. Kesempurnaan Cinta Part 9 | Kisah Malam

Kesempurnaan Cinta Part 9

0
118
Cerita Dewasa Bersambung Kesempurnaan Cinta

Kesempurnaan Cinta Part 9

Moment of Love

Aku terbangun. Hari sudah pagi ternyata. Aku segera mandi. Mandi besar bo’, habis itu ibadah. Pesan mama tetap aku jaga, yaitu tetap ibadah di manapun aku berada. Setelah itu aku melihat Iskha yang sekarang tertidur. Sungguh dia sangat cantik ketika tidur. Pepatah bilang cewek akan kelihatan cantiknya ketika ia tidur. Kalau ketika tidur dilihat saja nggak menyenangkan, nggak cantik, maka dalam kehidupannya ia memang demikian. Ah masa’ sih? Tapi itu terbukti bagi Iskha. Aku usap rambutnya, aku belai, kemudian aku kecup keningnya.

Iskha menggeliat, ia membuka setengah matanya. Agak terkejut melihatku, “Kaget aku.”

“Bangun sana! Anak perawan koq bangunnya siang-siang,” kataku.

“Udah nggak perawan, ini pelakunya!” katanya sambil nunjuk hidungku.

“Hahahaha, iya deh, iya, tapi bangun dong. Masa’ calon istriku bangunnya siang terus, ntar ngurus aku ama anak-anakku gimana?” tanyaku.

Iskha lalu menyangga kepalanya dengan tanganya. “Hmm?? Calon istri? Emang aku pernah setuju kalau kamu jadi calon suamiku?”

“Hmm? Aku kurang apa coba? Ganteng, mapan, belum nikah?”

“Kamu ini narsis banget, siapa bilang ganteng. Kamu ini jelek, jelek banget. Bahkan dibandingin bintang Andre Garfield kamu nggak ada apa-apanya”

“Oh ya?”

“Iya, kamu jelek, narsis…tapi aku suka”

“Dasar,” aku lalu menggelitiki dia.

“Ahahahahaha, ampun Ci, ampuun…aku nggak kuat digelitiki,” katanya.

Aku terus menggelitiki dia, ia menjerit-jerit. Pagi yang menyenangkan. Kami banyak bercanda pagi itu. Walaupun kami tak langsung bilang kami telah jadian, tapi cukup sudah hati kami punya rasa yang sama. Hari ini aku dan timku jalan-jalan melihat pantai, aku mengajak Iskha turut serta.

Pantai Sanur beda dengan Kuta. Ya tentu saja. Di sini kalau sore apabila beruntung bisa melihat kawanan Lumba-lumba. Anggota timku yang lain malah entah kemana, katanya ingin belanja. Yang jelas aku membebaskan mereka mau kemana-mana asalkan sorenya balik ke hotel.

Kegiatanku bersama Iskha ya jalan-jalan di pantai, kemudian menikmati es kelapa muda. Setelah itu siangnya makan siang bersama. Yah, mirip orang pacaran pada umumnya. Kami pun menghabiskan waktu ke berbagai objek Wisata di Bali.

“Kamu nggak nelpon anggota bandmu?” tanyaku.

“Nggak, nanti malem pertunjukan terakhir koq. Besok kita balik ke Jakarta. Akunya aja yang nggak mau pulang,” jawabnya.

“Kenapa?”

“Yah, kamu tau sendiri. Aku tak suka hidup dengan papaku. Orangnya sok diktator. Meskipun begitu, tak dipungkiri ia membantuku membersihkan namaku karena peristiwa itu. Sampai sekarang aku gemetar ketika mengingat adikku sendiri. Bayangan Vira yang aku tusuk dengan tanganku sendiri membuatku seakan-akan menjadi pembunuh berdarah dingin, Ci.”

“Tapi kamu tak sengaja melakukannya, Iskha”

“Aku tahu, tapi tetap saja ada perasaan di mana aku tak bisa lari dari kenyataan bahwa aku seorang pembunuh”

Aku memegang bahunya. “Sudahlah, kamu tak sengaja. Justru yang harus disalahkan adalah papamu dan juga orang yang membuat kehidupan Vira menjadi hancur”

Iskha menghela nafasnya. “Kamu tak mengerti Ci, papaku sudah melakukan banyak hal kepada kami. Ia membiayai seluruh sekolahku, menuruti apapun yang kami mau. Semuanya.”

“Lalu kenapa Vira sampai terlibat obat-obatan terlarang?”

“Semuanya karena suatu hal. Ia dipaksa untuk berpisah dengan mamanya sejak kecil. Itulah yang membuat dia sangat membenci papa. Entah karena urusan apa sehingga Mama Roslina harus berpisah dengan papa. Mungkin karena papa saat itu ada mamaku. Tapi bisa jadi bukan. Aku tak tahu.”

“Maksudnya? Papamu kawin lagi ketika dia masih beristri?”

“Bisa dibilang begitu, poligami atau apalah. Atau mungkin Mama Roslina sekedar simpanannya”

“Lalu kamu masih kontak dengan Mama Roslina?”

“Beliau udah meninggal beberapa tahun yang lalu. Beliau tak punya siapa-siapa. Bahkan kematiannya saja tak diketaui kalau para tetangganya tak mencium bau busuk dari rumahnya. Beliau mati membusuk karena sakit.”

“Oh, maaf. Kasihan sekali”

“Makanya Vira sangat dendam kepada papa. Dia tidak ingin disayang. AKu pun dimusuhinya. Ia jadi bergaul dengan teman-temannya yang sama sekali tak baik. Dugem, mabuk, madat sudah jadi kebiasaannya semenjak dia kenal dengan seseorang yang namanya Viki kalau tak salah. Aku tak mengenalnya. Hanya pernah melihatnya saja ketika bersama dengan Vira di suatu malam.

“Aku pergoki keduanya pulang dalam keadaan mabuk. Bahkan Vira mengajak Viki untuk nginap di rumah. Aku sangat naik pitam dan mengusir Viki. Akhirnya Viki pun pergi setelah aku minta bantuan satpam untuk mengusir dia keluar dari rumah. Setelah itu terjadilah pertengkaran antara aku dan Vira. Pertengkaran kami pun pada puncaknya. Ia mabuk dan tak sadar mengambil pisau. Kemudian aku berusaha mengelak dan merebut pisau itu. Tapi pertengkaran itu mengakibatkan secara tak sengaja aku menusuk pisau itu ke perutnya. Aku lalu tersadar dan menangis, saat itulah papaku pulang dan melihatku bersimbah darah. Awalnya papa nggak percaya kepadaku. Tapi setelah ia melihat kamera CCTV yang ada di rumahku barulah ia percaya. Tahu sendiri papa sangat sensitif terhadap harta kekayaannya. Ia mengira aku membunuh Vira untuk mendapatkan hak waris,” jelas Vira.

“Begitu ceritanya, lalu si Viki itu?” tanyaku.

“Aku nggak begitu tahu. Aku hanya sekali bertemu dengannya waktu itu,” jawabnya.

“Sini, aku peluk,” kataku. Iskha lalu merebahkan badannya ke diriku. Kupeluk dia sambil kutepuk-tepuk punggungnya. “Everything is gonna be alright. Everything is gonna be alright.”

Iskha pun makin erat memelukku. “Makasih ya Ci, engkau sudah menentramkan hatiku”

“Aku nggak dendam kepadamu koq. Kalau kamu tak keberatan, menikahlah denganku,” kataku.

“Hmm? Kamu yakin menikah dengan seorang pembunuh seperti aku?”

“Kenapa nggak? Menurutku kamu bukan pembunuh, kamu tak sengaja melakukannya”

“Tapi tetep saja, aku menghilangkan nyawa adikku sendiri”

“Sudahlah, jangan ada lagi kata merasa bersalah. Aku ingin kamu minta maaf ke sahabatku, Doni. Dia selama ini menanggung semua kesalahanmu. Kamu bisa?”

“Oh iya, Doni. Aku juga merasa bersalah kepadanya.”

“Iskha, lihat aku!” aku melepaskan pelukanku. Ia pun menatap wajahku. “Kamu jangan merasa bersalah lagi ya? Kita akan hadapi bersama. Kamu akan aku antarkan ke Jakarta. Kalau kamu tak mau pulang ke rumah, kamu bisa tinggal denganku untuk sementara waktu. Aku akan datang ke rumahmu untuk melamarmu.”

“Sungguh Ci?”

Aku mengangguk.

“Kamu tahu sendiri, aku sudah bosan ditanyai oleh papa dan mamaku kapan kawin,” kataku.

Iskha tersenyum, “Love you Arci jelek”

“Me too, Hello Kitty,” kataku.

************** Perfect Love **************​

Menyewa mobil, keputusan yang tepat ketika berada di Bali ini. Aku jadi bisa jalan-jalan kemana-mana. Total mobil itu aku sewa dua hari. Mobil yang aku sewa tak perlu besar. Kecil aja cukup toh emang tujuannya bisa nganter Iskha kemana-mana dengannya. Terpilihlah mobil Toyota Yaris warna silver seperti kepunyaanku. Habisnya aku sudah terlanjur jatuh cinta ama City Car yang satu ini.

Malam itu aku mengantar Iskha ke Kafe tempat Made. Melihatku datang bersama Iskha Made langsung menyapaku.

“Wogghh…udah ketemu yang dicari ternyata,” katanya.

Iskha ngamplok di lenganku. “Nyari apa?” tanyanya.

“Nyari kamu Hello Kitty!” kataku. “Berkat bantuan Made ini akhirnya aku bisa nemuin kamu”

“Ohh….hehehe, ternyata Pak Made kenal ama Arci?” tanya Iskha.

“Iya, kami kenal lewat Facebook, kebetulan kami berada di group yang sama trus saling kenal. Saling ngobrol trus ngobrolin kamu, akhirnya kita ketemuan di sini dan Arci nemuin kamu,” kata Made.

“Makasih ya, cowokku ini kangen ama aku, nggak tahu kalau dia nyari aku seperti ini,” kata Iskha.

“Iya, iya, aku bisa lihat koq. Ya sudah, mau beraksi sekarang apa nanti?” tanya Made.

“Nunggu yang lain dululah,” kata Iskha.

“Oke, aku tinggal dulu kalau begitu,” kata Made.

Kami akhirnya duduk di sebuah meja yang kosong. Aku dan Iskha ngobrol ngalor ngidul, tapi aku lebih perhatian kepada Iskha dengan bandnya yang ternyata sudah terbentuk cukup lama. Sejak lama dia memang anak band, menjadi vokalis. Ia pernah juara nyanyi, ia juga kepengen ikut Indonesian Idol dulu, tapi ia lebih cinta bandnya jadinya mengurungkan niat. Moga saja bisa rekaman suatu saat nanti katanya.

Aku juga bercerita banyak tentang mama dan papaku. Juga bagaimana di rumah semenjak tanpa kehadiran dirinya. Iskha sudah tak sabar ingin merombak kamar apartemenku lagi. Hahahaha, aku tak sabar melihatnya. Tak terasa selama aku ngobrol dengan dia tanganku tak henti-hentinya menggenggam tangannya. Sesekali aku mengusap rambutnya, wajahnya yang manis dan imut itu telah membuat dadaku berdesir sekali lagi.

Aku sekali lagi bilang, “I love you beib”

“I love you too,” katanya.

Tak berapa lama kemudian anggota bandnya datang. Iskha memperkenalkan mereka satu persatu. Total ada lima orang. Dan mereka cowok semua. Mereka adalah Rio, Fadil, Reza, Iyon dan Eka.

“Ooo,…pacarnya mbak Iskha,” kata Rio.

“Lho, kukira itu si Indra pacarnya,” kata Reza.

“Bukan, Indra bukan siapa-siapa,” kata Iskha.

“Soalnya kalian selalu bersama sih,” sambung Reza.

“Dia cuman bantu aku aja di sini. Dulu temen pas di Jakarta. Kebetulan aku butuh tempat tinggal di Sanur. Yah, dia cukup baik koq”

“Ya deh, ya deh, percaya,” kata Eka.

“Guys, ini show terakhir. Buat semarak mungkin yah. Yaaahh….walaupun kalian tahu kalau ini cuma kafe bukan panggung yang gedhe,” kata Iskha.

“Beres deh mbak. Eh, ngomong-ngomong baliknya gimana? Bareng-bareng kayak kemaren atau mbaknya sama masnya?” kata Iyon.

“Hmm…nggak tau nih. Yang, bisa nganter aku sampe Jakarta nggak?” tanya Iskha kepadaku.

“Bisa dong,” jawabku.

“Cieee…udah ada yang menjaga nih. Hahahaha,” goda Eka yang kemudian disambut tawa semua.

Ya, malam itu perasaanku berbunga-bunga. Karena Iskha ada di sisiku. Aku pun menunggui dia sampai selesai pertunjukan. Yah, tak perlulah aku cerita band D’Espresso nyanyi sampai selesai. Yang jelas setelah selesai pertunjukan kita semua pada pamit. Anggota band yang lainnya mau berangkat besok, aku juga pulang besok. Tapi pesawat kami beda. Aku pun menggandeng tangan Iskha keluar kafe.

“Besok balik Jakarta nih, kamu kepengen pergi ke tempat lain?” tanyaku.

“Iya, kepengen ke Sindey, London, Paris, Moskow, Dubai,” jawabnya sambil nyengir.

“Aduh, ya nggak pulang-pulang dong ntar”

“Hihihihi, yuk! Aku ngikut kamu ajah. Oh iya, Ci. Tamuku udah pergi”

Aku menoleh ke arahnya, “Hmm? Jadi?”

“Jadi….”

“Jadi….”

“Yah, sebagai permintaan maafku karena kemarin dapet kentang. Jadi….”

Ah bego, aku ngerti maskudnya, “OKE!”

Kami pun buru-buru masuk mobil, setelah mesin mobil dinyalakan kami pun melaju menuju ke hotel. Karena jaraknya nggak terlalu jauh yah mobilnya kan nggak butuh banyak gerak. Hehehehe. Tapi begitu kita udah meluncur, di tengah jalan tiba-tiba sebuah mobil Audi berwarna biru menghadangku. Mobilku pun langsung berhenti. Aku kenal mobil siapa itu. Mobilnya Indra yang kemarin. Indra pun segera keluar dari mobilnya.

“Berhenti! Iskha, aku mau bicara,” katanya.

“Eh, beib. Kamu mau bicara atau nggak ama orang ini?” tanyaku.

“Nggak aja deh,” jawab Iskha.

“Ok, madam,” kataku sambil mengambil gigi R. Mobilku mundur.

“Hei, hei! Tunggu!” teriak Indra sambil mengejarku.

Dengan cepat aku memutar kemudi kemudian mengganti gigi ke satu. Kemudian mobil sudah berlari. Menjauh. Dari spion aku bisa melihat Indra buru-buru balik ke mobilnya. Setelah itu, terjadilah kejar-kejaran. Entah kenapa juga kami kejar-kejaran, padahal tinggal beberapa ratus meter lagi kami sampai di hotel. Iskha ketawa melihat tingkah polah Indra tadi, pasti nggak nyangka kalau mobilnya jalan mundur trus muter balik.

“Belok gang itu Ci, cepetan!” kata Iskha.

“Aku mengerti,” kataku ketika melihat sebuah gang kecil. Segera aku matikan lampu mobil dan berbelok ke sana. Mobil Audi warna biru tadi melintas saja tanpa tahu kalau kami cuma sembunyi di gang.

Iskha ketawa keras. “Bego, ahahahahaha”

Aku juga ikut tertawa, setelah aku menyalakan lagi lampu mobil dan pergi dari tempat itu menuju hotel. Pasti si Indra muter-muter kayak orang bego nggak nemuin kami. Tak berapa lama kemudian kami sampai di hotel lagi. Aku dan Iskha kembali menuju ke kamarku dengan naik lift.

“Dia pasti muter-muter kaya’ orang bego, hahahaha,” Iskha ketawa cekikikan.

“Biar aja, habis orangnya ya ngehadang mobil seenaknya. Nggak tahu apa aku ini mahir nyopir?” kataku.

“Huuu, sombong!” katanya.

Lift terbuka dan aku melihat beberapa anggota timku bawa kue ulang tahun.

“Lho, siapa yang ultah?” tanyaku.

Mereka semua bengong melihatku. Iskha juga menoleh ke arahku lalu ke arah mereka.

“Lho, kukira bapak keluar tadi,” kata mereka.

“Ini ultahnya Arci?” tanya Iskha.

“Hehehehe, iya mbak,” jawab Eko.

“Yaelaaah, nggak jadi ngasih surprise dong. Hahahahaha, selamat yah. Happy Birthday!” kata Iskha.

Aku nggak pernah menyangka anggota timku sendiri hafal ulang tahunku. Tentu saja, aku tak pernah menyangka juga mereka mau memberikan surprise kepadaku, tapi gagal. Kami pun akhirnya merayakan ulang tahun kecil-kecilan ini. Semua ornag aku undang ke kamarku. Aku menyuapi kue ulang tahun ke Iskha. Semuanya memberikan ucapan selamat bahkan ada yang ngasih aku hadiah semacam pigura yang isinya foto anggota timku. Katanya biar aku ingat. Liburan yang menyenangkan. Stress hilang, ketemu orang yang dicintai. Tapi kami tetap harus kembali.

************ Perfect Love *************​

Hari sudah malam. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan di Bali ini tanpa mencumbui Iskha. Lagipula tadi kan katanya dia udah pergi tamunya. Aku di kamar bercumbu dengannya. Bibir kami saling memagut, desahan nafas Iskha membuatku bersemangat untuk bisa memberikan stimulus-stimulus ke dadanya yang sudah terekspos semenjak kamarku sepi dari timku tadi. Iskha menggeliat ketika aku mengecup lehernya, lalu turun ke dadanya.

Aku kenyot putingnya yang mengacung itu. Puting yang lembut, berwarna kecoklatan yang sudah mengeras. Begitu lembutnya sampai kulit buah dadanya aku hisap juga, benar-benar memabukkanku.

“Kamu suka dadaku ya Ci?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Iya nih, kenyal”

“Ahh…beib, isep dong!”

Aku menghisap buah dadanya itu. Iskha menggeliat. Kedua tubuh kami sudah tak berbusana lagi, tak ada lagi perasaan malu menyelimuti kami. Seolah-olah kami memang benar-benar membutuhkan ini, membutuhkan cumbuan, belaian dan pergesekan kulit kami pun menandakan ini adalah momen yang sangat kami inginkan.

Setelah puas mengelamuti kedua buah dadanya, ciumanku pun beralih ke perutnya. Terus dan terus hingga aku bertemu dengan liang surgawinya. Kubenamkan mulutku disana menghisapi apapun yang ada di sana. Lidahku menari-nari, menusuk-nusuk, menggelitiknya. Terlebih ketika klitorisnya aku hisap lembut. Iskha menggelinjang sambil meremas kepalaku.

“Cii…Aaahhkk…udah Ciii…aku nggak tahan!” katanya.

Aku menurutinya, menyudahi warming up ini. Tapi tanganku masih nakal. Jemariku mengubek-ubek kemaluannya hingga membuat Iskha mencengkram lenganku. Kedua pahanya mengatup dan badannya melengkung.

CRUTTT! CRUTT! CRUTT!

Ia squirt.

“Arciiii….duuuhh…aaaahhhh!” ia menjerit. Nafasnya terengah-engah seperti baru saja lari maraton. “Tuuhh..kaaan…aku keluar”

“Hehehehe, enak toh?” tanyaku.

“Huuu….ayo dong, masukin!” katanya.

“Iya, iya, bawel kamu ini”

Iskha memberikan senyum manisnya kepadaku lagi. Kami berciuman hot, lagi-lagi bibir kami berpagutan. Aku pun menempatkan kepala pionku ke liang senggamanya yang sudah berlendir. Sangat mudah masuknya, langsung batang itu disambut dengan sedotan-sedotan lembut liang senggama Iskha yang sudah becek.

“Aaahh…Cii… aku kangen kamu masuki,” kata Iskha.

“Aku juga kangen masukin ini ke kamu,” kataku.

Akhirnya aku goyang dengan lembut dengan gaya misionari. Aku goyang pinggulku sambil menatap matanya. Ini adalah momen kami yang tak akan aku lupakan. Momen di mana seluruh perasaan cintaku akhirnya bisa tercurah ke tempat yang semestinya.

“Aahhh…aahh…Ciii…terus Ciii, teruuss”

“Aku kangen kamu Is, enam bulan tidak bertemu denganmu rasanya kangeeeen banget”

“Aaahh…aahh… iya, aku juga Ci. Ayo Ciii…terusss!”

Batangku yang sudah maksimal itu keluar masuk menggesek kulit kemaluannya. Nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tapi kenikmatan yang aku rasakan ini sangat luar biasa. Iskha memelukku dengan erat, dada kami berhimpitan sensasinya tambah nikmat. Aku bertumpu dengan kedua lenganku yang sekarang berada di punggungnya. Kening kami saling menempel. Iskha, inilah rasa sayangku untukmu, aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin kebahagiaan ini berlalu begitu saja. Aku tak ingin perjumpaan kita hanya sampai di sini.

Aku sesekali mengenyot putingnya. Hal itu membuat ia makin menggelinjang. Kedua pahanya mengapit pinggangku seolah tak ingin aku lepas dari tubuhnya.

“Cii…yang kenceng Ci, ayo…ayoo!” katanya.

Aku pun menggoyang dengan cepat. Aaahh….enak gilak. Aku memeluk Iskha lebih erat lagi sambil menciumnya. Nafas kami memburu dan sepertinya aku mau keluar. Goyangan-goyangan pinggulnya yang meliuk-liuk membuat kemaluanku serasa gatal ingin segera mengakhiri ini. Terlebih aku juga bergoyang dengan cepat.

“Cii…aku keluar Cii..keluarin sama-sama yuk,” katanya.

“Yuk, aku juga nih,” kataku.

Hentakan-hentakan selakangan kami akhirnya sudah sampai ke puncaknya. Tak perlu ditanya lagi bagaimana semburan air maniku membasahi rahimnya untuk kesekian kali. Aku sudah komitmen ingin menikahinya, jadi kalau pun jadi tak masalah. Aku sudah benar-benar jatuh cinta kepadanya. Kedua mata kami saling berpandangan cukup lama ketika tembakan-tembakan orgasme melanda kami.

Iskha menatapku seolah-olah berkata, “Seharusnya ini semua tak terjadi kepada kita. Aku juga mencintaimu.”

“Aku cinta kamu Iskha,” kataku yang kemudian disambut dengan pagutan.

Moment of Love, ini adalah kedua kalinya kita berpelukan setelah bercinta. Iskha tidur dalam pelukanku. Memelukku seolah tak ingin lepas lagi. Sayangku, tidurlah dalam pelukanku. Rasakanlah rasa cintaku. Aku tak ingin melepaskanmu lagi. Engkaulah bidadariku. Dan aku akan menjemputmu menjadi bidadariku. Sedikit lagi, ya sedikit lagi.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part