. Kehidupan Di Jakarta Part 35-36 | Kisah Malam

Kehidupan Di Jakarta Part 35-36

0
256

Part 35 & Part 36 – Kehidupan Di Jakarta

“Jadi, kira-kira gitu ceritanya, tan”
Gw lagi ngobrol penting, dengan tante SuS.
Setelah gw laporan tentang anaknya ke tante SuS, tante langsung minta ketemuan, untuk bicara serius.

Ternyata mereka, udah nggak ketemu, dalam waktu yang cukup lama. Kasihan juga ngeliatnya.

“Gimana, ya, Ge?” Wajah tante sendu banget.

“Waduh, tan, saya juga bingung. Kalo saran saya, mending tante bawa ke ranah hukum, aja. Secara tantekan yang megang hak asuh” cuma itu cara yang ada dipikirkan gw. Walaupun kalau kalah di persidangan resikonya besar.

“Gitu, ya, Ge? Tante, sih, pernah kepikiran seperti itu. Cuman tante takut kalah. Habis, mantan suami tante, tuh licik banget. Tante, aja, udah ditipu berkali-kali, sama dia” Ternyata, berat juga hidup tante.

“Ya udah, tante jangan takut. Saya ada kenalan lawyer hebat, Yang bisa buat tante menang. Nanti saya kenalin. Dia sering, kok, nongol di TV. Kasus-kasusnya, besar semua. Apalagi, tante, kan pegang hak asuh, jadi pasti lebih gampang.
Nggak usah kuatir. Terus untuk urusan ketemuan dengan Cathy, saya sama temen saya lagi nyari cela, supaya tante bisa ketemu, dulu sama si Cathy”

“Makasih ya, Ge. Tante, jadi ngerepotin kamu” kata tante SuS.

“Ya elah, apa, sih, yang nggak buat mama baru” kata gw.

“Kamu, ini. Ntar, tante, jadi mama kamu beneran, loh” kata tante SuS.

Weitss, enak banget bapak, gw.
Dapet janda kembang, dengan ketajiran tingkat dewa.
Bisa dapet durian runtuh, dia.

“Hehehehe” gw memberikan cengiran yang nggak ikhlas.

“Udah, ya, Ge. Nanti, kita obrolin lagi. Tante juga mau, cari-cari ide lagi” kata tante, berpamitan.

“Sip, tan. Hati-hati di jalan, ya.”

“Byeee”

Terpaksa, demi membantu Cathy dan tante SuS, gw harus menghubungi bokap gw. Secara, lawyer hebat, yang gw omongin, adalah sahabat bokap gw. Mau nggak mau, harus melalui dia.
Nggak apalah. Orang baik, harus banyak mengalah.

“Baik, Darimana lo, bro? Orang isi otak, lo, setan semua” hembusan Suara Sakti.

“Ya, elu setannya, men. Lagian namanya protagonis, pasti baik”

“Babi lo! Dibilang gw bukan setan. Udah kerjaain aja tugas, lo”

Berarti tugas gw lagi banyak, ya.

Ada yang mengamankan tuan putri. Ada yang mempertemukan ibu dan anak Terus, memuaskan tante-tante kaya, yang punya kebutuhan, yang kurang terpenuhi. Jalani, aja, deh.

Kebetulan juga, hari gw juga janjian sama pasukan, untuk refresing. Kita lagi pada bete, kerja nggak berhenti-henti.
Untungnya, si Tere, lagi di kost, dan nggak ngantor. Lagian Gw sudah menitipkan Tere, ke Pak Yono. Lagipula, di kost ada Monique. Jadi, Tere pasti aman. Si Monique, lagi nemenin Cathy yang udah dua hari, nggak masuk kantor.

Setelah, kemarin Sabtu dia sesedihan, si Cathy sakit karena terlalu Down. Berarti, sakitnya udah empat hari. Otomatis, si Monique nggak tega, untuk Ninggalin dia.
Mon…. Mon, jadi istri gw, napa.

Tapi si Monique hebat juga, ya. Udah berapa kali, dia nggak masuk kerja. Nggak dipecat, tuh. Sadis!

Si Radit kayaknya nggak ikutan, karena, ada kerjaan. Maklumlah kerjaannya nggak memngenal waktu. Jadi, kita cuma berempat.
Tapi ini, jam ngantor dan kuliah juga, sih. Lebih heran, kenapa ketiga mahluk itu, bisa lolos dari kewajiban mereka masing-masing.

Ah, sudahlah, kita tunggu saja kedatangan mereka.

Gw, menunggu di sebuah cafe, yang
biasa, didatangi oleh anak-anak gaul. Yooo, men!

Gw melihat menu cafenya. Hmmm, dari gambarnya menggugah selera.
Tapi dari harganya, pengen gw sentil yang punya.
Masa, kentang goreng 44.793. Kayanya banyak, deh, yang suka kentang. Kenapa harus mahal banget. Liat aja, kalau sampe yang punya perempuan cantik, gw buat tepar, tuh, orang.

“Lo buat sumpah, hati-hati juga ya, bro” Kata suara Sakti.

“Iyalah bro, ntar Kalo gw bilang gw bikin tepar yang punya cafe, nggak tahunya yang punya laki-laki, di tusbol gw. Kalo gw bilang yang punya cafe perempuan, doang, nggak tahunya perempuannya jelek banget, kan nyesek, bro. Makanya, gw bilang, kalau yang punya cafe perempuan cantik”

“Sakareplo, dah. Bye the way, itu orang yang punya cafe” kata suara sakti.

Lalu gw melihat, seorang lelaki kemayu.

Untung, gw berhati-hati dalam bersumpah. Kali ini, keberuntungan ada dipihak gw. Fyuhh.

“Lah, ini anak rangers, udah dateng” Kata Kevin, yang baru dateng.

“Diem lo, nyet. Bangke, lo” Jawab gw.

“Yah, ngambek. Jangan ngambek, bro. Namanya juga kalah. Ya, Legowo, aja. Iya, nggak?”

“Kampret lo. Gw sumpahin, tim lo yang kayak Ijo lumut keputihan itu, bakal degradasi. Camkan itu anak muda!”

“Alah, nggak mungkin, bro”

“Ada apa, men?” Tanya Boni, yang baru dateng.

“Nah, ini Dundee dateng” kata gw.

“Lah, lo nggak jadi bareng si Alex?” Tanya Kevin.

“Nggak. Tahu, tuh. Orang tajir yang satu, itu, nggak bisa dipegang janjinya” jawab Boni.

“Emang kita, mau ngapain aja, bro?” Tanya gw.

“Nggak tahu. Si Alex yang bikin rencana” jawab Boni.

Lalu kita menunggu lama di cafe itu, Sambil ngeliatin setiap cewek cantik yang lewat. Ditambah cemilan ke 2 porsi kentang goreng seharga 44.794. Berarti total 89.586. Buset nanggung banget. 90.000 aja sekalian.

Untung gw bawa minum sendiri. Dari pada, beli disini. Satu botol, harganya sama kaya beli air galon.

“Tuh, yang itu cakep, tuh” kata Kevin.

“Beuh, lumaya bro” jawab gw.

“Noh, yang entuh, bro yang pake tank top, kuning” kata Boni.

“Edeuh, itu kulit halus banget, bro. Kepeleset gw, Kalo salaman sama dia” kata Kevin.

“Wih, bro banyak amoy, ya. Tuh, yang sebelah sana” kata gw.

“Wah, bro, clan gw, dong” kata Kevin.

“Yang lokalnya juga mantap-mantap” tambah gw.

“Yoyoi, bro. Selera lokal bisa, interlokal juga bisa” kata Boni.

“Bro, bro! Macan, bro. Buseettt” Kata Kevin.

“Gila, men. Padahal udah ada anaknya. Tapi body masih kayak gitu. Edan!” Kata Boni.

“Bajunya, kurang bahan semua, lagi” Tambah gw.

“Pada Ngeliatin apa, bro?” Kata si Alex.

“Bah, lama kali, kau! Bosan kami nunggu kau. Mati sajalah kau!” Kata gw.

“Bah, Batak kali kau, bang!” Kata Kevin.

“Horas!” Tambah Boni.

“Ya mangap, bro. Namanya orang sibuk, maklumlah” jawab Alex.

“Weits, sibuk. Orang kaya!” jawab kita bertiga.

“Ayo bro jalan. Jangan makan disini. Ada yang lebih enak. Lebih mahal, sih. Tapi lebih sedap” kata Alex.

“Wih, lebih mahal. Orang kaya!”
Kata kita bertiga lagi.

Lalu kita menuju restoran yang dimaksud Alex.

“Tuhkan, bro, harganya lebih mahal”
Kata Alex, sambil nunjuk harga di menu restorannya.

“Orang kaya!”

“Santai aja, pesen aja semaunya” kata Alex.

“Orang kaya!”

“Emangnya, Abis Darimana, sih?” Tanya Boni.

“Ini, adek gw minta dibeliin motor. Maunya motor CC gede lagi. Padahal cewek. Giliran disuruh milih, Lama banget” jawab Alex.

“Orang kaya!”

“Abis itu, nyari tiket ke Eropa buat keluarga besar gw. Mana gw nggak ikut lagi” tambah si Alex.

“Orang kaya!”

“Sekalian ini, juga sih, bokap gw mau nyari mobil baru”

“Orang kaya!”

“Lo, pada, dari tadi jawabnya orang kaya, terus. Santai aja, kali. Biasa itu, mah” kara Alex

“Sombong!”

Akhirnya kita semua makan bersama yang di bayarin oleh si Alex.
Biar kata si Kevin dan Boni orang berduit juga, mereka tetap itung-itunggan. Namanya juga anak kost.

Abis itu, kita jalan-jalan keliling Jakarta. Ke tempat-tempat yang biasanya anak perempuan berkumpul. Lumayan buat cari-cari pencuci malam. Hingga hari sudah malam, dan saatnya kita pulang.

Sebenernya, besok, selama 5 hari berturut-turut, tante BeR bilang Kalo gw punya lima client. Gila nggak, tuh.
Gw harus siapkan tenaga, hati, dan pikiran.

“5 target, bro?” Tanya sang suara Sakti.

“Iya, men. Dua orang, adalah tante ClaR dan tante BeL. Sisanya adalah orang baru. Jadi gw harus siap”

“Ya udah, sukses, bro”

“Terima kasih, men!”

Ini bakal jadi lumbung uang, kalau gw cermat.
HEIL GEGE!

[table id=AdsTbet /]

Hari Kamis

Hari ini gw akan bertemu dengan seorang tante, yang namanya tante Rosa. Mudah-mudahan, nggak mengecewakan. Kita janjian disebuah toko buku, di daerah Karawaci. Itu semua karena permintaan tante Rosa, karena rumahnya daerah situ. Jadi, dia nggak terlalu jauh. Gw baru pertama kali, ke daerah sini. Mudah-mudahan, pulangnya gw nggak nyasar ke Merak.

Baik Jakarta, lihat siapa yang akan menang!

“Bro, lo sekarang diluar Jakarta” kata suara sakti.

“Nggak apa, bro. Hanya menyesuaikan dengan judulnya”

Sampailah gw di toko buku tersebut. Lalu gw menelpon tante Rosa.

Gw: “halo, tante ada dimana?”

Tante: “aku lagi baca buku. Kamu dimana?”

Wih, udah nyampe. On time juga, ya.

Gw: “Saya, di pintu depan, tan”

Tante: “oh ya, udah. Kamu tunggu situ”

Nggak lama, seorang mamud nyamperin, gw.

“Halo, Gege, ya?” Katanya sambil menjulurkan tangan.

“Iya” jawab gw.

“Nama asli, apa bukan?”

“Nama asli saya Gavin, mbak”kata gw.

“Kok, jadi mbak, bukan tante?”

“Abis, kelihatannya mbak lebih muda dari pandangan saya. Masa saya harus panggil tante” kata gw.

“Terserah kamu, aja. Kalau gitu aku mau panggil kamu Gavin aja, ya”

“Iya, nggak papah, mbak. Terus kita kemana, mbak?” Tanya gw

“Kerumah aku, aja”

“Okelah”

Mbak Rosa, ini orangnya rada pendek. Kayaknya ada keturunan timur tengah gitu, deh. Abis hidungnya mancung banget.
Dadanya juga mancung. Cuma Kalo menurut gw usianya paling masih 30an. Dan keliatanya, dia udah punya 2 anak.

“Wah, udah bisa nerawang lo, bro” Kata suara Sakti.

“Iya. Gw terlalu banya ngomong sama, elo”

Bererti, saat ini dia adalah client termuda gw. Nggak apalah, sekali-kali, ama yang mudaan.

“Yang mana, rumahnya, mbak?” Tanya gw, yang lagi nyetir, sambil melihat perumahan orang kaya.

“depan, kamu belok kanan” jawab mabak Rosa.

“Nah, sampai”
Beuh, rumahnya. Walaupun nggak sebesar punya tante BeR, tante ClaR, dan tante SuS, tetep aja ini rumah mewah. Nggk kayak rumah gw.

Ibaratnya ini rumah dengan emas berkarat.
Sedangkan rumah gw, rumah yang udah berkarat.

“Ayo, masuk, Vin!” Ajak si mbak.

“Iya, mbak” Udah lama juga gw nggak dipanggil Gavin.
Biasanya cuma bokap, sama emak tiri gw.

“Inilah, rumah aku. Maaf, ya kalau rada berantakan” kata dia.

“Iya, santai aja, mbak”

“Bentar, ya. Aku mau masuk dulu”

“Iya, mbak”

Lalu dia pergi ke ruang dalam.

Ada foto keluarganya.
Benerkan, anaknya dua.
Suaminya kayaknya chinese.
By the way, kita mau eksekusi di rumah ini. Nggak, salah, apa.
Ntar, Kalo gw digebuk in warga.

Lalu dia balik lagi, dengan menggunakan daster, berbahan satin Tanpa tangan plus seorang bayi. Itu bukan anak gw, kan.

“Ya, bukanlah, bro. ******, lo” Santai, men.

“Anaknya, mbak?”

“Iya, ini anak ketiga aku. Baru tiga setengah bulanlah” jawab dia.

Buseettt, abis ngelahirin aja badannya kayak gitu.
Berarti, Terawangan Gw salah.

Lalu kita ngobrol basa-basi, sebelum bertempur.
Mungkin mbak Rosa, nunggu anaknya tidur dulu.

Pantesan dia nggak mau jauh-jauh, ada anaknya, sih.

“Oweeeee” Tiba-tiba, Anaknya nangis.
“Anak mama laper, ya. Yuk, sini” Kata mbak Rosa.

‘Glek’ Gw menelan ludah, gw.

Dia lagi menyusui anaknya dangan ASInya.
Jadi pengen.

“Kenapa, Vin? Bukanya udah sering ngeliat? Apa, pengen, juga?” Waduh, gw lagi di uji.

“Eh, nggak, mbak”

“Udah, nggak udah malu-malu. Pengenkan?”

“Lah, anaknya, mbak?”

“Ya, berdua, aja. Bagi-bagi sana”

Buset, gw pikir nunggu anaknya tidur dulu.

“Nggak, lah, mbak”

“Kalo kamu nggak mau, mending pulang aja sana” kata mbak Rosa, rada galak.

Shit. Bisa ilang duit gw.
Serem juga ya.

Akhirnya, mau nggak mau, gw menyusu ke mbak Rosa.
Diluar dugaan, ASInya deras banget.

Cukup lama gw menikmati susu gw.

“Vin, kita pindah kamar, ya. Anak aku udah tidur, nih”
“Iya, mbak”

Lalu Kita pindah ke kamar.

“Ayo, Vin, nggak usah basa-basi, lagi. Aku udah basah dari tadi” Perintah mbak Rosa. Tanpa diperintah lagi, gw lahap bibirnya.

Tangan gw juga, memainkan puting si mbak, yang terus mengeluarkan ASI.

“Ahh, Vinn”

Mbak Rosa lalu membuka semua pakaian gw.
Gw nggak mau kalah dan mencopot dasternya.

Menurut gw, bodynya terlalu bagus, untuk ukuran orang yang baru melahirkan. Luar biasa.

“Vin, jangan buang-buang waktu, langsung masukin, aja. Jangan lupa kondom” Gw nggak berani menyangkal mbak Rosa, Jadi langsung gw kerjakan.

Gw pakai kondom, dan siap menancapkan penis gw.

‘Jlab’

“Haaahhhh!” Desah mbak Rosa. Gw pikir, bakal agak longgar, nggak tahunya lumayanlah jepitannya.

Lalu gw maju mundurkan badan gw.

Nggak lama kita ganti posisi.
Gw tiduran di kasur.
Sementara mbak Rosa duduk di penis gw, sambil menghadap gw.

“Ahhhh, ayo, Vin!”

“Mama, aku pulang!” Tiba-tiba anak kecil masuk kekamarnya mbak Rosa. Otomatis, gw berhenti. Bahaya ini.

“anak mama udah pulang. Mau minum?” Kata mbak Rosa, tanpa rasa keget. Tenang banget ini orang.

“Mau!”

“Ya, udah”

Lalu mbak Rosa menggendong anaknya, yang masih taman Kanak-kanak, dan memberikannya ASI.

“Ayo, Vin lanjutin”

“Nggak papah, mbak. Ntar Kalo dia bilang bapaknya?”

“Nggak papah. Kalo dia lapor bapaknya, yang ada bapaknya malah seneng”

Heee???? Happy???

“Kalo cerita ke temen-temennya?”

“Nggak mungkin. Udah ayo lanjutin aja, nggak usah takut”

Gw pun, melenjutkan permainan.

“Ahhh, terus Vinnnn! Fuck!” Teriak mbak Rosa, tanpa memperdulikan anaknya. Anaknya juga nggak peduli kayaknya.

Dan gw merasakan ada sensasi berbeda di vaginanya, sebelum dan sesudah anaknya dateng. Yang ini lebih berdenyut dari yang tadi. Gw jadi curiga.

“Ayo, Vinn. Aku emang paling suka, kalau diliatin pas lagi ngentot. Apalagi kalau diliatin sama keluarga sendiri. Terutama anak-anak, aku”

Whatttt!
SOS!
Kak Seto, gawat!
Ada fetish yang berbahaya disini!

Dan kata-kata itu membuat gw tambah horny. Sehingga gw mempercepat genjotan gw.

“Fuck me more, Vin! Yessss. Anak-anak mama nanti bakal ngerasain juga, ya sama mama, kalau umur kalian sudah cukup”
Kata mbak Rosa, sambil mengelus anaknya yang lagi menyusu.

FUCK THE WHAT!
Gila keluarga macam apa, ini????
Bapaknya cuckold. Ibunya pengen incest dan exhibisionist.
Tinggal anak-anaknya, yang belum ketahuan, gedenya kayak apa.

Lagi-lagi, gw dapet surprise moment.
Tapi, gw tambah nafsu, juga.

“Ah, Vinn, aku mau keluar!”

“Iya, mbak, aku juga!”

‘Crotttttttttt’

“Makasih, ya Vin. Nih, buat kamu” Kata mbak Rosa, ketika gw mau pulang. Dan sopasti sambil bugil.

“Makasih, ya mbak. Saya pulang, ya”

“Iya hati-hati”

Kayaknya nggak lagi-lagi, deh sama, mbak Rosa ini. Fetishnya ngeri.

Halaman Utama : Kehidupan Di Jakarta

BERSAMBUNG – Kehidupan Di Jakarta Part 35-36 | Kehidupan Di Jakarta Part 35-36 – BERSAMBUNG

Selanjutnya ( Part 33-34 ) | ( Part 37-38 ) Selanjutnya

Cerita Terpopuler