. Kerja atau Sex Part 23 | Kisah Malam

Kerja atau Sex Part 23

0
32
Kerja atau Sex

Kerja atau Sex Part 23

WeekEnd

Pekerjaan di awal bulan ini tidak begitu ramai, terasa lebih senggang. Ya tentu selain pekerjaan kantor sehari-hari aku masih harus tetap sibuk dengan setiap kegiatan ekstraku diluar kantor, latihan dan gymku, tetap harus menjaga kebugaran di antara pekerjaan yang padat. Kadang kala ada juga rasa malas yang menghampiri, ingin lepas dari rutinitas dan bersantai, mungkin liburan lebaran nanti bisa menjadi sarana pelepas penat itu, tapi harus bersabar lagi selama sebulan.

Selama bulan puasa biasanya kami juga akan menghadapi upaya pencairan kredit, dan penambahan fasilitas kredit karena di masa-masa itu banya juga pengusaha yang harus meningkatkan jumlah stok dan modal mereka untuk menghadapi kebutuhan konsumen itu, jadi sebelum membayangkan liburan, kami harus menghadapi badai pekerjaan terlebih dahulu.

Jadi untuk sementara hanya bisa mengisi waktu dengan menonton ke bioskoplah dulu, lagipula sebentar lagi Jurasic World akan rilis, tunggu waktunya, pergi deh nonton.

Jumat, 11 Juni 2015

Pekerjaan hari ini cukup memburu, banyak calon debitur yang ingin tandatangan pencairan kredit minggu depan, jadi kami semua harus bekerja ekstra.

Tidak ada juga gelagat mencurigakan dari Inggrid, beberapa hari ini, tapi aku sendiri sejak Inggrid mengetakan mengenai rumor affair Pak Stanly dan Mbak Claudia, aku sendiri kurang percaya, jadinya aku ikut memperhatikan mereka, tentunya tanpa sepengetahuan Inggrid. Yang aku khawatirkan adalah Inggrid memanfaatkanku untuk memancing hubungan Pak Stanly dan Mbak Claudia kepermukaan. Aku sendiri masih tidak yakin jika mereka berdua memiliki hubungan khusus diluar dari pekerjaan.

Seperti biasa jumat ini kami berencana untuk keluar makan bersama, biar bisa sambil mengobrol pekerjaan dan hal-hal tidak jelas lainnya. Tapi kalau kondisi perkejaan seperti ini biasanya kami akan kesulitan juga, karena pasti masih ada pekerjaan yang harus di kerjakan.

Akhirnya sudah mendekati pukul 1200 siang, Boby sudah mulai grasagrusuk menanyakan hendak makan di mana siang ini. Boleh dibilang pekerjaannya memang cepat selesai dibandingkan kami semua, skill komputernya boleh dibilang paling handal, makanya kecepatan mengetik, membuat laporan dan lain-lain yang berhubungan dengan komputer dia yang paling cepat, tapi kalau disuruh mencari berkas secara manual, dia paling cepat menghilang.

“Ayo mau makan siang di mana?”, Boby sudah menempel di cubicalku, untuk menanyaiku.

“Aku terserah yang lain saja, ini lagi di kebut, jadi hus…hus…”, jawabku pada Boby sekenanya biar dia cepat pergi dan aku bisa segera menyelesaikan pekerjaanku. Kemudian dia beralih kemeja-meja berikutnya dengan pertanyaan yang sama, dan hampir mendapat jawaban yang sama dari rekan-rekan yang lain.

“Kita makan bakso saja yang dekat dari kantor, biar cepat kembalinya dan tidak lama menunggu makanan”, jawab pak Stanly yang masih sibuk memelototi layarnya untuk checking cabang lain. Akhirnya Boby pun manut saja dan pergi. Biasanya sih kalau membicarakan mengenai bakso yang cepat dan dekat kami sudah punya warung bakso langganan kami yang selalu kami datangi dalam keadaan padat seperti ini. Dan akhirnya aku bisa rehat sejenak karena sudah selesai satu lagi calon debitur, ya tinggal di check, dan tentu saja baru akan di check setelah balik makan siang.

Aku memperhatikan sekitar, Boby sudah menghilang, sepertinya dia sudah turun duluan ke parkiran, kalau tidak ya dia ada di lobby, memperhatikan para nasabah, cari yang bening. Inggrid, eh Elly, masih sibuk dengan scanan dan filingnya, sedanggal Nita sedang merapikan mejanya sepertinya dia sudah selesai juga dengan debiturnya. Frank dan Hans sudah saling ngobrol di pojokan ruangan di samping dispenser air. Santi sepertinya masih gelagapan berusaha menyelesaikan pekerjaannya, dia masih membolak balik dokumen di depannya. Mbak Claudia dengan tenangnya masih bekerja di mejanya dengan matanya terus bergantian menatap layar dan dokumen di mejanya. Pak Stanly sendiri sudah selesai dan ku perhatikan sedang memainkan smartphonenya. Sepertinya tinggal menunggu Santi dan Mbak Claudia dan kami sudah bisa bergerak.

“Aku turun duluan ya”, aku menyaut kepada mereka semua, dan membawa handphone, smartphone dan dompetku ke bawah, biasanya kami akan menggunakan mobil, mobil Mbak Claudia dan mobil Pak Stanly.

“Ted!”, seru pak Stanly dan melempakanku kunci mobilnya dari posisi duduknya, dan tepat kepadaku. Lalu kemudian dia juga berdiri menyusulku, lalu untuk apapula dia harus melempariku dengan kunci mobilnya, bikin heboh saja. Akhirnya kami turun bersama menggunakan lift.

“Gimana Ted, ada perkembangan”, Pak Stanly menanyakan hal itu padaku dalam lift.

“Belum ada pak, saya masih berusaha mendekatinya”, jawabku padanya, walau sebenarnya Elly telah memberikanku informasi yang tidak terduga tentang Pak Stanly.

Akhirnya hari ini pun perlalu dengan damai dan tenang. Semuanya berjalan seperti biasanya tidak ada grasak grusuk di antara kami. Damailah pokoknya, sebenarnya ini juga sebuah pertanda yang kurang bagus, katika banyak pekerjaan dan kami adem ayem saja, kami harus ada konflik, harus ada debat, itulah para sarjana hukum, terlalu tenang juga ada yang kurang rasanya.

***

Tedy : Sayang, besok Nonton yuk, Jurasic World…

Nita : Yuk… Jam berapa?

Tedy : yang siang pastinya, tempat biasa… (ya tempat biasa kami adalah sebuah mall pinggiran kota yang jarang banget chinese berkeliaran ke sana, kami kesana hanya untuk nonton saja)

Nita : Oke, besok jemput ya sayang, aku sudah book bengkel buat service mobil sih besok”

Biasanya kami memang jalan masing-masing ke lokasi tujuan kami, selain mencegah kecurigaan, kami merasa lebih mudah, karena aku biasanya langsung lanjut ke Dojo.

***

Sabtu Pagi aku sudah beraktifitas seperti biasanya, joging, memasak, mandi, dan merapikan apartementku, semuanya sudah beres kulakukan tanpa membuang waktu, sudah kelar sebelum jam 1000, sisanya bisa kugunakan untuk bersantai sebelum menjemput Nita, katanya sih dia ingin di jemput di bengkel yang tidak jauh dari rumahnya, karena dia harus membawa mobilnya untuk di service di sana.

Hari ini aku sudah bersiap dengan kaos oblong, jins, dan sepatu sneakerku, dan aku menggunakan jaket sport berwarna hitam, yang tidak pernah ku kenakkan ke kantor, jadi seharusnya tidak ada yang mengenali jaket tersebut. Jam 1100 aku sudah berada di bengkel, tempat Nita akan menservice mobilnya, dia baru saja tiba di bengkel tersebut, karena janjinya juga pukul 1100.

Ku perhatikan Nita turun dari mobilnya, Nita terlihat cantik dengan kaos sweater dengan balutan jaket semi kulit, dengan celana hitam dan sepatu yang senada.

Dia terlihat cantik dengan balutan serba hitam itu, aku menghampiri Nita, yang sedang menyelesaikan administrasi mobilnya.

“Sayang, sudah dari tadi?”, sambil dia menunggu pihak bengkel menginput data kendaraannya, dan memberikan tandaterima kepada Nita.

“Baru juga sampai sayang”, sambil aku berdiri dibelakang Nita dan memasukkan tanganku kedalam saku jaketku.

“Oke, ayo berangkat”, sambil Nita mengambil faktur dari petugas bengkel dan memasukkannya kedalam saku jaketnya, hari ini dia tidak membawa tas, dia hanya menyelipkan dompetnya di saku dalam jaket yang dia kenakkan (kalau yang biasa pakai jaket pasti tahu ada saku di bagian dalam, bagian dada).

Nita kini telah duduk bersandar padaku di atas motorku, Nita memelukku dengan erat, terasa tonjolan payudaranya yang merapat ke punggungku, walau tetap juga terasa dompetnya yang menempel juga, jadi agak tidak seimbang kiri dan kanannya.

Aku memacu motorku dengan kecepatan standard dalam kota 40km/jam (patuhi peraturan lalulintas), jadi kurang lebih akhirnya 20 menit kemudian baru tiba lah kami di pusat perbelanjaan tersebut. Setelah membeli tiket untuk Jurasic World, kami akhirnya menunggu sejenak hingga filmnya mulai, membeli popcorn, dan ice tea agar kami memiliki cemilan di dalam nanti.

Kami pun duduk di kursi kami, mungkin karena ini penayangan siang, studionya tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang dan segerombolan anak kuliah sepertinya yang memilih duduk di bagian agak depan, sedangkan aku dan Nita memilih baris B di bagian tengah, jadi kami bisa melihat seluruh layar dengan leluasa. Selain kami, ada juga pasangan lain yang menonton, tapi mereka memilih pojokan sudut belakang, posisi mereka cukup jauh, jadi aku tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas, biasanya yang seperti ini sudah jelas tidak ingin di ganggu.

Nita duduk di sebelah kananku, dan sehingga aku bisa melihat pasangan yang mengambil pojokan itu jika aku melihat ke arah Nita, tapi aku tidak ingin mengurusi kegiatan orang lain tentunya. Filmnya sudah di mulai, film ini cukup menegangkan memberikan banyak jump scare dan kejutan saat menonton, jadi sesekali Nita juga mencengkram tanganku, Nita kini sudah tidak sungkan-sungkan lagi merangkul tanganku dan menyandarkan kepalanya ke bahuku, kadang dia menutup wajahnya dengan pundakku, dan malah sesekali menggigitku karena gemes dengan alur ceritanya.

Saat aku menoleh menatap Nita, dia masih serius melihat ke layar, suasanya memang sedang menegangkan, mataku teralih melihat ke arah pasangan sebelumnya, sepertinya yang wanita tidak ada lagi mungkin sedang ke toilet. Ternyata si wanita mengangkat tubuhnya, si wanita ternyata sedang berjongkok di selangkangan si pria tadi, dan sekarang dia kembali ke kursinya, sepi sih sepi, tapi tidak begitu juga.

Filmnya cukup asik, jadi aku tidak kepikiran untuk berbuat mesum kepada Nita saat itu, Nita pun terlihat menikmati filmnya, jadi aku juga tidak mungkin memintanya melakukan hal yang macam-macam, walaupun aku tahu Nita pasti akan menurutiku. Tapi aku memilih untuk nonton dan menikmati film saja.

Akhirnya film itu habis juga, cukup memenuhi ekspektasi, walau tidak terlalu menyajikan jalan cerita yang baru selain Raptor yang bisa dilatih. Hanya berusaha menghidupkan kembali waralaba Jurasic Park sebenarnya.

Aku dan Nita pun meninggalkan ruangan studio, bersama orang lain, pasangan yang sebelumnya di belakang tadi masih ada juga di belakang belum meninggalkan ruangan. Aku hanya memperhatikan jaket mereka, jaket si wanita cukup unik, dia mengenakkan jaket army yang cukup besar, dan menutup hingga pahanya, mungkin mereka datang menggunakan motor juga seperti kami.

Aku dan Nita masih sempat berjalan-jalan, sebelum aku harus menuju dojo, karena seperti biasa aku harus latihan sabtu ini. Nita terus merangkul sama kami berjalan, aku sangat menikmati moment ini, tapi tentunya kami harus tetap berhati-hati, karena bisa saja ada yang mengenali kami.

Setelah menemani Nita sedikit berbelanja, kami akhirnya memutuskan untuk pulang, Nita memintaku langsung saja ke dojo, dan dia akan naik taxi ke bengkel, katanya biar kau tidak usah memutar lagi untuk mengantarnya ke bengkel. Tapi aku tetap mengantar Nita, karena memang aku yang harusnya mengambil keputusan.

Ya karena ada Nita ku bonceng, aku tidak bisa terlalu kencang, paling kisaran 60-80km perjam, takut membahayakan Nita, kalau sendiri ya perkirakanlah sendiri kecepatan berapa bisa di capai R15.

Akhirnya kami tiba di bengkel tadi, sepertinya mobil Nita belum selesai, karena memang biasanya sabtu itu selalu penuh dengan book service mobil pegawai kantoran, jadi ya gitulah. Akhirnya dengan berat hati aku harus meninggalkan Nita yang masih harus menunggu di Bengkel, dan aku pun melaju ke Dojo.

***

Aku tidak membawa tas hari ini, tapi aku selalu menyiapkan satu set Gi di dalam lokerku, tapi sabuk hanya satu-satunya, jadi aku hanya menggunakan sabuk Coklat yang memang aku simpan di loker.

“Loh kok Coklat…”, sambil Inggrid mendekatiku yang sedang latihan, Inggrid terlihat imut dengan Gi yang agak kebesaran padanya dan dia menggunakan tangtop putih senada dengan warna gi di dalamnya, tapi tidak dengan belahan rendah tentunya.

“Luntur nih, habis kena diterjen…”, jawabku sambil bercanda padanya, kemudian tertawa.

“Ah…sudah lah…”, sambil kemudian dia memannyunkan bibirnya, dan membuat pipinya menjadi tembem, dia terlihat imut, tapi tetap saja mematikan, penampilan Inggird sangat mengecoh, tubuh kecil, tapi mengeuasai beberapa beladiri, dan close quarter combat. Walau aku belum pernah melihatnya “beraksi”, dari lekuk tubuh dan posturnya bisa terlihat dia cukup terlatih, terutama otot bicep dan triceps-nya seimbang, menunjukkan latihannya yang seimbang dan tentunya kekuatan yang balance, cukup mematikan untuk kuncian. Serta deltold (otot lengan atas, dekat bahu)yang terbentuk, berarti hooknya juga keras.

“Koh, bantu stretching dong”, sambil dia mengambil posisi duduk, dan berusaha mencium lutut kanannya, lengannya sebenarnya sudah memegang pergelangan kakinya, tapi tubuhnya belum turun hingga mencium lutut. Jadi aku memposisikan badanku dibelakang Inggrid dan mulai menekan punggungnya dengan perlahan, lalu ku tahan dalam posisi itu dan mulai berhitung.

“Koh, tadi Ling ada liat orang persis banget sama koh Tedy”, tiba-tiba Inggrid membuyarkan hitunganku, jederrrrr.

“Ah yang bener, di mana?”, jawabku masih dengan nada bercanda, mungkin saja memang ada orang yang mirip denganku yang dia liat.

“Tadi di Mall xxx, jaketnya juga persis loh dengan jaket yang koh Tedy pakai”, jawabnya ringan sambil berganti ke lutut kirinya, aku pun mengikutinya melanjutkan membantunya stretching. Dan jelas yang dilihat oleh Inggrid tadi adalah Aku, dan pasti di juga melihat Nita.

“Terus kamu negur?”, aku bertanya pada Inggrid melanjutkan penasaranku, seberapa yakin bahwa itu aku.

“Ngak… Ling cuman foto…”, jawabnya dengan sangat ringan, tapi aku malah terasa terancam, apakah ini yang di katakan Pak Stanly, bahwa Inggrid memiliki poker face yang luar biasa. Aku sepertinya tidak bisa berkutik, dia pasti telah melihat dengan jelas aku dan Nita tadi siang.

“Ling cuman mau tahu, apakah pria dan wanita itu ada hubungan apa ya, kelihatannya mesrah banget”, sambil Inggrid mulai melebarkan kakinya lagi, dan mengulangi prosesi mencium lututnya.

“Ling cemburu loh”, kata Ling sebelum membungkukan badannya lagi mengarah ke lututnya.

Aku tidak tahu harus menjawab seperti apa pernyataan Inggrid tadi, ada perasaan aneh dalam diriku, aku merasa bersalah, tapi juga senang ketika tahu Inggrid cemburu padaku dan Nita, seharusnya aku takut, tapi aku malah senang, perasaan macam apa ini.

Setelah selesai Inggrid lalu berdiri, dan ketika aku juga berdiri, Inggrid langsung membalikkan tubuhnya dan menggenggam Gi ku, dan menarik tubuh bagian atasku, dan pinggulnya bergeser masuk dan kaki kanannya telah menghalangi langkah kaki kananku juga, seketika dia menarik lengan kirinya dan mendorong lengan kanannya, membuatku kehilangan keseimbangan.

Tapi tidak semudah itu dia membantingku, aku merentangkan kedua tanganku menangkap pundaknya, dan kaki kiri ku berputar untuk berpijak, kuputar pinggulku dan sekali sentakan, kaki kanannya yang sebelumnya menghilangkan keseimbanganku, kini itu yang menghilangkan keseimbangannya, ku angkat tubuh Inggrid dari atas matras dan bersiap membantingnya turun.

Sesaat sebelum tubuhnya menghantam matras, lengan kananku menarik kerah gi-nya, dan lengan kiriku menahan tubuhnya, sehingga dia tidak terhantam turun ke matras.

“Ling…”, suaraku lirih menegurnya, dia hanya menatap mataku dalam.

Tiba-tiba kakinya mendarat di pertuku, dan dia menjatuhkan badannya di matras, dengan berat badannya dia menarik tubuhku dan membantingku, dia tanpa ragu, membuat tubuhku terbating dan menimbulkan suara yang lantang di penjuru dojo.

Aku hanya bisa menatapi langit dojo, lampu-lampu yang berlantungan, atap seng yang terlihat jelas, dan terasa kosong, aku merasa bersalah telah mengecewakan Inggird.

***

Selama latihan Inggrid berusaha menjauhiku, walau tidak terlihat dari raut wajahnya, tetapi pergerakannya berusaha menjauhiku. Aku juga tidak menyalahkan dia, aku yang bersalah padanya, sejak awal aku tidak memberitahu hubunganku dengan Nita, tapi dia juga tidak memberitahu dari awal apa tujuannya, tapi dengan ini, apakah hubunganku dan Nita bisa menjadi ancaman untuk karir pak Stanly dan Tim kami, aku masih tidak tahu apa yang dipikirkan Inggrid saat ini.

***

“Koh, Koko tahu kan salah koko apa?”, saat dojo sudah mulai sepi dan semua sudah berganti pakian, aku masih duduk di tribun penonton ketika Inggrid datang menyambangiku. Ini adalah satu pertanyaan klise perempuan yang tidak akan pernah bisa dijawab oleh seorang pria, jawab penuh jebakan dan perangkap.

“yes, aku tidak pernah memberitahumu hubunganku dengan Nita”, jawabku sambil menatap matanya, dan dia hanya mengangguk, tidak ada perubahan di wajahnya, dia sangat pandai menyembunyikan perasannya. Inggrid lalu mendekatkan tubuhnya padaku, dan berbisik.

“Aku cemburu koh, dan hanya aku yang boleh membuat orang lain cemburu”, apa arti perkataan Inggrid ini, apakah dia ingin membuat Nita cemburu, kalau sampai hal itu terjadi ini bisa terjadi perang di kantor, dan aku yang akan menjadi korbannya.

“Maksudmu Ling?”, aku masih bingung dengan pernyataan Inggrid barusan.

“You owe me a date, a romantic date”, sambil Inggrid tersenyum mentapku, dan mengedipkan matanya, kemudian dia langsung saja berlalu pergi meninggalkanku di tribu. Inggrid harus menghentikan kebiasannya meninggalkan ku seperti ini, meninggalkanku penuh tanya dan tidak berkutik.

***

Bersambung

Pembaca setia Kisah Malam, Terima Kasih sudah membaca cerita kita dan sabar menunggu updatenya setiap hari. Maafkan admin yang kadang telat Update (Admin juga manusia :D)
BTW yang mau jadi member VIP kisah malam dan dapat cerita full langsung sampai Tamat.
Info Lebih Lanjut Hubungin di Kontak
No WA Admin : +855 77 344 325 (Tambahkan ke kontak sesuai nomer [Pakai +855])
Terima Kasih 🙂

Daftar Part