. Kesempurnaan Cinta Part 8 | Kisah Malam

Kesempurnaan Cinta Part 8

0
69
Cerita Dewasa Bersambung Kesempurnaan Cinta

Kesempurnaan Cinta Part 8

Aku Cinta Kamu, Sungguh

6 bulan kemudian……….

Tak mudah melupakan apa yang telah dilakukan oleh Arthur. Tapi live must go on. Aku selama enam bulan ini konsentrasi membentuk tim RnD menjadi hidup. Dan ya, mereka hidup. Tidak lagi menjadi zombi. Aku berikan hiburan sebulan sekali. Dan aku berikan waktu satu hari di mana mereka boleh melakukan apa saja pada hari itu. Selama lima hari kerja mereka benar-benar harus serius mengembangkan produk yang telah aku rancang, kemudian pada hari sabtu mereka punya waktu bebas di kantor. Entah ngapain aja. Asalkan bisa dilaporkan dan publish di situs kami. Ya, boleh jadi itu adalah Fun project.

Macam-macam fun projectnya. Seperti membuat sebuah game sederhana, kemudian ditaruh di halaman Download game gratis di website kami. Dalam satu bulan akhirnya tim RnD tiba-tiba jadi sangat sibuk dan orang-orangnya menyenangkan. Bahkan perusahaan kami pun mulai membuat Cloud Server. Dan dalam waktu kurang dari tiga bulan aku bisa membuat sebuah ruangan RnD menjadi sangat menyenangkan yang bahkan membuat semua bagian iri. Bagaimana tidak?

Kalau dulu ruangannya penuh dengan komputer, kabel-kabel di lantai kemudian tembok yang penuh dengan tempelan kertas sekarang benar-benar nggak akan ditemukan. Semua kabel disembunyikan di bawah lantai. Tembok dibersihkan dari tempelan-tempelan. Hanya ada sebuah papan dan papan itulah tempat kami untuk menempelkan catatan dan itu khusus catatan tim. Sedangkan catatan pribadi ditempel di meja kerja masing-masing.

Di tengah ruangan ada sebuah kasur sofa yang sangat empuk yang bentuknya melingkar, sehingga seluruh anggota tim yang akan rapat akan nyaman duduk di sana. Di ruangan ini juga ada kulkas yang harus ada isinya. Jadi ketika anggota tim kehabisan makanan kesukaannya, atau minuman kesukaannya tinggal panggilin OB untuk diisi. Semuanya dari anggaran RnD. Anggaran tim RnD sendiri akhirnya menjadi anggaran yang paling besar untuk kantor kami tapi itu imbasnya sangat selaras dengan apa yang dihasilkan. Gara-gara aplikasi yang dikembangkan oleh tim kami perusahaan mendapatkan provit yang sangat memuaskan. Dalam waktu 6 bulan nilai saham perusahaan kami menanjak dan terus menanjak. Perusahaan puas, bos puas, semua puas, bahkan tim kami mendapatkan liburan ke Bali. Yah lumayanlah, daripada nggak.

Dalam sebuah rapat terakhir hari ini tak henti-hentinya Pak Romi berterima kasih kepadaku atas usaha kerja kerasku. Yang paling sibuk sekarang adalah tim marketing yang mana mereka kelabakan harus memasarkan produk-produk baru yang sepertinya tak akan habisnya dibuat oleh Tim RnD. Dan gara-gara itulah tim RnD sekarang lebih menyenangkan, mereka lebih banyak “main-main” kalau di kantor. Kalian mungkin bakal terkejut kalau di kantor kami satu-satunya ruangan yang penuh dengan hiburan adalah di ruangan tim RnD. Kalau kami suntuk, kalian akan melihat kami semua bermain game bersama. Atau bahkan sebagian bermain-main bilyard. Tapi setelah suntuk hilang kami tetap harus kerja. Yep, it’s perfect.

Sebenarnya liburan ke Bali juga aku yang mengusulkan. Tak ada salahnya toh pergi ke Bali? Tapi aku lebih prefer ke Lombok sih sebenarnya. Di sana pemandangannya juga bagus. Tak seperti Bali, di sana sedikit tempat untuk berbelanja. Hal inilah yang sebenarnya kami cari benar-benar untuk refreshing. But maybe next time.

Kami pun berangkat ke Bali. Bali? Yap Bali. Begitu turun ke Bandara Ngurah Rai anggota tim RnD seperti orang yang norak selfie sana sini. Ya dong, biar anggota tim lainnya juga iri. Terlebih ketika ada petugas yang menyambut cakep juga. Kami langsung dijemput oleh mobil travel yang langsung mengantar kami ke salah satu hotel di Sanur. Kami menginap tiga hari dua malam. Kami sudah membooking sepuluh kamar. Kegiatan kami total liburan dan aku membebaskan anggota timku membuat acara sendiri. Terserah mau jalan-jalan atau kumpul bareng.

“Bos, nanti malem mau bakar jagung nih di pantai. Mau ikut?” tanya Eko, salah satu anggota timku.

“Lihat aja yah, aku kepengen jalan-jalan ke kafe ntar malem,” jawabku.

“Waduh, ke kafe?”

“Iya, katanya di salah satu kafe dekat sini suasananya cozy. Kepengen nyoba aja karena penasaran,” kataku. “Kalian silakan aja bersenang-senang. Toh juga gratis. Tapi makannya bayar sendiri-sendiri yah!?”

“Hahahaha, iya deh bos,” jawab Eko.

Malamnya para anggota timku ke pinggir pantai. Mereka bakar jagung dan bersenang-senang di sana. Terserah mereka sih. Biarkan mereka berbuat itu karena pasti bulan-bulan terakhir ini mereka sangat penat.

Aku pun jalan-jalan sendirian sambil sesekali cuci mata kepada para turis yang lewat. Tak lama kemudian aku masuk ke sebuah Kafe. Kafe ini sebenarnya milik temanku. Bukan teman di dunia nyata, tapi teman di dunia maya. Aku menelpon dia. Namanya adalah Made.

“Halo?” sapaku.

“Halo, Arci! Waah, udah sampai di Bali?” dia langsung merespon.

“Iya nih ada di kafemu sekarang,” jawabku.

“Whoaa?! Beneran? Oke deh, aku turun!” katanya. Ia menutup teleponnya.

Aku pun masuk ke kafenya dan langsung disambut oleh pelayannya. Aku kemudian duduk di sebuah meja yang kosong. Sang pelayan langsung bertanya “Pesan apa pak?”

Aku menjawab, “Cappucino aja satu”

“Ada yang lain?” tanya sang pelayan.

“Nope, sementara itu saja,” jawabku.

“OK, segera hadir,” katanya.

Dari arah lain muncullah orang yang bernama Made ini. Dia perawakannya agak pendek, rambutnya botak dan dari tampangnya orangnya sangat menyenangkan. Dia memakai kacamata bulat dan perutnya sedikit buncit. Gaya jalannya sangat lucu. Begitu melihatku di meja sendirian ia langsung menyapaku.

“Arci, gimana kabar?” sapanya sambil menyalamiku.

“Great, I Hope,” jawabku.

“Gila, liburan ke sini juga kamu,” katanya.

“Hahahaha, yah biasalah bonus dari kantor. Kapanlagi aku bisa mampir ke sini?”

“Hehehehe, halah aku tahu tujuanmu kemari. Kamu nyari dia, bukan?”

“Sok tahu lo!”

“Kalau kamu nggak ngasih tahu fotonya ya mana mungkin kita bisa berjodoh?”

“Jadi kapan D’Espresso akan tampil?”

“Habis ini, kamu bisa lihat panggungnya sedang disiapkan!” Made menunjuk ke panggung. Di sana tampak seksi perlengkapan sedang mempersiapkan drum, gitar, dan sound.

“Biasanya sampai jam berapa?” tanyaku.

“Paling sampai dua jam show-nya, tergantung permintaan sih. Biasanya ada tiga band. Kebetulan D’Espresso dapat kesempatan awal”

Aku mengambil nafas dalam-dalam. Terlebih ketika aku melihat seorang gadis naik ke atas panggung. Aku akhirnya menemukannya. Orang yang aku cintai selama ini. Iskha Kusumaningrum. Aku jadi sadar sekarang, satu hal kebodohanku adalah Vira tidak bisa bermain musik. Bahkan dari apa yang aku dengar saudara tirinya itu tak suka musik. Tapi Iskha suka, dia juga pintar bermain musik dan dia adalah vokalis sebuah band yang ngamen ke mana-mana. D’Espresso. Itulah julukan bandnya.

Made menepuk-nepuk pundakku. Aku tersenyum kepadanya, “Makasih sob, makasih”

“Apapun untukmu teman,” katanya.

Sang pelayan menghampiri kami dan memberikan Cappucino pesananku. Melihat pemilik Kafe juga ada di sana sang pelayang menghormat.

“Yang ini nggak usah dimasukkan bil. Aku yang mentraktir,” kata Made kepada anak buahnya.

“Baik pak,” katanya lalu pergi meninggalkan kami.

“Wah, makasih lho,” kataku.

“Halah, nggak usah dipikirkan. Cuma segelas aja. Kalau nambah baru bayar!” katanya disambung dengan gelak tawa kami.

Aku kembali mengarahkan pandanganku ke panggung. Iskha, sejak terakhir kali kamu pergi aku selalu merindukanmu. Apa kamu tahu? Aku tak bisa melupakanmu, makanya aku berusaha mencari jejakmu. Terlebih karena aku tak mau lagi berhubungan dengan Arthur. Aku tak mungkin bertanya kepadanya di mana dirimu. Maka aku mencari-cari dirimu. Dan perfecto, kamu ada di Bali setelah aku kenal dengan seorang pengusaha kafe dalam sebuah forum di internet. Akhirnya aku dan Made dekat. Kami pun saling berbagi pengalaman bahkan saling sharing orang yang disuka. Sampai kemudian aku beritahukan foto orang yang aku suka. Dia kaget karena orang yang ada di foto itu adalah kamu. Seorang vokalis band D’Espresso. Dan band itu sedang ngamen di kafe miliknya.

Kalau kamu mencintaiku kenapa kamu menghindar dariku? Kenapa kamu jauh dariku? Apa alasan yang paling mendasar kamu melakukan hal itu? Sampai sekarang aku tak pernah mengerti akan hal ini. Satu-satunya yang membuat diriku mengerti adalah ucapanmu bahwa Cinta tidak butuh alasan. Karena pada dasarnya cinta itu buta. Sama seperti cintaku kepadamu. Sekalipun aku tidak suka kepada ayahmu tapi rasa cintaku kepadamu tak akan pernah sirna. Aku mengakuinya sekarang, aku mencintaimu.

Pertunjukan pun dimulai. Band D’Espresso mulai memainkan musiknya. Dia mulai melantunkan lagu-lagunya. Made ijin untuk pergi karena dia sibuk. Akhirnya aku sendirian di mejaku menatap wajah Iskha dari kejauhan. Pembawaannya ketika memainkan lagu sungguh luar biasa. Aku tak henti-hentinya menikmati setiap alunan nada, setiap suara yang ia bawakan.

Aku menikmati musik itu sambil menikmati juga Cappucino sampai habis. Iskha sama sekali tak bisa mengenaliku dari jauh. Aku bisa memaklumi itu. Tapi aku sangat mengenalinya. Kemudian setelah lagu terakhirnya selesai dan band itu pergi aku mengikutinya.

Ada perasaan senang, berkecamuk dan lain-lain hinggap dalam diriku. Tapi, ketika aku hampir saja menyapanya ketika keluar kafe, aku mendapati seseorang cowok membawa mobil. Mobil Audi biru entah tipe apa. Sepertinya mobil sport. Adegan berikutnya yang membuatku ilfil, sang cowok malah mencium kening Iskha. Who the hell is he? Hampir saja aku menyapanya tapi nggak jadi.

Sebentar aku harus memikirkannya dengan kepala dingin. Oke, bisa jadi dia saudaranya. Tapi Iskha hanya punya satu saudara yaitu Vira. Lalu siapa cowok ini? Pacarnya? Bisa jadi sih. Bukankah kita sudah berpisah selama enam bulan dan selama itu pula dia menghilang. Lalu kenapa dia bilang mencintaiku ketika terakhir kali kita berpisah. Tidak, tidak, tidak. There is something wrong. Iskha kemudian masuk ke dalam mobil tersebut. Sang cowok tersenyum kemudian dia pun ikut masuk ke dalamnya. Tak lama kemudian mobil mulai melaju. Aku memanggil taksi, lalu segera masuk.

“Ikuti mobil Audi di depan itu pak!” kataku kepada sang sopir.

Akhirnya terjadilah kucing-kucingan antara aku dan mobil itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku harus mengetahui siapa sebenarnya cowok itu. Kalau toh itu pacarnya, maka ia harus rela Iskha putus malam ini juga. I love her, I adore her. And I believe she still loves me.

Setelah kurang lebih setengah jam akhirnya mobil pun berhenti. Taksiku juga ikut berhenti.

“Matikan lampunya pak!” kataku. Akhirnya lampu taksi pun dimatikan agar tak membuat mereka curiga. Aku melihat Iskha keluar diikuti cowok tadi.

Ketika keluar mereka tampak terlibat cekcok. Iskha marah-marah. Sang cowok coba menenangkan. Tapi Iskha keburu marah, sang cowok mulai memegang tangan Iskha. Aku lalu segera membayar argo taksi, aku lalu berlari mendekat ke arah mereka.

“Lepasin, lepasin gue!” kata Iskha.

“Ayolah sayang kita sudah lama jalan masa’ aku nggak boleh cuman mencium keningmu?” tanya cowok itu.

“Indra, kita itu cuma temenan. Dan lo bukan apa-apa gue, jadi jangan sok akrab ama gue. Lo bukan pacar gue!” teriak Iskha.

“Tapi gue suka ama lo Is!”

“Gue akan bayar deh semua yang udah lo korbanin buat nolong gue, tapi nggak buat cari kesempatan seperti ini. Gue kabur dari rumah karena gue muak lihat papa gue. Tapi lo tega ya cari-cari kesempatan seperti ini?” Iskha mendorong cowok itu lalu beranjak menuju ke sebuah rumah. Sepertinya itu rumah kontrakan.

“Baiklah, fine. Lo akan nyesel gara-gara nolak gue. Besok lo angkat kaki dari rumah kontrakan itu! Pergi sana!” kata cowok itu.

“Nggak perlu repot-repot. Gue pergi malam ini!” kata Iskha.

Cowok itu menggebrak mobilnya lalu ia masuk ke mobil. Mobil Audi berwarna biru itu pun menyala mesinnya. Sejurus kemudian mobil mewah itu melaju meninggalkan tempat itu. Tampak Iskha menghela nafas lega. Aku lalu menghampirinya. Dia sedari tadi tak menyadari keberadaanku.

“Hai, Hello Kitty!?” sapaku.

Iskha terkejut dan langsung berbalik. Begitu melihatku ekspresi wajahnya berubah. Mungkin di sekarang bingung. Kenapa orang setampan aku kelayapan malam-malam dari Jakarta menuju Bali dan menyapanya dengan sebutan Hello Kitty? Nggak, nggak mungkin ia mikir begitu. Dia bakal mikir, “Cowokku, ngapain kamu di sini?” Itu juga terlalu berlebihan. Kita masih…apa yaa??…boleh dibilang hubungan yang complicated. Dalam pikirannya sekarang mungkin “Oh shit, there is my past. I must runaway”

Serius dikit dong, Ah! Dia ini pasti mikir, “Arci?! Ngapain kamu ada di sini?” Ya, sesuai dugaanku. Dia bilang seperti itu.

Aku harus bilang jujur dong, “Nyari kamu”

Iskha terdiam seribu bahasa. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Kalau toh aku menduga-duga pun aku pasti akan salah. Pikiran cewek beda dengan pikiran cowok. Untung saja aku tadi mengikutinya sehingga segala percakapannya dengan cowok bernama Indra tadi aku dengar. Cukup lama kami berdiri saling menatap satu sama lain. Bingung mungkin dengan keadaan kita. Orang yang dulu memperalat diriku sekarang ada di hadapanku tapi ajaibnya aku suka kepadanya.

“Kamu mau di sini terus? Aku ada tempat di hotel deket Sanur kalau kamu mau,” kataku.

“Kamu masih marah ama aku?”

Aku menggeleng. “Aku tak bisa marah kepada orang yang aku cintai”

“Gombal”

Aku mendekat kepadanya. Iskha berjalan mundur, tapi aku terus mendekat hingga ia berhenti mundur. Aku tarik pinggangnya lalu ingin aku kecup bibirnya tapi dia menutupi bibirnya dengan telapak tangannya. Aku sedikit terkejut.

“Tidak Ci, jangan bikin aku jatuh cinta lagi. Aku sudah cukup merasa bersalah kepadamu,” katanya.

Aku tak pedulikan hal itu dan aku pun mencium telapak tangannya. Ia memejamkan matanya, air matanya mengalir. Aku yakin ada rasa kerinduan di dalam hatinya kepadaku. Aku juga merindukannya.

“Arci,…hiks…jangan, aku sudah mati-matian berusaha melupakanmu, hiks…,” Iskha terisak.

Ia pun akhirnya menyingkirkan tangannya yang menutupi bibirnya. Hingga aku kembali menciumnya. Kini kedua bibir kami bertemu. Kami saling mengecup. Persetan masa lalu, aku ingin bisa mencintainya. Salahkah kalau aku berbuat demikian? Ia pun menangis dalam pelukanku.

“Maafkan aku Ci, maafkan aku,” katanya berkali-kali sambil terisak.

Aku hanya bisa memeluknya sambil mengusap rambutnya. Sesekali aku cium ubun-ubunnya dan berkata, “Tak apa, sudahlah. Tak apa”

Butuh waktu setengah jam untuk menenangkan Iskha dari rasa bersalahnya. Cukup lama memang, tapi waktu setengah jam itu adalah waktu yang paling berharga bagi hubungan kami. Aku pun bisa menenangkannya.

************ Perfect Love ************​

Agaknya Iskha memang berniat pergi dari kontrakan milik Indra. Malam itu aku membantunya mengemasi barang-barangnya. Dengan kopor besarnya ia pun pergi denganku memakai taksi untuk nginap di hotel tempat aku menginap. Yang paling heboh ketika aku sampai di hotel? Tentu saja anggota tim RnD yang memergoki aku membawa Iskha.

“Cieee…boss, sama siapa nih bos?” tanya Rudi salah satu anggota timku.

“Cewek gue, ngiri? Makanya jangan jadi jones!” jawabku. Seketika itu anggota tim yang lain ketawa semua.

Iskha ikut tertawa. Aku pun mengajaknya masuk ke kamarku. Yah, anggota tim RnD yang lain nggak perlu tanya-tanya mau apa aku di dalam kamar berdua ama cewekku bukan?

“Koq satu kamar, Ci?” tanyanya.

“Aku nggak mau buat kamu tidur di sofa lagi,” jawabku.

“Dasar, mau berbuat mesum?”

“Kalau iya kenapa?”

Perutku dicubit olehnya. “Aduh”

“Nggak, nggak boleh mesum!”

Aku tersenyum. “Oke, kita lihat nanti siapa yang nggak kuat”

“Maksudmu?”

“Kita tidur seranjang. Karena ini single bed,” kataku sambil nunjuk ke kasur.

“Ogah”

“Trus, kamu mau tidur di mana?”

“Di sofa aja”

“Lehermu nggak sakit tidur di situ? Sofanya kecil lho,” rayuku.

“Biarin, Weeekk!” katanya sambil menjulurkan lidah. Ia menarik kopornya lalu disandarkan ke lemari.

Aku kemudian mengunci pintu kamar. Kulepas sandalku lalu aku beranjak ke atas kasur. “Aku udah mengantuk, kalau kamu kepengen tidur di sofa, silakan saja. Aku tak memaksa. Selamat tidur” Aku pun menendang selimutku dan pura-pura tidur.

“Dasaaarr…Arci masih aja nggak berperasaan, masa’ cewek disuruh tidur di sofa sih?” gerutunya.

“Bodo amat, disuruh di tempat yang enak nggak mau”

“Halah bilang aja kalau kamu mau mesumin aku”

“Emang,” kataku sambil menjulurkan lidah.

“Tuh kaaan”

“Udah ah, aku ngantuk. Kamu mau mandi silakan, mau langsung tidur silakan. Kalau mau pesen kamar bayar sendiri yah,” kataku sambil cekikikan.

Iskha pun gemas. “Ya udah. Aku mau mandi dulu.”

Aku pun memejamkan mataku. Malam itu aku sangat bahagia sekali, bisa bertemu lagi dengan orang yang aku cintai. Hampir saja aku tadi salah faham, kalau aku tidak mengikutinya pasti aku bakal jadi orang bego sejagad. Untungnya aku tak pernah putus berharap dari dirinya. Iskha yang aku kenal. Iskha yang aku cinta. Aku ingin kamu menjadi milikku.

Aku pun terlelap. Mungkin memang karena aku capek.

Aku terbangun ketika ada sebuah kecupan lembut di pipiku. Mataku terbuka dan mendapati bidadariku ini tidur di sampingku. Ia memakai gaun tidur one piece. Aku tak pernah melihatnya seperti ini.

“Kukira udah tidur,” katanya.

“Iya, udah tidur tapi terbangun karena ciumanmu,” kataku.

“Ya udah deh, aku tidur di sofa,” katanya.

Sebelum ia beranjak aku menahan tangannya. “Kumohon, tidurlah di sini!”

Iskha menoleh ke arahku. Aku menarik tubuhnya agar masuk ke selimut. “Arci,… jangan yah!?”

“Kenapa?”

“Aku masih ada rasa bersalah kepadamu”

Aku makin menariknya hingga ia tak melawan dan masuk ke dalam dekapanku.

“Kamu tak perlu minta maaf lagi, tak perlu merasa bersalah lagi. Aku mencintaimu, sungguh. Benar-benar mencintaimu. Aku maafkan segala yang telah kamu lakukan. Jadi, sekarang tolong jangan pergi dari pelukanku,” kataku.

“Ci, aku…”

“Tak usah diucapkan kalau perasaan kita memang sama”

Ia mengangguk. Iskha kembali tersenyum. Wajahnya yang imut dan manis itu wajah yang paling indah dalam hidupku. Aku menciumnya. Kami saling berpagutan, saling memeluk. Gairah kami pun kembali datang. Ia menarik kaos yang aku gunakan sehingga aku bertelanjang dada. Dan aku dengan sekali menurunkan tali gaunnya Iskha sudah tak memakai apa-apa lagi. Buah dadanya yang aku rindukan terpampang jelas di depanku.

“Kamu tahu Iskha? Aku kangen ama buah dadamu,” bisikku di telinganya.

“Ci,…aku kangen bau tubuhmu,” katanya. “Tapi kamu yakin kita beginian malam ini?”

“Emang kenapa?”

“Karena aku lagi dapet”

Oke, ini mimpi buruk. GUE KENTAAAAANGG! Mana udah on juga, eh Iskha dapet. Ya udah deh.

“Makanya tadi aku ingin tidur di sofa aja, biar kamu nggak mesumin aku,” katanya sambil ngikik.

“Yah…bilang dong dari tadi, kentang nih!” kataku.

“Hihihihi, maaf. Emang sengaja koq ngusilin kamu,” katanya.

“Dasar!”

“Aku emut aja yah?”

Aku mengangguk. “Emang bisa?”

“Jangan remehin aku yah, gini-gini aku pernah nonton bokep!”

“Iya deh, iya percaya aku ama Hello Kitty”

Iskha mengelus-elus pusaka milikku dari luar celanaku. Beneran udah tegang maksimal ini. Ia pun membuka kancing dan resleting celanaku lalu diciuminya bagian benda yang menonjol. Ahh…aku baru kali ini diperlakukan seperti ini. Kemudian jemari tangannya mulai menurunkan celana dalamku. TUING! Sebuah tongkat sakti keras dengan pion yang mengkilat terkena cahaya lampu kamar muncul.

“Hihihihi, aku baru kali ini lihat ini dari dekat,” kata Iskha.

Tangan Iskha mulai memegang batangku dengan lembut. Ia mengurut perlahan.

“Aahhh…,” desahku.

“Enak ya?”

Aku mengangguk.

“Padahal cuma diginiin aja, kalau aku giniin?” Iskha mencium bagian ujung pionnya di belakang lubang kencingnya. Ahh…makin nikmat. Lidahnya mulai menari-nari di sana. Lalu HAP! Ia menghisap pionku. Mulutnya yang mungil itu rasanya tak cukup untuk bisa menampung seluruh batangku yang sudah tegang.

Hangat dan basah rasa mulutnya. Kepalanya Iskha perlahan-lahan turun lalu ia naik, kemudian turun lagi, lalu naik lagi. Dia pun melirik ke arahku. Wogghh…gilaaakkk…baru kali ini aku disepong cewek. Kalau yang nyepong bidadari seperti ini ya nggak kuat deh.

Iskha mengelus-elus perutku. Ia kembali menilat-jilat batangku dengan lidahnya yang lembut. Matanya masih menatapku, ia berusaha menggodaku dengan tatapannya itu, jilatannya makin ke bawah dan dia menciumi bola testisku. Lidahnya kembali menjilat di testisku. Aaaarrgghhh….lemes deh gue. Ampuuun,..gak kuat rasanya. Terus terang jilatan dan hisapannya di testisku membuatku lemes.

“Enak Ci?” tanyanya.

“I..iya, aku lemes Iskh,” jawabku.

“Hihihi,” ia tertawa geli. Dia mengocok batangku sambil mulutnya masih di testisku. Entah ia permainkan bagaimana lagi testisku sampai rasanya enak banget. Apalagi batangku dikocoknya. Arrghh…bikin kepengen meledak aja.

Tapi ia faham kalau aku tak mau meledak secepat itu. Ia kemudian kembali mengulum batangku. Kepalanya makin semangat mempercepat kocokan. Bah, ini sih udah mau klimaks. Enak banget. Bahkan Iskha berusaha memasukkan seluruh batangku. Nggak, nggak bakal muat Iskh jangan aaahh….Mulutnya penuh sampai dia tersedak.

“Uhuk..uhuk!”

“Jangan sampai penuh, nggak muat!” kataku.

“Tapi aku gemes, gedhe nih. Batang ini kan yang nakal. Udah merawanin aku. Harus dikasih pelajaran,” katanya.

Iskha lalu mengocok dengan cepat batangku, kemudian mulutnya berada di kepala pionku. Tak cuma itu, lidahnya menari-nari bak lidah ular menggelitik helmnya. Alamaaakk….nggak kuat. Udah deh, nyerah aku. Udah diujung lagipula itu air mani.

“Iskha, aahh…mau keluar, jangan digituin Aaaargghh!” pekikku.

Iskha tak mempedulikannya. Kocokan tangannya makin cepat dan lidahnya juga makin menari-nari. Aaahhh…nggak tahan lagi. Maka muncratlah maniku ke dalam mulutnya. Ia langsung melahap penisku. Maniku memancar banyak sekali. Iskha menampung semuanya di dalam mulutnya hingga kedutan di batangku udah nggak terasa lagi. Mulutnya tampak mengatup seperti sedang membawa sesuatu. Ia menoleh kiri kanan mencari sesuatu.

“Cari apa?” tanyaku.

Ia menunjuk-nunjuk ke bibirnya.

“Apa?” tanyaku.

Ia menunjuk-nunjuk ke bibirnya lagi.

“Apa? Minta dicium?” tanyaku.

GLEK! Ia menelan pejuhku.

“Aahh…tissue, mana tissue?” tanyanya.

“Oh, bilang dong!”

“Gimana bisa bilang? Mulut penuh pejuh gitu. Lho? Eh, udah tertelan. Kamu sih, jadinya kutelan semua.”

AKu ketawa. Aku membuka laci di meja dekat ranjang lalu aku menyerahkan tissue kepadanya.

“Udah, nggak butuh!” katanya sewot. Ia lalu beranjak pergi ke wastafel untuk membersihkan mulutnya. Aku masih ketawa karena peristiwa kecil tadi.

Setelah itu, tak ada kejadian spesial lagi. Aku dipuaskan oleh Iskha walaupun dengan blowjob. Itu saja udah cukup sih. Cukup untuk menenangkan si otong yang udah kentang tadi. Aku tidur sambil memeluk Iskha sampai pagi. Bidadariku, aku tak akan melepaskanmu lagi. Tidak akan.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part