. Kesempurnaan Part 04 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 04

0
417

Part 04 – Pilihan Terbaik

“Halo…”

“Ya halo…”

“Lo udah di rumah?”

“Baru aja sampai…”

“Jadi gimana?”

“Sabar, baru juga sampai, nafas dulu lah…”

“Hehehe.”

“Jadi gini, ini gue dapet info dari tim silet restoran ya…”

“Buset tim silet…buser ada ga buser?”

“Hahaha, dengerin dulu.”

“Hahaha,Oke-oke.”

“Ternyata Mba Gadis itu lagi dapet hukuman dari ortu nya.”

“Hukuman?”

“Iya, tapi kita belum tau pasti nih kesalahan dia apa sampai dihukum begitu.”

“Kayanya sesuatu yang fatal sampai dia harus dipaksa kerja di restoran milik keluarga nya sendiri.”

“Gue mikirnya juga gitu, tapi apa ya?”

“Aniaya orang kali ya?”

“Ya kali cewek secantik itu ngeaniaya orang…”

“Tapi kan serem, judes…”

“Tapi lo nge fans kan?”

“Iya sih, eh enggak, hahaha…”

“Hahaha. Cie-cie…”

“Apaan sih!!”

“Hahaha. Ya udah lah. Menurut gue sih ga penting lah ya Mba Gadis itu ngelakuin kesalahan apa, itu urusan keluarga mereka. Lebih baik kita ga usah ikut campur. Kita masih diberi kerjaan aja udah sukur.”

“Betul.”

“Masalahnya itu gimana nih sikap kita kedepannya, pastinya bakalan canggung, secara dia anak pemilik restoran, dan akan kerja satu level sama kita. Awkwark banget pasti.”

“Pastinya.”

“Tapi gue udah pewe kerja disana, orangnya asik-asik, termasuk elu. Males kalau harus cari kerja lagi.”

“Makasih…jadi terharu di puji.”

“GR…!!”

“Gue juga kok, meskipun baru sebulan lebih dikit, tapi udah kerasan banget, terutama ada lo yang selalu jadi temen curhat gue.”

“Gombal!!”

“Ciyuuuus…”

“Hahaha, iya percaya…”

“Eh Rat.”

“Ya?”

“Besok lo shift malam kan?”

“Iya, kenapa emang?”

“Pulangnya makan dulu yuk?”

“Lo mau ngajak kencan cewek orang?”

“Makan nasgor doang, di pinggir jalan. Bukan candle light dinner.”

“Lo mau terima resiko nya?”

“Please…”

“Gue sih ayo aja, tapi kalau ada apa-apa gue ga tanggung ya. Lo tau kan laki gue emosiannya kaya gimana.”

“Ya jangan sampai tau makanya.”

“Nakal juga lo ya…”

“Hahaha, biasa aja ah. Nakal enggaknya itu tergantung niat Rat, dan gue ga ada niat apa-apa selain ngajak lo makan nasgor, itung-itung traktiran gaji pertama gue Rat. Ayolah…”

“Hahaha, pembenaran doang itu kalau menurut gue. Tapi ya okelah kalau gitu. Gue sih ayo aja. Berarti besok gue ga usah bawa motor ya. Dan lo harus anterin gue pulang.”

“Siap komandan…”

“Ya udah, gue mau mandi dulu, mpe ketemu besok yah…”

“Iya, da…”

“Da…”

[table id=AdsLapakPk /]

“Sore mba Gadis…”

“Sore mba Gadis…”

“Sore mba Gadis…”

Suara itu bersaut-sautan menyapa sebuah nama. Tentu saja. Anak dari pemilik usaha tempat mereka bekerja baru saja lewat. Bagaikan seorang putri kerajaan yang baru saja lewat di depan rakyatnya. Meskipun sekarang status sang tuan putri sama dengan rakyatnya, tapi itu tidak menghilangkan, bahkan juga tidak mengurangi sedikitpun rasa sungkan dari kami, yang hanya rakyat jelata ini. Iya kami harus hormat kepada nya, bagaimanapun situasi dan kondisinya saat ini.

“So-sore mba Ga-gadis…”

Sial. Aku gugup. Dan itu terlihat jelas oleh orang-orang di sekitar ku. Termasuk Ratna. Ada dua hal yang membuat ku gugup. Pertama, karena dia anak pemilik restoran. Kedua, jujur dari awal aku sudah memiliki rasa kagum kepadanya. Meskipun aku belum tau banyak tentang dirinya, tapi ada sesuatu yang istimewa yang ada pada matanya. Cinta pada pandangan pertama? Tidak. Aku tidak, atau belum, mencintainya. Aku hanya kagum. Kagum pada pandangan pertama, yang menurut ku itu berbeda dengan cinta pada pandangan pertama.

Dan masih sama seperti pertemuan pertama dulu, respon dari nya masih dingin, hampir tidak ada ekspresi. Aku sampai bertanya-tanya, sedingin apa hatinya sampai segitunya terhadap orang? Aku yakin ada yang salah pada dirinya. Dan itu membuat ku menjadi penasaran pada dirinya. Si tuan putri, anak pemilik usaha tempat ku bekerja ini. Ada apa dengan diri mu?

“Cie… di kacangin nih yeee!!”

“Apaan sih?”

“Secreet admirer detected!!”

“Enggak…”

“Ga usah ngelak!!”

“Emang enggak kok.”

“Keliatan tau, ampe gugup gitu…”

“Yang lain juga gugup.”

“Yang lain gugup karena takut. Tapi lu gugup karena ada feeling…hahaha.”

“Ngaco…”

“Hahaha, ya udah sih ngaku aja…”

“Enggak!!”

“Hahaha…Iya!!”

“Seraaah…”

“Hahaha…sadis…seleranya tinggi banget…cantik, tajir lagi.”

“Lo mabok ya, ngelantur gitu ngomongnya?”

“Enggak kok, gue cuma lagi ngeledekin temen gue aja yang lagi kasmaran, hahaha.”

“Kasmaran nenek lu!!”

“Tapi gue dukung elu kok kalau emang beneran, tenang aja.”

“Allahuakbar…”

“Hihihi…”

[table id=iklanlapak /]

“Di, bisa keruangan saya sebentar?” suara bu Pristy mengagetkan seluruh isi dapur restoran ini. Aku yang baru saja selesai mengangkat piring dan gelas kotor dari meja tamu lebih kaget lagi karena nama ku lah yang di sebut. Seisi ruangan langsung kasak kusuk dengan kejadian barusan. Tapi ada juga yang dengan nada bercanda menakut-nakuti ku atas pemanggilan ini. Hmmm…ada apa ya? Bu Pristy yang tadi hanya melongokkan kepalanya juga sudah tidak terlihat, sudah kembali ke ruangannya mungkin. Aku yang tidak mau membuatnya menunggu langsung bergegas menuju ruangannya.

“Ada yang bisa di bantu bu?” tanya ku dengan ramah. Seperti biasa bu Pristy nampak anggun duduk di depan layar monitor nya. Umur nya sekarang mungkin dua kali lipat umur ku, bahkan mungkin lebih, tapi pesonanya masih bisa membuat ku yang masih belum dewasa ini terpana. Rambutnya selalu tertata rapi. Kulit wajahnya putih bersih, dan mulus. Busana elegan. Selalu mengenakan rok span ketat yang menampakkan lekuk pinggul dan kemolekan pantatnya. Dan tidak pernah di bawah lutut. Selalu sedikit di atas lutut yang membuat betisnya yang ramping dan jenjang itu terekspos dengan sangat jelas, membuat lelaki manapun tidak akan mungkin tidak tergoda untuk menatap salah satu keindahan dari tubuh wanita itu. Termasuk aku, anak buahnya yang kurang ajar ini. Yang menikmati kemolekan tubuhnya.

“Kamu kalau kerja bawa motor kan?”

“Iya bu.”

“Bagus, aku mau minta tolong, nanti kamu anterin Gadis pulang ya. Malam ini aku tidak bisa pulang bareng dia soalnya ada meeting dengan vendor.”

“Hah? Saya?”

“Iya, keberatan?”

“Enggak, tapi…”

“Lalu?”

“Kenapa harus saya?”

“Kenapa enggak?”

“Saya takut bu.”

“Taku dengan apa?”

“Pertama tanggung jawab nya terlalu besar. Kedua, memangnya mba Gadis mau?”

“Pertama, aku yang akan bertanggung jawab kalau ada apa-apa.”

“Kalau saya bawa kabur mba Gadis, gimana?” tanya ku polos dengan maksud bercanda.

“Hahaha, aku Magister Psikologi, orang seperti mu tidak akan mungkin menculik orang.”

“Ya…bisa jadi saya khilaf kan, hehehe.”

“Hahaha, yang ada kamu yang diapa-apain sama dia.”

“Eh? Maksudnya?”

“Hahaha, enggak. Masalah pertama tidak perlu kamu khawatirkan.”

“Lalu, masalah kedua?”

“Itu masalah mu, bukan masalah ku, pikirkan, dan aku tidak mau tau gimana caranya Gadis harus pulang sama kamu. Antar dia sampai rumah. Pastikan dia baik-baik saja sampai di depan pintu rumahnya.”

“Kenapa begitu? Kenapa mesti saya sih bu?”

“Ya intinya kamu mau atau tidak?”

“Ya mau sih, tapi kan…”

“Berarti ga ada masalah dong? Sekarang kamu boleh balik kerja lagi,” tutup bu Pristy dengan tenang. Tanpa rasa berdosa. Padahal dia baru saja memasukan ku dedalam sebuah perangkap. Perangkap untuk macan betina yang baru saja dilepas ke alam bebas setelah sekian lama dikungkung dalam sangkar emasnya.

Aku pun balik ke tempat kerja ku dengan perasaan campur aduk. Belum lagi aku baru ingat kalau nanti malam sebenarnya aku sudah ada janji makan nasi goreng dengan Ratna. Mana aku yang ngajak lagi. Pake ngerayu-rayu. Masa aku yang tiba-tiba batalin gitu aja? Mampus!

*~*~*~*

“Besok deh besok…ya?”

“Iya…”

“Beneran ga bete kan?”

“Engga Adi…”

“Ciyus?”

“Iyaaa…”

“Hehehe, lo itu emang sahabat yang paling pengertian. The best banget daah…”

“Wooo…giliran ada maunya baru muji-muji!”

“Hehehe…”

“Ya udah sono kerja lagi. Sambil pikirin tuh gimana cara nya ngajak pulang bareng tuan putri. Hahaha. Kena deh lo dikerjain sama bu Pristy. Hahaha.”

Ratna kemudian berlalu sambil tertawa sore tadi sesaat setelah aku menyampaikan apa yang harus aku lakukan malam ini. Mengantar si tuan putri pulang. Dan benar juga sih apa yang dikatakannya. Ini sih aku dikerjain sama bu Pristy. Pantes Ratna tidak marah ketika janji ku padanya aku batalkan secara sepihak. Yang ada dia malah menertawai ku. Dan sekarang aku harus berfikir keras bagaimana aku bisa mengajak mba Gadis pulang.

Sekarang sudah jam sepuluh malam. Restoran sudah mulai sepi dan sebentar lagi tutup. Pelayan restoran mulai merapikan kembali bagian depan resto sedangkan para koki bertugas di dapur dan belakang. Dari kejauhan aku perhatikan mba Gadis sudah nampak kelelahan. Sebentar-sebentar dia mengusap dahinya sendiri yang putih mulus itu. Wajahnya nampak lesu. Baru hari kedua tapi tubunya sudah menunjukkan kelelahan yang teramat sangat. Seandainya aku bisa mengusap dahinya, sambil memeluk tubuhnya yang mungil itu tentunya. Hahaha, ngayal. Aku pun menghampirinya. Modal nekat. Aku bahkan belum tau apa yang akan aku ucapkan kepadanya nanti.

“Jangan, biar aku saja yang ngerapihin kursi sama mejanya, kamu tidak akan kuat,” ucap ku spontan ketika melihat dia hendak menggeser dan mengatur kembali letak meja dan kursi yang berantakan. Seperti biasanya. Tidak ada respon. Hanya menoleh sebentar kemudian melanjutkan aktifitasnya kembali. Aku lalu bergegas membantu nya.

“Ga usah sok peduli! Kalau dia tau kita semua kena,” ucapnya dengan judes. Mba Gadis menyebut tante nya dengan sebutan ‘Dia’. Ada yang salah. Pasti ada sesuatu yang salah di antara mereka. Aku tetap berusaha membantunya. Aku tidak peduli kalau ada yang melaporkan ku ke bu Pristy. Aku juga tidak peduli bu Pristy mau menghukum ku atau tidak.

“Aku ga sok peduli kok. Aku memang ga peduli, ga peduli kalaupun bu bos mau ngehukum kita. Lagi pula beliau keluar kantor dari tadi sore, kan?” ucap ku dengan gaya se kalem mungkin. Dan aku kemudian menggantikan pekerjaannya.

“Ga usah cari masalah deh lo. Gue ga butuh bantuan lo.”

“Aku membantu bukan karena orang lain butuh, tapi karena menurut ku orang lain itu butuh.”

“Kok ngeselin sih jadi orang? Berhenti ga?” perintahnya dengan sewot. Tapi itu tidak mengubah pendirian ku.

“Ngeselin kenapa? Aku cuma kerja kok. Tidak ada aturan tertulis yang mengharuskan aku mengerjakan yang mana kan?”

“Engh…”

“Sebentar, kok mba Gadis takut banget sih sama bu Pristy? Emang abis ngelakuin apa?” tanya ku dengan begitu penasaran. Dan sekarang kemungkinan yang akan terjadi hanya ada dua. Pertama, dia akan menjawab dengan suka rela, tapi peluangnya sangat kecil. Ke dua, dia akan memarahi ku karena mencampuri urusan pribadinya.

“Bukan urusan lo!” bentaknya. Tuh kan benar.

“Oke. Memang bukan urusan ku sih. Maaf-maaf. Ngomong-ngomong, nanti pulang sama siapa mba? Di jemput bu Pristy ya?”

“Bukan urusan lo juga!”

“Emang sih. Tapi kalau ada yang jemput ya bagus, soalnya…”

“Soalnya kenapa? Jangan bercanda ya!” tanyanya dengan mimik panik, takut, cemas, dan sebagainya.

“Ya saya tenang, berarti mba akan sampai rumah dengan aman.”

“Maksud lo APA??”

“Bukan mau nakut-nakutin, tapi sekarang ini lagi musimnya penculikan, apalagi…”

“Apalagi apa? Jangan ngaco lu! Atau gue…”

“Yeee…dikasih tau juga. Lagi marak tau penculikan. Kalau langsung di bunuh sih masih mending, kalau di jual, gimana? Human traficking.”

“Lu bilang langsung dibunuh masih mending? Gila lu ya.”

“Kalau langsung mati kan ga ngerasain sakit lagi, urusan kelar. Kalau di jual, dijadiin budak, atau amit-amit, dijadiin pelacur, itu derita nya seumur hidup.”

“Tetep aja. Ga punya hati lu. Gila.” Ocehnya sambil menahan emosi. Tapi tetap lucu.

“Hehehe…” aku tersenyum mencoba mencairkan suasana. Tidak terlalu buruk. Aku berhasil ngobrol dengan seorang Gadis. Ya meskipun kita sedikit berdebat. “Jadi gimana? Mba Gadis pulangnya gimana?” lanjut ku lagi.

“Kan gue tadi udah bilang, bukan urusan lo. Lagi pula gue bisa pulang sendiri.”

“Ga ada yang nawarin nganter juga sih. Cuma nanya, pulangnya gimana? Hehehe.” Entah kenapa malah kalimat itu yang keluar dari mulut ku. ******. Adi ******.

“Lo tuh ya!!” umpatnya dengan wajah gemas menahan emosi. Giginya menggeram sambil menunjuk ke arah muka ku. Lalu pergi meninggalkan ku. Ini sih ga bakalan pulang bareng. Yang ada dia bakalan marah dan menganggap ku musuh. Dari kejauhan aku melihat Ratna memandang ke arah ku. Dengan gestur tubuhnya dia seperti bertanya “Bagaimana? Sukses?” dan aku hanya bisa mengangkat bahu ku.

[table id=AdsLapakPk /]’

Sebenarnya aku sudah pasrah dengan nasib ku sendiri. Aku tidak peduli lagi kalau Bu Pristy akan memarahi ku karena tidak mengantar mba Gadis pulang. Diluar jangkauan ku. Lha orang nya tidak mau. Terlalu angkuh. Siapa aku ini? Dipandang sebelah mata juga enggak. Dipecat, iya. Masa bodoh lah.

Lalu kemudian malaikat penolong datang. Tuhan sepertinya masih berkehendak rejeki ku berasal dari restoran ini. Tanpa aku sadari, selain security yang menjaga restoran ini dua puluh empat jam, ternyata tinggal aku dan mba Gadis saja karyawan yang tersisa. Semuanya sudah pulang. Berarti tugas ku mengunci pintu kaca depan. Dan saat aku hendak mengunci pintu kaca depan itu, dari arah samping aku melihat seorang wanita yang duduk sendirian di bangku kosong yang biasanya digunakan untuk customer yang take away atau waiting list. Dan itu tak lain dan tak bukan adalah mba Gadis.

Aku sempat memicingkan mata ku ke arah nya untuk memastikan bahwa wanita itu benar-benar wanita. Maksud ku bukan wanita jadi-jadian. Bukan tanpa alasan, suasana sekarang yang agak remang-remang membuat ku khawatir juga bila dia itu bukan manusia. Tapi saat aku melihat ke arah kaki nya, ternyata masih menapak ke lantai. Alhamdulillah.

“Belum pulang?” tanya ku dengan rasa penuh penasaran.

“Anterin gue pulang!!” pintanya dengan memohon. Lah, kok berubah pikiran? Tanya ku dalam hati. Tapi aku masih berlagak jaim di depannya. Entah apa tujuannya. Padahal ini adalah kesempatan terbaik ku.

“Tadi katanya bisa sendiri?” tanya ku dengan mengesalkan.

“Please…” rengeknya lagi sambil berjalan mendekat dan sedikit melirik ke arah seberang jalan yang di sana terdapat warung rokok yang di depannya ada beberapa bapak-bapak yang sedang nongkrong. Aku langsung berfikir cepat. Oke, sepertinya dia mulai termakan candaan ku tadi sore.

“Kan bisa naik taksi atau ojek online?”

“Lu mau gue di culik?” tanya nya sambil melotot. Seperti ingin marah tapi tetap lucu. Galak tapi menggemaskan. Dalam hati aku tertawa. Tertawa sejahat-jahatnya. Iya jahat karena aku tertawa dibalik ketakutannya yang paranoid akibat candaan tidak lucu dari ku. Ya elah ternyata segampang ini akhirnya. Thanks God. Alhamdulillah. Mba Gadis, ayo kita pulang. Mau kemana juga aku anterin deh. Hehehe. Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri di depannya. Dan itu agak membuatnya bertanya-tanya dan curiga. Terlihat jelas dari mukanya, tapi tidak sampai membuat dia berubah pikiran. Tentu saja. Dari pada harus pulang sendiri, tentu saja pulang Bersama dengan ku adalah pilihan terbaik..

Halaman Utama : Kesempurnaan

BERSAMBUNG – Kesempurnaan Part 04 | Kesempurnaan Part 04 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 03 ) | ( Part 05 ) Selanjutnya

Cerita Terpopuler