. Kesempurnaan Part 07 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 07

0
426

Part 07 – Awal Dari Sebuah..

“Udah nyampai kamu rupanya, udah lama?” tanya bu Pristy setelah selesai mengenakan jubah kimono pada tubuhnya.

Otomatis pertunjukan indah yang tadi aku nikmati kini sudah selesai. Belum benar-benar selesai sih sebenarnya.

Yang mengikat jubah itu hanya sebuah tali kecil di bagian perut nya, itu pun tidak terlalu kencang sehingga pada bagian dada nya masih terbuka dan kadang tersingkap cukup lebar. Pun begitu dengan bagian bawahnya yang juga tidak ada ikatan apapun yang membuat jubah itu seperti memiliki belahan yang sangat tinggi, hingga ke pangkal pahanya.

Dan itu juga lebih banyak tersingkap nya dari pada menutupnya. Jadi kesimpulannya, meskipun bu Pristy menutupi tubuhnya dengan jubah putih itu, tetapi aku masih bisa melihat bagian-bagian intim nya. Belahan dadanya masih terlihat oleh ku. Pangkal pahanya yang aduhai itu juga masih bisa aku nikmati.

“Iya bu udah sampai, tapi belum lama kok, barusan aja,” balas ku dengan agak kaku karena mata ku yang seperti auto fokus ke dada dan pahanya.

“Pasti penasaran kan kenapa aku minta datang ke sini?” tanyanya dengan santai lalu setengah berbaring pada bangku tidur itu. Kedua tangannya digunakan untuk menyangga tubuhnya, praktis bukit kembar di dada nya itu nampang semakin membusung.

“Kurang lebih begitu sih bu,” balas ku masih dengan canggung.

“Duduk aja dulu,” lanjutnya mempersilahkan ku untuk duduk. Sambil rebah beliau mengambil segelas es lemon yang ada di meja di antara kami berdua dan meminum nya. Aku pun duduk.

Bu Pristy rebah sambil menekuk sebelah kaki nya sehingga jubah putih yang ia kenakan sekarang tersingkap hingga ke pangkal pahanya. Dan mata ku lagi-lagi fokus ke kulit daging yang putih nan mulus itu.

“Oiya, mau minum apah?”

“Ga usah bu, ga usah repot-repot.”

“Ga usah malu-malu…”

“Apa aja deh bu kalau begitu.”

“Dasar. Susu mau?”

“Eh?”

“Susu coklat maksudnya…kamu kira susu apa?”

“Hehehe, maaf bu. Kalau boleh, yang seger-seger kaya punya ibu itu aja…”

“Punya saya?” tanya bu Pristy sambil menunduk ke arah payudara nya sendiri. Mampus, salah ngomong aku.

“Maksud saya yang seger-seger itu kaya minuman punya ibu itu, adu maaf…”

“Oh…es lemon…yang jelas dong…baiklah…”

[table id=Ads4D /]

Bu Pristy lalu memanggil salah satu pelayannya dan meminta dibuatkan satu lagi minuman yang sama dengan miliknya. Dan aku sekali lagi tidak bisa untuk tidak menatap belahan payudara dan paha yang mulus miliknya itu. Sialan. Nyiksa ini namanya. Bisa melihat tapi tidak bisa meraba. Eh. Sadar Adi, itu bos mu sendiri ya. Jangan kurang ajar. Rejeki mu perantaranya dia.

“Jadi kenapa bu saya dipanggil kemari?”

“Menurut kamu?”

“Sebentar, saya ramal ibu memanggil saya kemari karena…”

“Hahaha, korban film kamu.”

“Hahaha.”

“Jadi?”

“Ehm… sepertinya tidak jauh-jauh dari mba Gadis ya, saya harus melakukan tugas apa lagi untuk dia?”

“Payah ah, ramalan kamu salah.”

“Salah?”

“Permisi,” suara pelayan yang baru saja tiba dan membawakan segelas es lemon untuk ku.

“Makasih bi,” balas bu Pristy dengan lembut.

“Sama-sama nyah…”

“Ayo di minum dulu Di, kamu pasti haus kan abis nganter Gadis, terus ke resto, lalu ke sini.”

“Ibu tau dari mana saya nganter mba Gadis dulu?”

“Hahaha, kan kemarin aku udah bilang, aku ini magister psikologi, aku udah tau karakter dan sifat kamu dari pertama ketemu, maksud ku waktu kamu wawancara dulu itu.”

“Terus hubungannya dengan mba Gadis?”

“Di saat situasi seperti ini, aku yakin kamu tidak akan tega membiarkan Gadis berangkat sekolah sendiri.”

“Eh, ehm…”

“Jadi gimana? Kamu masih kuat ga nampung ponakan ku itu? Hahaha,” tanya bu Pristy sambil tertawa.

Posisi tidurnya sekarang miring ke arah kanan, atau dengan kata lain ke arah ku. Posisi itu membuat jubahnya yang di bagian dada sebelah kanan tersingkap semakin lebar, yang semakin menampakkan keindahan dan kemolekan buah payudara nya yang masih sangat kencang itu. Tangan kanannya menyangga kepalannya sendiri.

Sedangkan kaki kirinya sedikit di tekuk ke depan sehingga membuat paha putih dan mulus itu sekarang juga terpampang dengan jelas di depan ku. Namun yang paling membuat ku tidak fokus adalah lekukan di pinggulnya yang sangat menggiurkan. Dari posisi ini aku bisa melihat betapa indahnya makhluk ciptaan tuhan bernama Pristy ini.

[table id=AdsKaisar /]

Damn!! Aku benar-benar tidak akan bisa fokus pada perbincangan ini kalau suguhannya paha sama dada mulus miliknya itu.

“Eh, anu, kuat ga kuat sih.”

“Hahaha, memangnya apa yang sudah di perbuat semalaman ini?”

“Banyak, Salah satu nya hampir perang sama adik saya.”

“Adik kamu? Kok bisa?”

“Iya, kaya Tom and Jerry…”

“Sama-sama cewek ya?”

“Iya..”

“Pantes, hahaha.”

“Cewek selalu begitu ya?”

“Hahaha, enggak juga sih. Mereka hanya telat aja dewasanya nya, iri-irian, ga mau ngalah. Iya kan?”

“Iya siiih.”

“Karena memang nalurinya sudah begitu.”

“Bu, jujur ya, tanpa mengurangi rasa hormat saya ke ibu, maaf baget, kira-kira kapan mba Gadis mau di jemput? Saya bukan tidak mau mengurusinya, keluarga kami juga bukannya tidak mau menanggung. Dan kami bukannya tidak tau berterima kasih, tapi…” ucapan ku berhenti karena bingung dengan kalimat apa yang pas untuk mengutarakannya.

“Aku paham, Paham banget dengan apa yang mau kamu sampaiin. Tapi sebenarnya aku justru ingin minta tolong pada mu dan pengen tau seberapa kuat Gadis pergi meninggalkan rumah ini,” balas bu Pristy sambil membenarkan posisi jubah yang ada di bagian dadanya.

Maksudnya mungkin ingin menutupi payudaranya yang sebelah kanan namun percuma karena jubah itu kemudian tersingkap lagi. Mungkin beliau sadar aku sesekali melirik ke arah payudara milik nya. Namun usahanya itu justru malah membuat ku semakin fokus pada daging kenyal milik nya itu. Mungkin setelah sadar usahanya itu sia-sia, akhirnya bu Pristy cuek saja terhadap posisinya. Dan akhirnya membiarkan ku menikmati pemandangan dari bagian tubuhnya yang indah itu.

“Masalahnya…” lagi-lagi kalimat ku terhenti karena aku semakin bingung dan semakin tidak fokus dengan pemandangan indah di depan ku yang seolah-olah sengaja di pamerkan kepada ku ini.

“Aku ijin kan kalau kamu mau keras sama dia, asal bukan kekerasan fisik ya…”

“Iya saya paham… tapi…”

“Kamu banyak tapi nya ya. Aku bisa menghargai setiap usaha dan keringat mu. Bukan berarti aku menilai segala sesuatu dengan uang ya, tapi aku percaya bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini.”

“Demi Allah bu, kalau hanya sekedar memberi nya tumpangan untuk tidur, atau memberi nya makan sehari-hari, saya masih sanggup dan tidak mengharapkan imbalan apa-apa. Masalahnya ya itu tadi, kadang saya masih sungkan dan bingung harus bagaimana bersikap ke mba Gadis nya.”

“Kalau aku maksa kasih imbalan, gimana?” tanya bu Pristy lagi dengan suara yang sangat lembut dan sedikit bergetar sambil tangan kiri nya memainkan rambut nya sendiri yang tergerai indah.

Rambut itu menutupi sebagian payudaranya yang kiri, akibatnya pandagan ku mau tidak mau ikut fokus ke bukit kembar miliknya yang satu lagi.

“Mak-maksud ibu?”

“Hihihi, lupakan. Berarti deal ya, Gadis biarin aja di rumah kamu dulu ya. Kalau dia bikin kalian kesal, bikin kesal balik. Kalau dia rese sama kalian, resein balik. Masa ga bisa sih ngelawan anak kemarin sore kaya dia? Hehehe.”

“Huh. Ya sudah lah kalau begitu, apa kata ibu saja deh. Cuma sekali lagi saya bilang ke ibu, jangan salahin saya kalau saya berlaku keras ke dia.”

“Selama bukan kekerasan fisik.”

“Iya. Terus, saya dipanggil kemari ada apa?” tanya ku lagi setelah sadar dari tadi kami berdua malah membicarakan hal lain, bukan tentang perihal pemanggilan ku kemari.

“Oiya, aku sampai lupa. Gara-gara Dadis nih, hehehe.”

“Hehehe.”

“Kamu bisa nyetir mobil?”

“Bisa.”

“Good! Hari ini aku ada meeting manajemen di puncak. Yang ikut semua karyawan yang levelnya manajer ke atas di korporasi yang menaungi restoran tempat kamu bekerja.”

“Terus?”

“Sopir ku tadi pagi mendadak ijin cuti, istrinya mau melahirkan, aku tidak bisa melarangnya dong.”

“Jadi maksud ibu, saya jadi…”

“Sopir dadakan.”

“Kalau boleh tau sampai jam berapa di puncaknya?”

“Jam?”

“Iya, jam berapa? Sampai malam kah?”

“Hahaha, kita di puncak tiga hari dua malam…”

“Buset, lama… eh maaf.”

“Kenapa? Kamu udah ga netek sama mama kamu lagi kan? Hihihi.”

“Bukan gitu, tapi nanti mama saya, adik saya, sama mba Gadis sendirian dong di rumah?”

“Lah, mereka bertiga kan?”

“Maksud saya ga ada cowok nya gitu yang jagain…”

“Oh itu, tenang aja, aku bisa suruh orang ku buat ngawasin rumah kamu, tentu nya tanpa sepengetahuan mereka.”

“Kenapa ga orang ibu itu aja yang jadi sopir dadakannya bu?”

“Banyak nanya ya kamu!” balas bu Pristy dengan tegas.

“Ma-maaf bu, maaf…”

“Udah pokoknya ga ada tawar menawar lagi. Aku mau kamu yang sopirin aku tiga hari ke depan.”

“Iya bu, iya.”

“Ya udah aku mau siap-siap dulu. Dari sini nanti kita langsung ke puncak.”

“Iya bu, eh tapi…”

“Apa lagi?” tanya bu Pristy dengan gemas.

“Baju ganti saya?”

“Gampang, nanti kita beli di jalan.”

“I-iya bu.”

Bu Pristy lalu bangkit dan meninggalkan ku. Saat bangkit dari rebahan itu tadi aku sempat mengintip, lebih tepatnya tidak sengaja terlihat oleh ku, celana dalam atau celana renang, sama saja pikir ku, yang menutupi organ paling sensitif nya itu. Terlihat sangat… tembem. Haduuuh.

Tiga hari ke depan aku akan selalu bersamanya dan kemungkinan akan sering di suguhi pemandangan seperti ini. Ya Tuhan, kuat kan iman saya.

[table id=AdsLapakPk /]

Seperti yang sudah di janjikan sebelumnya, untuk pakaian bu Pristy yang akan menanggungnya. Dan dari rumah kediamannya tadi, kami berdua langsung menuju pusat perbelanjaan terlebih dahulu.

Bu Pristy membelikan ku beberapa stel baju formal mau pun baju santai. Beliau sendiri yang memilihnya. Termasuk juga memilih pakaian dalam untuk ku. Buset. Kalau seperti ini aku merasa sudah jadi semacam piaraannya pikir ku.

Setelah selesai mencari pakaian untuk ku, kami berdua langsung melanjutkan perjalanan menuju puncak. Puncak asmara? Puncak kenikmatan? Hahaha, bukan. Puncak bogor.

Tapi karena waktu sudah siang beliau mengajak ku makan terlebih dahulu nanti sebelum tiba di hotel. Ya aku sih ikutin saja apa kata bos.

Benar-benar tiba di hotel itu sekitar pukul dua siang. Kami berdua langsung check in. Ternyata aku di pesankan satu kamar sendiri olehnya.

“Ya iyalah. Kamu pikir bu Pristy mau tidur sekamar sama elu?” Malaikat di sisi kanan ku berteriak.

“Ya siapa tau rejeki kan, emang kenapa?” Setan di sisi kiri ku menjawab. Aku hanya bisa nyengir mendengar perdebatan di antara keduanya.

Setelah selesai check in aku dan bu Pristy masuk ke kamar masing-masing. Informasi dari beliau, untuk malam ini acaranya hanya makan malam saja. Tentu nya aku tidak ikut karena dinner ini khusus bagi para manajemen dan direksi.

Jadi ini adalah free time untuk ku, kecuali bu Pristy membutuhkan ku untuk melakukan sesuatu. Untungnya bu Pristy baik banget dengan memberikan ku uang makan dan uang rokok.

Kalau tidak mah semakin tekor saja aku. Nasi goreng seafood yang di makan mba Gadis kemarin saja belum sempat minta ganti, ini sudah harus biaya sendiri lagi. Bangkrut yang ada.

Tiba di kamar, setelah cuci kaki, aku langsung merebahkan badan ku di tempat tidur yang empuk dan nyaman ini. Iseng aku membuka hp ku dan aku mendapati beberapa pesan wasap masuk. Dari mama, Rahma, dan Gadis? Hah? Mba Gadis wasap aku? ada apaan ya? Aku pun langsung membukanya.

From Mba Gadis said:
Di, entar elu jemput gue kan?

“Yaaah… dia minta jemput. Maaf ya, saya lagi jalan-jalan sama tante mu yang cantik dan seksi itu Hehehe…” Aku tertawa dalam hati.

To Mba Gadis said:
Gak bisa mba, saya lagi dines keluar kota.

From Mba Gadis said:
Serius lu? Sama nenek lampir?

To Mba Gadis said:
Iyaaa

From Mba Gadis said:
Ati-ati lo…

To Mba Gadis said:
Tenang, saya ga macem-macem kok sama bu Pristy, hehehe

From Mba Gadis said:
Emang gue peduli apa sama si monster itu? Maksud gue, lo yang ati-ati sama tante girang itu.

Buset, dia menyebut tantenya sendiri tante girang.

To Mba Gadis said:
Eh, maksudnya?

From Mba Gadis said:
Pikir aja sendiri!!

To Mba Gadis said:
Iya-iya. Oiya mba semalem saya masukin uang seratus ribu ke tas mba ya, siapa tau butuh. Nanti naik ojek online aja ke restorannya.

From Mba Gadis said:
Iya makasih.

To Mba Gadis said:
Terus kalau butuh apa-apa lagi bilang sama tante Fatma aja.

From Mba Gadis said:
Iyeee, bawel lu. Ya udah ah. Bye!!

Aku tersenyum dengan percakapan ku sendiri dan mba Gadis lewat wasap barusan. Anaknya lucu sebenarnya, sayang sifatnya minus. Aku lalu membuka pesan selanjutnya. Dari mama.

From My Mom said:
Lagi apa kak? Udah sampai lokasi?

To My Mom said:
Udah mah, sekarang sih kakak ga lagi ngapa-ngapain. Namanya juga sopir. Hehehe. Mama lagi apa? Rumah aman? Hehehe 😀

Tidak ada balasan dari mama. Mama memang jarang pegang HP. Pegang HP juga kalau ada perlu saja. Ya begitulah orang tua. Tidak seperti kita-kita yang tidak bisa lepas dari HP. Aku lalu membuka pesan terakhir, dari Rahma.

From My Rahma said:
Kaaaaak… kata mama kakak bakalan ga pulang sampai lusa ya? hiks… ☹

To My Rahma said:
Hehehe, iya. Kenapa?

Tidak sampai semenit langsung ada balasan dari Rahma.

From My Rahma said:
Kok dadakan?

To My Rahma said:
Gak tau, bos nya kakak yang nyuruh…

From My Rahma said:
Hiks… Rahma takut…

To My Rahma said:
Sama?

From My Rahma said:
Sama si ITU lah…

To My Rahma said:
Oh, hahaha. Ga usah takut. Sebenarnya dia orangnya baik kok.

From My Rahma said:
Tetep aja. Baik-baik tapi nyari gara-gara mulu.

To My Rahma said:
Bukannya kamu ya yang pertama kali nyari gara-gara? Eh, bukannya kamu masih marah sama kakak? Kok wasap sih? hahahah

From My Rahma said:
Bodo… Kakak nyebelin!!! Huh!! Ya udah deh. Kakak pulang cepet yaah. Rahma kangen ☹

To My Rahma said:
Hahaha, iya sayang… tunggu kakak ya. kakak sayang Rahma :*

From My Rahma said:
Sayang kakak juga :*

Kasian si Rahma, di saat galau seperti ini malah harus aku tinggal. Tapi biarlah, biar dia mandiri. Ga semua hal harus di lakukan dengan ku. Dia juga harus mulai mandiri. Ini juga baik untuknya. Untuk mba Gadis juga, mudah-mudahan. Dan baik untuk mama juga, suasana yang baru di rumah. Semakin ramai. Ramai pertengkaran antara Gadis dan Rahma. Hehehe. Tidak ada salahnya. Sekarang tidur dulu sebentar bisa kali ya. Mumpung bu Pristy ngasih free time.

“Hoaaahm…”

Halaman Utama : Kesempurnaan

BERSAMBUNG – Kesempurnaan Part 07 | Kesempurnaan Part 07 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 06 ) | ( Part 08 ) Selanjutnya

Cerita Terpopuler