. Kamu Cantik Hari Ini Part 24 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 24

0
243
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 24

Sedang asyiknya makan malam di luar hotel bersama Rima karena kurang meyakinkannya menu yang disuguhkan pihak hotel, HP ku berdering lagi tanda masuknya panggilan masuk. Saat kulihat rupanya Afni yang menghubungiku, ada apa ya?

“Siapa?” Tanya Rima
“Afni Rim.”
“Kok?”
“Aku juga gak tau Rim.”
“Angkat aja. Mana tau ada peluang jelasinnya kan?”

“Halo Ni”
“Halo Ndra, kamu dimana sih? Aku udah depan kamar kamu, udah diketuk gak keluar keluar”
“Aku di depan ni. Di warung sate depan hotel.”
“Yang mananya? Aku samperin ya.”

“Ngapain? Dia nyamperin ke sini ya?”
“Iyaaaa”
“Emang apaan sih yang kamu bicarakan sama dia tadi saat aku gak disana?”
“Kamu sih ninggalin aku tadi”
“Aku gak niat ya. Tapi gimana lagi, ini di luar rencana aku lho”
“Kirain ini rencana kamu”
“Rencana aku ya. Aku nolong kamu supaya cerita apa persoalan kamu sekarang. Karena aku tahu, dari dulu kalau sudah berhubungan dengan Afni, kamu bakalan gak bisa ngomong.” Jawab Afni yang menegaskan bahwa tadi disaat ia meninggalkan aku dan Afni berdua bukan kesengajaan.
“Hmmm….”
“Udah, ntar aja hadapin. Makan dulu tuh, dari semalam makanmu gak habis terus. Nyuruh Bella makan aja, kamunya….”
“Haduh.. aku belum telpon Bella nih” potongku
“Ntar siap ketemu Afni aja telponnya. Kalau sekarang mah, kejadian malam itu di tempat nasi goreng, kembali terulang lho.”
“Iya ya… makasih ya udah selalu menjadi sahabatku Rim”
“Hahahaha.. elu ini ha?” Tanya Rima seakan tidak percaya aku ngomong gitu.
“Iya lah Rim”
“Berubah banyak kamu ya. Pintar juga tuh anak”
“Siapa?”
“Anakmu lah. Pengen juga aku punya anak kek gitu lah”
“Hehehehe… siapa dulu ayahnya”
“Huuuu.. kepedean luuuu”

HPku bergetar kembali, Afni kembali menelponku.

“Afni ya?”
“Iyaaaa.. bentar ya”

“Halo Ni”
“Ndra, aku gak tau nih dimananya”
“Kamu dimana?”
“Depan hotel nih”
“Tunggu sana ya”

“Kamu jemput Ndra?”
“Iya Rim”
“Ingat, no perasaan lagi” tegas Rima mengingatkanku, walau itu agak susah bagiku. Tapi aku akan mencobanya demi Bella.
“Iya iya sayaaanggg”
“Sok sweat”

Aku menjemput Afni yang saat itu dari kejauhan melihat sosok bidadari yang datang ke hidupku dan membuat aku seperti sekarang. Namun, kecil kemungkinannya aku dapatkan ia lagi. Kalau bukan karena ia, aku gak akan bisa berfikir jernih seperti menyayangi Bella dengan tulus. Benar kata amak, Sang Pencipta gak sia sia memberi jalan hidup umatnya. Afni yang masih menggunakan pakaian tadi siang kelihatan sekali wajah capeknya. Rona wajahnya yang ayu dan cantik itu memang melihatkan rona letihnya.

“Kamu siap dinas nih?”
“Iya. Emang baru makan ya?” Tanya Afni karena waktu sudah menunjukkan jam 10 malam.
“Iyaaa… Rima baru bangun sih, kecapek an dianya”
“Bilangin orang aja ya. Makan teraturlahhh. Dianyaaa.” menyindirku
“hehehehe… kan sesekali aja kok Ni”
“Ini obatmu ya… dosisnya udah aku bikin disana ya”
“Iyaaaa… makasih ya”
“Sama sama.. eh iya, kamu esok berangkat ya?”
“Iya, jam 10 an sih dari sini. Dijemput sama travel ke Surabayanya”
“Jadi ini pertemuan kita terakhir nih?”
“Kan di Jakarta kita bisa ketemu lagi Ni.”
“Yakin ada waktu buat aku? Kan ada Bella sama Rosi?”
“Eh…”
“Kan gak bisa jawab.”

Aku yang terdiam karena jawaban Afni hanya garuk garuk kepala. Apa maksud Afni ini? Di satu sisi dia bakalan tahu bahwa susah kalau aku kembali ke dia. Tapi ini? Ahhhh…. Tambah mumet nih pikiran.

“Gini aja deh Ndra. aku pulang dulu ya, mandi, trus aku balik lagi. Kamu temenin aku jalan ya. Malam ini aja. Please.”
“Hmmmm… Gimana ya? Ini udah malam loh Ni. Gak baik lho malam malam keluar.”
“Kan aku sama kamu Ndra. aku kan udah bilang kalau Aku percaya sama lelaki pilihanku kan?”
“Iyaa sih Ni.”
“Ya udah. Sejam dari sekarang, kita ketemu disini lagi ya. Dan satu permintaan aku ya, jangan sampai Rima ikut. Pleaseeeee… aku kangen suasana dulu Ndraaa.”
“Hmmm… iya iya.”
“Ya udah, kamu balik noh sana. Makannya dihabisin. Kalau Bella tau gimana kalau ayahnya gak makan?”
“Iya iyaaaa… bawelnya keluar lagiiii…. Hati hati ya.”

Kenapa aku kalau sudah permintaan Afni gak bisa mengatakan tidak ya. Aku selalu tersihir kalau sudah berbicara atau mengiyakan selalu apa permintaannya. Aku kembali ke tempat Rima dengan menyembunyikan pertemuanku dengan Afni yang akan dilakukan satu jam lagi. Ahhhh….

“Udah pergi?” Tanya Rima sesaat aku duduk kembali di bangkuku.
“Udah”
“Cuma kasih ini?” Tanya Rima memegang bungkusan putih yang berisi beberapa obat yang diberi Afni.
“Iyaaaa.”
“Kan. Kebiasaan lagi nih anak. Habis terhipnotis lagi?”
“Iya Rim.”
“Woiii… lu udah punya anak, gak kasihan sama Bella disana?”
“Gak tau ah Rim.”
“Tu sate gak dihabisin?”
“Udah kenyang Rim.”
“Nih anak, kalau udah banyak pikiran kesurupannya kambuh.”
“Kok aku dihadapin masalah kek gini ya Rim?”
“Karena kamu sanggup Ndra.”
“Buktinya kamu aja udah bawa Rosi ke kampung kan. Tinggal satu langkah lagi kok Ndra”
“Iyaaa.. ini berat lho Rim.”
“Anggap ini sidang skripsi, kalau kamu gak yakin lulus gak bakalan lulus lho, kalau yakin bisa melewati ini semua, semua akan indah dengan harapan semua manusia bro.”
“Bijak juga ya kamu Rim, sayang jones”
“Siapa bilang aku jomblo? Ini aja aku lagi bulan madu sama kekasihku. Tapi ya, sepertinya aku harus sedikit bersabar dikit.”
“Hahahaha.. apaan sih Rim.”
“udah lama gak nih Ndra, hahahaha”
“Emang kapan terakhir?”
“Lupa sih, tapi waktu itu aku hampir ketahuan sama ibu kos cowokku. Katanya aman, aman. Untungnya tuh ibuk gak coba buka pintunya. Mana lupa kunci pintu pula.”
“Itu kan di kos ku. Berarti?”
“Iyaaaa… makanya aku kangen.”
“Makanya cari pacar”
“Masa cewek yang nyari sih, cewek mah nunggu.”
“Kalau kamunya gak buka diri, gak bakalan ada yang betah lho.”
“Kamu aja betah.”
“Beda lah Rim.”
“Sama aja kok. Gak ingat dulu kamu hampir dengan cerewetku. Tapi ujungnya bisa juga kan. Kok mereka gak bisa?”
“Heh… makin malam makin ngaco nih bocah. Balik yuk. Mau istirahat nih. Kan esok kita jalan ke Surabaya.”
“Aku belum ambil tiket lho Ndra.”
“Aku juga belum kok. Di Surabaya aja esok.”
“Bilang aja mau nelpon Rosi.”
“Udah tidur Bella kok. Udah jam berapa juga ini.”
“Masih jam 10 kok. Rosi kan belum tidur.”
“Udah aku BM kok”
“Cieeee.. kalau udah punya anak, emang gitu ya. Lebih kangen anaknya ke istrinya.”
“Apaan sih Rim. Makanya cepat nikah”
“Kek kamu udah nikah ajaaa…”
“Hahahaha”

Aku dan Rima kembali menuju Hotel berencana untuk beristirahat. Rima yang langsung ke kamarnya mungkin ingin berkemas atau beristirahat itu meninggalkanku di lobby hotel. Aku yang berkelak ingin merokok dulu supaya Rima tidak mengetahui kalau aku akan pergi dengan Afni.

“Maafkan aku Rim”

****

“Rima udah tidur Ndra?”
“Gak tau juga sih Ni.” Jawabku disaat aku sudah bersama Afni di dalam mobil Jazz yang Afni pinjam ke temannya. Aku mengemudikannya dengan Afni sebagai navigatornya.
“Kok bisa Rima ikut sih?
“Gak tau juga sih Ni. Dia baru nyampe Jakarta malahan tuh.”
“Kan benar kalau Rima itu ada rasa sama kamu Ndra.”
“Kok pemikiran ini gak ilang ilang sih Ni.”
“Kan aku masih gak bisa terima kalau sahabatan kek gitu Ndra.”
“Kalau bahas ini mah, gak kelar kelar nih. Kita kemana nih?”
“Pantai Lekok aja ya”
“Pantai? Ngapain Ni”
“Aku kangen dengar kamu nyanyi sambil main gitar di Pantai Ndra.”
“Jadi itu gunanya ada gitar itu ya?”
“Iyaaaa”

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler