. Kesempurnaan Part 03 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 03

0
462

Part 03 – Gadis Kecil Bercaling

Sudah satu bulan berlalu dan aku masih belum mendapat tambahan informasi apapun tentang ‘Mba Gadis’, kecuali obrolan terakhir ku dengan si Ratna. Ratna sendiri aku mintai tolong untuk membantu ku mencari tau lebih banyak tentang anak gadis itu tapi tidak mau. Ya tentu saja. Apa untungnya juga buat dia. Dan aku sendiri belum memiliki keberanian untuk menanyakan hal tersebut ke karyawan yang lain. Alasannya jelas, aku tidak mau investigasi dalam tanda kutip ku terdengar sampai telinga bu Pristy. Bisa-bisa dia mikir yang macam-macam dan memecat ku dari restoran ini. Aku tidak mau.

Mama, masih menjadi mama yang baik untuk ku dan adik ku. Dan aku yakin akan selalu baik kepada kami. Usahanya terus berjalan. Tidak ramai-ramai banget, tapi selalu ada saja order jahitan yang dikerjakannya setiap hari. Mama memang luar biasa. Perjuangannya demi anak-anak nya sungguh tiada tara.

Adik ku, sudah mulai sekolah. Kelas dua, dan masih seperti sebelumnya, manja dan malas. Ah aku sih tidak terlalu berharap banyak kepadanya. Yang penting sekolahnya lancar, tidak neko-neko, itu sudah cukup. Aku terlalu sayang kepadanya dan tidak tega bila harus membuatnya ikut menanggung beban keluarga. Untuk sementara, biarlah aku dan mama saja yang menanggungnya.

Ratna, sekarang aku memiliki sahabat baru pada sosok diri nya. Sahabat wanita yang akan dengan senang hati mendengarkan cerita ku, meskipun pada kenyataannya lebih banyak aku yang mendengarkan ceritanya. Semenjak obrolan singkat di parkiran belakang restoran itu Ratna semakin terbuka dengan ku. Hampir setiap hari selalu ada yang dia ceritakan kepada ku. Aku jadi berfikir, sepertinya selama ini banyak hal yang dipendam olehnya entah karena tidak mau berbagi atau memang tidak memiliki tempat untuk berbagi. Dan semua itu meledak begitu kenal dengan ku dengan aku menjadi sasaran ceritanya.

Dan aku sendiri, masih seperti ini. Semalam aku kembali memimpikan sosok anak kecil itu. Sisa-sisa memory yang masih tersimpan di kepala ku menggambarkan sesosok anak kecil yang entah siapa aku juga tidak kenal. Yang pasti bukan gambaran masa kecil ibu ku, begitu juga dengan adik ku. Dengan mengenakan setelan baju pesta anak-anak model terusan yang agak longgar berwarna putih, anak kecil itu menoleh kepada ku dan tersenyum. Dua pasang gigi caling nya yang lucu itu mengintip dengan malu-malu yang malah menambah manis wajahnya yang memang sudah manis.

[table id=iklanlapak /]

“Ratna ga main ke sini lagi kak?” tanya mama pada ku di sela-sela acara nonton TV di minggu pagi ini. Hanya berdua saja, aku dan mama, karena Rahma belum bangun. Seperti biasa, setiap malam minggu dia pasti akan menghabiskan waktu sepanjang malam untuk menonton Drama korea. Aktifitas yang tidak membangun sebenarnya, tapi ya sudah lah masih mending dia mau di rumah saja, dari pada keluyuran tidak jelas.

“Emang kenapa mah?”

“Ga apa-apa, nanya aja…”

“Kayanya lagi sibuk deh,”

“Sibuk ngapain emang?”

“Nyari kuliah mungkin, katanya mau lanjut kuliah sih. Atau mungkin juga sibuk pacarana, hehehe, aku ga tau.”

“Loh, emang masih ada kampus yang buka sekarang? Ini kan udah bulan September?”

“Buat semester depan mungkin, atau tahun depan. Lagian kan aku tadi bilang mungkin, aku ga tau pasti mah, tapi memang dulu sempat ada obrolan kesana…”

“Oh…lha kamu sendiri gimana?”

“Aku? Tunggu keuangan keluarga stabil dulu mah, mudah-mudahan bisa tahun depan ma, doain ya…”

“Iya sayang, doa mama selalu menyertai mu,” balas mama sambil menarik tubuh ku dan memeluknya dari samping. Disandarkannya kepala ku di bahunya yang tidak lebar itu. Postur tubuh ku yang jauh lebih tinggi membuat aku harus sedikit menunduk agar kepala ku pas mendarat tepat di bahunya. Agak tidak nyaman, tapi ya sudah lah.

“Hasil dari usaha jahit mama cukup kok buat makan sehari-hari dan sekolah Rahma, jadi uang hasil kerja kamu, kamu tabung semua aja buat kuliah. Pasti tahun depan sudah cukup kak,” lanjutnya lagi.

“Alhamdulillah, tapi mama juga tidak boleh memforsir pekerjaan ya, sekuatnya mama aja, kakak juga pasti akan bantu kok, nabung juga pasti.”

“Iya. Makasih udah perhatian sama mama.”

“Iya dong harus, kan papa sudah ga ada, jadi ya sekarang tinggal kakak dan ade yang perhatiin mama, jadi harus sepenuh hati,” balas ku sambil merapatkan tubuh ku ke tubuh mama.

“Iihh…kakak…kolokan banget sih! Masa udah gede masih manja sama mama? Peluk-peluk gitu lagi?” teriak Rahma yang seperti makhluk gaib, suaranya tiba-tiba muncul, tapi wujudnya belum kelihatan. Aku yang kaget langsung mengangkat badan ku sehingga posisi duduk ku kembali tegak. Jujur sebagai seorang anak laki-laki, malu juga aku bila ketahuan sedang bermanja-manja dengan ibu sendiri, meskipun yang memergoki adalah adik ku sendiri.

“Ade, ngagetin aja kamu ini…” tegur mama yang sepertinya juga kaget. Meskipun aku sudah duduk tegak, tangan mama masih berada di kepala ku dan mengusap rambut ku.

“Abisnya kakak manja gitu sama mama…”

“Lah emang apa salahnya?”

“Ade kan juga mau, hihihi,” balas adik ku itu sambil nyengir dan dengan cekatan langsung ngusel-ngusel ke ketiak mamanya. Dengan cueknya pipi kanan nya menempel di bagian sisi luar payudara kiri mama, sedangkan tangan kiri mama langsung memeluk pinggang Rahma. Sama-sama perempuan sih ya jadi biasa aja, coba kalau aku yang begitu, yang ada aku langsung di gampar, di tampol, lalu dijorokin, dan terakhir di kutuk jadi adonan martabak.

“Ya tinggal bilang aja sih, ga usah ngagetin gitu, kalau mama jantungan gimana?”

“Hehehe, iya maaf, hehehe…” balas adik ku itu dengan raut muka tanpa rasa bersalah meski dari bibirnya terucap kata maaf.

“Tumben sudah bangun? Bukannya tadi sampe jam tiga pagi nonton Korea nya? Biasanya kalau belum adzan dzuhur belum bangun.”

“Kok kakak tau? Ngintipin ya?”

“Enak aja, tadi kebangun trus masih denger suara tv nyala.”

“Oh, kirain. Hehehe. Abis ade laper nih, kebangun deh. Udah pada sarapan belum?”

“Iya laper bangun, makan trus tidur lagi, melar-melar deh tuh badan.”

“Bodo, biar seksi, week…”

“Udah-udah, kamu udah cuci muka belum? Gosok gigi belum?” tanya mama.

“Belum, hehehe,” balas adik ku lagi-lagi dengan cengiran yang menyebalkan itu.

“Bauuu…”

“Bodooo!!”

“Ade…sikat gigi dulu sana, cuci muka, baru sarapan. Mama sama kakak sudah sarapan tadi.”

“Iya-iya mama ku sayaaang…Cup…hihihi,” ucap Rahma sambil mengecup pipi mama nya lalu bangkit dan pergi. Entah kemana. Entah beneran sikat gigi atau balik tidur lagi, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

“Adik mu itu selalu membawa keceriaan ya?”

“Iya, kalau ga ada dia mah ga tau deh bakal sesepi apa rumah ini, hehehe.”

“Eh kak, kamu pernah liat Adik mu itu jalan sama cowok ga?” tanya mama tiba-tiba dan aku hanya menggeleng karena memang tidak pernah.

Aku tidak tau apakah adik ku itu memiliki kelainan atau apa, tapi aku tidak pernah melihat dia dekat dengan cowok, atau sekedar bertanya tentang cowok. Di usianya yang sekarang ini seharusnya dia sudah memiliki perasaan terhadap lawan jenis. Normalnya dia sudah memiliki atau sudah pernah pacarana, tapi aku tidak pernah melihatnya di sekolah dulu. Atau dia pacarannya diam-diam? Atau pacar nya lain sekolah? Bisa jadi sih.

“Kenapa ma?”

“Enggak, kalau mau pacaran ya ga apa-apa juga sih, asal tau batas-batas nya dan tidak mengganggu sekolah. Lagi pula kalau di larang-larang kan biasanya anak akan melawan. Tapi kalau bisa menahan ya lebih bagus. Sekolah dulu yang bener.”

“Ga pernah lihat sih mah. Cerita-cerita juga ga pernah. Ajak main temen cowok ke rumah juga ga pernah kan ya?”

“Iya ga pernah sama sekali, kamu juga ga pernah kak…”

“Hahaha, pernah ma…itu si Ratna pernah aku aja main ke rumah…”

“Oh, jadi sama Ratna?”

“Eh, maksudnya apa nih?”

“Ya, kamu, sama Ratna,” ucap mama sambil membuat isyarat dengan dua jari nya.

“Ya elah, enggak, cuma temen, kan tadi ngebahasnya temen cowok Rahma, berarti kalau aku kan temen cewek, hahaha…”

“Bisa aja kamu mah ngelesnya…”

“Hahaha, lagian si Ratna itu sudah punya pacar ma…”

“Iya, mama tau…”

Pikiran ku lalu kembali ke minggu lalu saat tidak sengaja aku, mama, dan adik ku bertemu dengan Ratna di sebuah pusat perbelanjaan. Dan entah bagaimana ceritanya, apakah Ratna yang minta main, atau mama ku yang mengajak, si anak tomboy itu ikut kami ke rumah.

Tidak seperti yang ku duga, mama dengan Ratna ternyata cocok. Telisik punya telisik, Ratna ternyata memang tidak terlalu dekat dengan ibu nya. Aku belum tau pasti kenapa karena aku belum mengorek lebih dalam, tapi lain kali pasti. Aku akan mencari tahu. Tapi sepertinya ada sesuatu yang tidak baik yang ternjadi sehingga terjadi keretakan hubungan diantara ibu dan anak gadisnya. Dan ketika berhadapan dengan sosok mama yang memang sangat lembut dan baik, Ratna langsung merasa nyaman dan cosok. Sedangkan mama, seperti nya suka dengan sosok Ratna yang…aku tidak tau kenapa waktu itu dia bisa berubah sangat drastis sifatnya menjadi kalem, lembut, tenang, dewasa, tidak terlalu anggun tapi juga tidak tomboy. Beda banget lah. Aneh.

Feeling ku mengatakan mama mengharapkan sosok anak perempuan seperti sosok Ratna saat main ke rumah ku itu. Sosok anak gadis yang sedikit dewasa, yang tidak mungkin dia dapatkan dari Rahma yang manja.

“Ma, boleh nanya sesuatu?” tanya ku tiba-tiba teringat dengan mimpi ku semalam.

“Tanya aja, apaan?”

“Ehm…dulu…waktu aku masih kecil, mungkin waktu masih balita, aku punya temen main cewek ga?”

“Hah? Kenapa emangnya?”

“Jawab dulu aja…”

“Hihihi, temen kamu dulu kan emang cewek semua, makanya hati kamu sekarang lembut, hihihi…”

“Iihh aku serius ma…”

“Mama juga serius…”

Aku tidak langsung menanggapi ucapan mama. Sejenak berfikir, kalau teman masa kecil ku banyak berarti kemungkinan yang ada di mimpi ku itu juga banyak. Haduuuh. Gimana ya?

“Kenapa sih kak…?”

“Beberapa hari ini aku mimpiin seseorang terus.”

“Oh ya?”

“Iya, dan latar belakangnya sama terus. Seorang anak cewek dengan baju pesta anak-anak model terusan yang agak longgar berwarna putih, anak kecil itu menoleh dan tersenyum pada ku.”

“So sweet banget…”

“Diiih, apanya yang so sweet?”

“Hihihi, kamu inget sampai detail banget sosok anak kecil nya yang kamu impiin itu…”

“Biasa aja ah, orang mimpi itu terus dan berulang-ulang.”

“Hiiih, dasar cowok…”

“Jadi beneran banyak nih?”

“Iya banyak…”

“Siapa ya ma itu anak? Kalau bukan orang dari masa lalu ku, harusnya tidak mungkin muncul berulang-ulang dengan mimpi yang sama persis.”

“Iya juga sih. Tapi mama juga ga tau kak. Ya namanya juga mimpi, bunga tidur, bisa bermakna sesuatu, bisa juga tidak. Ga usah terlalu dipikirin lah kak, berdoa aja semoga arti dari mimpi itu adalah sesuatu yang baik.”

“Mungkin aja sih, bisa jadi. Iya ma, kakak ga akan terlalu mikirin itu lagi.”

[table id=AdsLapakPk /]

Pukul empat sore dan aku sudah bersiap pulang. Hari ini aku masuk pagi jadi sore sudah bisa pulang. Aku sedang ganti baju dari seragam dengan baju biasa di ruang ganti. Ruangan ini sebenarnya hanya ruangan kosong yang tidak terpakai, hanya digunakan oleh karyawan menaruh tas atau bawaan lainnya. Atau biasa saat makan siang, kami menggunakan tempat ini untuk makan. Meja kecil, rak piring berisi piring dan gelas, dispenser beserta galonnya, rak sepatu, serta kipas angin menjadi beberapa perabot yang menghiasi ruangan ini.

“Di, dipanggil bu Bos noh, kita di suruh ngumpul semua, katanya ada yang mau di sampaiin,” tiba-tiba suara pelan seorang wanita mengagetkan ku. Aku sempat melihat ke sekeliling dan pojok atas ruangan dan tidak menemukan apa-apa. Masih sore kok sudah ada makhluk tak kasat mata saja ya? Rajin amat?

“Gue di sini begooo!!” suara itu terdengar lagi dengan lebih kencang. Dan datangnya dari arah pintu. Aku melihat wajah seorang wanita melongok masuk ke dalam ruangan, dan aku hanya bisa melihat wajahnya karena bagian tubuh nya yang lain terhalang oleh pintu. Ratna?

“Eh lo kalau buka pintu ketuk dulu dong, kalau gue lagi telanjang gimana?”

“Salah sendiri ga di kunci…”

“Tetep aja itu ga menghapus kewajiban lo untuk mengetuk pintu lebih dulu…”

“Ya elah, kaya perawan aja lo, ribet!”

“Lah, gue emang masih perjaka kok.”

“Ngooook!!”

“Hahaha.”

“Udah buru! Kayanya ada yang penting deh. Kita semua disuruh ngumpul. Mumpung lagi sepi juga.”

“Iye-iye…”

Setelah merapikan baju ku, aku bergegas keluar ruangan dan mengekor kemana Ratna berjalan. Sepertinya menuju ruangan bu Pristy. Ada apa ya? Setelah sampai, tepatnya di depan ruangan bu Manager, ternyata memang hampir semua karyawan berkumpul, kecuali dorman yang masih standby di depan, berjaga bila ada tamu yang datang. Pikiran ku semakin kemana-mana. Sedikit banyak aku merasa khawatir. Apa aku punya salah ya? Terus ketahuan, terus akan dibuka di depan umum, terus di pecat, terus terus terus…?

“Okeh, semuanya sudah kumpul ya, kecuali si Andi, biarin aja nanti kita update,” ujar bu Pristy mulai membuka suara di tengah kami semua. Andi yang dimaksud tadi ada si dorman yang berjaga di depan.

“Jadi begini, mulai hari ini, akan ada karyawan baru yang akan bergabung dengan kita ya,” lanjut bu Pristy lagi.

Oh, karyawan baru, aku pikir kenapa. Untuk sementara rasa takut dan khawatir ku hilang sudah. Lega rasanya. Paling tidak apa yang akan dibicarakan pada sore hari ini bukan tentang aku. Beberapa karyawan nampak kasak kusuk sendiri dengan pengumuman yang barusan di sampaikan bu Pristy. Logikanya, kalaupun ada karyawan baru, tidak pernah sampai harus briefing seperti ini. Kemungkinananya cuma ada dua, orang baru tersebut adalah orang penting, atau posisi yang di gantikan atau di tambahkan posisi yang penting atau strategis. Apa mungkin bu Pristy resign dan beliau bermaksud mengenalkan calon penggantinya? Masuk akal sih.

“Kalian semua pasti heran mengapa saya sampai mengumpulkan kalian semua kesini,” lanjut bu Pristy dan kami masih tetap diam, sambil sesekali berbisik. Hanya satu dua orang yang menjawab, itupun juga dengan sangat pelan.

“Saya mengumpulkan kalian semua dan bermaksud mengenalkan karyawan barunya kepada kalian, itu karena yang akan bergabung, lebih tepatnya magang, adalah…” bu Pristy tidak langsung menyelesaikan kalimatnya melainkan menoleh ke samping dan memanggil seseorang.

“Dis, sini…” panggil bu Pristy pada seseorang yang masih berada di dalam ruangannya dengan tegas.

Dis? Dan sosok yang aku lihat pertama kali satu bulan yang lalu saat wawancara itu muncul kembali. Wajah cantik nya masih tetap sama, termasuk raut wajahnya yang datar.

“Karena yang akan bergabung dengan kita adalah, keponakan saya sendiri, mba Gadis,” lanjut bu Pristy sambil tersenyum.

Mba Gadis? Keponakan bu Pristy? Anak dari pemilik restoran? Bekerja di sini? Buat apa? Uang jajannya kurang? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dengan sendirinya. Dan bukan hanya aku saja yang bertanya-tanya, semua karyawan yang berkumpul semakin kasak-kusuk mendengar berita ini. Semuanya terkejoet.

“Tidak usah bingung, mba Gadis ini sedang magang dari sekolahnya, jadi dia harus menjalani masa kerja nyata. Dan karena mba Gadis masih tetap harus masuk sekolah, maka dia hanya masuk pada shift malam saja. Mengerti?”

“Mengerti bu…” balas kami semua tanpa banyak tanya.

Dan ada satu lagi yang mengganjal di kepala ku. Mba Gadis sekolah kejuruan? Anak dari orang sekaya keluarganya masa sekolah kejuruan? Masa iya? Kalaupun iya, masa magang masih harus masuk sekolah? Sepertinya ada yang tidak beres.

“Dan satu lagi yang mau saya sampaikan, meskipun mba Gadis adalah keponakan saya, kalian tidak boleh sungkan kepadanya. Saya tidak akan mengistimewakannya. Justru apabila ada yang ketahuan mengerjakan pekerjaannya, saya akan memberikan kalian hukuman. Disaat jam kerja, bersikaplah professional dan berlakulah terhadap mba Gadis sama seperti dengan karyawan yang lainnya. Kalian sama. Mengerti?”

“Mengerti bu…”

“Bagus, sekarang boleh bubar. Yang tadi masuk pagi boleh pulang, yang masuk malam tolong ajarin mba Gadis ya apa-apa yang harus dia kerjakan.”

“Iya bu…” jawab beberapa orang yang kebetulan dapat jatah malam, termasuk Ratna, yang sepertinya juga sama terkejoet nya dengan ku. Wajahnya nampak bingung. Kami semua pun langsung bubar. Aku dan Ratna berjalan bersama menuju ruangan ku tadi.

“Lo ngerasa ada yang aneh ga sih?” tanya nya pelan.

“Banyak, aneh banget,” balas ku.

“Sepertinya kita nanti harus ngobrol-ngobrol lagi deh,” lanjutnya.

“Iya, nanti malam gue telepon ya, kasih tau kalau udah pulang ya.”

“Iya…”

“Oiya satu lagi…”

“Apaan?”

“Amati situasi dan kondisi ya, bener-bener ada sesuatu ini pasti,” balas ku masih dengan berbisik. Kami berdua ngobrol sambil berjalan dan sambil berbisik layaknya mata-mata. Sekilas terlihat keren, namun sebenarnya kami penasaran dan banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepala kami.

“Iya…”

Halaman Utama : Kesempurnaan

BERSAMBUNG – Kesempurnaan Part 03 | Kesempurnaan Part 03 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 02 ) | ( Part 04 ) Selanjutnya