. Kamu Cantik Hari Ini Part 33 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 33

0
247
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 33

“Kok lu capek kali keliatannya men?” Tanya Andre disaat aku sedang menikmati istirahat sejenak dari rutinitasku di kantor.
“Baru balek Bandung semalam men”
“Ngapain lu ke Bandung?”
“Jalan jalan aja sih”
“Tumben lu gak ajak ajak?”
“Sama istri anak masak diajak juga sih men”
“Haaaa?? Lu pergi ama Rosi?”
“Iya.. napa?”
“Berarti lu udah ambil keputusan lu nih?”
“Sudaaaahhh.. eh, ingat ya. Gua sekarang sadar. Jangan lu Tanya Tanya ya. Bosan gua ditanya sama lu terus. Kek wartawan aja.”
“Satu lagi deh aku Tanya. Plissss…”
“Apaan? Afni?”
“Iyaaaa….”
“Gua yakin Afni nerima kok, Afni itu bukan hanya cantik jiwanya men, tapi Raganya yang lebih cantik.”
“Bukan Afninyaaa…. Lu nya gimana?”
“Katanya sekali. Parah lu ah… pikir aja sendiri laaahh.. gimana mau sama Via sih lu. Ini aja masih mikir. Lu ikut gak?”

Aku tinggalkan Andre dengan kebingungannya menuju kafe. Setelah kokoh dengan jawaban akan pilihanku, hidupku sekarang sedikit tenang. Tenang dengan tanpa adanya keraguan langkah hidup lagi. Sekarang aku hanya memikirkan gimana ngomongnya ke Afni. Aku gak mau malah membuat Afni down setelah mengetahui hal ini.

Dengan bertemankan kopi dan sebatang rokok, aku duduk di kafe depan kantor yang sudah familiar dengan kehadiranku. Tak lama setelah aku duduk, aku dikejutkan dengan kedatangan kembali Andre yang sekarang datang bersama Via. Aku yang melihatnya ini, tentunya tahu apa yang akan aku hadapi dalam beberapa menit ke depan.

“Bang beneran itu?” Tanya Via yang langsung duduk di hadapanku. Aku yang geleng geleng dengan pertanyaan sepupu jauhku ini.
“Percaya sama cowokmu itu Vi?”
“Ihhh… males bangeettt. Jangan dialihin deh. Jawab pertanyaan adekmu ini bang.”
“Hahaha… emang apa dikatakannya salah?”
“Gak sih.”
“Trus?”
“Hanya meyakinkan aja, kalau berita ini gak hoax.”
“Eh.. kasihan noh si Andre, Via aja gak percaya sama lu Ndre. Hahahahah” kataku mengejek Andre.

Aku yang tertawa saking lupanya dengan masalahku. Apalagi dengan melihat Andre yang terasa benarnya apa yang aku katakana. Namun, karena aku yang gak mau Andre, sahabatku ini merasa malu, aku hentikan tertawaku dengan menjawab pertanyaan Via.

“Benar kok Vi. Benar kata mas Andre mu itu.”

Dengan selesainya aku ngomong tersebut, Andre yang tadinya hanya berdiri di samping Via, sekarang sudah duduk di sebelah Via dan menghadapku seakan ingin tahu akan ceritaku.

“Loh? Kok Lu duduk sih mas Andre?” candaku
“Ah. Lu men. Gak asik ahhh.”
“Iya men. Maaf deehhh.”

Namun, ekspresi Via hanya diam menatapku. Entah apa yang dipikirkannya. Semua candaanku tak berefek sedikitpun padanya.

“Kenapa sih Vi? Natapnya gitu amat.”
“Hmmm…”
“Iya iyaaa.. bang kan udah jawab. Apa lagi sih Vi?”
“Ebat ya Rosi, bisa rubah abang juga.”
“Eh..” kataku singkat.
“Abang yang galau gak menentu itu mana ya? Abang yang gak jelas jalan hidupnya kemaren mana ya?”
“Benar kata Via men. Lu bisa berubah juga ya berkat Rosi.”
“Ahhh… kan lebih baik gini kan? Dari pada diam gak tentu arah.”

Aku yang mendengar penjelasan Via ini seakaan teringat kata kata temanku dulu disaat aku dan Afni baru pacaran. Yang mana dahulu aku yang berandal diubah menjadi orang yang lumayan baik seperti sekarang. Dan sekarang, Rosi melakukan hal yang sama menurut kedua teman kantorku ini.

“Jadi selanjutnya gimana bang?” Tanya Via
“Bang mau nikahin Rosi, Vi.”
“Serius lu men? Waaahhhh…. Hebat si Rosi ya. Sampai sampai kamu bisa menentukan pilihan hidupmu.”
“Hahahaha.. lu motong gua aja sih men.”
“Kak Afni gimana bang?”
“Ya, bang rasa dia akan bisa nerima kok Vi. Lagian susah juga bang kalau maksain sama Afni kan. Ada Bella juga tuh.”
“Haaaa… sumpah Via gak percaya akan hal ini.”
“Hahahaha.. jangan gitu juga Vi, lagian bang akan temui Afni kok sebelum nikahin Rosi.”
“Ini baru bang Ade Indra Putra yang Via kenal. Tapi satu saran Via ya bang. Ngomongnya baik baik sama kak Afninya. Jangan rusak reputasi abang di mata Via.”
“Reputasi?” Tanya Andre disebelahnya.
“Kan bang Ade gak pernah nyakitin hati wanita.” Jawab Via ringkas.
“Ooooo” jawab Andre singkat.
“Men, lu gak ngerti juga ya. Itu kode tuh.” Kataku.
“Apaan sih bang.” Jawab Via.
“Hahahahaha”

Aku yang tertawa melihat malu malunya Via dengan pernyataanku tadi. Tertawa dengan kepolosan Andre dimana dia juga terdiam yang gak tau apa yang akan ia katakan dan kerjakan. Aku yang kembali meminum kopiku serasa bahagia akan hariku ini. Hari yang lain dari sebelumnya. Ya, hari ini aku perdana ceria sekali, dan itu bukan hanya membuat Via dan Andre bingung. Sampai sampai orang yang lagi di kafe yang tahu akan aku, juga heran dengan diamnya.

“Doain aja ya Vi, Ndre.. semoga lancar aja. Dan cepat nyusul. Dah aku duluan ke atas ya.”

****

Di rumah Rosi, aku yang baru pulang disambut oleh Bella yang langsung berlari ke arahku yang baru turun dari mobil. Ya, semenjak Rosi selesai sidang, Bella diasuh sendiri oleh Rosi. Tidak pernah ke penitipan lagi. Walau pelajaran Bella berkurang, namun aku yang diterangkan oleh alasan Rosi akan Bella masih butuh kasih sayang dan ilmu yang diberikan “orang tua”nya, hanya bisa kembali melihat perubahan Rosi yang drastis.

“Ayaaaahhhh…” kata Bella yang langsung memelukku.
“Ihhh.. anak ayah udah cantik. Baru selesai mandi ya?” kataku sambil menggendong Bella.
“Iya yah.”
“Udah yah. Udah harumkan?” kata Bella yang ku jawab hanya dengan mencium pipinya yang selalu membuat aku ingin selalu menciumnya.
“Udah pintar ya anak ayah. Udah bisa buka pintu sendiri.” Kataku saat sampai pintu rumah tersebut.
“Gak kok yah, tadi Bunda yang bukain.”
“Hooo… trus bundanya mana nak?”
“Lagi masak nih yaaaaanggggg.” Jawab Rosi dari dalam.

Aku yang mendengar jawaban Rosi dari dalam langsung masuk sambil menggendong Bella. Tak lupa aku baca salam dan dijawab oleh dua bidadari yang mengisi hati dan pikiranku saat ini. Aku yang melewati ruang keluarga yang televisinya masih hidup dan seperti biasa, sore ini jadwalnya Bella nonton kesukaannya, kartun. Memang, semenjak Ardi, adiknya Rosi lulus sekolah dan menetap di Garut, Rosi dan Bella hanya tinggal berdua. Aku langsung menuju dapur menghampiri Rosi yang kulihat keringatan dengan aktifitas barunya ini.

“Kok anak Bunda digendong sih. Kan ayahnya baru pulang?”
“Gak apa. Ayah gak capek kok bund.” Kataku kembali mencium Bella yang matanya sudah ke tontonannya yang tertunda menyambutku tadi.
“Hmmmm..” hanya itu jawaban Bella.
“Liat bund, ayahnya diacuhkan. Bella mau nonton lagi? Yok ayah antar.”
“Eh, gak usah yah. Bella sendiri aja yaaa..”

Aku tak menjawabnya, langsung kembali ke ruang tengah mengantarkan Bella ke singgasananya kembali. Setelah menempatkan Bella di kasur santainya, aku kembali ke dapur.

“Ayah bantu liatin aja ya yang.”
“Eh iya yang. Jangan ganggu kek kemaren ya.”
“Iya iyaaaa… masak apaan sih yang?”
“Ayam goreng lagi gak apa kan yang?”
“Gimana lagi, itu kan kesukaan anak ayah. Ya, ayah ngikut aja”
“Ini aja hampir aja gosong karena bukain pintu tadi.”
“Hahahaha…”
“Ayahnya malah ketawa.”
“Trus ayah gimana lagi sayang? Ayah bantu ini aja ya?”

Aku langsung mendekati Rosi yang sedikit kerepotan itu. Aku menghapus keringatnya dengan tanganku. Rosi yang terkejut akan hal itu langsung menatapku. Tatapan kami bertemu sesaat. Rasanya dunia seakan berhenti sejenak disaat itu.

“Kok malah ditatap sih yang? Ntar gosong, abang lagi disalahin.”
“Heh… abang sihhhhh.. dibilang jangan ganggu…”
“Hehehehe.. Cuma lap aja.”

CUPPPP…

Aku yang mencium pipinya langsung menuju kamar untuk mengganti pakaian dan membasuh badan setelah seharian di kantor yang lumayan menguras tenaga dan pikiran.

“PING !!!”

Sebelum aku melanjutkan ke kamar mandi, ku dengar HP ku berbunyi tanda ada BBM yang masuk, tapi aku tetap masuk kamar mandi dan akan membukanya ntar setelah mandi selesai.

Bersambung….

Daftar Part