. Kesempurnaan Cinta Part 10 | Kisah Malam

Kesempurnaan Cinta Part 10

0
128
Cerita Dewasa Bersambung Kesempurnaan Cinta

Kesempurnaan Cinta Part 10

Saya Terima Nikahnya

Kami pulang. Yeah, kemana lagi kalau tidak ke apartemenku yang aku cintai? Ketika masuk apartemenku tampak Iskha senang sekali dan berputar-putar di dalamnya. Aku tahu perasaannya sekarang pasti sangat kangen. Kangen masa-masa itu. Dia langsung ambruk ke sofa.

“Ahhh…kangen tidur di sini lagi,” katanya.

Aku menggeret dua kopor langsung aku bawa ke dalam kamar. Setelah itu aku geser pintu di balkon. Angin pun masuk ke dalam. Sejuk. Hawa pengap apartemenku langsung hilang ketika angin masuk. Iskha beranjak lagi dan ia mulai memainkan MP3 Player. Saat itu yang mainkan adalah lagunya Maroon 5. Ia bersenandung dan langsung menggeretku untuk berdansa.

Aku tersenyum geli dan menurut saja. Aku peluk dia dari belakang sambil bergoyang. Ahh…indahnya momen ini. Kami akhiri dansa itu dengan ciuman lembut. Tak ada rasa sedih dan gundah dari raut wajah Iskha. Yang jelas ia sekarang bahagia, mungkin perasaannya sama seperti yang aku rasakan kali ini. Ketika rasa cinta menggelora, ketika seluruh perasaan tercurah, maka inilah yang terjadi. Kami belum mandi, kami belum bersih-bersih setelah dari Bandara langsung ke apartemen. Kami pun bercumbu. Sentuhan-sentuhan kami pun akhirnya membuat kami melangkah ke arah yang berikutnya.

Iskha menurunkan celana jinsnya. Ia juga mencopoti celanaku. Kaosku ditariknya. Aku juga membuka seluruh bajunya hingga aku buka kaitan branya. Ia menurunkan celana dalamku. Yup, nggak usah ditanya lagi kami langsung bergumul. Kali ini ia menarikku ke kamar mandi. Sekalian mandi maksudnya.

Di kamar mandi aku cium dia dari belakang sambil kemaluanku mencari-cari celah lubang kewanitaannya dari belakang. Lalu setelah itu aku dorong. Selakanganku bertemu dengan pantatnya yang putih.

“Aaaahhh….Cii..!” desahnya.

Aku peluk Iskha dari belakang sambil meremasi kedua buah dadanya. Kembali lagi batangku menggesek kulit kelaminnya. Iskha pun menyalakan shower sehingga air mengguyur kami. Di bawah guyuran shower aku bercinta dengan dia. Sodokan-sodokan batangku ke dalam liang senggamanya membuat suara-suara yang menggairahkan.

Puas dengan doggy style, aku membalikkan tubuhnya. Menatap wajahnya, lalu kuangkat paha kirinya ke atas. Aku lalu memasukkan kemaluanku ke liangnya lagi. Kemudian aku sodok-sodok tubuhnya. Lengannya melingkar ke leherku.

“Aah…ahhh…ahh..Cii..enak ciii…teruusssss!” keluhnya.

Aku sodok-sodok hingga aku pun sudah mulai keluar. Saat aku mulai klimaks aku peluk dia erat kemaluannya berkedut-kedut menghisap batangku seperti vacum cleaner. Semburan spermaku pun kembali masuk ke rahimnya. Kami berpagutan dengan mesra di kamar mandi itu. Kupeluk tubuhnya.

“Iskha… aku sangat merindukanmu,” kataku.

“Aku juga Ci,” katanya.

Guyuran shower itu adalah sebagai saksi, bagaimana dua insan bersatu. Selama di apartemenku, aku meluapkan semuanya. Semua rasa cinta, semua rasa rinduku kepadanya. Biarlah orang-orang bilang kami kumpul kebo. Aku sudah komitmen ama Iskha akan menikahinya.

*********** Perfect Love ***********​

“Ke rumah papa ama mamaku yuk,” kataku.

“Hmm??” gumam Iskha sambil memasak di dapur. Skill memasaknya sekarang mulai naik. Dia menikmati hidup bersamaku selama seminggu ini. Katanya belajar jadi istri yang baik. Mulai dari memasak, mencuci, membersihkan ruangan, semuanya ia pelajari, semuanya ia lakukan. Dan untuk jatah, kalau ada mood kami melakukannya. Seperti suami istri pada umumnya.

“Mungkin permintaanku terlalu terlalu muluk-muluk mengajakmu ke rumah orang tuaku,” kataku.

“Nggak koq. Aku mau, kapan?”

“Bagaimana kalau besok?”

“OK, siapa takut”

Aku tak pernah sebahagia ini sebelumnya. Iskha mau bertemu dengan kedua orang tuaku. Akhirnya seharian itu kami berdiskusi tentang kedua orang tuaku. Iskha pun bertanya-tanya, apa kesukaan kedua orang tuaku dan sebagainya. Sebab memang dia hanya bertemu sekali dengan mereka. Aku mengabari kepada papa dan mama tentang bakal kunjunganku kesana. Mereka tentu saja suka. Apalagi aku bilang bakal ketemu calon mantu.

Esoknya mobilku sudah meninggalkan Jakarta saja menuju Semarang. Ya, kedua orang tuaku ada di Semarang. Masa’ kalian nggak bisa duga logatku yang nggak terpengaruh dengan budaya jakarta dengan “lo” dan “gue”-nya? Papa itu orang Jawa tulen. Mama juga. Mungkin karena mereka orang jawa yang sudah nggak “Njawani” sehingga nggak kelihatan jawanya. Padahal aslinya kalau sudah kumpul sama orang Jawanya bahasanya pakai Krama Inggil. Aku juga kadang perlu roaming untuk mencernanya.

Butuh waktu kurang lebih 12 jam perjalanan hingga akhirnya aku sampai juga di Semarang. Aku ijin kantor sampai tiga hari untuk masalah ini. Ijin lagi padahal barusan liburan. Bodo amat. Aku beralasan untuk urusan bisnis. Semuanya pekerjaan akan aku remote. Bahkan kalau perlu rapat pakai media online. Misalnya memakai video chat.

Rumah kedua orang tuaku ini lumayan luas halamannya. Aku masih ingat ketika dulu bermain-main di sini. Halaman yang luas dan banyak tetangga yang mampir. Aku pun masih ingat dengan siapa saja teman bermainku dulu. Melihat mobilku datang langsung saja papa dan mama menyambutku. Dan mereka tampak gembira ketika melihat Iskha.

“Eeehhh….nak Iskha, ayo ayo!” kata mamaku.

Iskha tersenyum ramah kepada mama dan papaku. Iskha langsung mencium tangan keduanya. Aku mengambil ransel yang ada di bagasi setelah itu langsung mencium tangan papa dan mama. Kami masuk ke dalam rumah.

“Ini gimana tho maksudnya koq diajak kesini?” tanya Mama.

“Halah, bune ini kayak nggak tahu. Ini maksudnya minta restu ama kita,” celetuk papa.

“Oooo begitu toh?”

“Iya, mama, papa, maksud kami ke sini minta restunya. Katanya sih secepatnya mas Arci mau ngelamar,” jawab Iskha. Ia sekarang manggil papa dan mama kepada kedua orang tuaku.

“Ealaaah, lha mbok ya gitu, awakmu pinter milih calon mantu cakep,” ujar mama.

“Hehehehe,” aku cuma nyengir.

“Tapi sayang ma, anak papa ama mama jelek. Tapi aku suka, emang dukunnya siapa sih?” kata Iskha dan langsung disambut gelak tawa mama dan papa.

“Nah itu dia, nggak tahu dulu bikinnya gimana,” kelakar papa.

“Mana Mas Yusuf ma? Katanya bakal datang hari ini? Juga mbak Safira,” tanyaku.

“Yusuf sedang dalam perjalanan, sebentar lagi juga datang. Mbakmu sedang belanja di swalayan,” jawab mama. “Ayo nak Iskha, mama tunjukin kamarmu!”

Hari itu aku diinterogasi oleh papa tentang Iskha. Saat Iskha sedang sendirian bersama mamaku, aku sama papa diajak berkeliling di halaman sambil melihat-lihat tanaman-tanaman hias yang beliau tanam di sana.

“Jadi itu anaknya Pak Arthur?” tanya papa. Beliau sudah aku beritahu latar belakang Iskha.

“Iya pa,” jawabku.

“Ingat lho Pak Arthur itu orangnya licik, papa dulu sangat beruntung bisa lepas dari cengkramannya. Kalau papa tidak tegas keluar dari cengkramannya bisa-bisa bisnis papa diembat juga ama dia,” jelas papaku.

“Aku sudah beritahu ke papa bukan rencanaku. Kuharap papa dan mama tahu keputusanku. Memang ini berat tapi ini harus aku lakukan. Aku sangat mencintai dia pa,” kataku.

Papa menepuk pundakku. “Papa akan mendukungmu. Tapi jangan lupa kalau sudah pergi sering-sering kasih kabar. Yahh…meskipun itu sulit. Kudo’akan kalian berdua bahagia. Bagaimana Pak Arthur. Apa beliau setuju pernikahan ini?”

“Dia mana mungkin bilang tidak. Putri satu-satunya yang paling disayang. Dia pasti merestuinya,” kataku.

“Arci, papa hanya pesan satu hal, kalau kamu yakin dengan dirinya. Jangan kecewakan dia. Mengerti? Papa lihat Iskha sangat mencintaimu. Dari sorot matanya, dari bagaimana dia menatapmu, ada kesan cinta di sana, jaga dia, jaga cintanya. Papa akan selalu mendukungmu,” kata papa.

“Thank’s pap,” kataku. Aku lalu memeluk papaku. Beliau menepuk-nepuk punggungku. Rasanya mendapatkan restu kedua orang tuaku ini plong.

Tak berapa lama kemudian Kakakku, Mas Yusuf datang. Kemudian Mbak Safira datang juga dari belanja. Ketika melihat Iskha, tentu saja Mbak Safira terkejut. Mbak safira ini orangnya udah menikah. Ia sengaja datang sendiri dari Brebes. Mas Yusuf juga sudah menikah, tapi tinggal di Balikpapan bersama keluarganya. Dia juga datang sendirian.

“Lho, kamu Iskha?” tanya Mbak Safira.

“Ee…iya mbak,” katanya.

“Ya ampuuun, kamu kan vokalisnya D’Espresso,” kata Mbak Safira sambil megang tangannya Iskha.

“Koq mbak tahu?”

“Ya tahulah, kamu pernah manggung di kafe temenku dulu. Masih ingat Kafe Dino di Surabaya?”

“Ohh iya, iya,” kata Iskha. Ia sedikit mengingat-ingat.

“Yaelah, Ciiii Arci. Ternyata seleramu manteb juga,” goda Mbak Safira.

“Siapa dulu dong,” kataku.

Iskha malu-malu kucing. Mas Yusuf langsung memukul bahuku. Kami pun pura-pura bertinju. Kemudian tertawa bersama.

“Cieeehh, yang habis ini kawin. Udah gedhe nih adikku,” kata Mas Yusuf sambil mencubit bahuku. “Awas lho Iskha. Ini pas sekolah ceweknya banyak.”

“Beneran itu mas?” tanya Iskha.

“Iya, dia pernah pacaran ama kakak kelasnya, ama anak mahasiswi juga,” kata Mas Yusuf.

“Mas, mas, jangan mengugkap masa lalu yang pahit!” kataku.

“Tenang aja, kalau Mas Arci selingkuh bakal aku bikin ia tak bisa mati tak bisa hidup,” jawabnya sambil nyengir ke aku.

Mas Yusuf begidik, “Wah, nggak bisa hidup, nggak bisa mati? Kaya’ gimana itu?”

“Halah, Mas ini cari perkara aja. Sanah-sanah!” aku dorong dia menjauh.

Setelah kami bercengkrama akhirnya tiba juga makan malam. Di meja makan kami juga masih ngobrol banyak. Tampaknya mama dan papa sangat suka dengan Iskha. Juga dengan kepribadiannya. Iskha lebih banyak bicara santun kepada mereka. Selama ini aku tak pernah melihat mama dan papa sangat tertarik kepada Iskha.

Aku mempersilakan Iskha tidur di kamarku, tapi Mbak Safira menolak. Katanya biar tidur di kamarnya saja. Mau diinterogasi katanya. Iskha ya cuma nurut-nurut saja. Tampaknya mereka lebih tertarik dengan makhluk cantik itu daripada makhluk ganteng yang pulang kampung ini.

Kamarku, sudah lama aku tidak kembali ke kamar ini. Luas, bahkan poster-poster masa SMA-ku masih tertempel di sana sini. Tapi sayang mungkin ini adalah terakhir kalinya aku tidur di kamar ini. Iyalah, sebentar lagi kalau aku menikah aku akan jarang sekali pulang. Bahkan mungkin tidak. Papa dan mama sudah mengerti keputusanku. Ada sesuatu yang tidak bisa aku ungkapkan sekarang kenapa aku begitu mellow. Melihat anaknya berjuang seperti ini papa sebenarnya bersedih, tapi itu tidak diungkapkannya. Aku melarangnya. Aku tak ingin Iskha tahu semua yang telah aku atur. Aku hanya ingin dia bahagia. Itu saja.

Ketika aku bicara dengan mereka berdua beberapa waktu misalnya. Mama sempat menangis mendengarkan keputusanku. Dia bilang, “Apa tak ada cara lain selain itu?”

Aku menggeleng, “Kalau Pak Arthur bisa berbuat seperti itu kepada papa dan mama, kenapa aku tidak melakukannya?”

“Tapi mama bakal kangen ama kamu Arci, kamu nggak tahu betapa mama sangat merindukanmu selama ini,” kata beliau.

“Iya, Arci tahu. Setelah pernikahan kami nanti jaga diri papa dan mama baik-baik yah. Arci akan mencari Iskha. Mencari orang yang Arci cintai, setelah ketemu Arci akan pertemukan dia dengan papa dan mama,” kataku sambil menahan air mataku ketika itu.

“Arci, papa akan selalu mendukungmu. Perjumpaan pertama kali papa dengan Iskha, papa yakin dia anak yang baik. Cocok buat kamu,” kata papa.

“Makasih, kalian memang kedua orang tua yang terbaik yang Arci punya,” aku pun memeluk keduanya kala itu. “Maafkan anakmu yang tidak berbakti ini.”

“Sssshhh….kamu anak baik koq, anak yang berbakti. Perjuangkan cintamu, perjuangkan cita-citamu, Mama dan Papa akan berdo’a untuk kesuksesan kalian,” kata mama.

*********** Perfect Love ***********​

Tidak bisa dipungkiri bahwa melamar Iskha adalah beban mental bagiku. Aku datang langsung ke rumah Arthur Darmawan. Aku pun meminta Iskha untuk jadi istriku. Bahkan Iskha pun aku ajak untuk pulang ke rumahnya. Lagipula, Arthur tetaplah ayahnya. Ayah kandungnya selama ini.

“Papa sih setuju saja kamu menikah sama Arci. Papa sudah tahu siapa dia. Kamu tahu sendiri papa sangat menyayangimu,” kata Arthur kepada Iskha. “Dan kamu Arci, kalau sampai kamu sakiti hati Iskha, aku tak akan memaafkanmu.”

“Siap pak, bapak tahu sendiri bagaimana perasaan saya kepada Iskha,” jawabku.

“Oke, kalau begitu tinggal kita tetapkan saja tanggal mainnya,” kata Arthur.

Ya, sungguh cepat. Dua minggu kemudian kami menikah. Resepsinya diselenggarakan di sebuah gedung mewah. Para undangan banyak berdatangan dari pejabat-pejabat dan juga orang-orang penting. Pesta pernikahan yang meriah itu pun dihadiri pula teman-teman kantor. Semuanya ditanggung oleh Arthur. Entah berapa duit ia habiskan untuk biaya pernikahan putri semata wayangnya ini.

Menikah dengang orang yang dicintai. Siapa yang tidak mau. Setelah hampir pukul sembilan malam kami menyalami para tamu akhirnya kami berdua capek berat. Bagaimana tidak capek, setelah dua minggu mempersiapkan pernikahan, hilir mudik ke KUA, akhirnya toh resmi. Nah, sekarang kami tak perlu malu-malu lagi buat ngapa-ngapain. Termasuk yang ehm-ehm…

Masih terngiang-ngiang ucapanku tadi pagi ketika bilang, “Saya terima nikahnya Iskha Kusumaningrum Darmawan dengan mas kawin Al-Qur’an dan cincin berlian 30 karat dibayar tunai”

Selain tamu undangan dari kantor dan dari Pak Arthur. Teman-teman Iskha pun juga datang. Mereka adalah teman-teman band dan juga teman-teman sekolah serta teman-teman kampusnya. Kami bercanda, berkelakar. Bahkan ketika malam resepsi itu Iskha pun menyumbangkan lagu untuk menyanyi. Sebagai mempelai pria aku cuma bisa melihat saja. Tahu sendiri aku kalau menyanyi itu fals.

Malam itu aku dan Iskha hanya menikmati video-video yang kami rekam melalui ponsel. Video pernikahan kami yang mungkin sebentar lagi tak akan bisa kami lihat lagi. Mungkin juga tak akan dia lihat lagi. Bisa jadi aku akan membuang ponsel ini nanti. Bisa jadi juga setelah ini aku tak akan bisa melihat dia lagi.

Aku bercumbu dengan Iskha di malam pengantin itu. Oh tuhan. Dia sangat cantik dengan gaun pengantin berwarna biru itu. Kebaya yang dia pakai sangat cantik, serasi dengan dirinya. Inilah bidadari yang aku nikahi. Ibu dari anak-anakku nantinya. Dari malam sampai pagi kami lakukan aktifitas ranjang kami. Sekalipun kami lelah, tapi entah kenapa malam itu kami punya tenaga sampai tulang-tulang kami rasanya rontok semua. Akibatnya kami bangun kesiangan. Malam pengantin yang tak akan pernah kami lupakan. Di mana semua perasaan kami tertumpah di sana. Bahkan mungkin orang yang paling bahagia adalah Iskha. Biarlah dia merasakan kebahagiaan ini.

Iskha, semoga perasaan kamu ke diriku tidak akan goyah. Yakinlah aku tetap mencintaimu. Sekalipun yang akan terjadi setelah ini akan mengejutkanmu. Aku tak mau jadi peran pembantu di dalam cerita ini. Aku ingin jadi pemeran utamanya. Enam bulan yang telah aku siapkan secara matang akan aku jalankan setelah ini.

Sabarlah sayang, semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part