. Kamu Cantik Hari Ini Part 21 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 21

0
223
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 21

Afni Pratiwi

 

“Afni tungguuuu”

Aku yang berlari mengejar Afni sambil memanggil namanya smoga dia bisa berhenti sejenak. Setelah dengan kekuatan yang kumiliki, aku berhasil mengejar Afni yang kuliat masih tetap cantik dengan kerudung yang padu dengan wajahnya yang putih bersih. Wajar aku dahulu jatuh cinta ke wanita ini. Mungkin sampai kini pun, suasana hatiku masih kepikiran wanita ini. Walau sekarang, matanya sudah meneteskan air matanya. Tapi tidak mengurangi kecantikan alami wajahnya.

“Lepasin aku Ndra”
“Tunggu duluu”
“Lepasin akuuuu…”
“Aku hanya ngomong bentar kok. Emang salah ya?”
“Aku gak mau… Lepasin…”
“Aku bakalin lepasin kamu, jika kamu janji mau temui aku esok di dinas pertanian”
“Ngapain?”
“Kalau gak mau ya udah, aku bakalan peluk kamu terus”
“Indraaa.. lepasin laah”
“Janji dulu”
“Iya iyaa.. aku bakalan kesana esok”
“Okeee”
“Aku tau kamu kalau paling anti sama yang ingkar janji. Aku tunggu kamu disana esok ya.”
“Ya udah.. tapi lepasin aku”
“Maaf”
“Aku pulang dulu. Salam buat Rima”
“Hati-hati”

Aku yang melihat Afni berjalan menjauhi ku, sampai benar benar ia menghilang dari pandanganku yang memasuki sebuah rumah yang nampaknya puskesmas. Mungkin ia ditugaskan kesini pikirku. aku pun yang selesai dengan pengejaranku yang kuanggap berhasil walau 45% itu, kembali ke kios Nasi Goreng dan menuju Rima.

“Afninya mana?”
“Udah pergi”
“Oon banget sih.. kejar sampai dapat lah..”
“Gak usah.. aku gak kuat liat dia nangis.”
“Ha? Afni nangis?”
“Iya”
“Afni tau Rosi?”
“Tw”
“Hmmm… Ya udah, makan dulu noh..”
“Gak ah, aku lanjuti suapi kamu”
“Udah habis bung. Punya kamu aja yang banyak noh”
“Kok habis? Katanya minta disuapi”
“Aku ini sahabatmu dari kecil yaaa… gak mungkin aku maksain kehendak aku kalau situasi kek tadi”
“Makasih ya Rim”
“Santaiiii”
“Yok pulang”
“Punyamu itu?”
“Kenyaaanggg”
“Ya udah deh.. tapi tunggu dulu yaaa..”

Rima yang beranjak dari tempat duduknya menuju mamang penjual nasi goreng tersebut. Rupanya nasi goreng yang belum aku habiskan dibungkus sama mamangnya. Aku yang hanya terdiam lesu tanpa berfikir jernih lagi hanya menuruti kata Rima. Sampai berjalan pun, aku terpatung disebelahnya.

“Berarti kamu masih sayang noh sama Afni”
“Iya Rim”
“Trus sekarang kamu mau gimana lagi?”
“Gak tau Rim.”
“Kamu itu kebiasaan. Cowok tu harus berani bersikap dengan hatinyaa”
“Iyaaaa”
“Iya iya aja. Yang penting gak ada yang tersakiti ya Ndra. aku ini wanita juga lho, jadi tw rasanya disakiti”
“Iyaaaa”
“Iya iya lagi.. ya udah kamu istirahat gih. Besok mau presentasi kan. Bsok aja lanjutin materinya ya”
“Iyaaa.. makasih Rim”
“Iya.. awas kalau masih kosong gini pikiranmu esok”

Aku yang masuk ke kamarku hanya bisa terdiam lesu. Malam pun semakin larut, sampai jam 1 malam. Tetapi mataku masih belum bisa diajak kompromi. Hal ini dikarenakan pikiranku yang pergi kesana kemari. Ke Afni, Rosi, Bella. Ahhhh.. kenapa jalan hidup sangat begini. Itu yang ada dipikiranku saat itu. Aku kembali mengingat terakhir kali bertemu dengan Afni dan pertama kali juga Afni memutuskan hubungan denganku.

“Ayah, Bella senang nih Ayah kembali pulang. Ayah gak bakalan ninggalin Bella lagi kan?”
“Gak kok sa yang”
“Bella harus diperiksa lagi ya. Ini bunda sama ayah udah nemanin kan?”
“Iya Bunda. Bella sayang bunda sama ayah. Akhirnya Allah sayang Bella ya yah”
“Haa.. iyaaa”

Aku yang merasa kikuk saat itu yang berpura pura menjadi ayah pura pura nya Bella menemani Bella untuk periksa kesehatannya dikarenakan dokter yang biasa meriksa Bella tidak bisa ke rumah, dan menyarankan langsung ke rumah sakit, karena bakalan ada asistennya yang akan meriksa langsung. Aku yang mengendarai mobil bapak Wahyudi menuju ke Rumah Sakit yang dimaksud oleh Pak Dokternya. Sesampainya disana, aku yang dimintai Bella untuk menggendongnya, hanya bisa menuruti katanya tersebut.

“Ini pertama kalinya gendong anak kecil ya bang?” Tanya Rosi karena merasakan kegugupanku menggendong Bella.
“Iya sih. Kaku banget ya”
“Iya.. Tapi makasih ya bang. Dan maaf udah libatin abang dalam hal ini. Rosi tau itu sangat rumit buat abang.”
“Gak usah pikirin, lebih baik pikirin kesehatan Bella” kataku menjawab pernyataan Rosi dengan sedikit berbisik ke arahnya.
“Makasih ya bang” kata Rosi yang langsung memelukku dari samping.

Aku yang sangat terkejut hal itu langsung melihat ke arah Rosi. Ternyata ia menampakkan kegirangan yang tinggi. Aku merasa kecuekan dia hilang. Berubah sangat dengan hal yang aku liat saat awal awal aku mengenal Rosi. Rupanya gandengan Rosi padaku tidak berhenti sampai kami tiba di ruangan yang dituju. Aku sangat terkejut dengan apa yang kulihat di dalam ruangan itu. Iya itu Afni. Kenapa dia disini ya?

“Siang dok” sapa Rosi
“Siang, ada yang bisa saya bantu ya?” jawab Afni dengan Profesionalnya.
“Saya disuruh dokter Rian untuk memeriksa keadaan anak saya yang kebetulan 2 hari yang lalu sakit demam.” Jawab Rosi
“Oooo… Jadi ini Bella ya?” Tanya Afni yang melihat ke arahku juga.
“Iya buk dokter” Jawab Bella
“Jangan panggil buk dong. Panggil mbak aja ya” jawab Afni ke Bella
“Trus Bella panggil apa dong yah?” Tanya Bella malah kepadaku. Bella yang langsung menghadapku. Aku juga melihat Afni yang melihat dengan keheranan dan sedikit terkejut dengan apa yang ia dengar.
“Panggil tante aja ya nak” Jawab Rosi menjawab pertanyaan Bella. Aku masih melihat keheranan Afni.
“Ya betul itu sayang. Manggil tante aja ya. Bella bisa turun gak sayang, biar bisa tante periksa” Tambah Afni yang kulihat kembali menampakkan keprofesionalnya dalam menjalani tugas amal ini. Jika aku yang ada di posisi dia mungkin tidak akan bisa bersikap begitu.
“Iya tante, ayah jangan pergi lagi ya.”
“Mas sama mbaknya bisa keluar sebentar kan?” Tanya Afni
“Iya mbak” Jawab Rosi sambil menarikku meninggalkan ruangan tersebut.

Diluar, aku yang hanya bisa terdiam dengan pikiran yang tak berujung. Apakah aku akan bilang semuanya ke Afni semuanya, atau aku hanya diam disini untuk menjaga perasaan Rosi. Disatu sisi aku melihat Rosi yang terdiam juga disampingku.

“Kok kamu diam dek?”
“Aku merasa bersalah kepada Bella dan juga abang. Gak seharusnya aku melibatkan abang. Tapi bang….”
“Udaaahhh.. demi Bella juga kan.”
“Makasih ya bang. Aku janji kalau Bella udah remaja, Rosi kasih tau semuanya” smbil memelukku dan sedikit berkaca matanya kulihat.
“Oh ya bang, emang kemaren abang mau nanya apa?”
“Yang mana?”
“Saat persetujuan kita kemaren.”
“Hmmm… tapi kalau gak mau dijawab, dan berat untuk dijawab, jangan dijawab ya.”
“Iyaaa”
“Emang kenapa Bapak Wahyudi gak pernah lihat Bella?”
“Hmmm… Bella itu sangat mirip mama bang. Sewaktu mama mau melahirkan Bella, mama udah diperingatkan dokter, kalau kecil kemungkinan sehat keduanya. Mama minta selamatkan Bella. Mama lakuin itu karena kami, Papa, Ardi, dan Rosi yang sudah menggebu gebu datangnya anggota baru. Apalagi Rosi yang sangat berubah disaat mama mengandung Bella, Rosi lebih bisa mandiri, bisa belajar masak, dan itu alasan mama buat tetap lahirin Bella dalam surat yang dibaca papa saat mama dimakamkan bang.” Kata Rosi sambil terisak dan meneteskan air mata.
“Maaf… sudaahhh.. kasihan mama kamu” jawabku sambil memeluknya dan merangkulnya.

“Bunda kenapa nangis?” Tanya Bella yang datang menghampiri kami yang dibelakangnya Afni, pacarku.
“Bunda hanya takut kamu kenapa napa kok nak!” jawabku sambil melihat Afni. Afni yang kulihat saat itu terdiam penuh makna melihatku saat itu. Sampai akhirnya Afni meninggalkan kami. Aku yang hanya terpaku di bangku itu melihat dia meninggalkanku tanpa aku bisa menjelaskan sepatah katapun.

“Ya udah kita pulang yuk nak. Yuk bang.”
“Ehh iyaaa…. Yuk Bella..sini ayah gendong lagi”
“Iya ayaahhh”

“Afni… tunggu aku, aku bakal menjelaskan semuanya. Tunggu aku ya! Aku kasihan sama anak ini” pikirku dalam hati saat aku meninggalkan rumah sakit tersebut.

Bersambung

Daftar Part