. Kamu Cantik Hari Ini Part 28 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 28

0
255
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 28

“Rim, Rim, bangun” kataku membangunkan Rima sesaat kami sampai di Klenteng Sanggar Agung.
“Ini dimana?”
“Klenteng Sanggar Agung. Ayok Buruan.”

Aku yang setengah sadar karena baru mengingat kembali kisah pertama kali aku melakukannya dengan sahabatku sebelah ini. Dimana aku baru satu semester duduk di Sekolah Menengah Atas, mengambil mahkotanya Rima di kamarnya pula. Dengan sedikit kesadaran, Aku langsung menarik tangan Rima untuk turun dari taksi dan menyadarkannya. Sebelum itu, aku mengatakan kepada supir untuk menunggui kami di tempat makan di sekitar, dengan memberinya uang makan yang membuat dia sontak bergembira. Aku bawa Rima ke sini, karena hanya tempat ini yang teringat oleh memoriku waktu itu. Dan juga aku penasaran dengan halnya budaya China. Selain itu, aku juga tahu kalau tempat ini tempat berfoto dan merasakan indahnya pantai ditemani hiasan hiasan budaya China ini.

“Kita ngapain ke sini sih?”
“Killing time.”
“Ehhhh.. kamu mah gak berubah ya. Bawa aku ke tempat aku gak suka.”
“Kalau aku bawa kamu ke tempat kesukaan kamu, bisa bisa beli koper baru kamu. Aku juga yang susah bawanya Rim.” Kataku yang mengetahui kesukaan Rima akan Shooping itu.
“Rim, aku masih mau nanya nih. Tapi udahan ya Baper baperannya.”
“Iyaaaa..”
“Jujur ya.”
“Iyaaaa.. apaan sih.?”
“Masih belum hilang ya aku di hati kamu?”
“Hmmmm…”
“Jawab dong Rim.”
“Belum.” Katanya pelan
“Maafin aku ya Rim.”
“Ngapain sih, kan aku udah bilang, walaupun aku tidak sama kamu, aku sudah bahagia kok kalau aku jadi sahabat kamu.”
“Aku cariin ya”
“Apaan sih Ndra. aku gak mau ya. Emang kamu dulu mau dekat sama aku di suruh orang apa?”
“Hmmmm…” kataku singkat.
“Biarin aja rasa ini hilang dengan sendirinya Ndra.”
“Emang kamu gak sakit hati kalau aku gak balas rasa itu Rim?”
“Aku ngejauh dari kamu gak, saat kamu jadian sama Afni?”
“Gak sih.” Kataku sambil menggeleng.
“Makanya itu, hanya aku saja ya, yang merasakan sakit hati itu ya Ndra. Jangan dirasain wanita lain.”
“Walau rasa ini bukan untuk kamu, tapi kamu gak bisa aku lupain Rim. Kamu satu satunya sahabat aku yang menerima aku apa adanya. Walau…. Aahh… yang penting kamu jadi wanita barisan terdepan di hidupku.”
“Hehehehe.. Makasih ya Ndra. udah ah bahas ini, entar aku gak bisa nahan baperku nih”
“Iya iyaaa… foto di sana yok.”
“Kamu masih suka pantai ya.?”
“Iyaaa… kita tunggu sunset ya.”
“Gila kamu, ini aja masih jam 2 an. Ogah ah, ngapain disini lama lama.”
“Trus? Sebentar aja?”
“Iya, habis kamu foto foto, kita pergi cari makan” kata Rima jutek.
“Tadi katanya terserah yang ajak?” sindirku
“Emang pasal satu isinya cowok? Gak kan?”
“Hmmm… iya iyaaaa”

*****

“Makasih ya Ndra, atas jalan jalan singkat kita di sini”
“Enak Rim?”
“Iya laaahh.”
“Kamunya enak, akunya kesusahan bawa ini.” Kataku dengan membawa 3 koper yang bertambah satu karena Rima memaksa menemaninya pergi menuntaskan hobbynya. Selesai dari klenteng tadi, Rima mengajak ke mall untuk makan siang dan malancarkan hasratnya. Sesuai dengan firasatku tadi, Rima membeli bukan hanya banyak, tapi bisa menambah satu lemari kalau dikumpulkan. Sekarang aku dan Rima telah sampai di bandara di kota Surabaya ini.

“Eh, ntar sampai di Jakarta, bisa nahan kangen sama istri dan anak gak Ndra?”
“Maksudnya?”
“Temenin aku di hotel aja yah.”
“Hmmm…”

Aku berpikir sejenak dengan tawarannya. Kalau aku pulang pun gak bisa ketemu sama Rosi dan Bella. Ini aja udah jam 10 malam. Perjalanan ke Jakarta membutuhkan waktu 1 jam an. Dan juga, aku mau menghabiskan waktu sama sahabatku ini sebelum ia esok meninggalkan negeri ini lagi untuk studynya.

“Gimana?” Tanya Rima
“Oke deh. Tapi siangnya aku balek ya.”
“Aku aja pesawat pagi noh jam 10.”
“Pagi amat. Emang kebangun ntar?”
“Emang ntar malam ngapain. Ih, ketahuan mah mesum sekarang ya. Udah punya istri pun.”
“Hahahaha.. gak gitu juga sih Rim.”
“Tapi kalau aku yang maksa gimana?”
“Yah, namanya laki laki Rim, pantang dikasih lah.”
“Hahahaha… ini baru kamu Ndra. Jadi kepengen aku nih. Lama lagi ya?” katanya sambil tangannya udah mulai ke celanaku meraba raba pahaku.
“Ihhh.. jangan gini juga dong Rim. Pesawat tau.”
“Hahahaha.. baru aja megang pahanya. Udah kebuat aja noh tenda. Kemping Broh?”
“Hahahaha.. kamu mah pegang pegang. Ntar kalau pramugari liat nih tenda, malah ikut kemping dianya.”
“Huuuuu.. maunyaaa… ingat noh anak kamu.”
“Bukannya tidak mengingat Bella atau gimana. Tapi ini kan nafsu yang telah mengalahkan semuanya. Apalagi jika dipancing pake umpan yang jitu, ya termakan lah. Tinggal santapin aja lagi.” Balasku.
“Hahaha.. ntar aja deh di hotel, aku bobok dulu ya. Itung itung istirahat. Ntar malam keknya aku bakalan gak bisa istirahat nih.”
“Sini sini kepalanya.”

Aku langsung menarik kepala Rima ke bahuku. Entah apa yang ada di pikiranku. Apa aku tidak mengingat dua orang wanita yang sedang menungguku di rumah. Atau aku lupa kalau sudah “mempunyai” anak yang harus diajarkan hal hal baik. Gimana dianya nurut, kalau aku masih melakukan hal yang… Ahhhh.. Ntar aja pikirnya. Aku yang berkecamuk dengan nafsuku melawan akal sehat, mulai merasakan dinginnya pesawat ini. Ditambah dengan cuaca di Surabaya tadi lagi turun hujan, menambah dinginnya malam ini. Tanpa terasa, aku pun tertidur dengan bahuku dan lenganku jadi sasaran kepalanya Rima.

****

“Aku mandi dulu ya Ndra. kata resepsionistnya ada air hangatnya.” Kata Rima sesaat nyampe di kamar Hotel yang kami sewa untuk semalam ini. Sengaja aku memesan hotel di sekitar bandara saja. Selain udah capek, juga malas ke ibukota malam malam gini. Kembali ke kos juga, kunci kos di rumah Rosi. Kembali ke “rumah” juga bakalan kasihan bangunin Rosi malam malam gini.

Sambil menunggu Rima mandi, aku menuju teras sekadar menemani malam dengan sebatang rokok yang sudah memanggilku dari bandara tadi. Aku kembali mengingat dan memikirkan kejadian di Pasuruan, mulai dengan pernyataan Afni, sampai dilemma akan tidak enaknya ke Rima yang belum bisa move dari aku. Sejak SMA sampai sekarang. Bisa juga tuh anak nahannya. Walaupun begitu, dia gak menampakkan ke siapapun kalau tersakiti olehku.

Sambil merokok, aku memainkan HP yang sekadar mencek apa notifikasi selama penerbangan. Banyak sih, tapi yang membuatku penasaran adalah BBM dari Afni.

“Safe flight sayang.”
“Jangan terlalu dipikirin kata aku malam tadi ya. Kamu fokus besarin Bella aja.”
“Kalaupun kamu memilih aku, aku siap menunggu kamu kok.”
“Sampai disana, berkabar ya.”

Aku yang hanya membalas terima kasih dan memberitahu kalau aku udah sampai. Dan hanya ceklis yang terlihat di samping pesanku. Mungkin ia sudah istirahat. Entah kenapa aku menurut saja apa yang dikatakan oleh Afni. Seperti kata Rima, aku selalu terhipnotis akan dia. Kalau masih begini, gimana mau mengatakannya ke Afni.

“Udah, sana mandi dulu Ndra” kata Rima mengagetkanku.
“Eh, iya Rim.”
“Mikirin apa lagi sih nih anak.”
“Hehehehe. Kalau udah punya keluarga tuh gini Rim. Makanya kamu cepat kawin.”
“Eh songong nih anak. Lu aja belum resmi bego, giliran aku Tanya nih. Kamu kapan kawinin Rosi.?”
“Udah sering Rim. Hahahaha”
“Badan Rosi kecil gitu. Kasihan Rosinya.”
“Apaan kasihan, nikmat kok. Kamu aja klepek klepek.”
“Ihhh… mana sini.”

Rima langsung mengejarku, aku yang langsung menuju kamar mandi pas mengenai kepalanya saat menutup pintu tersebut. Aku langsung mengunci pintu dari dalam menghindari pengejaran Rima. Rima yang Nampak kesal dengan aksi penguncian tersebut langsung menggedor gedor pintu kamar mandi yang terbuat dari vynil tersebut. Aku yang ketawa cekikikan langsung mandi tanpa menggubris Rima yang diluar. Namun setelah mandi, aku melihat tidak adanya handuk karena aksi pengejaran Rima tadi, handukku saja tidak terbawa. Dobrakan di pintu oleh Rima pun telah berakhir. Aku yang tidak mau meminta tolong ke Rima berniat langsung keluar. Minta tolong pun akan mustahil dibantu Rima yang sudah kesal. Disaat aku keluar, rupanya Rima masih berdiri di samping pintu yang langsung memukul kepalaku sama botol air mineral yang masih berisi air setengahnya.

“Haduuuuhhhh” kataku terkejut.
“Rasain, impas kan? Nih liat jidatku sampai merah gara gara kamu.”
“Aduuuhhh… itu masih berisi air lho Rim”
“Biarin. Lagian kamu kenapa telanjang telanjang keluar sih. Aku gak mood juga gara gara kamu.”
“Handukku tinggal noh. Ambilin dong.”
“Ogah. Ambil sendiri. ”
“Entar mata kamu jelalatan pula liat Indra junior.”
“Udah gak mood. Gak ngaruh juga, walau tegang setegang tegangnya.”
“Huuffftttt”

Bersambung…

Daftar Part