. Kamu Cantik Hari Ini Part 17 | Kisah Malam

Kamu Cantik Hari Ini Part 17

0
238
KAMU CANTIK HARI INI

Kamu Cantik Hari Ini Part 17

“Jadi udah lupain Afni?” kata Rima setelah aku menceritakan semuanya ke Rima.
“Belum sih Rim.”
“Rosi tau Afni?”
“Gk”
“Kalau aku disana, udah aku tonjok tu kepala. Oon banget sih.”
“Ya gimana lagi.”
“Udaahhh.. Minggu aku kesana. Kita ketemuan ya.. kangen aku ngobrol sama kamu.”
“Ngapain?”
“Ketemu sama jagoanku.”
“Hahahaha…”
“Masih boleh kan, sama Rosi?”
“Ntaahh…”

Aku Siang itu bm an sama Rima. Aku yang selesai makan siang bersama Rosi dan Bella di tempat Bella menuju kembali ke kantor. Seperti biasa, aku terkena macet. Ya, aku sekarang lebih sering memakai mobil dibanding motorku yang mengabu di garasi Rosi.

“Emang gak kangen sama aku”
“Rimaaaaa….”
“Hahahaha….”
“Mobilku udah bisa jalan nih. Udahan yaaa…”
“Okay, minggu aku minta jatah ya, kangen.. hehehehe”
“Terserah.”

Emang, aku dan Rima dahulu selalu melakukan hubungan ini, hubungan yang hanya mengikuti nafsu. Rima anak yang cantik, seksi, badan yang bagus, membuat semua orang konak melihatnya, juga termasuk aku. Sudah 2 tahun lebih aku tidak berkomunikasi dengannya, dan sudah 2 tahun pulalah aku tidak mendapatkannya dari Rima. Bisa dibilang, Rimalah yang mengajariku semuanya. Walau Rima hanya melakukannya dengan orang tertentu, katanya.

“Kamu mau gak aku cium?”
“Apaan sih?”
“Hahahaha.. kamu ini lelaki gak sih? Di depan cewek aja kaku..”
“Aku gak mungkin juga hajar cewek seperti aku hajar cowok Rim.”
“Muuuuaaaccchhhh…..”
“Ini yang aku suka sama kamu” kata Rima setelah mengecup bibirku.
“Apaan sih kamu Rim”
“Hahahaha.. kamu itu kaku, atau nafsu sih”
“Udah ah.. aku pulang aja..” kataku yang kaget dengan perlakuan Rima dirumahnya ini. Sepulang sekolah, aku biasa menyempatkan diri sebentar mampir setelah mengantarkannya pulang.

“hahahaha.. sabar sabar.. sini aku buatin teh dulu. Gak haus apa?”
“Kamu itu kebiasaan gitu, kita itu sahabatan tau.”
“Emang kalau sahabatan, gak boleh gitu? Malah bagus, gak ke sembarangan orang.”
“Bahas ini lagi, aku pulang.”
“Iya sabar Ndrrooooo”

TEEEEEEETTTTTTT…. TIIINNNNNNN…..

Aku terkejut dengan suara klakson dibelakangku. Aku yang terdiam sesaat mengingat kejadianku sama Rima dahulu. Aku yang bersahabat dengannya sudah bisa dibilang melampaui kata sahabat. Semua hal telah kami lakukan bersama makan, liburan, belajar, tidurpun sudah berdua. Dan dialah yang pertama ambil perjaka jagoanku.

****

“Cieeee.. yang makan sama keluarga kecilnya.” Ucap Via menyambutku saat datang di kantor.
“Apaan sih kamu Vi. Biasa aja kok.”
“Masak apaan istri nya bang?”
“Masak ayam rendang.”
“Hah?? Serius bang?”
“Iyaaa” kataku sedikit keraguan.
“Via kok rada kagak percaya ya. Via tau siapa Rosi lho.”
“Huffftt.. gak tau juga Vi, abang ke atas dulu ya.. kerjaan numpuk tuh.”

Aku melangkahkan kakiku ke lift meninggalkan Via yang ruangannya di lantai dasar. Dalam perjalanan ke atas, aku pun berfikir apa iya itu buatan Rosi. Selama ini aku tidak pernah melihatnya memasak. Apalagi masak ayam rending yang aku tahu, pembuatan dan bumbunya yang rumit. Tapi aku rada rada tau dan pernah mencicipi rasa ayam rending itu. Dejavu rasanya. Apa iya itu racikan amak ya? Aahhh.. mungkin dia dapat resep amak sesaat di kampung kemaren lah pikirku.

“Lu makan dimana men?” Tanya Andre
“di tempat Bella, men”
“permintaan Bella?”
“Iya, aku sama Rosi”
“Hahahahahaha”
“kenapa ketawa lu men?”
“kayaknya lu udah tersihir noh sama nenek sihir”
“lu bilang Rosi nenek sihir ha?” suaraku meninggi.
“kok tumben lu marah men? Maaf yaaa.. aku kan bercandaaa…”
“sudahlah, aku juga gak tw kenapa. Maaf. Aku langsung kerja ya.”

Aku tidak tahu kenapa aku emosi mendengar guyonan Andre. Emang ini bukan pertama kali aku mendengar dia bicara seperti itu bahkan lebih. Tapi ini pertama kalinya aku marah. Aku gak tahu ini kenapa. Apakah aku benar benar sudah mencintainya? Apakah aku sudah menerimanya dan menggantikannya sebagai isi hatiku? Apakah aku sudah melupakan Afni?

“Adeee.. kamu Sabtu ini ke Pasuruan ya, disana dinas setempat butuh penyuluh tu. Kamu yang kesana ya. Bapak sudah membuatkan surat tugasmu. Seminggu. Tapi seperti biasa, jikalau kamu udah siap, kembali secepatnya gak apa kok.” Perintah supervisorku lewat telepon yang kutrima barusan.

“Siap pak. Saya akan pelajari materinya pak.”
“Oke”

Aku yang bertugas sebagai penyuluh pertanian ini, emang sering sekali ditugaskan ke luar kota. Tentunya tempat yang pertaniannya menjadi otoritas daerah tersebut. Dan hal ini sudah berulang kali aku lakukan, bukan hanya Jawa yang aku jajaki, Sumatera bahkan Nusa Tenggara pun pernah aku singgahi. Yaa, dengan resiko jauh sebentar dari Bella. Aku sebenarnya susah meninggalkannya. Mau gimana lagi, demi sesuap nasi. Dan Bella pun Nampak dari raut mukanya tidak senang pisah denganku. Ditinggal ke kos aja, nanya berulang kali, apalagi dinas luar kota selama berhari-hari.

****

“Nak, sabtu ini ayah ke Pasuruan ya, dinas luar kota. Gak apa kan nak?” kataku ke Bella disaat kami bertiga ngumpul di ruang tengah, sambil menonton TV.
“Berapa lama yah?”
“Palingan seminggu. Tapi ayah janji, ayah akan bawa oleh oleh dan minggu depannya kita liburan lagi ya.”
“benar ya yah. Jangan ayah bohong lagi ya.”
“Insyaallah nak.”
“kemana bang?”
“Pasuruan dek. Seminggu kesana, ada suatu koperasi kebun butuh penyuluh. Nah abang yang ditugaskan kesana.”
“Ya udah, ntar adek siapkan baju ayah ya..”
“Iya. Tapi kan baju abang masih ada di… besok deh ayah ambil ya” kataku sedikit gugup. Dan mengganti kata sapaan abang jadi ayah. Aku tak mau didengar oleh Bella jikalau aku tinggal di kos. Kulihat Rosi sedikit mengangkat alisnya, sejenak juteknya yang dulu keluar lagi.

“Bella mau apa nak? Bunda mau buatkan ayah teh, Bella mau apa nak?”
“kok teh?”
“Kopi itu gak baik kan nak? Apa kata mbak gurunya nak?”
“Kurangi makan minum yang menimbulkan kecanduan yah.”
“Hmmmm… iya nak. Iya deh, ayah teh ajaaa..”
“Kalau rokok boleh gak nak?” kata Rosi sambil menuju ke dapur.
“Ayah gak ngerokok kan? Bella gak mau ayah sakit seperti di bungkus-bungkus rokok itu.”
“Ehhh.. iya nak. Ayah udah berhenti kok.”
“Dulu ayah perokok ya?”
“Iya nak, tapi demi kamu ayah udah berhenti kok.”

Aku yang meyakinkan Bella bahwa aku tidak merokok. Ya, aku lagi-lagi berbohong. Kulihat Rosi hanya senyum senyum di dapur. Apakah ini cara Rosi menghentikanku merokok? Aaahhh.. aku tak tahuuuu… di satu sisi aku gak mau berbohong lagi ke Bella. Disisi lain, aku susah melepaskan rokok dari hidupku.

“Ayah itu pasti gak mau bunuh kita dengan asap rokok nak.” Kata Rosi datang kembali membawa 3 cangkir teh yang dibuatnya.
“Karna ayah itu sayang ke kamu nak. Pasti gak ngerokok kan nak. Iya kan yah?
“Haaaa??? Iyaaa iyaaaa.. ayah gak ngerokok kok nak. karena ayah sayang kamu sama bundamu”

Bersambung…

Daftar Part