. Kamu Cantik Hari Ini Part 44 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 44

0
240
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 44

Sebulan sudah wisudanya Rosi, aku makin merasakan sayang kepada kedua bidadariku ini. Walau jujur aku masih menunggu penjelasan langsung dari Afni tentang apa yang terjadi antara ia dengan Fano. Tetapi apapun penjelasannya, aku putuskan gak akan mengubah keputusanku hidup bersama Rosi dan Bella. Dan sudah tiga minggu juga amak dan abak menjadi personel terakhir yang meninggalkan kami kembali bertiga. Selama mereka disini, aku bisa merasakan bahwa Rosi seakan kembali merasakan kehangatan kedua orang tuanya. Apalagi Bella yang sudah semakin lengket dengan amak dan abak. Sampai sampai ia seakan mau ikut ke kampung bersama abak dan amak disaat aku mengantarkan beliau ke bandara. Namun dengan rayuan dari aku dan Rosi, akhirnya Bella luluh dan meminta janjiku untuk lebaran ini ke kampung. Dan itu juga merupakan langkah penting dalam sejarah hidupku. Aku sudah mengatur waktu itu dengan keluargaku. Dan aku beruntung mempunyai keluarga yang menyetujui langkah ini malah semua urusan disana, mereka yang mengurusinya.

Dengan itu, hanya persiapan kecil yang aku lakukan disini bersama Rosi dan dibantu oleh senyuman kelucuan Bella. Ya, hanya memesan baju, undangan dan mengundang beberapa teman disini. Hal lain sudah diatur sama keluargaku. Sekarang, aku membawa Rosi dan Bella ke salah satu butik di ibukota ini. Bella yang sibuk dengan memutar mutar butik, meninggalkan aku dan Rosi yang sedang duduk melihat katalog yang disuguhkan. Sesekali aku memeriksa Bella yang sudah menarik perhatian pegawai butik. Seperti biasa pipinya yang indah itu menjadi sasaran dari beberapa pegawai tersebut.

“Yang, yang ini bagus ya?” Tanya Rosi disaat memilih gaun yang akan ia pakai esok.
“Harus yang ini ya?” tanyaku
“Kamu gak suka?” Tanya Rosi lagi.
“Kan bang udah bilang. Apapun yang kamu pilih, itu juga pilihan abang kan.” Kataku menjawab pertanyan Rosi sambil memegang kepalanya dan mengusap lembut kepalanya.

Aku merasakan gak asing dengan photo setelan yang dipilih Rosi tadi. Sejenak aku mengingat kapan dan gerangan apa aku dengan photo ini. Ya, aku ingat. Entah ini kebetulan atau gimana. Rosi memilih setelan yang sama dengan setelan yang disukai Afni dahulu disaat menemani sepupunya memesan gaun pesta sepupunya tersebut. Wedding Dress berwarna putih dengan berbahan satin yang menonjolkan kecantikan wajah pemakai yang bisa dipakai untuk indoor dan outdoor.

“Ndra, aku tadi nemani kak Mia ke butik. Nih liat.” Kata Afni dengan memperlihatkan foto di HP nya dengan wajah senang.
“Jadi, kamu bakal pakai ini dong, di hari pernikahan kita?”
“Ya, kalau masih ada sih.”

Kata kata itu seakan masih mengingatkan aku akan masa laluku. Dan sekarang, aku kembali diperlihatkan setelan bahkan persis foto yang diperlihatkan oleh dua wanita berbeda.

“Hmm.. ini versi lama mbak. Kalau mbak nya mau ini, nunggu agak lama sih, sekitaran sebulan baru kelar mbak.” Tutur pegawai butik yang melayani kami.
“Gimana yang?” Tanya Rosi lagi kepadaku.
“Oke mbak. Asal on time mbak.” Jawabku langsung ke pegawainya.
“Siap mas. Akan diusahakan.”
“Tapi gaunnya dua ya mbak.” Kataku lagi.
“Dua?” Tanya heran pegawai tersebut.
“Iya mbak, anak saya juga buatin seperti bundanya.” Jawabku lagi.

Disaat itu aku merasakan Rosi melihatku dengan pandangan yang tak lepas dariku yang menuturkan untuk membuatkan Bella gaun yang serupa dengannya. Aku langsung menggenggam tangannya seakan meyakinkannya. Dan aku juga memanggil Bella untuk memulai pengukuran pembuatan gaun mereka.

****

“Dua minggu lagi puasa ya men. Gimana persiapan lu? Aman kan?” Tanya Andre di hari Senin ini saat aku sudah dalam aktifitas sehari hariku.
“Aman men. Makasih ya saran percetakan undangan kemaren.”
“Selow men. Secara kan lu bakal jadi calon kakak ipar gua.”
“Hahahaha.. yakin lu?
“Lu doain dong.”
“Iya laaahh.. tapi kalau lu gak usaha percuma dong gua doa.”
“Iyaaaa….”
“Hahahaha.. susah ya men? Sampai lesu gitu lu dengar gua ngomong gitu.”
“Lu kan tau Via gimana orangnya”
“Susah dapatinnya, susah juga melepasnya men”
“Iyaaa.. iyaaaa.. mentang mentang udah mau merit.”
“Ke bawah yuk. Gua kangen kopi nih.” Ajakku.
“Ayok. Bentar ya.”

Setelah beberapa saat menunggu Andre mengemasi kerjaannya, aku dan Andre menuju kafe yang berada di lantai dasar kantorku ini. Aku juga menunggu sobatku ini sekedar menyapa Via yang sedang asyik dengan kerjaannya. Dengan sedikit kode yang diberikan Via, akhirnya aku membawa paksa Andre menuju lantai dasar yang mulai rusuh mengganggu kerjaan Via. Sesampainya di kafe, aku langsung memesan kopi dan duduk di tempat biasa aku duduki bersama Andre.

“Men, tumben ya si Fano gak ke sini lagi.” Kata Andre disaat aku menunggu pesanan kopi.
“Udah jera mungkin dia nya men.”
“Kan lu udah mau nikah nih sama Rosi. Tapi sorry ya men, gua mau nanya, apa Afni masih ada di hati lu?” Tanya Andre sedikit penasaran dengan itu.
“Gak tau men. Tapi yang penting, aku gak bakalan merubah langkah ini” jawabku tegas
“Walau Afni menjelaskan apa yang terjadi antara dia sama Fano?” Tanya nya lagi.

Aku yang mengangguk menjawab pertanyaan Andre. Percakapan kami sedikit jeda disaat ibu kafe itu membawa kopi pesananku dan jus pesanan Andre.

“Tapi men, gua gak percaya Afni lakuin hal itu men. Gua tau siapa Afni.” Sambungku lagi.
“Gua gak tau juga sih men. Tapi yang penting, apapun itu semoga lu gak buat kecewa wanita untuk kedua kalinya men.”
“Iya men. Gua tau itu kok.” Jawabku.
“Sahabat kecil lu yang cewek itu siapa namanya? Yang kuliah di Malay?” Tanya Andre lagi.
“Rima?”
“Iyaaaa… kan kata lu, Fano suka sama Rima, apa dia tau gak antara Fano dan Afni?”
“Kalau Rima tahu, pasti Rima sudah marah nih sekarang. Aku kan belum kasih tau dia kalau aku dan Rosi bakalan nikah. Dan juga sepertinya Fano sudah jera mengejar Rima”
“Hmmm.. iya juga yaaaa..”
“Kalau pun Rima tahu, ia gak akan ngomong ke gua men. Secara Rima itu tahu aku gimana orang nya.”
“Beruntung ya lu dikelilingi cewek.”
“Lu liat di sisi lu sih. Coba lu jalanin. Pasti lebih parah dari gua.”
“Hahahahaha.. lu sih yang bego Ndra. kalau gua sih bakal pilih semuanya.”
“Yakin? Emang Via gak cukup?” seakan memberi kode ke belakang Andre.
“Taik lu men. Kirain ada Via.” Kata Andre setelah menengok ke belakang termakan permainanku.
“Hahahaha… belum aja di rasain udah keringat dingin lu.”
“Iya iyaaaa… lu master deh orangnya. Eh iya, satu lagi nih.”
“Apaan lagi sih men. Afni lagi?”
“Hehehe.. iya. Lu bakal undang dia gak?”
“Iya lah men. Kan dia juga asisten dokter pribadinya keluarga Rosi. Dan pernah ngobati Bella.” Jawabku dengan yakin.

****

“PING!!!”
“Ndra, bisa ketemu gak?”
“Urgent nih”

Bermodalkan bbm yang ku dapat, aku mendatangi kafe dimana aku dan Dea biasa ketemu. Nampak dari bbmnya yang mengisyaratkan ini penting, dan mungkin berhubungan dengan Afni. Bagaimanapun, Afni juga temanku yang dahulu berhasil membuat diriku sekarang yang lebih bisa dewasa menikmati hidup. Sepulang kantor, aku langsung menuju kafe tersebut setelah sebelumnya mengabarkan ke Rosi jika aku terlambat pulang. Sesampainya aku disana, aku melihat Dea yang sudah menungguku sambil minum minuman yang dipesannya.

“Udah lama De?” tanyaku.
“Eh, baru 10 menit kok. Pesan deh.”
“iyaaa”

Dea yang sudah mau pulang setelah seharian bertugas menuju ruangan Afni. Disaat membuka pintu ruangan Afni, Dea melihat Afni yang sedang menelpon seseorang sambil memasang wajah keseriusan ditambah wajah sedihnya. Dengan penasaran Dea mendengar sepenggal percakapan Afni dengan lawan bicara udaranya tersebut.

“Afni udah mikirin matang matang kok.”
“……………………….”
“Iyaaa, dan Afni juga udah mutusin bakalan pindah ke Kampung kok.”
“………………………”
“Gimana ya, kan kalau di kampung, Afni bisa ngerawat mama dan papa juga. Siapa lagi yang bakalan rawat mereka. Kan Afni satu satunya.”
“………………………”
“Iyaaa.. Seriussss.. ini gak ada hubungannya kok sama Indra. Hikkkssss”
“………………………”
“Gak, Afni gak sedih kok. Malah Afni senang kok kalau Afni liat dia bahagia.”
“………………………”
“Yakin Rim”
“………………………”
“Iyaaaa.. makasih ya Rim, tapi Afni mohon deh, jangan bicara apapun sama Indra ya. Afni gak mau persahabatan kalian juga kandas.”
“………………………”
“Iya iya Rim. Afni janji bakalan cerita sama Indra semuanya.”
“………………………”
“Makasih ya Rim”

Setelah mendengar percakapan itu, Dea juga mengetahui rencana Afni yang mau resign dari rumah sakit dimana ia dan Afni mengabdi ini. Bahkan Afni sudah melayangkan surat pengunduran diri kepada pimpinan rumah sakit.

“Kamu serius De?” tanyaku seakan tidak percaya dengan cerita Dea.
“Iya Ndra. ngapain juga aku bohong. Kan kamu tahu sendiri, kalau Afni itu susah cerita ke siapapun.”
“Hmmmm…”
“Kamu tahu Rim Rim itu?”
“Mungkin Rima, sahabat kecilku dahulu.”
“Cewek?” Tanya Dea lagi
“Iyaaa…”
“Saat aku Tanya alasannya, Afni selalu ngomong mau rawat papa mamanya.”
“Mungkin iya juga kali De.”
“Jadi kamu udah lamar Rosi ya?”
“Iya De.”
“Aku gak tahu ya, apa alasan kamu ambil keputusan itu sebelum kamu bicarain sama Afni. Tapi apapun itu, aku doain semoga kalian langgeng ya. Sukses juga acaranya.”
“Kamu gak datang?”
“Lebaran kan acaranya?”
“Iya. Kok kamu tahu?”
“Percuma aku berteman sama detektif Afni selama ini kalau gak mengamalkan hobbynya.”
“Hmmm… trus, kenapa kamu gak datang?”
“Aku lebaran di Makassar Ndra. Kan jauh jugaaaa… lagian, kakakku juga pesta. Maaf ya.”
“Iyaaaa..”

Di dalam perjalanan pulang, aku kembali memikirkan apa yang sudah diceritakan oleh Dea. Afni Resign, Rima. Ada hubungan apa kedua elemen ini. Apakah Rima tempat curhatnya Afni sekarang? Bukannya Afni sedikit tidak suka dengan adanya Rima sebagai sahabatku?

Bersambung

Daftar Part