. Kamu Cantik Hari Ini Part 4 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 4

0
317
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 4

Ade Indra Putra

Rosi Wahyuni

Bella Wahyuni

“Ayah, Bella bobok dulu ya ditemani Bunda. Ayah jangan tinggalin Bella lagi ya.”
“Iya sayangnya Ayah, baca apa sebelum bobok? Masih ingatkan doanya?”
“Ingat dong yah. Kalau ayah yang ajarin. Bella ingat kok.”

Anak seumuran dia sudah menampakkan kepintaran intelegent, dan emosionalnya. Aku mencium pipi kiri dan pipi kanannya sebagai perpisahan yang menjadi rutinitasku setiap malam. Aku sedikit bangga, karena sudah bisa menjadi ayah yang baik, walau itu hanya sedikit. Dan tak sering pula Bella menangis karena perbuatanku. Ya hanya karena aku jarang ada waktu bersamanya. Rosi membawa adiknya ke kamar, untuk menidurkannya. Sambil menunggu tidurnya Bella, aku sempatkan membuka HP ku untuk membuka grup WhatsApp kantorku.

“Kabar-kabarnya besok ada pemeriksaan kesehatan pegawai mendadak lho.”
“Iya, gue juga dengar gitu. BNN dapat isu bahwa banyak pegawai kementrian yang positif NAPZA”
“Hahaha…. Semoga di kantor kita tidak ada yang membuat malu ya”
“Eh. Kalau pemeriksaan itu, orang yang perokok dan suka minum gak ngaruh kan?”
“Gw juga kagak tw ndre, emang lu sih, udah dibilangin kurangin malah menjadi-jadi.”
“Gua absen aja besok deh, gua takut buat malu. Seandainya gua gak masuk esok, izinin gua ya. Ntar gua traktir lu semua dah”
“Oke.. Tapi gw dengar-dengar, besok itu yang periksa bukan orang BNN langsung, tapi dokter-dokter muda lho”
“Ah.. Gua gak jadi absen. Kesempatan buat gua sama si Ade tuh.”
“Maksud lu apaan ndre? Kok Ade?”
“Hahahaha… hamper gua kelepasan. Mimpi ane aja itu, punya pacar ibu dokter.”
“Kirain. Kan si Ade udah punya si Rosi. Cantik, kaya lagi. Eh,tapi traktiran lu jadi kan?”
“Ya kagak lah. Kan gua besok masuk.”

Aku tersenyum saja melihat HP ku tanpa berniat membalasnya. Untung saja Andre tidak kelepasan. Gak sia sia aku punya sahabat seperti dia. Walau sih, agak sedikit cemas kalau dia keceplosan. Tidak hanya tadi ia hampir membeberkan semua itu. Tapi karena ia bisa mengendalikan pikirannya, hasilnya tidak ada orang kantor yang mengetahui hal tersebut. Kegiatanku berakhir setelah Rosi duduk disebelahku sambil mengotak atik HP nya.

“Bella nya udah tidur?”
“Hmm hmmm” jawab Rosi dengan anggukan kecil.
“Tadi dia bilang, mau liburan minggu ini. Katanya mau ke Ragunan.”
“Entar ya, bang liat kondisi kerjaan dulu. Semoga kagak ada survey keluar kota.”
“Trus, si Ardi bbm, katanya petani disana pada ngeluh masalah bibit noh. Dia kagak ngerti. Dia janjiin aja abang akan datang meliat kondisi dalam bulan ini.”
“Iya.” Jawabku seadanya

Huuffftttt.. Kenapa dijanjiin sih. Kan harusnya dia Tanya dulu, apakah aku bisa atau kagak. Kan disana juga ada kang Tatang, yang ngerti tentang cocok tanam. Ah biarlah itung itung menjawab amanah Pak Wahyu. Lagian itu juga akan membantu kerjaanku kok kalau dapat tugas survey.

“Abang pulang dulu ya. Biar besok pagi, abang gak telat ngantar kamu dan Bella.”
Aku langsung menerkam bibir tipisnya untuk minta izin untuk pulang ke kos ku. Aku letakkan HP ku dan HPnya di atas meja dekat kami duduk. Dia ngebalas ciuman aku dengan lembutnya. Itu benar-benar ciuman sayang yang aku rasakan. Sangat menikmati sekali dengan momen ini.

“Jangan pulang ya sayang. Nginep aja disini. Ntar kalau Bella bangun gimana?” Dia lepaskan ciumanku buat minta tetap tidur dirumahnya. Rosi menatapku sangat dalam, aku bisa meliat gimana sayangnya dia kepadaku dari tatapan mata itu. Tangan kanannya mengenggam tanganku sedangkan tangan kirinya mengelus pipi ku dengan lembut.

“Kagak bisa sayang, bang kan gak bawa baju untuk besok ngantor.”
“Baju ungu abang itu udah siap Rosi setrika kok. Pakai itu aja besok. Ya. Please”
“Hmmm.. ya udah. Bang masukin mobil dulu ya. Sambil kunci pagar dan rumah.”

Aku masukkan mobil ke garasinya bersebelahan dengan motor maticnya yang selalu ia pakai disaat aku keluar kota. Aku kunci pagar rumah itu setelah melihat kondisi sekitar perumahan, memastikan tidak ada yang melihat aku nginap disini. Aku gak mau menjadi perbincangan orang sekitar. Walau disini orangnya cuek, tapi namanya gossip pasti akan bahaya untuk dibuat. Setelah memastikan semua akses aman. Aku langsung masuk ke kamar Bella. Aku meliat tidurnya yang nyenyak tanpa memikirkan apapun yang akan ia rasakan kelak besar nanti. Setelah mencium keningnya, akupun meninggalkannya dengan menutup pintu kamarnya dengan sangat pelan.

“Kok lama kali masukin mobilnya bang?” Rosi menanyakan waktu yang aku gunakan untuk memasukkan mobil dan mengunci semua akses rumah.
“Liat kondisi sekitar dulu, trus liat Bella tidur”

Aku membuka pakaianku yang hanya menyisakan singlet dan boxer melekat di tubuhku. Sebelum tidur, aku ke kamar mandi untuk menyiapkan badanku untuk istirahat. Setelah selesai menggosok gigi sama membasuh muka, akupun berjalan ke kamar Rosi, karena aku tidak menemukan Rosi duduk di depan TV lagi yang sudah mati. Ku berjalan memasuki kamar Rosi yang biasa tempat aku tidur, kalau aku nginep di rumahnya. Kuliat Rosi sudah berganti pakaian dengan pakaian tidur tanpa mengenakan apapun didalamnya, karena aku bisa meliat puting itu menggodaku saking tipisnya baju itu. Dia masih duduk di meja riasnya sambil memakai pelembab di wajahnya.

“Udah cantik kok. Ngapain juga pakai beginian.”kataku sambil aku meremas lembut dadanya sambil mencium leher belakangnya.
“Ntar dulu bang, kan Rosi lagi make ini.”

Tanpa mendengar ucapannya, aku putar badannya sambil mencium bibirnya lagi. Aku sudah kehilangan akal sehatku.

“smoooccchhhh” bibir kamu bersentuhan dengan lembutnya. Mata kamipun terpejam, sambil menikmati ciuman itu. Rosi lalu memelukku. Akupun membalas pelukaannya. Sambil bibir kami tetap memainkan suasana yang sangat hangat ini. Lidahnya menyapu lembut bibirku juga lidahku. Aku yang kini memangkunya membelai lembut punggungnya dengan tanganku.

Aku lalu menidurkannya di tempat tidur. Dan aku berada diatasnya sekarang. Orang yang terkadang membuat aku kesal, tapi mengingat kisah hidupnya, kemarahan itu pun sirna berada di bawahku. Bibir kami masih dalam posisi ciuman. Ciuman yang terasa hangat, lembut, romantic, membuat tubuh kami dalah hawa yang panas. Aku lalu menjilat dagu sampai pangkal hidungnya. Dia pun semakin mabuk dengan apa yang ia dapatkan. Tanganku pun tak tinggal diam, mulai merambat ke dadanya yang masih terlapisi oleh daster tipisnya. Akupun semakin meremas nakal bukit kembarnya yang tidak memakai bra. Dan dapat kurasakan puting susunya yang mengeras mungkin akibat remasan tanganku dan gesekan dasternya. Mulutku kembali menyusuri lehernya. Aku jilat dengan semangat, sampai taka da satupun bagian lehernya yang tidak ada bekasan air liurku. Aku memvariasikan dengan sedotan sedotan kecil.

“Sluuuuuurrrrppp… Smooooccchhhhh…. Sllllrrrrppppp… Smoooocccchhhhh”
“aaaaaahhhhhhhh…. Terus bang. Rosi sayang aaa baaangg”

Desahnya yang menikmati permainan tangan dan lidahku. Sampai akhirnya batang kemaluanku yang hanya dilapisi boxer itu. Aku pun tak tinggal diam, aku menurunkan wajahku ke dadanya.

“aaahhhhh yaaa baaaangg… adek aaahhhh”

Akupun lalu membuka bajunya dengan membuka kancing bajunya satu persatu. Tanpa menunggu waktu lama, aku langsung melahap putting kanannya yang sudah tegak mancung sambil tangan kiriku menurunkan celananya dan langsung meraba pangkal pahanya yang sudah kurasa agak basah. Sedangkan tangan kananku tetap di puting kirinya, memelintir, menarik lembut yang membuat dia menggelinjang kesana kemari.

“AYAAAAHHH….. BUNDAAAAA….”

Bersambung

Daftar Part