. Kehidupan Di Jakarta Part 27-28 | Kisah Malam

Kehidupan Di Jakarta Part 27-28

0
231

Part 27 & Part 28 – Kehidupan Di Jakarta

Tante: “Ge, jangan lupa. Nanti malam!”
Gw: “iya, tan”

Itulah WA tante BeR, tadi pagi.
Setelah beberapa hari tanpa job, dan fokus untuk mengamankan putri Tere, akhirnya tante BeR, memberi tugas. Tugas yang bisa menambah pundi-pundi, gw.

Malam ini, tante BeR akan menemui gw, di sebuah restoran mahal.
Yang udah pasti gw, nggak mau bayar.

Sekali merki tetap merki. Dan gw juga nggak mau mesen makan. Pasti porsinya sedikit.

Sayang, Kalo gw harus bayar. Tapi, Kalo gw dipaksa mesen makanan dan dibayarin, gw nggak akan nolak.Barang gratis harus diterima.
Camkan, itu!

Gw sudah bersiap untuk berangkat. Kali ini gw, jalan nggak terlalu cepat.
Gw males Kalo, nunggu.

Mending Kalo nunggu ditempat, yang murah meriah. Lah, ini, MAHAL GILA!

Walaupun, gw sedang berbahagia. Karena kemarin tante SuS, ikut memberi gw uang jajan.

Apalagi uang jajannya, PAS.
Nggak kurang, walau gw berharap lebih.
Emang, rejeki bisa datang kapan, aja.
Senangnya hatiku.

MARI, KITA CAPCUS!

Dalam perjalanan, gw memilih untuk melewati tol.
Tapi, Jalan tol malah padat merayap.
Jadi gw harus bersabar.
Mudah-mudahan, nggak telat.

“Meong”

“Bukan urusan lo. Terserah gw, mau kemana”

“Meooong”

“Lo, masih bakal, kalah. Jadi jangan geer gw mau ngajak, lo, tanding ulang”

“Meong”

“Terserah. Mau ngomong Pengecut, kek, penakut. Gw nggak peduli”

Wait! There’s Something wrong with this conversation. But, what?
Coba dipikir.

Pikir-pikir-pikir-pikir.

“Heh, Barton. Bantuin gw mikir, napa”

“Meeeeong”

“Ah, sombong, lo”

“Meong”

What the fuck!
“Barton, ngapain lo!”

“Meong”

“Wah, sialan lo. Bisa-bisanya, lo menyelinap”

“Meong”

Aduh, masa gw harus nganterin pulang, ini kucing dulu. Bisa terlambat gw.
Ah, terpaksa harus gw bawa.

“Ya udah, diam sini lo. Jangan berak atau pipis. Atau gw saksang, lo”

“Meong”

Akhirnya, sampailah gw di hotel mewah, yang namanya nggak jelas.
Gw nggak ngerti cara penyebutannya.
Kasih nama, kok, susah banget.

“Lo, nunggu di mobil, apa diluar?”

“Meong”

“Ya udah. Kalo, pergi jauh, jangan kelamaan. Gw nggak akan nungguin”

Ah, parah. Gw udah stres.
Kucing gw ajak ngomong.
Bentar lagi, gw bisa ngomong sama angin, kali.

“Fyuhhhhhh”
Ahhh, cabut-cabut!

‘Ta-da’
Restoran mahal.
Dimanakah, si tante?
Gw WA dulu, dah.

Gw: “tan, dimana??”

Tante: “ini, tante baru duduk”

Gw: “sebelah, mana?”

Tante: “tante ngeliat kamu, kok. Nih, tante berdiri”

Hee, dimana???
‘Mana dimana
Tante-tante kita’
Nah, itu dia.

Lalu gw nyamperin tante.

“Halo, tan. Lama, nggak ketemu”

“Halo, Ge. Tambah ganteng aja” Puji tante.

“Hehe. Tante, bisa aja”

“Bentar, ya, Ge. Temen tante belum dateng. Kamu udah makan belum? Kalau mau pesen, pesen aja”

Nah, ini harus diberdayakan.
“Boleh, tan. Santai, aja” jawab gw.

Lalu gw memesan makanan, yang kira-kira, porsinya paling banyak.

“Nih, Ge. Client kamu. Supaya kamu, siap” Sambil, tante ngasih liat foto, target.

[table id=Ads4D /]

Wus, kelihatannya borju juga.

“Ya, udah. Oke, tan”

“Kali ini, jangan lupa kondom. Sebelumnya tante ijin kan. Tapi kali ini tidak. Udah 2 kali kamu lolos” perintah tante.

“Iya, tan” jawab gw.

Tunggu sebentar.
Kok, tante tahu, udah dua kali gw nggak pake kondom.
Kan, tante taunya, cuma sama tante ClaR.

Wah, horor. Parah ini.
Gw harus cari dukun lebih kuat.

Makanan datang.
Di luar dugaan, enak juga, makanannya. Porsinya banyak lagi.
Lumayan buat nambah tenaga.

“Ge, tante balik duluan, ya. Itu makanan udah tante bayar kok. Temen tante juga mau sampai” Hiiii????? Lagi???? Dua kali, si tante bayar makanan, tanpa mengeluarkan uang. Sadis.

“Ya, udah. Tapi kapan, kita bisa ngedate, lagi, tan?” Tanya gw.
Udah lama juga, gw nggak melepas rindu dengan tante BeR.

“Iya, Ge. Tante juga kangen. Ntar, tante kabarin, ya. Kalo sekarang bisa, tante mau, deh” jawab dia.

Kalo 3some boleh, kok, tan.
Ane, siap.

“Ya, udah. Hati-hati, ya, tan”

“Bye, Ge”

Lalu tante pergi.
Gw, pun, melanjutkan makan gw.
Sambil nunggu client.

Makan selesai. Tapi belum ada kabar. Jadi nggak, ya?
Tiba-tiba, ada WA dari tante BeR.

Tante: “Ge, kamu ke kamar 212. Minta cardlocknya di resepsionis.
Atas nama Berliana”
Buset, Wiro Sableng.

Gw: “oke, tan”

YOSSSS! Saatnya beraksi.
“Semangat, bro”

[table id=AdsTbet /]

Oke ini dia, kamarnya Wiro Sableng, kamar 212.
Apa yang ada di dalam?
Kartu ajaib ini, akan memberitahukannya.
Mari kita buka kuncinya.
Lalu, gw masukan cardlock ini, ke sarangnya.

‘Klek’

Gelap lagi. Tapi, AC dan listriknya, nyala.
Mestinya, kan, gw masukin kartunya dulu, ke ES switch.
Coba, gw cek.

Lah, tapi udah ada kartunya.
Gimanasih, nih, hotel.
Udah namanya susah.
Saklarnya, mana lagi.
Lalu, gw cari saklarnya.
Nah, ketemu. Dan…..

‘Pooffff’
“Halo, Ge”

Buseeeeettttttttttttttttttttt!
Belum apa-apa, gw udah dapet surprise moment!

Ada seorang perempuan bugil di kasur, yang menggunakan aksesoris, komplit.
Gelang, kalung, anting, heels, cincin, jam tangan, gelang kaki.
Bahkan sama kayak tante SuS, ada tindik di pusarnya.
Pakai ikat pinggang, pula.

Dan so pasti, itu mahal semua. Nggak ada kain yang mempel di tubuhnya.
Apa lagi, dia juga memake up, dirinya, khas make up pesta.
Plus muka, yang menggoda.

Gw cuma bisa mangap.
Liur gw udah netes kemana-mana.

Penis gw udah tegang, setegang-tegangnya. Parah!
Gw rasa, gw punya fetish baru, sekarang.
Yaitu, berdandanlah semewah mungkin, tapi jangan berpakaian.

“Saya, Bellatrix. Kamu bisa panggil Bella. Kamu Gege, kan. Maaf, ya, saya nggak suka basa-basi” kata tante.

“Iya, saya Gege. Saya, kalau udah gini juga nggak suka basa-basi” jawab gw sepolos-polosnya.

Gw, udah ngeblank..

“Ya, udah. Tunjukin, dong, kalau kamu bukan omong kosong” tantang dia.

Dengan senang hati.
Gw harus menuju ke bagian diri gw, yang paling liar.

‘Cring’
Let’s make a mess.

Gw yang nggak mau kalah, langsung mencopot semua pakaian gw.
Dan gw sergap, si tante ini.

Gw ciumi dia dan di balas dengan liar, oleh dia.
Gw rasa, ini adalah ciuman paling hardcore diantara semua ciuman, yang pernah, gw rasakan.

Ciuman itu berlangsung lumayan lama.
Ini bukan ciuman romantis.
Gw rasa, tante ini, yang paling liar.
Senangnya bermain di alam liar.
GANAS!

Dan berkat dandanan dia, gw merasakan getaran lain dalam diri gw.
Dan getaran ini, membuat gw ingin merasakan, inci demi inci tubuhnya.
Gw berhenti menciumi bibirnya, dan beralih ke bagian tubuh yang lain.
Dari mula ujung kepala sampai ujung kaki. Nggak ada yang kelewat.

“Shhh…. Lidah kamu hebat juga”

Itulah yang tante Bella katakan, ketika gw memainkan lidah gw di pusarnya.
Gw rasa, pusarnya, adalah salah satu titik sensitifnya. Kalau gitu, harus gw manfaatkan. Supaya, gw, nggak omong kosong.

Lidah gw, terus bermain di daerah perutnya, dengan sasaran utama adalah pusarnya.

Yang sekali-kali gw goda.

‘Muach’
Gw cium, perut halusnya.
Ntah kenapa, gw suka banget sama perutnya.

Setelah itu, gw naik untuk, ‘menguasai’ payudaranya.
Gw mainkan lidah gw di putingnya, yang mancung. Dan sesekali tangan gw, memainkan toketnya.

Gw sadar, kalau gw bukan cuma tertarik pada perutnya, tapi semua tubuhnya.
Makanya gw betah berlama-lama, di tubuhnya, ini.

“Karena kamu sudah buktikan kamu bukan omong kosong, kamu bisa lanjutin. Tapi, jangan lupa pakai kondom. Saya, nggak mau ngelanggar janji dengan si Berlian” Kata si tante Bella.

Oh, iya. Hampir gw lupa.
Bisa mati gw, kalau ampe lupa.
Mending Kalo mati.
Kalo gw disunat lagi.
Pindah ke Thailand, gw.
Biar sekalian jadi wece.

Tapi tadi, kondom gw, dimana, ya?
Kayaknya gw udah bawa.
Ah, shit! Ketinggalan di mobil.
Masa harus gw ambil dulu.
Udah nggak high lagi, nanti.

“Tan, kondom saya ketinggalan di mobil” kata gw.

“Ya udah, pake punya saya”
Lalu tante bangkit berdiri, menuju tasnya yang ada di pojok ruangan.

“Nih, kamu pake”

Wih, yang ada bubblenya.
Biar enak kali, ya.
Yok, lanjut!

Gw pakai kondomnya.
“Udah, masukin, Ge. Saya nggak tahan” pinta tante.

Dan….
‘Zlebbbbbb’

Masuk sudah, barang gw, kedalam vaginanya.
Lebih rapat dibanding tante ClaR.

Gw pompa tante, dengan tempo sedang, mengarah cepat.
Nikmat rasanya. Gw, rasa aneh, dengan vaginanya. Kayak nyembur terus, tapi enak. Itu memberikan sensasi tersendiri.

Tangan gw masih setia, dengan toket dan pusarnya. Dan nggak lupa lidah gw ikut bermain.

‘Plak’
Sambil beberapa kali, gw tepuk pantatnya.

Si tante ini, adalah lawan yang tangguh. Karena, Udah cukup lama kita berkutat, masing-masing, masih kuat untuk mencapai klimaksnya.

Kita ganti posisi, ke posisi, reverse cowgirl. Sambil tangan gw memainkan, toket dan pusarnya. Karena itu titik lemahnya.

“Iyahhhh, fuckkkk! Ayooo, Ge” Racau tante.

Si tante lebih banyak mengambil alih permainan. Tapi tetap asik.
Lama dalam posisi itu, masih belum ada tanda-tanda, keklimasksan.

Kita berubah lagi, ke posisi doggie style.

“Ahhhhhh!”

Gw rasa, gw menyentuh g-spotnya.
Gw percepat gerakan gw.
Gw juga menarik rambutnya.
Dandanannya membuat gw tambah bernafsu.
Sekali-kali, tangan gw bermain di lubang anusnya.
Dan masih, belum terlihat,
tanda-tanda, Gunung meletus.

Sekian lama, kita masih sama-sama kuat.
Udah berbagai macam gaya kita coba.
Dari WOT, kneeling, di pinggir kasur, berdiri, ampe spider gw jabanin.
Cuma masih kuat, juga.
Tangguh bener!

Akhirnya kita berubah ke posisi paling standar dalam sex.
Misionari.

“Yahhhhhhhh, terusssss, hajar, terusss” kata tante.
Gw kencangkan kecepatan gw.
Sambil gw ciumi wajahnya.

“Ahhh, saya mau keluar, Ge”

Akhirnya.
Gw ikutan, dah Kalo gitu.

“Saya juga, tan”
Dan….

Crotttttttttttttttttttt

Gw rasa, sekarang gw punya rekor baru, untuk waktu terlama, dari setiap sex yang pernah gw lakukan.

Lalu gw keluarkan penis, gw.

“Ge, sini, kondomnya jangan dibuang” perintah tante.
He?? Mau ngapain??

“Buat apa, tan?”

“Udah, sini aja”

Lalu gw berikan kondomnya ke tante.

‘Glek-glek’
Tanpa babibu, si tante meminum semua benih, yang tertampung di kondom, tersebut.

Gw cuma bisa bengong.
Hampir Gege kecil bangun lagi.

“Kan, perjanjiannya cuma pake kondom. Terus kamu udah pake kondom. Jadi, ini nggak termasuk perjanjian, kan. Lagian, saya nggak suka, buang barang bagus” terang tante.

Terserah tante, deh.
Saya nikmatin, aja.

Lalu kita istirahat sebentar.
Sambil gw memulihkan tenaga untuk pulang.
Gw nggak berani nginep, sekarang. Takut mengganggu, perasaan Monique.

“Kamu, hebat juga, ya. Apalagi bisa tahu kelemahan saya. Perut sama misionari” kata tante.

Lah, misionari, kelemahannya?
Buset, dah. Tau gitu, dari awal, udah begitu. Capek deh.

“Hehe, tante juga, hebat. Saya sampai kewalahan. Saya balik ya, tan. Udah kemalaman” kata gw.

“Iya. Saya juga mau balik lagi kekamar saya, yang diatas. Saya lagi nginep disini soalnya. Ada urusan kerjaan. Nyewa kamar yang ini, cuma demi kamu”

Oh, si tante Bella ini, Nyewa dua kamar. Nggak rugi apa.
Ah bodolah. Bukan urusan gw.

Gw nggak harus ngurusin, urusan orang lain. Tapi orang lain wajib bantuin urusan gw. Wahahahahaha.

(Udah cukup jahatkan, gw. Bentar lagi gw akan mengontrol dunia)

Lalu, gw siap-siap pulang.

“Tan, saya balik, ya”

“Iya. Nih, buat kamu saya tambahin bonus. Hati-hati, ya”
Bonus lagiiiii! Aseek!

“Makasih, ya, tan. Bye”

Kalo dipikir-pikir, DC yang dikeluarkan para tante, besar juga, ya. Hotel, restoran, bonus, dsb.
Wah, berarti gw udah cukup highclass.

Lalu gw menuju parkiran.
Si Barton sudah siap, di samping mobil.

“Meong”

“Lagian, Siapa suruh ngikut. Udah masuk. Untung, lo kesayangannya Tere”

[table id=Lgcash88 /]

Diperjalanan, gw berpikir keras.
“Mikir apa sih, bro? Utang?” Suara Sakti muncul.

“Ini penting, men” Jawab gw.

“Ya, apaan?”
“Lebih peting, dari hidup gw” Kata gw.

“Iya, apa? Monique? Apa Tere?” Suara Sakti penasaran.

“Kalo orang ngasih duit, ke kita, terus dia bilang, dia kasih bonus.
Itu sebenarnya kita dikasih bonus beneran, apa cuma omongan? Secara kita, kan, nggak tahu nominal awalnya” jelas gw.

“Uwahhhh. Mati aja lo! Kayak gitu dipikirin. Udah ceritanya stop. Bisa ketularan gila yang baca”

Halaman Utama : Kehidupan Di Jakarta

BERSAMBUNG – Kehidupan Di Jakarta Part 27-28 | Kehidupan Di Jakarta Part 27-28 – BERSAMBUNG

Selanjutnya ( Part 25-26 ) | ( Part 29-30 ) Selanjutnya

Cerita Terpopuler