. Kamu Cantik Hari Ini Part 42 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 42

0
244
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 42

Hari ini adalah hari wisudanya Rosi. Rosi yang Nampak sangat bahagia akan beberapa hari ini karena mendapat kejutan dengan kedatangan abak, amak, uni Ana beserta keluarganya, juga adiknya Ardi beserta staff eksekutif kebun milik keluarganya itu. Dengan di dandani oleh uni Ana, Rosi tampak cantik dengan kebaya yang berwarna ungu. Entah kenapa aku sangat terkesima dengan penampilan Rosi yang anggun dengan sopan mencium tanganku sebelum mau berangkat ke aula pegelaran wisuda tersebut.

Rosi juga terkejut dengan penampilan Bella dengan balutan yang gaun mini sewarna dengan kebayanya yang sebelumnya telah memujiku dengan balutan jas dan kemeja juga berwarna ungu.

“Anak Bunda cantik bener. Siapa yang belikan bajunya?”
“Ayahhh Bund. Kata ayah surprise bund.”
“Jangan di bilang juga princessnya ayah.” Sambungku
“Kamu cantik bener hari ini yang.”
“Hmmm…” jawab Rosi dengan wajah yang memerah.
“Jadiiiii… hanya puji pujian nih? Ayoookkk ntar telat lho bang.” Potong Ardi.
“Kamu udah bisa nyetir Dek?” Tanya Rosi ke adiknya yang membuka kan pintu mobil untukku, Rosi dan Bella.
“Sudah dong kak. Masa calon manager gak bisa bawa mobil sih.” Jawab Ardi dengan sedikit sombong.

Kami semua berangkat dengan menggunakan 3 mobil. Mobil ayah Rosi yang selalu ku bawa sehari hari, mobil yang dibawa oleh Ardi dari Garut dan mobil Via. Mobilku berisikan Aku, Rosi dan Bella yang dikemudikan oleh Ardi, adiknya Rosi. Mobil Via yang dikemudikan oleh Andre, berisikan amak sama abak. Sedangkan mobil Ardi dibawa oleh Uda Fahri berisikan keluarga Uni Ana. Sedangkan anggota eksekutif perkebunan tinggal di rumah dengan alasan menjaga Rumah.

“Di” panggil Rosi saat mobil sudah meluncur ke gedung wisudanya.
“Ya kak?”
“Makasih ya.”
“Makasih noh sama bang Indra. Kan bang Indra yang rencanain ini semua. Lagian sama adik sendiri pake makasi makasih segala.”
“Kamu sehat aja kan disana?” Tanya Rosi lagi
“Kakak kan bisa liat sendiriii. Gimana gak sehat, dikontrol terus noh sama abang ipar.”
“Dikontrol?”
“Minimal Sekali seminggu pasti di telpon deh, minimal nanya kabar. Apalagi perkebunan gak akan berkembang kalau gak ada bang Indra.”
“Ehhhmmmm.. orang yang kalian bicarakan disini lho.” Jawabku
“Hahahaha…dari pada gunjing kan bang.” Jawab Ardi.
“Maafin kakak ya Di.”
“Nah ini nih. Asliiii… sifat mama turun ke kakak semua nih. Tau gak kak? Aku tau kakak dan Bella bahagia dari bang Indra aja udah senang. Apalagi iniii… Jadi juga wisudanya. Liat nih si Bella, dari tidurnya aja senang dengan ini kak”
“Ini semua sih karena…..” kata Rosi terpotong saat telunjukku sampai di bibirnya yang mungil. Aku memberi kode untuk tetap dengan keadaan gembira dan tidak ada pake acara acara nangis nangisan.
“Bang.” Sapa Ardi.
“Iya Di.”
“Makasih ya.”
“Hahahaha… kalian ini kenapa ya. Wajar lah bang lakuin ini semua untuk orang yang bang sayangi kan.”

Sesampainya di gedung wisuda, aku mempersilahkan amak dan abak untuk memasuki gedung yang memang setiap wisudawan wisudawati hanya boleh membawa 2 undangan ke dalam gedung untuk menyaksikan secara langsung proses pemindahan jambul di toga wisudawan dan wisudawati. Hal ini aku lakukan karena secara tidak langsung Rosi merasakan kalau akhirnya wisudanya disaksikan oleh orang tuanya.

“Maaf ya, abang gak masuk. Lagian takut Bella rewel kalau di dalam. Abak sama Amak aja yang masuk ya yang.” Kataku sebelum Rosi memasuki gedung tersebut dengan mengelus kepalanya.
“Iya bang. Titip Bella ya. Dan Thanks for everything yang.”
“Its okey yang. Have Fun ya.”

Kembali aku terkejut dengan apa yang Rosi lakukan. Untuk kedua kalinya, tanganku dicium Rosi di depan kedua orang tua ku. Memang aku sangat ingin melihat secara langsung prosesi pemindahan jambul toganya Rosi, tapi aku secara tidak sengaja mendengar doanya yaitu semoga orang tuanya melihat ia akhirnya wisuda.

Aku yang membawa Bella dan pasukan keluarga lainnya ke belakang gedung yang mana memang digunakan untuk menyaksikan kejadian di dalam gedung melalui 4 televisi yang sudah disiapkan oleh panitia wisuda. Aku, Andre dan Via memang sangat hafal dengan kawasan sekitar, karena kami alumni di sini dan juga di wisuda di tempat ini. Aku merasa senang dengan suasana ini. Bella yang sudah berbaur dengan keponakanku bersorak bersama ketika mendengar nama Rosi Wahyuni di sebut. Dan kulihat Via dan Andre yang duduk berduaan di belakang karena tidak dapatnya kursi. Aku yang meminta izin ke Uni Ana dan Uda Fahri berniat untuk mendekati mereka.

“Makasih ya Vi, men”
“Sama sama bang. Kan udah kewajiban adiknya juga melihat kakak iparnya wisuda kan, walau kakak iparnya didului wisudanya”
“Iya men. Gua mah senang kalau lu senang. Liat noh incess… senang kali dia. Pengen gua cubit tuh pipi” jawab Andre yang gemes dengan Bella yang sangat senang bermain bersama Alya dan Aldi keponakanku.
“Jangan ih. Kasihan lah Bellanya. Tapi aku rada gemes juga noh liat pipinya yang naik turun kalau lagi bercanda gitu. Pengen aku cium aja noh pipi.” Tambah Via.
“Katanya kasihan, nah dianya juga gemes” sangkal Andre.
“Kan aku Cuma cium mas, nah kamu pake cubit cubit gitu.” Jawab Via.
“Hahahahaha.. kalian akur ya. Iri nih.”
“Abaaanggg..” “meeeeennnn” jawab mereka serentak.

Aku yang meninggalkan mereka dengan kekesalan mereka dengan ejekanku menuju Ardi yang sedang menghisap rokok di bagian lain. Sekilas aku melihat Ardi yang sangat menikmati acara dan senang dengan kelulusan Rosi. Aku juga menangkap hal itu saat sebulan yang lalu, disaat Rosi masih di dalam ruang sidang aku menelponnya untuk memberitahukan kabar Rosi yang sedang sidang. Dia berjanji bakalan datang dan mengucapkan kesenangannya. Aku kembali mengingat omongan mendiang ayahnya Rosi.

“Ardi itu jagoan bapak. Dia punya cita cita untuk menjaga keluarganya dari apapun dan dari siapapun yang akan membahayakan keluarganya. Namun semenjak mamanya tiada, dia seakan mewujudkan cita citanya disaat bapak menyakiti hati kakaknya. Dia sangat sayang ke kakaknya.”

“Sejak kapan ngerokok Di?”
“Rokok bang?” kata Ardi menawarkan Rokok Dunhill putihnya.
“Baru aja berhasil 1 bulan berhentiinnya. Daripada rokok bang hilang selalu tuh sama kakakmu. Ya, lebih baik gak dibeli sekalian. Lagian, kasihan Bella.”
“Aku yang gantiin ya bang. Hehehehe. Baru aja bang, dan masih sebungkus sehari kok bang.”
“Iyaaa bang gak larang kok. Asal kesehatan kamu dijaga.”
“Makasih ya bang.”
“Itu doang dinasehatin udah makasih.”
“Makasih atas semuanya bang. Aku gak tahu kalau gak ada abang. Mungkin aku masih kehilangan kakakku satu satunya. Dari kemaren aku merasakan kakak disaat mama masih hidup. Kakak yang ceria, dan bertanggung jawab. Jujur ya bang, disaat abang datang pertama kali dengan kak Rosi malam itu, aku ragu akan abang. Ya ragu dalam semua hal. Pernah aku berfikir kalau abang hanya memanfaatkan perkebunan saja. Gak mencintai kak Rosi. Tapi, sekarang semua itu terbantahkan. Dan aku juga yakin, papa sama mama senang melihat kedua anak gadisnya hidup bahagia dengan orang yang tulus seperti abang. Sekali lagi makasih bang.” Kata Ardi sambil menghisap rokoknya.
“Sama sama Di. Bang bakal terus berusaha kok bahagiakan Rosi dan Bella.”
“Eh iya bang, Ardi boleh gak nganggap amak sama abak sebagai orang tua Ardi juga.”
“Kamu mah Di. Itu gak usah kamu tanyain lagi.”
“Ya, nanya aja bang. Lagian aku lihat tuh kakak, senang banget sama amak dan abak. Jadi iri.”
“Hahahaha”

****

“Aku mau yang gold packet ya mbak. Unlimited shoot kan mbak?” pesanku di salah satu studio photo.

Setelah membawa Rosi dan semua keluarga beserta Via dan Andre makan siang bersama di suatu rumah makan padang ternama di ibukota ini, aku membawa mereka juga langsung untuk berfoto bersama. Aku mengambil paket photo terbaik dimana bebas saja berapa kalipun di potret, bebas akan gaya dan jumlah personel yang akan di shoot.

Pertama tama aku menyuruh semua yang hadir untuk mengikuti photo session pertama. Entah berapa kali sang photographer mengambil gambar kami dengan berbagai macam gaya. Setelah itu, aku mempersilahkan Rosi berfoto hanya bertiga dengan amak dan abak. Pas di saat itu, aku melihat senangnya wajah Rosi akan kemesraan yang dibuat oleh abak dan amak. Lalu, aku menarik Ardi dan menggendong Bella mengikuti session selanjutnya. Sekarang gantian Ardi yang menampakkan kesenangannya. Semoga dengan ini bisa menggantikan sedikit kehangatan orang tua mereka. Via yang tampaknya membaca pikiranku, aku ditariknya bergabung untuk session selanjutnya. Sampai akhirnya, aku hanya bertiga bersama Rosi dan Bella. aku yang menggandeng Rosi dan menggendong Bella lebur dalam suasana shoot pertama. Entah berapa gaya yang aku terapkan bersama kedua bidadariku ini. Lalu entah Via kembali membaca pikiranku, membujuk Bella untuk sebentar meninggalkan kami berdua di depan kamera itu. Sesuai dengan janjiku di awal, dan melihat kesempatan yang sudah dibuka oleh Via, aku langsung duduk berjongkok di depan Rosi sambil memegang tangannya.

“Yang, di depan kedua orang tuaku dan Uniku, juga Adikmu dan yang paling penting, aku berjanji kepada kedua orang tuamu disana saat ini kalau aku mencintaimu. Tapi maaf sebelumnya, aku gak bisa menciptakan kata kata romantis yang mungkin kamu impikan. Dan semoga kamu suka. Aku ingin, kamu jadi istriku. Jadi bunda dari adik adiknya Bella kelak. Tak ada langkah hidup ini selain didampingi olehmu, selain diisi olehmu, selain ditemanimu. Kesempurnaan yang menjadi mimpi kita resmi kita kejar berdua dengan membangun monarki dimana telah ada princess mengisinya. Aku ingin itu Rosi. Ingin sekali. Hmmmm… Rosi, Will You Marry Me?”

Aku melihat Rosi yang terkejut dengan apa yang aku perbuat dan mungkin juga perkataanku tadi. Tampak air mata bahagianya turun membasahi pipinya yang cantik. Aku masih menunggu jawaban dari Rosi yang sudah melihat ke sekeliling. Melihat semua orang yang ada di studio ini. Aku merasakan kalau mereka semua mengangguk memberi kode ke Rosi untuk menerima akan permintaanku tadi.

“Iya yang. Aku menerimanya dengan satu syarat”
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Abang tetap sebagai penyemangatku menjadi bunda yang baik untuk Bella dan adik adiknya.”
“Pasti yang. Pasti” jawabku sambil berdiri dan langsung memeluk Rosi.

Aku yang sedang memeluk Rosi melihat Amak menangis bahagia di samping Uni Ana yang juga menitikkan air matanya. Aku juga melihat abak yang tersenyum bangga padaku. Dan senyuman dari semua orang yang melihatku dan juga 3 orang photographer. Aku melepaskan pelukanku dan mengajak Rosi menghadap abak amak dan Uni Ana. Aku melihat Bella dan kedua ponakanku bertepuk tangan seakan mengerti dengan kejadian ini. Dan juga melihat Ardi yang seakan mengusap matanya disaat aku melepas pandanganku kepadanya.

“Eh, incess nya tante photo yuk.” Ajak Via yang kembali mencairkan suasana. Via mengajak Bella untuk photo bersama dia yang sebelumnya masih terpaku dengan apa yang terjadi saat ini. Lalu Via sengaja meninggalkan Bella sendiri menghadapi lensa kamera yang memotretnya. Aku yang melihat Bella dengan gaun mininya itu seakan bergaya seperti model yang diarahkan langsung oleh Via. Lalu semua pasukan kecil berfoto bersama Bella. Ya, Via juga mengajak kedua keponakanku menemani Bella di depan lensa.

“Aleknyo di kampuang se dih Ndra.” (Pestanya di kampung aja ya Ndra) kata abak sambil melihat tingkah tingkah lucu cucunya.
“Indra sih….” Aku menatap Rosi seakan menanyainya dan dijawab anggukan oleh Rosi.
“Kenapa Tanya Rosi. Rosi sudah bilang sama bapak lewat matanya.” Jawab abak lagi.
“Payah nih punya bapak ahli strategi” kataku
“Rosi bahagia sekali bak, mak, uni, uda. Terima kasih. Dan tetap bimbing Rosi menjadi wanita terbaik mendampingi bang Indra ya mak.” Kata Rosi.

****

Bersambung

Daftar Part