. Kesempurnaan Part 02 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 02

0
446

Part 02 – Keteraturan Yang Tidak Teratur

Pagi ini untuk pertama kali nya mama akan mulai mengerjakan jahitan. Kios jahitnya dia beri nama Kios Jahit Amanah. Seperti harapannya untuk selalu bisa mengerjakan amanah dari setiat pelanggan yang mempercayakan bahan kainnya untuk di jahit menjadi baju olehnya. Kios ini sebenarnya sudah buka dari beberapa hari yang lalu, namun rejeki kami baru datang kemarin sore, dari seorang tetangga yang minta bahan kainnya untuk di jahit. Alhamdulillah.

Mama berangkat ke kios bareng dengan ku menggunakan motor peninggalan papa yang sekarang aku gunakan untuk transportasi ke tempat kerja. Oh iya, aku sendiri sudah seminggu lebih bekerja di restoran tempat mang Mono kerja, tetangga ku yang membawa ku bekerja di sana. Kesan yang aku rasakan sejauh ini enak. Nyaman. Karyawan yang lainnya pun juga baik kepada ku. Bu Pristy juga baik kepada kami semua. Sejauh ini lancar. Walaupun sebenarnya masih ada satu hal yang masih mengganjal di hati ku. Tentang gadis yang waktu itu dipanggil Dis oleh bu Pristy, yang tak lain adalah keponakannya sendiri. Sudah satu minggu aku bekerja di sana, tapi akut tidak melihat anak itu berkunjung kesana lagi. Kemana ya? Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan rasa penasaran ku ini kepada bu Pristy, tapi sepertinya bukan ide yang bagus. Gila. Tatapan matanya waktu itu masih terbayang jelas sampai sekarang, dan entah akan sampai kapan.

“Masih pagi udah bengong aja kamu kak?” tegur mama sesaat setelah dia turun dari boncengan motor ku. Aku memang biasa di panggil kakak di rumah. Boleh kakak…serasa di ITC ya?

“Ah, enggak maaa…”

“Mikirin apaan siih? Ongkosnya abis yaa?” tanya mama lagi sambil membuka tas nya dan mengambil dompet nya.

“Eh, enggak kok, ga mikirin apa-apa. Dan uang Adi juga masih ada kok ma…” balas ku agak ragu karena berbohong. Maksud ku bukan berbohong uang ku masih ada, uang ku memang masih ada, tapi aku sebenarnya sedang memikirkan seseorang. Si Dis itu.

“Hayo kenapa?”

“Ah enggak, hehehe, ya udah ya ma Adi udah kesiangan nih, Adi jalan dulu ya, Asalamualaikum,” pamit ku buru-buru kepada mama denga nagak gugup.

“Waalikumsalam. Ya sudah, hati-hati ya…jangan ngebut…”

“Iya…”

Aku pun langsung tancap gas menuju kantor. Eh kantor? Keren banget. Hahaha. Tempat kerja. Tempat nguli maksudnya. Dan aku sengaja buru-buru “kabur” dari mama karena memang tidak mau mama mengetahui kegundahan hati yang aku rasakan. Dan untuk mengobati kegundahan ku ini, serta penasaran yang aku rasakan, aku bertekad untuk mencari tahu lebih banyak lagi siapa dan apa latar belakang dari gadis manis itu, meskipun satu hal yang aku tahu dan sudah pasti, anak itu anak orang kaya.

[table id=AdsLapakPk /]

Sebenarnya restoran baru akan menerima pelanggan pada pukul sebelas siang, tapi jam masuk karyawan dimulai dari jam delapan pagi. Spare waktu tiga jam ini lah yang akan di gunakan oleh para karyawan untuk mempersiapkan semuanya. Para koki tentu saja memastikan bahan makanan untuk hari ini lengkap semua, termasuk senjata yang akan mereka gunakan, kompor, penggorengan, dan lain sebagainya. Para pramusaji memastikan semua bagian dari restoran, meja, kursi, dan hiasan lainnya, tertata dengan rapi dan berada pada tempatnya. Termasuk membersihkan lantai bila ada yang kotor dan debu yang mungkin menempel pada meja dan kursi. Baru setelah itu kita merapikan penampilan kita sendiri, karena sebagai bagian dari frontliner penampilan adalah satu dari sekian banyak aspek yang sangat penting.

Di restoran ini terdapat enam koki yang semuanya laki-laki. Sampai saat ini kadang aku masih bingung, katanya yang pinter masak itu perempuan, tapi sejauh ini yang aku temui adalah sebagian besar koki adalah seorang laki-laki. Begitu juga pedagang nasi goreng. Orang bilang perempuan jago masak, tapi mungkin sembilan puluh sembilan persen penjual nasi goreng adalah laki-laki. Sampai ada meme nya. Tapi ya terserah mereka lah. Hidup-hidup mereka sendiri, tidak ngurusin juga.

Selain tiga koki yang sudah aku sebutin itu, ada juga pramusaji yang berjumlah dua belas orang, enam laki-laki termasuk aku, dan enam perempuan. Dua kasir, dua dorman, dua security, dan satu supervisor, yang berada di bawah bu Pristy langsung sebagai manager restoran. Jadi kalau ditotal, semuanya berjumlah…hitung sendirilah.

Pagi ini aku kebagian tugas mengelap seluruh kaca dari debu yang menempel agar terlihat semakin kinclong. Aku bilang kebagian karena tugas ini akan di rolling setiap harinya. Hari ini aku kebagian tugas membersihkan kaca, besok mengelap meja, besok nya lagi membersihkan lantai. Begitu seterusnya.

“Eh gimana kesan lo sekarang? Udah seminggu kan kerja di sini?” tanya mba Ratna kepada ku disela-sela kesibukan ku mengelap kaca restoran. Namanya Ratna Putri Anindita. Dia sama seperti ku, seorang pramusaji. Kami berdua sama-sama bertugas membersihkan kaca hari ini.

“Kesannya baik mba, orang-orang nya baik semua, mas Anton baik, bu Pristy juga baik.”

“Gue, baik juga ga?”

“Kan tadi saya bilang ‘Orang-orang’, artinya lebih dari satu, tanpa pengecualian, berarti mba Ratna juga termasuk dong…”

“Oiya ya, hehehe. Ah elo jawab nya logis banget, santai aja kali…”

“Hehehe, maaf mba…”

“Eh lo jangan panggil gue mba dong, kesannya tua banget gue. Lagi pula kayanya kita seumuran deh.”

“Masa sih?”

“Umur lo berapa?”

“Sembilan belas.”

“Sama dong, tapi lo baru lulus tahun ini ya?”

“Iya mba, eh Ratna, hehehe.”

“Hahaha, kaku amat sih lo. Ngobrol nya lo gue aja kali ga usah sok manis, hahaha. Lo asli Jakarta kan?”

“Iya sih…”

“Makanya ga usah sok formal aku kamu saya anda pret lah.”

“Hahaha, iya deh.”

Aku tersenyum menanggapi ucapannya yang terakhir. Ratna ini orangnya memang apa adanya. Sedikit nyablak. Dan agak tomboy. Tidak sesuai dengan namanya yang indah. Postur tubuhnya normal seperti kebanyakan wanita indonesia dengan tinggi mungkin sekitar seratus enam puluhan senti meter. Sering menggunakan kemeja flannel dengan celana jeans belel dan rambut yang selalu diikat.

“Mba, eh Rat, kamu, eh lo, udah berapa lama kerja di sini?”

“Setahun.”

“Lulus sekolah langsung kerja di sini ya?”

“Iya.”

“Oh…”

“Lo pernah ga naik kelas ya? Umur sembilan belas baru lulus.”

“Enak aja, gue cuma telat aja masuk SD nya.”

“Oh…”

“Eh Rat, gue boleh nanya sesuatu ga?”

“Sok, tanya ja kali, bebas. Semua orang bebas bertanya. Selama ga nanya ukuran boobs gue aja ya. Gue tampol lu…”

“Hahaha, ya kali. Enggak Rat, gue cuma mau nanya, yang pas minggu kemarin gue interview itu, kan ada anak SMA yang ke restoran ini kan ya? Yang ketemu sama bu Pristy…”

“Ya…kenapa? Jangan bilang kalau lo naksir sama dia ya!”

“Eh, emang kenapa Rat?”

“Jadi lo beneran naksir dia?”

“Enggak, gue cuma penasaran aja sama dia.”

“Itu salah satu tanda nya begooo!!!”

“Beda kali. Gue juga tau dia keponakan dari bu Pristy, gue sadar diri lah. Doi pasti anak tajir kan?”

“Banget…dia itu anak dari pemilik tempat lo kerja ini, Gadis namanya. Gadis Anastasia Wiradana…”

“Bener berarti.”

“Apanya?”

“Prediksi gue juga gitu, sebelumnya gue juga mikir kalau dia itu anak dari pemilik restoran ini.”

“Nah, sekarang kan lo udah tau nama lengkapnya, terus sekarang mau apa?”

“Ga apa-apa juga sih. Kalau rumahnya? Lo tau ga Rat?”

“Kagak tau…”

“Kalau sekolahnya?”

“Gak ngurusin sekolahnya orang…” balasnya dengan mimik wajah yang sangat serius.

“Eh lo kenapa?”

“Kerja yang bener, jangan ngobrol mulu. Tuh bu Pristy udah dateng, mau kena tegor?” ucap Ratna sambil memberi isyarat ke arah parkiran dimana baru saja sebuah mobil mewah keluaran negeri sakura terparkir di sana.

“Eh iya, hehe, iya-iya…”

Mampus!!!

[table id=Lgcash88 /]

Kalau dapat jadwal masuk pagi, sore jam empat aku sudah bisa pulang. Tapi tidak tau kenapa hingga hampir jam lima sore ini aku malah masih nongkrong di pelataran belakang restoran, sebuah lahan kosong kecil yang digunakan oleh para karyawan untuk memarkir motor mereka. Dan seperti biasa disaat seperti ini, sore hari yang tenang, sebatang rokok dengan merek sama seperti merek es krim terkenal terselip diantara jari tengah dan jari telunjuk ku.

“Lah lo ngerokok juga bro?” sebuah suara mengagetkan ku dari belakang. Ratna.

“Lo belum pulang mba? Eh, Rat?” tanya ku balik kepadanya. Juga? berarti dia ngerokok juga dong?

“Ni baru mau pulang, lo ngerokok?” tanya nya sekali lagi. Aku tidak menjawabnya tapi menunjukkan batang rokok yang ada di tangan ku sambil mengangkat alis dan bahu ku.

“Wuiiih, magnum…cobain dong…” pintanya sambil kemudian menaruh bungkus rokoknya sendiri di jok motor yang berada di depan ku yang aku perhatikan ternyata keluaran dari perusahaan rokok asing asal Amerika, dan itu mentol. Rokok khas perempuan. Ratna sendiri kemudian duduk di jok motor ku, tepat di sebelah kanan ku. Aku kemudian menyodorkan bungkus rokok ku kepadanya, lalu diambil nya sebatang rokok lalu kemudian di sulut olehnya. Sedikit kebanting dengan jemarinya yang lentik itu.

“Uhuuk…”

“Pelan-pelan…” tegur ku saat melihat dia terbatuk saat baru pertama menghisap rokok ku itu.

“Hehehe, berat ya?” tanya nya dengan garing.

“Iyalah, rokok lakik itu. Mang nya rokok lo, mentol…”

“Gue sih selain yang mentol biasanya ngerokok’in yang berurat, hahaha,” candanya, mesum.

“Eh gue juga punya tuh, hahaha.”

“Terus? Sini gue cincang, gue jadiin kornet, mau?”

“Hahaha, jangan dong, kasian bini gue nter kalau di potong lagi…”

“Ga dipotong aja belum tentu ada yang mau.”

“Yakin? Lo mau nyobain rokok berurat gue ga?” tanya ku iseng dekat ke telinga nya. Ratna ini orangnya sebenarnya menarik. Tidak jelek. Meskipun tidak cakep-cakep banget juga. Hanya saja, orangnya tidak rapi, dan tidak terurus. Lalu menarik dari mananya? Entahlah. Hati kecil ku mengatakan kalau anak ini menarik.

“Mesum lo!!” protes nya sambil menepuk bahu ku pelan.

“Lo yang mulai!”

“Kok malah nyalahin gue sih?”

“Ya memang lo yang salah kok…”

“Gak bisa!!” protesnya sambil mengebulkan asap tebal ke udara dari rokok yang dia hisap. Aku memandangi wajahnya. Luamayan sih sebenarnya. Kalau sedikit terurus. Dan, sebenarnya aneh banget bagi ku melihat seorang wanita merokok.

“Lo ngerokok udah dari kapan Rat?”

“Ehm…kelas satu SMA kayanya. Lo sendiri?”

“Sama sih, tapi waktu itu gue masih sembunyi-sembunyi.”

“Kenapa? Kalau sekarang udah enggak?”

“Masih juga, hahaha.”

“Dasar. Terus apa bedanya?”

“Ga ada sih. Hehehe. Tapi kayanya sih nyokap gue udah tau kalau gue ngerokok, tapi diem ja sih. Yang pasti sih gue ga mau ngerokok di depan nyokap.”

“Kenapa? Kalau bokap?”

“Ga mau ngeracunin beliau dengan asap rokok gue. Kalau bokap belum lama meninggal…”

“Eh, sorry…”

“Ga apa-apa…”

“Turut berduka cita ya…”

“Iya, terima kasih. Ngomong-ngomong, kok lo bisa ngerokok sih? Menurut gue, cewek kalau ngerokok itu biasanya pasti ada sesuatu hal yang salah yang terjadi di hidup nya hingga dia melampiaskan sesuatu yang mungkin membuatnya kesal itu ke rokok.”

“Hahaha. Sok tau. Tapi analisa lo masuk akal juga sih. Tapi gak ada apa-apa kok, mungkin karena pergaulan aja sih. Dan gue nyesel sekarang.”

“Pergaulan? Nyesel?”

“Ya, pergaulan. You know lah. Dan gue nyesel aja. Kenapa juga gue mesti ngerokok yang jelas-jelas itu ga baik buat cewek, ga baik buat cowok juga sih. Terus kenapa juga gue mesti bergaul sama mereka yang punya pengaruh buruk ke gue. Gue kemarin bisa lulus SMA itu juga beruntung banget. Kacau deh pokoknya. Ortu udah nyuruh gue kuliah tapi gue nya males. Hahaha. Akhirnya sekarang kerja juga cuma jadi pelayan restoran. Gue terlalu menikmati masa muda gue. Eh salah, masa SMA deng, kalau muda mah gue sekarang juga masih muda, hahaha.”

“Oh gitu…contohnya apa nih kesalahan yang lo perbuat?

“Ya adalah, biasa kenakalan remaja pada umum nya…”

“Drugs?”

“Enggak nyampe kaya gitu sih, gila aja lo. Mungkin kapan-kapan gue ceritain ke elo ya, ga sekarang.”

“Oke deh. Ehmm…eh Rat, lo pernah ga sih bertanya pada diri lo sendiri kenapa Tuhan menakdirkan lo ini jadi diri lo? Bukan jadi diri siapa gitu? Anak pengusaha mungkin? Atau anak yang pinter mungkin? Atau jadi artis mungkin?”

“Pernah sih sekali dua kali, kenapa?”

“Enggak, lagi mikir aja, apa semua yang ada di dunia ini itu hanya kebetulan ya? Atau memang sudah diatur oleh semesta dalam sebuah keteraturan yang terlihat sangat tidak teratur.”

“Ngomong apa sih?”

“Gini lho, pernah ga sih lo bertanya, kalau memang Tuhan maha adil, kenapa ada orang yang lahir cacat? Atau ada orang yang lahir miskin?”

“Pernah…terus maksudnya apa?”

“Jadi intinya dari pertanyaan-pertanyaan gue tadi adalah…”

“Gue jadi begini karena pilihan gue sendiri, gitu kan?”

“Bukan, tapi lo terlahir jadi apa, itu memang sudah takdir. Tapi lo akan berkembang menjadi apa, itu sepenuhnya pilihan hidup lo sendiri.”

“Ya memang, dan gue udah salah. Dan gue nyesel.”

“Bagus, tapi ga ada gunanya juga nyesel. Maksud gue, mulai dari sekarang elo harus mulai bisa menatap masa depan lo. Gue ga akan ngebahas soal rokok ya, karena gue juga ngerokok dan itu adalah hak elo. Tapi soal sekolah, belajar, itu penting banget. Lo ma uterus-terusan jadi pelayan restoran?”

“Enggak…” balas Ratna sambil menggeleng.

“Nah…gue pun juga begitu…”

“Tapi kok lo sendiri ga kuliah?”

“Kalau gue sih belum aja. Kalau sekarang ga memungkinkan, ga ada dana nya, hahaha,” jawab ku sambil tertawa miris. Miris terhadap situasi yang aku alami sekarang ini. Tapi aku bertekad akan merubah situasi ini menjadi sebuah energi. Energi positif untuk menghadapi segala tantangan kehidupan yang ada.

“Nanti deh gue pikirin lagi. Thanks ya bro, ternyata pandangan lo luas juga, dan enak juga ngobrol sama lo. Kapan-kapan kayanya gue perlu sharing lagi deh sama lo.”

“Sambil ditraktir makan yak?”

“Ogaaah!! Weeek!!” balasnya sambil menjulurkan lidahnya. Eh, lucu juga nih anak pikir ku. Hehehe. “Dah ah, pulang yuk.”

“Ya ayuk…dah sore juga.”

“Iya. Eh tapi anterin gue pulang yak, kebetulan banget gue hari ini ga bawa motor nih…hehehe.”

“Ah, sialan. Jadi tadi nyamperin terus ngobrol-ngobrol itu sengaja biar ada tebengan?”

“Hahaha, strategi bro…”

“Ya udah…eh tapi emang rumah lo dimana deh?”

“Entar gue kasih tau arahnya.”

“Baiklah…”

Aku dan Ratna lalu pulang, meninggalkan restoran tempat kami bekerja ini. Aku bisa melihat Ratna ini sebenarnya anak yang baik, tidak seperti kesan pertama ku tadi saat tau dia seorang wanita perokok. Tidak adil sih sebenarnya bila aku men judge dia wanita tidak baik hanya karena dia perokok. Tapi, di pikiran ku rokok itu kodrat nya bukan untuk seorang wanita, meskipun tidak bagus juga untuk seorang laki-laki. Dan terkait dengan anggapan ku terhadapnya tadi, maksud ku, masih ada sisi baik di dalam hati nya. Masih ada secuil daging di hatinya yang secara sadar menyesali sikap, perbuatan, dan jalan yang sudah diambil olehnya selama ini. Itu adalah point terpenting dalam kehidupan. Penyesalan. Rasa bersalah. Tentu saja. Selain orang mati, mungkin cuma orang yang sudah mati hatinya saja yang tidak memiliki rasa bersalah atau rasa menyesal. Karena tidak mungkin ada orang yang tidak pernah bersalah. Semua orang pasti pernah bersalah. Tinggal bagaimana kita bisa memperbaikinya saja.

Halaman Utama : Kesempurnaan

BERSAMBUNG – Kesempurnaan Part 02 | Kesempurnaan Part 02 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Part 01 ) | ( Part 03 ) Selanjutnya

Cerita Terpopuler