. Kamu Cantik Hari Ini Part 9 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 9

0
291
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 9

Ade Indra Putra

Rosi Wahyuni

Bella Wahyuni

“Bella mau duduk dimana? Di tepi liat awan, atau di tengah bunda dan ayah?” Tanya Rosi ke adeknya
“di tepiiii.. mau liaat awaaaaannn.. yeee.. Bella pulang kampung.” Teriak gembira Bella.
“ntar kalau Bella takut, pindah ke sini ya.” Kataku menunjuk bangku di tengah yang sekarang diisi Rosi.

“Maaf adek, adek duduk tengah dulu ya, ntar kalau udah Nampak awannya, adek dipangku aja sama mamanya, liat awan ya. Biar adek gak takut, kalau takut kan bisa pegang papa sama mamanya sekaligus.” Kata pramugari membujuk Bella.
“Iya tante.”
“Maaf Bapak, Ibu, untuk keselamatan adeknya.” Kata pramugari itu lagi meminta maaf kepada kami.

“Bella takut?” tanyaku. Ia membalas dengan anggukan kecil disaat pesawat lepas landas.
“kalau takut, Bella harus ngapain nak?”
“Baca doa, ayah.”
“Pintar anak ayah. Ntar kalau udah stabil, gak takut lagi kok Bellanya.”
“Iya ayah.”

Tanganku dipegang erat oleh Bella. Mulutnya komat kamit entah apa dibacanya, lucu sekali liatnya. Imut sekali, sampai sampai aku cium kening dan pipinya gemas. Tak hanya Bella yang takut, aku liat Rosi pun memegang erat lenganku. Rosi bukan perdana naek pesawat seperti Bella. Tapi dia selalu takut dikala pesawat lepas landas dan hendak mendarat. Aku pikir, gak hanya Rosi yang seperti ini. Banyak kok.

****

“Selamat datang di bandara internasional Minangkabau, padang.”

Suara yang menyambut kami saat menuruni pesawat berwarna hijau tersebut. Aku kembali ke ranah minang ini setelah lama tidak pulang. Kira kira hampir 1,5 tahun aku tidak pulang. Hatiku sangat senang, tetapi dalam hati kecilku, aku takut gimana cara menjelaskannya ke keluargaku tentang Rosi dan Bella. Apa mereka menerimanya? Kalau tidak, pasti akan menyakiti hati Rosi. Lagian aku gak pernah cerita tentang Rosi dan Bella. Mungkin keluargaku masih menyangka aku bersama Afni. Ah sudahlah, jalani kata Andre.

Setelah aku mendapatkan semua barang bawaanku kembali. Aku mendorongnya dengan troli dan Bella duduk diatasnya bak ratu. Lucu aja kalau aku liat dia. Sesampai di area kedatangan, aku melihat kakakku. Sesaat dia melihatku, wajah nya yang awalnya bahagia, terpaku bingung. “Pertaruhan dimulai”, kataku.

“Assslamualaikum uni.” Kataku, mencium punggung tangannya.
“Dek, ini kakakku, Uni Ana.” Kataku pada Rosi. Lalu Rosi menirukan apa yang aku lakukan.
“Aku Rosi kak.” Kuliat wajah kakak yang masih bingung tingkat tinggi.
“Bella, salam sama tante nak.” Kataku yang tambah mengejutkan kakakku.
“Assalamualaikum tante. Aku Bella Wahyuni.” Katanya seakan meredam kebingungan kakakku.
“Ayaaahhh.. Bella mau pipis.”
“Dek. Kamu antar ya, itu WC. Nampakkan?” sambil menunjuk kamar mandi di sebelah sudut kiri Bandara itu. Ini kesempatanku menjelaskan ke kakakku.

“Ndra, jaleh an ka uni kini.”(Ndra, jelasin ke uni sekarang.)
“sabalum nyo maaf uni, buek uni binguang. Giko uni… ” (Sebelumnya maaf telah membuat uni bingung. Gini uni…..)

Akupun menceritakan keadaanku sekarang. Rosi dan Bella yatim piatu. Aku yang pernah menolong mendiang bapaknya mengurusi kebunnya, diminta permintaan terakhir bapaknya menjaga Rosi dan Bella. Mereka sebenarnya kakak adek, tetapi ibu Rosi meninggalkan mereka disaat melahirkan Bella. Rosi lah yang menjaga Bella selama bayi sampai sekarang. Sedangkan ayahnya tinggal di Garut karena terpukul istrinya meninggal. Seumur hidup Bella, tidak pernah ditemui oleh ayahnya. Karena ayahnya tidak kuat kalau melihat Bella. Beliau teringat selalu sama mendiang istrinya. Sampai sampai maut menjemputnya. Bella mikir akulah ayahnya. Semua itu aku jelaskan sama uni Ana. Uni Ana terdiam mendengar penjelasanku. Sebagai wanita, ia merasa kasihan sama Rosi dan Bella. Uni membelai wajahku sambil matanya yang berkaca-kaca.

“Afni?” Tanya uni ku.
“disaat Afni manyangko salingkuh, pas itu lho Indra sobok jo inyo terakhir ni.”(Disaat Afni mengira selingkuh, disaat itu pula Indra bertemu dengannya terakhir.)
“tapi kamu cinta kan sama Rosi?”
Aku hanya menaikkan bahuku menjawab pertanyaan Uni. Aku liat mata Uni tak mampu menahan air matanya. Air mata itu jatuh ke pipinya. “Bangga uni, semoga jalan terbaik untuak adiak uni.” Kata Uni membelai kepalaku. Ya Uni Ana samaku berjarak 5 tahun. Karena kami hanya berdua, secara batin aku sangat dekat dengannya. Aku beruntung mempunyai kakak seperti Uni Ana.

“Tante kok nangis?” Tanya Bella mengejutkan uniku.
“Haha, gak, tante hanya kangen sama ayah Bella.” Jawab uniku.
“Yok kita pulang. Oom Fahri udah nunggu Bella di mobil noh.” Kata Uni sambil menunjuk mobil Avanza hitam di parkiran yang di dalamnya ada Uda Fahri, suami Uni Ana.

Uniku menggandeng Bella dan Rosi. Aku yang berjalan dibelakang sambil mendorong Troli hanya bisa menangis haru. Terima Kasih Uni. Uni menyuruh Rossi dan Bella memasuki mobil. Dan membawa Uda Fahri ke belakang mobil untuk membantuku menaikkan barang, sambil menceritakan apa yang dibingungkan Uda Fahri. Untunglah Uda Fahripun menerimanya. Aku duduk di depan sebelah Uda Fahri yang mengendarai mobilnya. Uni bersama Rosi dan Bella di belakang.

“Latiah Ndra?” (Capek Ndra?) Tanya Uda Fahri.
“Beko gentian bisa? Tadi malam uda kurang lalok lho.” (Ntar gentian ya, tadi malam Uda kurang tidur pula)
“Oke Uda, Kuek nyo” (Oke Uda, Kuat kok) kataku

Memang, kampungku berada di Bukittinggi. Sedangkan bandara hanya di Padang. Jarak Padang sama Bukittinggi, seperti Jakarta-Bandung. 2 jam an lah. Tetapi karena suasana di jalan yang di temani pemandangan alam yang hijau, menghilangkan capek di jalan. Bella aja membuktikannya, sepanjang jalan, ia tak tidur. Malah sibuk ngobrol dengan Uni Ana sambil menanyakan apa itu, apa itu menunjuk luar mobil. Dan ku liat Rosi hanya diam, mungkin masih kikik dengan suasana ini.

“Bella gak tidur?” Tanya Uda Fahri sambil mengengok ke kaca spionnya.
“Gak om. Tadi di pesawat, Bella tidur aja”
“Kok tidur?” Tanya Uni.
“Bella takut tante, tapi untung ayah nyuruh Bella baca doa, jadi Bella tidur.”

Kuliat Uni melirikku dengan perasaan bangga. Syukurlah aku mengajari Bella dengan kebaikan dan tulus. Jadinya Ia tumbuh pintar dan cantik.
“Kita berhenti dulu disini ya Bella.” Kata Uda Fahri
“Ngapain om?”
“Beli pinyaram dulu. Kakek minta.”
“Pinyaram? Apaan tu yah? Bella turun juga ya yah.” Pinta Bella.
“Ayok, sama tante turunnya, ayok Rosi.” Ajak Uni Ana ke Bella dan Rosi. Mobil yang dikendarai berhenti di “Kelok Pinyaram” tempat khusus pembuatan makanan khas minang ini.

“Serius ko?”(Serius ini?) Tanya Uda Fahri disaat tinggal kami di dalam mobil.
“Serius uda, Ndak tw apo yang ka Indra sabuik ka abak jo amak” (Serius Uda, Indra gak tw apa yang akan Indra bilang ke Bapak dan Ibu).
“Jaleh an se sabananyo, insyaallah mereka mangarati. Apo lai Bella pintar, sayang amak beko tu.” (Jelaskan saja yang sebenarnya, Insyaallah mereka mengerti. Apalagi Bella anak yang pintar, pasti disayang Ibuk)
“Untuang-untuang se da. Gantian wak lai da?” (Semoga saja da. Gantian nyetirnya lagi uda?)
“Hahahaha… ndak usah. Uda tadi bukak kato se, bia bisa ngecek jo Bella.”( Hahahaha.. gak usah. Uda tadi hanya basa basi, pembukaan bicara sama Bella.)
“Hahaha.. makasih banyak yo uda”

“Enak ya yah, kirain pahit, rupanya manis yah.” Kata Bella disaat memakan Pinyaram yang dibeli tadi.
“Bella udah habis 2 lho bang” Rosi mulai menyatu dengan situasi.
“Siap makan itu, ntar di rumah gosok gigi ya sayang.” Kataku.

Bella menjawab dengan anggukan. Aku yang juga kangen dengan makanan ini saja sudah habis 3. Hehehehe. Memang kalau ke Padang waktu kecil dahulu, kami sekeluarga mampir beli Pinyaram ini oleh Bapak yang sangat menyukai makanan manis ini.

“Yah, itu apa?” Tanya bella melihat Lembah anai, Air terjun yang indah yang terletak di tepi jalan raya Padang-Bukittinggi.
“Itu lembah anai nak. Besok pas balek ke Jakarta, kita mampir ya. Sekarang ayah mau liat kakek dulu ya nak.”
“Iya ayah. Besok kita foto disana ya yah.”
“Foto aja yah, mandi jangan, air nya dingin. Ntar Bella kedinginan.”
“Iya ayah.”

Aku bisa melihat kekaguman Uni Ana dan Uda Fahri caraku mendidik Bella. Rosi yang ternyata capek, mulai tidur menyandarkan kepalanya ke jendela pintu yang sudah tertutup. Uni sibuk dengan memgusap usap kepala Bella.
“Ntar, sampai di Bukittinggi, Bella temani bunda istirahat di rumah ya. Ayah mau liat kakek ke rumah sakit”
“Iya ayah. Tapi besok, Bella ikut ya. Bella mau ketemu sama kakek.”

Aku yang hanya mengangguk, terdiam dengan tingkah Bella. Aku terharu, dan bangga bisa menjadi ayahnya Bella. Ku liat Uni melengah ke samping kanan membuang mukanya dari Bella untuk mengusap air matanya. Satu ketakutanku sudah tak ada. Semoga Abak Amak juga menerima mereka.

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler