. Kehidupan Di Jakarta Part 37-38 | Kisah Malam

Kehidupan Di Jakarta Part 37-38

0
266

Part 37 & Part 38 – Kehidupan Di Jakarta

#Hari Jumat

Setelah kemarin gw menemukan keluarga aneh, kali ini target adalah orang yang gw kenal. Si tante BeL. Kita janjian di hotel yang sama, waktu kita pertama, berbisnis.

Karena gw udah tahu kelemahannya, gw akan main cepat.
Karena gw capek.

Gw: “halo, tan, di kamar nomor berapa?”

Tante: “kamar 412. Kamu minta aja cardlocknya atas nama tante. Tante belum nyampe, nih”

Gw: “oke, tan”

Kok, dari kemarin ekornya 12 melulu.
Don’t care, lah.

Lalu gw menuju kamar.
Gw pikir, gw bakal dikasih kejutan lagi, nggak tahunya, emang belum nyampe.

Nggak lama, sampailah tante BeL.

“Sorry, ya. Lama, ya, Ge” kata tante BeL.

“Nggak papah, tan”

Tanpa buang-buang waktu, kita langsung bermain.
Gw juga langsung mengarah ke kelemahannya. Supaya cepet selesai.

“Ahh, ayo, Geeee!” Gw nggak mau buang-buang waktu.

“Ge, tante mau keluar Ge!” Yessss, cepet selesai.

“Ahhhhhh, tante keluar!”

“Ge, jangan balik dulu. Kita masih lanjut lagi” perintah tante BeL.

Ah, shittt. Tidak sesuai rencana gw.

[table id=Ads4D /]

#Hari Sabtu

Kemarin, gw main beronde-ronde sama tante BeL. Dan hari ini gw harus kerja lagi.

Menurut tante BeR, gw bakal ketemu client, di cafe di apartemennya client.
Dan katanya, orangnya keturunan India.

Hmm, mari kita lihat, seperti apa.

Lalu sampailah gw, di cafe tersebut.

Gw lalu menelepon client tersebut.
Gw: “Halo, tan. Saya udah nyampe, nih”
Tante: “oke, saya turun, ya”

Dan datanglah, tante-tante keturunan India, yang berkulit agak putih. Beda dengan orang India kebanyakan.

“Halo, Gege, ya” kata sang, tante.

“Iya”

“Kenalin saya Rani Kapoor” Aca-aca.

“Oh halo, tan”

“Yuk! naik keatas”

Lalu, kita naik keatas, menuju kamarnya.

Apartemennya cukup besar.
Yang jelas ini bukan tipe studio.

“Langsung aja, ya. Saya udah nggak tahan” kata tante Kapoor.
Wush, mesin udah panas sepertinya.

Lalu kita ciuman, tapi si tante Kapoor yang banyak mengontrol.
Nehi-Nehi, udah terlalu Panas rupanya tante, ini.

“Eh, by the way, kita bukan sex biasa, loh” kata tante Kapoor.

“Apa, tan?”

“Kamasutra”

WHAT!

MATI GW!

[table id=AdsKaisar /]

#Hari Minggu

Badan gw remuk. Kemarin gw akrobatik sama tante PooR.
Sebenarnya, gw nggak pengen lanjut kerja hari ini.
Tapi mau gimana, kontrak udah berjalan.
Pegel banget gw, Monique bantulah kakanda.

“Udah, bro. Jalan ntar kesiangan”
Kata suara Sakti.
“Iya, bentar”

“Bro, inget, bro, hari ini tante ClaR. Duit, men”

“OK, let’s go!”

“Giliran duit aja, cepet”

Masih inget tante ClaR, kan? Kakak tirinya tante BeR.
Gw bakal ketemuan di rumahnya tante ClaR.
Yang pasti, gw sudah memastikan bahwa suaminya sedang keluar kota. Males gw kalau ada itu orang.
Mengganggu sex gw.

“Halo, tan, apa kabar?”
“Eh, kamu udah dateng, Ge” jawab tante ClaR, yang lagi santai di gazebo rumahnya.
“Hehe, iya, tan”
“Bentar ya, Ge, tante lagi nunggu sesuatu”
“Oke”

Gw lega juga, bisa istirahat bentar.
Dan nggak tahunya, gw malah ketiduran di gazebo.
Dan gw kebangun, akibat ada yang mengulum kontol gw.
Gw membuka mata dan…..

“Dewi????”
“Hai, Ge. Udah, tidur aja. Biar gw sama tante Clara yang memuaskan elo. iya nggak, tan” si Dewi memberikan jawaban menggoda, yang berbeda kalau dia lagi di kost.
“Iya, Ge. Nikmatin aja. Gih, tidur sana. Tante tahu, kok kamu capek”
Apalagi tante ClaR ikut, menggoda gw.

Dua perempuan bugil, lagi memainkan penis gw, dan gw disuruh tidur???

MANA BISA TIDUR, GW!

“Sorry, tan, Dew, sebagai seorang lelaki jantan, kita tidak mungkin bisa tidur tenang, ketika ada dua wanita sexy nan cantik mau menyervis kita.
Dari pada tidur, lebih baik saya ikut bekerja”
Kerja, kerja, kerja!

“Terserah kamu, deh. Tapi jangan pingsan, ya” kata tante ClaR.

Dan kedua wanita itu menjilati Gege kecil.
Yang paling asik, mereka berciuman, dengan posisi penis gw diantara mulut mereka.
Benar-benar, kenikmatan duniawi.

Nikmat banget. Penis gw udah kayak daging diantara roti.
Dan mereka berdua sangat mesra. Terlalu mesra untuk ukuran dua orang perempuan. Gw berasa jadi orang ketiga, diantara dua lesbian.

Lalu, tante ClaR, naik untuk mencium bibir, gw. Sementara Dewi, stay di penis gw.

Gw nggak mau tinggal diam, tangan gw, gw arahkan ke vagina tante ClaR.

Kita berkali-kali bertukar posisi saling memuaskan.
Sampai tiba saatnya untuk menerobos vagina-vagina nganggur.

“Ge, kamu masukinnya ke Dewi, ya”
Shitt, gw nggak bawa kondom lagi.
Kalo, Dewi hamil gimana???
Terus, dia minta tanggung jawab di depan anak kost yang lain.
Bagaimana dengan Monique???
Gw nggak bisa ngelanjutin ini semua.
Ini harus di hentikan!

“Nih, Ge, pakai kondom punya tante” kata tante ClaR.
“Oh, oke, tan”
Uwahh, gw nggak punya pendirian.

‘Jleb’
Dan untuk pertama kalinya, selama di Jakarta, gw merasakan vagina perempuan muda, yang belum punya anak ataupun sudah nikah.
Emang beda feelnya.

“Ahhh, Geeee, kontol, lo enak!” Teriak si Dewi.
Buset, ini anak punya dua kepribadian apa gimana?

Tante ClaR nggak mau ketinggalan dengan menciumi si Dewi. Dan tangan gw dan Dewi memainkan vagina tante ClaR.

Lalu kita berganti posisi ke doggystyle, dan tante ClaR tepat berada di bawah Dewi. Dan lagi-lagi,
Mereka berciuman.

“Ge, gw mau keluar!” Kata Dewi.
Wah, ikutan deh, Kalo gitu.
Tante ClaR mau sekalian.

“Tante juga mau keluar!” Kata tante.
Buset, pikiran gw didengar lagi.

“Dew!”
“Ahhhhhhh, Geee!”
“Fuckkkkkkkkkk”
‘Crottttttttt’

Ah, puas-puas.
Istirahat bentar, sebelum pulang.

“Ge, tante belum diisi. Jangan pulang dulu!” kata tante.

Goddamnit!
Go away, you fucking, whore!

[table id=AdsLapakPk /]

#Hari Senin

Kemarin, gw nggak bisa nolak perintah tante ClaR. Apalagi, pada minta nambah + encore.
Dan hari ini, adalah hari terakhir marathon sex.
Gw benar-benar tepar.

Di Hari terakhir, ini, gw berharap gw nggak menemukan hal yang aneh.

Walaupun gw udah dapet duit banyak, tapi gw rasa gw pengen jual semua capek, gw. Laku, nggak, ya?

Gw janjian dengan client di sebuah mall, deket rumah tante SuS.
Kita janjian di sebuah restoran.

Gila, gw udah nggak semangat lagi.
Untung harga makanan di restorannya murah. Enak lagi.
Kalau nggak, mood gw langsung drop.

Lalu gw menghubungi client, melalui WA.

Gw: “tante Ratu, udah dimana?”
Nama clientnya Ratu.
Peresaan gw udah nggak enak.
Tante: “udah di depan restoran, kok. Bentar, ya”
Gw: “oke”

Lalu datanglah seorang ibu-ibu, berhijab, nyamperin gw.
Wait….. Berhijab nggak salah.

“Kamu, Gege, kan?” Tanya ibu-ibu itu.

“Betul” jawab gw.

“Saya Ratu” kata ibu-ibu itu.

Mudah-mudahan, nggak aneh-aneh sekarang.

“Santai aja, kita makan, dulu. Terus jalan-jalan sebentar” kata tante Ratu.
“Oke, tan”

Lalu kita makan dan jalan-jalan sebentar.
Dan gw dapet baju, celana, sampe jam tangan. Lumayan.

“Mau, kemana lagi, tan?”

“Ayo, ke apartemen tante”

“Oke”

Kita menuju apartemennya tante Ratu.

Sampailah kita di apartemennya.

“Ayo masuk, Ge!”
Kira-kira ukuran apartemennya, seukuran punyanya tante BeR.

“Bentar, ya, tante bikinin minum” kata tante Ratu.

“Nggak usah, tan” jawab gw.

“Udah, nggak papah. Tunggu sini aja”
Okelah kalau begitu.

Lalu tante Ratu balik membawa minuman.
“Nih, Ge! Ayo diminum”
“Hehe, makasih, ya, tan. Jadi ngerepotin” jawab gw.

Lalu, gw meminum sirup yang dibikinin oleh tante Ratu.
Dan….
‘Zzzzzzzz’
Gw tertidur.

Ketika gw bangun, gw udah di kasur dengan keadaan sudah bugil dan tangan serta kaki gw udah diikat.
Apa yang akan terjadi?????

“Oh, udah bangun”
Tante Ratu keluar dari kamar mandi,
Dengan menggunakan baju sexy berbahan latex beserta hijab berbahan latex pula, sambil membawa cambuk.

‘Ple-tas!’
“Jangan panggil tante Ratu. Panggil tante Dominatrix!”
Kata tante Dominatrix sambil mengayunkan cambuknya.

Ooh, FUCK!
Gw, nggak lagi disandera Isis, kan??

[table id=AdsTbet /]

“Ge..Ge, lo abis ngapain, sih?
Itu badan, ototnya ampe shock semua. Ada bengkaknya, kulitnya ampe merah, jalannya ngankang melulu!” Kata Monique yang lagi ngompres badan gw, yang lagi pada pegel-pegel plus perih, akibat 5 hari kemarin marathon sex. Apalagi ampe acrobatic dan ketemu tante Dominatrix.

“Abis kerja keras gw, Mon” gw cuma bisa jawab dengan lemahnya.

“Ya, udah sini gw pijitin. Elo, gw baru pulang kerja, udah ngerepotin”

“Terserah adinda, aja”

Gila, setelah gw saling berbalas Score dengan Jakarta, akhirnya gw kalah telak juga. Apalagi gol terakhir, tendangan jarak jauh.

Akibat, ini semua tante BeR, nggak berhenti minta maaf.
Gw dapet, uang berobat, Uang ganti rugi, Uang bonus, uang pencemaran kehormatan, yang kira-kira, semuanya cukup untuk beli 1 buah mobil murah, yang kelasnya lumayan dan masih sisa.

Rencananya, gw mau transfer sebagian duit gw, untuk bayar cicilan mobil. Tapi besok-besok aja, deh. Gw udah tewas. Gw juga nggak tahu gw dapet duit berapa. Udah masa bodo. Yang penting duit.

‘Krucuk-krucuk’
Perut gw bunyi.

“udah makan, belum?” Tanya Monique.

“Belum” jawab gw, males.

Hari ini gw belum makan sama sekali dan baru minum satu gelas air putih.
Dari kemarin gw pulang, gw langsung tidur. Terus bangun. Terus tidur, lagi. Nggak ada waktu buat makan.
Gw udah tepar banget.

“Seharian?” Tanya dia, lagi.

“He,eh”

Dan…. “Adauuu!” Gw di jewer.

“Makan, ke! Ntar Kalo lo sakit, gimana??? Masa gw harus kepikiran lo terus??? Jangan bikin resah orang mulu, dong!” Bentak Monique.

Wahhh, gw berasa sedang diomelin istri.
Ayo ma, omelin papa terus, papa seneng, kok.

“Gw, nggak nafsu. Lagian gw Nggak ada tenaga lagi buat beli diluar” jawab gw.

“Ya, kan, makan roti bisa! Atau nyuruh Pak Yono. Masa, lo, harus masuk rumah sakit dulu, baru ngerti!”

Entah kenapa, gw merasa senang dimarahi Monique.
Gw berasa di surga.

“Iya, adinda”

“Sekarang, lo makan! Diem disini, jangan kemana-mana!” Perintah Monique.

“Iya, ibu”

Monique turun kebawah, untuk mangambil makanan, buat gw.

“Ayo, makan!” Perintah Monique.

Sekali-kali, gw manja, ah.
“Ah…ah, suapin” kata gw.

“Ya, udah. Aaaa”

Hehehe, menang banyak gw.
Biarlah sekal-kali, gw jadi raja.

“Abis ini, tidur. Besok dirumah, aja. Nggak usah main-main keluar” perintah Monique.

“Baik adinda” jawab gw.

“Ayo habisin makanannya”

“Makasih, ya, Mon. Jadi enak” kata gw, ketika makanan sudah habis.

“Iya. Nggak usah yang aneh-aneh, lagi, ya. Udah, tidur sana. Good night” kata Monique, sambil nutup pintu.

Uwaa, gw di good night, sama Monique. Gw belum tidur, tapi udah mimipi indah. By the way, gw baru makan langsung tidur.
Nggak, dimarahin Sama si Monique?
Ah, biarlah.

“Enak, ya, bro?” Tanya suara Sakti.

“Enaklah. Baik itu makanannya, perawatannya, wajahnya, perilakunya. Enak semua” jawab gw.

“Bukan itu. Ditusbol sama tante Dominatrix, enak, nggak?”

“Mati aja, lo, men!”

#Besok harinya.

“Meong-meong!”

Siang-siang, Barton sudah berkokok, diatas genteng, membangunkan gw. Karena ini udah terlalu siang, makanya Barton yang berkokok. Bukan ayam.

Gw nggak berani membantah perintah Monique. Jadi, hari ini gw stay di kostsan, doang. Gw mau mencoba fasilitas baru kostsan tercinta ini.
Yaitu gym. Gym udah selesai dari beberapa hari yang lalu.
Lumayan, buat menetralkan otot-otot gw.

SAATNYA FITNESS!

“Shh…. Ouh yeah! Bangun kau otot-otot”

‘Macho’

“C’mon, bicep show me your strength, yeah!”

‘Macho’

“Oh…Otot trapesiuz”

‘Macho’

“Oh…Otot triceps”

‘Macho’

“Oh…Otot pectoralis!”

‘Macho’

“Body, its so hot, my body,
Body, love to pop my body,
Body, love to please my body,
Body, don’t you tease my body,
Body, you’ll adore my body,
Body, come explore my body,
Body, made by God, my body,
Body, it’s so good, my body”

‘Macho’

“C’mon-c’mon, ouuuhhhhhhh good”

‘Macho’

“YESS! i can feel ma body!”

‘Macho’

“I’m a macho man. fuck yeah”

‘Macho’

“A sexy muscle!”

‘Sexy macho’

“Macho, macho man
I gotta be a macho man
Macho macho man
I gotta be a macho”

“Ge, sumpah, gw geli liat elo! Najis sumpah. Nyeremin. Lo, lebih serem dari setan. Lo kayak, binaragawan erotis, yang lagi cari pelanggan.
Oh My God, gw liat percabulan. Lo kayak gay. Pake minyak goreng segala, lagi. Gw pikir bokap gw orang paling najis, nggak tahunya elo lebih parah. Gila, Ge, elo dikutuk. Parah! Gw tadinya mau ngomong sama elo, tapi lo harus mandi kembang tujuh rupa dulu. Pokoknya jangan ngomong sama gw sebelum elo bertobat” kata Cathy, tiba-tiba dateng, yang Nyerocos tanpa henti, saat gw masih dalam pose side chest.

[table id=iklanlapak /]

Gw udah selesai mandi, dan mau ngomong sama si Cathy.
Tahu, deh, apa yang mau diomongin.

“Kenapa, Cat?” Tanya gw.

“Lo, udah suci belum?”

“Ya elah, udah. Gw udah dimurnikan, kok” jawab gw.

“Gini, Ge, lo bisa nggak ketemuin gw sama nyokap gw?” Tanya dia.

Hmm.. Bisa, sih, bisa. Tapi, aman apa nggak? Itu pertanyaannya.

“Ya, bisa sih, Cat. Tapi, gw takut nggak aman” kata gw.

“Bisa diatur nggak, Ge?” Tanya dia.

“Okelah, gw bantu. Gw cari tempat dulu. Karena, nggak mungkin disini dan di rumah nyokap lo. Ada satu tempat, sih. Coba nanti gw cek. Ntar gw kabarin waktunya, kalau udah bisa” Kata gw.

“Makasih ya, Ge. Untung, ada elo. Lo, jadi abang gw aja, deh” kata dia.

Et, dah, abang ketemu gede.

“Tapi tumben, elo sore-sore udah pulang?” Tanya gw.

“Iya, gw ijin. Nggak tahu. Kepala gw pusing banget” jawab dia.

“Udah, makan belum?” Tanya gw.

“Belum. Dari tadi siang, gw udah nggak nafsu” jawab dia.

“Makan dulu, gih. Abis itu minum obat. Terus tidur”
Gw udah mulai bisa mengatasi orang sakit, akibat yang mulia Monique.

“Emang, ada makanan apa?” Tanya dia.

“Tuh, si Monique, tadi masak sebelum berangkat kerja” kata gw.

“Bener, Monique yang masak?”

“Iyee. Sumfeh”

“Ya, udah”

Terus dia, gw tinggal. Gw mau kekamar bentar.

Ngomong-ngomong, gw belum hubungi bokap gw, buat urusan pengacara. Mana gw nggak tahu nomor bokap gw lagi. Gimana, ya?

Hmm…..
Gw email? Nggak mungkin. Maklum, dia gaptek.
Surat-menyurat? Bisa tahun depan dibacanya.

“Eh, hape gw ketinggalan di bawah”

Lalu gw turun untuk mengambil hape gw yang ketinggalan.

“Lah, si Cathynya mana? Bukanya lagi makan?” Tuh anak, Gw suruh makan malah ngilang.

“Cat, Cathy!” Dimana lagi tuh, anak.
Nyusahin abang, aja.

Pas gw diruang TV, nggak tahunya si Cathy udah tiduran di sofa.

“Lah, Cat, kok, disini? Udah makannya?” Tanya gw.

“Belum. Gw pusing banget. Pas, gw mau ngambil makan, gw tambah lemes” jawab dia.

Lalu gw samperin dia. Gw letakkan tangan gw, di dahinya.
Anjrit, panas banget.

“Cat, badan lo panas. Ini mah, harus ke dokter” kata gw.

“Lo, kayaknya banyak pikiran. Sekarang lo jadi stres, terus pengaruhnya, malah kebadan lo. Udah dua kali, loh, elonya sakit” tambah gw.

“Nggak tahu, deh” jawab dia lemas.

“Lo makan sebisanya dulu. Abis itu kita ke dokter. Ntar, gw kabarin Monique. Gw ambilin ya, makanannya”

“Iya”

Lalu gw menuju dapur.
Gw sempatkan diri, untuk menghubungi Monique. Karena Kalo gw doang yang nganterin ke dokter, bisa-bisa, Cathy gw kasih obat asam urat. Kalo ada Monique, kan, dia tahu yang mana aja yang perlu diminum.

Gw: “halo, Mon. Ini, si Cathy badannya panas banget”

Monique: “udah di chek temperaturnya, belum?”

Gw: “belum, sih. Tapi, tangannya berasa panas banget. Bisa kali goreng telor disitu”

Monique: “dia, udah makan belum?”

Gw: “belum. Nih, lagi gw ambilin makan”

Monique: “belum makan sama sekali?”

Gw: “iya. Nggak nafsu katanya”

Monique: “ya udah. Elo, suruh dia makan. Gw balik sekarang juga”

Gw: “oke”

Lalu, Monique menutup, teleponnya.

Gw mangambil makanan untuk, Cathy.

“Ini, makan dulu, nggak usah abis. Yang penting perutnya ke isi” kata gw. Masa di isi dengan isi yang lain.

“Iya, makasih ya” lalu dia berubah ke posisi duduk.

“Gw ganti baju bentar, ya” kata gw.

“He-eh”

Ketika gw balik lagi, makanannya sudah mau habis.
Cepet juga makannya.

“Ge, udah, ah. Kenyang”

“Ya udah, sini piringnya”

Lalu gw bersihkan piring kotor bekas dia dan menuju kembali keruang TV.

“Bentar, ya. Nunggu Monique” kata gw. Dia cuma ngangguk, sambil senderan di sofa.

Dan Monique, akhirnya dateng. Cepet banget ini anak.

“Ya ampun Cathy, lo panas banget! Lebih panas dari yang waktu itu lagi. Ayo, kita ke dokter sekarang! Ge mobil lo udah dipanasin kan?” Kata Monique.

“Udah. Tinggal jalan”
“Ya udah, ayo”

Lalu kita berangkat menuju dokter.

Menurut dokter, si Cathy terlalu banyak pikiran. Dan kondisi fisiknya juga lagi drop banget. Makanya dia sampe kayak gini.
Benerkan kata gw.

Dan Kalo udah begini, obatnya, gunanya cuma bisa ngilangin panasnya doang.
Kalo dia masih stres dan banyak pikiran, ya, percuma.
Ujung-ujungnya dia, bakal gampang sakit.

“Ntar, pas nyampe kostsan, lo langsung minum obat terus tidur. Tidurnya dikamar gw, aja. Biar gw bisa mantau” kata Monique.

Ikut dong. Btw, si Monique udah kayak ibu yang lagi ngurusin anaknya yang sakit.
Mon.. Mon, kapan, sih, lo berhenti membuat gw kagum. Nikah, yuk!

“Ntar, urusan kantor, lo, biar Gege yang urusin” tambah dia.

Iya betul, Wait!…. Kok, gw?
Apa urusannya dengan gw?

“Iyakan, Ge, elo yang nguruskan??” Kata Monique, menekankan nada bicaranya. Waduh, bahaya ini.

“Ooo, jelas, dong. Nggak usah kuatir, ada abang Gege” kata gw.

“Makasih, ya” kata Cathy.

Cat.. Cat, kasihan banget, sih, lo. Gini, nih, Kalo kita terlalu sering memendam masalah. Untung gw selalu membagi setiap masalah gw, ke oranglain.
(Itu mah, gw memberikan masalah ke oranglain)

Apa jangan-jangan, Cathy shock, melihat binaragawan tampan seperti gw.
Ah, cerita ini mengarah ke arah yang salah.

Halaman Utama : Kehidupan Di Jakarta

BERSAMBUNG – Kehidupan Di Jakarta Part 37-38 | Kehidupan Di Jakarta Part 37-38 – BERSAMBUNG

Selanjutnya ( Part 35-36 ) | ( Part 39-40 ) Selanjutnya