. Kehidupan Di Jakarta Part 02 | Kisah Malam

Kehidupan Di Jakarta Part 02

0
340

Part 02 – Kehidupan Di Jakarta


………..

Gw keluar dari gedung, tempat gw interview dengan termenung. Apalagi dengan cuaca panas, membuat gw patah semangat.

Gw berjalan di parkiran dengan kepala menunduk, sambil menuju gerbang.

“Hah…, masa gw ngabisin telor lagi, mana subsidi pangan lagi tersendat”.

Gw berjalan di parkiran tanpa memperhatikan jalan, dan tanpa sengaja gw menabrak sebuah mobil Alphard hitam yang tiba-tiba berhenti di depan gw.

‘BRUKKK’

“wadaaw” gw kaget dan sambil memegang pala gw. Perih kepala gw.

Lalu pintu mobilnya kebuka.

“aduh, Sorry mas, masnya nggak apa-apa?”

‘Ta-da’ Muncullah seorang perempuan matang cantik yang berpenampilan ala wanita karir.

“Eh, iya nggak apa-apa bu” padahal perih kepala gw.

“Aduh mas, sini mas masuk dulu” sambil menyuruh gw masuk ke mobilnya.

“nggak usah bu, saya nggak kenapa-kenapa kok” kata gw menolak

“ih…, kamu itu, kepala kamu itu berdarah, nggak kenapa-kenapa gimana, sini saya obati dulu”

Heee??? gw lalu memegang kepala gw dan bener kepala gw berdarah, pantesan perih. Demi mendapat pengobatan, gw mengiyakan paksaan perempuan cantik dan matang tersebut.

“Maafin supir saya ya mas, tadi dia berhenti tiba-tiba, gara-gara, kucing” sambil dia duduk di sebelah gw dan mengobati gw.

Dan ini perempuan kayaknya teliti banget, soalnya gw perhatikan semua kebutuhan tersedia di mobilnya, P3Knya ajah komplit.

“Nggak apa-apa kok bu, saya juga yang salah jalannya meleng, jadi nggak sadar deh ada mobil”

Kalo gw perhatikan, cantik juga ini orang.

Dengan tank top hitam dilapisi blazer hitam, rok hitam sedengkul plus stocking dan heels hitam, serta rambut hitam panjang bergelombang yang terurai, pokoknya hitam semua, kecuali kulitnya. Kulitnya putih, walau nggak Seputih si Dewi tadi.

Gw terus memperhatikan dia dan nggak sadar kalau mobil udah jalan lagi, lah gw ngikut.

“Masnya ini dari mana, kok kayaknya lesu banget?” Tanya si ibu.

“iya, bu saya habis ngelamar kerja, di gedung yang tadi” jawab gw.

“terus lesu gitu kenapa?”

“Tanpa basa-basi, saya langsung ditolak bu” jawab gw lagi.

“ya ampun, maaf deh ya mas, saya jadi ngungkit masalah mas deh” kata si ibu. Dia sempat menunjukkan kekagetannya. Kelihatannya kekagetannya, tulus banget, gw jadi nggak enak.

“iya, nggak apa-apa kok bu”

“jangan panggil bu dong, panggil tante aja”

Hee..,, tante? Nurut aja deh.

“eh, iya tante”.

“kamu tente antarin pulang deh, kasihan ngeliatnya” Kata si tante.

“Nggak usah Tan, saya masih mau cari makan dulu” kata gw beralasan.

Sebenarnya gw sih mau aja dianterin pulang, kan gratis, apalagi sama tante cantik, tapi entah kenapa gw menolak. (dasar munafik)

“Ya sudah, kalau gitu kita makan dulu!” Jawab tante itu dengan semangat.

“Busettt, semangat banget ini orang, padahal gw nggak mau makan, itukan cuman alasan, gimana mau nolak gw kalau begini, nggak tega” benak gw.

“ya sudah deh Tan, tante atur saja” jawaban gw pasrah terhadap tawarannya.

“Nah, gitu dong”

Kata si tante dengan senyum menyeringai kayak anak ABG, yang mau diajak jalan pacarnya.

(Hiii…, gw boleh geer nggak yah???)

“Oh iya, nama tante, Berliana” hmm, kayaknya familiar deh.

“Saya Gavin, tante” sambil gw menjulurkan tangan gw.

“Gavin? Kayak nama keponakan tante”

Haaaah….??? lagi?? ada lagi yang namanya sama, ampun kakak, memang sepasaran itu kah, kok gw jadi termenung.

“Tapi tante bisa panggil Gege kok, itu udah nama panggilan saya” saran gw.

“baik deh, Ge-Ge” dengan sedikit menggoda ngomongnya. Aiyah, perasaan gw kok deg-deg-ser.

“Ke mall yang biasa Pak!” Perintah tante ke si supir.

“baik bu”.

Dalam perjalanan kita ngobrol-ngobrol, dan si tante ini ramah banget dan mudah bergaul orangnya, gw jadi nyambung ngobrol sama dia.

Sampailah kita di sebuah mall. Setelah turun dari mobil, si tante sempat berbisik ke si supir, gw jadi curiga.

“Yok masuk” ajak si tante.

Kita lalu jalan di mall tersebut, bersebelahan dan cukup dempet, akibat suasana mall yang sudah cukup ramai, membuat gw rajin bersenggolan dengan dengan tangannya, walaupun masih tertutup

blazer, tapi lumayanlah.

“Kamu mau makan apa?” Tanya si tante.

“apa aja tante” kata gw.

“hmm…., apa ajah ya, ya udah ayo ikut tante!” Si tante langsung menarik tangan gw.

Eleuh, tarikannya itu lo, lembut!

Sampailah kita disebuah restoran, yang kayaknya agak mahal, dan gw coba liat menunya,

“oke ini bukan agak mahal, INI MAHAL BANGET”.

Ah..,,, bego gw, aturan gw aja yang nentuin mau makan di mana, bisa abis tabungan gw Kalo gini caranya.

Kita memesan makanan dan gw memesan yang paling murah. Walaupun yang paling murah, tapi harganya udah bikin gw tekor.

“MATI GW” gw berteriak,

sekencang-kencangnya di dalam hati.

“Kamu kayaknya asing banget dengan tempat ini?? Ini mall terkenal loh” si tante memulai perbincangan.

“Saya anak perantauan tante, baru berapa Minggu saya di Jakarta. Makanya saya masih rada asing” jawab gw, menyambut perkataannya.

“Memang kamu asal dari mana? Kamu nggak kelihatan anak perantauan, tampang kamu Jakarta banget” kata si tante.

“saya dari Surabaya tante, tapi lahir di Jakarta juga, dan kalau tante tanya, nggak, saya nggak bisa bahasa Jawa” jawab gw menjelaskan, supaya gw nggak diajak ngomong bahasa Jawa.

“Ya elah kamu, belum tante tanya” sambil sedikit tersenyum.

Asyik kita ngobrol, akhirnya makanan dateng,

“yuk makan dulu, nanti kita lanjut lagi” perintah si tante.

Ketika selesai makan, gw perhatikan si tante senyum-senyum sendiri. Gw yang penasaran memberanikan diri untuk bertanya.

“kenapa Tan, kok senyum-senyum sendiri?”

“Hihihi, habisnya kamu makannya lucu, sudah nggak bisa pakai sumpit, mulut belepotan, nggak kuat pedas lagi” kata si tante sambil tangannya membersihkan mulut gw.

Wah,, jadi salting.

Nggak berapa lama tibalah waktunya, Akhirnya bersiaplah gw untuk menancapkan pedang keramat Excalibur ke jantung gw, yang sudah di gebukin oleh Mike Tyson, dikempit oleh Ade Rai, serta remuk akibat tabrak lari metro mini, dengan musik horor yang menggambarkan malaikat maut sudah dekat.

“Mbak, minta billnya dong”

Gila, jantung gw berdetak lebih cepat dari pada mobil Koenigsegg Agera.

“Udah di bayar kok mas”.

Hee….,, siapa yang bayar.

Gw lalu melirik si tante yang hanya senyum melihat kelakuan gw.

“Tante yang bayar?” Gw mencoba, menginvestigasi.

Hanya dibalas dengan alisnya.

“Hah,,,?,??? Kapan ini orang bayar. kayaknya dari tadi dia ada di depan mata gw??”

Gw mencoba berfikir sekuat Ade Rai. Dan gw gagal, padahal diatas kepala gw udah ada lampu, tapi kok jawabannya nggak ketemu, biasanya kalau diatas kepala udah ada lampu, tandanya kita sudah menemukan jawabannya, Jadi bingung.

“Udah nggak usah dipikirin, anggap aja permintaan maaf” tambah si tante.

Maaf?? Emang dia salah apa? Kayaknya gw deh yang nyeruduk mobilnya. Dan masalahnya bukan disitu, gw sih berterima kasih di bayarin dan nggak akan gw pikirin. Yang jadi masalah adalah kapan dia bayar! Gila itu menjadi misteri terbesar abad ini.

“Oh iya,, btw tante minta nomor hape kamu dong”

Yah si tante, pake ngingetin.

“Yah tan, saya nggak ada hape” jawab gw dengan nada sedikit lusuh

“Haaaah,,,,, kamu nggak punya hape?? Wah parah kamu, penampilan memang bisa menutupi dalamnya”

Oke gw akui lo cantik tante dan gw berhutang sama lo tapi, YA NGGAK USAH GITU JUGA KALI!

“Ya udah ikut tante jalan-jalan aja dulu ya! Ini bukan ajakan loh, ini perintah” what???? Gw di perintah?? Tapi okelah, gw pengen jalan-jalan ini.

Sambil jalan-jalan, si tante mulai berani untuk megang tangan gw. Hingga akhirnya, dia udah gelandotan aja di tangan gw.

Gw mah nikmatin aja, toh gw lelaki. Kan kengen juga sama perempuan.

Kita jalan udah kayak sepasang kekasih. Lumayan santapan gratis. Dan berkali-kali gw bersentuhan dengan dadanya yang kenyal itu, untung Gege kecil kuat terhadap godaan.

Nemenin dia berbelanja, lihat ini, lihat itu, segala macam deh. Tapi emang dasar gw orang sabar, jadi gw nggak terlalu rewel.

Gw cenderung menikmati malah, jalan sama tante-tante yang baru gw kenal ini.

“Yuk, ikut bentar” ajak si tante.

“kemana tan?” Tanya gw

“udah ikut ajah”. Yah,, gw ikutin aja deh.

Dan gw perhatikan bahasa yang dia gunakan udah nggak terlalu formal, jadi gw bisa lebih nyaman.

[table id=AdsKaisar /]

Sampailah kita disebuah toko.

“Udah kamu pilih mau yang mana. Aku yang bayar kok, anggap aja sebagai permintaan maaf aq”. Sambil masih dalam keadaan terkejut karena tingkah lakunya yang menggoda gw, serta keadaan gw yang tiba-tiba di suruh beli hape.

“Adu, mama sayange, ini durian runtuh kah. beta-pe punya dosa, serasa diangkat. Mudah-mudahan saja duriannya tidak busuk. beta jadi bingun mau, senang apa bersedih”

Itulah yang terbersit dalam pikiran gw. Walaupun gw agak curiga, tapi nggak apalah, gw butuh hape ini.

“Serius tante??” Gw sedikit berbasa-basi.

“Iya, buat dirimu apa sih yang nggak ‘wink” kata tante sambil dia mengedipkan mata.

Rasanya makanan yang tadi gw makan, pengen gw keluarin terus gw telen lagi.

Mimpi apa gw semalam.

“lo mimpi dikejar banci berotot, berkulit gelap, pakai bikini, sambil membawa burble, dengan sedikit pitak dikepalanya, beserta tato bertuliskan ‘kukejar kau sampai neraka’, yang sedang berusahan mendapatkan keperawanannya bokong lo”

Eh,,, kok ada suara Sakti di kepala g?? gw nggak gilakan yak??

“Nggak bro” wahhh.,,,,,, hush… Pergi lo setan kredit, jangan ganggu gw.

Dapatlah gw sebuah hape keluaran terbaru, yang dibayarin sama si tante.

“Maafkan aku cinta pertamaku, aku harus meninggalkan kamu di Surabaya, sekarang aku sudah ada yang baru”

“Makasih ya tan, jadi enak, hehehe”

“Iiih, apaan deh kamu” kata tante dengan senyuman saat kita sedang mengarah keluar mall.

Ketika di lobby gw bingun, kok si tante pakai vallet? Supirnya mana?

Terus si tante ngomong ke gw.

“Ge, kamu bisa nyetirkan?”

“Bisa tan” balas gw.

“good, kalau gitu kamu tolong supirin aku yah”

“lah, emang supirnya kemana tan??” Tanya gw karena bingun.

“supir aku ada urusan, makanya tadi aku suruh dia pergi, terus mobilnya ditinggal”

Sebenarnya gw udah mau pulang dan memang rencana gw akan langsung balik sendiri, tanpa ngikut si tante lagi, toh gw udah bisa komunikasi lain waktu sama dia. Tapi kalau udah begini, mana tega gw.

“Oke deh, tan, tante nanti tinggal duduk manis ajah”

“oke, let’s go”.

Di dalam mobil, kali ini dia duduk di depan, nggak kayak tadi pas sama supirnya, duduknya di bangku tengah.

“Tan? Tante nggak papah, di supirin sama orang baru kenal, malah baru dibelikan hape lagi sama tante, nggak takut gitu?” Tanya gw penasaran.

“Nggak kok, dari dulu perasaan aku kuat, Kalo hati aku bilang kamu orang baik, pasti kamu orang baik kok, aku percaya” wah,, si tante ini menjadi orang pertama yang mempercayai gw.

“Hehe, tante bisa ajah. Jadi kita mau kemana nih tan? Saya masih belum tahu Jakarta”

“kita ke apartemen aku dulu, aku ada urusan sebentar di situ” hee,…,..,.,,, apartemen?? bolehkah gw geer sekarang???

“Silahkan bro, hihihihi”

Halaman Utama : Kehidupan Di Jakarta

BERSAMBUNG – Kehidupan Di Jakarta Part 02 | Kehidupan Di Jakarta Part 02 – BERSAMBUNG

Selanjutnya ( Part 01 ) | ( Part 03 ) Selanjutnya

Cerita Terpopuler