. Kehidupan Di Jakarta Part 29-30 | Kisah Malam

Kehidupan Di Jakarta Part 29-30

0
251

Part 29 & Part 30 – Kehidupan Di Jakarta

“Itu, bro?” Tanya gw.

“Iya. Itu om-om yang dari kemarin, ngikutin Tere” terang Boni.
Wah, bahaya, nih.

Dua hari setelah, job dari tente BeR.
Gw dan Boni, lagi dalam misi memantau Tere.
Kita, berada di sebuah mall.
Dan kita melihat, ada seorang
om-om, yang mencurigakan.
Menurut laporan, sudah beberapa kali, dia mengikuti Tere.

“Bon, lo foto tuh, orang. Abis itu, kirim ke Radit. Inget, cari posisi yang pas” perintah gw.

“Siap, bos!”
Lalu dia pergi, untuk mengambil foto orang tersebut.

Sementara gw mengamati Tere,
yang lagi makan siang dengan teman-temannya.
Lucunya mahluk, ini.

Princess terlihat aman.
Sementara Boni, sepertinya berhasil.
Lalu dia kembali.

“Gimana, dapet?”

“Beres. Nih”

Lalu gw liat, fotonya.
Hmm, patut di curigai.

“Oke. Kirim ke Radit, sekarang” Perintah gw.

Lalu dia mengirim, foto tersebut, ke Radit.

“Kijang 4 kepada kijang 1, burung merpati dan kawanan akan bergerak.
Sepertinya buaya tua, juga siap mengikuti” loporan kopral Boni.

“Baik, kijang 4, amati terus. Yang baju merah, jangan sampai lolos” Perintah jendral Gege.

Pasukan pengintai mengikuti, setiap gerak-gerik, target.

“Kepada kijang 1, sepertinya merpati dan kawanannya, menuju departemen store”

“Dimana, si buaya tua? Kok nggak terlihat” tanya sang jendral.

“Itu sebelah kanan, sedang mengendap-endap”

“Oh, iya”

“Tunggu. Saya, kan, ada di sebelah kamu. Ngapain kamu laporan.”
Kata jendral.

“Untuk jaga-jaga jendral. Buktinya jendral tidak melihat buaya tua”
Jawab kopral.

“Kamu ini lancang, tapi benar juga. Lanjutkan kalau begitu” perintah jendral.

“SIAP!”

“Hush! Jangan berisik nanti kita ketahuan” maki jendral.

“Laporan kijang 1! Ada laki-laki lain mendekati Tere!”

“Hee?? Mana? Saya nggak ngeliat”

“Itu jendral”

“Oh iya. kamu awasi dia. Saya akan perhatikan buaya tua”

Kelihatannya buaya tua, mulai tidak tenang. Apa karena dia bertemu saingan?

“Jendral, laki-laki itu, menjauh”

“Bagus. Amati terus”

“Jendral, bahaya! Merpati masuk ke ruang ganti pakaian!”

“Cepat formasi 4-4-2!” Perintah jendral.

“Maksudnya?” Tanya kopral.

“Maju empat langkah, ke kiri dua langkah, kedapan 2 langkah! Ayo cepat!” Perintah jendral.

Gawat! buaya tua ikut bergerak.
Amankan!

‘Bukkk!’
“Jangan banyak bicara. Ikut kita. Sekarang” Pasukan menyergap, buaya tua.

Lalu buaya tua kita bawa ke tempat sepi, untuk menginterogasi, dia.

“Mau, kalian apa! Mau saya laporkan polisi!” Teriak buaya tua.

Beuh! kita ini pasukan elite.
Polisi nggak akan mempan.

“Bro, kelihatannya orang ini akan sangat berguna, bagi rencana kita. Mendingan, lo, perlakukan orang ini dengan baik” Tiba-tiba suara Sakti muncul.

Hmm, apa dia akan menjadi orang yang berguna? Biasanya saran suara Sakti tepat.

“Siapa kamu? Dari kemarin kamu mengikuti Tere” tanya gw.

“Saya adalah orang paling berhak untuk melindungi dia! Mestinya saya yang tanya, kalian punya urusan apa?” Jawab sang buaya tua.

Ah, self proclaim lagi.

“Alah, ngawur kamu. Cuma kami yang bisa diandalkan” Boni mencela dia.

“Oh. Jadi kalian seperti pria yang lain, yang asal-asalan” kata buaya tua.

Hee?? Yang lain?

Tiba-tiba, Radit telefon.
Lalu, gw pergi menjauh sebentar.

Radit: “Halo bro, ini penting. Jangan ganggu si om”

Gw: “Hah, kenapa?”

Radit: “dia adalah……”
‘Deg-deg’

Gw: “oke, makasih, Dit. Kerja lo bagus”

Radit: “sukses, ya bro”

‘Tut-tut-tut’ Telefon ditutup.

“Bon, sini!” Perintah gw.

“Kenapa, men?” Lalu gw memberi tahu laporan Radit.

“Oh, gitu” kata Boni.

Kita cuma bisa memberi tampang polos.

Bener juga, si suara Sakti. Lalu kita berbalik.

“Maafkan, kami Tuanku Raja Agung! Kami meragukan baginda Raja!”
Kita berdua sujut di depan om Raja Agung.

“Bagus Kalo kalian sadar. Kita harus bicara ditempat lain” perintah baginda raja.

Iya, betul.
Kalau Tere adalah tuan putri, maka om ini adalah rajanya.
Orang ini adalah, orang yang memegang hak asuh Tere.
Alias, om-nya.
Mati gw!

[table id=AdsLapakPk /]

“Ada lagi yang mau disampaikan?” Tanya baginda raja.

“Tidak!” Jawab kita berdua.

“Kalau begitu, sudah saatnya kita bicara. Ayo kita ke cafe dulu” perintah baginda raja.

“Baik! Yang mulia!” Jawab kita.

Kita berdua abis dijemur di parkiran mall, oleh si om, akibat salah sasaran. Dan gara-gara, kita salah sasaran, Tere lolos dengan teman-temannya, beserta seorang laki-laki.

Sebuah keteledoran luar biasa.
Mudah-mudahn, gw nggak turun pangkat.

“Jadi, kalian ini, siapa?” Tanya om, menginvestigasi kita.

“Saya Gege, om. Ini, Boni. Kita temen kostsannya Tere” jawab gw.

“Ada urusan apa kalian, mengikuti Tere?” Tanya om.

“Untuk melindunginya, dari kegelapan” jawab gw, lebih tegas.

“Kalian, bukan mau, mempermainkan dia, kan?”

“Siapapun, yang mempermainkan Tere, akan kami hantam!” Jawab Boni.
Betul sekali kopral.

“Kalian, mau buat Tere terpesona, terus dia jadi pacar kalian?” Tanya om.

Wah, sadis. Seorang investigator sejati.
“Tidak! Seandainya Tere jadi pacar, salah satu dari kami, maka misi kami sudah gagal” jawab gw.

“Maksudnya?” Tanya om.

“Kalau Tere jadi pacar kami, sama saja membawa Tere, ke kegelapan. Mungkin bisa jauh terpuruk sampai ke neraka!” Jawab gw, Ke baginda raja.

“Betul sekali!” Timpal Boni.

Gw bukan merendahkan diri, tapi itu kenyataan.
Bisa hancur hidup Tere, gara-gara kita, semua.

“Dasar kalian, apa? Sampai mau melindungi Tere?” Tanya om.

Tangguh sekali.
Sangat pantas jadi raja.
Gw kehabisan jawaban.

“Karena sebuah cahaya, membutuhkan kegelapan untuk menjadi terang. Biar kami yang jadi kegelapan dan Tere menjadi cahayanya” jawab Boni.

Bon, jawaban lo sangat indah.
Lebih indah dari wajah lo.
Gw beli lima dus, deh, dodol, lo.

“Jawaban yang tepat! Sangat tepat!” Kata si om, sambil terharu.

“Iya, bon jawaban, lo, tepat!” Gw ikut terharu, ngedengernya.

“Makasih semuanya. Cuma itu yang ada di hati, saya!” Kata Boni, ikut meneteskan air mata.

“Ya, elah. Ada tiga laki-laki dewasa nangis bersamaan, ditempat umum. Geli gw, ngeliatnya” suara Sakti mencela suasana nan syahdu, ini.

“Ah, berisik lo. Lo, yang nggak punya passion, nggak akan ngerti!
Ini adalah tangisan penuh passion, untuk melindungi Tere! Camkan itu baik-baik!” Ya, ini adalah tangisan, yang punya arti sangat spesial.

“Terserah lo, pada, deh. Gw pergi aja”

“Iyah, sana pergi!”

“Oke, saya percaya kalian. Saya akan memperkenalkan diri. Saya ini, Tony.
Omnya Tere. Tere itu, adalah keponakan, kesayangan saya. Dari dia kecil, dia sudah dititipkan ke saya dan istri saya. Tapi kami tidak bisa memberikan waktu buat dia” Jelas si om.

Jadi, om ini, adalah suami tantenya Tere, yang katanya sering keluar negeri.

“Terus, om kenapa ngikutin dia?” Tanya gw.

“Om dapat laporan, kalau belakangan ini, banyak cowok yang mengincar dia. Jadi, om harus siaga” Jawab si om.

 

“Bro, si om punya kendali untuk mengatur kehidupan Tere. Dia orang yang tepat. Lo harus bikin aliansi dengan dia!” Perintah suara Sakti.
Betul juga.
Cuma si om yang bisa, melarang Tere, kalau seandainya kita kalah.

 

“Laporan itu betul, om. Makanya kita, dari kemarin, memantau Tere, terus” jawab Boni.

“Kalian ini, ada berapa orang? Kok kelihatannya bukan cuma kalian berdua?” Tanya om.

“Kita berlima om. Tapi kita diperintah oleh satu perempuan. Mungkin om kenal” jawab gw.

“Siapa?” Tanya om

“Monique” jawab gw.

“Oh, pantesan. Kalau begitu, saya bakal percaya sama kalian. Apalagi kalau Monique sampai percaya kalian. Saya akan serahkan ini pada kalian” kata om.

“Kalau begitu, setiap informasi yang kami terima, akan kami sampaikan ke om. Om nggak perlu kuatir. Cuma perlu duduk tenang” kata gw.

“Tapi, jangan salah sasaran lagi” perintah om Tony.

“Siap yang mulia!” Jawab kita berdua.

Akhirnya pertemuan selesai.
Gw dan Boni pulang, untuk mengadakan rapat darurat, tentang kejadian barusan.

Malam hari, kita ngumpul lagi di kostsan, Untuk berdiskusi.

“Jadi gitu, men. Kita sudah diberikan mandat. Jadi kita lebih, aman” terang Boni.

“Siplah, kalau gitu” jawab mereka, bertiga.

“Terus gimana, dengan para tersangka?” Tanya gw.

“Hehe, mereka bisa kita interogasi. Tinggal tunggu waktu” Jawab Radit.

“Bagus Kalo gitu. Gw rasa cukup. Rapat selesai” Kata gw.

“BAIK!” Jawab mereka.

Terus gw kembali ke kamar.
Dan gw lihat di hape gw ada WA, dari tante BeR.
Tante: “Ge, besok kita ketemu. Kamu yang tentuin tempat. Ada kerjaan”
Gw: “tante aja yang nentuin tempat. Besok kabarin saya”
Tante: “Ya udah, di mall bisa aja. Biar kamu nggak nyasar”
Gw: “oke. Sip, tan”

Hmm, targetnya, kayak apa, ya? Mudah-mudahan, gw siap.

Halaman Utama : Kehidupan Di Jakarta

BERSAMBUNG – Kehidupan Di Jakarta Part 29-30 | Kehidupan Di Jakarta Part 29-30 – BERSAMBUNG

Selanjutnya ( Part 27-28 ) | ( Part 31-32 ) Selanjutnya

Cerita Terpopuler