. Kamu Cantik Hari Ini Part 6 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 6

0
292
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 6

Ade Indra Putra

Deanda Putri

“Kamu udah lama kerja sini Ndra?” Tanya Dea disaat memeriksa badanku.
“Baru setengah tahun lah De.”
“Ganteng, Badannya bagus lagi. Sayang kamu masih sama Afni, kalau gak, udah aku kejar lho.” Kata-katanya yang membuyarkan pandanganku padanya.
“Haaaa? Anuu….” Aku terserang penyakit gugup seketika.
“Hahahaha.. knapa jadi gugup? Emang kamu mau sama aku?” tanyanya lagi.
“Hahahaha..” aku hanya bisa ketawa kecil mendengar pertanyaannya.
“Kamu sih, gak pernah jemput Afni lagi, jadinya aku gak ada sarapan mata deh.”

Sumpah, aku hanya terdiam mendengar kata-katanya. Tak kusangka kalau ia masih blak-blakan seperti dulu, walau sekarang ia sudah berhijab. Tapi aku lebih heran, apakah ia tidak tahu, kalau aku sama Afni sudah tidak ada apa-apanya. “Ahhh.. entahlah, mana bisa aku kembali dengan sosok bidadari berhati malaikat seperti Afni.”

“Lho kok diam Ndra? Sakit ya?” tanyanya disaat jarum suntik sudah menempel di lengan kiriku. Suntik yang sekarang mengalahkan drakula dan nyamuk untuk mengambil darahku.
“Gak kok. Aku teringat Afni aja.”
“Haaa? Bukannya Afni tinggal di apartementmu ndra? Ckckck… gitu aja kamu kangen sama dia. Hahahaha. Awet banget kalian.”

“Apartementku? Apalagi ini? Awet??” batinku kembali berkata. Apa maksud dari Dea. Sumpah aku tidak mengerti apa yang dimaksud Dea.
“Heh… bengong lagi.. beneren nih anak. Sudah satu apartement, masih aja kangen-kangenan.” Tambah Dea yang membuatku semakin bingung.

“Hahahaha.. udah ah, jualan kacang goreng nih aku. Kamu diam aja. Kamu ke kamar mandi aja ya. Kamu buang air kecil, masukkan ke botol ini. Ingat, hanya urine kamu. Disana ada yang jaga lho.”
“Jaga?”
“Iya, kalau kecampur dengan air urinenya, gak ketemu-temu dong pemakai narkobanya.”
“Hmmm… begitu. Trus, jagoanku ada yang liat dong?”
“Hahaha.. cowok pun Ndraaaa..”

“Haaaa?? Cowok??? Anjiiirrr… Tambah angker nih, seumur-umur belum ada satupun pria yang melihat jagoanku selain Bapak dan keluargaku saat aku sunat dulu. Haduuuhh, gimana ini?” batinku disaat aku berjalan menghadapi kenyataan yang sangat tidak aku sukai. “Aku yang terakhir pula, kalau tu anak homo, aaaahhhh… aku hajar aja dia ah kalau berani macam-macam.” Pikirku.

Sesampainya aku dikamar mandi, aku tidak menemukan siapapun. Syukurlah pikirku. Aku pun memutuskan untuk mengeluarkan urine ku ke dalam botol tadi. Daripada entar aku ditemani cowok juga. Dan akupun yakin kalau tidak akan positif. Kan aku mengharamkan barang itu dari tubuhku.

Akupun membawa botol yang berisi urine ku tadi ke Dea. Walau sedikit hangat itu botol, aku tetap membawanya setelah aku cuci bagian luarnya dan pastinya sudah tertutup rapat disaat aku cuci. Aku disaat membawa itu berfikir, apa para dokter, tidak jijik ya saat megang urine orang. Aku saja yang memegang punyaku sendiri, sudah aneh gitu.

“Sudah De. Ini….” Kataku sambil memberikan kepada Dea yang saat itu membantu teman-temannya beres-beres.
“Tarok aja dulu disana ya Ndra. Tunggu dulu ya, mereka mau ke kantor selanjutnya. Ya perlengkapan ini dibawa juga.” Katanya menunjukkan meja yang ada dibelakangnya.

Akupun menunggu Dea sambil memperhatikan apa yang mereka lakukan. Tak sengaja, aku melihat bokongnya Dea. Sungguh indah tercetak di jeans lumayan ketatnya. Mataku berjalan ke atas, aku melihat tubuhnya yang lain yang kembali membuat otak kotorku bekerja. Buah yang menggantung indah di dadanya itu seakan menantangku untuk memandanginya terus. Sangat pas dengan tubuhnya yang berisi tapi ramping walau dihalangi oleh kemeja dalaman dan jas putih khas pekerja rumah sakit itu.

“Ini punya kamu ya Ndra?” tanyanya.
“Iya De.”

Dea membawa botol urineku ke teman-temannya. Lalu dimasukkan ke box kecil bergabung dengan beberapa botol seukurannya dan isinya pun beragam warnanya ku lihat. Ada kuning, bening, keruh. Dan aku yakin, itu punya orang sekantor. “Siapa yang punya kuning itu ya?” pikirku.

“Kamu kebanyakan bengong deh Ndra.” Kata Dea kembali menyadarkanku.
“Hahaha. Kagak De, aku hanya nebak-nebak. Yang kuning itu punya siapa ya.”
“Ada-ada aja kamu. Oh ya. Kamu tadi gak ada yang ngawasin ya, pas buang air?”
“Kagak. Tapi aku yakin kok, kalau aku gak pernah nyentuh tu barang, De” yakinku.
“Aku percaya aja Ndra, tapi ini kan prosedur.”
“Trus, gimana dong de?”
“Ya, terpaksa diulang lah. Tunggu dulu, aku panggil teman cowok aku dulu.” Katanya sambil meninggalkanku.

Kembali aku dilanda ketakutan beberapa menit yang lalu yang sebenarnya sudah teratasi. Semoga bukan homo tu orang. Pikirku. Disaat menunggu Dea kembali, HP ku bergetar.

“Men, gua duluan ya. Gua jumatan dekat kos. Soalnya aku mau langsung pulang ke Bogor, jadi dari kampus langsung aja.”

Akupun mengiyakan pesan Andre. Terpaksa aku sendiri menghadapi istirahat kantor. Aku selalu berdua sama Andre kalau istirahat. Karena hanya dia yang bisa mengerti gimana aku. Sudah sejak tahun pertama kuliah aku berteman dengannya. Beruntung aku masih bisa dekat sama dia. Orang yang pengertian akan temannya, akan sekitarnya.

“Temanku udah pergi semua, gimana ini ya?” Tanya Dea, disaat datang kembali ke ruangan pemeriksaan.
“Aku berani sumpah apapun deh De. Itu murni urineku.”
“Iya Ndra, tapi ini prosedur. Dan kata kakak-kakak tadi, kamu harus ngulang. Gini aja, biar aku yang ngawasi kamu.”
“Haaa??”
“Iya Ndra. Semoga aja professional ya. Ayo buruan, nanti ada yang lihat, timbul gossip. Kasihan Afni.” Katanya menarikku yang masih keheranan ke kamar mandi. Disaat ia menarikku, lenganku menyentuh daging kenyal di dadanya tersebut. Ia mungkin tidak merasakan hal itu, tapi bagiku membuat jagoanku mulai berdiri.

“Ayokk. Buruan Ndra, ntar ketahuan orang kan brabe.”
Akupun menurunkan resleting celanaku. Dan mengeluarkan jagoanku yang sedikit berdiri karena sentuhan lenganku tadi dan juga kentang akibat semalam. Namun, karena mulai aneh pikiranku, urine ku pun tak keluar. Hal ini membuat Dea lama memandangi jagoanku.

“Kok gak keluar-keluar Ndra. Buruan.”
“Gak tau juga De, mungkin karna barusan sudah keluar.”

Aku melihat gelagat Dea yang mulai risih dengan keadaan sekitar. Iapun keluar dari kamar mandi tersebut. Aku yang panic dan takut ia marah, memasukkan jagoanku kedalam lagi. Aku pun mengikutinya keluar. Kulihat dia duduk di dekat Lobby sambil bengong. Aku menghampirinya. Tapi, sebelum sampai, entah kenapa aku kepengen buang air kecil. Mungkin karena panik dan takut tadi. Aku langsung berjalan ke kamar mandi yang terletak dekat lobby saja, karena kembali ke kamar mandi dekat klinik tadi terlalu jauh. Disaat aku hendak membuangnya, jagoanku dipegang oleh seseorang.

“Kesempatan mah ini Ndra. Maaf ya.” Aku teringat kalau tak mengunci kamar mandi itu dan Dea pun masuk ke dalam. Dea dengan telaten memegang jagoanku dan mengarahkan ke botol sampel bewarna bening tersebut. Aku tetap mengeluarkan air seni itu sambil memandangi wajahnya sambil aku merasakan buah dadanya di punggungku. Sungguh besar dan hangat buah dadanya. Tanpa sadar, akupun mengecup bibirnya. Iapun membalas ciumanku. Akupun membalikkan tubuhku menghadapinya. Ku ambil botol yang digenggam oleh tangan kiri Dea. Ku letakkan botol itu di atas westafel. Tangan kanannya masih mengenggam jagoanku yang bertambah membesar ukurannya.

Aku kembali menciumi bibirnya. Ciuman yang hangat. Bagaimana tidak, Dea salah satu fantasiku dahulu kini didepanku. Kupaksakan lidahku masuk dan menggelitik langit-langit mulutnya. Tanpa sadar, tangan kirinya memegang belakang kepalaku. Akupun semakin bernafsu, kuhisap dalam lidahnya dan mengulum lidahnya yang sangat basah itu. Sesekali kudorong lidahku ke dalam mulutnya yang merah tipis itu. Tanganku mulai berani, meraba pinggulnya yang montok itu. Namun disaat aku mau memasukkan tanganku ke dalam celananya, Dea melepaskan diri.”Tunggu Ndra, pintunya belum dikunci.” Katanya.

Tanpa menjawab katanya. Akupun mengunci kamar mandi yang berukuran 5×5 meter itu. Untung saja kran bak mandi itu rusak dan terus mengeluarkan air, sehingga suara deru air agak merisik dalam ruang kecil itu. Saat aku berbalik, tangannya dengan tangkas membuka kaitan celanaku yang sudah mengeluarkan jagoanku di balik resleting tersebut. Dielus lembutnya jagoanku. Disaat aku hendak menghampirinya, ia melarangku dan melepaskan pegangannya di jagoanku. Dia melepas jas putih di tubuhnya dan menggantungkan di balik pintu, dan melepas beberapa kancing kemeja yang dipakenya sehingga aku sekarang dapat melihat bentuk sempurna payudaranya yang mulus dibalik Bra-nya berwarna hitam.

Kamipun melanjutkan cumbuan tadi, kali ini lebih panas dan bernafsu. Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Jagoanku yang telah berdiri sempurna, kudekatkan ke pahanya dan kugesek-gesekkan. Ia pun membalas gesekan itu dengan membuka kaitan celananya, dan membiarkan gesekan jagoanku yang hanya terhalang celana dalamnya. Rasanya sungguh enak sekali. Aku bisa merasakan kalau lembutnya pahanya dan mulai basahnya celana dalam itu. Tanganku pun makin nekat meremas dan membuka Bra-nya. Kini ia sudah bertelanjang dada dihadapanku, kuciumi puting susunya yang indah itu, kuhisap, dan kumainkan dengan lidah sesekali menggigitnya.

“Yaaa, enak Ndra… ouh geli Ndra, kamu pinter banget sih,” desahnya seolah geram sambil meremas rambutku dan membenamkan ke dadanya.

TOKK.. TOKK.. TOKK…

Bersambung

Daftar Part