. Kehidupan Di Jakarta Part 45-46 | Kisah Malam

Kehidupan Di Jakarta Part 45-46

0
304

Part 45 & Part 46 – Kehidupan Di Jakarta

“Anjrit! Pengen gw tabok, tuh, si botak!” Kata gw.

“Sabar jendral. Tunggu tanggal mainnya” Kata Radit.

“Tai, men. Emosi gw naik” Kata Kevin.

Udah enam hari, setelah rapat, kita selalu mengawasi si tuyul satu ini. Keliahatannya, dia kuat sekali.

Dan gara-gara itu, gw melupakan urusan gw dangan Cathy dan tante SuS, untuk sementara.

Mana, palanya silau banget.

Gebetannya, beuhhhhh. Eprywhere, etah. Dari Sabang sampe Marauke, ada.

Kita lagi mengawasi dia, yang hari ini aja, udah ganti tiga perempuan. Kebetulan kita sedang berada disebuah mall.

“Jendral, kepala Sukro bergerak” kata Radit.

“Oke. Kita ikut bergerak” kata gw

Kemana, lagi itu orang? Bisa-bisanya. Dia menuju parkiran.

“Sersan, catat nomor polisinya. Terus kamu foto mobilnya. Pokoknya semua tentang mobil itu! Kirim ke kopral Boni dan Kolonel Alex” Kata gw.

“Siap jendral!” Jawab sersan Radit.

“Kijang satu kepada kijang Inova. Ganti” kata jendral.

“Kijang Inova. Ganti” jawab mereka.

“Kalian bakal dapat gambar mobil, yang dikirim oleh kijang kapsul.
Saya minta kalian ikuti mobil itu. Ingat, hati-hati! Ganti”

“SIAP 86!”

“Kalau kalian, sudah sampai tujuan. Hubungi kami. Saya, kijang kapsul, dan kijang-kejang, akan menyusul”

“LAKSANAKAN!”

“Kijang-kejang, sapa, bro?” Tanya Kevin.

“Elo, men”

“Wah, tai, lo. Emang gw ayan”

Kalau diperhatikan, si kepala Sukro, mainnya bersih juga. Mungkin sebelum dia pergi, supaya tidak meninggalkan jejak, dia menggunakan porstex, untuk menghilangkannya. Cerdik sekali.

“Ayo, sekarang kita ke mobil!” Perintah gw.

Kali, ini, kita menyewa sebuah mobil. Demi mengurangi kecurigaan. Masa, gw bawa, mobil gw. Baru lunas, tuh. Siapa tahu misi gagal, mobil gw digebukin lagi.

“Ini, orang backingannya, kuat, bro. Dari setiap informasi yang gw terima, yang jelek-jeleknya sedikit. Dalam artian yang ketahuan, sedikit. Dan sepertinya bapaknya punya bisnis dengan salah satu, keluarganya Tere. Makanya, om Tony, tidak bisa berbuat banyak” Kata sersan Radit.

Hmm, gw jadi punya ide.

“Bro, cari keburukan perusahaannya. Pasti ada. Atau mungkin tentang keluarganya” kata gw.

“Oke, Jendral”

Kita berjalan dengan kecepatan sedang, sambil melewati setiap jalan, yang dilewati kopral dan Kolonel.

“Kijang Inova ke kijang satu. Ganti”

“Disini, kijang satu. Ganti”

“Lapor jendral, kita ada di tempat ajojing. Ganti”

“Kalian, bukanya awasi tersangka, malah ajojing. Mau dipecat kalian!” Kata sang jendral.

“Aduh, jendral. Tersangka, ada di tempat, ajojing”

“Oh. Ngomong, dong. Tahu gitu, saya ikut. Ya, udah, kami kesana. Kirim titik koordinatnya. Ganti”

“Siap. Ganti”

Dan, sampailah kita di tempat A.J.O.J.I.N.G

Lalu kita masuk, ke dalam club tersebut.

‘Ala lala lala e
Ala lala lala e’
Heh, author, gw kan, masuk club. Kenapa, lagunya Warkop? Ganti dong.

‘Dulu aku suka padamu dulu aku memang suka
(Ya-ya-ya)
Dulu aku gila padamu dulu aku memang gila
(Ya-ya-ya)’
Nah, ini baru mantep. Lanjut, thor.

(“Ada, Rhoma Irama ajojing. Inget thor, jangan bergadang. Apalagi berjudi”)

(‘Terus, apa dong?’)

(Uwah, author nanya suara Sakti. Cerita macam apa ini)

(“Yang ini, aja. Sini, biar gw yang play”)

‘Destak-destuk-destak-destuk-botak-botak-botak’
Iya, deh. Ini aja.

“Lapor, jendral, kepala Sukro, lagi genit-genittan” kata kopral Boni, ketika kita samperin meraka.

“Oke, Bro. Kita harus sergap hari ini juga. Radit, elo pulang duluan. Selesaikan tugas yang gw berikan. Cari setiap kelemahan yang dia punya” kata gw.

“Siap, jendral!”

Lalu, dia pulang.

“Terus, sekarang kita ngapain, bro?” Tanya Kevin.

“Ya, nunggu, bro”

2 jam kemudian

“Nggak, mau pulang. Nggak mau pulang” kata Alex.

“Kapal oleng, kapten” Kata Kevin.

“Ayo, pegangan semuanya” tambah gw.

“Pecah!” Teriak Boni.

“Bukanya, Ngawasin target, malah ajojing juga. Sadar oi!” Kata suara Sakti.
Oh, iya. Maklum, bro asik, nih. Baru naik, tuh, tadi.

Kepala Sukro menuju pintu keluar.

Wah, gawat.
“men, men, berangkat, men! Target bergerak! Ayo sadar!” Kata gw.

“Hah, oh iya. C’mon, c’mon!” Kata Kevin.

“Iya. Let’s go!” Tambah Boni.

Lalu, kita menuju pintu keluar.

“Eh, lupa. Bentar, bro” kata gw.

Lalu, gw balik ketempat, sebelumnya.

“Lah, masih disini. Ayo berangkat Lex!” Kata gw.

“Nggak mau pulang. Nggak mau pulang” jawab dia.

“Ya, elah. Ayo” gw tarik dia.

Lalu kita menuju pintu keluar.
Pas, diluar. Ternyata hari sudah malam.

“Mana, bro?” Tanya gw.

“Itu, tuh. Kita sergap sekarang. Takutnya kita nggak punya waktu lagi” kata Kevin.

“Oke. Tunggu aba-aba, gw”

“1”
Ready?
“2”
Set,
“3”
Go!

‘Brukkkkkkk’
“Shut up, you fucking skinhead, motherfucker! Kalo teriak, gw setrum lo!” Kata gw.

“Bius aja, men” saran Kevin.

Hah, ide cemerlang.

“Oke. Selamat tidur, botak”

Lalu, di yang sudah tidur kita bawa ke kostsan untuk di interogasi.

“Lah, si Alex lo bius juga? Kok, ikutan tidur, dia?” Tanah Kevin.
“Jiwanya masih ajojing, men” Kata gw.

Lalu sampailah kita di kostsan.
Dengan kedua orang itu masih tidur.

“Bro, aman?” Tanya gw.

“Ntar, tunggu Radit” jawab Boni.

“Nah, tuh dia. Aman, Dit?” Tanya Boni.

“Sip”

Lalu, kita turunkan tersangka.
Kita bawa kedalam.

“Langsung ke UGD, bro!” Kata gw.

Lalu, dia kita bawa ke ruang UGD.
Dia, kita ikat disebuah korsi.

“Nah. Gimana, Dit? Dapet?” Tanya gw.

“Dapet, dong” jawab dia.

“Oke. ayo kita ambil peralatan menggertak!”

Lalu, kitamengambil peralatan menggertak.

“Eh, iya Alex. Masih, di mobil” kata Kevin.

“Ya udah, bawa sini aja” jawab gw.

Lalu Kevin keluar dan mau ke si Alex. Sampai meraka balik dalam keadaan Alex masih nyenyak.

“Terus sekarang ngapain?” Tanya Radit.

“Tunggu dia bangun” jawab gw.

‘Kukuruyuk’

Ayam udah Berkokok, dan si botak ini belum bangun-bangun.
Wah, parah. Tega-tega.
Matahari udah terbit, oi!

“Woi, apa-apaan, nih” kata si botak.

Akhirnya bangun juga, lo, nyet.

“Sob, bangun, Sob. Akhirnya bangun juga tuh orang” kata gw.

“Nah, elo ditungguin nggak bangun-bangun. Gw pikir meninggal” kata Kevin.

“Ya udah. Mari kita mulai aja. Ada urusan apa lo sama Tere?” Tanya gw.

“Oh, elo, yang kemarin ada didepan kostsan ya si Tere, ya. Kenapa, lo? Cemburu?” Kata dia.

“Bukan urusan, elo! Yang gw tanya, ada urusan apa lo sama, Tere?” Kata gw lagi.

“Bukan urusan, lo, JING! Sini gw bayarin hidup, lo, satu-satu” jawab dia.

Wah, sombong ini, orang. Elo sama emak gw, emang kayaan, siapa? Emak gw kemana-mana, lah.

Cuma tante-tante, Yang boleh membayar hidup gw.

“Wah, kupret, lo!” Kata Kevin, yang emosinya naik.

“Ayo, sini!” Tantang si botak.

“Sabar, Vin”

“Ayo, tahan gw! Cepet, tahan gw. Emangnya gw berani sama elo!” Jawab Kevin dangan emosinya. Emosi yang bodoh.

Terpaksa, keluarkan gertakan maut.

‘Cling-jlebbbbbb!’
Gw mengeluarkan pisau daging, gw.

“Hahaha, mau ngapain lo, nyet? Motong tangan, gw? Potong aja, nih” kata si botak.

Ternyata jurus gertakan, tidak mempan.

“Nggak berani lo? Pengecut!” Kata dia.

Wah, berat-berat.
Saksikan kelanjutannya, di episode selanjutnya.

[table id=AdsTbet /]

Ini interogasi yang sangat sulit. Saatnya mengeluarkan jurus lain.

Baiklah kalau gitu, sekarang saatnya membuka aib.

Trap card open!

“Radit! Jalankan!” perintah gw.

“Siap!”

Lalu, Radit membuka proyektor.

“Tuh, bro, kegiatan, setiap perusahaan, lo!” Kata gw.
Dia sedikit kaget. Tapi sepertinya di tetap pada pendiriannya.

“Gw nggak terlalu peduli. Tapi Kalo, lo mau tahu, gw bakal menangin taruhan buat jadi pacarnya Tere. Pas, gw keluar dari sini, kalian bakal tamat” jawab dia.

Oh, jadi ini penyebab banyaknya lelaki, yang mengancam tuan putri.
Nggak bisa didiamkan, ini.

“Radit, kasih tahu lagi, Dit” kata gw.

“Nah, ini, setiap pacar-pacar, lo. Ada yang simpanan pejabat. Ada yang istri orang. Ada yang artis. Hebat juga, lo, ya. Nah, ini yang penting. Kalo yang ini sampe ketahuan publik, lo bakal di penjara!” Kata Radit.

Sepertinya dia mulai takut.

“Ah, nggak mungkin. Gw nggak bakal masuk penjara. Ketika. Gw bebas akan gw pastikan, lo pada sengsara!”

Ternyata, ribet juga, ini orang.

Lalu gw mengingat, apa kata-kata, supreme Gege.
“Saya tahu apa yang terjadi. Saran saya gunakan Barton. Di akan berguna pada waktunya. HaHaHaHaHa!”

‘Ting’
“Bro, tunggu dulu, bentar”

Lalu gw keluar.
“Barton! Barton! Sini, Ton! Gw punya tugas yang asik” kata gw.

“Meong”

“Udah lo ikut, aja. Gw punya hadiah”

“Meong”

“Oke, Let’s go!”

Lalu gw bawa si Barton kedalam.

“Nah, sekarang, elo jelaskan rencana lo, ke mahluk, ini!” Kata gw, sambil menaruh Barton di meja depan si botak.

“Eh, apaan, nih?” Kata si botak.

“Meong!” Dia tampol si botak.

“Jangan main, kucing, dong” Kata si botak lagi.

“Meong!” Dia tampil lagi.

“Tolong jauhin, dong! Please!”

“Meong!” Dia cakar botaknnya.

Hantam terus, Ton.
Bikin dia sengsara.

“Lo, pada, bisa gw laporkan polisi, karena mengetahui kejadian ini”

“Guys! Madep belakang!” Kata gw.

“Meong!” gw yakin, Barton melakukannya dengan baik.

“Ah, kucing kampret!” Teriak si botak.

“MEONG!” Gw rasa, si Barton, menampol si botak dengan kerasnya.

“Iya, iya, ampun. Oke-oke, gw minta maaf” akhirnya nyerah juga.

“Nah, dari tadi, kek, tong” kata Kevin.

“Kerja bagus, Ton. Nggak sia-sia lo gw didik jadi Shaolin” kata gw.

“Meong”

“Nah, nyerahkan, lo. Untuk itu lo harus bersumpah untuk menjauh, dari, Tere. Kalo sampai gw lihat batang hidung lo lagi, si Barton akan buat hidup lo lebih bermakna” kata gw.

“Sekalian, hentikan taruhan tentang Tere!” Tambah Boni.

“Oke gw janji. Gw bakal menjauh dan menghentikan taruhannya Tere. Tapi please, jangan sampe orang tahu gw takut sama kucing” kata si botak.

Oh, iya, biar nyaho, harus gw kasih pelajaran.
“Bentar ya, bro. Ada orang yang mau gw hubungi” kata gw.

Lalu gw keluar, untuk menelpon seseorang.

Gw: “halo, tante. Apa kabar? Saya Gege. Inget sayakan? Sebelumnya, saya minta maaf buat yang waktu itu. Nah, oleh karena itu, saya punya orang yang mau kenalan dengan tante” Lalu dia menjawab.

Gw: “mau, tan. Kalo begitu, hari ini, bisa?” Dia, jawab lagi.

Gw: “sekarang mau, tan. Oke kalau begitu”

Lalu gw masuk kedalam ruang UGD.

“Oke, bro, saatnya kita balikan orang ini, ke kandangnya” kata gw.

Lalu kita bawa tersangka keluar, menuju mobil.

“Lah, Robby?” Kata Tere, yang ngeliat si Robby ada di kost.

“Hai, Ter” jawab si botak.

“Ngapain, lo?” Kata Tere.

“Nggak…shhh, main aja” jawab Robby.

“Udah biarin aja, Ter. Ntar gw yang ceritain” tiba-tiba Monique, dateng.

“Udah ayo, jalan!” Kata gw.

Lalu kita berangkat menuju mall.
Tempat janjian dengan tante tersebut.

Hingga, Sampailah kita.

Restoran Jepang. Mana restorannya, ya?

“Mau dibawa kemana, gw?” Tanya si botak.

“Mau gw kenalin ke perempuan” jawab gw.

“Sapa bro?” Tanya Alex.

“Udah liat, aja”

Lalu, sampailah kita di restorannya.

“Halo, tante Susi apa kabar? Nih tan temen saya. Oke, nggak?”

‘Ta-da’
Tante Harambe.
Bukan tante SuS, ya. Jangan salah.

“Boleh juga. Ayo sini duduk sama aq” kata si Harambe.

“Uwah, gila, lo, bro” kata Boni.

“Udah sana, duduk. Nih, kunci mobil, lo. Masih diparkir di klub, kemarin” kata Alex.

“Huua, jangan Tinggalin gw, plis” kata si botak.

“Udah, jajal aja dulu. Siapa tahu cocok. Dah” kata gw.

Lalu kita tinggal, dia sendirian dengan tante Harambe.
Siapa tahu mereka berlanjut kepelaminan siapa yang tahu.

Di mobil, kita kepikiran Tere.

“Bro, ini Tere, gimana?” Tanya Radit.

“Ya, kita lewati saja, apa yang akan terjadi” kata Kevin.

Hingga sampailah kita di kost.
Mari terima segala hal, yang akan terjadi.

Dan Tere sama Monique, udah berdiri di depan.

“Ehuwaaaaaaaaaaaa” Tere nangis.

“Loh, kok, lo ngangis?” Tanya gw.

“Gw udah denger dari Monique. Ternyata lo pada baik-baik sama gw.
Gw jadi terharu” jawab dia.

“Ter… Lo, jangan nangis, dong. Gw jadi ikut sedih, nih” kata Boni, ikut sedih.

“Tahu, lo. Hilang sudah ke jantanan gw” kata gw, ikut dalam keharuan.

“Ya, udah ayo kita nangis bersama” Kata Kevin.

“Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”

Lalu, gw nyamperin Monique.
“Untung ada elo, Mon. Kalo nggak, bingung dah, kita, ngejelasinnya” Kata gw.

“Iya. kan, gw juga yang mengijinkan kalian” jawab dia.

“Btw, lo gimana ngejelasinnya?” Tanya gw.

“Gw bilang aja hasil interogasi kalian” jawab dia.

Gimana, caranya?
Lewat pikiran, gw?
Wah, gila. Horor!

“Nggak. Nggak lewat pikiran, lo. Kemarin gw suruh si Radit naro, mic. Jadi, bisa gw dengerin” jawab dia.

Benar-benar diluar dugaan. Hebat, juga si Monique. Nggak salah dia jadi ibu Presiden.

Tapi, kok, dia bisa tahu gw mikir, Kalo dia tahu dari pikiran gw?
Wah, parah, parah.

Halaman Utama : Kehidupan Di Jakarta

BERSAMBUNG – Kehidupan Di Jakarta Part 45-46 | Kehidupan Di Jakarta Part 45-46 – BERSAMBUNG

Selanjutnya ( Part 43-44 ) | ( Part 47-48 ) Selanjutnya