. Kesempurnaan Cinta Part 1 | Kisah Malam

Kesempurnaan Cinta Part 1

0
50
Cerita Dewasa Bersambung Kesempurnaan Cinta

Kesempurnaan Cinta Part 1

Eksekutif Muda

Namaku Arczre VZ, panggil saja Arci. Dari penampilan, aku ganteng. Jelaslah! Iri? Buat cerita sendiri sana kalau iri. Dan tentu saja aku ganteng, karena aku cowok, bukan cewek atau pun maho. Banyak cewek-cewek yang ngejar aku. Mau dihitung? Baiklah, sejak dari aku SMA aku dikejar-kejar cewek. Males aku ngejar cewek, capek! Kelas satu SMA aku sudah macari kakak kelas. Kelas dua SMA aku pacaran ama cewek teman sekelasku. Kelas tiga aku macari seorang mahasiswi. Dan ketiganya tidak aku putuskan tapi mereka mutusin sendiri.

Kenapa begitu? Karena mereka sangat cemburu. Yah, apes juga sih punya cewek posesif seperti mereka. Dan aku tak pernah berusaha mengejar mereka. Ya, sama sekali tidak. Akibatnya mereka menyesal mutusin aku, banyak yang kepengen kembali tapi aku tolak. Aku masih muda dan masih banyak yang suka. Cieh narsis. Sekali lagi ngiri? Bikin aja cerita sendiri!

Singkat cerita papaku adalah seorang yang serius berbisnis. Beliau rela menyekolahkanku tinggi hanya untuk agar suatu saat bisa menggantikannya sebagai seorang direktur. Direktur apaan? Lha wong papaku hanya seorang pemilik bisnis kuliner sebuah rumah makan waralaba yang disebut dengan “Kelopo Kuning”. Ya, saking terkenalnya waralabanya ada di mana-mana. Hampir setiap kota pasti ada. Dan lucunya jurusan yang aku ambil di perkuliahanku sangat terbanting. Aku ngambil jurusan IT. Papaku marah, kenapa nggak ngambil jurusan bisnis? Tapi aku dengan enteng bilang, “It’s my life dad”

Tapi lambat laun beliau pun mengerti bahwa inilah duniaku. Tentu saja, karena ketika kuliah aku sudah membuat banyak macam produk software, dari akuntansi, restoran, wharehouse, bahkan game berbasis mobile. Bahkan ketika lulus kuliah aku menjadi sebuah Konsultan Pemasaran dan Product Developer di sebuah perusahaan IT terkemuka di kota ini.

Apartemen mewah, mobil sedan (bukan sport), jas keren, sepatu keren. Apalagi yang kurang sih? Ah, bener. Cewek yang kurang. Gara-gara rasa sombongku, ternyata ada imbasnya. Sampai sekarang aku nggak laku. Papa sama mama di rumah sudah mewanti-wanti kapan aku punya gandengan. Usiaku sudah masuk 27 tahun dan belum ada satu pun cewek yang nempel. Tapi dengan kesendirian, tinggal di apartemen akhirnya hidupku pun terusik. Terusik karena hampir tiap hari cuma aku sendirian berada di apartemen yang sepi ini. Emang sih pasangan hidup itu ternyata penting, biar ada yang ngingetin kalau lupa sesuatu. Biar ada yang bantu ngerapiin tempat tidur. Jieh, lama-lama aku mellow beneran nih.

Aku jadi sedikit menyesal karena berperilaku jual mahal dengan mantan-mantanku dulu. Dan sekarang aku mencoba mendekati mereka lagi satu per satu. Pertama mantanku ketika aku masih SMA. Namanya Lusi. Ceweknya cakeplah, tapi ketika aku melihat Facebooknya, hadeh….dia udah punya cowok. Ah, coba yang satunya. Namanya Desi, mantan keduaku. Dasar sial, dia menikah hari ini. Aku nggak diundang? Ah bodo amat. Coba mantan ketiga, mahasiswi dulu itu. Namanya Erina. Eh, dia kayaknya masih jomblo. Baru diputus pacarnya. Iseng, aku pun menyapanya lewat Chat.

Eh? Dia tiba-tiba log off. Aku coba lihat profilenya lagi. Eh, aku diblock. Arrghh! Segitu dendamnya kah dia. Yah, aku nggak heran sih. Aku juga nyakiti dia dulu. Halaah…salahku juga sih. Seharusnya aku lebih peka terhadap cewek. Tapi kayaknya sulit sekali. Papa dan Mama di rumah sudah mewanti-wanti, pasti kalau berkunjung ke tempat mereka bakal ditanyai lagi, “Sudah ada calon mantu?”

Akhirnya aku pun nyerah. Kali ini pakai metode pasrah dan berdoa. Moga tuhan ngasih jodoh disaat yang tepat. Toh yang namanya jodoh sudah ada yang ngatur. Masa’ sih dari semilyar orang yang menghuni planet bernama bumi ini tak ada satupun yang nyantol kepadaku? Positive thinking aja, papa ama mama ya emang harus sabar. Gimana lagi coba?

Bicara soal proyek. Hari ini aku ada proyek besar. Saking besarnya Bos sebuah perusahaan IT terkemuka di negara ini sampai diundang. Dia juga yang menanamkan saham di perusahaan tempatku bekerja. Dia bernama Arthur Darmawan. Dia terkenal dengan tangan besinya memimpin perusahaannya dari yang terpuruk hingga sekarang menjadi besar bahkan sekarang dia makin besar dengan Darmawan Group miliknya.

Proyek yang akan kita bangun ini merupakan proyek untuk membuat sebuah situs dating. Yah, konsepnya sudah matang. Kami memang tidak mau muluk-muluk paling tidak situs dating ini nanti bisa mendatangkan banyak revenue. Sebagai seorang konsultan pemasaran dan Project Developer maka otomatis akulah yang akan membawahi seluruh operasi proyek ini.

Kemeja putih, jas hitam, berdasi dan laptop…eh, bukan. MacBook Air di tangan. Apa yang kurang coba dengan tampilan semacam ini? Setiap masuk kantor sudah pasti cewek-cewek bakal ngelirik ke arahku. Maklum orang ganteng. Tapi kenapa juga nggak ada yang nyantol. Ah, mungkin karena aku nggak agresif. Mungkin karena aku terlalu cuek. Bisa jadi sih. Tapi sekalipun aku secuek gitu, tentunya ada dong yang mau aku aja sekedar makan siang gitu.

Contohnya adalah Rina. Dia adalah seorang Manajer Customer Relationship. Aku ajak dia makan siang dan dia selalu menolak. Alasannya adalah “Maaf, udah kenyang”, “Maaf lagi diet”, “Maaf sedang nggak nafsu” dan seterusnya. Aku tahu dia itu single, jomblo, usianya mau nyentuh tiga puluhan, tapi yah seperti itu tanggapannya. Tapi aku jadi heran, jangan-jangan beredar gosip di kantor kalau aku ini orang yang maho sehingga cewek-cewek nggak mau deket denganku, atau jangan-jangan aku diisukan sebagai penjahat kelamin. Nah, kalau sudah begitu parah kan?

Baiklah, aku singkirkan dulu masalah pribadi. Sekarang ini yang jadi permasalahan adalah masalah bisnis.

Bosku bernama, Danny Purnomo. Seorang yang boleh dibilang serius di dalam pekerjaannya. Dia adalah General Manajer. Sebagai seorang General Manajer ia pasti sering bertanya kepada manajer-manajer seperti aku dan yang lainnya tentang masalah pekerjaan mereka tiap minggu. Apa langkah berikutnya? Apakah ada ide? Dan setiap minggu aku selalu punya ide yang bikin Bosku ini jadi merasa kalau perusahaan ini sebenarnya di dalam kendaliku.

Dia berkata, “Arci, lo ini orangnya kebanyakan ide, hampir seluruh langkah perusahaan ini jalan karena keinginan lo.”

Dan karena itulah usut punya usut aku bakal diangkat jadi GM bulan depan. Tapi itu juga harus menunggu keputusan direksi.

Setelah aku keluar dari ruanganku dan menuju ke ruang rapat, rapat hari ini pun dimulai. Dan di ujung meja aku melihat CEO perusahaanku namanya Romi Wijaya. Orangnya besar, berkumis dan suaranya penuh wibawa. Siapa sangka hari ini ada orang asing yang aku baru kenal.

“Hari ini kita kedatangan tamu klien besar kita namanya Arthur Darmawan,” kata Pak Romi. Aku menoleh ke arah orang asing itu. Dia kemungkinan berusia sekitar lima puluhan. Rambutnya memutih bagian samping kiri dan kanan kepalanya. Kalau boleh dibilang model rambut ini seperti Koes Hendratmo, bintang kawakan tahun lawas di jaman retro dulu.

“Selamat pagi semuanya,” sapa Arthur Darmawan.

Dari tatapan matanya aku yakin Arthur ini orang yang lebih berwibawa dari Pak Romi. Nada bicaranya juga berat dan luwes, sepertinya ia sudah lama memimpin orang. Badannya besar tapi tidak gemuk. Kalau dilihat orang ini sepertinya menghabiskan banyak waktu di gym.

“Hari ini rapat akan membahas tentang Produk terbaru tentang situs dating. Pak Arci, silakan presentasi!” perintah Pak Romi.

Aku pun segera ke layar imager dan mempresentasikan konsep situs dating yang menjadi ideku. Setelah presentasi tampak semuanya puas dengan hasil presentasiku, kecuali satu orang. Satu orang yang sangat aku benci.

“Pak Arci, rasanya ide ini buruk,” kata Arthur.

Semua orang menoleh ke arahnya. Ya, aku juga.

“Terlalu prematur, sekarang ini bukankah situs sosial media juga bisa berperan sebagai situs dating seperti itu bahkan bisa lebih luas dan tidak terbatas. Kenapa kita tidak fokuskan saja untuk membuat produk yang lebih dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan daripada membuat situs ini, toh situs ini juga sudah banyak yang punya fitur yang sama?” kata Arthur.

“Tapi, kita punya keunggulan yaitu kevalidan data untuk setiap orang yang mendaftar ke situs ini dan ini juga….,” kata-kataku terpotong.

“Pak Arci, apakah anda bisa menebak orang yang berada di internet? Bahkan seandainya anjing saya chatting dengan Anda mungkin Anda juga tak akan tahu,” kata Arthur. “Pak Romi, saya lebih suka kalau kita bicarakan lagi tentang sebuah software yang berkesinambungan yang bisa dimanfaatkan oleh banyak orang. Saya akan senang sekali dan perusahaan kita bisa lebih luwes lagi dalam bekerja sama dengan berbagai pihak nantinya.”

Arrghh! Brengsek. Kenapa orang ini seolah-olah ia berkuasa. Memang benar ia orang yang paling banyak menanamkan saham di perusahaan ini tapi bukan berarti langsung mematikan ideku begitu saja.

Akhirnya hari itu aku hanya jadi kambing cowek yang tidak bisa berbuat banyak. Mematung seperti cacing yang dimasukkan ke freezer. Bahkan ketika makan siang hari itu aku makan lebih banyak seperti biasanya. Pesan dua mangkuk pangsit, dua mangkuk bakso dan sebotol air mineral. Setelah habis makan sebanyak itu aku bilang “BRENGSEK!” Hampir seluruh orang di kantin kaget dengan teriakanku. Ya, kebiasaanku kalau sedang stress adalah makan yang banyak. Lucu ya? Hehehe.

Akhirnya pekerjaanku hari itu sia-sia belaka. Aku pulang ke rumah dengan lesu. Setelah mandi, gosok gigi, aku pun beranjak ke atas ranjang. Tapi aku urungkan niatku. Aku lebih memilih duduk di sofa dan kusetel MP3 Player dengan sound system yang kencang. Sebuah lantunan melodi Bethoven mengalun. Ahh…akhirnya aku pun mencoba untuk rileks sampai ada suara ponsel yang menggangguku.

Kumatikan MP3 Player dan segera aku terima telepon itu. Dari Doni.

“Yap? Apa Don?” tanyaku.

“Bro, aku denger tadi presentasimu kandas ya?” sapanya.

“Iya, brengsek itu Arthur. Apa nggak tahu kalau aku mengkonsep itu sudah lama,” jawabku.

“Iya, aku tahu. Kamu di rumah sekarang? Boleh mampir?” tanyanya.

“Kenapa?”

“Biasalah bro, masalah cewek.”

“Asem, jangan-jangan para cewek nggak mau deketin aku gara-gara kamu deketin aku”

“Hahahahaha. Nggak lah. Beneran nih, sekalian curhatlah. Kamu tahu sendiri orang macam aku ini hanya punya sohib satu-satunya ya kamu ini,” katanya.

“Ya udah deh, ke sini aja. Oh ya, sekalian. Aku lagi laper. Bawa makanan sekalian!”

“Eanjrit, mau meres ceritanya?”

“Biaya konsultasi bro”

“Hahahahaha, kepret. Oke, ntar aku mampir ke Pizza Hut dulu,” Doni lalu menutup teleponnya.

Aku menghidupkan tv dan memindah-mindah channel. Nggak ada yang menarik. Paling nggak aku menghabiskan waktu sejenak sampai Doni datang. Ya, dia datang dengan membawa sekotak Pizza. Doni ini sohibku dari semenjak aku masuk ke kantor. Kami sama-sama masuk tapi nasibku lebih mujur karena setahun semenjak aku masuk banyak yang suka dengan pekerjaanku. Aku sering nraktir dia karena yah, tahu sendiri posisiku lebih tinggi dari dia. Tapi kita tetap jadi sohib sampai sekarang.

“Nih, boss. Pizza-nya,” kata Doni sambil meletakkan Pizza ke meja.

“Wah, thanks yah,” kataku. Aku segera membuka kardus Pizza itu dan langsung mengambil sepotong. Kulumeri pizza itu dengan saus sambal lalu aku kunyah. Melihatku makan, ia juga ikut makan. “Cerita deh cerita!”

“Jadi gini sob,” katanya. “Aku barusan putus ama Yuyun!”

“Kenapa?”

“Ada orang ketiga”

“Masa’? Yuyun kayaknya anaknya baek gitu, cinta mati ama kamu”

“Bukan, dia emang baik. Akunya yang nggak. Aku suka ama cewek lain”

“Uhukk..uhuk!” aku terbatuk-batuk karena kaget. “Wah, wah, wah, bro yang bener? Kamu kesambet cewek mana?”

“Inilah masalahnya,” katanya.

“Masalahnya apa?”

“Aku suka ama anaknya Pak Arthur,” katanya. Oke, kata-katanya bikin aku terkejut.

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku tahu karena hari ini Pak Arthur datang ke kantor. Rasanya familiar banget itu wajah, eh akhirnya aku tahu. Dia itu iya dia! Dia bapaknya!”

“Sebentar, jadi kamu selingkuh ama cewek lain. Trus kalian putus gara-gara kamu?”

Doni mengangguk.

“Siapa sih cewek ini koq sampai bikin kamu kesambet?”

“Namanya…Vira Yuniarsih Darmawan”

Aku mengerutkan dahi. “Vira?”

“Iya, itu namanya. Nih fotonya!” Doni memperlihatkan fotonya kepadaku. Ya, Vira. Anaknya cakep. Rambutnya lurus, berkacamata, bibirnya tipis, senyumnya manis.

“Beneran ini?”

“Iya”

“Sialan, tampang kamu biasa tapi laku juga yah,” ledekku.

“Kampret lu!” Doni menghabiskan pizza di tangannya dan bersandar di sofa.

“Trus?”

“Aku masih nggak enak ama Yuyun, perasaanku kacau sekarang ini,” katanya.

“Seberapa jauh sih kamu deket ama si Vira ini?”

“Baru bulan kemarin jadian. Awalnya cuma iseng, tapi yah…akhirnya kebablasan. Saat aku kencan ama Vira, eh ketahuan ama Yuyun. Dia nangis, aku berusaha menenangkan dia tapi yah tahu sendiri cewek. Susah men.”

“Lah, kalo kamu emang suka ama Vira, kenapa kamu masih mikirin Yuyun?”

“Kan selama ini dia baik ama aku, ya gimana sih bro? Nggak tega aja. Sebenarnya juga aku mau putus baik-baik ama Yuyun, tapi koq ya sampai seperti ini”

Aku mulai mencerna kebodohan sohibku ini. Dia udah punya cewek yang cakep, sintal, setia seperti Yuyun, eh malah dia selingkuh. Brengseknya adalah aku yang belum dapat cewek ini malah dianggap tempat yang cocok untuk konsultasi.

“Trus, sekarang apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku.

“Kamu bisa nenangin Yuyun nggak? Terus terang aku nggak bisa. Aku kepengen minta maaf tapi dia pasti bakal marah total ama aku. Aku mutusin Vira juga ya bakal dibabat aku ama bokapnya, tahu sendiri kan? Arthur Darmawan. Bisa-bisa aku besok dipecat kalau sampai mutusin anaknya begitu saja.”

“Apes banget sih nasibmu,” aku mengela nafas.

“Sorry bro, sorry!” katanya sambil menyatukan telapak tangannya. “Kamu cek Yuyun yah, tenangin do’i. Sampaikan maafku atau apalah.”

“Yah, kenapa juga harus aku, cemen lo,” hinaku kepada Doni. “Itu persoalan kamu sendiri yang mulai koq aku yang ikut-ikutan?”

“Ayolah Sob, pliiiisss…aku masih sayang ama Yuyun, aku nggak tega lihat dia nangis. Tapi aku juga nggak bisa mutusin Vira! Sadarlah sob posisiku,” kata Doni mengiba.

Aku diam sambil menghela nafas. Kuambil sepotong pizza lagi dan kukunyah hingga habis. Suasana hening sejenak. Akhirnya aku pun bilang, “Oke deh, ntar aku sampaikan ke Yuyun. Brengsek kamu. Makanya jangan selingkuh!”

“Sorry deh bro, sorry banget,” katanya.

Akhirnya ya sudah deh, apa boleh buat. Besok aku akan menemui Yuyun.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part