. Kerja atau Sex Part 7 | Kisah Malam

Kerja atau Sex Part 7

0
71
Kerja atau Sex

Kerja atau Sex Part 7

Safe, Sane and Consensual

Imlek sudah berlalu, sekarang waktunya untukku kembali bekerja. Pukul 18:00, Pesawatku baru saja mendarat di bandara Kota M, memang tidak banyak juga oleh-oleh yang ku bawa untuk rekan-rekan, tapi paling tidak adalah untuk mereka. Beberapa makan tradisional dari kotaku, agar mereka bisa menikmatinya bersama Senin besok. Setelah selesai mengambil bagasiku, saya berjalan menuju pintu keluar. Ternyata Nita telah menungguku di depan.

Hari ini dia tampak casual, dengan rambut panjangnya yang terikat dibelakang dan kaos t shirt putih dipadukan dengan kardigans hitam membungkus tubuhnya, dan celana panjang joging berwarna hitam serta sendal jepit. Yup hari ini dia pakai sendal jepit, dia memang lebih senang mengendarai mobil sambil nyeker, makanya jika dia akan berkendara sendiri dia lebih memilih menggunakan sendal jepit. Tapi walaupun tanpa makeup dia tetap cantik.

Saya sendiri hanya mengenakkan baju kaos, dan celana jins, serta sepatu kets, biar lebih nyaman untuk penerbangan, rasanya lebih cozy berpakaian seperti ini. Barang bawaankupun hanya satu buat backpack dan sebuah kotak oleh-oleh, kardus.

Begitu saya keluar dia langsung memelukku, seperti sudah pergi lama, padahal cuman seminggu doang. Dulu waktu saya dinas keluar kota hampir dua minggu, balik kantor dia cuman “Udah balik lu nyet”, tapi itu dulu, sekarang mah sudah beda.

Tercium aroma tubuhnya, dia baru selesai mandi baru datang menjemputku. Baru teringat hari minggu adalah waktu latihan Thaiboxingnya. Saya sangat menyukai wangi sabun yang dia gunakan, lupa mereknya apa, tapi nyaman saya hirup.

Kami meninggalkan area bandara, Nita yang menyetir kali ini, dia bilang saya baru pulangkan masih jetleg, biar dia saja yang menyetir, Saya biarkan saja dia yang menyetir. Dia melepaskan kardigansnya saat menyetir, sekarang dia hanya mengenakkan t-shirnya. Saya bisa melihat dengan samar-sama bra biru muda dengan renda yang dia kenakkan di balik t-shirt itu, apalagi dadanya terbelah dengan adanya safetybelt. Muncul ide bejad dikepalaku, sangat inginku nikmati payudara itu lagi. Tapi kami masih di tol dan berkendara dengan kecepatan tinggi, tentu saja saya tidak ingin cari mati.

Suara manja Nita yang begitu kurindukan, seolah telah memberikanku semangat kembali, saya sudah siap menghadapi pekerjaan lagi. Kami berencana makan terlebih dulu, karena setelah latihan Nita belum makan. Kami memutuskan untuk makan di dekat apartmentku, karena dekat apartementku banyak tempat makan. Akhirnya kami memutuskan makan di salah satu restoran lesahan dekat dengan apartementku.

Tempat makan lesehan ini cukup luas, investasinya sepertinya cukup besar, karena untuk tanah daerah sana harganya pasti mahal, tempat ini dibuat per gazebo-gazebo, yang diantaranya ada taman dan ada seperti sungai buatan yang mengalir. Jadi suasana pedesaan, tapi dengan setiap gazebo dilengkapi dengan lampu serangga, agar tidak ada serangga yang mengganggu pengunjung.

Kami memilih tempat yang agak pojok, jauh dari perhatian orang. Kami masih harus memperhatikan sekitar, apakah ada orang yang kami kenal, karena masih harus menjaga rahasia hubungan kami, karena kantor kami tidak boleh ada hubungan pacaran ataupun perkawinan. Jadi bagaimanapun kami harus menjaga kerahasianya, atau tetap bersikap biasa di tempat umum.

Kebanyakan di tempat umum jika Nita bersamaku, dia akan bersikap seperti biasanya, tidak bermanja-manja padaku. Kami hanya berjalan seperti biasa, dan tidak saling bergandengan. Harus kelakuan kami dengan baik di tempat umum. Kami mulai memesan makanan, Nita memesan Ayam Lalapan, dan saya sengaja memesan Nasi goreng biar tanganku tidak kotor. Restoran ini makanannya lumayan enak, dan suasananya juga nyaman, kadang kala saya juga kesini untuk makan sendiri. Hari minggu seperti ini cukup ramai juga karena dekat dengan pusat perbelanjaan.

Sudah pukul 20:00 lewat tapi masih ramai juga tempat ini, banyak keluarga juga yang sedang makan disini. Mereka semua sepertinya semua sedang menikmati maka mereka, hiruk-pikuk saling bercerita, jadi tempat itu terasa rame banget. Mungkin banyak orang yang menyukai suasananya atau juga masakkannya. Karena saking ramenya tempat ini, makanan kami menjadi sedikit terlambat keluarnya, sekitar 20 menit kemudian baru keluar, kalau bukan karena malas kami mungkin sudah mencari tempat lain.

Sembari makan kami bercerita, apa saja yang kami lakukan selama tidak bersama, walaupun sebenarnya sebagian besar telah kami cerita melalui chat kami setiap harinya, walau ada juga yang tidak di ceritakan. Saya lebih dulu menyelesaikan makanku, karena memang saya selalu makan lebih cepat dari Nita. Nita saat ini masih berkutat dengan ayam lalapannya, masih sibuk mengunyah. Sayapun melihat ada kesempatan nih.

Saya merangkulkan tangan kananku kepinggang Nita, kemudian Dia hanya balik menatapku dengan senyum kemudian melanjutkan makannya. Sembari mengelus-elus pinggulnya, kuselipkan tanganku kebalik kaos putihnya itu. Tanganku bersihloh, tadi makan nasi goreng pake sendok dan garpu. Tanganku terus mengusap-usap kulit Nita secara langsung, perasaan lembut di jemariku ini, mengingatkan malam itu.

Saya mulai menaikkan tanganku, saya beruaha tetap berada di bawah kaos Nita dan tidak menyebabkan kaosnya terangkat. Tanganku bergerilya naik, naik hingga menyentuh payudaranya yang masih terbungkus bra. Saya mulai meremasnya dengan perlahan, dan lembut tentunya, saya takut Nita terkejut dan tersedak. Dengan tangan kirinya dia menarik kardigansnya biar lebih menutupi dadanya, biar aktifitasku tidak terlihat oleh pengunjung yang lain. Terdengar nafasnya mulai berat dan tidak beraturan, sesekali malah terdengar desahan kecil yang tertahan dari mulutnya.

Berberapa saat kemudian setelah menikmati remasan-remasan dari luar bra Nita, saya merasa tidak cukup, tanganku harus menyelip masuk kedalam bra itu. Nita dengan penuh perjuangan berakhir menyelesaikan makanannya, sekarang dia hanya pasrah saja tetap duduk dimeja, dengan tangan yang belepotan.

Sekarang tangan kiriku juga mulai bergerak, tangan kiriku berupaya menyusup kedalam celana joging Nita. Cukup ketat tapi akhirnya berhasil juga, kini tanganku sudah masuk dan berada di depan area kewanitaannya. Mengelus-elus dari celana dalam yang Nita kenakkan, rasanya celana dalam ini berenda, dan sama motifnya dengan bra yang Nita kenakkan, sepasang nih sepertinya. Nita melebarkan duduknya, agar tanganku lebih mudah bergerak di daerah itu, benar-benar pacar yang pengertian. Dengan terus mengusap daerah selangkangan Nita, daerah itu semakin hangat dan semakin lembab, Nita sudah mulai becek.

Nafas Nita semakin berat, dan mulai terdengar lebih jelas desahan-demi desahan dari mulut Nita, sepertinya dia sudah ON. Tapi bahaya juga kalau Nita mulai kalap di sini. Dan yang ku takutkan mulai. Nita mulai menjilati tangannya dengan gaya yang nakan sambil menatapku, sepertinya dia bersiap melakukan perlawanan setelah membersihkan tanggannya.

Setelah Nita menyelesaikan jilatan-demi jilatan di jarinya, saya segera menarik tanganku keluar, dia terkejut dan kecewa. Matanya menatapku, seperti memohon, meminta lagi.

“Cuci tangan sayang”, kataku padanya, tetap saja dia menatapku dengan kecewa. Lalu saya mulai mendekatkan diriku ketelinganya.

“Kita lanjut di apartementku”, bisikku ketelinganya, wajahnya langsung sumringah mendengarkan itu, dan Nita langsung berusaha berdiri.

Setelah melakukan pembayaran dan menyelesaikan transaksi, saya baru teringat, kartu kreditku masih di Restoran itu, apa mungkin kartu kredit Nita juga masih disana, harusnya sih aman. Akhirnya kami selesai makan dan akan menuju apartementku, dan saya putuskan saya yang menyupir kembali ke apartement.

Saat tiba di Apartement, saya tanyakan pada resepsionis di loby apakah saya ada kiriman, dan ternyata paket yang ku pesan secara online sudah ada. Nita pun heran, barang apasih yang ku pesan dan harus kirim express. Apa isi paket itu tetap tidak kuberitahukan kepada Nita, dan dia mulai penasaran, ya kami berdua memang mudah dibuat penasaran.

Saat memasuki lift, saya langsung menyosor bibir Nita dengan tiba-tiba, Nita terkejut, namun pasrah menikmatinya. Sambil berpelukan kami tetap berciuman, dan bibir kami terus terpaut hingga berada di depan pintu apartementku. Saat memasuki apartementku, kuberitahukan apa pin Apartementku, jadi jika sewaktu-waktu Nita ingin datang, dia bisa langsung masuk. Nita sangat senang dengan hal itu, berarti dia bisa kapan saja mengunjungiku, bahkan memberi kejutan.

“Nita, kamu mau melakukan semua perintahku?” kutanyakan itu pada Nita, sambil memegang dagunya dan membuatnya menengadah padaku.

“Iya Tuan, Kehendakmu adalah perintahku”, sambil metanapku dengan sayu.

“Buka baju dan celanamu, aku ingin melihat pakaian dalammu”, perintahku kepadanya.

“Yes, Master”, lalu Nita mulai melepaskan kardigandsnya, dengan perlahan dia lepaskan juga kaos putihnya, terlihatlah bra biru muda, berrenda-renda yang dari tadi saya penasaran penampakannya. Rupanya motifnya sangat imut, dan menggoda. Lalu dia meraih celana trainingnya dan mulai menurunkannya, dan ternyata benar dugaanku, bra dan celana dalam ini sepasang, sama-sama biru muda dan memiliki motif renda yang sama.

Nita kemudian meletakkan pakaiannya yang telah dia lipat dengan rapi di Coffee table di ruang tamu ku. Nita dengan malu-malu meletakkan tangannya di belakang dan menggerak-gerakkan tubuhnya kekiri dan kekanan, seperti gerakan anak kecil yang malu-malu. Penampilan Nita yang berdiri hanya mengenakkan pakaian dalam langsung membuatku ereksi, penisku sudah memberontak di balik celanaku.

Karena merasa ruangan ini agak sempit, aku mengangkat coffee table itu lebih merapa ke pinggiran, agar tidak mengganggu aktifitas kami nanti. Saya meminta Nita untuk mencepol rambutnya kebelakang, agar tidak mengganggu aktifitas kami nanti.

“Nita, berlutulah disini, dengan tegak”, sambil mengarahkan Nita ketengah ruangan, lalu Nitapun menurut dan berlutu di atas karepetku, walaupun berlutut lama saya rasa lututnya tidak akan sakit karena karpetku saya rasa cukup telahlah.

“Tutup matamu, dan jangan buka hingga ku suruh”,

“Baik Tuan”, dia pun memejamkan matanya dan tetap berlutut di tengah ruangan.

Saya dengan segera membuka paket yang saya terima tadi, dan paket itu adalah sebuah choker, berwarna biru dengan sebuah loceng kecil ditengahnya, karena ada loncengnya saya berusaha memegang loncengnya agar tidak menimbulkan suara. Hampir saja saya lupa, saya letakkan chocker itu kembali ketempatnya. Saya pindahkan cermin dari kamarku, tepat di hadapan Nita sekarang.

Perlahanku dekati lagi Nita dengan choker itu, perlahan karena saya tidak ingin loncengnya berbunyi. Kupakaikan perlahan choker itu di lehernya dan Nita jelas merasakannya tapi dia tidak bergerak dan membuka matanya.

“Buka Matamu Nit”, lalu dia pun membuka matanya. Melihat choker yang telah terpasang di lehernya dia tersenyum, dia terlihat sangat senang.

“Kamu suka Nit?” ku dekatkan wajahku kewajahnya, dan saya berjongkok di sampingnya dan wajahku dan wajahnya kini sejajar.

“Tentu Tuan”, dengan cepat dia mengecup pipiku, sambil terus memegangi choker itu, dia terlihat sangat senang. Ini adalah pemberian pertamaku pada Nita, dan saya pun sangat senang melihat dia menyukainya.

“Tampak serasih dengan pakaian dalammu, aku tahu kau senang dengan warna biru, makanya ku pilihkan warna ini”, lalu ku kecup bibir Nita yang lembut dengan perlahan.

Sebenarnya choker ini kubelikan untuk Nita, sekaligus untuk membuktikan bahwa memang Nita itu in to BDSM tapi belum tahu seberapa besar, mesti di tes lebih lanjut nih. Jadi selama di kota asalku, saya sempat membaca beberapa artikel BDSM untuk menambah ilmuku yang masih dangkal tentang ini, dan semoga ini bermanfaat untuk hubunganku dengan Nita.

Nita tampak senang dan memainkan lonceng pada chocker itu, dia terus tersenyum dan meliatnya terus dalam cermin yang kuletakkan depannya. Sungguh imutnya wajah Nita saat ini, rasanya gimana gitu, tidak tega saya memperlakukannya dengan BDSM. Tapi sebenarnya saya juga takut mencobanya, karena ada beberapa hal yang merupakan kekerasan, seperti menampar, mengikat, dan lain-lain, rasanya tidak tega kulakukan pada Nita. Tapi selain itu juga, ada rasa penasaran pada diriku, bagaimana rasanya mendominasi seseorang, terlebih lagi seseorang itu adalah Nita, yang begitu tangguh diluar dan berbeda saat ini.

Yang harusku pastikan bahwa Saya bisa bermain safe, sane and consesual dengan Nita. Karena itulah prinsip dasarnya, kalau tidak bisa tentu saja tidak akan ku lakukan. Maka saya dan Nita harus membicarakannya terlebih dahulu sebelum saya memulainya, karena saya tidak ingin menyakiti Nita, karena Aku mencintainya.

Nita masih berlutut dengan wajah yang sangat senang memainkan lonceng kecil pada Chockernya. Sangat lucu dan imut melihatnya seperti itu. Wajahnya yang tanpa make up dan rambutnya yang tercepol dibelakang, kulit yang kecoklatan dan bersih itu membuatku ingin menjamahnya dan memuaskan hasratku dengan segera. Tapi, saya mulai merasakan kepuasan tersersendiri bisa mendominasi Nita, bisa menguasai Nita, bisa menjadi Tuannya.

Selama ini saya tidak pernah menyangka akan mendapatkan kesempatan ini, terlebih lagi bersama Nita. Nita yang selalu menjadi panutan dan disegani di kantor oleh para lelaki, saat ini sedang berlutut di hadapanku, setengah telanjang, dan tunduk pada semua perintahku. Terasa sangat bangga pada diriku sendiri, merasa sangat jantan ketika ini terjadi, tapi terasa juga taku. Saya bisa saja menyalahgunakan penyerahan diri Nita ini, bagaimana jika saya menjadi abusive, karena seperti Spid*r-man “With Great Power Comes Great Responsibility”, bagaimana jika saya melukai Nita?

Saya merasa masih kurang untuk memainkan peran Tuan ini bagi Nita, saya takut melukainya, saya mesti belajar lebih banyak lagi, dan berdiskusi lebih banyak lagi dengan Nita. Kembali bahwa hubungan ini harus berdasarkan pada 3 prinsip utama, safe, sane and consesual. Kalau tidak ini sama saja dengan abusive.

“Nita, Aku mencintaimu!”, kataku pada Nita, Dia menatapku dengan matanya yang indah itu.

“Aku juga mencintaimu Ted”,

“Ajari aku menjadi tuanmu yang baik, ajari aku memuaskanmu!”, sambil ku raih dagunya dan mengecup bibir merahnya.

Nita memejamkan matanya, kami berdua menikmati kecupan kami, kupeluk Nita, kudekap Dia. Kurebahkan tubuhnya di karepet dan terus mengecup bibirnya, sesekali Nita menggit bibirku, dan tentu saja juga ku balas dengan gigitan kecil dibibirnya. Saya sekarang berada di atas tubuh Nita, menikmati setiap detik bersamanya, mengecupnya, merasakan kehangatan tubuhnya, merasakan halusnya kulitnya, mendengarkan tiap hembus nafasnya. Saya sangat menikmati waktu-waktu ini.

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part