. Kerja atau Sex Part 24 | Kisah Malam

Kerja atau Sex Part 24

0
34
Kerja atau Sex

Kerja atau Sex Part 24

Calm Wind

Aku hanya duduk di apartementku, menikmati ayunan musik jazz, sembari meminum the hangat, menikmati waktuku sehabis latihan, malam minggu sendiri di rumah menikmati waktuku. Walau sebenarnya malam ini aku tidak akan bisa setenang biasanya, aku masih harus memikirkan Inggrid yang merencanakan sesuatu, entah itu baik atau buruk, atau apa.

Setelah pulang tadi, aku telah berusaha untuk mengubunginya, tetapi dia tidak mengangkat telponku atau pun membalas chatku. Entah apa tujuannya, dia mengenalku dengan baik, dia bermain dengan rasa penasaranku, dia bermain dengan keingin tahuanku akan rencananya. Aku masih belum tahu, apakah informasi mengenai hubunganku dan Nita bisa menjadi senjata untuk menyerang Pak Stanly atau tidak, hal ini membuat lonely jazz night ku terganggu.

Akhirnya aku memutuskan, aku harus mencari tahu.

***

Pukul 2300, malam, aku sudah berada di depan Rumah Inggrid, aku melihat rumah itu sepi, tapi lampu terlihat menyala dari dalam rumah. Mobil Shu Yacob tidak ada, apakah mereka sedang keluar kota lagi? Aku sekali lagi mencoba menefon Inggrid dari handphoneku, kali ini di angkat.

“Masuk saja koh, sudah Ling tunggu dari tadi”, lalu dia menutup telponenya. How she even know, aku bahkan tidak merencakan untuk ke rumahnya, dan tidak merencanakan untuk melakukan ini, dan dia sudah mengetahui aku sedang berada di depan rumahnya. Tapi bisa saja karena motorku yang berisik, dia telah mendengarnya beberapa meter sebelum aku tiba, tapi dia juga tidak akan sepercaya diri itu langsung menyuruhku masuk dan mematikan telpon.

Kemudian aku memarikirkan motor ku dengan benar di parking lot rumahnya, dan aku berjalan mendekati pintunya, dan menekuk gagang pintu tersebut, benar pintunya tidak terkunci. Ku dorong pintu itu perlahan, terlihat Inggrid sedang duduk, di sofa yang menghadap ke pintu, kurang lebih 4 meter dari pintu masuk, duduk dan menatapku. Dia terlihat sederhana dengan hanya mengenakkan kaos longgar dan celana pendek, benar-benar pakaian rumahan, dan tanpa make-up, dia terlihat imut seperti itu, tubuhnya yang kecil pun terlihat santai duduk di atas sofa yang terlihat agak besar untuknya.

“Please lock the door”, sambil dia tetap bersandar di sofa tempatnya duduk, aku pun berbalik, dan merapatkan pintu itu, terlihat kunci yang menggantung pada pintu tersebut, dan aku lalu memutarnya dan mengunci pintu itu, “klik”.

“Koh…”, suara Inggrid terdengar lirih dan begitu dekat, saat aku berbalik, dia sudah berada di hadapanku, dia telah berdiri berhadapan denganku, jaraknya tidak lebih dari satu lenganku. Aku tidak menyadarinya, aku tidak mendengar langkahnya, walau dia tidak beralas kaki, harusnya akupun masih bisa merasakan pergerakannya yang sedekat ini. Inggrid yang dulu ku kenal, Inggrid yang dulu tak berdaya, sekarang sudah menjadi wanita yang berbahaya, baik secara mental maupun fisik.

Inggrid lalu menyandarkan tubuhnya kepadaku, wajahnya tepat berada di dadaku, memelukku dengan erat. Jika Inggrid mengincar nyawaku, mungkin aku sudah mati dengan mudah di tangannya. Inggrid pasti bisa mendengarkan detak jantungku yang meningkat karena terkejut olehnya, walau wajahku tidak menunjukkannya. Aku secara tidak sadar melingkarkan lenganku ke tubuhnya, membalas pelukannya.

“Koh, Ling telah memutuskan untuk menyerahkan jiwa dan raga ling, begitu juga dengan hati Ling, saat itu”, sambil Inggrid tetap memelukku erat. Terasa hembusan nafasnya di dadaku, terasapula setiap tarikan nafasnya di tubuhku. Aku tidak dapat menjawab apapun, aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya menyandarkan daguku di kepalanya, dan memeluknya Erat.

“Mungkin Ling egois, mungkin Ling jahat, tapi…”, dia mendoron tubuhku, dan mengangkat dagunya, dan wajahnya menatapku, pandangan kami saling bertemu.

“Tapi Ling akan tetap mencintai Ko Tedy, walau saat ini Koh Tedy sedang bersama wanita lain, Ling tahu, di hati ko Tedy, Ling selalu ada…”, dia mengatakannya dengan percaya diri, dengan menatap mataku, dan dia ingin melihat apakah aku bisa menyangkali perkataannya itu. dan …

Aku tak bisa.

Yang Inggrid katakan itu benar, bagaimanapun, dengan siapapun aku nantinya, tidak mungkin aku bisa menghilangkan Inggrid dari hatiku, walau mungkin itu bukan Inggrid yang saat ini di hadapanku, tapi Inggrid yang ketemui 9 tahun yang lalu, she change my life for ever.

Inggrid lalu menjinjitkan kakinya, wajahnya perlahan mendekati wajahku, akupun memajukan tubuhku, hingga bibir kami bertemu. Kami berciuman. Ciuman ini terasa berbeda, aku merasakan perasaan yang berbeda dari Inggrid, perasaan yang sungguh-sungguh, dan perasaan ini, sepertinya akupun tulus padanya. Dan hal inilah yang ku takutkan, ketika perasaanku telah terhanyut olehnya.

Kami berpelukan dan saling bertukar kecupan, walaupun sudah beberapa kali aku mengecup bibir Inggrid tapi tak pernah seperti ini, kali ini aku terbawa dalam perasaan ini. Entah perasaan apa, bergetar didadaku, aku merasakan hanya ada aku dan dia saat ini.

“I love you…”, Inggrid mengucapkannya di sela ciuman kami ini, terdengar merdu di telingaku, aku tidak tahu apakah ini tulus atau hanya caranya membuatku terlena, tapi aku saat ini telah jatuh kedalam genggamannya, aku terbuai. Aku tidak mampu membalas ucapannya itu, dalam hati ku entah apa yang kurasakan.

Tubuh Inggrid terasa hangat, rasanya tak ingin ku lepaskan pelukan ini. Tapi, Inggrid tiba-tiba menarik tubuhnya, melepaskan pelukan ini, aku tersadar dari hipnotis ini. Inggrid lalu menarik tanganku, Menarikku ke arah kamarnya. Aku diam tak berkata, begitu juga Inggrid, dia hanya sesekali berbalik dan menatapku tersenyum, dan aku hanya bisa membalasnya.

Dalam kamar Inggrid, terasa begitu soft, tertata dengan warna putih rose, terlihat soft dan nyaman, ranjangnya queen size bed yang tertutup oleh bed cover berwarna senada dengan dindingnya, pink dan putih yang sangat feminim menurutku, bonek-boneka dan tatanan lemari dan meja yang sangat rapi membuatku terkesan dan terasa benar-benar memasuki kamar seorang gadis muda yang rapi.

Dan tidak seperti banyangan ku dan kemampuan Inggrid yang tidak seperti wanita umumnya, kamarnya terlihat sangat girly. Selain itu, aroma wangi dari kamar itu sangat lembut dan menghanyutkanku, ini aroma yang biasa tercium dari Inggrid, ini aroma parfum yang dia gunakan. Wangi ruangan ini semakin membuatku terbui oleh Inggrid.

Inggrid lalu memelukku dan mengecup bibirku lagi, bibir kami kembali tertaut, saling bertukar kecupan dengan lembut, tangan Inggrid kini merangkul di leherku, tubuhnya menjinjit untuk menggapai bibirku, begitupun aku membungkukkan sedikit tubuhku untuk mengecup bibirnya. Lenganku telah melinggar di pinggulnya, menyokong tubuhnya yang gini rapat dengan tubuhku.

“Let’s do it right this time…”, bisik Inggrid, dalam kecupannya. Aku hanya terdiam mendengarkan itu, lalu perlahan Inggrid menarik tubuhku ke arah ranjangnya. Inggrid lalu memutar tubuhku, dan mendorongku terduduk di atas ranjangnya.

Perlahan Inggrid menarik kaosnya ke atas, di balik kaosnya terdapat pakian tidur yang lembut berwarna putih, senada dengan warna kulitnya yang putih bersih. Payudaranya yang tidak begitu besar, terbalut indah dalam pakaian itu, terlihat begitu pas dalam balutan putih.

Inggrid lalu menyandarkan tubuhnya ke tubuhku, mengecup bibirku dan menarik kaosku ke atas, meloloskannya dari tubuhku dengan mudah. Dia menyentuh ruas rusuk kiriku yang dulu pernah terluka, dia menyentuh bekas luka itu dengan jemarinya yang lembut.

“Thanks for saving my live back then”, sambil tersenyum menatapku. Aku hanya bisa membalas senyuman itu, hanya bisa merangkulnya dalam pelukanku, merasakan kehangatan tubuhnya, menatap wajahnya. Sentuhan kulit Inggrid di tubuhku terasa hangat, memberikan sensasi tersendiri.

Aku menyelipkan tanganku di bawah pakaian Inggrid, terasa kulitnya lembut dan hangat. Lengan Inggrid telah melingkar di leherku menarik kepalaku semakin dalam, dalam kecupan kami. Aku lalu mengakat tubuh Inggrid dan membaringkannya di ranjangnya, kini aku berada di atasnya dan dia terbaring di atas ranjang, hanya menatapku pasrah.

Aku mengecup bibirnya kembali, berusaha menarik celana pendeknya turun, Inggrid membantuku dengan perlahan mengangkat pinggulnya dan meloloskan celana itu. Bibir kami tetap saling terpaut dalam pelukan kami, cukup lama bibir kami saling mengecup, terasa kini tangan Inggrid berusaha melepaskan ikat pinggang yang ku kenakkan, perlahan tapi pasti, kini dia sedang berusaha membuka celanaku, perlahan dari kancing jinsku dan kini resliting celanaku, kini telah berhasil dibukanya. Inggrid berusaha untuk menurunkan celanaku, namun tubuhnya yang kecil tidak mampu menurunkan celanaku cukup jauh, hanya hingga sebatas pahaku.

Karena cenala di paha itu cukup mengganggu, aku akhirnya menegakkan badanku, dan menurunkan celana itu, dan kini aku hanya tinggal mengenakkan celana dalamku di hadapan Inggrid. Inggrid pun tampak cantik, hanya dengan pakaian tidurnya dan celana dalam putih juga yang senada dengan pakaian dan kulitnya. Inggrid berdiri dan memelukku, tingginya yang hanya sedadaku, membuatnya tepat bersandar di dadaku.

Tanpa ku duga Inggrid mulai melingkarkan lidahnya di putingku, aku merasa terkejut, walaupun Nita juga melakukan itu padaku, aku masih merasa tidak terbiasa dengan jilatan seperti ini. Inggrid sesekali menghisapnya, dan menjolatnya lagi, membuatku semakin ke gelian. Menyadari itu, Inggrid mengangat wajahnya dan menatapku sambil tersenyum jahil padaku, namun tetap melanjutkan aktifitasnya. Wajahnya begitu imut dan menggoda, sambil lidahnya menjulur memainkan putingku.

Akupun tidak lagi dapat menahan rasa geli itu, akhirnya ku tarik pakaian Inggrid ke atas, bahan kain ini begitu lembut, sehingga begitu mudahnya dia terlpas dari tubuh Inggrid. Kini Inggrid sama dengan ku, sudah topless dan hanya menggunakan celana dalam. Aku kemudian merebahkan tubuh Inggrid, dan aku mengincar payudaranya, ku malai dari payudara kanannya, perlahan aku mengecup tunjolan payudara Inggrid, perlahan semakin mendekati putingnya. Terdengar desahan Halus dari mulut Inggrid ketika aku menytuh putingnya, tanganku pun tidak tinggal diam, perlahan aku memainkan tanganku di payudara kirinya, perlahan meremas dengan lembut dan sesekali jemariku bermain di puting Inggrid.

Tubuh Inggrid seperti tergelitik oleh permainan ku di payudaranya, membuatnya mulai mendesah dengan lembut, dan nafasnya menjadi tidak teratur. Inggrid mengusap rambutku dengan lembut, dan dia menikmati setiap permainan lidahku di payudaranya, dia pasrah terhadap apa yang kulakukan padanya.

Aku kemudian berpindah ke payudara kirinya, agar adil, jangan hanya yang kanan yang ku emut dan ku jilat, yang kiri juga. Bergantian kini tangan kiriku mulai meremas payudara kanannya dan memainkan putingnya dengan jariku dan wajahku menempel pada payudara kiri Inggrid.

Setelah beberapa menit bermain dengan puting Inggrid, aku mulai mengalihkan perhatianku, aku bergerak ke bawah. Keperut bidangnya dan kini berada di hadapan gundukan wangi yang masih terbalut oleh celana dalam ini. Aroma kewanitaan Inggrid sudah terendus olehku, walaupun masih tertutup oleh celana dalamnya. Aku kemudian menarik celana dalam itu turun, melewati paha dan betisnya, meloloskannya dengan cepat.

Kini tubuh Inggrid telah terekspose di hadapanku, tubuh telanjangnya yang putih dan mulus, menggemaskan namun berbahaya, sesosok wanita yang luar biasa juga kini telah terbaring telanjang di hadapanku pasrah, menyerahkan segalanya untukku.

Ku lebarkan sedikit selangkangan Inggrid, memperlihatkan gundukan kewanitaannya yang indah, tertata dengan rapi, dan berwarna pink indah sekali. Aku mendekatkan wajahku padanya dan mulai menjulurkan lidahku.

Ketika lidahku menyapu permukaan vaginanya, Inggrid mengejang dan mendesah, tapi tetap saja pasrah terhadap perlakuanku, dia sembari menggigit jarinya menikmati tiap usapan dan jilatanku di vaginanya. Matanya terpejam menikmati setiap sentuhan itu.

Vaginanya sudah sangat basah, terasa cairan kewanitaannya pada saat lidahku sedikit ku selipkan masuk dalam celah surga itu. Rasa hangat itu, dan sensasi gurih di ujung lidahku, membuatku semakin buas menikmati lubang kewanitaan Inggrid. Aku merasakan tubuh Inggrid sudah mulai menggeliat, sepertinya dia sudah akan orgasme, aku berusaha untuk memberikannya kepuasan tapi aku tidak ingin dia hanya orgasme karena lidahku, aku ingin dia orgasme karena penisku.

Makanya aku menghentikan jilatanku di vaginanya, aku berdiri tegak di hadapannya hanya tertutup oleh celana dalamku. Inggrid terbaring berusaha mengatur nafasnya, dari matanya yang sayu dia menatapku yang berdiri di hadapan tubuhnya yang tidak berdaya ini, dia hanya tersenyum padaku.

“Please be gantle…”, terdengar halus dari bibirnya, dia tahu aku akan mengagahinya, dia tahu aku akan menghujamnya dengan penisku, dan dia hanya pasrah menerimanya. Aku lalu melorotkan celana dalamku, hingga jatuh ke lantai, kini penisku telah mengacung kokoh di hadapan Inggrid, dia hanya menatapnya dengan senyum.

Aku naik ke atas ranjang dan memposisikan diriku, di atas tubuhnya, dan mengarahkan penisku tepat di depan vaginanya. Aku menyandarikan penisku di celah vaginanya, lalu aku menatap mata Inggrid, walau ini bukan pertama kali lagi baginya, tetap saja ini berbeda dari sebelumnya. Kali ini penuh dengan perasaan dan lemah lembut tentunya.

Inggrid menatapku kembali dengan dalam lalu hanya mengangguk pelan tanda setuju. Kutekan penisku perlahan, lalu belahan surga itu perlahan merekah, menerima penisku masuk dengan perlaha, wajah Inggrid sedikit meringis dengan mata yang terpejam dan suara desahan terdengar dari mulutnya. Penisku bergerak perlahan namun pasti semakin dalam kedalam jalan surga itu.

Inggrid meringis, sepertinya perih ketika penisku masuk sekamin dalam ke dalam vaginanya. Aku menghentikan pergerakanku, menunggu hingga vaginanya terbiasa dengan keberadaan penisku di dalamnya. Pasti waktu itu dirinya terasa sangat sakit, tapi dia memaksa dirinya untuk melanjutkannya.

Aku kemudian merangkul tubuh Inggrid, memeluknya dan mengecup bibirnya. Bibir kami kembali tertaut, tubuhnya terasa tegan, namun perlahan menjadi lebih relaks, dan kini dia sudah lebih tenang. Perlahan ku gerakkan pinggulku untuk keluar , mundur dari posisinya, dan perlahan kemudian ku majukan lagi. Terasa tarikan nafasnya yang menjadi cepat dan tidak teratur, setiap kali pinggulku maju dan mundur, tapi kini tubuhnya sudah lebih relaks.

Perlahan ku percapat gerakanku, membuat nafas Inggrid semakin tidak karuan, dan ciuman kami pun terlepas, karena Inggrid berusaha mengambil nafas. Walau seperti itu, dekapan Inggrid semakin mengencang, menahan tubuh bagian atasku tetap di posisinya, hanya pinggulku saja bergerak maju dan mundur. Semakin cepat ku gerakkan pinggulku maju dan mundur, semakin tidak karuan nafas Inggrid berusaha mengimbangi gerakanku, kini kedua kakinya telah melingkar di punggungku, mengunci posisiku seperti itu, dan membuat posisinya semakin terayun ketika aku menghujamkan penisku dalam kedalam vaginanya. Desahan Inggrid mulai terdengar menggemah di kamar ini, untung saja rumah sedang kosong tentunya.

Bertahan cukup lama dalam posisi ini, walau kakiku sudah mulai pegal, akhirnya Inggrid sepertinya sudah akan bobol dengan hujaman-demi hujamanku. Tubuhnya semakin erat memelukku, dan keludian lepas, pelukannya terlepas dari diiringan dengan lenguhan panjang dari bibirnya. Dan badannya pun lemas, pelukan dan kakinya yang melingkar terjatuh dari tubuhku. Dia terbaring lemas, walau penisku masih aktif bergerak keluar masuk dalam vaginanya, namun terasa vaginanya sangat hangat dan basah, Inggrid telah orgasme. Inggrid masih terdengar mendesah halus, namun tubuhnya tidak sanggung bergerak lagi, hanya seperti itu terbaring, dengan peniskuyang sedang mengagahinya.

Aku kemudian berganti posisi, aku menarik tubuh Inggrid yang sudah lemas ke pinggiran ranjang, dan melebarkan kakinya, hingga vagiannya terbuka lebar bagiku. Dan agar aku bisa bertumpu di lantai. Aku melihat ada sedikit bercak darah di vagina Inggrid, mungkin karena lecet akibat gesekan dengan penisku. Aku tidak mempedulikannya lagi, nafsuku sedang berada di ubun-ubun, aku harus menyelesaikannya dulu.

Aku kembali mengujamkan penisku kedalam vagina Inggrid, dia hanya bisa menjerit kecil ketika penisku kembali masuk kedalam tubuhnya. Aku bergerak dengan cepat, dengan iramanya yang lebih teratur. Suarang Inggrid bergemah di seuruh kamar akibat hentakan-hentakan penisku.

Akhirnya aku sudah akan orgasmi, bergebas aku menarik menisku keluar dari vagina Inggrid, dan langsung lelehan spremaku menyembur keluar dari penisku. Inggrid yang merasakan penisku tercabut, agan sedikit menunduk dan melihat ke arah penisku, tapi tanpa dia duga semprota spermaku mengenai wajahnya dengan telak, membuat Inggrid menjerit dan menutup matanya.

Tembahkan demi tembakan berikutnya bersimbah mengenai payudara dan perut Inggrid, spermaku berserakan di sekujur tubuh Inggrid karenaku. Sangat puas rasanya bisa memenuhi tubuh Inggrid dengan muntahan lahar panasku ini. Aku merasa lelah dan merebahkan tubuh di samping Inggrid.

Inggrid mengambil tisu di samping tempat tidurnya dan membersihkan ceceran spermaku yang telah menodai tubuhnya. Aku memandangnya dengan senyuman, dia begitu cantik dan menggemaskan. Setelah dia selesai, Inggrid juga mengelap penisku yang lemas dengan tisu, membersihkannya.

Inggrid menyandarkan tubuhnya padaku. Dia mendekap lenganku, membuat tubuhnya merapat padaku, payudaranya yang kenyal menyentuh lengan dan dadaku, tubuhnya terasa hangat dan terasa sedikit keringat di tubuhnya.

“Ih, sudah siap lagi dia…”, kata Inggrid malu-malu sambil menyentil lembut penisku yang sudah menegang lagi. Aku hanya bisa tersenyum pada Inggrid, walau tubuhku sudah lelah sehabis latihan tadi, sepertinya penisku belum.

Inggrid mengecup bibirku dengan lembut, sambil jemarinya bermain di penisku, menyentuhnya dengan lembut, membuatnya menegang dengan sempurna. Inggrid menekan tubuhku, dan kini dia telah berbaring di atas tubuhku, mengecupku dan menindihku. Kakinya melebar membentang di atas perutku. Tangannya menyusuri dadaku dan dia kini mengangkat pinggulnya sedikit kebelakang.

Mengarahkan vaginanya ke atas penisku, dan Inggrid perlahan menurunkan tubuhnya. Tapi karena vaginanya yang masih becek, penisku beberapakali tidak berhasil masuk, malah terpeleset kedepan, akhirnya aku menggunakan tanganku untuk mengarahkan ke jalan yang benar. Perlahan pun Inggrid menurunkan tubuhnya untuk memasukkan penisku. Dia berhenti sejenak, untuk membiasakan diri, Inggrid mungkin masih terasa perih ketika penisku masuk.

Kemudian sambil menopang di dadaku dengan kedua tangannya, Inggrid mulai menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Perlahan tapi berirama, namun desahannya tidak karuan dan nafasnya menjadi memburu. Aku merentangkan tanganku untuk meraih payudaranya, memeganginya agar tidak naik dan turun, meremasnya dengan lembut dan menggenggamnya penuh dengan tanganku.

Inggrid terus bergerak dan mendesah tidak karuan, gerakannya semakin cepat, dan cepat, tapi berirama, tubuhnya terasa hangat, dan begitu indah ku pandangi. Gadis manis yang dulu ku kenal kini telah menjadi wanita dewasa.

Dia sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya, kini Inggrid merebahkan tubuhnya di atas tubuhku, tapi pinggulnya terus bergoyang, membuat penisku basah oleh cairan kewanitaannya, terasa hangat dan legit. Tidak lama berselang, tubuh Inggrid mengejang dan membenamkan seluruh penisku kedalam vaginanya, Inggrid telah orgasme untuk kedua kalinya malam ini. Terasa jepitan-jepitan dalam vaginanya saat dia berkontraksi orgasme, sensasi yang luar biasanya. Aku bisa merasakan ada cairan hangat yang mengalir keluar membasahi zakarku. Inggrid sudah lunglai, sepertinya kali ini benar-benar tidak berdaya, karena tidak lama aku mendengarkan ada dengkuran halus darinya, sepertinya dia tertidur.

Aku hanya bisa mengelus rambut Inggrid yang telah tertidur di atas tubuhku, aku tidak ingin membangunkannya. Perlahan peniskupun mengecil, walau masih dalam vaginanya, mungkin karena keinginanku yang ingin dia istirahat, dan si Junior juga mengerti. Dan kerena matakupun sudah berat, akhirnya aku pun tertidur.

***

Aku terbangun dalam kamar yang begitu girly, iya aku berada di kamar Inggrid. Dengan lampu tidur yang redup menerangi ruangan ini, tubuhku tertutup selimut pink polos, terasa hangat, karena Inggrid berbaring di sisiku, merangkul tubuhku. Terasa sentuhan kulitnya yang menyentuh lenganku, dia belum berpakaian, kami berdua masih sama-sama telanjang di bawah selimut ini.

Memikirkannya saja membuat penisku mulai menegang lagi, tapi aku mengurungkan niatku, aku merasa Inggrid sudah cukup lelah kemarin, biarlah dia beristirahat. Akupun kembali memejamkan mataku untuk tidur.

***

Terasa hangat dan lembut, penisku terasa nikmat. Aku membuka mataku, Inggrid sedang memberikaku jilatan-jilatan lembut pada penisku, sesekali dia mencoba memasukkan kedalam mulutnya, tapi mulunya yang kecil kesulitan memasukkan penisku itu. Dia hanya perlu latihan lagi.

Melihatku yang sudah terbangun, Inggrid masih melanjutkan aktifitasnya tapi sambil menatapku, wajahnya yang polos bertolak belakang dengan bibirnya yang sedang mengulum penisku.

“Koh, Dia ngak mau turun, malah tegang terus…”, katanya manja padaku, sambil memainkan penisku dengan tangannya.

“Gimana mau turun Ling, dia di kasih enak terus…” jawabku sambil tersenyum kecil padanya.

“Kalau di ginikan…”, sambil Inggrid seolah-olah ingin menggigit kepala penisku, aku hanya meringis kecil ketika dia melakukannya. Lalu diapun tertawa, dan akupun ikut tertawa bersamanya.

“Yuk, sarapan dulu koh, sudah aku masakkan sarapan”, lalu Inggrid meninggalkan di ranjang dan dia berjalan keluar, rupanya dia mengenakkan kaosku, dan sepertinya tanpa celana lagi, atau mungkin celana dalam, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, karena kaosku cukup besar padanya.

Aku mengikuti Inggrid keluar setelah mengenakkan celana, Dia telah memasak sosis dan telur bersama sedikit sayuran hijau, an english breakfast. Dia hanya memasak satu porsi, karena dia tidak sarapan. Akupun duduk di meja makannya, dan Inggrid kebelakan terlebih dahulu katanya akan mencuci perabotan masak yang dia gunakan.

Tidak lama Inggrid pun kembali, dia telah selesai. Inggrid kembali duduk bersama ku di meja makan, aku maish menyelesaikan sarapanku.

“It’s good… Kamu harusnya lebih sering masak buat ku…”, candaku pada Inggrid.

“I will make it for you, if Nita stop make it for you”, jawabnya dengan ringan menatapku, jadi ternyata dia tahu kalau Nita sering membuatkanku bekal.

“Koh, Ling tahu, Ling sedikit terlambat kembali ke hidup koko, dan Ling tahu sekarang kamu sedang bersama Nita, tapi Ling yakin bisa merebut hatimu darinya…”, sambil Inggrid duduk mendekat padaku, dan mengecup pipiku.

“Aku tahu aku tidak memberitahumu hubungan ku dengan Nita, karena itu harusnya terlarang di kantor”, jawabku pada Inggrid.

“Iya, lagipula yang Ling harus temukan affairnya itu bukan Koko dan Nita, tapi Pak Stanly…”, Inggrid menjawab dengan santai sambil menatap wajahku.

“Lagipula sekarang Ling yang terlibat affair dengan mu ko, jadi gimana Ling harus melapor?”, sambungnya sambil tersenyum.

“Masa kamu ngelaporan diri sendiri?”, jawabku padanya sambil tertawa, dan Inggridpun ikut tertawa bersamaku. Tapi aku sendiri tidak yakin, mengapa Inggrid bisa menanggapi hubungan kami begitu ringannya, padahal bagiku hubungan kami penuh dengan masalah.

“Ayo ko mandi dulu… Koko keringat karena semalam, jadi bau acem”, sambil Inggrid mengambilkanku handuk yang telah dia siapkan.

“Ngak mau bareng?”, tanyaku menggoda Inggrid, tapi dia menolaknya.

“Ling masih harus nyuci dulu, masih mau beresin rumah jadi nanti masih berkeringat, kokoh ajah dulu…”, sambil Inggrid mencubit pinggangku.

“Pasti mau genit nanti kalau mandi kan”, sambil mengedipkan matanya padaku, Inggrid tahu saja bila aku pati akan menjailinya di kamar mandi. Akhirnya akupun mandi dan bersiap untuk pulang, dan Inggrid mengembalikan kaosku, saat aku selesai, dia sudah berpakian kaos lagi sambil membersihkan ruang tamunya.

“Sudah sana pulang, aku masih banyak kerjaan nih dirumah, kalau kokoh ada, Nanti Ling malah ngerjain koko bukan ngerjain rumah”, jawabnya sambil terus membersihkan, sekarang sudah pukul 0900, tapi Inggrid sudah dengan semangatnya membersihkan rumahnya. Akupun dengan berat hati meninggalkan Inggrid sendiri yang masih membersihkan rumahnya.

***

Akhirnya aku tiba di apartementku, dan ketika aku membuka Pintu apartementku, aku terkejut karena Nita ada di apartementku sedang duduk menungguku!
***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part