. Kamu Cantik Hari Ini Part 45 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 45

0
229
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 45

“Yeeee… selamat ya men. Akhirnya lu duluan juga.” Sahut Andre saat bersalaman denganku.
“Selamat ya sayang.” Kata Via yang datang bersama Andre kepada Rosi.

Akhirnya aku sekarang bisa mewujudkan langkahku sebelumnya. Sekarang aku bersanding dengan kedua bidadariku dengan Bella berada di antara kami. Bella yang seakan menikmati pesta ini juga bersalaman dan berfoto bersama para undangan baik itu undangan dari abak, amak, uni Ana, maupun tamu kami para pengantin. Tepat seminggu setelah lebaran yang pertama bagi keluarga ku kehadiran Rosi dan Bella pun sekarang aku bisa menikmati langkah hidup ini.

Aku memang meminta kepada kedua orang tuaku dan uni Ana untuk tidak banyak memasukkan unsur Minangkabau di acara ini. Memang, setiap pernikahan adat minangkabau, budayanya sangat Kental mengisi acara. Dengan sabarnya aku membujuk mereka semua akhirnya permintaanku dikabulkan. Hal ini aku lakukan bukannya tidak mewarisi budaya, namun jika aku memakainya banyak hal juga yang terlewatkan karena Rosi yang bukan berasal dari budaya yang sama denganku. Yang mana jika upacara pernikahan di minangkabau itu banyak acara yang berasal dari mempelai wanita atau disebut nak daro.

Dari atas sini, aku bisa melihat semua orang mungkin bertanya akan sosok di tengah antara kami. Apalagi saat mereka bersalaman, beberapa mungkin mendangar sapaan “ayah” “bunda” dan “nak” yang keluar dari mulut kami. Aku yang tidak memikirkan hal itu juga meyakinkan Rosi dan semua keluargaku saat itu. Aku berfikir, lebih baik mengutamakan hatinya Bella daripada orang tau apa yang sebenarnya terjadi. Karena aku berjanji akan tetap menutup rahasia ini dari orang banyak. Biarlah keluarga dan pihak terdekat yang mengetahui hal itu.

Dari atas pelaminan, aku bisa melihat beberapa teman juga datang memberi selamat atas jalan baru hidupku. Aku melihat Via yang datang bersama keluarganya yang sedang mencoba keakraban dari Andre. Dan aku juga melihat teman teman SMA ku yang datang bersama partnernya. Dan juga Rio dan Tian juga menyempatkan hadir bersama mungkin pasangannya masing masing. Namun, sampai saat ini aku tidak menemukan Afni di gedung ini. Mungkin ia mempunyai alasan untuk menghadiri pernikahanku ini. Memang aku tidak langsung memberikan undangannya ke Afni. Aku memberinya melalui Dea, dan Dea juga sudah menjamin kalau undangan tersebut sampai di tangan Afni. Hmmm.. Biarlah, toh akhirnya aku sudah menentukan pilihanku.

Namun, ada satu hal yang membuat aku terkejut, yaitu Rima datang bersama Fano. Nampak mesra sekali mereka berdua mulai pertama datang, sampai bersalaman denganku. Dan yang membuat aku ingin sekali acara ini kelar yaitu selembar kertas yang dilipat sangat kecil diselipkan oleh Rima tanpa ketahuan oleh Rosi.

“Selamat ya Ndra. akhirnya kesampaian ya mimpi kamu dari kecil. Nikahin gadis cantik dan punya anak seperti princess” kata Rima saat bersalaman denganku.
“Apaan sih Rim. Tapi makasih ya udah datang.”
“Masa sahabatku dari kecil nikahan gak datang. Bisa bisa kualat aku ntar. Selamat ya Rosiii.. hai Bellanya tante. Salim dulu dong. Cantiknya anak tante” kata Rima sesaat meninggalkanku
“Hai Tante. Makasih tanteee.. Tante yang di bandara ya? Yang Bella tabrak?” Tanya Bella
“Ingat aja kamu cantik.”
“Iya, Bella gak sengaja.”
“Udah, sini pipinya.” ujar Rima sampai mencium pipi Bella
“Selamat yo Ndra.” kata Fano menyalamiku dan memberi kode kepada kertas yang diberikan Rima tadi.
“Eh iya Ndra, Rosi, harus datang juga ya ke acara kami sebulan lagi di Jakarta.” Kata Rima mengutarakan rencana pernikahannya dengan Fano.
“Iya mbak. Pasti kami datang.” Jawab Rosi
“Eh iya, bikin noh adek untuk Bella. kalau bisa cowok ya. Biar ada lengkap, ayah bunda, incess dan pangerannya.” Kata Rima setelah selesai berfoto dengan kami bertiga.

Kini aku dihantui dengan berbagai pertanyaan, apa isi kertas ini dan undangan langsung dari Rima tentang rencana pernikahannya dengan Fano. Namun, dengan tekad aku tutupi hal ini sekarang. Sekarang, waktunya menjadi raja seharian dengan menyambut dengan senyuman setiap undangan yang datang.

Akhirnya, dengan ditutup oleh penampilan Tian, Rio dan Fano yang mengagetkanku di atas pentas tadi berakhir sudah acara resmi pesta pernikahanku ini. Bahkan yang semakin keterkejutanku adalah, mereka membawakan lagu yang sempat aku karang namun belum sampai ke tangan mereka. Mungkin Rima yang memberikan, secara aku hanya sempat melantunkan lagu itu di rumah Rima saat ia memintaku mengajarkannya bermain gitar.

Semua undangan juga sudah meninggalkan acara ini. Hanya tinggal keluargaku dan beberapa orang yang dekat denganku. Nampak disana Via dan Andre masih mengobrol bersama Uni Ana dan uda Fakhri yang merupakan kakak sepupu Via. Tian, Rio dan Fano yang seibuk dengan pasangannya masing masing.

“Makasih Fan, Yan, Yok kejutannya.” Ucapku yang sudah bergabung di mantan bandku dulu
“Apaan sih kau Ndra. jangan kau pikir aku sakit hati waktu itu gak bakalan datang ya. Gimanapun, kalau gak ada lu, gua gak mungkin bisa kek sekarang tau.” Jawab Tian dengan logat Bataknya
“Iya Ndra. yang dahulu biarlah tinggal jadi cambukan untuk masa depan kita.” Tambah Rio dengan bijak.
“Ngeri ya pak camat ini. Hahahaha” sangkal Fano
“Eh, tadi itu lagu ku kan? Kok sampai di kalian?” tanyaku
“Noh, nenek sihir ngasih ke Fano.” Jawab Tian menunjuk Rima.
“Aku sempat rekamnya dan ngasih ke Fano. Hehehehe” jawab Rima sambil merangkul tangan Fano.
“Keknya aku banyak ketinggalan cerita nih Rim?” tanyaku ke Rima
“Kalau aku cerita, entar langkah kamu tertunda atau terhenti dong. aku itu udah tau kamu dari dulu Ndra.” jawab Rima.
“Eh iyo Ndra. Baco surang dih. Walau den ndak tau isinyo, tapi den raso ndak elok Rosi tau.” (Eh iya Ndra, baca kertas tasi sendirian aja ya. Walau aku tidak mengetahui isinya, tapi lebih baik Rosi gak tau hal ini) bisik Fano yang memang berdiri disampingku. Aku hanya membalasnya dengan anggukan pelan.
“Kau ngapain bisik bisik woy” putus Tian tepat di tengah kedua telinga kami.
“Bisa gak keras keras Tian? Sakit nih kupingku.” Jawab Rima yang merasakan apa yang aku dan Fano bicarakan.
“Maaf nyonya Rifa Noredin. hehehehe” Jawab Tian.
“Ya udah, aku balik ke atas yah. Kasihan noh Bella, gak bisa lawan ngantuknya lagi. Sekali lagi thanks ya semua.” Jawabku izin meninggalkan mereka

***

Malam ini tepat seminggu kepulanganku dari Garut berbulan madu bersama Rosi dan Bella. Aku sengaja mengambil keputusan “bulan madu” di Garut karena keinginan membuat suasana Rosi kembali dengan Ardi dan Bella bersama kenangan kedua orang tua mereka. Dan juga ini didorong oleh nasehat abak dan amak saat masih di kampung setelah pesta pernikahanku selesai.

Dengan didorong keingintahuan yang sudah dalam, dan juga kesempatan yang ada dimana Rosi dan Bella masih berada di Garut karena aku terpaksa dahulu pergi ke Ibukota yang adanya tugas mendadak itu aku mulai membuka lipatan kertas yang sempat menjadi Tanda Tanya besar yang diberikan Rima dan Fano.

Sesaat memulai membuka lipatan yang rapi berukuran kecil namun tebal ini, aku kembali mengingat dan menetapkan jiwaku untuk tidak berpengaruh setelah aku membaca dan mengetahui isi kertas ini.

“Bismillah” ucapku
“Tidak salah lagi, ini dari Afni.” Gumamku dalam hati.

Aku bisa berprediksi itu dikarenakan lipatan yang rapi dan kecil ini hanya Afni yang mampu melakukan ini. Dan juga ada suatu memoriku yang menegaskan hal ini.

“Maukah kamu menjadi seorang Kau yang di nyanyiku tadi Ni?” tanyaku setelah menyanyikan lagu Kau Cantik Hari Ini di tengah lapangan saat classmeeting yang bertujuan untuk mengungkapkan perasaan sayangku ke Afni.
“Eh, aku gak bisa jawab sekarang.” Jawab Afni tampak grogi apalagi dilihat oleh teman teman SMA dan adik kelas yang mengikuti berbagai event perlombaan ini.
“Sampai?”
“Maaf aku belum bisa tentuin. Dan terima kasih telah menyayangiku.” Ucap Afni menyalamiku dan berlalu pergi meninggalkan lapangan menuju kelasnya.

Aku yang dilanda kegalauan sesaat di gantung antara penerimaan atau penolakan ini memang masih optimis dengan apa yang telah aku lakukan hari ini. Walau semua temanku termasuk Rima sempat mengolok olokkanku, namun aku masih bisa tersenyum tanpa memberikan kesan galau. Bahkan aku juga bisa mengikuti berbagai perlombaan mewakili kelasku dalam classmeeting. Hal itu karena kertas kecil yang dilipat kecil dan padat yang kuterima dari Afni saat ia bersalaman denganku tadi.

“Kamu yakin gak papa Ndra?” Tanya Rima saat aku sampai di rumahnya mengantarkannya pulang.
“Ah, gak apa Rim. Aku kan gak di tolak Afni.”
“Iya sih, tapi kan di gantung itu lebih sakit lho. Jadi ingat lagu minang. Apa ya judulnya. Lupa, tapi ingat sih kata katanya.” Kata Rima
“Apaan? Digantuang indak batali?” tanyaku mengerti maksud Rima.
“Haaa iyaaaa.. hahahahaha”
“Dah ya aku duluan ya.” Kataku
“Gak mampir dulu?”
“Aku keringatan nih, lagian entar habis magrib mau ngeband sama yang lain.”
“Aku ikut ya.”
“Ngapain? Aku gak tau jam berapa pulang lho.”
“Yaaa, kan ada kamu yang anterin pulang. Lagian aku memastikan kalau kamu gak melakukan hal yang bodoh.”
“Hahahaha… gak lah Rim. Emang kamu, liat Fano antar Dewi aja langsung ngambek? Katanya gak suka, tapi…..”
“Udah sih, ngapain Fano di bawa bawa. Udah sana pulang. Bau ih.”
“Udah tau bau, tadi malah dipeluk peluk.”
“Kamu mah bawanya kekencangan. Mencari kesempatan aja.”
“Hahahaha.. kan tadi emang ada polisi.”
“Iya iyaaaa… udah sana pulang. Dan ntar jemput aku ya.”
“Oke Rim. Bye”

Setelah mandi, aku langsung membuka kertas yang sedari tadi mengganggu pikiranku. Lipatan yang sedikit rumit dibuka ini terlihat membentuk ukiran yang rapi saat sudah terbuka. Dan dengan tulisan yang indah makin menyiratkan bahwa Afni bukanlah gadis biasa untukku.

“Aku ngerasa kok saat kamu sehari ini gak temui aku di depan kelas,
Saat kamu sengaja tak menolehku saat kita berpapasan,
Saat aku mendengar kata hufft setelah kamu melewatiku,
Dan apalagi saat aku mengetahui dari panitia yang melapor,
Kalau Tian minta izin untuk perform disaat jeda pertandingan.”

“Jujur aku ngerasa ada hal baru yang membuatku semangat ke sekolah,
Ada hal yang aneh saat kamu selalu menghampiriku sekedar hanya menyapaku,
Ada hal yang membuat aku malu saat teman teman mengatakan pipiku yang merah,
Ada hal yang jengkel jika melihat kamu ngerokok habis sekolah,
Ada kemarahan disaat kamu melakukan hal yang merugikan diri sendiri.”

“Aku juga ngerasakan hal itu kok,
Tapi aku belum yakin akan keputusan yang akan aku ambil,
Kamu bisa yakinin aku kan Ndra?
Terima kasih atas beberapa minggu ini dengan kehadiranmu,
Terima kasih telah mencintai kutu buku sepertiku.”

Bersambung

Daftar Part