. Kamu Cantik Hari Ini Part 19 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 19

0
232
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 19

“Kok diam aja?”
“Gak ada..”
“Jangan bohong sama aku deh. Aku tuh kenal kamu udah dari kecil yaaa.”
“Gak ada”
“Apaan? Atau perlu aku elus jagoanku sekarang?”
“Heh.. ini pesawat tau”
“Iyaaa apaaannn??”
“Bella”
“Bella atau Rosi?”
“Dua-duanya”
“Aku penasaran deh, kenapa ada Rosi dan Bella?”
“Kan aku udah cerita di bbm”
“Kan gak semuanya dodol. Hanya sampai kamu dihukum di kebun ayah nya Rosi dan Rosi minta kamu ngaku sebagai cowoknya ke satpamnya”
“Iya ya?”
“Heh.. gini gini aku lebih unggul memori otak nih dibanding kamu yaaa”
“Tapi aku unggul Matematika dari kamu”
“Iya.. tapi kalah sama Afni kita ya. Sampai sampai berandalan IPA suka sama Afni.”
“Enak aja berandalan”
“Hahahaha… yang gak punya teman cowok IPA siapa?”
“Aku”
“Yang jam istirahat anak IPA ke WC ngerokok siapa?”
“Aku”
“Pemain basket, bola dan Volly SMA dari anak IPA siapa”
“Aku”
“Masih ngelak bung? Atau masih aku ingat ingat lagi?”
“Apa coba”
“Yang nyanyi untuk nembak cewek saat class meeting di lapangan siapa?”
“Ngapain itu diungkit malah?”
“Gak mau ingat kisahnya, atau gak mau ingat orangnya? Hahahaha”
“Ngeselin kamu itu gak ilang ilang ya”
“Tapi kangen kaaann?”
“Siapa”
“Kamu”
“Nanya maksudnya”
“Kamu itu ngeselin banget sih”
“Perasaan aku tadi dibuat kesel gak main cubit lah. Merah lagi nih lengan”
“Rasain. Cepet ceritaaa”

Aku yang bercanda ria di pesawat tanpa sadar sudah menjadi pusat perhatian beberapa penumpang, yang mungkin terganggu akibat besarnya volume suara kami, memang sih suaraku Cuma secuil dibanding suara si keras kepala disampingku ini. Berasa berada di pesawat pribadi saja pikirku.

“Liat noh, orang pada risih dengan suara kamu yang lantang itu”
“Pada syirik kali”
“Udah dikorek kan tuh telinga? Aku ceritanya pelan pelan nih, takut ganggu”
“Iyaa udaaahh.. alibi aja mau dempet dempetan. Mesummu itu gak ilang ilang ya Ndra”
“Kagak jadi cerita ah”
“Ihhh.. aku elus sekarang nih”
“Iya iyaaaa”

“Kamu Ade?” Tanya bapak yang sudah susah berjalan yang dibantu dengan tongkat kayunya.
“Iya pak! Maaf sini saya bantu pak!” kataku membantu Bapak tadi
“Kamu pacarnya anak saya?”
“Maksud bapak?”
“Iya, kamu pacarnya Rosi”
“Jadi Bapak ini Bapak Wahyudi, maaf pak. Saya belum kenal sama bapak. Saya Ade pak”
“Sudaahh.. saya sudah tau dari Sudar, kalian berbuat curang saat ujian kan?”
“Maaf pak. Ini bukan salah Rosi, tapi salah saya.”
“Yang kena hukuman aja berdua, gak mungkin yang berbuat salah hanya seorang”
“Tapi sayaaaa…”
“Sudah sudah.. saya ngerti kok. Dan saya berterima kasih”
“Maaf pak, untuk apa ya?”
“Karena kamu, Rosi jadi kesini kan, walau terpaksa. Dan saya harap kamu bisa ngajarinya ilmu disini ya. Rosinya mana?”
“Lagi di kamar mandi pak.”
“Kamu jangan sekamar sama dia ya. Belum muhrim kan?”
“Iya pak. Saya tidur di kursi saja pak!”
“Saya ke dalam dulu, mau istirahat”
“Sini saya bantu pak”
“Terima Kasih”

Akupun sekembali dari kamar Bapak Wahyudi duduk sambil memperhatikan sekeliling ruang keluarga dimana ada foto keluarga yang terdiri dari 4 orang. Hanya Bapak Wahyudi, dan Rosi yang kutahu. Mungkin ini mendiang ibunya Rosi dan adek Rosi. Tanpa sadar, Rosi telah duduk disebelahku.

“Itu ibuku dan adekku”
“Maaf”
“Udahlah… bosan aku dengar maaf maaf maaf”
“Hmmmm”
“Nih selimut dan bantal”
“Makasih ya”
“Anggap rumah sendiri ya”

Akupun sepeninggal Rosi ke kamarnya, hanya terpaku sambil berbaring. Semoga waktu disini semakin cepat berlalu. Dan permainan ini segera berakhir pikirku.

*****

“Bang, bangun… Aku mau ke kota”
“Haaa? Ngapain?”
“Adekku sakit”
“Mana ada kendaraan malam gini”
“Ya itu aku bangunin, nih kunci mobil. Aku gak bisa nyetir”
“Trus bapak?”
“Papa lagi tidur, lagian mana mau dia liat Bella”
“Bella?”
“Buruan bang”
“Iya iya”

Aku yang tanpa pikir panjang langsung membawa mobil itu melaju ke Jakarta. Aku yang hanya membawa pakaian yang melekat di tubuhku saat tidur tadi, sekarang mengemudikan mobil ini dengan kecepatan yng lumayan kencang. Jam 2 pagi, jalanan masih sepi.

“Ini gara gara papa nih. Udah gak mau liat anaknya sendiri, malah….. Aaaggghhhhh”
“Mamaaaaaa….. coba mama masih ada… hikkssss hikkkssss”

Aku yang mendengar hal itu serba salah. Aku takut mau nanggapin seperti apa. Hanya bisa diam terpaku sambil mengandarai dengan kutambah gasnya dengan tujuan cepat sampai di Jakarta, dan cepat berakhir penderitaan batinku. Akhirnya aku menapaki ibukota yang aku impikan dari beberapa jam sebelumnya.

“Rumah kamu?”
“Di daerah Tomang”
“Oke”
“Kamu gak apa kan dek?”
“Gak apa”

Yaaaa… datar… kakuu… hal itu yang aku rasakan saat ini. Tapi untungnya hal ini akan cepat berlalu. Sesampainya di rumahnya aku langsung melihat keadaan adeknya Rosi yang sakit. Rupanya Adeknya diasuh oleh seorang babysitter yang memberi tahu Rosi. Dan disana sudah ada dokter yang sedang memeriksa anak kecil berusia 3 tahunan sepertinya. Dan dia. Iya dia yang ada di foto keluarga Rosi. Berarti dia adeknya Rosi.

Nampak ia langsung melihat kami yang masuk ke kamar itu.

“Apa sih mau papa kak?”
“Aku gak tau”
“Sini ku samperin”
“Jangan, kamu mau jadi durhaka. Gak kasihan sama mama?”
“Maaf kak”

“Bellaaaa… bella kenapa dok?”
“Cuma demam aja kok mbak”
“Syukurlah. Makasih ya dok. Bang tolong antarkan dokternya ya bang.”

Haaa??? Aku yang disuruh?? Aku hanya bisa mengiyakan, nampaknya aku makin terjerumus dalam hidupnya Rosi nih. Tapi aku yang merasa wajar saat itu, mengantarkan dokter muda itu keluar rumah. Dan…

“Maaf mas, saya rasanya pernah liat mas deh”
“Mungkin juga pak”
“Oh ya aku ingat, kamu pacarnya Afni kan?”
“Bapak kenal Afni?”
“Afni itu adek juniorku. Dan jangan panggil Bapak dong. Ketuaan sayanya”
“Maaf mas.”
“Ya udah ya, saya pamit ya.”
“Oh iyaaa.. terima kasih ya mas”
“Kembali”

Setelah Dokternya pergi, aku kembali masuk untuk melihat keadaan di dalam. Aku yang melewati ruang tengah sepertinya melihat adeknya Rosi ketiduran dengan kondisi yang melelahkan sepertinya. Aku jadi keingat kata katanya tadi. Yang seakan tidak senang dengan perlakuan bapak Wahyudi. Tapi keliatnnya Bapak Wahyudi orang baik kok. Kok bisa ya? Aku hilangkan asumsi asumsi yang tak aku ketahui tentang pertanyaanku tadi. Aku langsung masuk ke kamar adek kecil yang kuketahui namanya Bella tadi.

“Trus? Trus? Kok berhenti?”
“Emang gak mau turun?”
“Eh, udah mendarat ya?”
“Ntar di bus sambung ya. Penasaran aku”
“Iyaaaa”

Bersambung…

Daftar Part

Cerita Terpopuler