. Kamu Cantik Hari Ini Part 23 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 23

0
264
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 23

Rosi yang kembali membawa adiknya untuk check ke rumah sakit sekarang tanpa ditemani oleh “suami”nya. Indra saat itu sedang mengikuti suatu ujian akhir di kampus. Ternyata Bella masih ditangani oleh asisten dokter Rian, Afni.

“Hai Bella.. apa kabar?”
“Udah sehat kok tante, tapi kata ayah harus diperiksa juga”
“Hmmm… iyaa.. supaya Bella gak sakit lagi. Siang Mbak”
“Siang buk dokter. Tolong periksa Bella ya dok”
“Itu udah tugas saya kok mbak. Saya ke dalam dulu ya mbak. Hayo Bella.”
“Iya tante.”

“emang ayahnya Bella kemana?”
“ayah katanya kerja tante.”
“ooo.. tante buka baju Bella dulu ya. Buat meriksa. Bella sayang ayah ya.”
“Sayang tante. Ayah udah lama pergi tante, ke luar negeli. Ayah baru pulang kok tante. Bella senang, ayah pulang.”
“Hmmm… Bundanya kerja ya?”
“Iya tante”
“Buka mulutnya dong. Tante mau periksa lidahnya. Emang Bella besok kalau udah besar mau jadi apa?”
“Mau jadi guru tant, kata ayah guru itu pahlawan.”
“Emang Bella udah sekolah?”
“Belum sih tant, kata ayah tahun depan, Bella dimasukkan ke PAUS.”
“Hhahha.. kamu lucu ya. PAUD sayang. Gemes liatnya”
“emang kalau gemes, harus pipi yang dicubit ya tant?”
“eh.. maaff sayang.. gak kok, itu hanya reflex. Emang banyak yang gitu juga?”
“gak sih. Ayah aja tant.”

DEGGGG…. Bella yang mengaku baru bertemu dengan Indra itu menjelaskan betapa riangnya ia bertemu dengan ayahnya. Bahkan dengan pertemuan yang baru itu, ia sudah bisa mengingat hal baik yang diajarkan oleh Indra.

“Udah yok tante gendong. Bella udah siap diperiksa kok.”
“Kok tante mau gendong Bella?”
“Emng kenapa sayang?”
“Sehari ini, Bella belum digendong ayah.”
“ayah sibuk ya?”
“ayah udah pergi kata bunda saat Bella masih bobok”
“Hmmm.. ayah kan kerja buat Bella kan?”
“Ya udaaahhh… Bella mau liat dedek bayi gak?”
“Mau mau mau tantee”
“Bentar ya. Setelah tante ngobrol sama bunda Bella, tante ajak kesana. Tante panggil bunda dulu ya.Bella duduk aja disini.”

Afni pun kembali keluar untuk menemui Rosi yang menunggu di luar ruang pemeriksaan. Rosi yang tengah sibuk mengotak atik HP nya dikejutkan dengan pegangan di bahunya karena sentuhan dari Afni.

“Mbak bisa ke dalam sebentar”
“Udah siap dok?”
“Sudah. Yok di dalam aja”
“Tapi saya masih trauma dok, karena mama saya lahirin Bella meninggal di rumah sakit dok. Ini saja saya masih keingat ingat. Karena itu saya pasang music keras keras dan pakai ini dok.” Kata Rosi sambil menunjukkan headset.
“Maksudnya mbak. Maaf. Tadi saya mendengar mbak trauma karena mama mbak yang lahirin Bella?”
“Maaf dok. Saya kelepasan. Bella nya mana dok? Saya mendadak ada urusan dok. Kalau Bella udah selesai, saya izin dulu dok.” Tampak Rosi menutupi hal yang tidak boleh ia beritahu siapa siapa.
“Hmmm.. ya udah mbak. Obatnya Bella udah saya buat resepnya dan ketentuannya ya. Semoga Bella cepat sembuh ya mbak. Saya ke dalam dulu ngajak Bella keluar biar bisa pulang ya mbak.”
“eh.. iyaa….

****

“Jadi setelah aku telusuri, ternyata kamu itu hanya jadi bapak pura pura Bella kan? Dan kamu tidak tinggal seatap dengan mereka juga kan?”
“Hmmm… aku gak tau Ni. Waktu itu aku juga gak bisa berfikir panjang. Aku hanya ingin”
“Ingin apa?”
“Ingin menjelaskan ke kamu. Tapi kamu nya selalu menghindar dari aku.”
“Aku gak mau salah menilai kamu Ndra. lebih baik aku tau sendiri daripada tau dari mulut kamu Ndra. aku tau kok dari tingkah laku kamu saat pertama kamu ketemu aku, disana aku penasaran ingin buktikan sendiri dibanding tau dari mulut kamu.”
“Jadi?”
“Iyaaa.. aku percaya kok ke kamu, kalau kamu itu masih menjaga hati aku. Sekarang hanya menjalankan misi yang tulus.”

Pernyataan Afni membuat aku semakin bingung. Di satu sisi aku yang tak menyangka Afni masih mempercayaiku bahkan masih menunggu misiku ini berakhir. Aku jadi teringat kata Rima yang berpesan supaya tidak memilih dua duanya. Karena itu akan menyakitkan hati orang banyak kelak.

“Kok kamu diam Ndra?”
“eh gak. Aku gak percaya saja kalau kamu emang bisa maafin aku”
“aku percaya sama laki laki pilihanku kok Ndra.”
“Hmmm… lalu kenapa kamu semalam nangis pas ketemu aku?”
“kenapa juga kamu suap suapan Rima segala”
“kan dia sahabatku Ni”
“kan aku dari dulu belum bisa menerima persahabatan yang erat gitu”
“aku dan Rima itu bagai aku sama uni Ana lho Ni”
“iya aku tau , tapi akunya aja yang masih belum bisa melihat hal yang begituan”
“Iya deh”
“oh iya, ada hal yang mau aku tanyakan ke kamu?”
“apaan?”
“kamu masih sayang kan sama aku?”
“hmmm… sayang sih Ni, tapi masa iya kamu nunggu aku sampai Bella remaja?”
“emang sampai itu batasnya?”
“ii ya”
“Lama ya? Bisa bisa umur 40 an dong”
“aku gak mau Bella hancur kalau tau sekarang. Lebih baik saat ia udah bisa berfikir jernih Ni”
“Kamu sayang ya sama Bella. Aku aja yang ketemu sama dia beberapa kali aja, udah senang sama dia. Lucu”

Kenapa hal yang aku gak inginkan ini terjadi. Aku yang tak bisa menjelaskan apa maksud pertemuan ini untuk menjelaskan semuanya, bukan untuk memperkeruh semua ini. Karena aku yang tak kuat dengan semua ini, otakku menyuruhku untuk bersantai ria sejenak dengan rokokku.

“Aku ke toilet bentar ya”
“Hmmm”

Aku yang masih berdusta masalah rokok ini dari Afni bahkan sekarang Rosi sama Bella pun aku jadikan korban kebohonganku. Aku pergi ke toilet sejenak untuk berfikir gimana masuk ke inti pembicaraannya. Disisi lain, Afni sudah mengutarakan hal yang harusnya sebaliknya tentang keadaan ini. Jujur, aku senang karena Afni masih menunggu ku, tapi Bella dan Rosi gimana. Aku memikirkan hal ini dengan sebatang rokok yang aku hisap di dalam toilet ini. Toilet yang berada di belakang rumah makan yang terpisah dengan bangunan utamanya.

Setelah habis satu batang dan masih belum mendapatkan jalan keluarnya, aku yang berencana menambah menghabiskan satu batang lagi mengurungkan niat karena takut kelamaan Afninya nunggu. Lagian aku kan berbohong mau ngerokok. Aku langsung kembali ke meja yang ternyata Rima sudah ada disana lagi.

“Eh Rim, udah kelar?” tanyaku seketika aku sampai di meja itu.
“Yah….. katanya elo bawa laptop, ya aku bawa kesini lah materinya, nih di flash.” Jawab Rima
“Oooooo…”
“Kok lama banget sih kamu Ndra?” Tanya Afni.
“Perutku sakit Ni. Jadi nongkrong dulu.” Jawabku
“Yakin? Gak ngerokok kan?” Tanya Afni mengingatkanku ke masa dulu.
“Iya lah ni. Ngapain aku bohong juga.” Jawabku
“Iya ni, tadi pagi, si dodol ini malah minum kopi aceh. Mules tuh perut.” Bela Rima sambil melihatku memberi kode bahwa dia terpaksa bohong karena ku.
“Ini, kasih ini perutnya dulu, ntar aku antar obat ke hotelmu ya.” Jawab Afni memberiku minyak angin.
“Makasih ni”
“Cieeee… masih perhatian ya Afninya.” Sela Rima.
“Apaan sih Rim, ini juga tugasku kok” bela Afni
“Kan Indra gak anak anak lagi Ni?” canda Rima
“Hahahaha.. penanganan pertamanya sama aja kok Rim.” Bela Afni lagi.

Akhirnya pertemuan itu selesai dengan Afni yang harus pergi katanya mau tugas lagi. Aku yang belum mengutarakan apa yang sebenarnya telah terjadi hanya bisa menunggu waktu yang akan datang dimana aku akan dipertemukan lagi. Ditambah dengan penuturan Afni yang membuatku gak bisa masuk ke pembicaraan karena hatiku telah gembira sesaat mendengar dengan penuturan Afni.

“Rosi, maafkan aku!”

****

“Apa? Jadi belum kamu katakan ya?” Tanya Rima sesaat taksi yang kami sewa sampai ke lobby hotel.
“Gimana masuknya coba?”
“Serius nih Ndra, kalau aku di posisi kamu mah, aku juga gak tw mau ngapain.”
“Tau ah Rim. Gua ke smoking room dulu lah ya. Ngerokok dulu.”
“Oke deh, ingat bro, apapun yang kamu putusin, aku dukung kok. Tapi kamu harus tegas lo.”
“Semoga aja deh Rim. Kamu gak ikut?”
“Gak ah, aku capek banget. Istirahat dulu.”

Aku yang ditinggal Rima, langsung menuju smoking area yang berada di samping kiri lobby. Disana aku hendak berpikir jernih. Semoga saja aku bisa berfikir yang akan menghasilkan hasil keputusan yang terbaik.

“PING!!!”

Aku membuka BBM ku dan langsung terkejut setelah mengetahui siapa yang menghubungiku tersebut. AFNI PRATIWI. Darimana dia dapat kontakku ya pikirku.

“PING!!!”
“Dari mana tw pin aku ni?”

Lama juga Afni membalasnya, walaupun aku lihat di bawah nama kontaknya ada tulisan sedang menulis pesan. Tanpa sadar, aku melihat display picture nya Afni. Hmmm… Masih Afni yang dulu, Afni yang mengubah Indra yang berandal menjadi Indra yang sedikit menjadi baik seperti ini. Ditambah dengan balutan jilbab yang menawan, membuat wajahnya semakin cantik. Lama juga aku perhatikan DP nya tersebut. Dan kembali ke menu percakapan. Namun, sebelumnya aku melihat PM nya Afni yang bertuliskan Kau Cantik Hari Ini. Apakah maksudnya ini? Aku kembali ke menu percakapan, dan ternyata telah 4 pesan saja dikirim oleh Afni.

“Saat kamu ke toilet tadi”
“Aku iseng buka HPmu, dan coba kodenya dengan kode lama, ternyata masih itu ya”
“Heheheheh”
“Kok diread aja sih”

Aku yang membaca balasannya ini kembali mengingat ternyata saat aku ngerokok di toilet, aku lupa membawa HP ku. Dan Afni masih ingat dengan kode untuk buka HPku. Emang sih aku tipe orang yang susah menghafal kode atau password, jadi gak bakalan diganti ganti.

“Eh. Maaf ni, aku tadi mengingat ingat kejadian tadi”
“Yang mana nih?”
“Aku ke toilet dan ninggalin HP, jadinya kamu kepoin HPku”
“Ohh.. kirain…. Eh, aku hanya invite pin aku doang ya.”
“Hehehehe.. iya iyaaa.. eh kirain apaan ya? Hmmm….”
“Gak jadi ah, ntar kamu kepedean lagii”
“Tambah penasaran akunya ni”
“Hehehehehe, eh alamat hotelmu sama nomor kamarnya ya”
“untuk apa? Aku kan besok balik ke Jakarta ni”
“bawain obat sakit perut kamu lah”

Bersambung

Daftar Part

Cerita Terpopuler