. Kesempurnaan Part 06 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 06

0
402

Part 06 – Oh Tuhan

Pagi ini kami sarapan berempat. Aku, mama, Rahma, dan…Gadis Anastasia Wiradana. Aku sendiri juga masih belum percaya bagaimana pagi ini dia akan sarapan Bersama dengan kami. Dengan penuh ketegangan juga.

Kami duduk Bersama di meja makan di ruang makan yang menjadi satu dengan ruang keluarga rumah ku. Aku dan mama saling berseberangan duduknya. Sedangkan Rahma duduknya berseberangan dengan mba Gadis. Aku tidak bisa membayangkan bila mereka duduknya bersebelahan atau bila disandingkan. Mungkin mereka berdua akan langsung cakar-cakaran, jambak-jambakan, dan entah kekacauan apalagi yang bisa dilakukan oleh dua remaja gadis yang saling berebut perhatian.

Masih ingat dengan jelas dalam ingatan ku bagaimana kacaunya rumah ku ini semalam. Bagaimana aku harus merayu Rahma agar mau menerima kehadiran Gadis. Bagaimana aku harus meyakinkan mba Gadis agar dia mau tinggal di sini. Aku sampai harus memijit kepala ku sendiri saking peningnya setelah mendapatkan solusi untuk bersama. Untung ada mama yang sangat-sangat mengerti situasi dan kondisi dari mba Gadis. Selain itu mama juga menenangkan ku. Beliau malah senyum-senyum sendiri ketika melihat kekacauan ku. Mama memang paling the best lah.

[table id=Ads4D /]

“Pokoknya Rahma ga mau kalau harus berbagi sama cewek ga jelas ini, enak aja,” omel Rahma sesaat setelah aku menceritakan duduk perkara mba Gadis kepada Rahma dan mama.

“Rahma, kamu ga boleh gitu sayang. Kamu ga kasian apa sama mba Gadis?” tegur mama pada anaknya yang rempong itu.

“Ayolah dek, ini tuh cuma ada temen kakak yang mau numpang nginep aja malem ini, jangan berlebihan gitu lah…” aku ikut memohon kepada Rahma.

“Ma, Kak, dia itu bisa ada di sini pasti ada sebabnya. Dan itu pasti sesuatu yang salah. Mana tau dia akan berbuat apa nanti sama keluarga kita.”

“Astagaaa, ga segitunya juga kali dek,” aku dan Rahma semakin berdebat.

“Jaga-jaga, antisipasi ga ada salahnya kan?” tanyanya lagi. Iya ga salah. Tapi ga harus menolak dan ngomong di depan orangnya.

“Apa sih yang bisa dilakuin anak manis kaya mba Gadis ini sih sayang?” balas mama.

“Manis apanya? Luarnya manis, dalamnya ga tau.”

“Ya tapi, masa kamu tega sama mba Gadis? Kalau kamu yang ada di posisi mba Gadis gimana?” lanjut mama.

“Senakal-nakalnya Rahma, Rahma ga akan bikin kesalahan yang bikin Rahma di hukum kaya gitu. Apalagi kabur dari rumah.”

“Saya mungkin ga diterima di sini, saya pergi aja kalau begitu,” ucap mba Gadis tiba-tiba.

“Enggak! Mba Gadis tetep tidur di sini malam ini,” ucap mama tegas. Mama pasti memposisikan dirinya sebagai seorang ibu, dan tahu betul posisi mba Gadis kaya gimana. Tidak perduli kesalahan apa yang di buat mba Gadis, beliau hanya mau berbuat baik. Sebesar apapun kesalahan yang dibuat mba Gadis, beliau tidak mau anak gadis ini tidak punya tempat untuk tidur malam ini. Dan kalau sudah bilang begitu berarti Rahma ga bisa apa-apa, paling ngambeknya yang akan berkepanjangan.

“Kalau kamu ga mau tidur bareng mba Gadis, ya udah mba Gadis aja yang tidur sama mama,” lanjut mama.

“ENGGAK BOLEEEH!! Nanti mama diapa-apain lagi…”

“Astagfirullah…” mama istigfar. “Mba Gadis maaf ya, Rahma ga bermaksud begitu kok.”

“Iya tante…Gadis ngerti kok. Tapi kalau emang beneran ga boleh, ga apa-apa kok, Gadis pergi aja,” balas mba Gadis dengan sangat-sangat memelas. Anjir. Ini drama banget. Serius apa enggak ini ya?

“Ya udah kamu tidur sama mama aja kalau begitu, mba Gadis tidur di kamar kamu,” ucap ku mencoba memberi jalan keluar.

“Ga Boleeeh!! Nanti barang-barang aku di ambilin lagi,” balasnya.

“Rahma! Mama ga pernah ngajarin kamu buat berburuk sangka kaya gitu yaaa,” tegur mama lagi. Sekarang suasananya udah jadi tegang banget. Jujur aku tidak enak banget sama mba Gadis. Aku yang menawarkan dia untuk tinggal di rumah tapi malah jadi seperti ini kejadiannya. Dan sebenarnya yang aku takutin adalah mama, tapi malah si bocah rese ini yang ga bisa di ajak kompromi. Kaya nya harus di kerasin ni anak.

“Ya udah. Kamu tidur di kamar kamu. Mama tidur di kamar mama. Mba Gadis tidur di kamar kakak. Dan kakak tidur di luar. Kalau kamu ga suka, marah aja sama kakak. Ini bukan waktunya untuk egois. Kamu sudah tujuh belas tahun, dan seharusnya kamu udah bisa mikir buat orang lain. Jangan jadi kaya anak kecil terus!”

“Hiks…”

“Nangislah terus!”

“Huaaa…mama…kakak galak…” tangisnya meledak dan menghambur ke mama.

“Teruslah! Udah gede juga, ga bisa dibilangin!”

“Huaaa…” Rahma semakin kencang tangisnya dan sekaligus semakin kencang juga memeluk tubuh mamanya. Mama sendiri juga hanya diam melihat kemarahan ku. Memang baru kali ini aku memarahi adik ku sendiri. Dan itu di depan mama. Untungnya mama selalu mengerti sikap ku. Dan dia mengerti mengapa aku sampai membentak Rahma. Mama kemudian memberikan ku isyarat agar segera mengajak mba Gadis ke kamar ku.

Ya, akhirnya mba Gadis tidur di kamar juga akhirnya. Dari pada Rahma ngamuk, mungkin ini adalah solusi terbaiknya. Aku mengajak mba Gadis ke kamar ku. Tentu saja tidak langsung masuk. Kamar ku terlalu berantakan. Aku suruh dia untuk menunggu sebentar. Aku ingin merapihkannya sedikit. Sekaligus memastikan tidak ada “barang berharga” ku yang tertinggal di kamar.

[table id=AdsKaisar /]

“Ayo sayang dimakan sarapannya, ga boleh sungkan yah. Ini tadi yang bikin Adi lho, enak tau nasi goreng buatannya, tante aja kalah kalau masak nasi goreng, hihihi,” pinta mama ke mba Gadis. Ya elah, pake di bilang aku yang masak lagi.

“Oh ya? Cobain yah tan…” balas mba Gadis. Dan entah mengapa pagi ini aku merasa anak ini berubah seratus delapan puluh derajat sifatnya dari yang aku kenal selama ini. Kemarin Ratna yang berubah dari tomboy menjadi sedikit lebih feminine dan kalem ketika ketemu mama. Dan sekarang giliran mba Gadis yang tiba-tiba berubah dari galak dan judes menjadi anak yang manis. Ini pada kenapa sih? Faktor pembawaannya mama kali ya yang selalu merangkul anak-anak muda seperti kami sehingga merasa nyaman dengan beliau, yang secara tidak sadar merubah sikap kami sendiri.

Tapi kenapa untuk si anak yang duduk di sebelah kanan depan ku ini tidak berubah berubah ya manjanya? Iya, yang aku maksud adalah Rahma. Aku tidak tau dulu mama ngidam apa saat hamil dia, tapi yang pasti sifat kami beda banget. Karena kau cowok dan dia cewek. Mungkin. Karena aku sulung dan dia bungsu. Bisa jadi juga. Entahlah. Yang pasti adik ku itu dari pagi tadi hingga sekarang manyunnya udah kaya apa tau.

“Eh iya, beneran enak tan. Lebih enak dari nasgor yang aku makan sama mas Adi semalam, ini sih udah kaya masakan restoran,” ucap mba Gadis lagi sambil tersenyum manis dan memuji masakan ku. Wajahnya berbinar-binar. Ini bukan mba Gadis yang aku kenal seminggu ini. Pagi ini dia sudah mengenakan seragam sekolah. Ternyata yang ada di tas nya semalam yang berat itu adalah baju ganti nya. Berarti dia memang sudah merencanakan untuk tidak pulang dari kemarin pagi. Apa bu Pristy juga tau? Tapi tidak mungkin. Karena semalam itu bu Pristy sebenarnya menanyakan kabar mba Gadis, apa dia bersama ku? Apa dia baik-baik saja? tapi aku dilarang untuk memberitahukan hal itu ke mba Gadis.

Feeling ku mengatakan kemarin malam pasti ada sesuatu yang terjadi, entah itu pertengkaran atau apa, yang membuat mba Gadis marah mungkin, terus bu Pristy mencium adanya kemungkinan mba Gadis tidak akan pulang. Terus aku yang di umpan kan agar kalaupun mba Gadis tidak pulang, paling tidak dia bersama ku. Ternyata begitu ya.

Itu tadi yang pertama. Yang kedua, pagi ini dia nampak sangat ceria, khusus nya saat sarapan ini. Entah setan apa yang menyambetnya hingga dia bisa berubah sedemikian rupa. Atau apakah dia ada tujuan terselubung di balik itu, aku tidak tau. Dia mengenakan bando warna biru muda seperti warna tas nya. Seperti nya dia sangat suka dengan warna biru muda. Segala pernak-perniknya berwarna biru muda.

Yang ke tiga, dia memanggil ku dengan panggilan ‘Mas’. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Aneh. Benar-benar aneh. Dia itu seperti sedang ingin menunjukkan kepada Rahma bahwa “ini loh gue, gue deket juga lho sama kakak elo. Dan kakak lo lebih perhatian sama gue, lebih ngebelain gue dari pada elu”. Kalau benar seperti itu berarti perang dingin ini masih akan berlanjut. Dan mungkin akan semakin berkepanjangan karena pagi ini aku harus mengantar mba Gadis ke sekolahnya.

“Makanya, dari pada jadi pelayannya, dia itu sebenarnya lebih cocok jadi koki nya,” puji mama lagi.

“Ga segitunya juga kali mah, kalau koki mah udah jelas professional, kalau kakak kan belajarnya otodidak.”

“Yang belajar sendiri aja enak banget, apalagi kalau di latih. Ini sih tinggal dipoles dikit juga jadi. Nanti deh coba aku bilang ke papah buat mindahin mas Adi biar jadi koki aja, siapa tahu jadi bisa lebih berkembang. Eh tapi itu nanti kalau papa udah balik dari USA,’ ucap mba Gadis dengan semangat.

“Sombooong!!” timpal Rahma pelan namun kami semua bisa mendengarnya.

“Rahma…” tegur mama namun Rahma nya nampak cuek dan tidak perduli.

“Kalau sekarang kan udah pada tau sendiri situasi yang menimpa aku kaya gimana, terpenjara oleh nenek lampir yang kejam, hiks…” lanjut mba Gadis tanpa menimpali omongan Rahma. Buset. Cari simpatik banget. Fix ini sih pura-pura banget. Dah gitu jelas banget nyari gara-gara nya sama Rahma. Tapi aku juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mba Gadis. Sikapnya yang melawan dan menyerang balik pasti juga karena respon yang dia terima dari Rahma semalam. Rahma tidak welcome, padahal tidak ada rugi nya juga buat dia jika menerima mba Gadis dengan baik. Intinya mereka berdua salah. Lalu aku harus membela siapa?

“Moga aja balik cepet biar punya anak ga ngerepotin orang,” timpal Rahma lagi dengan tatapan tajam dan muka super jutek ke arah mba Gadis.

“Rahma…” lagi-lagi mama hanya bisa menegur. Beliau tidak mungkin bisa marah karena itu bukan pilihan tepat mengingat kegalauan yang dirasakan Rahma sekarang.

“Udah-udah. Masalah itu nanti aja dibahasnya. Yang penting sekarang cepet selesain makan nya. Nanti mba Gadis ke sekolahnya bareng saya aja, sekalian ke restoran.”

“Loh, kamu masuk pagi kak?” tanya mama.

“Iya, disuruh masuk, ni barusan di WA, katanya ada yang penting.”

“Terus Rahma gimana?”

“Terserah dia. Orang dikasih tau juga ga dengerin kok. Diajarin baik juga ngeyel,” ucap ku santai. “Ya udah adi mau siap-siap dulu, mba Gadis kalau sudah selesai tunggu depan aja ya,” lanjut ku.

“Iyah maass…makasih yaah,” balasnya dengan senyum manisnya. Senyum palsu pikir ku. Ah sudahlah. Aku lalu bergegas ke kamar untuk siap-siap. Tapi aku menaruh piring kotor ku terlebih dahulu ke dapur dan ternayat mema mengikuti ku.

“Kak, kak, mama mau ngomong bentar,” ucap mama sambil berbisik.

“Kenapa mah?”

“Kamu tadi ga serius kan marahin Rahma kaya gitu?”

“Oh tadi, ya ga lah. Adi cuma pengen Rahma bisa belajar sedikit mengerti kalau tidak semua hal harus ngikutin apa maunya. Biar belajar jadi lebih dewasa.”

“Oh, kirain.”

“Tenang aja mah ga usah kuatir, sayang Adi ke Rahma masih sama kok, ga berkurang sedikit pun.”

“Ya mama percaya, tapi nanti kalau maslaah udah aga tenangan kamu harus cerita soal Gadis yah,” pinta mama dengan sorot mata yang…ada sedikit kecurigaan tapi berbeda.

“Apa yang mau diceritain lagi? Kan udah semuanya semalam. Dia kabur dari rumah, dan Adi berada di waktu dan tempat yang ga pas.”

“Masa siii? Cuma itu aja? Ga ada yang lain?”

“Diiihh…sekarang bukan waktu nya buat ngeledik kakak mah.”

“Tuh muka kamu langsung merah kak, hihihi.”

“Udah ah, kakak mau siap-siap. Nanti mama anter Rahma nya naik taksi online aja, biar dia sedikit tenangan. Pokoknya Rahma jadi urusan mama, biar mba Gadis kakak yang urus.”

“Iya-iya. Ati-ati yang sama anak gadis orang, jangan sampai kenapa-napa. Dijagain yang bener, jangan macem-macem.”

“Siap komandan…”

“Hihihi…ya udah siap-siap sana, sini piring nya mama aja yang cuci.”

Akupun langsung menyerahkan piring kotor ku pada mama. Dan bersiap-siap.

[table id=AdsLapakPk /]

Setengah tujuh pas aku dan mba Gadis siap berangkat menuju sekolahnya. Dan memang benar, sekolahnya memang sekolah elite. Iyalah pastinya. Keluarga sekaya keluarganya mana mungkin menyekolahkan anaknya di sekolah biasa. Mama dan Rahma sudah berangkat duluan ternyata. Jadi tinggal kami berdua di rumah ini. Untung kami sudah sama-sama di teras rumah, jadi ya tidak canggung-canggung amat jadinya.

“Tadi tante bilang sesuatu sama gue,” ucapnya dengan angkuh saat aku sedang memakai sepatu.

“Apaan?”

“Katanya kalau mau, gue boleh tinggal di sini sesuka gue, selama gue mau, selama gue betah,” lanjutnya. Si mama gimana sih? Ga mikirin Rahma apa ya? Nolong orang sih boleh, tapi ga sampai segitunya juga. Padahal aku maunya tidak sesuka hati mba Gadis juga. Cuma beberapa hari saja sampai permasalahannya terselesaikan dan ada jalan keluar.

“Kok mukanya datar gitu? Ga suka?”

“Suka kok suka…” jawab ku berbohong.

“Bagus deh. Sory yah sebelumnya, kayanya gue bakalan lama di rumah lo ini, gue betah. Hahaha. Nyokap lo orangnya asik banget, dan ade lo yang manja itu, kayanya bakalan lucu kalau gue jadiin bahan iseng, hahaha.”

Gila. Ini anak hati nya terbuat dari apa ya? Masa niat jelek di sampaiin ke musuh nya. Dia pikir kita-kita ini apa ya? Dan sandiwara nya itu lho, dari semalem sampai pagi ini, ga ada cacat nya. Sabar Adi, sabar. Aku cuma bisa menyabarkan diri ku sendiri dalam hati. Sambil mencari cara supaya gimana caranya bu Pristy segera menjemput monster mini ini. Kalau tidak bukan Rahma saja yang bakalan marah-marah terus, aku lama-lama juga bisa darah tinggi menghadapinya.

“Iya, gimana maunya mba Gadis aja, yang penting mba Gadis seneng,” balas ku berbohong. Dalam hati aku berfikir gimana caranya bisa sesegera mungkin menendang bocah tengik ini dengan halus.

[table id=AdsTbet /]

Kenapa aku malah nyasar ke rumah ini lagi ya pikir ku dalam hati. Baru semalem aku datang ke sini dan pagi ini balik lagi. Tidak nyasar sih sebenarnya, tapi sengaja di sasarin sama bu Pristy. Pertama bilang disuruh datang pagi ke kanotr alias restoran, eh pas tiba di restoran tiba-tiba di suruh langsung kerumah nya.

“Ada yang bisa di bantu mas?” baru saja aku mau menekan tombol bel tapi seorang satpam sudah menyapa ku karena mungkin melihat ku beridir mematung di depan pagar rumah tuan nya.

“Eh, iya pak, mau ketemu sama bu Pristy, ini saya disuruh datang kemari katanya pagi ini, ini wasap nya pak kalau mau liat,” tawar ku takut pak satpam ini tidak percaya. Tampang nya yang sangar dengan warna kulit yang gelap membuat ku takut duluan.

“Hahaha, ga perlu mas, tadi ibu udah pesan kalau ada yang nyariin langsung suruh masuk saja. Beliu lagi di kolam renang, mas nya langsung masuk saja kolamnya ada di sebelah kanan ya,” pesan bapak ini dengan ramah namun tegas.

“Oh begitu, baiklah kalau begitu pak, makasih sebelumnya,” balas ku.

Aku pun langsung masuk saja ke dalam rumah sesuai dengan instruksinya. Dalam jalan aku kembali bertanya-tanya, ada apa aku disuruh kemari ya? Dan kalaupun ada sesuatu hal penting tentang restoran, kenapa ketemu nya di rumah? Dan kenapa harus di kolam renang? Belum dapat cara bagaimana memulangkan mba Gadis sesegera mungkin, ini tante nya malah ada-ada saja minta aku datang ke rumahnya. Eh ini rumah nya bu Pristy atau rumah nya mba Gadis ya? Ga tau. Ga mau tau juga. bukan urusan ku.

Aku sudah berada di dalam rumah, tepatnya di ruang tamu yang sangat besar dan mewah. Luas ruang tamu ini bahkan lebih besar dari total luas rumah ku. Ini sih istana pikir ku. Bodoh sekali mba Gadis kabur dari rumah besar dan mewah ini. Dan malah betah tinggal di sana, dan bilang kalau akan tinggal lama di rumah ku yang sederhana itu. Entahlah.

Aku lalau berjalan ke arah kanan sesuai dengan arahan dari pak satpam. Dari sini aku memang bisa melihat sebuah kolam renang yang cukup besar karena pemisah dari ruangan ini dengan kolam itu hanya lah sebuah dinding kaca. Dari sini aku bisa melihat kecipak air akibat seseorang sedang berenang di dalamnya. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, tapi feeling ku mengatakan yang berenang itu adalah bu Pristy.

Aku berjalan ke depan hingga tepat berada di depan pintu yang juga terbuat dari kaca dan aku berdiri di sana. Seperti nya bu Pristy sudah menyadari keberadaan ku. Beliau lalu merapat ke pinggiran kolam, naik, dan menyudahi acara berenangnya. Saat itu lah aku dibuat terpana dengan pemandangan yang aku lihat. Bu Pristy nampak cuek dengan keberadaan ku saat berjalan menuju bangku tidur yang biasa digunakan untuk berjemur meskipun dia hanya mengenakan sepasang baju renang yang sangat mini dan seksi. Pantatnya yang bulat tercetak dengan jelas. Payudaranya yang sekal juga tampak menantang dengan belahan yang sangat menggiurkan. Perutnya rata, menampilkan pusarnya yang terekspos dengan jelas. Pingganya yang ramping, membuat lekukan di tubuhnya nampak semakin indah. Oh Tuhan.

Halaman Utama : Kesempurnaan

BERSAMBUNG – Kesempurnaan Part 06 | Kesempurnaan Part 06 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 05 ) | ( Part 07 ) Selanjutnya

Cerita Terpopuler