. Kamu Cantik Hari Ini Part 18 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 18

0
268
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 18

Rima Mulyadi

“Yah, pakaiannya udah dek siapin ya. Gak usah ke kos lagi buat ambil baju, udah penuh tuh kopernya”
“Kok bisa?”
“Semua baju dan pakaian ayah di rumah, udah adek cuci dan setrika, cukuplah sampai ayah pulang”
“Hmmm.. makasih ya sayang. Abang bangga ke kamu”
“Berkat abang yang selalu sabar dengan Rosi” dia langsung memelukku erat.
“Kan abang Cuma bentar perginya, meluknya erat banget”
“Jujur ya bang, adek gak mau pisah sama abang.”
MUUUUAAACCCHHHH… aku mencium keningnya dan menghusap pipinya yang memerah.
“Insyaallah bang tetap telpon kamu kok.”
“Jangan tinggalin adek ya bang.”
“Gak… gak akan…. Insyaallah… gak akan meninggalkan yang belum tentu bang dapatkan di tempat lain. Makasih ya sayang.”
MUUUUAAACCHHHH…

TOK TOK TOK

“Pagi ayaaaahhh.. Bundaaaa….”
“Pagi naaakkk.. buka aja pintunyaaa”
“Ayah jadi pergi yah?”
“Iya nak, ayah janji, kalau udah kelar, ayah pulang yah.. dan ayah janji, ayah bakalan sering sering telpon Bella ya nak.”
“Iya ayaahh…”
“Tenang aja.. Bunda kan gk pergi kemana mana nak” kata Rosi meyakinkan Bella.
“Iya Bund. O iya yah, bund, Bella belum gosok gigi, Bella ke kamar lagi yaa.”
“Iya nak.. ayah masih lama kok perginya.”

“Kamu bisa jaga Bella sendirian dulu kan yang?”
“Iya bang, Rosi bisa kok, kebetulan lagi minggu tenang, dan TA tinggal sidang saja kok.”
“Trus, kamu antar Bella nya?”
“Ihhh.. kek sekali ini aja ditinggal suami pergi dinas luar kota” kata Rosi meyakinkanku.
“hehehe, iya istriku”

Sungguh pengalaman pertama yang aku dapati selain dari Afni. Apakah aku sudah perlahan menyayangi Rosi dengan tanpa rasa iba dan janji? Semoga saja aku tidak mengecewakannya. Setelah berpelukan dengan Rosi, akupun keluar rumah menuju taksi yang sudah kupesan tadi diantarkan oleh “istriku” dan “anakku”.

“nak, ayah pergi dulu ya nak, jangan lupa makan dan jangan malam malam tidurnya ya nak..”
“Iya ayah, ayah jangan lupa sholat ya”

DEEGGG… kata kata terakhir Bella membuatku terkejut, bagaimana bisa anak seusianya yang mengingatkan ayahnya untuk tidak meninggalkan kewajiban sebagai umatNya. Aku yang pagi itu untuk pertama kalinya berat meninggalkan mereka berdua saja. Sebelumnya aku tidak merasakan hal seperti ini. Mungkin karena perubahan yang diperlihatkan Rosi ini yang membuat perasaan berat ini timbul.

“Udah yah, kasihan tuh taksinya kelamaan nunggu” kata Rosi mengagetkanku.
“Iya bund. Ayah pergi ya.. jaga Bella ya. Love You.”
MUUUAAACCCHH

Akupun mencium kening kedua “bidadari”ku kini. Rosi yang kucium disertakan dengan pipinya yang memerah. Aku baru ingat kalau aku menyebutkan Love You sesaat sebelum mencium keningnya. Pantas saja lampu di pipinya Rosi hidup.

“Hati-hati yah..”
“Iya nak.. da da!”

****

“PING!!!”
“Aku udah di bandara nih”
Aku langsung membuka notif di handphone ku, bm dari Rima masuk dan aku langsung kaget membacanya. Aku lupa beri tahu ke Rima kalau aku gak di Jakarta seminggu ini.

“Aku mau dinas luar nih. Gimana ya??”
“Hah? Jadi dinas dimana?”
“Pasuruan”
“Yah.. aku kemana ya? Rosi ikut?”
“Gak lah, emang liburan?”
“Ya udah, mana alamat nya?”
“Haaaa?”
“Kenapa? Kan aku gak tau kemana lagi.”
“Hmmm….”
“Kamu takut kalau semua masa lalumu diketahui Rosi? Hahahaha”
“Gak juga sih. Send Loc aja yah”
“Okay. Naek taksi apaan ya yang bagus?”
“Naik taksi ini aja, tunggu aja di bandara”
“Jadi kamu belum pergi ke Pasuruan?”
“Belum”
“Ya udah, cepat”

Aaahhh.. teman kecilku ini tidak pernah berubah. Masih seperti Rima yang aku kenal. Rima yang gak sabaran, keras kepala. Memang Tak ada manusia yang gak sempurna. Tetapi kekurangan Rima ini menggemaskan, dan aku yakin banyak orang yang tidak tahan akan kelakuannya.

Setelah sampai Bandara, aku lantas menghubungi Rima, karena Rima hendak memakai taksi ini ke “rumahku”.
Karena supir taksi ini pasti tahu dimana aku dijemput tadi.

“Rim, cepetan kesini. Ntar polisi bandara marahin nih bapak. Kasihan!”
“PING!!!”
“PING!!!”

Karena tidak ada balasan dari Rima, dan kasihan si bapak menunggu, apalagi kena marah oleh polisi bandara karena hanya menunggu. Aku meminta maaf ke Bapak itu, karena tidak jadi memakai jasanya mengantarkan Rima. Tak lupa aku lebihkan sebagai ucapan permintaan maafku.

Setelah itu, aku berputar Bandara hanya mencari Rima. Untung masih ada waktu untuk mencarinya dan mengarahkan Rima ke rumahku itu. Hal ini aku lakukan setelah aku berulang kali menghubungi nya lewat bbm. Ya hanya lewat bbm karena aku tak memiliki nomor handphonenya.

“Ahhh…. Aku bisa ketinggalan pesawat nih.”

Setelah tidak mendapati Rima, aku langsung masuk tempat keberangkatan untuk check in. Ntar aja aku hubungi Rima lagi.

“Kamu lama banget sih?” Tanya Rima yang ternyata sudah berada di dalam ruang keberangkatan.
“Kok kamu disini?”
“Yaaa ikut ke Pasuruan lah”
“Haaaaa???”
“Yok bareng check in nya” katanya mengajak aku untuk check in.
“Buruannn… ntar malah ditinggal lho”

Setelah melakukan check in, dan benar dugaanku kalau Rima meminta duduk bersebelahan, kamipun menunggu di ruang tunggu terminal 1. Rima yang membawa dua koper keliatan ribet dibanding aku yang hanya membawa 1 koper.

“Kok kamu ikut sih?”
“Issshhhh.. jangan banyak Tanya deh, lama gk ketemu, masih aja bawel ya.”
“Kamu yang bawel”
“Udah yaaaa… gak liat aku capek tadi bawa nih koper, udah gak dibantuin, malah capek diomelin”
“Percuma ngomong sama kamu ya. Keras kepala nya itu gak hilang hilang. Gimana mau punya suami”
“Kan suami nya kamu, ini aja kita mau bulan madu ke Pasuruan”
“Haaaa””
“Hahahahaha… gak sabar nih ketemu dan main gemes gemesan sama jagoanku”
“Aku kesana mau kerja Rim, bukan liburan”
“Issshhhh.. bawel ah. Aku ke WC dulu”

Rima, sahabat yang selalu buat aku kalah kalau debat sama dia. Gak ada yang pernah menang kalau kehendaknya sendiri. Keras kepala nya itu yang membuat dia mampu meyakinkan orang tua nya untuk melepasnya pergi menempuh kuliah ke negeri tetangga. Sudah dua tahun lebih aku tidak bertemu bahkan tidak berkomunikasi dengannya, kepalanya belum juga lunak. Selama aku mengenalnya, tidak ada yang tahan dengan keras kepalanya itu, mungkin ini pula penyebab para lelaki yang mendekatiny mundur teratur dalam waktu yang tak lama. Kata bapaknya, Cuma aku yang bisa tahan dengan keras kepalanya Rima.

“Kau Cantik Hari ini”

“Assalamualaikum sayang”
“Waalaikumsalam ayaaahhh…. Ayah udah sampai di bandaranya?”
“Udah bund, ini udah di ruang tunggu. kangen ya?”
“Issshhh… apaan.. Bella yang ngebet suruh nelpon. Gk telat kan yah?”
“Alhamdulillah kagak. Bentar lagi masuk pesawat nih”
“Jaga kondisi ya yah. Haddduhhhh, sabar dong nak. Ini yah, anaknya, tumben gak sabaran”
“Halooo ayaaahhh”
“Ehhh.. kok nyapanya gitu sih nak? Main rebut segala sama bunda”
“Maaf yah.. Assalamualaikum yah”
“Waalaikumsalam nak, kenapa gitu, belum pergi ayahnya kok berubah ya?”
“Maafin Bella ya yah, Bella kangen sama ayah. Ayah cepat pulang ya, jangan tinggalin Bella”
“Insyaallah ya nak. Siapa yang mau ninggalin Bella coba. Ayah kan sayang Bella”
“Janji?”
“Iya nak.”
“Ya udah, ayah hati hati ya…. Nih Bunda yah, dah ayah.. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam… Kok Bella nanya gitu ya”
“Rosi juga gk tau bang, lagi makan eh tiba tiba gak mau dimakan lagi nasinya.”
“Ya udah, kamu jagain dulu ya bund anak ayah,”
“Heeeee… anak aku tau”
“Hahahahaha… anak kita ya.. impas kan?”
“Iya sayang…”
“Cieeeee… apaan tadi?”
“Udah ah… Hati hati ya ayah. Bunda sama Bella sayang ayah. Hatinya dijaga ya. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”

DEG!!!… “Hatinya dijaga?”. Bella berubah sikap? Kenapa ya?

Bersambung…

Daftar Part

Cerita Terpopuler