong.

“Becanda bu… hahaha, saya sering dengerin curhatan mama saya, beliau umurnya empat puluhan awal.”

“Iya aku tau kamu cuma bercanda… ”

Sejenak kemudian hening di antara kami. Pandangan kami sama-sama lurus ke depan. Hanya ada suara jangkrik, mobil dan motor yang lewat yang juga sudah mulai jarang, dan beberapa orang pemilik warung yang masih terjaga menjaga warungnya. Entah obrolan apa yang mereka bicarakan. Hanya samar-samar aku bisa mendengarnya. Aku lalu meminum jahe susu hangat milik ku yang ada di atas meja. Langsung terasa hangat badan ini.

“Di… ”

“Ya bu?”

“Pandangan mu terhadap seorang janda bagaimana?”

“Hah? Maksud ibu?”

“Jawab aja sih.”

“Tidak ada pandangan apa-apa bu, sama saja terhadap orang lainnya. Mama saya seorang janda, saya menghormatinya, begitu juga dengan semua janda yang ada di dunia ini. Mereka wanita, saya menghormati wanita lebih dari apa pun.”

“Maksud ku janda yang karena perceraian… ”

“Eh tunggu sebentar, ibu nanya seperti itu… ” tanya ku sambil menoleh kepadanya. Bu Pristy masih menatap lurus ke depan sebelum akhirnya juga menatap ku balik, lalu tersenyum seolah mengiyakan apa yang ada di pikiran ku.

Jadi wanita cantik di samping ku yang tak lain adalah bos ku sendiri ini adalah seorang janda. Hahaha. Aku kurang update banget ternyata selama ini. Sudah sebulan lebih kerja dan baru tahun status dari bos nya sendiri.

“Kok ga kelihatan ya?” tanya ku tiba-tiba.

“Apanya?”

“Ya ibu, ga kelihatan seperti seorang janda, eh maaf… ”

“Eemang ada bedanya ya penampilan janda sama bukan?’

“Enggak, maksud saya ****** aja gitu mantan suami ibu.”

[table id=iklanlapak /]

“Iya, masa wanita secantik ibu di cerai, hehehe.”

“Udah berani nge gombal ya kamu?” protes bu Pristy sambil mencubit pelan lengan ku.

“Hahaha, saya selalu apa ada nya bu kalau memuji orang.”

“Makasih, jadi terharu lho ya aku. Jadi, pertanyaan ku tadi gimana? Kamu pasti ilfeel ya sama aku?”

“Ya tetep sama bu, mau janda ditinggal mati, mau janda karena cerai, apapun itu, mereka tetap wanita yang harus saya hormati. Lagi pula ilfeel kenapa? Saya ilfeel kalau tau sifat jeleknya, bukan karena tau status nya janda atau bukan.”

“Kok aku ngerasa ngobrol sama kamu itu sama kaya ngobrol dengan orang yang sepantaran dengan aku ya? Bahkan lebih, aku ngerasa kamu lebih tua dari aku. Umur kamu berapa sih sekarang?”

“Sembilan belas bu.”

“Baru sembilan belas ya? Bahkan umur kamu itu baru setengah umur ku. Hahaha.”

“Tapi wajah ibu masih nampak lima belas tahun lebih muda kok, makanya kita nampak sepantaran, hehehe,” canda ku sambil melirik nya dan mengedip-ngedipkan mata ku menggoda nya. Suasana yang mulai akrab membuat ku semakin berani untuk bercanda kepada nya.

“Tuh kan, mulai berani godain bos nya. Lagian kenapa lari nya ke muka sih, kan aku tadi bilangnya obrolan, mindset, pola pikir, bukan fisik.”

“Karena muka ibu masih terlihat muda, makanya kita bisa nyambung.”

“Bukan karena muka kamu nya yang boros ya? Hahaha,” ledek bu Pristy.

“Hahaha, bisa jadi juga sih, hahaha,” balas ku pura-pura pasrah.

“Di,” panggil bu Pristy lagi. Pandangannya kembali lurus ke depan, namun sadar tidak sadar duduknya semakin merapat ke arah ku. Lengan kanan nya menempel erat pada lengan kiri ku. Sepertinya beliau mulai merasakan hawa dingin malam ini yang mulai terasa menembus baju yang kami kenakan.

“Ibu kedinginan ya? mau balik ke hotel sekarang?” tanya ku menawarkan yang kemudian langsung di balasnya dengan gelengan kepala. Okeh, masih betah di sini dia.

“Di,” panggilnya lagi.

“Iya bu… ”

“Kita sudah sama-sama dewasa kan?” tanya nya. Pertanyaan yang aneh. Aku harus pintar-pintar menjawab nya pikir ku.

“Ehm, tergantung yang menilai sih bu. Kalau saya sih menganggap ibu sudah dewasa, dewasa banget malah. Kalau ibu menganggap saya sudah dewasa juga, ya berarti kita sudah sama-sama dewasa.”

“Ah kamu itu, kalau ditanya jawabannya pasti berbelit-belit.”

“Hehehe.”

“Di, kamu beneran lagi ga ada hubungan khusus sama cewek lain kan?”

“Maksud ibu pacar?”

“Iya.”

“Ya benar, sama seperti yang pernah saya sampaikan waktu wawancara dulu itu.”

“Hahaha, kamu masih ingat ya?”

“Pastinya. Kenapa sih bu?” tanya ku karena penasaran dengan obrolannya yang aku bingung mau di bawa kemana.

“Peluk aku Di… ” pintanya tiba-tiba.

“Hah?”

“Peluk aku!!” pinta nya lagi dengan intonasi lebih tegas, tapi aku masih tidak bergeming. Rasa sungkan dan segan ku masih bisa menjaga akal sehat ku agar tidak memeluknya, meski itu permintaannya sendiri.

“Ta-tapi bu… ” balas ku masih tidak percaya.

“Ga ada yang kita sakiti hati nya kan kalau aku meminta mu memeluk ku seperti ini?” tanya bu Pristy sambil jari jemari lentik nya menggenggam dan menarik pergelangan tangan kiri ku dan melingkarkannya ke pundaknya. Tubuh bu Pristy langsung menyandar ke tubuh ku dari samping. Kaki nya yang tadi selonjor ke depan sekarang di lipatnya ke samping kiri.

“Eh, enghh… ga ada sih bu… tapi maaf saya… ” aku berusaha menarik kembali lengan kiri ku karena merasa sangat tidak enak.

Bagaimanapun juga wanita disamping ku ini adalah bos ku, seorang wanita yang umurnya lebih tua dari ku yang harus ku hormati kapan pun dan di manapun.

Meskipun ini kemauannya sendiri, tapi aku tidak mau di sangka kurang ajar kepada nya. Tapi beliau malah menahan pergelangan tangan ku dengan kuat. Bahkan beliau mulai menyandarkan kepalanya tepat di dada ku yang sebelah kiri.

“Jangan panggil aku bu malam ini, panggil aku Pristy aja,” pintanya.

“Eh tapi bu… ”

“Di… hiks… ”

“Maaf bu, eh Pri-pris… ty… ke-kenapa nangis?” tanya ku dengan panik dan gugup.

“Gapapa, cuma pengen nangis aja, hiks.”

“Bohong,” balas ku tidak percaya.

“Kadang wanita ga perlu alasan spesifik untuk menangis, tapi yang pasti mereka butuh sandaran seperti ini,” balas bu Pristy dengan semakin merapatkan sandarannya pada tubuh ku.

“Pasti ada hubungannya sama bapak ya?” tanya ku lagi yang kemudian dijawabnya dengan anggukan pelan. Bu Pristy masih nangis sesenggukan, pelan namun air matanya mengalir deras. Sebagian sudah mulai membasahi kaos yang aku kenakan.

Tubuhnya semakin merapat dan meringkuk di pelukan ku. Dasara wanita. Ditanya ada apa, bilangnya tidak ada apa-apa. Tapi ketika ditembak langsung, langsung ngangguk.

“Aku ga bermaksud cari tau atau ikut campur masalah mu ya, tapi kalau kamu mau cerita, aku siap mendengarnya. Tapi kalau kamu nya yang belum siap, ya ga apa-apa. Menangis aja terus kalau memang itu bisa membuat hati kamu jadi lebih tenang,” ucap ku berusaha menenangkannya sambil dengan hati-hati tangan kiri ku mengusap lengan kiri nya dan tangan kanan ku mengusap kepala nya dengan lembut.

[table id=Lgcash88 /]

Beliau mengangguk pelan dan semakin merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan ku. Tangisnya masih berlanjut meskipun pelan.

Dalam hati aku mulai bertanya-tanya, sebenarnya masalah apa yang dialami bu Pristy hingga dia menghindar dari bapaknya sendiri dan bahkan sampai menangis seperti ini? Apa ada hungannya dengan statusnya sekarang yang seorang janda? Apa pak Jayadi menginginkannya untuk menikah lagi? Apa dia mau di jodohkan? Atau apa?

Tapi bagaimanapun juga bu Pristy itu adalah seorang wanita, dan aku sangat memahaminya. Terkadang, sekuat apapun seorang wanita, dan sehebat apapun mereka, mereka masih tetap butuh bahu untuk bersandar, mereka masih tetap butuh tangan seorang laki-laki untuk memeluk nya, dan mereka masih tetap butuh telinga yang mau mendengar untuk segala keluh kesahnya.

“Bu, eh Pris, balik ke hotel aja yuk, udara nya udah mulai dingin nih,” ajak ku yang masih dalam posisi mendekap erat tubuh sintal nya. Bu Pristy akhir nya mengangguk.

Sebenarnya aku hanya ingin secepat mungkin mengakhiri momen melankolis ini, dan aku juga takut tidak bisa mengendalikan diri ku. Jujur pelukan ku kepadanya ini tulus, tulus ingin memberikan ketenangan untuknya. Tapi tetap saja aku ini hanya manusia biasa, laki-laki muda yang sedang beranjak dewasa, yang gelora syahwatnya sedang berapi-apinya.

Ditambah lagi dengan aroma tubuhnya yang semerbak wangi menambah gairah yang ditimbulkan, menggoda keteguhan hati ku. Apa lagi dalam posisi seperti ini aku bisa melihat belahan dada nya yang menyembul keluar karena pakaian yang dikenakannya.

Halaman Utama : Kesempurnaan

BERSAMBUNG – Kesempurnaan Part 08 | Kesempurnaan Part 08 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 07 ) | ( Part 09 ) Selanjutnya