. Kamu Cantik Hari Ini Part 27 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 27

0
264
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 27

“Masih marah Rim?”
“Tau.”
“Apa yang bisa buat kamu gak marah lagi?”
“Kamu itu ya Ndra, sejak kapan kamu berpotensi nyakitin hati cewek ha?”
“Maksudnya Rim?”
“Mikir aja sendiri. Tuh bawain koper aku. Aku mau ke toilet dulu.”

Rima langsung meninggalkanku dengan sedikit ketidakpahaman sikap Rima. Apakah ia lagi halangan?. Sesampainya di bandara, aku langsung menuju maskapai penerbangan untuk menanyakan tiket ke Jakarta hari ini. Akhirnya aku dapat tiket malam ini. Karena masih panjangnya waktu yang akan dibunuh untuk keberangkatan. Aku berniat untuk mengajak Rima sejenak jalan jalan kota Surabaya. Tapi kok tumben lama ya Rimanya? Mungkin betul kalau ia lagi halangan. Baru dapet kali. Jadi pelampiasan deh. Akhirnya Rima keluar dari toilet dan menuju ke arahku.

“Udah tiketnya?”
“Udah nih. Berangkatnya malam ntar. Jalan dulu yok.”
“Ogah ah.”
“Haduuuhhh.. aku paling malas baikin ngambek kamu ini nih. Lamaaaaa”
“Ya udah, gak usah peduliin. Pergi aja sendiri.”
“Yang penting kamu ikut. Ayoooo”

Aku langsung menarik tangan Rima. Aku memang bisa menaklukkan ngambeknya Rima ini. Tapi entar takut mintanya aneh aneh. Kan bisa brabe. Akhirnya aku mencari sebuah taksi dan merentalnya sampai sore. Dengan negoisasi yang sedikit alot, akhirnya pak supirnya mengalah.

“Kita kemana?” Tanyaku
“Gak tau. Kan kamu yang narik paksa aku.”
“Aku nanya kamu mau kemana sayang?”
“Gak mempan sayang sayang. Sayang kamu tuh di Jakarta sama di Pasuruan. Gak disini.”
“Hahahaha.. sebelum aku kenal sama mereka, aku terlebih dahulu kenal kamu Rim. Sayang aja rasa itu gak ada. Kalau ada mah ngapain dulu aku beraniin diri nembak siswi berprestasi kek Afni.”
“Hahahaha.. kok mulai baper kamu sih Ndra.”
“Habissss… kamu mulai ungkit ungkit itu.”
“Hahahha. Aku senang kalau kamu bahagia kok. Kan jodoh gak kita yang atur. Andai saja waktu buat perjanjian sama tuhan, aku ingat siapa jodohku. aku mah ogah nyatain perasaan itu ke kamu dulu.”
“Hahahaha.. bapernya pindah ya?” kataku sambil menyikut lengan Rima pelan.
“Ahhh.. aku malu ingat ingat itu tau gak?”
“Hahahaha… ya udah.. maaafff.. aku gak bakalan ungkit itu lagi kok.”
“Bikin bête aja. Daripada dengar kamu ngawur gini, aku tidur aja. Bangunin nanti ya.”
“Kok tidur sih. Heh. Kalau mau tidur sini nih.” Kataku menggoyang goyangkan bahuku.
“Aku takut baper lagi Ndra. Susah tau”
“Iya iyaaa.. Maaf… aku ngerokok aja deh. Pak AC nya matiin aja ya. Saya mau ngerokok nih. Saya tambahin deh ntar.”

Akupun membuka jendela itu dengan sejenak menghirup oksigenku.

****

“AAHHHHHH…. kok kamu pegang pegang barang aku sih Rim.”
“Aku mau tau rasa nya punya laki laki itu Ndra.”
“Kok sampai dibuka sih.?”
“Gak kerasaaa… nanggung.. hahahaha”

Aku yang sedang berada di Rumah Rima setelah ujian semester pertama kami duduk di SMA berakhir yang saat itu berada di kamar Rima. Sebelumnya aku sudah biasa bermain di kamarnya. Tapi kalau arti main yang lain, baru kali ini aku akan merasakannya. Rima yang telah mengganti pakaiannya dengan kaos yang longgar ini kalau ia membungkuk, akan melihatkan bongkahan indah di dadanya itu.

“Rim.. Udaaahhh. Kita gak boleh ginian lo”
“Kakak sepupuku aja udah rasain kok Ndra. katanya asal gak keluarin spermamu di dalam aja.”
“Aku tau juga itu. Tapi kamu akan kehilangan mahkotamu lho Rim.”
“Aku udah memutuskannya kok.” Kata Rima dengan mulai membuka bajunya.
“Rim….”

Aku langsung terdiam dengan aksi yang dilakukan Rima. Tubuhnya yang indah, mulai terlihat. Bongkahan dadanya yang putih ditutupi oleh satu penutup lagi yang kontras dengan kulit putihnya. Tanpa membuka hotpants nya yang hanya menutupi sedikit pahanya dan bagian vitalnya. Ia langsung mendekatiku dan duduk di pangkuanku yang terdiam di sofa santai di kamarnya. Aku yang sudah tahu akannya dunia dewasa itu antara ragu akan melakukannya atau tetap gak mau ngerusak Rima.

“Ayo Ndraaa.. Remas nih atau mau buka dulu?”
“Udah ah Rim, ntar nafsuku gak bisa aku control lagi nih.”
“Hahahha.. emang kamu tega kalau aku minta ke sopir angkot?”
“Ya ngapain sopir angkot juga. Kamu kasih aja ke orang yang kamu sayang kek. Suamimu gitu.”
“Upppssss… satu pengaitnya udah lepas nih Ndra. tinggal dua lagi nih. Bantuin dong.” Kata Rima langsung membelakangiku dan memperlihatkan kulit punggungnya yang mulus dan putih itu.
“Aku pakaikan saja baju kamu ya.” Kataku saat mengambil kaos Rima.
“Nih udah aku lepasin nih.” Kata Rima saat selesai membuka pengait bra nya yang berada belakang. Langsung Rima memutar balik badannya. Dengan posisi tangan masih di branya menutup dadanya.
“Katanya mau makaikan kaos aku lagi. Kok diam? Udah gak bisa ngontrol nafsu ya? Hihihihi”kata Rima mengacaukan pikiran sehat ku.

Aku yang saat itu bukannya sok munafik atau gimana, tapi aku takut hal ini akan merusak persahabatanku sama Rima bakal rusak. Aku yang sudah memegang kaos Rima itu, berencana hendak memakaikan ke badannya lagi. Baru mau masukkan ke kepalanya langkahku terhenti. Rupanya Rima telah melepas tangannya tadi dan langsung lah bra itu jatuh menampakkan isinya yang padat dan mempunyai lingkaran kecil di tengahnya menambah indahnya dada Rima.

“Eh. Katanya mau nolong aku pasang kaos, tapi kok matanya ke sini sih. Mau?” kata Rima dengan memegang payudara kirinya dengan lembut seakan menambah menangnya nafsuku atas pikiran sehat.
“Ahhhhhh…. Ahhhh.. Ndraaa.. kamu gak mau megang nih? Ya udah, aku keluarin sendiri aja deh. Iman kamu terlalu tinggi.” Kata Rima ketus yang memutuskan untuk menuntaskannya sendiri.

Namun ia tidak beranjak dari pangkuanku, kancing hotpants nya udah kebuka pun aku tidak menyadarinya. Dalam pikiranku sudah ada pertentangan yang sengit antara nafsu sama akal sehat. Tinggal waktu yang memutuskan pemenangnya.

“AAhhhhh… kamu duduk aja sini ya. Anggap aja aku amal sama kamu.”

Rima yang sudah membuka hotpants nya sedikit berdiri untuk mengeluarkan hotpants tersebut dari kedua kakinya. Aku yang hanya melongo itu melihat betapa indahnya tubuh Rima, padat berisi dengan kulit yang putih mulus tanpa ada cela sedikitpun. Ditambah dengan buah dada yang ukurannya lumayan untuk wanita seusianya. Jikalau tanganku disuruh menggenggamnya, bakalan penuh di tanganku. Tinggal CD nya yang juga berwarna hitam di badannya. Rima yang hendak duduk kembali ke pangkuanku sedikit mendekat, dengan sengaja atau tidak, barangku yang telah membuat tenda di celana abu abuku itu pas mengenai CD nya.

“Hahahaha.. udah keras ya Ndra. tapi sayang kamu tadi nolak.”

Rima yang menduduki juniorku langsung memasukkan tangan kanannya ke CD nya dengan tangan kiri tetao meremas lembut gentian buah dada kiri dan kanannya. Tanpa membuka CD nya, aku bisa melihat alat vital wanita untuk pertama kali itu dengan samar dimasuki oleh jari tengah dan telunjuk Rima yang mengobok obok bagian yang berwarna merah muda itu.

Perlahan nafsuku yang sudah memenangkan pertarungan tadi, sampai ke otakku dan langsung mengalirkan ke tanganku yang sudah memegang pinggang Rima. Rima yang terkejut langsung menghentikan aktifitas nya dengan melihat ke arahku.

“Eh.. tangannya kok… katanya tadi gak mau.” Kata Rima yang sudah tidak jelas dan teebata bata ditahan nafsunya.
“Boleh aku cabut Rim?” tanyaku reflex.
“Hmmmm.. hmmmm…” kata Rima mengangguk.

Tanganku yang langsung menuju buah dadanya gemeteran untuk memegangnya. Untuk pertama kalinya tangan ini memegang benda empuk ini hanya memegang dan menggoyangkan nya sejenak. Dan memastikan pikiranku tadi, memang penuh di genggamanku. Namun, Rima langsung berdiri membuatku heran.

“Buka dulu dong bajunya. Ntar kusut lho”

Aku yang langsung membuka bajuku dan meletakkannya rapi di atas meja belajar Rima. Sekarang aku sama dengan Rima, hanya memakai satu penutup di badan kami. Di saat aku mau membuka kolorku, Rima menahannya.

“Ntar aja bukanya. Aku liat kakakku, mereka pakai cium ciuman segala lho Ndra.”
“Cium?”
“Iya bibir ketemu bibir.”
“Kalau itu aku tahu, tapi…..”
“Kebanyakan ngomong ih”

Rima langsung meraih wajahku dan mengecupkan bibirnya yang seksi ke bibirku. Aku yang terkejut dan hanya diam merasakan hal yang juga pertama kali ini. Rima yang hanya mengecup bibirku melepaskan ciumannya.

“Kok mereka bisa lama ya. Rasanya biasa aja kok.”
“Sini aku yang cium kamu.”

Aku yang tahu hal ini dari cerita cerita dan film film yang mengedukasiku, langsung mempraktekkan untuk pertama kalinya. Bibirku mengecup bibir bawahnya dan langsung memainkan lidahku dalam mulutnya. Dalam beberapa saat lidahku berbalas dengan lidahnya. Membuat tangannya langsung merangkul kepalaku. Dan begitu juga tanganku yang langsung memeluknya erat. Kami terus berciuman dengan penuh nafsu dan penasaran akan rasanya.

“Aaaaahhhhh…. Gini ya rasa ciuman. Kamu jago juga ya.”
“Ini pertama kali juga kok Rim.”
“Ketahuan sering bokepan nih anak. Lanjut gak nih?”

Pikiranku yang telah sejak tadi berkecamuk dari awal dengan liarnya membuat aku secara naluri mencium, menjilati dan sekedar menjamah lehernya. Ahhhhh. Mmmmhhhh. Rima mulai kembali dengan desahannya. Aku tarik lagi bibir ini dan naik ke atas untuk mengulangi melumat bibirnya itu. Aku merasakan hal yang baru dalam hidup ini terus terusan mengeksplorasi bibirnya. Entah sudah berapa lama aku mencium bibir Rima.

Rima lantas menuntun kembali tangan ini ke buah dadanya, memintaku dengan isyarat menggenggamnya lembut. aku yang menuruti hal itu, meremas pelan. Rima mendesah dengan kerasnya, dengan ilmu yang kudapat, aku meremasnya dan mempermainkan putingnya dengan lembut. Mata Rima mulai tertutup dengan kenikmatan yang ia dapat. Aku yang udah tidak tahan membuka kolorku yang menghalang si jagoanku berkembang.

Aku ajak dia ke kasurnya untuk tiduran. Aku kembali mencium bibirnya, entah kenapa hal ini aku lakukan berulang. Mungkin karena bibir Rima enak di emut dan di kecup. Aku yang sedikit ingin mengetahui rasa memegang bagian belakangnya, meremas lembut pantatnya. Rima dengan sadarnya malah membuka CD itu perlahan. Pandanganku kembali ke matanya yang dibalas sautan matanya yang sayu itu.

Dengan lembut aku mulai memeluknya lagi, menimpa tubuhnya yang seraya sama ukuran badanku. Kami kembali berciuman dengan lembut, dan tanganku mulai memegang bagian intimnya untuk pertama kali.

“Aaahhhh.. “ aku yang juga terkejut menghentikan kegiatanku.
“Kok berenti?”
“Sakit?”
“Belum aja masuk sayang.”

Sayang? Panggilan apa itu? Ah, ntar aja pikirkan, nafsu sudah mengalahkan semua ini. Kembali aku elus permukaan vaginanya dengan tanganku. Kembali ia mendesah tak karuan sampai tangannya memegang penisku. Aku sontak berdiri sedikit dan menjauhkan tangannya dari penisku. Pelan pelan aku masukkan penisku dengan lembut ke vaginanya.

“Ahhhhh….. Uhhhhggggggghhh..” Rima mengerang entah sakit atau kenikmatan yang ia sara saat itu.
“Lanjut Rim?”
“Enak Ndra, ngilu ngilu enak. Gila ”

Aku yang seakan mendapatkan lampu hijau kembali merebahkan tubuhku ke tubuhnya. Wajahku yang dekat sekali dengan wajahnya yang memerah dan nafasnya memburu. Dengan reflex, aku gerakkan maju mundur naik turun tubuhku dengan ditemani desahan oleh kami berdua.

“Aaaahhh… aaahhhhh enak Ndraaa”
“Uhhhhh.. iya Rim.” Balasku yang fokus akan kenikmatan dengan tetep menekan tubuhnya.

Yang kurasakan saat hanya pelukannya yag kencang dan sempitnya vaginanya yang sangat berbeda dengan jepitan tanganku sendiri. Mata Rima kembali tertutup yang merasakan gerakanku yang sedikit tidak teratur. Dengan badannya yang bergoyang, dia sesekali menggigit bibir bawahnya yang seksi itu. Ditambah dengan pipinya dan wajahnya memerah menahan nikmat.

“Aaahhhh… Ahhhh.. Ahhh…” hanya suara itu yang bisa keluar dari mulut Rima.
“Aku…. Ndraaaa… Akuuu….” Rima yang mulai terasa panik dengan rasa yang ia rasakan. Badannya mulai terasa tegang, dan akupun sudah merasakan akan keluarnya sperma ini.
“Terus yang, enaaakkk..”

Lagi panggilan itu mengusikku sesaat. Tapi kembali nafsu mengalahkan hal itu. Aku mempercepat gerakanku dan langsung mengeluarkan penisku dari vaginanya. Sampainya penisku keluar, aku mengocok pelan dan langsunglah keluar sperma itu menembak ke arah badan Rima yang saat itu sedang mengatur nafasnya. Wajahnya semakin memerah seakan terkejut dengan sperma ku mengenainya.

“Ihhh.. apa aan sihhh” katanya terbata bata.
“Maaf Rim.” Hanya itu yang keluar dari mulutku. Badanku langsung rebah mengenai tubuhnya yang sudah tercemar spermaku tadi. Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu. Pipiku saat itu menempel di pipinya. Aku yang tidak mulai memperdulikan apa yang terjadi di bawah, apakah spermaku akan masuk ke vaginanya atau kondisi terkini vaginanya. Apakah mengeluarkan darah kata orang atau gimana. Aku hanya fokus pada nafasku yang merasakan kenikmatan dunia dengan sahabatku ini.

“Terima Kasih sayang.”
“Walau hati kamu belum untukku Ndra, tapi aku bangga kalau pengalaman pertama kamu sama aku Ndra.”

Bersambung…

Daftar Part