. Kamu Cantik Hari Ini Part 25 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 25

0
234
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 25

“Emang mau kemana sih? Pake tutup mata pula?”
“Tugas kamu Cuma duduk manis dan ikuti kataku.”
“Udah malam lho Ndra.”
“Katanya kamu percaya sama lelaki pilihanmu.”

Afni yang hanya menuruti kataku itu tak tahu kalau ini adalah kejutan untuknya di hari anniversary kami. Matanya sengaja ku tutup dengan kain hitam dan ku bimbing Afni menuju mobil yang sengaja ku rental untuk semua ini.

“Ini kita kemana Ndra?”
“Ke hatimu”
“Gombal ah. Kok pake mobil segala? Mobil siapa?”
“Ntar aku jelasin.”
“Kamarku kan belum dikunci Ndra?”
“Udah aku titip sama adek kos mu yang pakai pagar dimulutnya itu.”
“Dewi ya?”
“Iya Dewi.”

Aku yang sengaja menyiapkan ini semua karena dia lah cinta pertamaku. Bersama Afni lah aku merasakan untuk pertama kalinya apa itu Cinta. Aku mengandarai mobil di jalanan yang sepi di kota Padang ini karena hampir tengah malam menuju suatu tempat yang sebelumnya sudah aku persiapkan. Suatu tempat favorit anak muda di kota ini untuk bersenda gurau. Namun, karena masih kentalnya budaya di ranah ini, menyebabkan dilarangnya berpacaran setelah bumi laut menelan matahari. Aku yang mempunyai kenalan pemuda di tempat ini menyebabkan aku bisa melancarkan misi ini.

“Aku penasaran lho Ndra, kita kemana sih”
“Kamu percaya aku kan Ni?”
“Kalau aku gak percaya kamu, gak mungkin aku mau diculik jam segini Ndra.”
“Insyaallah aku bisa dipercaya Ni. Penutup matanya jangan dibuka kalau udah aku suruh ya Ni.”
“Iya sayang”
“Apaan?”
“Iya sayaaaaaaaaaaaaang.”

Entah kenapa senang sekali kalau Afni panggil aku dengan kata sayang tersebut. Mungkin hal itu ia lakukan hanya sesekali. Sesampainya di tempat tujuan, yakninya jajaran pantai yang menghadap langsung ke Samudra Hindia yang dinamakan warga setempat dengan Taplau (Tapi Lauik), aku langsung keluar mobil tanpa mematikan mesinnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Aku tinggalkan Afni di dalam mobil sendirian, yang sebelumnya sudah aku parkirkan mobil itu di tepi bibir pantai dengan posisi membelakangi laut. Sayup ku dengar Afni mulai panik karena mobil tidak berjalan lagi.

“Ndraaa…. Sayaaannggg. Kamu dimana?”
“Ndraa.. aku udah boleh buka penutup ini gak?”
“Ndraaaa… kamu dimana? Aku takut ini”

Aku yang hanya diam mendengarkan pertanyaannya mempersiapkan kejutan selanjutnya. Aku menghubungi pemuda yang kukenal untuk mengerjai Afni seadanya sambil aku duduk di belakang mobil tanpa kelihatan oleh Afni dengan memegang gitar yang telah aku persiapkan. Tak berapa lama, aku dengar ada yang mengetuk kaca mobil bagian pengemudi dan aku sedikit mengintip untuk memastikan misi ini berjalan.

Tok Tok Tok

“Kak, Kaakkk, Kaakkk” seru pemuda itu mulai membuat Afni panik.
“Ndraaaaa….. siapa ituuuuu?”

Kulihat Afni mulai panik dengan kedatangan 2 pemuda tersebut. Ia membuka penutup matanya dan terkejut dengan 2 pemuda yang kelihatan seperti preman itu. Lalu keluar dengan sedikit gemeteran.

“Ado apo bang?” (Ada apa bang?)
“Kakak ndak buliah parkir siko do kak.” (Kakak gak boleh parkir di sini)
“Maaf bang, wak ndak tau” (Maaf bang, saya gak tahu)
“Kini, ancak akak pai lai. Lah malam kak.” (Sekarang, lebih baik kakak pergi. Ini sudah malam kak)
“Wak tadi kamari samo pacar awak bang.” (Saya tadi kesini sama pacar saya bang)

Jreeeeengggg….

Lama sudah tak kulihat,
Kau yang dulu ku mau,

Aku yang menyudahi kepanikan Afni menyanyikan lagu itu dengan suara lantang. Sontak ketiga orang itu berjalan ke arahku. Tampak wajah Afni yang cemas dengan wajah kedua pemuda itu tersenyum karena sudah mengetahui apa yang akan aku perbuat. Langsung Afni yang datang menghampiriku memegang lenganku dengan masih ketakutan akan kedua pemuda ini. Aku langsung memberhentikan nyanyiku untuk berbicara dengan pemuda tersebut.

“Manga nyo da?” (Kenapa dia bang?) tanyaku ke pemuda itu tanpa ada rasa bersalah.
“Inyo parkir disiko, ndak buliah disiko parkir do, masih juo parkir. Apolai lah malam. Manga nyo surang surang kalua, padusi lo lai. Ngecek an samo pacarnyo lo tu.” (Dia parkir disini, yang dilarang parkir. Apalagi ini udah malam, gak baik cewek keluar malam. Ngakunya pergi sama cowoknya, tapi sendirian aja kelihatannya) terang pemuda itu tanpa ada spasi sedikitpun.
“Hahahahaha.. alah da.. beko nangih cewek wak beko da. Lah balinang mato nyo tu. Makasih yo da. Makasih sadonyo, izin nyo.” (Hahahahaha.. sudah bang, ntar nangis cewekku ini, tuh lihat matanya udah berlinang si air mata. Makasih ya bang, atas izinnya juga)

Aku yang sudah kasihan dengan Afni yang sudah ketakutan ini menyudahi scenario ini. Afni yang masih memegang lenganku saat pemuda “bayaran” itu telah pergi, masih dengan suasana cemasnya.

“Sudaaaahhh.. Maafin aku ya.” Kataku menenangkan Afni
“Hikkksssss.. hikkkksssss..”
“Kan nangis. Maaf sayang.”
“Kamu tau gak Ndra, aku cemas, takut. Kamu kan tau kalau aku gak pernah keluar selarut ini.”
“Iyaaaa.. maaaf ya sayang.”
“Karena kamu aja aku berani keluar. Tapi malah kamu ngerjain akuuu. Hikksss hikksss”
“Maaf maaf. Aku janji, aku berusaha hanya di perayaan hari jadian kita ini kamu menangis. Aku janji gak akan buat kamu menangis lagi.” Kataku
“Jadi kamu rencanain ini semua demi perayaan jadian kita?”
“Hmmm… hmmmm..”
“Aku gak ingat lho kalau ini hari ini jadian kita”
“Hahaha… hari ini aku nembak kamu, tapi seminggu setelah itu baru kamu jawab.”

***

“Ayo Ndra, buruan. Pake jaket aku dulu ya. Nih. Aku gak mau kamu masuk angin kek dulu lagi.”

Afni mengembalikanku ke dunia sekarang. Ya, aku mengingat kembali dimana aku memberanikan diri untuk membawa dia keluar larut malam untuk pertama kalinya. Afni seorang anak yang akademis sekali. Tiada semester yang ia lalui tanpa kebanggan dari ayah ibunya saat pengambilan rapor. Afni lah seorang legenda di SMA ku dulu. Hampir semua penghargaan dan perlombaan yang ia dapatkan. Dan aku bangga pernah menjadi kekasihnya. Bahkan sampai malam ini tiada kata putus dari kami berdua, walau sudah 2 tahun ini aku tidak pernah jalan, bahkan komunikasi dengannya.

“Kok kamu banyak ngelamun sekarang Ndra?”
“eh iya.. apa kamu gak apa keluar malam-malam?”
“Kan sama kamu, kamu kan bakalan jagain aku. Walau mengerjaiku, tapi itu malam yang gak akan aku lupa.”
“Hmmm…”
“Lagian, aku gak pernah keluar lagi setelah malam itu kok, selain tugas di rumah sakit ya”
“Kenapa?” tanyaku
“Karna aku gak pergi sama kamu.”

Kembali aku terdiam dengan apa yang dia katakan. Afni yang selalu membuat aku senang kalau mendengar semua itu dari mulutnya. Namun, sekarang semua berubah dengan kondisiku sekarang yang tak bisa meninggalkan Bella lagi, mungkin juga efek Rosi yang sudah melihatkan sifat lembutnya.

“Kan, kamu kebanyakan diamnya sekarang Ndra. Apa perasaanmu juga berubah ya Ndra?”
“Aku boleh Tanya sesuatu Ni?”
“Apaan?”
“Tapi kamu janji jawab dengan jujur ya.”
“Iyaaa”
“Kenapa kamu yakin kalau aku masih sayang sama kamu.?”
“Maksudnya?”
“Kan udah janji tadi bakalan jawab jujur.”
“Hufffttt… karena aku yakin dengan orang yang mau berubah jadi lebih baik saat dia bersamaku. Dan kamu melakukan itu semua Ndra. Sebelum aku dipindahkan ke Pasuruan ini, aku tahu apa yang kamu lakukan semuanya. Kamu tiap weekend nginap di rumah Rosi, bela belaan jemput Rosi ke kampus, jemput Bella juga, sampai sampai Lebaran kemaren kamu di Garut.”
“Haaaa??? Darimana kamu tau?”
“Aku ingin membuktikan sendiri daripada aku tak percaya kalau pilihanku itu salah.”

Lagi.. Lagi aku terdiam dengan apa yang Afni katakan. Dia mengetahui semuanya? Apakah ia mengetahui kalau aku sama Rosi sudah… ahhh… apa lagi ini yang terjadi. Aku dihadapkan dengan suatu kondisi dimana aku bisa memastikan, kalau tak akan ada orang yang bisa berfikir jernih dengan ini.

“Aku lebih baik cari tahu, dibandingkan aku dengar kamu bohong Ndra. kamu kan tahu kalau aku tidak suka yang namanya bohong.”
“Kenapa kamu bohong ke Abak sama amak lebaran kemaren?”
“Aku gak bohong ya. Kan kamu sehari sebelum lebaran masih tugas kan? Tugas di Garut?”

Berarti Afni tidak mengetahui secara mendalam apa yang terjadi padaku selama ini. Apakah ini momen untuk aku bicara padanya? Tapi malam ini sangat spesial baginya. Karena aku mengingat, hari ini lah aku mendapatkan jawaban darinya. Tepat satu minggu setelah aku menembaknya dengan menyanyikan lagu itu di tengah lapangan saat classmeeting. Aku ingat itu.

“Kamu ingat tanggal ini?” tanyaku
“Aku gak mau melakukan kesalahan yang sama di malam itu. Aku gak mau kalau kamu kecewa. Aku yang hanya hafal ilmu tapi tidak mengingat hal hal yang penting buat orang yang aku sayang.”

Entah berapa kali aku terdiam dengan apa yang Afni jawab. Terdiam kaku tak tahu apa yang akan dijawab dan apa yang akan dilakukan kedepannya. Apalagi sebatang rokok gak bisa menemaniku saat ini. Terpaksa aku yang telah memakai jaket khas cewek berwarna orange warna kesukaannya itu mengambil gitar untuk menenangkan pikiranku sejenak. Aku keluar dari mobil membawa gitar, dan duduk di “bibir” mobil menghadap ke pantai.

Masih ku merasa angkuh
Terbangkan anganku jauh
Langit kan menangkapku
Walau ku terjatuh

Dan bila semua tercipta
Hanya untukku merasakan
Semua yang tercipta
Hampa hidup terasa

Lelah tatapku mencari
Hati untukku membagi
Menemani langkahku namun tak berarti

Dan bila semua tercipta
Tanpa harus ku merasakan
Cinta yang tersisa
Hampa hidup terasa

Bagai bintang di surga
Dan seluruh warna
Dan kasih yang setia
Dan cahaya nyata

Oh bintang di surga
Berikan cerita
Dan kasih yang setia
Dan cahaya nyata.

Bersambung…

Daftar Part