. Kesempurnaan Part 05 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 05

0
374

Part 05 – Aku Harus Bagaimana

“Gue ga mau pulang!” ucapnya dengan enteng. Padahal kami berdua baru saja sampai di depan rumah nya yang super besar ini.

“Hah?” tanya ku dengan bingung. Tadi mohon-mohon minta diantar pulang. Sekarang udah sampai di rumah nya malah dengan entengnya bilang ga mu pulang. Pengen bangen aku teriak tepat di telinganya, gila lu ya!! Saking kesalnya.

“Pokoknya ga mau pulang! Ga mau tinggal sama nenek lampir itu!”

“Bu Pristy?”

“Menurut lo?” tanyanya balik sambil melotot. Posisi kami masih sama-sama duduk di atas motor ku dengan aku di depan dan badan ku sedikit miring ke samping. Sedangkan dia di belakang ku.

“Mba Gadis muka nya pucet banget?” ucap ku spontan saat aku melihat wajahnya yang memang terlihat pucat. Reflek aku memegang keningnya. Dia sedikit menghindar namun aku sudah bisa merasakan suhu tubuhnya yang memang sedikit panas.

“Mba Gadis sakit?” tanya ku mulai kuatir. Iya, kalau dia kenapa-napa aku yang akan kena. Namun dia menggeleng sambil wajahnya seperti menahan sesuatu. Tidak sengaja aku melihat dia memegangi bagian perutnya.

“Kenapa perutnya?” tanya ku lagi.

“Eng-enggak…”

“Mba Gadis belum makan ya?”

“Engg…”

Ternyata badannya hangat karena belum makan. Bisa jadi masuk angin.

“Sejak kapan?” tanya ku lagi. Dan dia masih terus menggelengkan kepalanya.

“Ya udah kalau begitu sekarang turun yah. Saya panggilin yang di dalem dulu supaya bukain gerbangnya. Abis itu mba Gadis makan yah?”

“GA MAAAUUU!!” teriak nya. “Ga mau puuulaaang…hiks…” lanjutnya sambil menangis. Haduh…

“Lah terus gimana?”

“Ga tau. Pokoknya ga mau pulang! Lo panggil orang rumah, gue teriak!”

Sejenak aku berfikir. Dan bertanya-tanya juga. Kenapa malah jadi runyam begini. Oke bu Pristy meminta ku mengantarnya pulang, dan aku sudah melakukannya. Dan sekarang si anak manja ini malah bilang tidak mau pulang. Terus harus aku bawa pergi gitu? Aku bawa kabur anak orang dong? Walah, pelanggaran ini mah.

“Oke-oke, hmm…ya udah kita makan dulu aja ya,” ajak ku padanya. Aku berharap setelah makan nanti pikirannya kembali tenang, bisa berfikir lebih logis dan mau pulang ke rumahnya. Aku harap begitu.

“Tapi…”

“Oh iya, jam segini udah ga ada restoran yang buka sih mba. Paling fast food, tapi aku ga doyan fast food. Ya paling makanan pinggir jalan, nasi goreng atau pecel lele yang biasanya masih buka sampai jam segini.”

“Bukan itu, gue…”

“Terus? Ga mau ya makan makanan orang miskin?” tanya ku sambil tersenyum kecut. Benar juga sih, anak seperti dia mana mau makan makanan pinggir jalan yang kebersihannya tidak terjaga.

“Bukan…gue…gue…ga punya duit sama sekali…”

Bola mata ku hampir lompat keluar begitu mendengar pernyataannya tadi. Ga salah denger? Dia ga punya uang? Jadi maksudnya selain harus bekerja di restoran milik keluarga nya sendiri, fasilitas yang sebelumnya dia dapat juga di stop? Termasuk uang jajan? Kok ngenes ya? Nyesek sendiri rasanya. Dan kemudian timbul rasa iba. Ya Allah, mau makan aja ga ada uang masa. Sesusah-susahnya keluarga ku, rasa-rasanya ga pernah yang namanya mau makan aja ga ada uang. Alhamdulillah selalu ada meskipun seadanya.

“Oke-oke. Kelaperan, ga punya duit, ga bisa makan, tapi ga mau pulang, cakep,” ucap ku pelan sambil mengambil posisi sempurna dan menyalakan kembali motor ku.

“Mau kemana?” tanyanya bingung.

“Ya cari makan lah,” balas ku dengan ketus. Entah kenapa aku malah jadi ketus kepadanya. Mungkin karena manja dan judesnya, aku jadi terbawa-bawa. Padahal dalam hati aku sangat-sangat kasihan kepada nya.

“Nanti gue ganti uangnya kalau gue udah punya uang.”

“Ga perlu, ga semua hal bisa di balas dengan uang.”

“Ya udah terserah lo aja deh. Yang penting gue ga mau pulang ke rumah ini lagi!”

“Iya-iya…” jawab ku sambil menahan sabar, dan juga iba. Udah ditolong tapi masih nyolot. Orang kaya.

Dan akhirnya kami berdua pun putar arah. Berbalik untuk tujuan yang lain. Mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengganjal perut kami. Aku juga sudah mulai lapar lagi. Sekarang sudah hampir jam sebelas malam. Aku tadi makan setelah maghrib. Ibarat tadi itu adalah sarapan, sekarang seharusnya memang sudah waktu nya makan siang.

Aku dan mba Gadis sudah keluar dari perumahan elit ini. Ku pacu dengan kecepatan sedang motor ku. Udara malam yang dingin, apalagi tadi sempat turun hujan, membuat bagian depan tubuh ku serasa di tusuk-tusuk dengan jarum es rasanya.

Setelah berkendara sekitar sepuluh menit, aku melihat sebuah warung tenda yang menjajakan nasi goreng. Aku pun menghentikan motor ku dan memarkirkannya di depan warung tenda tersebut. Aku suruh mba Gadis turun dan aku baru sadar kalau dia membawa sebuah tas ransel warna biru muda. Dari bentuk nya sepertinya tas itu terisi penuh dengan muatan. Jangan-jangan…

“Makan di sini?” tanya nya penuh keraguan. Entah, ragu antara tidak sreg dengan tempatnya atau ragu karena tidak punya uang.

“Iya mba, ga apa-apa kan?” tanya ku dengan sopan.

“Ya udah terpaksa juga kan, mau gimana lagi? Bawain dong tas gue, berat tau!” jawabnya dengan enteng. Woi!! Ga ada yang maksa elu ya!! Elu yang maksa gue ga mau pulang. Teriak ku dalam hati. Dan ini, tas ini berat banget, isi nya apa coba? Dia sekolah atau ngapain sih?

Aku dan mba Gadis pun masuk kedalam warung tenda tersebut. Meskipun masih nampak pucat tapi sekarang aku bisa melihat sedikit senyum yang terpancar dari wajahnya. Di dalam warung tenda ini, selain meja yang menempel pada gerobak nya, ada satu lagi meja yang terpisah, yang di dua sisi berlawanannya tertata masing-masing dua bangku plastik. Aku memutuskan untuk duduk di bangku yang ada di meja itu.

“Mba mau nasi goreng apa?” tanya ku menawarkan.

“Emang adanya apa aja?” tanya nya balik dengan polos.

“Macem-macem, nasi goreng biasa, ada pake baso, sosis, ati ampela, seafood, pete juga ada.”

“Idiih, apaan? Pete? Enggak! Lo aja yang pake pete. Gue ga mau!”

“Kalau ga mau ya udah, biasa aja ga usah nge gas…” gerutu ku pelan. Kalau memang ga mau ya tinggal bilang aja enggak. Ini anak di rumah nya biasa dikasih minum aftur kali ya?

“Apa lo bilang?” tanya nya

“Enggak, mba Gadis cantik banget malem ini.”

“Eh, enggh…jangan kurang ajar ya!”

“Siapa yang kurang ajar sih? Saya kan hanya memuji.”

“Pujian lo ga tulus!”

“Astaga…ya udah deh, sekarang mba Gadis mau makan nasi goreng apa? Abis itu saya anterin mau kemana.”

“Nasi goreng sea food aja,” jawabnya santai dengan sambil memainkan ujung rambutnya yang panjang dan berombak di bagian ujungnya itu. Pinter. Ga punya duit tapi mesen menu nya yang paling mahal. Tekor bandar. Aku harus minta ganti ini sih sama bu Pristy kalau begini caranya. Aku lalu memesan dua porsi nasi goreng beserta dua teh manis hangat. Untung pas abis gajian.

Tidak sampai lima belas menit pesanan kami berdua pun datang. Tanpa basa-basi mba Gadis langsung memakannya. Terlihat sangat lahap. Sejenak aku memandanginya yang sedang makan.

“Kenapa?” tanya nya bingung karena aku pandangi. Sedikit salah tingkah tapi kemudian melanjutkan makannya. Mungkin rasa malu nya tidak bisa mengalahkan rasa laparnya.

“Enggak. Pelan-pelan aja makan nya, ga ada yang nguber kok,” saran ku sok bijak.

“Bodo. Orang lagi laper juga. Bawel banget!” protes nya. Elu yang bawel, balas ku dalam hati.

“Lagian ini nasi goreng enak banget…sumpah…salah satu nasi goreng terenak yang pernah gue makan,” lanjutnya dengan penuh semangat.

“Itu karena mba Gadis laper.”

“Masa?”

“Lauk yang paling enak itu kan rasa lapar, kata orang sih gitu.”

“Apa kata lo aja deh, yang penting sekarang gue mau makan.”

“Tadi siang ga makan ya?” tanya ku lagi dengan sabar dan dia hanya menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Ga punya duit kan? Kalau gue punya duit juga gue ga mau makan di sini.”

“Di hukum buat kerja masih oke lah, latihan buat mba Gadis supaya bisa mandiri juga. Fasilitas di batasi biar bisa lebih sederhana juga bagus. Tapi masa ga dikasih uang sih?” tanya ku mencoba bijak.

“Sekarang lo liat sendiri kan kaya gimana kejam nya itu nenek lampir?”

“Hus! Itu tantenya sendiri ya, masa di bilang nenek lampir?”

“Bodo Amaaat!!”

Aku lalu menghela nafas sebentar. Melihat gadis manis yang sedang kelaparan dan makan dengan lahap nya ini.

“Terus, tadi sore di restoran, ga makan juga?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Ga nafsu. Udah deh ga usah ngebahas si nenek lampir sama restoran itu lagi. Kalau ga gue kabur nih,” ancamnya dengan lucu. Logikanya kalau mau kabur sih ya kabur aja, bukan urusan ku. Tapi kalau beneran kabur, aku yang bakal kena masalah. Jadi ya mau ga mau aku harus baik-baikin dia dulu.

“Iya-iya, maaf mba. Ya udah di lanjut dulu makannya, saya ga ganggu.”

Setelah aku bilang begitu dia langsung melanjutkan makannya. Luar biasa ini anak pikir ku. Tidak ada rasa tidak enaknya sama sekali. Baginya, semua yang dia lakukan, yang dia ucapkan, itu benar. tidak ada kompromi. Tidak ada toleransi bagi yang lain. Kok bisa ya ada watak seperti ini? Aku bingung sama keluarga yang mendidik nya dulu. Tapi ya sudah lah. Mungkin memang sudah nasib ku malam ini terjebak dengan wanita aneh yang satu ini. Kalau ada satu hal yang aku pengen banget terjadi sekarang adalah Ratna datang, menghampiri ku dan membawa ku kabur dari cengkeraman Gadis ajaib yang sangat aneh ini.

“Oiya, mba Gadis belum kasih tau lho kemana saya harus anter,” ucap ku pelan di saat makanan kami hampir habis. Ya meskipun gemas, sebisa mungkin aku tetap menjaga rasa hormat ku kepadanya.

“Tinggal bilang aja ya kalau mau ke rumah sodara atau sahabatnya. Tapi kalau berubah pikiran dan mau pulang ke rumah ya lebih baik,” lanjut ku. Tapi itu malah membuatnya menghentikan makannya. Padahal tinggal satu suapan lagi. Ditaruhnya sendok dan garpunya. Bibirnya sedikit manyun.

“Mba?” tanya ku lagi.

“Lo kalau mau nurunin gue di jalan juga ga apa-apa deh, gue pasrah.”

“Loh? Kenapa begitu? Kan tadi udah saya bilang kalau saya mau anterin kemanapun mba Gadis mau. Asal tujuannya jelas.”

“Kalau gue ga punya tujuan gimana? Lo mau anter gue kemana?” tanya nya dengan agak keras tapi terdengar sedih. Aku sendiri sedikit bergetar mendengar nya. Salah satu hal yang paling menyedihkan dalam hidup adalah ketika kita tidak punya tujuan untuk pulang.

“Ya terus gimana? Ga mungkin juga saya tinggalin mba Gadis di jalan.”

“Ya lo pikirin lah. Lo kan cowok.” Lah kok gue lagi?

“Kalau saya punya duit pasti sudah saya cariin kontrakan.”

“Makasih buat niat baiknya, tapi sayangnya itu ga merubah apa-apa untuk saat ini.”

“Maaf…”

“Udah gue bilang kan kalau wanita judes itu nenek lampir. Semua ini ga akan menimpa gue kalau bukan karena dia. Sampai tengah malam gini apa ada dia nyariin gue? Nelpon gue atau elu gitu? Hiks…ga ada kan? Tante macam apa itu?” ucapnya sambil menahan tangis. Matanya mulai berkaca-kaca. Terlihat air matanya mulai turun membasahi pipi nya yang halus. Aku langsung memberinya tisu.

“Thanks…”

“Sama-sama mba. Ya udah gini aja deh, ada satu pilihan terakhir. Tapi saya tidak maksa. Kalau mau ya ayo, ga juga ga apa-apa.”

“Lu ga ngajakin gue buat check in kan?”

“Astagfirulloh…amit-amit…enggak…”

“Kirain…terus apa?” tanya nya dengan lembut. Hati nya sepertinya sudah mulai tenang. Entah tenang karena apa. Apakah karena sudah berhasil mengeluarkan unek-unek nya, atau karena aku punya solusi akan kemana malam ini dia pulang.

“Nginep di rumah saya, hehehe.”

“Hah? Gila aja lu! Apa kata keluarga lo nanti malam-malam gini ajak gue nginep di rumah lu? Enggak-enggak!”

“Dari pada tidur di emperan toko? Terus ntar di culik? Di perkosa?”

“Ga mungkin, gue lagi dapet.”

“Eh, enghh…ya tapi tetep masih bisa di culik kan? Terus di Sandra, dijadiin tawanan.”

“Tapi…”

“Saya ga maksa, tapi saya juga ga mau kalau mba Gadis kenapa-napa.”

“Di rumah lu ada siapa aja?”

“Saya cuma tinggal bertiga, saya, mama, sama adik perempuan saya. Anak nya kelas dua SMA juga sama kaya mba Gadis, jadi nanti bisa berbagi kamar sama adik saya ini.”

“Namanya siapa?” tanyanya.

“Rahma, Rahmawati.”

“Kalau mamanya?”

“Fatma, Fatmawati.”

“Ihh Namanya mirip, lucu…”

“Apanya yang lucu?”

“Ah enggak.”

“Jadi gimana?”

“Tapi kalau mama lu nanya-nanya, lu yang jelasin ya?”

“Iya mba…” jawab ku dengan santai, padahal aku sendiri juga belum tau harus jawab apa nanti kalau mama nanya ini itu setelah tau anak laki-laki nya bawa pulang anak gadis orang.

“Ya sudah. Gue sih ga bisa nolak kalau di paksa,” ucapnya sok terpaksa dengan gaya centil sambil kembali memainkan ujung rambut panjangnya.

“Ga ada yang maksa yaaa, ya Allah…” balas ku cepat karena mulai agak jengkel dengan sikapnya. Aku sampai harus menarik nafas panjang untuk menahan emosi ku. Untungnya berhasil. Sabar.

“Berubah pikiran nih!” ancamnya kepada ku dengan tanpa rasa berdosa sama sekali.

“Iya-iya saya yang maksa. Saya memaksa mba Gadis buat tinggal di rumah saya malam ini.”

“Nah gitu dong, gitu baru benar,” balasnya dengan gaya angkuh ala-ala ibu pejabat. Oke. Untuk saat ini lebih baik aku diam saja kalau begini caranya. Kalau aku lanjutkan yang ada aku malah kena darah tinggi nanti. Stroke. Lalu jantungan. Tidak. Mama ku nanti tidak ada yang menjaga. Adik ku juga belum ada yang menjaga. Aku tidak mau mereka berdua tidak ada yang melindungi cuma gara-gara gadis ga waras bernama Gadis ini.

[table id=Lgcash88 /]

Pukul dua belas malam lewat sepuluh menit dan aku baru tiba di rumah. Dan aku tidak sendiri. Membawa penumpang yang akan tidur, menginap di rumah ku, yang aku baru sadar saat melakukan perjanjian tadi tidak ditentukan sampai kapan orang ini akan menginap. Semoga saja tidak lama.

Ceklek, ceklek,” suara kunci pintu yang terbuka. Untungnya kami bertiga, aku, mama maupun Rahma memiliki kunci masing-masing, jadi ketika pulang malam seperti ini tidak perlu membangunkan penghuni rumah yang lain. Aku langsung membuka pintu dan sepi, lampu-lampu sudah mati. Tentu saja, jam segini sudah pada tidur menurut ku. Tapi baru saja aku melangkahkan satu kaki ku masuk ke dalam rumah, tiba-tiba terdengar suara yang mengagetkan ku.

“Baru pulang kak?” suara mama dari arah ruang tengah.

“Eh ma-mama? Be-belum tidur?” tanya ku dengan gugup. Aku bukan gugup karena pulang lewat tengah malam, tapi aku gugup bagaimana harus menjelaskan tentang apa yang aku bawa saat ini.

“Kamu ini, ditanya kok malah nanya balik. Kamu kenapa kak? Kok masih berdiri aja di situ? Ada sesuatu pasti! Apa yang kamu sembunyiin dari mama? Pulang jam segini lagi…” cecar mama beruntun tanpa memberikan jeda untuk ku menjawabnya satu per satu. Aku ingin mejawab namun bibir ku seolah terkunci. Aku yakin mama bisa mengerti, tapi masalahnya ini sesuatu yang baru dalam hidup ku. Sesuatu yang besar. Meskipun bisa mengerti tapi pasti sksn ada kehebohan dulu di awal nya. Dan aku harus menyakinkannya terlebih dahulu.

Masih diam tak berkutik dan masih bingung harus berkata apa, aku malah melihat siluet dan bayangan mama yang berjalan dari arah ruang tengah menuju pintu depan. Mampus mampus mampus. Harus dari mana ya aku menjelaskan?

“Heh, kamu kenapa? Kaya orang kesambet gitu, ayo masuk,” ajak mama. Dan aku pun dengan seluruh keberanian ku melangkahkan kaki ku yang satu lagi untuk masuk kedalam rumah. Tapi sebelumnya aku sudah menggenggam lengan mba Gadis dan mau tidak mau dia ikut berjalan dengan ku, tepat di belakang ku.

“Kamu, sama siapa itu kak?” tanya mama lagi. Aku bisa melihat bagaimana penasarannya mama saat mengetahui ku pulang tidak sendiri. Sama penasarannya seperti ketika ibu-ibu saling bercerita gosib antar sesama nya.

“Sa-sama di-a maah…,” jawab ku dengan sangat kaku tanpa menyebut nama mba Gadis sambil menyuruh mba Gadis agar sedikit bergeser ke samping kiri ku supaya diri nya terlihat oleh mama.

“Ada apaan sih?” dan kemudian saat aku belum bisa menjelaskan apa-apa ke mama, tiba-tiba dari arah belakang mama muncul suara lagi. Rahma.

Aku tidak tau sejak kapan dia berdiri di belakang mama, menggelendot manja pada tubuh mama nya itu. Kemudian dengan sedikit mencondongkan badannya ke arah samping kanan mama, sambil dengan rasa penasaran juga seperti mama, dengan muka yang tinggal lima watt namun entah kenapa terlihat sangat jutek dan judes, menunjuk dengan tepat ke arah muka mba Gadis, dan bertanya…

“Dia siapa?”

Mampus! Dua macan betina bertemu. Dan malam ini akan tidur di dalam satu kandang yang sama. Dua-dua nya sama. Dua-dua nya manja. Dua-dua nya mau nya menang sendiri. Tidak ada yang mau mengalah. Selama ini aturan di rumah ini adalah semua untuk Rahma, tidak ada pengecualian. Dan sekarang harus berbagi mba Gadis. Mampus. Aku harus bagaimana?

Halaman Utama : Kesempurnaan

BERSAMBUNG – Kesempurnaan Part 05 | Kesempurnaan Part 05 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 04 ) | ( Part 06 ) Selanjutnya