. Kamu Cantik Hari Ini Part 46 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 46

0
248
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 46

Aku menitikkan air mata setelah aku membuka semua Foto diary Afni yang berkaitan denganku dari awal aku mendekati ia, sampai aku mendapatinya turun dari taksi saat di studio Fano. Dimana, kesalahpahaman yang aku pikir selama ini menjadi boomerang penyesalan dalam hati ini. Beberapa penggal kata di diary Afni yang terngiang dalam benakku sampai aku tak kuasa menahan gumpalan air mata ini turun walau setitik. Afni merangkum semua ini dalam micro SD yang dibungkus rapi dalam lipatan kertas yang rapi.

“Aneh, ada hal lain saat dia melihatku. Siapa dia?”

“Eh, lelaki yang kemaren lagi dihukum depan lapangan saat ketahuan ngerokok. Hmmm… Ade Indra Putra, baru aja sebulan kita sekolah disini, udah berbuat yang tidak tidak.”

“Aku terkejut saat aku melihat dia berkelahi dengan kak Romi siswa kelas 3 di belakang sekolah saat aku ingin ke rumah Caca. Gak pernah aku temui orang sepertinya yang berani melawan kakak kelas.”

“Makasih. Dia menolongku saat aku lupa membawa topi saat upacara. Dan rela ikut upacara di barisan tersendiri.”

“Hah? IPA? Kok bisa ya, anak seperti dia bisa masuk IPA?”

“Ternyata persepsiku tentang anak nakal harus diubah. Dia yang mengubahnya. Aku dan Dia tadi siang ke Padang Panjang seleksi olimpiade Nasional walau akhirnya aku yang terpilih mewakili sekolah.”

“Siapa dia? Kok segitunya dengan Indra?”

“Entah kenapa aku selalu memperhatikan dia ya? Masuk gerbang selalu diperiksa sama Pak Agus, jam istirahat selalu ke WC, keluar sekolah selalu ditegur sama Pak Agus karena bajunya yang sudah keluar.”

“Pas upacara tadi, ia kembali menjadi pusat perhatian. Tetapi ia dipuji karena membawa SMA menjadi Juara Sepakbola antar sekolah se Bukittinggi. Katanya sih dia kaptennya. Hebat ya, baru kelas dua sudah menjadi pemimpin walau ada kakak kakak kelas tiga juga ikut.”

“Jadi selama ini dia ke WC ngerokok? Apa aku laporin aja ya ke guru? Tapi dia tadi udah bantuin aku keluar dari WC. Ahhh tau ah, mending tidur.”

“Alhamdulillah, aku kembali menjadi juara kelas. Dan yang buat aku senang. Pertama kali dia ucapin selamat ke aku langsung. Eh, apa ini…”

“Akhirnya seminggu gak liat dia terbayarkan dengan ia menolongku mengambilkan soto saat aku yang kelupaan sarapan permisi dalam jam pelajaran. Dan itu pertama kali aku lakukan permisi saat jam pelajaran berjalan. Aneh aja rasanya. Ditemani pula. Hmmm….”

“Tiga hari berturut turut sebelum ke WC, dia selalu nanya ke aku udah makan. Haduhhh.. kenapa yaaa”

“Oooo.. Jadi dia Rima, sehabat Indra dari kecil. Kok aku jadi lega ya?”

“Kata teman temanku pipiku selalu merah kalau mereka goda aku sesudah berjumpa dengan Indra? Apa iya?”

“Ternyata Indra anak band juga. Setelah aku tahu dari jadwal perpisahan kakak kelas 3, tapi kok teman ngebandnya anak IPS ya?”

“Kok lagunya itu sih? Keras gitu, gak enak. Muak, marah marah gitu.”

“Tadi siang, aku berhasil menahannya tak ke WC. Katanya sih perdana baginya tak ke WC. Dan dia bilang, kalau gak aku yang nahan, bakalan gak mau. Ihhh… maluuu aku setelah aku liat dari kaca ini, pipiku beneran merah.”

“Pertama aku diantarnya pulang. Walau saat sampai dirumah, katanya buru buru mau anter Rima pulang juga. Hmmm…”

“Memang sih gak pertama kali aku didekati cowok, tetapi Indra kok beda ya. Gak maksa gitu. Ngalir aja. Hmmm…”

“Hari ini aku disms nya untuk pertama kali. Hanya untuk memberitahukan kalau ia tahu aku gak sarapan. Dan ia harus mengikuti lomba sepakbola dan tidak menemuiku di jam istirahat. Sepi sih.”

“Malam ini aku pertama kali di telponnya, hanya untuk mengingatkanku sarapan esok pagi. Biar konsentrasi ujiannya. Hihihi…”

“Kok belajarku lebih giat ya. Hmmm… semoga ada efek Indra yang selalu menanyaiku tentang ujian saat di vespanya mengantarkanku pulang…”

“Rima. Hmmm.. ternyata dia baik juga ya. Aku kira dia akan menjauhiku. Tapi dia yang menolongku saat aku kelupaan bawa pembalut. Uppssss.”

“Rupanya deg deg an hatiku selama 3 hari classmeeting ini terjawab, Indra menyampaikan rasa sayangnya ke aku lewat lagu yang memang ku suka. “Kau Cantik Hari Ini”. Dan dia mengatakan ingin aku yang menjadi sosok “Kau” yang ia nyanyikan. Pasti Ndra, Pasti itu aku. Aku bukan menolakmu Ndra, tapi meyakinkan kalau kamu itu emang pantas untukku. Maaf ya sudah bikin kamu malu pastinya.”

“Sudah seminggu aku melihat Indra dengan hasil yang menambah keyakinanku untuk bersamanya. Besok. Besok akan aku sampaikan ke kamu Ndra. kalau aku juga sayang kamu.”

“Yeee.. alhamdulillah aku naik kelas dengan tetap juara kelas. Aku juga senang telah memberi jawaban ke Indra. Dia senang dengan jawabanku. Dan dia memelukku. Hal pertama kali aku dapatkan selain papa. Begitu hangat, eh kok ngelantur ya. Udah ah, bye diary.”

“Begini ya rasanya punya pacar. Walau sih aku masih mempunyai sedikit pikiran tentang Rima yang menjadi sahabat Indra. Tapi aku masih yakin kok, kalau Indra hanya untukku.”

“Ngedate pertama. Indra membawa aku ke Kebun Binatang Kinantan. Katanya sih ini tempat favoritnya. Terbukti dengan tidak merokoknya ia di sini. Menghargai udara yang selalu dihirup hewan yang terbelenggu disini. Pemikiran yang bagus sih. Tapi yang berkesan bagiku adalah seharian ia memanggilku dengan panggilan sayang. Hmmm…”

“Dia menghiburku saat aku gagal dalam ujian masuk UI. Walau gak bisa menghapus semua kekecewaan ini, tapi ia bisa menguranginya. Makasih sayang.”

“Pertama kali di ajak ke rumah. Kata mama sih anak yang sopan. Apalagi papa, yang sealiran sama Indra. Maniak Bola.”

“Kok Rima duluan sih yang dianter? Kamu gak sayang lagi sama aku Ndra?”

“KESAALL.. Caca bilang liat Rima sama Indra berduaan di Pasa Ateh, kalau Tanya Indra pasti dia bilang gak ada apa apa. Aku bakal cari sendiri ah.”

“Kok saat ia ngantar Rima, mau masuk ke rumah Rima ya.”

“Hari ini aku nangis di depan rumah Rima saat Indra yang berada di rumah Rima dan rumah itu tertutup. Entah kenapa aku berfikir lain saat itu. Namun, janji Indra lah yang menghapuskan semua keraguanku. Semoga kamu gak bohongi aku ya Ndra.”

“Rima mendatangi rumahku dan bilang kalau ia gak ada maksud rebut Indra padaku. Hmmm… semoga saja deh.”

“Keluarga yang menyenangkan sih. Lucu aja liat Indra yang di luar seakan mau makan orang, tetapi di rumah, ia termakasn suasana rumah. Hehehehe.. makasih amak dan uni Ana yang telah marahi Indra saat aku diusili Indra. Rasain kamu sayang.”

“Kamu jaga ya kehormatan kamu. Walau itu aku yang minta. Jangan kasih. Halal dulu. Kata kata Indra saat menasehatiku dimana menonton acara TV di rumahku. Pasti sayang. Pasti akan aku jaga untukmu.”

“Seminggu ini dia minta aku fokus belajar dulu. Walau aku kesal, tetapi ia kukuh hanya mengantarkanku pulang, tak lebih. Apalagi sekedar good night aja gak mau.”

“Seminggu sepi berlalu. Akhirnya ia membawaku seharian. Datang dengan meminta izin ke mama papa, dan berjanji menjagaku, seharian berjalan jalan di kota Payakumbuah, Lembah Harau, Batang Tabik, dan makan sate Danguang Danguang. Ih, rasanya bedaaa. Pertama kali aku jalan jalan tidak bersama keluarga. Makasih sayang.”

“Semoga kaki kamu cepat sembuh ya sayang. Aku gak tega liat kamu kesakitan kek gitu. Masa main bolanya sampai kasar gitu ke kamu.”

“Surpriseee… walau ia gak bisa bawa vespa. Ia menemaniku pulang dengan angkot dan rela memakai tongkat pembantu ia berjalan. Cepat sembuh ya sayang.”

“Akhirnya tadi kami sudah daftar bimbel di Padang. Mama sih izinin aku ngekos. Dengan catatan tetap belajar dan dijagain Indra. Makasih mama. Kamu udah dipercayai begitu sama mama sayang. Senang sekali aku.”

“Mama kecopetan. Aku yang ngomong ke Indra saat sepulang sekolah di atas vespa, pertama kali aku liat wajahnya yang seperti itu jadi takut. Gak usah sayang. Biarin aja. Tuhan, jaga Indra ya. Aku gak mau Indra kenapa napa.”

“Mama heran saat dompetnya sudah ada di depan pintu pagi pagi. Lengkap tanpa ada satupun yang hilang. Entah kenapa, aku merasa ini karena Indra. Walau Indra gak ngaku saat aku ceritain. Tapi hati ini berkata kalau kamu sebabnya. Makasih ya sayang.”

“Ujian akhir Nasional. Semoga kita lulus dengan nilai bagus ya sayang. Semangat juga sayangku.”

“Akhirnya, sebulan sudah aku kesepian tanpamu. Sekarang dia ajak aku kerumah sakit pagi pagi. Penasaranku terbayarkan dengan kehadiran di kecil Alya. Lucu banget keponakan Indra. Pengen juga gendong sih. Tapi aku belum berani. Aku harus wujudin cita cita aku, supaya tetap melihat lucunya anak anak.”

“Malam ini perdana aku tidur di kosan, untung ada Caca. Dan Indra mengantarkan makan malam untuk kami. Makasih Sayang.”

“Makasih surprisenya sayang. Walau rada takut sih, dan jengkel sudah dikerjai. Tapi aku juga minta maaf ya, soalnya aku lupa hari ini.”

“Maaf aku telah menciummu sayang. Aku janji itu adalah ciuman pertama dan terakhirku sebelum kita nikah. Kata kata itu diucapkan Indra saat menyium bibirku yang pertama kali merasakan itu. gomana ya rasanya. Hmmm…”

“Tadi sore, aku dan Indra menolong Dika, seorang pengamen cilik yang dipalak preman yang seusia kami mungkin. Aku rada takut sih. Apalagi saat Indra berkelahi sama mereka. Untungnya Indra gak terluka parah, hanya lebam. Aku bangga sama kamu sayang. Tetap disampingku ya sayang. Selamanya.”

“Alhamdulillah kita lulus ya sayang. Semoga nilai kita bagus. Dan tadi aku bangga pada kamu, saat teman teman kamu nyuruh peluk aku, tapi kamu menolak dengan halus. Terima kasih sayang. Aku bangga sama kamu.”

“Alhamdulillah aku lulus PMDK di FK-U*. Indra senang gak ketara. Apalagi dia sujud syukur saat mendengar kabarku. Tapi aku bakalan balik ke Bukittinggi sayang. Kamu tetap semangat ya bimbelnya. Aku pasti doain kok.”

“Seminggu sudah tanpa Indra. Dan Besok aku harus ke Jakarta, ngurus administrasi masuk kuliah. Jadi semakin sepi deh hariku.”

“Akihrnya aku sekarang sudah di Jakarta bersama mama. Aku senang tadi Indra datang ke bandara sepulang bimbelnya. Dan dia berjanji untuk juga kuliah di Jakarta. Aminn.. aku gak bisa jauh darimu sayang.”

“Alhamdulillah. Indra juga lulus di U* jurusan pertanian. Aku tunggu kamu disini sayang.”

“Hihihi.. pertama kali aku lihat Indra cemburu. Sampai sampai dia gak menelponku sahari ini. Dia hanya kakak tingkatku kok yang. Di hati aku Cuma ada nama AIP.”

“Ternyata kalau kita beda jurusan. Waktu kita bersama berkurang ya sayang. Aku kangen kamu Ndra.”

“Ihhh.. kok lagu itu lagi sih. Gak sakit telinga kamu dengarnya? Percuma aja juara kalau telinga kamu sakit dengan music kek gitu.”

“Aku terkejut dengan pengakuan Dea yang tidak perawan lagi. Dan dia gak nyesal kok, karena yang ngambil keperawanannya itu pacarnya sendiri. Hmmm.. jadi keingat ciuman Indra.”

“Pertama kali aku dimarahi Indra. Tapi aku bangga dengannya yang menepati janjinya. Dan malah bilang gak akan maafin aku kalau aku melakukan hal yang tidak pantas itu.”

“Senangnya penerbangan pertama sama Indra. Serasa bulan madu aja. Eh. Welcome Padang”

“Makasih ya sayang, sudah maklumi jadwal aku yang sibuk. Love You.”

“Sejak 3 minggu gak ketemu sama Indra, aku diajaknya ke Bogor. Terima kasih sayang hari ini. Terima kasih telah sabar dengan jadwalku.”

“Hari ini adalah hari peresmian warnet milik Indra. Maaf ya sayang aku tidak hadir peremiannya. Aku doakan kok kalau Usaha kamu lancar selalu”

“Hai Diary, udah setengah tahun aja aku gak nengok kamu ya. maaf ya, kalau aku ada hal tentang Indra aja nengoki kamu. Hari ini dia dekat sama cewek sih. Via namanya. Sepupu uda Fahri. Tapi kalau aku liat, Via suka tuh sama Indra. Aku harus lebih luangkan waktuku sama Indra ah. Aku gak mau kehilangan dia.”

“Aku terkejut dengan Apartement ini. Rupanya Indra buat investasi apartement ini. Yang buat aku terkejut adalah atas nama diriku. Afni Pratiwi. Makasih sayang.”

“Hari ini aku dan Michele resmi mengontrak apartement milik Indra. Dan Indra terkejut dengan aku yang mengontraknya. Aku meminta Michele yang mengurus semua dan meminta namanya untuk diberikan ke Indra. Lucu sih ekspresi Cowokku.”

“Aku kesal dengan Dea. Sehari ini dia ke apartement hanya bilang beruntungnya aku, andai Indra cowokku, andai cowokku seperti Indra. Huhhh”

“Hai Diary, maaf ya, aku gak nengokin kamu sebulan ini. Tadi aku baru antar Indra ke kosannya. Seminggu ini ia menginap di rumah sakit karena tipus. Kamu jangan ulangi hal ini lagi ya sayang.”

“Akhirnya Indra mengurangi kegiatannya di warnet, digantikan oleh Andre. Lucu juga ya si Andre. Ada ya orang yang terlalu maniak mempunyai istri dokter kelak. Hehehehe.. aneh aneh teman kamu yang.”

“Gini ya rasanya ditinggal pacar ke luar kota. Ini yang kamu rasakan saat aku tugas ke luar kota ya sayang. Semangat jalani hukumannya ya sayang.”

“Ayah? Ini siapa? Kok dia manggil ayah ke Indra. Dan dia ini siapa? Aku harus cari tahu.”

“Rosi Wahyuni. Adik kelas Indra yang sama sama menjalani hukuman di Garut di perkebunan papanya sendiri. Dan Bella adalah adiknya yang ditinggal mamanya saat melahirkan Bella. Kok bisa ya papanya Rosi gak ngakui anaknya sendiri. Untung saja aku tahu dari dokter Kevin yang sudah menjadi dokter keluarganya pak Wahyudi. Yang masih menjadi tanda Tanyaku, apa hubungan kamu dengan semua ini Ndra?”

“Akhirnya, penasaranku terkuak semua. Pengasuh Bella ceritain ke aku kalau kamu hanya menolong Bella kan. Aku senang dengar itu. dan aku bangga dengan apa yang kamu lakukan. Maaf aku yang tidak percayaimu ya sayang. Aku tetap nunggu misi mulia kamu selesai kok.”

“Alhamdulillah aku senang dengar kamu lulus pegawai negeri Ndra. aku bangga kok. Aku mau sampein ke kamu langsung awalnya. Tapi liat kamu lagi sama Bella. ya, aku doain aja ya sayang. I still loving you.”

“Lebaran pertama tanpa kamu sayang. Sunyi sih. Aku juga gugup jawab pertanyaan abak dan amak saat nanya kamu sayang. Tapi aku tau kok, kamu pasti beralasan Bella sampai melakukan hal ini. Mungkin ini akibat aku terlalu sibuk dengan jadwalku dulu ya yang. Aku balas kok dengan setia menunggu kamu.”

“Pemeriksaan di kantor Indra?

“Hai Diary, sudah lama juga ya aku gak liatin kamu. Aku baru balik Pasuruan nih. Dan aku ketemu sama Indra.disana. walau pertama aku kesal dengan melihat ia suapin Rima, tapi aku senang dengan waktu dipantai itu. apalagi waktu itu Anniversary ke 8 kami. Aku kangen dengan suasana ini sayang. Walau kamu agak sedikit kaku. Tapi aku masih lihat kok kalau hati kamu masih ada aku. aku gak boleh gengsi lagi menghubungimu sayang. Biar aku bantu misi kamu biar cepat selesai.”

“Fano datang menghampiriku ke rumah sakit. Dan sudah beberapa hari ini, ia selalu mengantarkanku pulang. Katanya permintaan Rima. Tapi apa maksud Rima ya. apa aku bilang sama Indra ya?”

“Hiihihi. Akhirnya Fano jujur sama aku, kalau semua hal yang dilakukannya hanya ujian dari Rima yang memintanya menjagaku sampai sampai mengantarkanku pulang jikalau mau Rima membalas cintanya. Segitunya kamu Rim. Aku baik baik aja kok. Jangan khawatir, aku masih bisa jaga diri walau Indra masih menjalani misi mulianya kok. Makasih juga Fano, setia menemaniku akhir akhir ini.”

“Sudah dua hari aku menunggu kamu di kosan kamu yang. Kalau aku hubungi kamu, gagal dong surpriseku. Aaahhh.. biarlah, besok lagi aja aku kesini. Kok Fano larangku ke sini besok ya? aku semakin curiga.”

“Hikkkssss.. Hikkkssss… Hancuuurrr.. Sakit Ndra. Aku kecewa kamu.”

“Udah 2 hari sejak aku mendengar Indra menelpon Rosi tersebut, kok dia masih belum menemuiku ya? aku ingin penjelasan dari kamu Ndra. gak, aku harus cari tahu sendiri saja. Aku minta tolong Fano deh.”

Seusai aku membaca untaian untaian diary nya Afni, aku merasa sangat bersalah dengan salah berfikir dan berprasangka buruk tentangnya. Maafkan aku Ni. aku sudah berprasangka yang tidak tidak padamu. Lalu aku membuka folder yang bertuliskan Foto kenangan. Kembali air mataku menggumpal di mata ini melihat beberapa foto kenanganku bersama dia dahulu. Terlalu banyak kenangan yang tak terlupakan bersamamu Afni. Disaat aku selesai melihat kembali semua foto foto indah itu, Aku menemukan satu file Word dan bertuliskan “untukmu” di dalam folder foto kenangan tersebut. Dengan penasaran, langsung aku menemukan ucapan Afni yang ditulis satu hari sebelum resepsi pernikahanku sama Afni kemaren.

Bersambung

Daftar Part