. Kamu Cantik Hari Ini Part 29 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 29

0
267
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 29

Dua hari setelah selesainya tugasku di Pasuruan, dan Rima pun telah kembali ke Malaysia untuk melanjutkan study nya yang katanya sudah mau sidang saja. Aku yang sekarang lagi menikmati hari Sabtu bersama Bella di rumah sedang bersenda gurau sambil menunggu Rosi yang sedang memasak. Ini pertama kalinya aku menyaksikan Rosi memasak yang sebelumnya aku tahu bahwa ke dapur pun Rosi gak pernah.

“Ayah kok diam?” Tanya Bella saat aku terdiam ketika pandanganku menatap dapur dimana Rosi sedang memasak seorang diri.
“Gak kok nak. Bella main sendiri dulu gak apa kan sayang? Ayah bantu bunda dulu ya nak. Gak apa kan?”
“Iya yah. Lagian Bella mau nonton yah. Marsha nya mulai”
“Iyaaa nak. Ayah simpan ini dulu yah.” Kataku sambil memegang beberapa boneka untuk meletakkannya ke rak mainan.

Setelah merapikan mainan Bella, dan Bella pun melanjutkan kegiatannya di Sabtu ini dengan menonton siaran favoritnya, aku menuju dapur. Dengan posisi Rosi membelakangi ruang keluarga, ia tak menyadari kalau aku sudah berada di dalam dapur dengan suasana hati sedikit kagum. Tak pernah terpikirkan olehku, seorang Rosi yang akan berubah 180 derjat itu. Walaupun masih sedikit kelabakan, Rosi tetap memasak dengan bantuan smartphone yang sedang menayangkan video masak yang pastinya.

Aku yang tidak ingin mengagetkannya, hanya melihat dari belakang, apa yang ia lakukan. Sampai sesaat disaat ia mengambil bahan masakan di dalam kulkas yang tepat disebelah kiriku, ia terkejut dengan kehadiranku.

“Eh..”
“Maaf sudah mengagetkanmu yang.”
“Ayah ngapain ke sini. Udah sana aja”
“Jadi disini juga dikacangin nih?”
“Hihihihi.. dikacangin sama anaknya ya yah? Bella mah kalau udah nonton Marsha itu bakalan serius.”
“Serasa jadi beruangnya ayah yang. Ayah bantuin ya?”
“Emang ayah bisa?”
“Kagak”
“Hihihi… ya udah, ayah bantuin bunda ambil ambil bahan aja ya”
“Kamu makin cantik deh”
“Hahahaha.. ayah ini, kalau mau gangguin bunda, sana aja jadi beruang noh.”
“Gangguin? Ayah kan kasih dukungan ke bunda.”
“Dukungan mah gangguin konsentrasi bunda yaaaahhhh.”
“Hahahaha.. serius mah ayah nih”
“Udah ayaaaahhh. Entar pelajaran bunda masak ini gagal. Kan bunda malu entar kalau gak enak.”
“Kalau makannya sama kamu sama Bella, semua akan nikmat yang.” Kataku dengan memeluknya dari belakang. Tanganku memegang perutnya yang ditutupi celemek ini.
“Kalau gini mah, bunda gak yakin selesai masaknya yaahh. Lepasin dulu ya”
“Ayah sayang sama kamu.”
“Iya ayaaahhh.. Bunda lebih sayang ke ayah. Makasih udah sabar ya yah.”
“Iyaaaa….”

Muuuaaachhhh…

Aku mencium kening Rosi dari belakang karena badan Rosi hanya sebahuku. Dengan lembut aku mencium Rosi yang masih diam di pangkuanku. Sesaat kami terdiam dengan suasana ini. Namun, aku merasakan kalau Rosi terisak dengan apa yang ia dapatkan. Aku yang kaget, langsung memutar tubuhnya. Ya, aku melihat ia menangis dengan sudah turun air mata yang jatuh di pipinya. Aku mengusap air mata itu, dan mencium pipinya.

“Makasih ya sayang. Ayah bangga sama kamu.”
“Hikks.. aku yang makasih sama abang.”
“Ssssttttt… gak mau kedengaran sama Bella kan?” di jawab dengan gelengan oleh Rosi.
“Ya udah, kamu jangan nangis lagi, ayah udah lapar nih.”
“Iyaaa.. maafin bunda ya yah. Bunda lanjutin ya yah.”
“Iya sayang. Ayah ke Bella dulu ya. Gak apa kan?”
“Hmmm… Hmmmm…”

****

“Bundaaaaaa…. Enak bund” kata Bella memuji masakan Rosi di saat kami bertiga makan di taman belakang bersama sambil merasakan udara yang menimpa kemesraan kami.
“Habisin ya nak” kataku sambil menambahkan ayam goreng yang dimasak oleh Rosi ke piring Bella.
“Iya ayaaahh.. makasih, nasinya gak nambah yah, ayam nya aja, boleh kan bund?”
“Heh, boleh nak. Habisin yaa.”
“Kok kamu gak makan yang?” Tanya Rosi
“Enaaakk.. seriusan.”
“Kamu gak hanya senengin aku kan?”
“Udaaahhh.. buka mulutnya, ayah suapin.”

Aku menyuapkan nasi dengan campuran ayam yang dimasak Rosi tadi kemulut Rosi. Saya yang selalu makan tanpa sendok, menyuapkan makanan tersebut ke mulut Rosi langsung. Rosi yang enggan membuka besar mulutnya, hanya masuk sedikit nasi kemulutnya.

“Ih… Bunda kok disuapin?” Tanya Bella
“Ayah kasihan sama bunda nak, kan Bunda capek masak buat kita. Ya ayah suapin aja. Gak apa kan nak?”
“Gak apa ayaaaahhh.. Bund, buka mulut bunda ya, Bella mau nyuapin bunda jugaaa..”

Rosi yang menerima suapan dariku yang disusul dari Bella tampak bahagia dengan membuat air matanya berlinang. Aku yang menyadari hal itu, langsung mengusap usap bahu Rosi dan membisikkan ke telinga Rosi.

“Ayah tau kalau kamu senang, tapi jangan sampai Bella liat kalau kamu nangis.”

Rosi yang langsung memeluk Bella, meneteskan air matanya. Aku yang sedikit terharu langsung memeluk mereka berdua dan mencium kening mereka bergantian.

“Yah, Bund, udah ih. Ayam Bella belum habis nih.”

Aku yang sedikit tergelitik dengan perkataan Bella langsung melepas pelukanku. Kamipun melanjutkan makan siang ini. Aku merasa bahagia akan hal itu sedikit melupakan hal yang mengganggu pikiranku selama ini. Apalagi setelah pulang tugas dari Pasuruan dengan pertemuan semalam bersama Afni.

****

“Yang, aku mau sidang lho minggu depan.” Ucap Rosi memberikan berita bagus disaat kami sedang santai di ruang keluarga.
“Wuiihhh.. aku senang dengarnya. Kamu harus semangat ya sayang.”
“Makasih ya yang. Udah sabar dengan Rosi.”
“Iyaaaa… hari apa tuh? Jadi kangen ke kampus nih. Bang juga bawa Bella deh.” Kataku sambil mengusap lembut rambut Bella yang tertidur di antara aku dan Rosi.
“Kamis yang. Semoga aja lulus ya. Rada takut nih.”
“Lulus kok yang. Kamu mau kado apaan?”
“Abang selalu berada di samping Rosi aja”
“Itu pasti sayang. Bang punya kado special buat kamu kalau udah lulus.”
“Apaan?”
“Tunggu aja dan siapkan mental kamu yang.”
“Apapun itu gak berharga selain kamu yang.”

Aku yang mendengarkan kata itu langsung melumat bibir tipir Rosi. Rosi pun membalas ciumanku dengan penuh kenikmatan, aku merasakan lembutnya permainan bibir Rosi ini, beda dari pada biasanya. Dan Rosi pun menyadari akan hal itu.

“Yang, kok rasanya beda ya?” Tanya Rosi
“Beda apanya yang?”
“Beda aja, Rosi gak tau juga.”

Aku menyadari itu adalah ciuman yang berlandaskan kasih sayang, bukan hanya nafsu yang berbicara. Ku cium pipinya lagi, entah kenapa aku sungguh menikmati apa yang aku kerjakan sekarang. Mungkin aku juga merasakan hal yang sama dengan Rosi. Dengan adanya Bella di antara kami, aku hentikan sejenak permainan nikmat ini. Aku menggendong Bella menuju kamar tidurnya, dan mencium keningnya setelah Bella berhasil kupindahkan ke atas kasur mininya ini.

Sekembali aku ke ruang tengah, aku menemukan Rosi yang tertidur mungkin kelelahan setelah masak tadi. Aku yang sebelumnya ingin melanjutkan permainan tadi, menunda hal tersebut. Walau sebenarnya jika Rosi dibangunkan, ia juga akan meladeni permainan kami. Tapi aku kasihan setelah dari pagi ia telah bangun shubuh untuk membangunkan aku dan Bella, membersihkan rumah, dan langsung memasak untuk siang ini. Aku menuju kamarku, dan mengambil selimut untuk menyelimuti Rosi dari kedinginan dunia ini.

“Rosi, insyaallah abang akan selalu menjadi penghangat harimu, pelindung hidupmu.”

****

Kamis yang aku tunggu telah tiba. Aku yang sengaja mengambil cuti hanya untuk menunggu sidangnya Rosi. Dimana bagi mahasiswa yang mau lulus, menyaksikan orang yang tersayang menunggu di luar ruang sidang itu adalah hal yang membanggakan. Oleh karena itu aku sengaja untuk meliburkan diri dan membawa Bella ke kampus yang udah lama tidak aku singgahi ini. Sebelum memasuki ruangan sidang, Rosi kembali menampakkan perubahan sifatnya. Ia mencium tanganku sambil minta izin untuk mengikuti ujian yang sangat setiap mahasiswa menunggunya.

Telah 1 jam kurang aku, Bella dan teman geng nya Rosi yang telah dahulu menamatkan studinya menunggu kedatangan ratu dari dalam ruang sidang tersebut. Aku kembali mengingat dimana aku 2 tahun yang lalu menamatkan studi juga di ruangan ini. Waktu itu aku yang mengharapkan Afni datang menungguku, tetapi aku simpan pengharapan itu. Dengan sambutan yang hangat teman teman sekampus dan Rima, sedikit menghapus pengharapan kedatangan Afni tadi.

CEKLEK..

Rosi pun keluar dari ruangan itu sekaligus membuyarkan ingatanku akan hari sidangku dulu. Rosi keluar dengan langsung berlari ke arahku dan menyergap tubuhku dengan hempasan tubuhnya. Aku yang siap akan hal itu langsung menangkap pelukan hangat tersebut. Bella yang sedang diusilin oleh teman teman Rosi langsung melihat apa yang dilakukan Rosi. Aku bisa merasakan perasaan lega di pelukan Rosi dengan terisak dan sedikit tidak percaya hal yang ditunggu ini akan datang juga.

“Hiikkksss… aku lulus yang. Makasih ya yang” bisik Rosi yang langsung ke telingaku.
“Sudaaahhh.. jangan nangis. Entar Bella lihat lho”
“Makanya aku meluk kamu yang.”
“Aku bangga sama kamu. Udah ya, Bella udah bengong noh liat kita.”

Rosi yang terasa menghapus air matanya langsung melepaskan pelukanku dan memutar badannya membelakangiku untuk menghambur ke gerombolan gengnya yang disana juga ada Bella. Bella yang awalnya terdiam dengan pola tingkah laku Rosi, langsung berubah ceria kembali karena digendong oleh Rosi. Teman teman geng Rosi pun mengucapkan selamat atas gelar sarjana yang Rosi terima. Aku yang berada di posisi ini sangat bangga dimana beberapa bulan belakangan, aku teringat kata Rosi yang enggan untuk menyelesaikan studinya. Kembali efek mudikku mengubah pola pikir Rosi. Setelah semua gengnya yang kembali ke kesibukan masing-masing, aku, Rosi, dan Bella langsung meninggalkan ruangan menuju mobil di parkiran fakultasku dulu.

“Bundaaa… turruuunnnn. Ntar bunda capek gendong Bella” kata Bella digendongan Rosi.
“Sini nak, ayah aja yang gendong ya.” Kataku mengajak Bella.
“Gak apa sayang, bunda senang kok bisa lulus. Terima kasih doanya ya sayang.”
“Iya bundaaa… beneran bunda gak keberatan?”
“Iya sayang, gak apa. Bunda kangen gendong Bella.”
“Kasihan bunda nak. Sini ayah aja yang gendong ya. Ntar di mobil juga pangku sama bunda kan nak? Sini…”
“Ya udah.. ayah kamu cemburu tuh nak. Cium bunda dulu dong.”
“Ihhh.. bukan ayah yang cium. Belllaaaaaaa” kata Rosi gemes karena aku mencium pipinya.
“Biarin. Sini naaakkk”

Aku yang langsung mengambil Bella dari Rosi, berlari kecil menuju mobil. Rosi pun mengejar kami dengan mengangkat sedikit rok panjang hitam yang ia pakai saat ujian tadi. Bella yang aku gendong dan berlari dari kejaran Rosi senang dengan kebersamaan ini. Terbukti dengan ia ketawa sepanjang waktu. Dengan mempererat pelukannya kepadaku, Bella melihat ke belakang dimana Rosi mengejarnya yang ketinggalan jauh dibelakang. Namun, sesampainya di mobil, aku melihat adanya sosok yang membuat aku terdiam dan tak tahu apa yang akan terjadi. Dimana sosok itu sedang menungguku disana dengan pandangan yang sedikit tajam kepadaku.

Bersambung…

Daftar Part

Cerita Terpopuler