. Kamu Cantik Hari Ini Part 40 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 40

0
232
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 40

Seminggu lebih sudah setalah insiden yang mengakibatkan Keyla menginap di rumah sakit dan membuat Keyla jadi kakaknya Bella. Sejak itu, Keyla selalu singgah ke rumah seusai sekolahnya yang selalu di antar oleh Agung. Bella dan Rosi menerima Keyla dengan senang hati. Apalagi Bella, ia merasa sangat disayangi oleh Keyla. Rosi juga merasakan hal yang sama dengan Bella. Serasa mendapatkan adik baru, itu katanya.

Dan sudah seminggu ini pula, aku seusai pulang kantor selalu didatangi oleh Fano yang seakan untuk menjelaskan hal yang menurutku itu tidak penting lagi. Aku selalu menghindar dari Fano. Aku hanya takut tidak bisa menyimpan emosiku. Untung saja ada Via dan Andre yang selalu menghalangi emosiku keluar tanpa berfikir panjang.

“Men, maaf nih sebelumnya. Apa lu gak kasih kesempatan buat Fano jelasin semuanya men?”
“Lu tahu men, gua udah punya Rosi.”
“Iya gua tahu kok. Tapi maaf lagi nih ya. Apa lu udah ikhlasin gitu aja? Hmmm.. maksud gua men, apa lu gak nunggu kejelasan mereka dulu?”
“Udahlah men, gua gak mau nambah masalah aja, lu kan tau gua emosian. Dan juga ini udah jalannya kok. Gua udah tau semua, dan Afni juga udah tahu semua kan? Saatnya gua menatap masa depan gua sama Rosi lah. Lagian Fano kan juga teman gua men. Gua tau dia kok. Ya, sebelas dua belas lah sama gua. Semoga Afni bahagia bersamanya.”
“Hmmm… gua sih gak tau lagi, kalau lu udah ngomong gitu.”
“Tapi men, bisa gak gua minta tolong?”
“Apaan?”
“Tapi jangan sampai yang lain tau lho. Lu kan ember ke Via.”
“Iyaaaa”
“Gua mau lu bilang ke Fano, kalau gua udah maapin dia. Dan gua juga bakalan nikahin Rosi kok. Jadi bebas dia sama Afni.”
“Itu doang kok pakai rahasia rahasiaan sih men.”
“Gua gak mau Rosi tau aja.”
“Hal tentang Afni juga?”
“Iyaaa.”
“Gua bakal usahain deh ya. Tapi gua ingat kata kata lu deh. Kalau apapun itu, bakal ketahuan kapanpun. Gua harap lu siap men.”
“Gua bakalan siap ceritainnya kalau gua udah sah jadi suaminya men.”
“Ya lah men, gua dukung apa keputusan lu aja deh.”
“Ya iya lah, gua tau kok alasannya men. Noh alasan lu nurut ama gua udah kemari. Gua duluan ke atas ya.”

Aku yang melihat akan kedatangan Via disaat aku dan Andre sedang duduk menimati coffee break. Sekilas aku melihat kedekatan mereka yang semakin saja. Dan gua senang akan hal itu, karena Via yang selama ini sangat berjasa dalam garis sejarah hidupku tidak jatuh ke orang yang salah. Walau aku tahu akan masa lalu dan impian Andre akan mendapatkan dokter sebagai pasangannya, sungguh mencintai Via. Dan hal itu sudah lama terjadi, bahkan dari Via menjadi junior gugusnya Andre disaat masa OSPEK dahulu.

“Bang duluan ke atas ya, soalnya mau izin cepat pulang nih. Kan mau ajak Bella cari baju untuk wisudaan Rosi minggu depan. Tuh, kang mas mu udah nunggu. Bye Vi”

****

“Ayaaahhh.. kok Bunda gak di ajak?”
“Kalau bunda ikut, surprise nya gak jadi dong nak.”
“Tapi kan di rumah ada kak Keyla yah.”
“Kan besok besok Bella main sama kak Keyla lagi kan. Lagian Bella masih ingat gak janji ayah?”
“Apaan yah?”
“Katanya anak ayah mau jadi Princess?”
“Ingat ingat yah. Warna ungu ya yah.”
“Ya udah, ayah pasangin safety belt untuk anak ayah dulu yah.”
“Iya ayaaah.”

Sekarang aku sedang menuju toko baju anak anak yang sudah dicarikan Via sebelumnya hanya berdua dengan Bella. untung saja Via sebelumnya mencari tahu dimana menjual lengkap perlengkapan yang akan dipakai Bella minggu depan di saat wisuda Rosi. Sebenarnya Rosi curiga dengan aku yang hanya mengajak Bella jalan jalan tanpa dirinya. Namun, dengan andil Keyla, aku dapat melancarkan misi ini. Aku meminta Keyla untuk pura pura punya tugas prakarya yang harus dikumpulkan esok. Karena kasihan dengan Keyla, terpaksa Rosi harus mengurungkan niatnya ikut bersama kami.

“Bella kangen gak sama Oma?”
“Iya dong yah. Sama tante Ana, Opa juga yah, kak Alya, kak Aldi juga eh Om Fahri juga yah.”
“Lengkap ya. Nah, Oma dan yang lain mau ke sini minggu depan nak, Bella senang gak.”
“Iya yah? Kapan yah, kapan?”
“Mungkin minggu ini Oma sama Opa datang kok, Selasanya Tante Ana nyusul sama kak Alya dan kak Aldi.”
“Kok Kak Alya sama Kak Aldi gak sama Oma aja yah?”
“Kan kakaknya sekolah nak. Tante Ana sama Om Fahri juga kerja kan.”
“Hmmm…” jawab Bella sambil manggut manggut kecil. Aku melihat Bella dengan gaya seperti itu tersenyum sambil tetap fokus dengan pandangan ke depan. Untung saja ini belum jamnya pulang, jadi jalanan ibukota tidak terlalu padat sih.
“Eh, tapi anak ayah jangan kasih tau Bunda dulu ya nak. Tau kan kenapa nak?”
“Iya ayah. Bella tau kok yah. Biar surprise kan yah?”
“Eh, emang anak ayah tau surprise apaan?”
“Gak yah” kata Bella singkat sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Dia hanya menghafal apa kataku tadi, tanpa dia tahu apa artinya. Kembali aku tersenyum bahkan tertawa kecil dengan tingkah lucunya sekarang ini.
“Hahahaha… itu artinya kejutan sayang. Biar bunda terkejut dengan kehadiran Oma sama Opa ya nak.” Kataku sambil mengusap lembut kepala Bella.
“Oooooo.” Katanya tetap dengan wajah menggemaskan sambil mengangguk anggukkan kepalanya dengan kecepatan sedang.
“Nah kita mau sampai noh. Jangan tidur dulu ya nak.”
“Iya ayaahhh..”

Sesampainya di toko yang dituju, aku langsung menggendong Bella yang sudah memperlihatkan suasana hatinya yang gembira. Bahkan Bella yang tadi diperjalanan berusaha mengalahkan kantuknya itu sekarang sudah seakan berhasil melupakan kantuknya. Aku biarkan Bella memilih gaun mini yang disukainya sambil mencoba apa yang ia pilih. Bella memilih gaun mini dengan rok yang panjang berwarna ungu lengkap dengan aksesoris yang menambah kecantikannya. Bahkan Bella memperagakan layaknya model dengan berputar putar disaat memakai gaun yang dipilihnya ini.

“Cantiknya anak tante.”
“Eh kamu Vi, sendirian?”
“Gak tuh sama mas Andre.”

Rupanya Via datang di saat aku sibuk dengan melihat model kecil yang menggemaskan ini. Via yang datang dengan alasan membantu aku memilihkan apa yang akan dipakai Bella minggu depan itu datang bersama Andre. Sekarang aku ditemani oleh Andre yang melihat Via sibuk dengan Bella, untuk menjadikannya princess tersebut.

“Makasih men.”
“Santai men. Via kok yang maksa.”
“Gua udah nyangka akan hal itu kok. Hehehehe”

****

“Eh, udah tidur Bella nya?”
“Udah nih. Kok kamu keliatannya panik gitu yang?”
“Iya lah, jalan jalan akunya gak di ajak, pake gak angkat telpon lagi tadi.”
“Ya, abang kan tadi bawa mobil” jawabku bohong.
“Jadi Bellanya tidur aja dibawa jalan jalan?”
“Gak juga sih.”
“Emang kemana sih?”
“Ihhh… penasaran amat.”

Aku melihat Rosi melihat lihat ke bangku belakang disaat aku turun dari mobil yang hendak menggendong Bella yang sudah capek dengan kegiatan modelnya bersama Via tadi. Untung saja pakaian yang aku beli tadi aku titip ke Via yang sudah memperkirakan akan penasarannya Rosi.

“Kok kamu liat liat ke belakang sih?”
“Eh, gak. gak ada kok yang.”
“Hmmm… bang bawa Bella ke kamar dulu yah. Tolong kunciin ya mobil yang.”
“Iya sayang.”

Aku yang menggendong Bella menuju pintu rumah masih melihat Rosi yang seakan memeriksa semua bagian dalam mobil dengan matanya. Aku yang melihat sejenak kelakuan Rosi hanya tertawa kecil dan tetap melanjutkan masuk menuju kamar Bella.

Setelah keluar dari kamar Bella, aku kembali ke ruang tengah sejenak sebelum membersihkan badan yang seharian sudah menjadi penonton disaat Bella jadi model. Aku yang mendapati Rosi sedang menghangatkan makanan untukku langsung memeluknya dari belakang.

“Kamu marah ya yang?”
“Eh, gak kok yang.” Kata Rosi terkejut dengan pelukanku.
“Maafin abang ya gak ajak kamu. Bang hanya mau ngerasain jalan jalan berdua sama Bella aja kok.”
“Iya sayaaangg.. walau Rosi masih kesal sih, tapi gimana lagi.”
“Hehehehe.. Muaaaacchhhh”
“Ihhh.. main cium cium aja, mandi dulu gih, bau tau.”
“Iya iya sayang. Muuuuaaaccchhhh”
“Ihhhh…”

****

“Yang, kok diam?”
“Gak kok yang. Hanya ingat mama.”
“Kalau kamu sedih, mama juga sedih lo liat kamu.”
“Iya yang. Rosi tau kok. Tapi Rosi hanya kepikiran aja, apa mama bangga gak ya liat Bella yang tersenyum sekarang.”
“Hmmmm.. gini yah, mama pasti lebih bangga dengan kamu yang bisa menggantikan beliau jadi ibunya Bella.”
“Iya ya?”
“Iya sayang. Bang bisa jamin itu kok. Papa juga bangga kok dengan kamu, dan mereka sedang senang memantau anak anaknya. Kalau kamu sedih gini, pasti mereka merasakan hal yang sama.”
“Makasih ya bang udah…..”
“Sssttttt…. Sekarang kita tidur ya.”

Bersambung

Daftar Part