. Kesempurnaan Part 01 | Kisah Malam

Kesempurnaan Part 01

0
545

Part 01 – Ransel Mini Biru Muda

“Silver Bird”, gumam ku pelan saat aku tidak sengaja melihat ke arah parkiran sebuah restoran dari tempat ku duduk ini. Seorang gadis muda yang masih mengenakan seragam SMA turun dari mobil mewah keluaran dari negeri Adolf Hitler. Tas ransel mini berwarna biru muda, sepatu kets dengan warna senada melengkapi seragam abu-abu putih yang ia kenakan. Rambut nya tergerai dengan indah nya, terkibar bersama angin yang berhembus pelan, menandakan dia sering melakukan perawatan terhadap bagian dari tubuhnya yang sangat berharga itu. Dan yang juga semakin memperjelas kalau dirinya adalah anak dari kaum berada.

Gadis itu kemudian berjalan menuju restoran, tempat yang dimana aku akan mengikuti wawancara kerja hari ini. Ya, aku akan mencoba peruntungan pertama ku di tempat ini. Adalah tetangga samping rumah ku yang kebetulan bekerja di restoran ini juga, yang menawarkan kerja di tampatnya. Dan aku sekarang masih duduk di sebuah warung kecil di seberang restoran mewah itu. Dengan segelas kopi dan sebatang rokok yang aku beli eceran tadi. Teman menunggu yang paling sempurna.

Aku dijadwalkan untuk wawancaara jam sepuluh pagi. Sedangkan sekarang baru jam setengah sepuluh. Berarti masih ada sekitar tiga puluh menit lagi menuju wawancara. Eh tapi, tunggu dulu. Sekarang kan baru jam sembilan lewat tiga puluh pagi ya? Gadis SMA tadi itu jam segini kok bisa berada di sini? Kok tidak sekolah? Bolos? Bisa jadi sih. Ah entah lah. Orang kaya memang bebas. Mau jungkir balik sambil koprol di pinggir jurang pun juga tidak ada yang melarang.

[table id=iklanlapak /]

Oleh tetangga ku yang aku ceritakan tadi, aku diarahkan untuk masuk kedalam melalui pintu samping. Beberapa Koki dan Pramusaji restoran, terlihat dari setelan baju yang mereka kenakan, yang kebetulan berbapasan dengan ku tersenyum ramah kepada ku dan aku pun tersenyum balik kepada mereka. Menciptakan kesan baik, tentu saja. Dan kata mama kita harus ramah kepada semua orang.

Aku terus berjalan mengekor pada tetangga ku ini. Katanya nanti aku akan bertemu langsung dengan Ibu Pristy, beliau adalah manager restoran ini yang katanya msih saudara dari pemilik restoran ini. Berarti termasuk ke dalam orang penting di tampat ini. Aku harus bersikap baik kepadanya. Dan mengambil hati nya tentunya. Dengan begitu peluang ku untuk diterima bekerja di sini semakin besar pikir ku.

“Permisi Bu Pristy…,” sapa tetangga ku saat dia berada di depan pintu ruangan Bu Manager yang kebetulan tidak tertutup itu, namun juga hanya terbuka sepertiga bagian.

“Eh kamu, orang yang kamu janjikan jadi?” tanya balik dari Bu Pristy. Aku bisa mendengar sayup-sayup suara dari Bu Pristy dari belakang tetangga ku ini, yang terdengar lembut namun tegas. Aku taksir umur dari Bu Manager ini mungkin di kisaran pertengahan atau akhir tiga puluhan.

“Jadi Bu, ini anak nya sudah sama saya,” balas dari tetangga ku yang secara reflek membuat ku berjalan ke depan dan memposisikan diri di samping tetangga ku ini berdiri. Sekarang aku dapat melihat bagaimana rupa dari orang yang dipanggil Bu Pristy itu, wanita yang…sangat cantik meskipun sudah cukup berumur, yang nantinya kemungkinan akan menjadi bos ku.

Cantik. Iya, memang cantik. Wajahnya putih, bersih, dan halus meskipun usianya yang sudah tidak muda lagi. Dengan balutan make up yang tidak terlalu tebal namun juga tidak pelit, membuat penampilannya semakin menawan. Rambutnya tertata dengan rapi. Menunjukkan bahwa dirinya adalah sosok wanita berkelas yang sukses dengan karir nya, dan sukses juga merawat diri nya. Suami dari wanita ini pasti sangat beruntung memiliki istri seperti beliau. Ya aku yakin.

Tapi, begitu aku maju dan berdiri sejajar dengan tetangga ku, aku juga melihat seseorang lagi yang berada di ruangan Bu Manager, tepatnya duduk di depannya. Seorang wanita remaja. Terlihat dari baju yang ia kenakan, seragam SMA. Dan wanita itu adalah gadis dengan tas ransel mini berwarna biru muda yang aku liat di parkiran tadi. Bagaimana dia bisa berada di sini ya? Apa dia kerabat dari Bu Pristy? Atau malah anak nya? Aku tidak tau.

“Kamu tunggu di depan dulu Dis, nanti tante nyusul,” ucap Bu Pristy dengan tegas kepada gadis muda itu yang kalau aku tidak salah dengar tadi bu Pristy menyebutnya dengan sebutan Dis. Gladis? Gadis? Diska? Atau siapa? Tante? Ah ternyata keponakannya.

Si anak Gadis itu tidak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Aku tidak tau bagaimana ekspresi nya sekarang karena posisi duduknya yang menghadap ke Bu Pristy alias membelakangi ku. Tapi sesaat kemudian dia berdiri dan beranjak dari tempat duduknya lalu balik badan dan berjalan keluar menuju pintu.

Saat itu pula aku benar-benar terkesima dengan wajahnya yang…menurut ku sudah hampir mendekati sempurna. Bibirnya berwarna merah muda namun sepertinya bukan karena lipstick, merah yang alami. Tubuh nya sangat proporsiaonal, tidak kurus, tidak juga gemuk. Tidak pendek tapi juga tidak terlalu tinggi. Sama seperti tante nya yang memiliki kulita wajah yang putih, bersih dan halus, gadis ini pun demikian. Hanya mungkin dalam versi muda nya. Aku yakin Bu Pristy saat masih muda dulu pasti juga secantik anak gadis ini. Gila, cantik banget ini sih. Dan kalau dia adalah keponakan dari Bu Pristy, yang Bu Pristy sendiri adalah kerabat dari yang punya restoran, bisa jadi dia adalah anak dari pemilik restoran ini. Anak nya bos dong? Tuan Putri ternyata.

Si Tuan Putri yang tadi sempat di panggil Dis itu terus berjalan ke arah ku dan tetangga ku yang masih berdiri tepat di depan pintu. Namun kemudian tetangga ku ini sedikit bergeser ke samping untuk memberikan jalan kepada si Tuan Putri. Sayangnya aku masih terpeseona dengan kecantikan wajahnya, yang itu sukses membuat ku berdiri mematung, tanpa reaksi apapun bahkan ketika saat si Dis ini sudah berdiri tepat di depan ku. Bahkan aku masih mengabaikan keberadaannya yang sepertinya meminta akses kepada ku untuk berjalan keluar. Terkesan aku ini seperti menghalangi jalannya. Hingga kemudian tetangga ku yang sadar akan hal itu langsung menarik tubuh ku dengan kasar hingga si Dis ini bisa jalan keluar ruangan.

“Siang non…mohon maaf teman saya ini menghalangi jalannya…” sapa tetangga ku ramah dan penuh dengan kecanggungan. Dan ketakutan pastinya. Horor.

Gadis itu kemudian menatap sebentar ke arah tetangga ku ini. Masih tanpa kata-kata. Lalu kemudian menatap ke arah ku. Tingginya hanya sedikit diatas pundak ku, membuat pandangannya sedikit mendongak saat menatap wajah ku dengan…jutek nya. Iya jutek. Kesan cantik yang aku dapatkan tadi mendadak luntur begitu saja tergerus oleh dasyatnya tatapan mata nya yang terlihat sangat garang. Seperti harimau betina yang siap menerkam mangsa nya. Ibaratnya aku ini adalah seekor bayi impala yang tidak berdaya saat berada di depannya. Si Gadis masih terus berjalan pelan sambil matanya tetap tertuju ke arah ku. Aku, yang mulai sadar dengan kesalahan ku hanya bisa tersenyum sambil sedikit menunduk berusaha menunjukkan rasa hormat ku kepadanya yang bisa jadi adalah anak dari pemilik restoran ini. Tapi ekspresi mukanya masih tetap sama, jutek. Dan aku sangat takut kepadanya.

[table id=Lgcash88 /]

“Siapa nama kamu?” tanya Bu Pristy dengan tegas.

“A-Adi bu, Adi Rasatya Perdana,” balas ku dengan gugup. Sangat bertolak belakang.

“Panggilannya Adi Ra?”

“Bukan bu, cukup Adi saja. Kalau Adira nanti jadi leasing dong, hehehe.”

“Nama yang bagus. Saya Pristy, manager restoran ini. Kamu santai saja ya, keponakan ku memang begitu, kamu gugup banget soalnya tadi,” ucap si Bu Manager yang masih fokus pada layar monitor nya saat aku sudah berada di ruangannya, duduk di depannya, dan hanya berdua dengannya. Tetangga ku sendiri sudah di suruh kembali bekerja.

“Ah, i-iya Bu, maaf,” ucap ku sekenanya dengan gugup. Tidak bisa ku pungkiri kharisma nya, yang meskipun seorang perempuan, mampu membuat ku minder kalau harus berbicara dengannya.

“Loh, kenapa minta maaf? Justru saya yang harus nya minta maaf karena keponakan saya tadi sepertinya membuat kamu merinding ketakutan, hehehe.”

“Iya bu, eh enggak maksudnya,” jawab ku keceplosan. Gawat nih kalau aku mengakui membuatnya merasa aku tidak suka dengan sikap keponakannya.

“Hahaha, akui saja, tidak usah berbohong begitu,” ucapnya santai.

Bu Pristy kemudian mengalihkan pandangannya dari layar monitor dan fokus pada lembaran kertas yang berisi CV dan surat lamaran ku. Dipandanginya lembar demi lembar kertas itu. Dibolak-balik nya lembar demi lembar kertas yang menjadi salah satu penentu masa depan ku ini. Harapan ku untuk bisa bertahan dan setidaknya untuk memenuhi kebutuhan keluarga ku. Harapan ku untuk bisa mengais rejeki di tengah keras nya kehidupan kota Jakarta.

“Menarik,” komentar nya pelan.

“Maaf, apanya bu yang menarik?”

“CV kamu, nilai mu bagus-bagus, kamu juga terlihat seperti anak baik-baik, kenapa tidak lanjut kuliah saja? Malah bekerja?”

“Hahaha, harapannya sih juga begitu bu, tapi terkadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan”.

“Kenapa bisa begitu? Maksud ku, kenapa kamu harus bekerja?”

“Nasib…”

“Nasib bisa dirubah…”

“Justru ini saya sedang berusaha untuk merubah nasib saya…”

“Aku tidak mengerti dengan ucapan mu,” balas Bu Pristy sambil menyandarkan badannya ke sandaran kursi yang nampak sangat nyaman itu. Sekilas pandangan ku terfokus pada gundukan yang ada di dada nya namun segera aku alihkan. Gawat kalau keterusan.

“Bapak saya baru saja meninggal dua minggu yang lalu, tepat satu malam sebelum hari kelulusan bu. Meniggalkan ibu saya, saya dan adik perempuan saya. Itu artinya sekarang saya yang akan menjadi kepala keluarga. Bila bapak saya masih ada, saya bisa saja kuliah sambil bekerja, tapi kalau sekarang, boro-boro bu. Saya kerja tentu nya untuk biaya makan sehari-hari plus sekolah adik saya nanti bu, yang baru saja naik ke kelas dua. Eh, aduh, maaf ba-banget bu, malah jadi curhat ini, hehe,” balas ku dengan canggung karena merasa tidak enak malah menceritakan masalah pribadi ku kepada Bu Pristy.

“Owh…Sorry, turut berduka cita ya untuk almarhum bapak kamu. Kamu sepertinya anak yang jujur ya?”

“Tidak apa bu, tenang saja. Mudah-mudahan bu.”

“Kondisi yang kamu alami sekarang ini pasti sangat tidak enak ya?”

“Biasa aja sih bu, bukan bermaksud sok kuat, tapi ya mau gimana lagi?”

“Anak laki-laki memang harus begitu…”

“Saya sih dijalanin saja bu, siapa tau Tuhan kasih saya kemudahan rezeki, misalnya Ibu langsung terima saya kerja dengan gaji tinggi, misalnya, hehehe. Maaf lho bu, bercanda, hehehe.”

“Hahaha, tidak masalah. Satu pertanyaan lagi kalau begitu, apa motifasi kamu sekarang ini?”

“Motifasi? Ya seperti yang sudah saya jelaskan tadi sih bu, pertama yang pasti Ibu saya. Ke dua, Adik saya. Ketiga mungkin kuliah, itupun kalau ada rezeki lebih.”

“Pacar? Kamu tidak punya pacar? Belum ada rencana menikah? Umur kamu berapa?”

“Hahaha, Ibu meledek ya? Mana ada cewek yang mau sama saya yang jelek ini, miskin lagi…hahaha. Saya tidak punya pacar bu, dan umur saya juga baru sembilan belas tahun.”

“Masih muda ya? Kalau adik kamu tadi?”

“Adik saya tujuh belas bu…”

“Hmm…seumuran berarti dengan keponakan ku tadi, dia baru naik kelas dua juga.”

“Ooo…begitu ya bu,” balas ku dengan bingung karena tidak tau harus menanggapi apa.

“Iya. Baiklah kalau begitu. Karena aku memang sangat butuh karyawan baru, dan kamu juga kelihatannya anak baik-baik, anggap saja ini rezeki yang Tuhan kasih untuk Ibu dan Adik mu, kamu aku terima kerja di restoran ini.”

“Serius bu?” balas ku dengan sangat girang.

“Ya, tentu saja, kamu berubah pikiran?”

“Tidak bu, tidak. Saya masih minat kerja di tampat ibu ini. Terus, saya kapan mulai kerjanya?”

“Aku butuhnya seorang pramusaji, hmmm…kamu mulai bekerjanya besok saja, tapi aku punya satu syarat.”

“Apa itu bu?”

“Rapikan sedikit penampilan mu. Cukur rambut dan jenggot mu itu. Sanggup?”

“Oh, cuma disuruh potong rambut, hehehe. Sanggup kalau itu sih…”

“Bagus. Lamaran serta CV ini aku tahun ya untuk arsip kantor. Sekarang kamu boleh pulang.”

“Baik bu, terima kasih banyak sebelumnya,” ucap ku sambil tersenyum dan menyalami tangannya serta reflek hendak mencium tangannya namun segera ditarik nya tangannya yang lembut itu dari tangan ku. Dan saat itu juga aku merasa sangat malu.

“Ya, sama-sama,” dengan memberikan senyum juga, meskipun dengan sangat kaku. Mungkin kaget ada lelaki tanggung seperti ku yang hendak mencium tangannya, meskipun niat ku adalah untuk sungkem.

Aku pun berlalu meninggalkan ruangan bu Pristy, wanita yang akan menjadi bos ku di tempat ku bekerja ini. Sebelum pulang aku menemui dulu tetangga ku tadi untuk memberikan kabar baik ini. Setelah itu aku bergegas pulang untuk merapikan penampilan ku ini. Cukur rambut dan jenggot ya? Harus sih ini mah. Baru sadar juga ternyata rambut ini memang sudah cukup Panjang. Terakhir potong sebelum ujian nasional dulu.

[table id=Ads4D /]

“Asalamualaikum…” terdengar suara dari pintu depan. Sepertinya mama sudah pulang yang aku sendiri tidak tau beliau dari mana pergi nya. Adik ku sendiri, Rahma, Rahmawati Dwi Purnama nama lengkapnya, juga tidak tau kemana mama pergi seharian ini.

“Kak, bukain pintu sono…” perintah adik ku itu dengan cuek nya. Matanya masih saja fokus pada Drama Korea yang sedang ditontonya di layar televisi.

“Iye…” jawab ku singkat, malas, dan langsung beranjak ke depan.

“Waalaikumsalam…” balas ku begitu pintu ku buka dan melihat wajah mama yang terlihat sangat capek. Tentu saja, dia pergi seharian dan sekarang jam delapan malam baru pulang. Dan terlebih lagi aku melihat di belakang mama, dibalik tubuh nya yang ramping dan mungil itu, ada sebuah box karton besar yang aku tidak tau apa isi di dalam nya.

“Itu apa ma?” tanya ku dengan polos nya.

“Bantuin mama masukin dulu ke dalam, nanti juga tau,” balas mama setelah aku salim dan mencium punggung tangannya.

“Baiklah…”

Aku lalu bergegas mengangkat box besar yang ternyata berat ini. Bisa sakit pinggang nih kalau seperti ini.

“Berat juga ya mah, hehehe.”

“Emang, jangan diangkat, kamu dorong aja.”

“Emang ini apaan sih?”

“Udah masukin dulu aja…”

“Iya…”

Dengan susah payah akhir nya aku bisa memasukkan box besar ini ke dalam ruang tamu. Mama duduk di sofa ruang tamu dan memanggil Rahma.

“Kenapa ma?” tanya Rahma dengan polos.

“Kamu ini mama nya pulang bukannya di sambut, malah asik aja. Nonton korea pasti?”

“Hehehe, iya mah”, jabah Rahma yang kemudian mencium tangan mama. “Maafin Rahma ya ma…” ucapnya lagi sambil cengengesan.

“Si Rahma dari sore nonton korea terus itu ma, ga belajar-belajar…”

“Kompor…” balas adik ku itu sambil menjulurkan lidahnya.

“Sudah-sudah. Kak, bantuin mama buka box itu ya,” ucap mama.

“Itu apa ma?” tanya Rahma soal box besar itu, lagi.

“Mau tau aja apa mau tau banget?” ledek mama.

“Hiissshhh…kak buruan buka napa, penasaran nih…”

“Iya sabar…”

Aku lalu mengambil pisau dan membuka kemasan yang berada di dalam box karton besar yang barusan dibawa mama ini. Dan setelah sekitar lima menit bersusah payah membuka nya sendirian, karena mama yang lagi capek itu hanya melihat nya saja, dan adik ku yang ngeselin itu hanya jadi mandor, kotak besar ini berhasil aku buka. Dan isinya adalah…

“Mesin jahit?” tanya ku dan adik ku berbarengan.

“Hehem…”

“Siapa yang mau jadi penjahit ma?”

“Ya mama lah…”

“Mama bisa ma?”

“Ya kalau ga bisa mama ga akan beli alat nya dong sayang…”

“Serius mama bisa jahit?”

“Ya kita lihat saja nanti…”

“Kok kita ga pernah tau?”

“Karena papa mu dulu kan ga pernah ngebolehin mama kerja, dan mama juga ga pernah kepikiran bakalan menjahit, jadi ya ga ada gunanya juga mama kasih tau. Tapi dengan kondisi yang sekarang, ya mau ga mau. Kalau mama ga kerja kita mau makan apa? Sekolah Rahma gimana?”

“Mama tidak harus bekerja!!” ucapk ku dengan tegas.

“Oh ya? Trus buat makan sehari-hari pake apa? Emang kamu udah kerja?”

“Udah…”

“Kerja apa?”

“Pe-pelayan restoran…”

“Cukup untuk makan kita bertiga?”

“Ta-tapi ma, Adi ga mau mama kerja…”

“Mama tau, dan mama ngerti, tapi mau gimana lagi? Sekarang apa-apa mahal, belum lagi sekolah adik kamu…”

“Nanti Adi cari kerja sampingan lagi deh…Adi yang akan cari uang, buat kita bertiga, buat sekolah Rahma juga…”

“Kaaak…Hiks…”

“Ga bisa begitu juga dong sayang…udah kamu tenang aja deh, mama belum tua-tua amat kan? Masih seger, masih cantic juga kan? Hehehe…lagi pula ngejahit mah bukan pekerjaan berat. Dan mama sudah dapet kios juga buat usaha mama ini. Mama sudah bayar sewa nya pake uang peninggalan papa. Jadi yaaa, ga ada pilihan lain.”

“Tapi mah…”

“Sudah, pokoknya ikut saja apa kata mama.”

“Iya…”

“Kamu memang anak mama yang paling bisa mama andelin. Maafin mama yang…”

“Yang apa? Mama tidak salah apa-apa…memang sudah waktunya buat Adi kerja nyari duit…”

“Eh, eng-enggak. Maaf, coba papa kamu masih ada, kamu pasti bisa lanjut kuliah.”

“Jangan disesali ma, papa sudah tenang kok di sana. Insyaallah nanti Adi bisa kuliah juga kok kalau udah waktunya.”

“Aamiin, kita berdoa sama-sama yah buat papa. Dan doa mama juga selalu sama kalian, Rahma juga yah. Jangan males lagi. Rajin belajarnya biar pinter kaya kak Adi, yah…”

“I-iya mah…hiks…”

“Sudah jangan nangis, sini peluk mama…”

Aku dan Rahma kemudian beringsut mendekat ke arah dimana mama duduk dan memeluknya bersamaan. Kami bertiga berpelukan dengan penuh kehangatan. Aku, dan adik ku, memeluk wanita yang sangat aku sayangi ini. Yang sangat aku hormati. Namanya Fatmawati Purnama Yuni. Orang tua ku satu-satu nya. Orang yang demi apa pun aku rela melakukan apa pun untuknya.

Halaman Utama : Kesempurnaan

BERSAMBUNG – Kesempurnaan Part 01 | Kesempurnaan Part 01 – BERSAMBUNG

Sebelumnya ( Prolog ) | ( Part 02 ) Selanjutnya

Cerita Terpopuler